Vous êtes sur la page 1sur 42

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Pelumas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelumasan
yang menjamin kinerja dan efisiensi mesin. Oleh karena itu, pelumas yang
baik dan aman sangat diperlukan. Efisiensi dan efektivitas kinerja mesin
kendaraan bermotor, dalam industri otomotif sangat dipengaruhi oleh kondisi
minyak pelumas yang digunakan. Pelumas yang banyak beredar di pasaran
secara komersial adalah jenis pelumas dengan bahan dasar minyak mineral
dan minyak sintetik.
Pelumas berbahan dasar minyak mineral berasal dari minyak mentah yang
biasanya terdiri dari senyawa parafin, naftalena, dan aromatik. Minyak
mineral ini memiliki sifat seperti tidak berwarna, transparan, tidak berbau, dan
tersusun dari campuran senyawa organik sederhana. Kelebihan dari minyak
pelumas berbahan dasar mineral adalah memiliki sifat fisik dan kimia yang
mudah dikontrol, harganya murah dibandingkan minyak pelumas berbahan
dasar sintetis, mudah dicampur dengan bahan aditif untuk menambah kualitas
pelumas.
Minyak pelumas berbahan sintetis merupakan minyak pelumas yang
biasanya ditambah dengan senyawa kimia tertentu yang tidak ada dalam
minyak mineral. Senyawa kimia yag molekulnya dirancang sesuai dengan
molekul minyak mineral, dan biasanya ditambah dengan zat aditif yang
tujuannya meningkatkan kualitas pelumas.

Kelebihan minyak pelumas

sintetis ini yaitu kestabilannya terhadap suhu tinggi dan oksidasi cukup
tinggi.Jangka waktu penggunaan cukup lama, memiliki sifat penguapan yang
rendah, dan meningkatkan kinerja berbagai mesin cukup tinggi.
Dari penjelasan diatas, penulis ingin melakukan penelitian ini karena:
1. Adanya perbedaan bahan dasar atau base oil yang digunakan
terhadap produk pelumas di perusahaan pelumas
2. Kesulitan dalam proses pengembangan produk pelumas karena
belum ada jurnal acuan di laboratorium pelumas tentang
perbedaan jenis base oil yang digunakan.
1.2 RUMUSAN MASALAH

Pada penelitian ini, penulis ingin melihat seberapa besar pengaruh dari
perbedaan jenis minyak lumas dasar (base oil) terhadap nilai viskositas indeks
dan viskositas suhu rendah sebagai parameter kualitas pelumas. Penelitian
dilakukan dengan perlakuan penambahan aditif yang sama, hanya saja jenis
minyak lumas dasar (base oil) yang digunakan berbeda tetapi tetap mengacu
kepada nilai viskositas di suhu 1000C sesuai mutu dari karakterisitik pelumas
tersebut.
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh dari perbedaan jenis
base oil yang digunakan terhadap nilai viskositas indeks dan viskositas suhu
rendah sebagai parameter dari kualitas pelumas. Selain itu untuk mengetahui
jenis base oil mana yang bagus digunakan dalam proses pembuatan pelumas.
1.4 LUARAN PENELITIAN
1.4.1 Luaran dari kegiatan penelitian ini diharapkan mampu menjadi jurnal ilmiah
dalam perusahaan pelumas untuk memilih jenis minyak lumas dasar (base
oil) mana yang sesuai dengan mutu yang diharapkan.
1.4.2 Kegiatan ini pun diharapkan dapat dijadikan sebagai makalah acuan untuk
melihat sejauh mana perbedaan nilai viskositas indeks dan viskositas suhu
rendah dari jenis minyak lumas dasar (base oil) yang berbeda.
1.5 MANFAAT
Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk memudahkan dalam penentuan
jenis mutu yang diharapkan pada saat pembuatan pelumas, sehingga untuk
perusahaan pembuatan pelumas dengan mudah menentukan arah kualitas yang
diharapkan sesuai standar yang ditetapkan. Selain itu penelitian ini bermanfaat
sebagai pedoman acuan bahan dasar dalam langkah membuat pelumas yang
berkualitas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 BAHAN BAKU
2.1.1 Minyak Lumas Dasar (Base Oil)
Base oil didapat melalui proses penyulingan minyak mentah (crude
oil) dan memiliki beberapa tingkatan kualitas, sehingga beda proses dan peralatan
penyulingan akan didapat hasil yang berbeda juga. Semakin tinggi kualitas
minyak mentah yang dipakai, semakin panjang dan presisi proses penyulingan
serta semakin baik katalis pemurniannya maka akan didapat hasil akhir yang
paling optimal. Secara umum kategori base oil terbagi berdasarkan proses
penyulingan dan tindakan katalisasi pemurniannya yakni : Mineral base
oil dan Synthetic base oil.
GROUP I : SOLVENT REFINED MINERAL BASE OIL
Solvent Refined Mineral base oil didapat melalui 4 tahapan sederhana
proses penyulingan minyak mentah berkualitas standar dengan katalis pemurnian
jenis solvent.
gambar 1. Mineral Base Oil (Minyak Lumas dasar Mineral)

termasuk dalam grup I, dengan cirri khas :


Warna kuning pekat meski pada kualitas terbaiknya
Bau menyengat khas minyak
3

Kadar sulfur dan unsure logam lainnya yang masih relative tinggi

kategori minyak lumas dasar grup I paling banyak digunakan sebagai bahan dasar
pelumas yang beredar di Indonesia.
GROUP II : NON SYNTHETIC BASE OIL
Jenis non-synthetic base oil lainnya dengan tingkat performa yang lebih
tinggi adalah Standar minyak lumas dasar (base oil) grup II, dapat dicapai melalui
pencampuran mayoritas base oil grup I kualitas terbaik dengan minoritas synthetic
base oil grup III. Sering disebut sebagai semi-synthetic/synthetic blend/synthetic
base.
GRUPIII : FULLY SYNTHETIC BASE OIL
Memiliki standar kualitas melampaui grup II. Memakai minyak mentah
kualitas lebih baik, melalui 7 tahapan penyulingan yang presisi dan dimurnikan
dengan gas hydrogen tekanan tinggi, sehingga menghasilkan base oil yang tidak
berwarna, tidak berbau dan lebih stabil karena hampir tidak mengandung sulfur
dan unsur-unsur logam berat lainnya.

2.1.2 Additive (Bahan Tambahan)


Berdasarkan fungsi dan kinerjanya, paket additives terbagi dalam tiga jenis
kategori yakni :

(Komponen utama dalam aditif) Main Additives yang berisikan: anti foam,
anti oxidant, anti wear, corrosion & rush inhibitor, detergent, dispersant,
friction modifier, pour point depressants, TBN, dll

Viscosity Index Improver

Oil Flow Improver

a. Aditif Utama (Main Additives)

Anti foam, fungsi : meminimalisir terjadinya gelembung udara yang


timbul akibat kerja piston, sehingga oksidasi dan kontak antar metal secara

langsung juga dapat diminimalisir.


Anti Oxidant, fungsi : mencegah reaksi berantai proses oksidasi yang
dapat berakibat menebalnya lapisan pelumas secara berlebih dan

berpotensi terjadinya sludge.


Anti Wear, : mencegah panas berlebih yang timbul akibat gesekan antar
permukaan metal karena akselerasi dan deselerasi serta beban berat

terhadap kinerja mesin.


Corrosion & rush inhibitor, fungsi : mencegah kerusakan permukaan
metal dan karat yang mungkin timbul akibat reaksi acid (asam) ataupun

oksidasi udara.
Detergent, fungsi : mencegah terjadinya kontaminasi pelumas dari sisa

pembakaran dan mempertahankan permukaan metal tetap bersih.


Dispersant, fungsi : menetralisir sisa pembakaran yang bersifat
kontaminasi sehingga dapat meminimalisir meningkatnya kekentalan

pelumas dan terbentuknya sludge serta oksidasi.


Friction modifier, fungsi : meningkatkan kinerja pelumasan pada
permukaan metal yang bergerak sehingga gesekan yang bersifat abrasi

dan noise dapat diminimalisir.


Pour point depressants, fungsi : membantu stabilisasi kekentalan pelumas
pada

temperatur

mengental/membeku

sangat

rendah,

serta

sehingga

pelumas

timbulnya wax yang

tidak
dapat

menghambat flow pelumas dapat diminimalisir.


TBN, fungsi : menetralisir sifat asam yang mungkin timbul akibat kinerja
pelumasan pada temperatur tinggi ataupun persenyawaan zat pembakar.

b. Pemodifikasi Viskositas Indeks (Viscosity Index Improver)

Berfungsi untuk memperlambat penurunan viskositas akibat naiknya


temperatur suhu sebagai dampak kinerja mesin yang optimal, sehingga
viskositas pelumas jadi lebih stabil.

c. Pemodifikasi Laju Alir Pelumas (Oil Flow Improver)

Berfungsi untuk membantu laju alir pelumas menjadi lebih cepat, sehingga
kontak antar metal secara langsung dapat diminimalisir, terutama pada

saat start awal mesin.


Uraian tersebut di

atas

jelas

memperlihatkan

bahwa base

oil dan additives merupakan suatu paket yang tidak dapat dipisahkan untuk
mencapai hasil pelumasan optimal.

2.2 PELUMAS
Minyak pelumas memiliki komposisi utama berupa campuran minyak dasar
(base oil) dan aditif. Minyak dasar berasal dari hasil penyulingan minyak bumi
yang mengandung mineral dan senyawa sintetik. Minyak dasar pelumas mineral
terdiri dari minyak pelumas mineral, sintetik dan semi sintetik. Minyak dasar
pelumas mineral merupakan turunan dari minyak mentah yang biasanya
memroduksi gasoline, aspal, minyak diesel, kerosin, dan produk petrokimia
lainnya, yang mengandung parafin, naftalena, dan aromatik. Sekitar 95% bahan
baku untuk memroduksi pelumas berasal dari minyak bumi.
Minyak dasar pelumas sintetik diproduksi dari bahan dasar dan komponen
yang berasal dari konversi kimia antara molekul kimia satu dengan molekul kimia
kompleks lainnya. Biasanya terdiri dari polialpaolefin (PAO), polialkalenaglikol
(PAG), diester, dan poliol ester. Minyak dasar pelumas semi sintetik merupakan
minyak dasar pelumas yang berasal dari hasil pencampuran minyak dasar mineral
dan sintetik dengan konsentrasi tertentu. Zat aditif sebagian besar berupa garam
dari asam organik dan beberapa logam seperti besi, barium, magnesium, dan
kalsium. Masing-masing minyak pelumas dasar mengandung jenis aditif yang
berbeda dan biasanya ditambahkan untuk memperbaiki kualitas dari penggunaan
pelumas (Al-Ghouti 2009).
2.2.1 VISKOSITAS KINEMATIK
Perubahan nilai viskositas terhadap kenaikan suhu merupakan suatu hal
yang penting untuk dipertimbangkan di dalam berbagai jenis minyak
pelumas.Viskositas kinematik dari suatu minyak pelumas adalah suatu ukuran dari
6

besarnya tekanan yang diberikan oleh minyak pelumas untuk mengalir yang
dilakukan dengan gaya berat dengan menggunakan viskometer. Viskometer
merupakan alat untuk mengukur viskositas fluida, yaitu mengukur viskositas
berdasarkan tekanan dalam aliran pipa (Maulida dan Rani 2010).Viskositas
pelumas yang tinggi diperlukan untuk beban/tekanan yang besar sedangkan untuk
beban/tekanan

yang

kecil

diperlukan

pelumas

dengan

viskositas

yang

kecil.Pengujian viskositas kinematik mengacu pada metode ASTM D 445-10,


yaitu pengukuran viskositas kinematik dengan menggunakan bath penangas suhu
bersuhu konstan dan dilengkapi termometer dan alat pengukur waktu.
gambar 2. Kinematik viskositas 100 0C
gambar 3. Kinematik viskositas 400C

2.2.2 INDEKS VISKOSITAS


Indeks viskositas merupakan suatu bilangan empiris yang menunjukkan
efek perubahan suhu terhadap viskositas minyak pada suhu 40C dan 100C.
Semakin tinggi nilai indeks viskositas suatu minyak, maka pengaruh perubahan
viskositas minyak terhadap suhunya akan semakin kecil (ASTM D 2270).
Pelumas yang baik adalah pelumas yang memiliki indeks viskositas tinggi, artinya
semakin kecil perubahan viskositas karena perubahan temperatur (Darmanto
2011).

2.2.3 VISKOSITAS SUHU RENDAH


Viskositas minyak pelumas dipengaruhi oleh kondisi suhu, naik turunnya
suhu mengakibatkan perubahan viskositas. Pengujian viskositas pada suhu rendah
diperlukan untuk mengetahui kemampuan pelumas bekerja pada suhu rendah
dengan menggunakan instrumen Cold-Cranking Simulator (CCS), alat ini
mengukur khusus viskositas pelumas dibawah suhu 0C (ASTM D 5293). Pada
suhu dibawah nol derajat, minyak pelumas tidak boleh cepat membeku supaya
tetap dapat dipompa dan mesin dapat mudah dihidupkan. Apabila beban/tekanan
naik atau turun maka viskositas yang diperlukan adalah makin kental atau encer
apabila celah makin membesar maka diperlukan viskositas tinggi supaya fungsi
perapatan tetap dipenuhi.

Viskositas pada temperatur rendah khusus untuk

minyak pelumas multigrade diklasifikasikan dan dibatasi minimum dan


maksimumnya untuk tiap kelasnya, sehingga memudahkan dalam memilih
viskositas atau tingkat SAE yang cocok untuk mesin kendaraan dan daerah
penggunaannya.

gambar 4. Cold Crangking Simulator (CCS)

2.3 PROSES PEMBUATAN PELUMAS


Proses pembuatan pelumas dilakukan dalam skala laboratorium terlebih dahulu
ketika hasil yang didapat sudah sesuai dengan yang diharapkan maka dilanjutkan
dengan skala pabrik. Proses pembuatan pelumas dalam skala laboratorium :
a. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembuatan
formulasi produk pelumas baru.
b. Memprediksi persentase pemakaian base oil yang akan dipakain
untuk pembuatan pelumas baru, sementara untuk persentase
aditif sudah ditentukan dari product data sheet (PDS) aditif itu
sendiri.
c. Menimbang semua komponen base oil dan aditif yang sudah
diperkirakan tadi kedalam beaker glass 200 ml, kemudian
dipanaskan pada hot plate sambil diaduk.
d. Setelah homogeny, hand blend produk tersebut didinginkan dan
dianalisis viskositasnya.
e. Bila viskositas produk masuk ke dalam spesifikasi yang telah
ditentukan maka hand blend produk pelumas baru tersebut
formulanya sudah ditemukan dan selanjutnya hand blend
produk tersebut dianalisa lengkap.
f.

Tapi bila viskositas produk tersebut tidak masuk spesifikasi


yang telah ditentukan maka point b harus diulang dengan
merubah komposisi persentase pemakaian dari base oil, sampai
viscositasnya masuk spesifikasi yang diinginkan. ( IK-QASWGI-001, instruksi kerja blend study untuk produk baru)

2.4 HIPOTESA
a. Semakin tinggi grade base oil grup I, II, III (angka romawi semakin besar)
maka kualitas dari

base oil tersebut semakin baik yang ditandai dengan

penurunan jumlah sulfur dalam bahan tersebut.


9

b. Semakin tinggi nilai viskositas indeks semakin bagus kualitas pelumas yang
dihasilkan.
c. Semakin rendah nilai viskositas suhu rendah semakin bagus kualitas yang
dihasilkan

10

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
3.1.1 TEMPAT PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium penguji PT. Wiraswasta Gemilang
Indonesia yang beralamat dijalan gandamekar km. 24 cibitung, cikarang barat bekasi (jawa barat) 17052A.
3.1.2 WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan mulai dari bulan juni sampai bulan
agustus 2014. Adapun rincian kegiatan penelitian yang akan dilakukan disajikan
dalam table dibawah ini :
Tabel 1. Jadwal Penelitian
Kegiatan

Bulan ke-1

Bulan ke-2

Bulan ke-3

Persiapan Bahan Baku

Penelitian
Analisa Hasil
Pembuatan Laporan

3.2 BAHAN DAN ALAT


3.2.1 BAHAN
a. minyak lumas dasar ( base oil) grup I, grup II, grup III
b. Aditif a, b, c, d, e.

11

3.2.2 ALAT
a. Bath viskometer temperature tetap 100 0C
b. Bath viscometer temperature 40 0C
c. Neraca analitik
d. Pipet plastik
e. Pompa penghisap
f. Termometer
g. Gelas piala
h. Vial kaca
i. Hot plate
j. Magnetic Stirer
k. Spatula
l. Thermoelectric Cold-Cranking Simulator (CCS)
m. Stopwatch
3.3 METODE PENELITIAN
3.3.1 PROSES PENELITIAN
Bahan baku yang telah disiapkan kemudian ditimbang sesuai komposisi
formula yg dibutuhkan kemudian dilakukan pemanasan di penangas (hot plate)
sambil dilakukan pengadukan dengan magnetic stirrer sampai bahan baku
tercampur homogen.

12

Produk pelumas yang akan di amati yaitu :


a. SAE 10W-30
Tabel 2. Komposisi Produk Pelumas A SAE 10W-30 API SL/CF
Komposisi
1
2
3
4
Aditif a
7.70
7.70
7.70
7.70
Aditif b
7.10
7.10
7.10
7.10
Aditif c
0.10
0.10
0.10
0.10
Base oil grup III
25.00
25.00
25.00
25.00
Base oil grup II a
X
X
Base oil grup II b
Y
X
Base oil grup I a
Y
X
Base oil grup I b
Y
Y
Total
100.00
100.00
100.00
100.00

b. SAE 15W-40 CF

Tabel 3. Komposisi Produk Pelumas B SAE 15W-40 CF


Komposisi
1
2
3
4
Aditif a
8.00
8.00
8.00
8.00
Aditif b
0.10
0.10
0.10
0.10
Aditif c
0.77
0.77
0.77
0.77
Aditif d
0.35
0.35
0.35
0.35
Aditif e
8.50
8.50
8.50
8.50
Base oil grup II a
X
X
Base oil grup II b
Y
X
Base oil grup I a
Y
X
Base oil grup I b
Y
Y
Total
100.00
100.00
100.00
100.00

c. SAE 15W-40 CI 4
Tabel 4. Komposisi Produk Pelumas C 15W-40 CI 4
Komposisi
1
2
3
Aditif a
11.90
11.90
11.90
Aditif b
7.50
7.50
7.50
Aditif c
0.71
0.71
0.71
Aditif d
0.35
0.35
0.35
Base oil grup I a
X

4
11.90
7.50
0.71
0.35
X
13

Base oil grup I b


Base oil grup II a
Base oil grup II b
Total

X
Y
100.00

X
Y
100.00

Y
100.00

Y
100.00

d. SAE 10W-40
Tabel 5. Komposisi Produk Pelumas D SAE 10W-40 API SG
Komposisi
1
2
3
4
Aditif a
9.80
9.80
9.80
9.80
Aditif b
10.00
10.00
10.00
10.00
Aditif c
0.10
0.10
0.10
0.10
Base oil grup III
30.00
30.00
30.00
30.00
Base oil grup II a
X
Y
Base oil grup II b
Y
Y
Base oil grup I a
X
X
Base oil grup I b
X
Y
Total
100.00
100.00
100.00
100.00
e.

SAE 15W-40 CF 4

Tabel 6. Komposisi Produk Pelumas E SAE 15W-40 API CF 4


Komposisi
1
2
3
4
Aditif a
7.80
7.80
7.80
7.80
Aditif b
7.50
7.50
7.50
7.50
Aditif c
0.35
0.35
0.35
0.35
Aditif d
0.77
0.77
0.77
0.77
Base oil grup II a
X
Y
Base oil grup II b
Y
Y
Base oil grup I a
X
X
Base oil grup I b
X
Y
Total
100.00
100.00
100.00
100.00
Jumlah persentase nilai x, y dan additive lain harus 100 %. Nilai x dan y
merupakan kombinasi yang perlu dicari agar masuk dalam spesifikasi masing
masing produk yaitu viskositas 100 0C harus sama, contoh produk A standar
viskositas 100 0C antara 14.5 - 15.5 diambil nilai tengah dari standar tersebut yaitu
15.00, sehinggga dalam pembuatan formula harus mengacu kepada standar
viskositas 15.00. Nilai x lebih kental dibanding y, sehingga dalam pencarian

14

formula apabila viskositas 100 0C terlalu kental maka jumlah x dikurangi dan
nkelebihan dari jumlah x tersebut ditambahkan ke y dan sebaliknya.
Ketika pelumas yang telah dibuat sudah memenuhi kriteria di suhu 100 0C
kemudian dilakukan pengecekkan di suhu 40 0C agar dapat ditentukan nilai
viskositas index.
Berdasarkan SNI 06-7069.1-2005 yang mengacu pada standar SAE telah
ditetapkan nilai maksimum dari sampel 10W dan 15W yaitu 7000 cP dan secara
keseluruhan seluruh sampel memenuhi standar yang ditetapakan. Nilai viskositas
pada suhu rendah menaik dari formula 1 hingga formula 4, namun viskositas suhu
rendah yang baik ada pada formula 1 untuk seluruh sampel yang diuji.
3.3.2 VARIABEL PENELITIAN
Variabel variabel yang digunakan dalam penelitian dapat dijabarkan sebagai
berikut :
a. Variabel bebas, merupakan variable pokok yang menjadi faktor pokok
masalah dalam suatu penelitian, dimana dalam penelitian ini variabel
bebasnya adalah jenis komposisi minyak dasar pelumas yang digunakan.
b. Variabel tergantung, merupakan variabel yang besarnya tergantung dan
dipengaruhi oleh variabel bebas, dimana dalam penelitian ini variabel
tergantungnya adalah pengaruh yang dihasilkan dari perbedaan jenis
minyak lumas dasar yang digunakan.
c. Variabel tetap, merupakan variabel yang kondisinya tidak berubah, dimana
dalam penelitian ini variabel tetapnya adalah komposisi dan konsentrasi
aditif yang tidak berubah.
3.4 METODE ANALISA
Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sesuai ASTM. Untuk
viskositas suhu rendah menggunakan ASTM method D 892 Cold Crangking
Simulator, untuk menentukan viskositas index perlu dicari komponen viskositas
pada suhu 100 0C dan pada suhu 40 0C menggunakan ASTM 2270.

15

3.5 DIAGRAM ALIR


3.5.1 Bagan

16

3.5.2 Gambar
a. gambar 5. Persiapan menimbang

b. gambar 6. Menimbang bahan yang digunakan

c. gambar 7. Pemanasan dan pengadukan campuran

17

4. gambar 8. Pengukuran Viskositas 100 0C, 40 0C dan viskositas suhu rendah

18

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 HASIL PENELITIAN
Bahan baku yang telah disiapkan kemudian ditimbang sesuai komposisi
formula yg dibutuhkan kemudian dilakukan pemanasan di penangas (hot plate)
sambil dilakukan pengadukan dengan magnetic stirrer sampai bahan baku
tercampur homogen.
Produk pelumas yang di amati yaitu :
a. SAE 10W-30
Komposisi Produk Pelumas A SAE 10W-30 API SL/CF
Komposisi
1
2
3
4
Aditif a
7.70
7.70
7.70
7.70
Aditif b
7.10
7.10
7.10
7.10
Aditif c
0.10
0.10
0.10
0.10
Base oil grup III
25.00
25.00
25.00
25.00
Base oil grup II a
6.20
6.50
Base oil grup II b
53.90
49.10
Base oil grup I a
11.00
13.50
Base oil grup I b
53.60
46.60
Total
100.00
100.00
100.00
100.00

b. SAE 15W-40 CF

Komposisi Produk Pelumas B SAE 15W-40 CF


Komposisi
1
2
3
Aditif a
8.00
8.00
8.00
Aditif b
0.10
0.10
0.10
Aditif c
0.77
0.77
0.77
Aditif d
0.35
0.35
0.35
Aditif e
8.50
8.50
8.50
Base oil grup II a
29.98
35.92
Base oil grup II b
52.30
36.52
Base oil grup I a
46.03
Base oil grup I b
43.36
Total
100.00
100.00
100.00

4
8.00
0.10
0.77
0.35
8.50
54.10
28.18
100.00

19

c. SAE 15W-40 CI 4
Komposisi Produk Pelumas C 15W-40 CI 4
Komposisi
1
2
3
Aditif a
11.90
11.90
11.90
Aditif b
7.50
7.50
7.50
Aditif c
0.71
0.71
0.71
Aditif d
0.35
0.35
0.35
Base oil grup I a
46.06
Base oil grup I b
52.54
Base oil grup II a
24.00
27.00
Base oil grup II b
55.54
33.48
Total
100.00
100.00
100.00

4
11.90
7.50
0.71
0.35
44.00
35.54
100.00

d. SAE 10W-40
Komposisi Produk Pelumas D SAE 10W-40API SG
Komposisi
1
2
3
Aditif a
9.80
9.80
9.80
Aditif b
10.00
10.00
10.00
Aditif c
0.10
0.10
0.10
Base oil grup III
30.00
30.00
30.00
Base oil grup II a
10.25
11.00
Base oil grup II b
39.85
40.10
Base oil grup I a
10.00
Base oil grup I b
39.10
Total
100.00
100.00
100.00
e.

4
9.80
10.00
0.10
30.00
14.00
36.10
100.00

SAE 15W-40 CF 4

Komposisi Produk Pelumas E SAE 15W-40 API CF 4


Komposisi
1
2
3
Aditif a
7.80
7.80
7.80
Aditif b
7.50
7.50
7.50
Aditif c
0.35
0.35
0.35
Aditif d
0.77
0.77
0.77
Base oil grup II a
45.00
40.00
Base oil grup II b
38.58
11.28
Base oil grup I a
72.30
Base oil grup I b
43.58
Total
100.00
100.00
100.00

4
7.80
7.50
0.35
0.77
60.00
23.58
100.00

20

Ketika pelumas yang dibuat sudah memenuhi kriteria di suhu 100 0C


kemudian dilakukan pengecekkan di suhu 40 0C agar dapat ditentukan nilai
viskositas indeks.

Penggunaan zat aditif dalam formulasi sampel pelumas

bertujuan menghambat turunnya viskositas pelumas akibat kenaikan suhu,


sehingga indeks viskositas pelumas akan meningkat. Indeks viskositas yang tinggi
akan menambah kemampuan pelumas dalam mempertahankan viskositasnya
terhadap suhu.
Setelah itu dilakukan pengecekkan viskositas suhu rendah dengan
menggunakan Thermoelectric Cold Crangking Simulator. Pengujian terhadap
viskositas suhu rendah dari pelumas perlu diperhatikan, sampel yang diuji dengan
kode Winter (W) termasuk pelumas multigrade yang memenuhi persyaratan lebih
dari satu klasifikasi tingkat viskositas, dan digunakan pada kisaran suhu yang
lebih lebar dengan indeks viskositas tinggi. Sampel yang diuji terdiri dari SAE
10W-30, SAE 15W-40 CF, SAE 10W-40. Berdasarkan SAE sampel dengan SAE
10W-30 dan SAE 10W-40 diukur pada suhu 25C sedangkan sampel dengan
SAE 15W-40 CF diuji pada suhu 20C. Pengujian viskositas pada suhu rendah
dilakukan dengan metoda ASTM D 5293 dimana minyak pelumas ini hanya
digunakan untuk multigrade. Kode W dibelakang produk menunjukkan pelumas
banyak digunakan dinegara yang memiliki empat musim atau pada waktu musim
dingin.
Viskositas minyak pelumas sangat dipengaruhi oleh suhu, naik atau
turunnya suhu mengakibatkan naik atau turunnya viskositas. Suhu dibawah nol
derajat, minyak pelumas tidak boleh cepat membeku supaya tetap dapat dipompa
dan mesin dapat mudah dihidupkan. Apabila beban/tekanan naik atau turun maka
viskositas yang diperlukan adalah makin kental atau encer. Apabila celah makin
membesar maka diperlukan viskositas tinggi supaya fungsi perapatan tetap
dipenuhi. Viskositas pada suhu rendah khusus untuk minyak pelumas multigrade
diklasifikasikan dan dibatasi minimum dan maksimumnya untuk tiap kelasnya,
sehingga memudahkan konsumen memilih tingkat viksositasnya atau SAE yang
cocok untuk mesin dan daerah penggunaannya.
Viskositas suhu rendah yang baik adalah viskositas dengan nilai yang kecil,
karena viskositas yang kecil maka tidak akan membeku pada musim dingin dan

21

tidak terlalu encer pada musim panas. Pelumas multigrade ini memiliki kelebihan
yaitu mampu beroperasi pada suhu rendah maupun suhu tinggi dengan baik lalu
memiliki tingkat antioksidasi, detegensi dan ketahanan tinggi dalam menghadapi
turunnya viskositas oleh kenaikan suhu sehingga dapat melindungi mesin dari
kerusakan.
Berdasarkan SNI 06-7069.1-2005 yang mengacu pada standar SAE telah
ditetapkan nilai maksimum dari sampel 10W dan 15W yaitu 7000 cP dan secara
keseluruhan seluruh sampel memenuhi standar yang ditetapakan. Nilai viskositas
pada suhu rendah menaik dari formula 1 hingga formula 4, namun viskositas suhu
rendah yang baik ada pada formula 1 untuk seluruh sampel yang diuji.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Viskositas Kinematik
Kualitas pelumas dilihat dari kerusakan yang timbul dari penggunaan
pelumas pada mesin. Parameter penting yang harus dilihat adalah viskositas
pelumas. Viskositas pelumas menunjukkan perubahan yang signifikan dan bisa
menjadi indikasi terjadinya degradasi minyak dan kontaminasi silang.Viskositas
pelumas sangat dipengaruhi oleh bahan dasarnya, sejauh mana ketahanan
viskositas pelumas pada penggunaanya di mesin kendaraan. Jenis-jenis bahan
dasar pelumas terdiri dari minyak pelumas mineral yang diperoleh dari minyak
bumi dengan jalan penyulingan, dari proses penyulingan tersebut didapatkan
minyak pelumas dengan berbagai jenis kekentalan atau viskositasnya.
Minyak pelumas sintesis dibuat dari hidrokarbon yang telah mengalami
proses khusus, maksudnya adalah minyak ini dibuat tidak hanya sama dengan
minyak mineral, tetapi melebihi kemampuan minyak mineral. Melalui proses
kimia dihasilkan molekul baru yang memiliki stabilitas suhu, oksidasi dan kinerja

22

yang optimal. Minyak pelumas semi-sintesis, diperoleh dengan cara mencampur


antara minyak pelumas sistesis dengan minyak pelumas mineral, sehingga
diperoleh kombinasi dari pelumas mineral.
Penetapan viskositas kinematik menggunakan metode ASTM D-445. Metode uji
viskositas dari produk minyak bumi cair, baik yang transparan maupun yang
gelap, dengan mengukur waktu yang diperlukan oleh sejumlah cairan untuk
mengalir dengan gaya berat melalui suatu viskometer kapiler gelas yang telah
dikalibrasi. Penetapan viskositas sangat dipengaruhi oleh suhu, perubahan suhu
akan mengakibatkan viskositasnya berubah sehingga pengujiannya harus
memperhatikan suhu. Hasil pengujian nilai viskositas kinematik suhu 100C dan
40C dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Data pengujian viskositas kinematik dan indeks viskositas suhu 100C
dan 40C dari minyak pelumas dasar berbeda
Parameter
Viskositas
100C

Viskositas
40C

Indeks
viskositas

Sampel
A
B
C
D
E
A
B
C
D
E
A
B
C
D
E

Formula 1
11.53
14.99
15.08
14.54
15.01
70.85
112.4
106.9
94.10
111.3
157
138
148
161
140

Formula 2
11.53
15.04
14.98
14.42
15.02
72.40
118.2
108.6
96.66
115.1
153
132
144
154
135

Formula 3
11.53
14.99
15.04
14.51
15.08
72.65
115.4
110.1
99.10
117.3
152
134
142
152
133

Formula 4
11.55
15.03
15.01
14.44
14.98
73.27
119.7
111.2
98.69
118.5
151
130
140
151
130

Viskositas kinematik didapat dari hasil kali pengukuran waktu alir dengan
konstanta viskometer yang telah terkalibrasi.Hasil pengujian viskositas yang
diperoleh berbeda tiap produknya. Setiap sampel terdiri dari empat formula yang
masing-masing formula terdiri dari minyak pelumas dasar yang berbeda juga).

23

Batas minimum dan maksimum viskositas kinematik 100C untuk setiap produk
A (SAE 10W-30) yaitu 9.312.4 cSt tipe produk ideal dengan viskositas 11-12 cSt
sedangkan produk B,C, dan E (SAE 15W-40) tipe produk ideal dengan viskositas
14.5-15.5 cSt, serta produk D (SAE 10W-40) yaitu 12.516.2 cSt tipe produk
ideal dengan viskositas 14-15 cSt yang diuji sudah ditetapkan oleh Society of
Automotive Engineers (SAE) sehingga semua formula sampel yang dibuat telah
memenuhi standar.
Hasil pengujian kelima sampel dengan formula yang berbeda menunjukkan
bahwa dari tiap formula masing-masing memiliki nilai viskositas yang berbedabeda. Hal ini disebabkan oleh penggunaan minyak pelumas dasar yang berbeda
yakni grup I,II dan III. Setiap produk juga berbeda karena memiliki tingkatan
SAE dan produk yang berbeda namun sudah memenuhi standar. Viskositas
pelumas akan menurun pada suhu tinggi, karena suhu tinggi dapat menyebabkan
molekul bergerak cepat karena melemahnya ikatan molekul dalam pelumas
sehingga pelumas tersebut menjadi encer.
Viskositas minyak pelumas rendah menyebabkan pelumas mudah terlepas
akibat besarnya tekanan dan kecepatan dari bagian-bagian yang bergerak dan
saling bergesekan sehingga menimbulkan gesekan antara logam dengan logam
secara langsung yang berarti memperbesar gesekan dan mempercepat keausan
dari bagian yang bergerak tersebut. Ketika suatu pelumas viskositasnya rendah,
maka aktivitasnya untuk melindungi bagian mesin kendaraan pada saat mesin
beroperasi akan berkurang, namun bila menggunakan pelumas dengan viskositas
terlalu tinggi akan mendapatkan kesulitan saat menghidupkan mesin, atau
setidaknya baterai akan bekerja keras memberi suplai kearus listrik dan
berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar yang lebih banyak.
Kesalahan dalam percobaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya pada saat penggunaan pipa kapiler yang belum kering dan masih
terdapat heksana yang digunakan sebagai pencuci untuk membersihkan pipa
kapiler, heksana bersifat nonpolar sehingga dapat melarutkan pelumas sehingga
ketika digunakan nilai viskositas yang didapat bisa menjadi kecil atau besar dari
seharusnya.

24

4.2.2 Indeks Viskositas

a. Komposisi Produk Pelumas A

b. Komposisi Produk Pelumas B

25

c. Komposisi Produk Pelumas C

d. Komposisi Produk Pelumas D

e. Komposisi Produk Pelumas E

26

Penggunaan zat aditif dalam formulasi sampel pelumas bertujuan


menghambat turunnya viskositas pelumas akibat kenaikan suhu, sehingga indeks
viskositas pelumas akan meningkat. Indeks viskositas yang tinggi akan menambah
kemampuan pelumas dalam mempertahankan viskositasnya terhadap suhu.
Pengujian indeks viskositas menggunakan ASTM D-2270 yang dihitung dari nilai
pengukuran viskositas kinematik sampel pelumas pada suhu 40C dan 100C
(Lampiran ). Nilai minimum indeks viskositas dari semua sampel yang ditentukan
oleh SAE yaitu 125.Tabel 1 menunjukkan nilai indeks viskositas dari sampel yang
yang diuji diatas nilai minimum indeks viskositasnya.
Nilai indeks viskositas tiap formula seluruh sampel berbeda yang disebabkan
perbedaan penggunaan minyak pelumas dasar. Formula 1 untuk seluruh sampel
memiliki nilai indeks yang tinggi kemudian disusul formula 2, 3,dan 4. Hal ini
terjadi karena formula 1 mengandung minyak pelumas dasar campuran antara
minyak pelumas mineral, semi-sintetik dan sintetik. Diantara keempat formula
dalam seluruh sampel, formula 1 mengandung minyak pelumas dasar sintetik,
yang merupakan pelumas sintetik yang memanfaatkan gas ethylena dari minyak
mentah dicampur dengan gas hidrogen.
Pelumas sintetik mempunyai kelebihan yakni umur pakai yang lebih panjang,
memiliki kandungan sulfur yang kecil dibandingkan dengan minyak pelumas
dasar lainnya, karena dengan sedikitnya sulfur maka saat digunakan pelumas
tersebut tidak menyebabkan korosi dan pelumas sulit untuk teroksidasi, mencegah
gesekan antar mesin sehingga tidak menimbulkan keausan. Pelumas yang baik
adalah pelumas yang memiliki nilai indeks viskositas yang tinggi karena
pelumasannya akan berlangsung lebih baik pada rentang perbedaan suhu yang
lebih lebar.
Formula 1 dari seluruh sampel A,B,C,D,dan E paling baik dibandingkan
formula yang lain karena pelumas dengan formula 1 akan mengalami perubahan
viskositas terhadap suhu yang tidak terlalu signifikan sehingga pada suhub
disekitar mesin tinggi, pelumas tidak terlalu cair dan mampu melumasi bagian
mesin dengan baik dan pada suhu normal tidak terlalu kental yang mengakibatkan
hambatan pada saat starting Oleh sebab itu, indeks viskositas minyak pelumas
dibatasi nilai minimumnya. Minyak pelumas yang indeks viskositasnya lebih

27

rendah dari nilai batas minimumnya adalah minyak pelumas dengan rentang
perubahan viskositas yang lebih lebar untuk perbedaan suhu yang sama, sehingga
dapat menyebabkan pelumas tidak stabil ketika berada pada suhu yang rendah dan
suhu tinggi dan berakibat buruk terhadap mesin.
4.2.3 Viskositas Suhu Rendah

28

a. Komposisi Produk Pelumas A

b. Komposisi Produk Pelumas B

c. Komposisi Produk Pelumas C

29

d. Komposisi Produk Pelumas D

e. Komposisi Produk Pelumas E

Pengujian terhadap viskositas suhu rendah dari pelumas perlu


diperhatikan, sampel yang diuji dengan kode Winter (W) termasuk pelumas
multigrade yang memenuhi persyaratan lebih dari satu klasifikasi tingkat
viskositas, dan digunakan pada kisaran suhu yang lebih lebar dengan indeks
viskositas tinggi. Berikut hasil pengujian terhadap viskositas suhu rendah yang
tertera pada Tabel 8.
Tabel 8. Data pengujian viskositas suhu rendah sampel pelumas
Sampel
A
B
C
D
E

komposisi 1
5254
5912
5608
6279
6494

komposisi 2
5777
6463
5912
6576
6665

komposisi 3
5850
6584
6657
6811
6865

komposisi 4
6288
6990
6839
6965
6958

30

Pengujian viskositas suhu rendah menggunakan sistem pengujian Cold


Cracking Simulator (CCS).Sampel yang diuji terdiri dari SAE 10W-30, SAE
15W-40 CF, SAE 10W-40. Berdasarkan SAE sampel dengan SAE 10W-30 dan
SAE 10W-40 diukur pada suhu 25C sedangkan sampel dengan SAE 15W-40
CF diuji pada suhu 20C. Pengujian viskositas pada suhu rendah dilakukan
dengan metoda ASTM D 5293 dimana minyak pelumas ini hanya digunakan
untuk multigrade. Kode W dibelakang produk menunjukkan pelumas banyak
digunakan dinegara yang memiliki empat musim atau pada waktu musim dingin.
Viskositas minyak pelumas sangat dipengaruhi oleh suhu, naik atau
turunnya suhu mengakibatkan naik atau turunnya viskositas. Suhu dibawah nol
derajat, minyak pelumas tidak boleh cepat membeku supaya tetap dapat dipompa
dan mesin dapat mudah dihidupkan. Apabila beban/tekanan naik atau turun maka
viskositas yang diperlukan adalah makin kental atau encer. Apabila celah makin
membesar maka diperlukan viskositas tinggi supaya fungsi perapatan tetap
dipenuhi. Viskositas pada suhu rendah khusus untuk minyak pelumas multigrade
diklasifikasikan dan dibatasi minimum dan maksimumnya untuk tiap kelasnya,
sehingga memudahkan konsumen memilih tingkat viksositasnya atau SAE yang
cocok untuk mesin dan daerah penggunaannya.
Viskositas suhu rendah yang baik adalah viskositas dengan nilai yang kecil,
karena viskositas yang kecil maka tidak akan membeku pada musim dingin dan
tidak terlalu encer pada musim panas. Pelumas multigrade ini memiliki kelebihan
yaitu mampu beroperasi pada suhu rendah maupun suhu tinggi dengan baik lalu
memiliki tingkat antioksidasi, detegensi dan ketahanan tinggi dalam menghadapi
turunnya viskositas oleh kenaikan suhu sehingga dapat melindungi mesin dari
kerusakan.
Berdasarkan SNI 06-7069.1-2005 yang mengacu pada standar SAE telah
ditetapkan nilai maksimum dari sampel 10W dan 15W yaitu 7000 cP dan secara
keseluruhan seluruh sampel memenuhi standar yang ditetapakan. Nilai viskositas
pada suhu rendah menaik dari komposisi 1 hingga komposisi 4, namun viskositas
suhu rendah yang baik ada pada formula 1 untuk seluruh sampel yang diuji.

31

BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian terhadap minyak dasar pelumas
didapat bahwa :

Dari grafik diatas menunjukkan bahwa dari ke-lima produk pelumas yang
berbeda, pada komposisi pelumas no. 1 yang terbaik, karena memiliki nilai Indeks
viskositas yang tertinggi diantara komposisi lainnya pada satu produk pelumas,
dan memiliki nilai viskositas suhu rendah yang terendah diantara komposisi
lainnya dalam satu produk pelumas. Sehingga, base oil campuran grup II dan grup
III pada komposisi pelumas no. 1 menghasilkan kualitas pelumas yang paling baik
dibandingkan dengan ketiga komponen bahan lainnya namun semua komponen
bahan sesuai dengan yang sesuai standar SNI 067069 12005 dan baik
digunakan untuk memproduksi pelumas.

32

DAFTAR PUSTAKA
[ASTM] American Standar of Testing and Materials. 2010.ASTM D 445.Standar
Test Method for Kinematic Viscosity. United States (US): ASTM
International.
[ASTM] American Standar of Testing and Materials.2010.ASTM D 2270.Standar
Test Method for Calculating Viscosity Index from Kinematic Viscosity at
40C and 100C.United states (US): ASTM International.
[ASTM] Standar of Testing and Materials. 2010. ASTM D 5293.Standar Test
Method for Engine Oils and Base Stocks between 5 and 35C Using
Cold Crangking Simulator. United States (US): ASTM International.
Arisandi, Darmanto, dan Priangkoso T. 2012. Analisa Pengaruh Bahan Dasar
Pelumas terhadap Viskositas Pelumas dan Konsumsi Bahan
Bakar.Momentum. Vol 8 Bo 1, April 2012, hlm 5661.
Afrizal.1996. Pemantauan Mutu Pelumas Mesin Indonesia SAE 40 dengan
Metode Spektroskopi.[Skripsi]. Sarjana Kimia Fakultas Matematika dan
Ilmu pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Darmanto. 2011. Mengenal Pelumas dalam Mesin. Vol 7, No 1. April 2011, hlm
510.
Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya
dalam Majalah Ilmu kefarmasian. Vol 1, No 3. Desember 2004, hlm
128129.
Hart H, Craine LE, Hart DJ. 2003. Kimia Organik. Suatu Kuliah Singkat.
Achmadi SS, penerjemah; Safitri A, editor Jakarta (ID): Penerbit Erlangga.
Terjemahan dari: Organic Chemistry A Short Course. Ed ke 11.
Maulida RH, dan Rani E. 2010. Analisis Karakteristik Pengaruh Suhu dan
Kontaminan Terhadap Viskositas Oli Menggunakan Rotary Viscometer.
Jurnal Neutrino, hlm 31.
Maimuzar dan Hanwar O. 2005. Pengaruh Pencampuran Oli Treatment Dengan
Minyak Pelumas Mesin Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Pada Motor
Bensin. Jurnal Poli Rekayasa. Vol 1, No 1. Oktober 2005, hlm 2124.
Mudjirahardjo dan Haryono .2005. Pengetahuan Produk Mutu Minyak Pelumas.
Lembaga Pengabdian Masyarakat.LPMSTEM.

33

Rincorn J. 2007. Regeneration of Used Lubricant Oil by Ethane Extracti Journal


of Supercritical Fluids,39,315e322.
Standar Nasional Indonesia (SNI). 2005. Klasifikasi dan Spesifikasi Pelumas.
Badan Standarisasi Nasional ICS 75.100.
Subardjo P. 1987. Ketahanan Oksidasi Minyak Pelumas. Lembaran Publikasi
Lemigas No/1.
Wartawan AL. 1983. Minyak Pelumas Pengetahuan Dasar dan Cara Penggunaan
Jakarta (ID): Gramedia.

34

Lampiran 1 Karakteristik fisika kimia minyak pelumas sesuai


SNI 067069.1 2005
Spesifikasi
Min.
Maks.

No

Karakteristik

Satuan

Viskositas kinematik
pada 100oC

CSt

Indeks viskositas

Viskositas pada suhu


rendah (CCS)

Cp

1)

ASTM
D 5293

Viskositas pada suhu


tinggi (HTHS)

Cp

1)

ASTM
D 4683

Titik nyala, COC

200

---

ASTM
D 92

Titik tuang

---

3)

ASTM
D 97

Angka basa total

mgKOH/g

5.0

---

ASTM
D 2896

Kandungan abu sulfat

% berat

0.6

---

ASTM
D 874

10

11

12

Kandungan
logam :

ASTM
D 445

1)

2)

---

Ca

Ppm

Mg

Ppm

Zn

Ppm

800

---

% berat

---

4)5)

Sifat penguapan

Sesuai spesifikasi
produk

Sifat pembusaan untuk

Sq.I

mL

---

75 / 0

tendensi/stabilitas

Sq.II

mL

---

150 / 0

Sq.III

mL

---

75 / 0

---

1b4)

Korosi bilah tembaga

mL

Metode

ASTM
D 2270

ASTM
D 4628
/ AAS
ASTM
D 874
ASTM
D 892

ASTM
D 130

35

CATATAN
1)

Sesuai spesifikasi produsen yang memenuhi SAE J300, Des. 1999

2)

Sesuai dengan batas indeks viskositas minimum untuk minyak pelumas

3)

Hanya berlaku untuk multigrade, lebih rendah 3oC dari suhu uji CCS untuk
minyak pelumas yang bersangkutan.

4)

Hanya berlaku pada saat pengawasan.

5)

Produk SAE 30, SAE 0, SAE 50, maksimum 15

Lampiran 2 Jenis mesin diesel dalam klasifikasi API


No

Klasifikasi API

Penggunaan Dan Kualitas Oli

CD

Minyak ini diperuntukkan guna melindungi


korosi pada bantalan poros dan dari endapan
suhu pada mesin diesel yang dilengkapi dengan
alat penambah tenaga yang menggunakan bahan
bakar berbagai mutu. Mesin diesel tersebut
adalah mesin yang mempunyai kecepatan tinggi
dan beban tenaga mesin yang tinggi, yang
memerlukan kontrol yang efektif terhadap
keausan dan endapan. Sedangkan kandungan
detergen dispersan dalam jumlah besar sudah
tidak terpakai

CE

Pengganti CC dan CD, mesin diesel tersebut


adalah mesin yang mempunyai kecepatan tinggi
dan beban tenaga mesin yang tinggi, yang
memerlukan kontrol yang efektif terhadap
keausan dan endapan. Sedangkan kandungan
detergen-dispersan
dalam
jumlah
besar
diperkenalkan tahun 1987, sudah tidak terpakai

CF

Diperkenalkan pada tahun 1994, untuk off


road, indirect injected, dan mesin diesel lainnya
yang menggunakan bahan bakar dengan berat
sulfur dari 0.5 % sebagai pengganti CD

36

CF-2

Diperkenalkan pada tahun 1994, untuk mesin


langkah.

CF-4

Diperkenalkan pada tahun 1990, untuk mesin


kecepatan tinggi dengan turbo charged dan
sebagai pengganti CD, CE

CG-4

Diperkenalkan pada tahun 1995, untuk mesin


kecepatan tinggi, 4 langkah yang menggunakan
bahan baker dengan berat sulfur kurang dari 0.5
% diperuntukan untuk standar emisi 1994,
sebagai pengganti CD, CE dan CF-4

CH-4

Diperkenalkan pada tahun 1998, untuk mesin


kecepatan tinggi, 4 langkah yang menggunakan
bahan bakar dengan berat sulfur sampai dengan
0.5 % diperuntukan untuk standar emisi 1998,
sebagai pengganti CD, CE ,CF-4, dan CG-4

CI-4

Diperkenalkan pada 5 September 2002,


untuk mesin kecepatan tinggi, 4 langkah,
diperuntukkan untuk standar emisi 2004 yang
diimplementasikan sejak 2002, minyak ini di
formulasikan untuk mempertahankan daya
tahan mesin dimana resirkulasi gas buang
digunakan dan digunakan bahan bakar dengan
berat sulfur sampai dengan 0.5 %, sebagai
pengganti CD, CE, CF-4, CG-4 dan CH-4

Lampiran 3 Standar SAE minyak pelumas


Tingkat
Viskosit
as

Viskositas pada suhu tinggi


Viskositas suhu rendah

SAE
Viskositas

Pemompaan (cP)
maks. Tanpa

Viskositas
kinematik
(cSt) pada
100C
Mi
n

Viskositas (cP)
Min.HTHS pada
150C

Maks

37

(cP) maks.
CCS pada
suhuC

tegangan pada suhu


C*)

0W

6200 pada
35

6000 pada 40

3.8

5W

6600 pada
30

6000 pada 35

3.8

10W

7000 pada
25

6000 pada 30

4.1

15W

7000 pada
20

6000 pada 25

5.6

20W

9000 pada
15

6000 pada 20

5.6

25W

13000 pada
10

6000 pada 15

9.3

20

5.6

<9.3

2.6

30

9.3

<12.5

2.9

12.
5

<16.3

2.9 (untuk
SAE 0W40,
5W40, 10W40)
3.7 (untuk
SAE 15W40,
20W40,
25W40)

40

40

12.
5

16.3

50

16.
3

<21.9

3.7

60

21.
9

<26.1

3.7

Catatan
*)

Untuk standar yang belum diberlakukan

Lampiran 4 Nilai indeks viskositas 40C dan 100C

38

Viskositas Kinematik

11.53

187.6

101.5

11.55

187.6

101.5

14.42

276.3

141.0

14.44

276.3

141.0

14.51

279.6

142.4

14.54

279.6

142.4

14.98

293.0

148.2

14.99

293.0

148.2

15.01

296.5

149.7

15.02

296.5

149.7

100C mm2/s (cSt)

Lanjutan lampiran 5 Nilai indeks viskositas 40C dan 100C


Viskositas Kinematik

15.03

296.5

149.7

15.04

296.5

149.7

15.08

296.5

149.7

100C mm2/s (cSt)

Lampiran 6. Contoh perhitungan viskositas kinematik suhu 40 C


Jenis
pelumas
A
B

Jenis
Formula
1
2
3
4
1
2
3

kapiler
F 137
F 665
X 421
X 423
F 137
F 665
X 421

Waktu (detik)
70.66
75.72
237.72
259.40
112.10
123.61
377.61

Faktor

Viskositas

Kapiler
1.002661
0.956168
0.305607
0.282134
1.002661
0.956168
0.305607

(Cst)
70.85
72.40
72.65
73.27
112.40
118.20
115.40

39

4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

X 423
F 137
F 665
X 421
X 423
F 137
F 665
X 421
X 423
F 137
F 665
X 421
X 423

424.26
106.61
113.57
360.26
394.13
93.85
101.09
324.27
349.79
111.00
120.37
383.82
420.01

0.282134
1.002661
0.956168
0.305607
0.282134
1.002661
0.956168
0.305607
0.282134
1.002661
0.956168
0.305607
0.282134

119.70
106.90
108.60
110.10
111.20
94.10
96.66
99.10
98.69
111.30
115.10
117.30
118.50

Contoh perhitungan :
Sampel A pada formula 1
Viskositas kinematik (VK) = C t
= 1.002661 70.66 detik
= 70.85 cSt

Lampiran 7. Contoh perhitungan viskositas kinematik suhu 100 C


Jenis
pelumas
A

C
D

Formula
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1

Jenis

Waktu

Faktor

Viskositas

kapiler
D 182
C 904
D 163
D 161
D 182
C 904
D 163
D 161
D 182
C 904
D 163
D 161
D 182

(detik)
112.47
113.27
122.14
125.74
146.21
147.74
158.79
163.62
147.09
147.15
159.32
163.41
141.82

Kapiler
0.102520
0.101796
0.094401
0.091855
0.102520
0.101796
0.094401
0.091855
0.102520
0.101796
0.094401
0.091855
0.102520

(Cst)
11.53
11.53
11.53
11.55
14.99
15.04
14.99
15.03
15.08
14.98
15.04
15.01
14.54

40

2
3
4
1
2
3
4

C 904
D 163
D 161
D 182
C 904
D 163
D 161

141.66
153.71
157.20
146.41
147.55
159.74
163.08

0.101796
0.094401
0.091855
0.102520
0.101796
0.094401
0.091855

14.42
14.51
14.44
15.01
15.02
15.08
14.98

Contoh perhitungan :
Sampel A pada formula 1
Viskositas kinematik (VK) = C t
= 0.102520 112.47 detik
= 11.53 cSt

Lampiran 8. Contoh perhitungan nilai indeks viskositas


Jenis
Pelumas
A

Viskositas
Formula

100 C

Viskositas

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3

(Cst)
11.53
11.53
11.53
11.55
14.99
15.04
14.99
15.03
15.08
14.98
15.04
15.01
14.54
14.42
14.51
14.44
15.01
15.02
15.08

40 (Cst)
70.85
72.40
72.65
73.27
112.40
118.20
115.40
119.70
106.90
108.60
110.10
111.20
93.25
96.66
99.10
98.69
111.30
115.10
117.30

101.5
101.5
101.5
101.5
149.7
149.7
149.7
149.7
149.7
149.7
149.7
149.7
142.4
141.0
142.4
141.0
149.7
149.7
149.7

0.1470
0.1381
0.1367
0.1332
0.1021
0.0871
0.0961
0.0825
0.1241
0.1149
0.1133
0.1098
0.1582
0.1415
0.1355
0.1336
0.1094
0.097
0.0899

Indeks
viskositas
156
152
152
150
137
131
134
129
146
142
142
140
161
154
151
150
140
135
132

41

14.98

118.50

148.2 0.0826

129

Contoh perhitungan :
Sampel A formula 1

IV =

+100

= 156

42