Vous êtes sur la page 1sur 15

M.

YUNUS PERBEDAAN HASILPEMERIKSAAN KADAR HEMATOKRIT SECARA MANUAL


DAN AUTOMATIK. Di bawah bimbingan Andri Sukeksi dan Tulus Ariyadi.
Abstraks
Pemeriksaan hematokrit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara
manual dan cara automatik. Salah satunya cara manual dengan menggunakan
metode mikro yaitu dengan menggunakan alat sentrifuge (KHT-410E), sedangkan
cara automatik menggunakan alat BC-2600 Auto Hematology Analyzer yang
masing-masing alat tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan
kadar hematokrit secara manual dan automatik. Jenis penelitian ini adalah
penelitian analitik. Populasi penelitian yaitu Mahasiswa tingkat III Analis
Kesehatan Muhammadiyah Semarang. Pengambilan sampel dilakukan secara
purposive sampling sejumlah 1 (satu) orang, kemudian sampel darah dari orang
tersebut diperiksa menggunakan kedua metode, masing-masing pemeriksaan
dikerjakan 25 kali dalam waktu yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan kadar
hematokrit secara manual (metode mikro) dengan menggunakan alat sentrifuge
adalah 42,48% dan standart deviasinya adalah 0,64. Sedangkan rata-rata hasil
pemeriksaan kadar hematokrit cara automatik menggunakan alat BC-2600 Auto
Hematology Analyzer adalah 40,16% dan standart deviasinya adalah 5,23. Hal ini
menunjukkan bahwa pemeriksaan kadar hematokrit secara automatik mengalami
kenaikan dibanding dengan cara manual. Dengan menggunakan uji statistik t test
diperoleh t hitung yang didapat 2,2015 lebih besar dari t table 2,021 pada tingkat
kesalahan 5 % dan menghasilkan kesimpulan bahwa ada perbedaan bermakna
antara hasil pemeriksaan kadar hematokrit secara manual dan automatik

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Pemeriksaan
laboratorium diperlukan sebagai salah satu
penunjang untuk mengetahui penyebab
timbulnya
suatu
penyakit. Karena itu pemeriksaan laboratorium berperan penting
dalam menentukan diagnosis klinis, salah satu pemeriksaan
laboratorium adalah pemeriksaan Hematologi (Depkes RI, 1989).
Pada pemeriksaan hematokrit dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu :
Cara manual dan cara automatik.Pada cara manual dilakukan
pengukuran secara mikro. Pengukuran secara mikro ini
menggunakan tabung kapiler sehingga disebut juga dengan metode
kapiler. Sampel pada metode mikro digunakan sampel darah kapiler
atau darah vena dengan antikoagulan, hasil pemeriksaan dibaca
dengan menggunakan alat khusus dan dinyatakan dalam persen (Dep Kes RI,
1989).
Tetapi metode ini hasilnya tidak dapat dilihat langsung pada tabung melainkan
kita harus mengukur kadar hematokrit menggunakan skala hematokrit karena, darah
yang digunakan lebih sedikit dibandingkan dengan metode makro otomatis volume
plasmanya sedikit dibandingkan dengan metode makro (Sir John V. D. S. M. Lewis,
1991).
Pada pemeriksaan hematokrit cara manual (metode mikro) specimen diolah
berdasarkan daya sentrifugal, dimana alat tersebut mempunyai kekurangan yaitu saat
dilakukan sentrifuge atau pemusingan yang kurang kuat atau terlalu cepat, terjadinya
kebocoran pada tabung kapiler saat pemusingan sehingga dapat menyebabkan
endapan sel darah merah yang didapat tidak maksimal/berkurang, adanya plasma
yang terperangkap (dikarenakan bentuk eritrosit tidak normal) yang menyebabkan
nilai hematokrit akan meningkat (Larry Waterbury, 1998).
Sedangkan untuk kelebihannya yaitu waktu pemusingan untuk mendapatkan
endapan sel darah merah yang singkat. Pada pemeriksaan secara automatik spesimen
diolah berdasarkan prinsip impedansi elektrik yaitu metode impedansi untuk
penentuan WBC (White Blood Cell), RBC (Red Blood Cell), dan PLT (Platelet) serta

metode kolorimetrik untuk penentuan HGB (Hemoglobin). Perhitungan cara


automatik menggunakan alat penghitung elektronik (BC-2600 Auto hematology
Analyzer).
(Mindray, 2006) sehingga sesuai untuk kepentingan rutin.Pada pemeriksaan
hematokrit dengan cara automatik yang menggunakan alat BC-2600 Auto
Hematology Analyzer yang bekerja berdasarkan prinsip impedansi elektrik, alat
tersebut juga memiliki kekurangan yaitu disaat jumlah eritrosit meningkat maka
analyzer tidak mampu menghitungnya, waktu pemeriksaan yang ditunda terlalu
lama akan menyebabkan terjadinya perubahan
morfologi
sel
darah
merah, sampel yang tidak homogen menyebabkan hasil pemeriksaan yang
kurang
akurat, sedangkan untuk kelebihannya yaitu waktu pemeriksaannya yang
singkat, hasil pemeriksaan segera diperoleh dan dapat menunjukkan 19 parameter
sekaligus, dapat melakukan 30 kali pemeriksaan dalam 1 jam.
B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahannya
sebagai berikut : Apakah terdapat perbedaan hasil pemeriksaan kadar hematokrit cara
manual dan cara automatik?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan cara manual dan
cara automatik.
2. Tujuan Khusus
a. Menghitung kadar hematokrit cara manual dengan menggunakan metode mikro
(Sentrifuge).
b. Menghitung kadar hematokrit cara automatik dengan menggunakan alat analyzer
(BC-2600 Auto Hematology Analyzer).
c. Menganalisa perbedaan kadar hematokrit cara manual dan cara automatik.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis

Dapat menambah keterampilan dan ketelitian dalam melakukan pemeriksaan


hematokrit serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang pemeriksaan
hematokrit.
2. Bagi Akademi
Penelitian ini diharapkan dapat menambah ragam penelitian dibidang ilmu
hematologi.
3. Bagi Mahasiswa
Mendapatkan informasi tentang pemeriksaan hematokrit cara manual (metode
mikro) dan cara automatik (BC-2600 Auto Hematology Analyzer)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Darah
1. Pengertian darah
Dalam system sirkulasi darah merupakan bagian penting yaitu dalam
transport oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair
yaitu berupa plasma darah dan serum. Bagian padatnya yaitu sel darah
merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).
(Dep Kes, 1989).
Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan
darah) dan tvuf7 gy45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada
tubuh kita yaitu sekitar 1/13 berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau 5 liter.
Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia
karena berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan
lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang
dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan
kematian.
2. Korpuskuli atau sel-sel darah
Korpuskuli adalah elemen seluler yang terdapat dalam darah yang
berupa eritrosit, leukosit dan trombosit.
Fungsi sel darah
Sel-sel darah mempunyai beberapa fungsi antara lain :
a. Eritrosit
Eritrosit berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke
jaringan tubuh dan mengangkut karbondioksida dari jaringan ke paruparu.
b. Leukosit
Leukosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan
tubuh terhadap mikroorganisme atau benda asing dan memperbaiki
terjadinya kerusakan vasculer.
c. Trombosit

Trombosit mempunyai fungsi berhubungan dengan hemostasis


(proses berhentinya darah mengalir dari suatu luka). (Dep Kes RI,
1989).
B. Hematokrit
Hematokrit berasal dari kata haimat yang berarti darah, dan krinein
yang berarti memisahkan. (Dep Kes RI, 1989).
Hematokrit (mikro) adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan
memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan
dalam persen. Nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui nilai eritrosit rata-rata
dan untuk mengetahui ada tidaknya anemi. Penetapan nilai hematokrit dapat
dilakukan dengan cara makro dan mikro.
Nilai normal hematokrit disebut dengan %, nilai untuk pria 40-48 vol
% dan untuk wanita 37-43 vol %. Penetapan hematokrit cara manual (metode
mikro) dapat dilakukan sangat teliti, kesalahan metodik rata-rata 2 %.
(Gandasoebrata, 2007).
C. Pemeriksaan Hematokrit
1. Pemeriksaan Hematokrit Secara Manual
Prinsip pengukuran hematokrit cara manual (metode mikro) adalah
darah vena dengan menggunakan antikoagulan, kemudian dimasukkan ke
dalam tabung kapiler yang salah satu ujungnya ditutup dengan bahan khusus
(dempul) dan dipusingkan menggunakan centrifuge selama 5 menit dengan
kecepatan 11.000 rpm sehingga terjadi pemadatan sel-sel darah merah. Tingginya sel
darah merah diukur dengan menggunakan skala hematokrit yang dinyatakan dalam
persen terhadap seluruh darah. (Dep Kes RI, 1989).
Alat yang dipakai untuk pemeriksaan hematokrit sendiri adalah
tabung mikrokapiler, tabung tersebut dibuat khusus untuk mikro
hematokrit dengan panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1,2 sampai
1,5 mm. Ada pula tabung yang sudah dilapisi heparin tabung ini
dipakai untuk darah oxalat atau darah EDTA dari vena, sedangkan tabung kapiler
tanpa heparin digunakan untuk darah kapiler (Gandasoebrata, 2007).

Cara mikro ini cepat dan mudah tetapi daya sentrifugal harus
dikontrol dan posisi tabung saat membaca dengan skala harus tepat.
Metode tersebut memungkinkan untuk memperkirakan volume lekosit dan
trombosit yang menyusun buffy coat diantara eritrosit dan plasma, plasma
harus pula diamati terhadap adannya ikterus atau hemolisis. (Frances K.
Widmann, 1989).
Keuntungan pengukuran hematokrit dengan metoda mikro antara
lain volume sampel darah yang digunakan sedikit, waktu pemusingan
untuk mendapatkan endapan sel darah merah singkat sehingga sesuai
untuk kepentingan rutin, serta dapat digunakan sampel darah kapiler yang
lebih mudah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan hematokrit :
a. Jumlah eritrosit
Apabila jumlah eritrosit dalam keadaan banyak (polisitemia)
maka nilai hematokrit akan meningkat dan jika eritrosit sedikit (dalam
keadaan anemia) maka nilai hematokrit akan menurun. (Dep Kes RI,
1989).
b. Bentuk eritrosit
Apabila terjadi kelainan bentuk (poikilositosis) maka akan
terjadi trapped plasma (plasma yang terperangkap) sehingga nilai
hematokrit akan meningkat. (Maxwell M. Wintrobe, 1974).
c. Ukuran eritrosit
Faktor terpenting pada pengukuran hematokrit adalah ukuran sel
darah merah dimana dapat mempengaruhi viskositas darah. Viskositas
yang tinggi maka nilai hematokrit juga akan tinggi. (Frances K,
Widmann, 1989).
d. Diameter tabung
Diameter tabung yang bervariasi dapat menyebabkan kesalahan
pembacaan sehingga tabung untuk pengukuran hematokrit distandarkan
dari Inggris dengan diameter tabung 2,5 mm. Semakin besar diameter
tabung, maka hasil nilai hematokrit akan rendah. (Sir John V. D,1991).

e. Sentrifuge
Pemusingan yang kurang kuat akan mendapatkan endapan sel
darah merah yang tidak maksimal. Pemusingan yang terlalu cepat juga
dapat menyebabkan berkurangnya sel darah merah. (Maxwell M.
Wintrobe, 1974).
Faktor-faktor lainnya :
1) Perbandingan antikoagulan dengan darah Jika antikoagulan yang dipakai
berlebihan akan mengakibatkan eritrosit mengerut, sehingga nilai hematokrit
menjadi lebih rendah dari yang sebenarnya. (Gandasoebrata, 2007).
2) Adanya gelembung udara Adanya gelembung udara akan mengakibatkan
kesalahan pada pembacaaan nilai hematokrit. (Sir John V.D, S.m, Lewis,1991).
Sumber-sumber kesalahan dalam pemeriksaan Hematokrit (mikro)
Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi dalam pemeriksaan hematokrit
antara lain :
1. Penggunaan antikoagulan EDTA yang lebih dari kadar 1,5 mg/ml
darah mengakibatkan eritrosit mengerut sehingga nilai hematokrit akan
turun.
2. Bahan pemeriksaan yang ditunda lebih dari 6 jam akan meningkatkan
hematokrit.
3. Bahan pemeriksaan tidak dicampur hingga homogen sebelum
pemeriksaan dilakukan.
4. Darah yang digunakan untuk pemeriksaan tidak boleh mengandung
bekuan.
5. Kecepatan dan lamanya pemusingan harus sesuai.
6. Pemakaian mikro sentrifuge dalam waktu yang lama mengakibatkan
alat menjadi panas sehingga dapat mengkibatkan hemolisis.
7. Lapisan buffy coat tidak turut dibaca tetapi hal ini sulit diatasi.
8. Endapan atau lisis dari eritrosit dapat terjadi bila salah satu ujung pipet
kapiler disumbat dengan cara dibakar.

9. Penguapan plasma dapat terjadi selama pemusingan atau bila pipet


kapiler yang akan dibaca dibiarkan terlalu lama.
10. Pembacaan yang salah. (Wirawan dkk, 1996).
2. Pemeriksaan Hematokrit Secara Automatik
Pemeriksaan hematokrit secara automatik menggunakan alat
analisis sel darah automatik. BC-2600 Auto Hematology Analyzer
merupakan suatu penganalisis hematologi multi parameter untuk
pemeriksaan kuantitatif maksimum 19 parameter dan 3 histogram yang
meliputi WBC (White Blood Cell), Lymphocyte, Mid sized cell,
Granulocyte, Limphocyte persentage, Mid-sized cell persentage,
granulocyte persentage, RBC (Red Blood Cell), HGB (Hemoglobin), MCV
(Mean Cospuscular Volume), MCH (Mean Cospuscular Hemoglobin),
MCHC (Mean Cospuscular Hemoglobin Concentration), RDW-CV (Red
Blood Cell Distribution Width Coefficient of Variation), RDW-SD (Red
Blood Cell Distribution Width Standard Deviation), HCT (Hematocrit),
PLT (Platelet), MPV (Mean Platelet Volume), PDW (Platelet Distribution
Width), PCT (Plateletcrit), WBC Histogram (White Blood Cell
Histogram), RBC Histogram (Red Blood Cell Histogram), PLT Histogram
(Platelet Histogram). (Mindray, 2006).
Pengukuran RBC (Red Blood Cell) dihitung dan diukur dengan
metode impedansi , metode ini berdasarkan pada pengukuran perubahan
daya tahan elektris yang di produksi sebuah partikel, dalam hal ini
partikelnya adalah sel darah. Setiap partikel yang melewati celah akan
mengalami perubahan pada daya tahannya diantara elektroda-elekrtoda
yang di produksi. Perubahan yang dihasilkan dapat diukur getaran
elektrisnya. Setiap getaran diperkuat dan di bandingkan dengan saluran
voltasi yang diterima oleh getaran dengan amplitude tertentu. Jika getaran
yang di bandingkan melebihi range terendah RBC, maka dihitung sebagai
RBC.
Analyzer dalam penghitungan RBC menggunakan unit
penghitungan volumetrik yang terdiri dari tabung pengukuran dengan 2
sensor optik yang terpasang diatas tabung yaitu sensor atas dan sensor
bawah , penghitungan dimulai saat cairan melewati miniskus sensor yang
tinggi dan berhenti ketika mencapai sensor yang rendah, waktu yang
dibutuhkan untuk melewati sensor tinggi ke sensor rendah disebut jumlah
waktu RBC. Ini diukur dalam detik, jumlah waktu yang terukur
dibandingkan dengan referensi jumlah waktu. Jika hasil waktunya kurang

dari atau lebih dari 2 detik maka analyzer akan melaporkan RBC
bergelembung atau error.
Reagen yang diperlukan dalam pemeriksaan hematokrit cara
automatik dengan menggunakan analyzer BC-2600 antara lain diluent
sebagai larutan pengencer dan sebagai medium penghantar. (Mindray,
2006).
BC-2600 adalah suatu penganalisis spesimen yang berisi perangkat keras untuk
menganalisis setiap spesimen darah secara keseluruhan serta bagian data yang
meliputi komputer, monitor, keyboard, printer. Keuntungan pemeriksaan hematokrit
secara automatik antara lain : waktu pemeriksaan yang singkat, penggunaan sampel
yang sedikit, data hasil pemeriksaan segera diperoleh tetapi harga alat yang mahal.
Hasil pemeriksaan bisa menunjukkan 19 parameter pemeriksaan sekaligus, dalam 1
jam dapat melakukan 30 kali pemeriksaan.
Sumber-sumber kesalahan pemeriksaan hematokrit secara automatik antara lain :
1. Waktu pemeriksaan yang ditunda terlalu lama menyebabkan terjadi perubahan
morfologi sel darah.
2. Kesalahan tidak mengocok sampel secara homogen, terutama bila tidak memiliki
alat pengocok otomatis (nutator) maka dikhawatirkan sampel tidak homogen .
3. Alat bekerja tidak teliti dan tidak tepat dikarenakan tidak melakukan kalibrasi
secara berkala.
4. Volume sampel sedikit. Untuk alat jenis open tube maka, penyebab salahnya saat
memasukkan sampel pada jarum sampling alat, misal ujung jarum tidak masuk penuh
pada darah atau darah terlalu sedikit dalam tabung sehingga saat dimasukkan jarum
tidak terendam seluruhnya.
5. Alat rusak atau keadaan alat yang kotor.
6. Tidak mengikuti petunjuk operasional alat.

D. Manfaat Pemeriksaan Hematokrit dalam Klinik


Pemeriksaan hematokrit bermanfaat untuk mengukur derajat anemia dan
polisitemia. Untuk mengetahui adanya ikterus yang dapat diamati dari warna plasma,
dimana warna yang terbentuk kuning atau kuning tua. Dapat juga digunakan untuk
menentukan rata-rata volume eritrosit merupakan tes screening dalam mendeteksi
adanya hiperbilirubinemia. (Maxwell M. Wintrobe, 1974).
Warna plasma yang diperoleh dari pemusingan yang berwarna kuning atau
kuning
tua baik dalam keadaan fisiologi atau patologi merupakan indikasi naiknya bilirubin
dalam darah, misalnya pada infeksi hepatitis. Naiknya kolesterol juga dapat diketahu
dari warna plasma yang berwarna seperti susu, misalnya pada penderita Diabetes
Militus. Plasma yang berwarna merah merupakan indikasi adanya hemolisis dari
eritrosit seperti penggunaan spuit yang belum kering, pada pengambilan darah atau
hemolisis intravascular. Serta untuk mengetahui volume rata-rata eritrosit dan
konsentrasi hemoglobin rata-rata di dalam eritrosit. (Dep Kes RI, 1989).
E. Kerangka Konsep
F. Hipotesa
1. Ha : Ada perbedaan antara hasil pemeriksaan kadar hematokrit secara manual dan
automatik.
2. Ho : Tidak ada perbedaan antara hasil pemeriksaan hematokrit secaramanual dan
automatik.
Hasil kadar
hematokrit
Pemeriksaan kadar
hematokrit secara
Manual

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di laboratorium klinik Analis Kesehatan dan
Kesehatan Poltekes Kemenkes Semarang, Jl. Woltermoningsidi, Semarang
Selatan.
2. Waktu Penelitian
Waktu pembuatan proposal dimulai pada bulan Desember 2010,
sedangkan pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2011.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian adalah Mahasiswa tingkat 1 DIII Analis Kesehatan Poltekes
Kemenkes Semarang yang diambil sebanyak satu orang secara purposive sampling,
kemudian sampel darah diperiksa menggunakan kedua metode tersebut, masing-masing
25 kali pemeriksaan dalam waktu bersamaan. Sampel yang digunakan adalah darah vena
yang dicampur dengan antikoagulan EDTA 10 %.
D. Variabel Penelitian
1. Variable terikat (Dependent variabel)
Hasil pemeriksaan kadar hematokrit.
2. Variable bebas (Independent variabel)
Cara manual dan cara automatik.
E. Jenis Data
Dalam penelitian ini menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh
langsung dengan melakukan pemeriksaan hematokrit baik secara manual maupun
automatik.

F. Peralatan dan Bahan


1. Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah tabung mikrokapiler tanpa antikoagulan,
sentrifuge, spuit, botol sampel, kapas, tourniquet, plaster, kertas label, skala
hematokrit, BC-2600 Auto Hematology Analyzer.
2. Bahan
Bahan yang digunakan adalah alkohol 70 %, sampel darah vena, dan
antikoagulan EDTA 10 % yang dibuat dari EDTA kering 10 gram ditepatkan dengan
aquadest sampai 100 ml, penutup tabung kapiler (malam), diluent/pengencer.
G. Pemeriksaan Hematokrit
1. Pengambilan Darah Vena Untuk Sampel
a. Tempat yang akan ditusuk dibersihkan dengan alkohol 70 % dan dibiarkan sampai
kering.
b. Tourniquet dipasang pada lengan atas untuk mengambil darah vena dalam fossa
cubiti, orang yang akan diambil darahnya diminta untuk mengepal dan membuka
tangannya berkali-kali agar vena dapat teraba jelas.
c. Kulit ditusuk dengan jarum dan semprit dengan tangan kanan sampai ujung jarum
masuk ke dalam lumen vena.
d. Perlahan-lahan tarik penghisap semprit sampai jumlah darah yang dikehendaki.
e.
Lepaskan ikatan tourniquet, letakkan kapas alkohol diatas jarum dan cabutlah
jarum dan semprit.
f.

Bekas tusukan ditekan selama beberapa menit dengan kapas alkohol 70 %.

g. Jarum spuit dilepaskan dan darah dimasukkan dalam tabung yang berisi
antikoagulan EDTA dan dicampurkan sampai homogen. (Gandasoebrata, 2007).
2. Pemeriksaan Hematokrit Secara Manual
a. Tabung mikro kapiler tanpa antikoagulan diisi dengan darah yang mengandung
EDTA 10 % sampai volume 3/4 tabung kapiler.

b. Salah satu ujung tabung mikro kapiler disumbat dengan alat khusus (malam).
Kemudian dimasukkan ke dalam alat mikro sentrifuge dengan bagian yang disumbat
mengarah ke luar.
c. Dipusingkan dengan kecepatan 13.000 rpm selama 5 menit (KHT-410E). Hasilnya
dibaca dengan menggunakan skala hematokrit dalam satuan persen. (Gandasoebrata,
2007).
3. Pemeriksaan Hematokrit Secara Automatik
Pastikan untuk mencampur/menghomogenkan sampel yang telah disiapkan
untuk beberapa saat sebelum pemeriksaan dilakukan. Ikuti petunjuk sebagai berikut :
a. Tekan tombol [MENU] dan pilih Count lalu enter
b. Tekan tombol [MODE] maka pada layar atas akan muncul pemeriksaan dengan
metode (Whole Blood-ALL, WB-WBC/HGB, atau WBRBC/ PLT)
dengan display warna biru.
c. Tekan tombol [F1] untuk mengisi/menuliskan data pasien.
d. Campur/kocok sampel dengan antikoagulan sampai homogen.
e. Masukkan sampel pada sample probe hingga menyentuh kedasar tabung.
f. Lalu tekan tombol probe untuk proses penghitungan dan hasil pemeriksaan akan
tampil pada layar.
g. Baca hasilnya.
4. Nilai Normal Hematokrit
a. Pria : 40- 48 vol %
b. Wanita : 37- 43 vol % (Gandasoebrata, 2007).
H.

Analisa Data
Data yang terkumpul diolah dan disajikan dalam bentuk tabel, kemudian
dianalisis secara statistik dengan uji t test.

I. Definisi Operasional
1. Hematokrit adalah volume sel darah merah di dalam darah yang dinyatakan dengan
persentase volume seluruh darah. Nilai hematokrit menunjukkan kekentalan darah
yang sebanding dengan jumlah oksigen yang dibawanya. Nilai normal hematokrit
pada pria 40-48 Vol %, sedangkan pada wanita 37- 43 Vol %.
2. Pemeriksaan hematokrit secara manual (metode mikro) yaitu volume eritrosit yang
dipisahkan dari plasma dengan memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya
dinyatakan dalam persen.
3. Pemeriksaan hematokrit secara automatik adalah cara penghitungan hematokrit yang
dihitung dengan menggunakan alat BC-2600 Auto Hematology Analyzer, yang
bekerja berdasarkan prinsip impedansi listrik.
4. Perbedaan hasil pemeriksaan kadar hematokrit cara manual dan automatik diperoleh
melalui perhitungan statistik dengan uji t test