Vous êtes sur la page 1sur 3

REFLEKSI KASUS

Asma Bronkiale
1. Rangkuman Kasus
Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas, sesak nafas ini sudah
dirasakan sejak satu hari SMRS. Sesak diikuti mengi. Ia mengaku bahwa sesaknya ini
sering kambuh atau kumat apalagi bila beraktivitas berat. Ia lebih nyaman dalam posisi
setengah duduk, sesaknya berkurang jika di nebu. Ia juga mengeluhkan sudah batuk
kurang lebih satu minggu SMRS, ngikil (+), berdahak (+), dahak putih (+), tidak banyak
dan tidak kental serta susah dikeluarkan disertai dengan pilek berwarna putih.
2. Perasaan terhadap Pengalaman
Bagaimana diagnosis dan tatalaksana Asma Bronkiale pada anak?

3. Evaluasi
Penegakkan diagnosis Asma Bronkiale dilakukan berdasarkan alloanamnesis dengan
orang tua, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lab pada pasien.
4. Analisis
Berdasarkan definisi di atas, maka mengi berulang dan/atau batuk kronik berulang
merupakan titik awal untuk menunjuk diagnosis, termasuk yang perlu dipertimbangkan
kemungkinan asma adalah anak-anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satusatunya tanda, dan pada saat diperiksa tanda-tanda mengi, sesak dan lain-lain sedang tidak
timbul. Jika gejala dan tanda asma jelas, serta repon terhadap pemberian obat asma baik
sekali maka tidak perlu pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Pada pemeriksaan fisik
(waktu kumat), terdapat kesulitan bernapas terutama ekspirasi: sesak napas, wheezing
expiratoir, sianosis kadang dengan pernapasan cuping hidung.
Tujuan tatalaksana serangan asma pada anak adalah untuk:
~

Meredakan penyempitan jalan napas secepat mungkin.

Mengurangi hipoksemia.

Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya.

Rencana tatalaksana untuk mencegah kekambuhan.


PNAA membagi penanganan serangan asma menjadi dua, tatalaksana di rumah dan di

rumah sakit. Tatalaksana di rumah dilakukan oleh pasien (atau orang tuanya) sendiri di
rumah. Hal ini dapat dilakukan oleh pasien yang sebelumnya telah menjalani terapi
dengan teratur, dan mempunyai pendidikan yang cukup. Penanganan di rumah sakit dapat
diihat pada Tabel 4.

Alur Penanganan Serangan Asma Pada Anak


Klinik / IGD
Nilai derajat serangan (sesuai Tabel 1)

Tatalaksana awal
nebulisasi agonis 1-3x, selang 20 menit
nebulisasi ketiga + antikolinergik
jika serangan berat, nebulisasi 1x (+antikolinergik)

anSerangan
ringan sedang
sasi 1x, respons baik, gejala hilang)

Serangan berat
(nebulisasi
2-3x,
(nebulisasi
3x,
respons buruk)

respons
parsial)O2 saat/ di luar nebulisasi
si 1-2 jam
sejak
awal berikan
berikan
bertahan, tetap baik boleh pulang
pasang
jaluroksigen
parenteral
kembali
derajat serangan,
sesuainilai
dengan
observasi
diserangan
Ruang Rawat
lanilai
timbul
lagi, perlakukan
sebagaijika
serangan
sedang
ulangserangan
klinisnya,sedang,
jika sesuai
dengan
berat, Sehari
rawat di Ruang Raw
pasang
jalur
parenteral
foto Rntgen toraks

pulang

Ruang
Ruang
Rawat
Rawat
Sehari
Inap

obat b.dilatoroksigen
(hirupan/oral)
oksigen
teruskan
teruskan
dah ada obat berikan
pengendali,
atasisteroid
dehidrasi
teruskan
oraldan asidosis jika ada
rlu dapat diberi
nebulisasi
steroid
steroidoral
tiap
IV tiap
2 jam
6-8 jam
24-48 jam kontrol
bila nebulisasi
dalam
ke Klinik
8-12
R.
tiap
jam
Jalan,
1-2
perbaikan
jam
untuk reevaluasi
klinis stabil, boleh pulang
jika aminofilin
dalam 12 jam
IV awal,
klinislanjutkan
tetap belum
rumatan
membaik, alih rawat ke Ruang Rawat Inap
jika membaik dalam
4-6x nebulisasi, interval jadi 4-6 jam
jika dalam 24 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang
jika dengan steroid dan aminofilin parenteral tidak membaik, bahkan timbul ancaman henti napas, alih

ian serangannya berat, nebulisasi cukup 1x langsung dengan agonis + antikolinergik


ya, nebulisasi dapat diganti dengan adrenalin 1/1000 subkutan 0,01 ml/kgBB/kali maksimal 0,3 ml/kali
dang dan terutama berat, oksigen 2-4 L/menit diberikan sejak awal, termasuk saat nebulisasi
nyai riwayat serangan sedang/berat, dan diduga infeksi virus sebagai pencetus
dan antihistamin tidak boleh diberikan
gan & sedang nebulisasi dapat diganti dengan obat hirupan (MDI) dibantu spacer

5. Kesimpulan
- Asma Bronkiale adalah mengi berulang dan/atau batuk kronik berulang. Pada
anak, hal yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah batuk sebagai
satu-satunya tanda,
-

Tujuan tatalaksana pada serangan asma adalah untuk meredakan penyempitan


jalan napas secepat mungkin, mengurangi hipoksemia, mengembalikan fungsi
paru ke keadaan normal secepatnya, rencana tatalaksana untuk mencegah
kekambuhan.

6. Daftar Pustaka
Rahajoe, N.N., Basir, D., Makmuri, Kartasasmita, C.B., 2005, Pedoman Nasional
Ilmu Kesehatan Anak, Unit Koordinasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1985,
Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.