Vous êtes sur la page 1sur 16

Diagnosis dan Penatalaksanaan Leptospirosis pada Manusia

Apriandy Pariury
102011299
F7
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat, Kode Pos 11510
Email: riapariury@gmail.com
Pendahuluan
Tindakan anamnesis adalah sebuah bentuk komunikasi atau wawancara dimana dokter
berusaha memperoleh informasi menyangkut keluhan dan penyakit pasien. 1 Tujuan utama
anamnesis adalah untuk mendapatkan data-data yang diperlukan oleh seorang dokter terhadap
pasiennya. Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan; (1) menanyakan identitas
pasien, (2) keluhan utama dan lamanya sakit, (3) riwayat penyakit sekarang dengan
menanyakan karakter keluhan utama,perkembangan keluhan utama seperti obat-obat yang
telah diminum dan hasilnya, (4) riwayat penyakit dahulu, (5) riwayat pribadi seperti
kebiasaan makan, kebiasaan merokok, alkohol, dan penggunaan narkoba, serta riwayat
imunisasi, (6) riwayat sosial ekonomi seperti lingkungan tempat tinggal dan higiene, (7)
riwayat kesehatan keluarga, dan (8) riwayat penyakit menahun keluarga seperti alergi, asma,
hipertensi, kencing manis, dll. Setalah itu yang harus dilakukan adalah melakukan
pemeriksaan fisik dan penunjang untuk kepentingan dalam menentukan diagnostik.
Leptospira adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira
interogens yang bersifat pathogen dan Leptospira biflexa yang tidak pathogen. Indonesia
merupakan Negara dengan insiden ke 3 tertinggi di dunia. 2 Bakteri Leptospira menular ke
manusia dapat secara langsung melalui kulit yang terluka, mukosa hidung, mulut maupun
mata atau secara tidak langsung melalui air, tanah, lumpur, tanaman, makanan terkontaminasi
Leptospira sp.2 Sejak masuknya bakteri sampai menjadi sakit membutuhkan waktu antara 2
hari sampai 4 minggu. Bakteri ini hidup di ginjal dan dikeluarkan melalui urine. Gejala klinis
leptospirosis yaitu menggigil, sakit kepala, lesu, muntah, mata merah, rasa nyeri pada otot
betis dan punggung.
Skenario 10:
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang dengan keluhan demam tinggi disertai nyeri
kedua betis sejak 4 hari yang lalu.
Hipotesis:
1

Pasien dengan keluhan tersebut menderita Leptospirosis.

Pembahasan
Anamnesis
Tindakan anamnesis adalah sebuah bentuk komunikasi atau wawancara dimana dokter
berusaha memperoleh informasi menyangkut keluhan dan penyakit pasien.2 Anamnesis
merupakan wawancara terarah antara dokter dan pasien. Tujuan utama anamnesis adalah
dokter dapat memperoleh informasi mengenai keluhan dan gejala penyakit yang dirasakan
oleh pasien, Hal-hal yang diperkirakan sebagai penyebab penyakit dan hal-hal lain yang akan
mempengaruhi perjalanan penyakit dan proses pengobatan. Pemeriksaan fisik dilakukan
untuk melihat dan menilai adanya kelainan dan gangguan pada tubuh pasien, baik terlihat
keluhannya ataupun tidak.
Ada 2 cara dalam melakukan anamnesis yaitu dengan cara autoanamnesis dan allo
anamnesis. Autoanamnesis adalah cara kita sebagai dokter untuk memperoleh informasi
langsung dari pasien, sementara alloanamnesis kita perlu menanyakan informasi kepada
keluarga ataupun orang terdekat pasien. Anamnesis yang akan kita lakukan pada pasien ini
adalah secara alloanamnesis, karena pasien yang datang adalah pasien anak-anak. Yang biasa
ditanyakan pada saat kita melakukan anamnesis adalah:
Identitas Pasien
Nama lengkap pasien, jenis kelamin, umur pasien, tempat dan tanggal lahir pasien,
status perkawinan, agama, suku bangsa, alamat, pendidikan, pekerjaan dan riwayat
keluarga yang meliputi kakek dan nenek sebelah ayah, kakek dan nenek sebelah ibu,
ayah, ibu, saudara kandung dan anak-anak
Dari kasus yang kita dapatkan adalah seorang laki-laki berusia 45 tahun
Keluhan utama
keluhan utamanya apa ya? (pada kasus keluhan utamanaya adalah demam tinggi
dan nyeri betis )
sudah berapa lama? (sejak 4 hari yang lalu)
Kita juga perlu menanyakan bagaimana demamnya,apakah demamnya terus menerus
atau hilang timbul, biasanya demamnya paling tingginya kapan,setelah demam
apakah merasa menggigil dan berkeringat? (dari kasus pasien demam tinggi terus
menerus
Riwayat penyakit sekarang
2

apakah ada keluhan lain seperti mual, muntah, sakit kepala? (pada kasus tidak
dijelaskan)
Riwayat Penyakit Dahulu dan obat
Apakah bapak pernah sakit seperti ini atau tidak?
sebelumnya sudah pernah ke dokter atau minum obat? Kalau sudah, minum obat apa
aja? Bagaimana perkembangannya?
Riwayat pribadi
Tanyakan pada pasien riwayat makannya apakah sebelumnya makan sembarangan
atau tidak (untuk menyingkirkan hepatitis a), tanyakan apakah pasien habis berpergian
ke daerah endemic atau tidak.
Riwayat sosial
Penting untuk memahami latar belakang pasien, pengaruh penyakit yang mereka derita
terhadap hidup dan keluarga mereka. Pekerjaan tertentu berisiko menimbulkan penyakit
tertentu jadi penting untuk mendapatkan riwayat pekerjaan yang lengkap.Tanyakan kep ada
pasien apakah di lingkungan rumahnya dan pekerjaannya banyak terdapat binatang pengerat
atau tidak, dekat dengan persawahan atau peternakan tidak, tanyakan juga kepada pasien
apakah sebelumnya daerah rumahnya terkena banjir atau tidak. Dalam kasus ternyata
diketahui bahwa pasien tinggal di lingkungan padat penduduk dengan sanitasi kurang dan
seminggu daerah tersebut terkena banjir.
Riwayat Keluarga
Penting untuk mencari penyakit yang pernah diderita oleh kerabat pasien karena
terdapat konstribusi genetik yang kuat pada berbagai penyakit, untuk itu perlu ditanyakan
apakah keluarganya ada yang menderita penyakit ini atau tidak.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat dan menilai adanya kelainan dan gangguan
pada tubuh pasien, baik terlihat keluhannya ataupun tidak. Perlu diingat pada saat melakukan
pemeriksaan baik fisik maupun penunjang kita harus melakukan inform consent terlebih
dahulu terhadap pasien dan jangan lupa juga untuk mencuci tangan sebelum melakukan
3

pemeriksaan. Pada pemeriksaan fisik yang perlu kita ketahui adalah keadaan umum pasien
dan memeriksa tanda-tanda vital pada pasien. Keadaan umum : Keadaan umum ini dapat
meliputi kesan keadaan sakit termasuk ekspresi wajah dan posisi pasien, kesadaran yang
dapat meliputi penilaian secara kualitatif seperti compos mentis, apathis, somnolen, sopor,
koma dan delirium. Pada kasus yang dapat kita dapatkan adalah keadaan umum pasien
tampak sakit sedang, kesadarannya adalah compos mentis, Tekanan darah 120/80, nadi
90x/menit, suhu 39oC, dan pernafasannya 18x/menit.
Biasanya pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematik dari kepala hingga kaki yang
sering disebut dengan pemeriksaan head to toe. Dalam pemeriksaan fisik daerah abdomen
pemeriksaan dilakukan dengan sistematis inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. Dari
skenario yang ada setelah melakukan pemeriksaan head to toe yang didapatkan adalah pada
mata sclera ikterik, dan terdapat injeksi subkonjungtiva.Pada abdomen nyeri tekan kanan
atas, hepar teraba 2 jari di bawah arcus costae dan konsistensinya lunak. Pada betis teraba
nyeri tekan di kedua betis.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Darah lengkap
a. Kasus Ringan
Hasil pemeriksaan darah tepi penderita leptospirosis ringan, ditemukan laju
endap darah meningkat, jumlah lekosit tidak jelas, kadang-kadang di bawah nilai
normal, normal, atau sedikit meningkat.3 Hasil tes fungsi hati ditemukan sedikit
peningkatan aminotransferase, bilirubin, dan alkalinphospatase, sedangkan secara
klinis ikterus tidak tampak dengan jelas. Hasil pemeriksaan urine ditemukan
proteinuria, pyuria, dan sering ditemukan hamaturia mikroskopik. Juga ditemukan
adanya hialin dan granular cast pada minggu pertama sakit.
b. Kasus berat
Hasil Pemeriksaan Laboratorium pada Kasus yang Sangat Berat Pemeriksaan
darah tepi tampak leukositosis dengan pergeseran ke arah kiri, dan trombositopeni
berat. Dari tes fungsi ginjal ditemukan gangguan fungsi ginjal ditandai dengan
peningkatan kadar kreatinin plasma. Tingkat azotemia terjadi bervariasi tergantung
beratnya

penyakit.3

Tes

fungsi

hati

pada

leptospirosis

berat

umumnya

memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin darah cukup bermakna dengan sedikit


peningkatan kadar alkalin phospatase. Peningkatan bilirubin umumnya tidak sesuai
dengan nilai tes fungsi hati yang lain. Hasil pemeriksaan pungsi lumbal terutama
ditemukan sel limfosit, kadar protein normal atau sedikit meningkat, sementara
4

kadar glukose normal. Pada penderita dengan ikterus berat, cairan serebrospinal
tampak xantochrom. Kelainan cairan serebrospinal tampak jelas pada minggu ke-2
sakit, dan pleositosis pada cairan serebrospinal dapat terjadi sampai bermingguminggu.
2. Kultur
Pemeriksaan Kultur ini untuk melihat adanya bakteri dari leptospira, pengambilan
sampelnya dapat diperoleh dari darah cairan serebrospinal pada awal gejala. Dianjurkan
untuk mengambil specimen pada fase leptospiremia serta belum diberikan antibiotic.
Kultur urine diambil setalah 2-4 minggu onset penyakit. Pada specimen yang
terkontaminasi, inokulasi hewan dapat digunakan.4
3. Pemeriksaan Laboratorium Spesifik dengan pemeriksaan bakteri3
Dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap atau mikroskop
cahaya setalah dilakukan pewarnaan. Metode pewarnaan yang sering dipakai adalah
imunofluroscence. Teknik ini dapat digunakan untuk pemeriksaan darah dan urin.
4. Pemeriksaan Serologi
Sebagian besar kasus leptospirosis didiagnosis dengan tes serologi. Antibodi dapat
dideteksi di dalam darah 5-7 hari sesudah munculnya gejala. Ada banyak metode
serologis yang dapat digunakan, dan yang dianggap paling baik sampai saat ini adalah
microscopic agglutination test (MAT).3 Pemeriksaan Serologi lain yang dapat digunakan
adalah dengan menggunakan tehnik ELISA.
1. Microscopic Aglutination Test (MAT)
Microscopic aglutination test (MAT) adalah tes untuk menentukan antibodi
aglutinasi di dalam serum penderita.3 Cara melakukan tes adalah, serum penderita
direaksikan dengan suspensi antigen serovar Leptospira hidup atau mati. Setelah
diinkubasi, reaksi antigen-antibodi diperiksa di bawah mikroskop lapangan gelap
untuk melihat aglutinasi. Adanya peningkatan titer empat kali lipat dari sepasang
serum dapat memastikan diagnosis tanpa memperhatikan jarak waktu pengambilan
di antara kedua sampel. Jarak pengambilan antara sampel pertama dan kedua sangat
tergantung pada waktu antara munculnya gejala dan penampilan gejala penyakit
yang berat pada penderita. Jika gejala penyakit leptospirosis sangat jelas, maka jarak
3-5 hari sudah dapat mendeteksi peningkatan titer.3 Untuk penderita dengan
perjalanan penyakit kurang jelas atau jika munculnya gejala tidak diketahui, maka
jarak pengambilan sampel pertama dan kedua antara 10-14 hari. Pemeriksaan
serologis menggunakan MAT kurang sensitif terutama untuk pemeriksaan spesimen
yang diambil pada permulaan fase akut. Infeksi Leptospira akut sangat sulit
didiagnosis dengan pemeriksaan sampel tunggal. Oleh karena itu, menurut
5

communicable disease controle (CDC), yang dianggap kasus mungkin (probable)


adalah penderita yang memiliki titer antibodi 200 dengan gejala klinis yang sesuai.
Penilaian ini dapat diterapkan di negara dengan paparan Leptospira yang jarang,
sedangkan untuk negara tropis dengan tingkat paparan Leptospira yang tinggi, maka
titer tunggal adalah 800, tetapi untuk lebih pasti disarankan titer 1.600.
2. Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
Tes ELISA sangat popular dan bahan yang diperlukan untuk pemeriksaan sudah
tersedia secara komersial dengan antigen yang diproduksi sendiri (in house). Untuk
mendeteksi IgM umumnya digunakan antigen spesifik genus yang bereaksi secara
luas, teknik ini kadang-kadang juga digunakan untuk mendeteksi antibodi IgG.
Adanya antibodi IgM merupakan pertanda adanya infeksi baru Leptospira, atau
infeksi yang terjadi beberapa minggu terakhir.3 Test ELISA cukup sensitif untuk
mendeteksi Leptospira dengan cepat pada fase akut, dan lebih sensitif dibandingkan
dengan MAT.
Tes ini dapat mendeteksi antibodi IgM yang muncul pada minggu pertama sakit,
sehingga cukup efektif untuk mendiagnosis penyakit. ELISA dapat juga digunakan
untuk mendeteksi antibodi IgM dalam cairan serebrospinal, saliva dan urine. Tes
ELISA spesifik genus cendrung memberikan reaksi positif lebih dini dibandingkan
dengan MAT. ELISA biasanya hanya mendeteksi antibodi yang bereaksi dengan
antigen spesifik genus yang sangat luas, sehingga tidak dapat menentukan serovar
atau serogrup penyebab.
Metode ELISA telah banyak dimodifikasi, misalnya, Dot-ELISA spesifik IgM
dikembangkan menggunakan antigen Leptospira polivalen yang diteteskan di atas
kertas filter selulose sumur mikrotiter.3 Dengan metode ini, jumlah reagen yang
dibutuhkan sedikit. Di samping untuk mendeteksi IgM, metode ini dimodifikasi
untuk mendeteksi IgG dan IgA. Dipstick assay telah digunakan secara luas di
beberapa negara. Dari hasil pemeriksaan sampel darah yang diambil pada fase akut,
tes ini memberikan sensitifitas 60,1%, dan bila sampel darah diambil pada fase
konvalesen sensitifitasnya meningkat menjadi 87,4%. Dari hasil penelitian ternyata
sensitifitas IgM-ELISA dan IgM-dipstick komersial untuk mendeteksi leptospirosis
akut adalah 89,6-98% dan spesifisitasnya 90-92,7% dengan nilai ramal positif 87,690% dan nilai ramal negatif 90,7- 92%. Pemeriksaan dot immunoblot dengan
menggunakan conjugate koloid emas dapat memberikan hasil pemeriksaan dalam
waktu 30 menit.

Working Diagnosis : Leptospirosis


Different Diagnosis : Malaria
Hepatitis typhosa
1. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi Leptospira
interrogans semua serotype yang paling sering. Bentuk berat penyakit leptospirosis
dikenal sebagai Weils Disease. Leptospirosis juga dikenal dengan nama flood fever atau
demam banjir, karena sering membuat wabah pada saat banjir. Di beberapa negara,
leptospirosis dikenal dengan nama mudfever, slime fever, swamp fever, autumnal fever,
field fever, canicola fever, dan icterohemorrhagic fever.5 Menurut International
Leptospirosis Society, Indonesia merupakan negara dengan insiden leptospirosis tinggi,
serta menempati peringkat ke tiga di dunia untuk mortalitas.
Bakteri Leptospira menular ke manusia dapat secara langsung melalui kulit yang
terluka, mukosa hidung, mulut maupun mata atau secara tidak langsung melalui air,
tanah, lumpur, tanaman, makanan terkontaminasi Leptospira sp.2 Sejak masuknya bakteri
sampai menjadi sakit membutuhkan waktu antara 2 hari sampai 4 minggu. Bakteri ini
hidup di ginjal dan dikeluarkan melalui urine. Gejala klinis leptospirosis yaitu menggigil,
sakit kepala, lesu, muntah, mata merah, rasa nyeri pada otot betis dan punggung. Dimana
gejala tersebut akan muncul selama 4-9 hari. Beberapa konfirmasi laboratoris yang dapat
digunakan untuk diagnosa leptospirosis diantaranya menggunakan tes yakni pemeriksaan
darah lengkap, kultur dan pemeriksaan serologi. Leptospirosis umumnya menyerang para
petani, pekerja perkebunan, pekerja tambang, pembersih selokan, pekerja Rumah Potong
Hewan dan militer serta dokter hewan. Ancaman ini berlaku pula bagi mereka yang
mempunyai kebiasaan melakukan aktivitas di danau atau di sungai seperti berenang dan
memancing ikan.
2. Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang di sebabkan oleh plasmodium yang menyerang
eritrosit yang ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual didalam darah. Ada 4
serotipe dari plasmodium ini, yaitu plasmodium falciparum, vival, ovale dan tertian dan
yang paling sering menyebabkan malaria di Indonesia adalah plasmodium vivax dan
falciparum. Infeksi parasite malaria pada manusia ditandai dengan nyamuk anopheles
betina yang menggiit manusia dan nymuk akan melepaskan sporozoit ke dalam

pembuluh darah dan berkembang dalam tubuh manusia. Infeksi malaria memberikan
gejala berupa demam, menggigil, anemia, dan splenomegali.2 Keluhan prodromal dapat
terjadi sebelum terjadinya demam berupa keluhan kelesuan, malaise, sakit kepala, sakit
belakang, merasa dingin di punggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia,
perut tidak enak, diare ringan, dan kadang-kadang dingin. 4 Gejala yang klasik yaitu
terjadinya Trias Malaria secara berurutan. Periode dingin (15-60 menit): mulai
menggigil, penderita sering membungkus diri dengan selimut dan pada saat menggigil
sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, diikuti dengan meningkatnya
temperatur. Selanjutnya periode panas: penderita muka merah, nadi cepat, dan panas
badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti dengan berkeringat. Dilanjutkan dengan periode
berkeringat: penderita berkeringat banyak dan temperatur turun, dan penderita merasa
sehat.4
3. Hepatitis Typhosa
Hepatitis typhosa adalah Presentasi langka dari demam Tifoid. Secara klinis
dicurigai terjadi pada pasien yang mengalami Hepatomegali dan jaundice dan terutama
pada kasus dimana pada tes fungsi hati sebagian besar menunjukan conjugated
hyperbilirubinemia dan pada tes serulogi viral hepatitis menunjukan hasil negatif. Tifoid
Hepatitis lebih banyak terjadi pada umur kurang dari 35 tahun dan lebih sering terjadi
pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan dengan perbandingan 3:2. Diagnosis
klinis awal Tifoid Hepatitis sebagian besar tergantung pada tingginya indeks kecurigaan
yang tinggi terhadap penyakit ini disuatu daerah. Tapi pada kebanyakan kasus, untuk
memastikan pasien terkena Tifoid Hepatitis masih

mengandalkan dari hasil uji

laboratorium. Di negara seperti Pakistan, jaundice lebih sering dijumpai, sehingga sangat
penting untuk berhati-hati dalam membedakan antara Viral Hepatitis, Malaria Hepatitis
dan Tifoid Hepatitis. Pasien yang mengalami demam, jaundice dan hepatomegali
awalnya diduga disebabkan Viral Hepatitis. Akan tetapi bila demam dengan suhu 37C
sampai dengan 39C dan terlihat jaundice tipe sedang pada 6 sampai 10 hari diduga
mengalami Hepatitis Typhosa.
Etiologi
Leptospirosis disebabkan kuman dari genus Leptospira dari famili Leptospiraceae.
Kuman ini berbentuk spiral, tipis, halus dan fleksibel dengan ukuran panjang 5-15 m, lebar
0,1-0,2 m. Salah satu ujung leptospira berbentuk bengkok seperti kait. Leptospira tidak
berflagel, namun dapat melakukan gerakan rotasi aktif. 5 Kuman ini tidak mudah diwarnai,
8

namun dapat diwarnai dengan impregnasi perak. Leptospira tumbuh baik pada kondisi
aerobik di suhu 28-30C. Pada media yang mengandung serum kelinci (Fletchers medium),
juga pada media yang mengandung serum sapi (Ellinghausen McCullough-JohnsonHarris/EMJH medium), pertumbuhannya terlihat dalam beberapa hari sampai 4 minggu. 5
Genus Leptospira sendiri terdiri dari dua spesies yaitu L.interrogans (yang patogen) dan
L.biflexa (yang bersifat saprofit/ nonpatogen). Spesies L.interrogans dibagi dalam beberapa
serogrup yang terbagi lagi menjadi lebih 250 serovar berdasarkan komposisi antigennya.
Beberapa serovar L.interrogans yang patogen pada manusia adalah L.icterohaemorrhagiae,
L.canicola, L.pomona, L.grippothyphosa, L.javanica, L.celledoni, L.ballum, L.pyrogenes,
L.bataviae, L. hardjo, dan lain-lain.
Epidemiologi
Leptospira tersebar diseluruh dunia, semua benua kecuali benua antartika, namun
banyak didaerah tropis. Leptospirosis adalah zoonosis penting dengan penyebaran luas yang
mempengaruhi sedikitnya 160 spesies mamalia.6 Tikus, adalah reservoir yang paling penting,
walaupun mamalia liar yang lain yang sama dengan hewan peliharaan dan domestic dapat
juga membawa mikroorganisme ini. Leptospira meningkatkan hubungan simbiosis dengan
hostnya dan dapat menetap pada tubulus renal selama beberapa tahun. Transmisi leptospira
terjadi melalui kontak langsung dengan urin, darah, atau jaringan dari hewan yang terinfeksi
atau paparan pada lingkungan; transmisi antar manusia jarang terjadi. 7 Karena leptospira
diekresikan melalui urin dan dapat bertahan dalam air selama beberapa bulan, air adalah
sarana penting dalam transmisinya. Epidemik leptospirosis dapat terjadi melalui paparan air
tergenang yang terkontaminasi oleh urin hewan yang terinfeksi. Leptospirosis paling sering
terjadi di daerah tropis karena iklimnya sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan pathogen
untuk bertahan hidup. Pada beberapa negara berkembang, leptospirosis tidak dianggap
sebagai masalah.
Manusia tidak sering terinfeksi leptospirosis. Ada beberapa kelompok pekerjaan
tertentu yang memiliki resiko tinggi yaitu pekerja-pekerja di sawah, pertanian, perkebunan,
peternakan, pekerja tambang, pekerja di rumah potong hewan atau orang-orang yang
mengadakan perkemahan di hutan, dokter hewan. Setiap individu dapat terkena leptospirosis
melalui paparan langsung atau kontak dengan air dan tanah yang terinfeksi. Leptospirosis
juga dapat dikenali dimana populasi tikus meningkat. Aktivitas air seperti berselancar,
berenang, dan ski air, membuat seseorang beresiko leptospirosis. Penyakit ini bersifat
musiman, didaerah beriklim sedang, masa puncak insiden dijumpai pada musim panas dan
9

musim gugur karena temperatur adalah faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup
leptospira, sedangkan didaerah tropis insiden tertinggi terjadi selama musim hujan.
Salah satu kendala dalam menangani leptospirosis berupa kesulitan dalam melakukan
diagnostik awal. Sementara dengan pemeriksaan sederhana memakai mikroskop biasa dapat
dideteksi adanya gerakan leptospira dalam urin. Diagnostik pasti ditegakkan setelah
ditemukan leptospira pada urin atau uji serologi positif. Untuk dapat berkembang biak,
leptospira memerlukan lingkungan optimal serta bergantung pada suhu yang lembab, hangat,
PH air/tanah yang netral, dimana kondisi ini ditemukan sepanjang tahun di daerah tropis.
Patofisiologi
Leptospira masuk kedalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, memasuki aliran
darah dan berkembang lalu menyebar secara luas ke jaringan tubuh melalui darah. Kemudian
terjadi respon imunologi baik secara selular maupun humoral sehingga infeksi ini dapat
ditekan dan terbentuk antibodi spesifik. Walaupun demikian beberapa organisme ini masih
dapat bertahan pada beberapa daerah yang terisolasi secara imunologi seperti didalam ginjal,
hingga bakteri bisa hidup disana dan keluar melalui urin. Leptospira dapat dijumpai dalam
urin sekirat 8 hari sampai seminggu setelah infeks idan sampai berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun kemudian. Leptospira dapat dihilangkan dengan fagositosit dan mekanisme
humoral. Kuman ini dengan cepat akan lenyap dari darah setelah terbentuknya aglutinin.
Setelah fase leptospiremia, 4-7 hari, mikroorganisme hanya dapat ditemukan dalam jaringan
ginjal dan okuler. Leptospiruria berlangsung 1-4 minggu. Tiga mekanisme yang terlibat
dalam patogenesis leptospira adalah: invasi bakteri langsung, faktor inflamasi non spesifik,
dan reaksi imunologi.8
Dalam perjalanan pada fase leptospiremia, leptospira melepaskan toksik yang
bertanggung jawab atas terjadinya keadaan patalogis pada beberapa organ. Lesi yang muncul
akibat kerusakan pada lapisan endotel kapiler. Pada leptospirosis terdapat perbedaan antara
derajat gangguan fungsi organ dengan kerusakan secara histologik. Pada leptospirosis lesi
histologik yang ringan ditemukan pada ginjal dan hati pasien dengan kelainan fungsional
yang nyata dari organ tersebut. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kerusakan bukan pada
struktur. Lesi inflamasi menunjukkan adanya edema dan infiltrasi sel monosit, limfosit, dan
sel plasma. Selain diginjal, leptospira bisa bertahan di otak dan mata. Bakteri ini bisa masuk
ke cairan serebrospinal dan terjadi meningitis yang sering menjadi komplikasi.7
Masa inkubasi 2-26 hari, biasanya 7-13 hari dan rata-rata 10 hari. Leptospirosis
mempunyai dua fase penyakit yang khas, yaitu:
1. Fase Leptospiremia
10

Fase ini ditandai dengan adanya leptospira didalam darah dan cairan serebrospinal. Hal
ini akan menyebabkan meningitis yang merupakan gangguan neurologis terbanyak yang
terjadi sebagai komplikasi leptospirosis. Organ-organ yang sering dikenal leptospira adalah
ginjal, hati, otot dan pembuluh darah.7

Gambar 1. Penyebab Leptospira pada Organ8


Fase leptospiremia berlangsung secara tiba-tiba dengan gejala awal sakit kepala biasanya
di frontal, rasa sakit pada otot yang hebat terutama pada paha, betis, pinggang disertai nyeri
tekan. Mialgia dapat diikuti dengan hipertensi kulit, demam tinggi yang disertai menggigil,
juga didapati mual dengan atau tanpa muntah disertai diare, bahkan pada 25% kasus disertai
penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan keadaan sakit berat, bradikardi relatif. Dan ikterus
50%. Pada hari ke 3-4 dapat dijumpai adanya konjungtiva suffision dan fotofobia. Pada kulit
dapat dijumpai rash yang berbentuk makular, makulopapular, atau urtikaria. Kadang-kadang
dijumpai splenomegali, hepatomegali, serta limfadenopati. Fase ini berlangsung 4-7 hari. Jika
cepat ditangani pasien akan membaik, suhu kembali normal, penyembuhan organ-organ yang
terlibat dan fungsinya kembali normal 3-6 minggu setelah onset. 7 Pada keadaan sakit lebih
berat, demam turun setelah 7hari diikuti oleh bebas demam selama 1-3 hari, setelah itu terjadi
demam kembali. Keadaan ini disebut fase kedua atau fase imun.
2. Fase Imun (fase leptospirurik)
Fase ini ditandai dengan peningkatan titer antibodi, dapat timbul demam yang mencapai
suhu 400C disertai menggigil dan kelemahan umum.7 Terdapat reasa sakit yang menyeluruh
pada leher, perut, otot-otot kaki, terutama betis. Terdapat pendarahan berupa epistaksis, gejala
kerusakan pada ginjal dan hati, uremia, ikterik.pendarahan paling jelas terlihat pada fase
ikterik, purpura, ptechiae, epistaksis, perdarahan gusi merupakan manifestasi perdarahan
11

yang paling sering. Conjungtiva injection dan conjungtival suffusion dengan ikterus
merupakan tanda patognomosis untuk leptospirosis. Terjadinya meningitis merupakan tanda
pada fase ini. Walaupun hanya 50% gejala dan tanda meningitis, tetapi pleositosis pada CCS
dijumpai pada 50-90% pasien. Tanda-tanda meningeal dapat menetap beberapa minggu tetapi
biasanya hilang setelah 1-2 hari. Pada fase ini leptospira dapat ditemukan pada urin.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis beragam, mulai dari gejala ringan seperti demam yang tak terlalu
tinggi sampai berat seperti sindrom Weil. Masa tunas berkisar antara 2-26 hari (kebanyakan
7-13 hari dengan rata-rata 10 hari). Pada leptospirosis akan ditemukan perjalanan klinis
bifasik, yaitu leptospiremia di mana leptospira ditemukan dalam darah, fase imun, dan fase
penyembuhan. Pada fase leptospiremia timbul gejala demam yang mendadak, disertai gejala
sakit kepala terutama di bagian frontal, oksipital dan bitemporal. Pada otot akan timbul
keluhan mialgia dan nyeri tekan terutama pada otot gastroknemius, paha dan pinggang yang
diikuti dengan hiperestesia kulit. Pada fase yang berlangsung selama 4-9 hari ini juga dapat
ditemui gejala menggigil dan demam tinggi, mual, muntah, diare, batuk, sakit dada,
hemoptisis, penurunan kesadaran, dan injeksi konjungtiva.9 Injeksi faringeal, kulit dengan
ruam berbentuk makular/makulopapular/urtikaria yang tersebar pada badan, splenomegali,
dan hepatomegali. Fase berikutnya adalah fase imun yang berkaitan dengan munculnya
antibodi IgM sementara konsentrasi C3 tetap normal. Manifestasi klinis fase ini lebih
bervariasi dibandingkan pada fase leptospiremia. Setelah gejala asimtomatik selama 13 hari,
gejala klinis pada fase leptospiremia yang sudah menghilang akan muncul kembali, dan
kadang disertai meningismus. Pada fase ini, demam jarang melebihi 39 0 C dan berlangsung
selama 13 hari. Gejala lain yang muncul pada fase imun ini adalah iridosiklitis, neuritis
optik, mielitis, ensefalitis serta neuropati perifer. Pada fase 3, yaitu fase penyembuhan yang
biasanya terjadi pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4 dan dapat ditemukan demam atau
nyeri otot yang kemudian berangsur-angsur hilang.
Pada leptospirosis terdapat gambaran klinis yang khas, seperti sindrom Weil, meningitis
aseptikm pretibial fever, dan miokarditis. Pada sindrom Weil yang disebabkan
L.icterohaemorrhagiae maupun serogrup lain yang terdapat pada 1-6% kasus leptospirosis,
ditemukan ikterus yang terkadang disertai perdarahan, anemia, azotemia, gangguan
kesadaran, dan demam bisa terjadi pada hari ke-7 tapi pada kekambuhan terdapat demam
sampai beberapa minggu. Hati membesar dan nyeri tekan dengan serum glutamik

12

oksaloasetat transaminase (SGOT) meninggi, namun tidak

melebihi 5 kali normal dan

bilirubin meninggi sampai 40 mg% karena hambatan pada ekskresi bilirubin.9


Manifestasi gangguan ginjal ditandai dengan adanya proteinuria dan azotemia dan bila
berat dapat terjadi nekrosis tubular akut dan oligouria. Peninggian blood urea nitrogen
(BUN) yang hebat dapat terjadi pada hari ke-5 sampai ke-7. Pada sindrom Weil bisa juga
terjadi perdarahan karena proses vaskulitis difus di kapiler disertau hipoprotrombinemia dan
trombositopenia, misalnya epistaksis, hemoptisis, hematemesis, melena, perdarahan adrenal,
serta penumonitis hemoragik di paru. Meningitis aseptik terjadi pada 5-13% pasien
leptosirosis. Pada fase imun dari penyakit yang tersering disebabkan karena L. canicola ini,
terjadi pleiositosis yang hebat dan cepat dengan jumlah leukosit dalam cairan serebrospinal
10-100/mm3. Kadang sampai 1000 dengan sel terbanyak adalah sel leukosit neutrofil dan sel
mononuklear. Glukosa dalam cairan serebrospinal bisa normal atau menurun.
Peninggian protein yang bisa tercapai 100mg% dapat dipakai untuk membedakan
meningitis aseptik yang disebabkan leptospira dengan virus L. automnalis, karena tersering
menyebabkan pretibial fever yang onsetnya tiba-tiba dengan gambaran khas adanya ruam
berdiameter 3-5 cm yang menonjol dan eritematosa dengan distribusi yang simetris di daerah
pretibial. Pada 95% pasien ditemukan splenomegali. L.pomona yang biasanya menyebabkan
ruam pada badan kadang menyebabkan pretibial fever. Miokarditis disertai aritmia jantung
berupa fibrilasi atrial, flutter atrial, takikardi ventrikel dan ventricular premature beat dapat
disebabkan infeksi L. pomona dan L. grippotyphosa.
Penatalaksanaan
a. Medika Mentosa
Obat antibiotik yang biasa diberikan adalah penisilin, streptomisin, tetrasiklin,
kloramfenikol, eritromisin dan siprofloksasin.10 Obat pilihan pertama adalah penisilin G 1,5
juta unit setiap 6 jam selama 5-7 hari. Dalam 4-6 jam setelah pemberian penisilin G terlihat
reaksi Jarisch Hexheimmer yang menunjukkan adanya aktivitas antileptospira. Obat-obat ini
efektif pada pemberian hari 1-3 namun kurang bermanfaat bila diberikan setelah fase imun
dan tidak efektif jika terdapat ikterus, gagal ginjal dan meningitis. 11 Tindakan suportif
diberikan sesuai keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul.
b. Non Medika Mentosa
Pada penderita leptospora sebaiknya diberikan nutrisi yang baik dan menjaga lingkungan
yang bersih yang terbebas dari cara penularan leptospira contohnya ketika banjir menguras
13

air yang masuk kedalam rumah sampai bersih sehingga tidak ada air atau kotoran hewan yang
masuk kedalam rumah.
Komplikasi
Komplikasi Leptospirosis antara lain;
1. Meningitis: gangguan neurologi terbanyak sebagai komlikasi.
2. Pada hati : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6.
3. Pada ginjal : gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian.
4. Pada jantung : berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang
dapat mengakibatkan kematian mendadak.
5. Pada paru-paru : batuk darah, nyeri dada, sesak nafas.
6. Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernafasan,
saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata (konjungtiva).
7. Pada kehamilan : keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati.
Prognosis
Secara umum, apabila kasus ditangani dengan baik dan dengan pemberian perawatan
sesuai yang dianjurkan memiliki prognosis baik. Tergantung keadaan umum pasien, umur,
virulensi leptospira, dan ada tidaknya kekebalan yang didapat. Kematian juga biasanya terjadi
akibat sekunder dari faktor pemberat seperti gagal ginjal, atau perdarahan dan terlambatnya
pasien mendapat pengobatan. Pada kasus dengan ikterus, angka kematian 5% pada umur
dibawah 30 tahun dan meningkat pada usia lanjut (30-40%).
Pencegahan
Pencegahan leptospirosis khususnya didaerah tropis sangat sulit. Banyaknya hospes
perantara dan jenis serotipe sulit untuk dihapuskan. Pencegahan pada manusia juga sulit
karena tidak memungkinkan menghilangkan reservoir infeksi yang besar pada hewan.5
Pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dengan cara:

Pendidikan kesehatan mengenai bahaya serta cara menular penyakit Leptospirosis.


Usaha-usaha lain yang dapat dianjurkan antara lain mencuci kaki, tangan serta

bagiantubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah.


Pembersihan tempat-tempat air dan kolam-kolam renang sangat membantu dalam

usahamencegah penyakit Leptospirosis.


Melindungi pekerja-pekerja yang dalam pekerjaannya mempunyai resiko yang
tinggiterhadap Leptospirosis dengan penggunaan sepatu bot dan sarung tangan.

14

Vaksinasi terhadap hewan-hewan peliharaan dan hewan ternak dengan vaskin

strain local.
Mengisolasi hewan-hewan sakit guna melindungi masyarakat, rumah-rumah

penduduk serta daerah-daerah wisata dari urine hewan-hewan tersebut.


Pengamatan terhadap hewan rodent yang ada disekitar penduduk, terutama di desa
dengan melakukan penangkapan tikus untuk diperiksa terhadap kuman

Leptospirosis.
Kewaspadaan terhadap Leptospirosis pada keadaan banjir.
Pemberantasan rodent (tikus) dengan peracunan atau cara-cara lain.

Kesimpulan
Manusia terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah (lumpur), tanaman yang telah dikotori
oleh air seni hewan-hewan penderita Leptospirosis. Bakteri leptospira masuk kedalam tubuh melaui selaput
lendir (mukosa) mata, hidung atau kulit yang lecet dan kadang-kadang melalui saluran pencernaan dari
makanan yang terkontaminasi oleh urine tikus yang terinfeksi leptospira. Bila ditangani dengan cepat
dan tepat, prognosis baik.
Daftar Pustaka
1. Mochtar I. Dokter juga manusia. Jakarta: Gramedia pustaka utama; 2009.h.61.
2. Ikwati B, Nurjazuli. Analisis karakteristik lingkungan pada kejadian leptospirosis di
kabupaten demak jawa tengah tahun 2009. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia,
Vol 9 No 1, April 2010.h.33-40.
3. Setiawan IM. Pemeriksaan laboraratorium untuk mendiagnosis penyakit leptospirosis.
Media Litbang Kesehatan volume XVIII no 1 tahun 2008.
4. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke5.Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2807-12.
5. Tanzil K. Ekologi dan patogenitas kuman leptospira. Bagian mikrobiologi Universitas
Katolik Indonesia Atmajaya.tahun 29 nomer 324 september-oktober 2012.
6. Price AS, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi ke-6.
Jakarta:EGC;2007.h.886-8.

7. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Lecture notes kedokteran klinis. Edisi ke-6.


Jakarta:Erlangga;2007.h.177-91.
8. Pusat Penerbit IPD FKUI. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2007.h.228-45.

15

9. Saputra L. Buku ajar mikrobiologi kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia;2012.h.260-2.
10. Petri WA. Jr Penicilins, cephalosproins, and other beta lactam antibiotics. In:
Hardman JG, Limbrid LE, eds. Goodman and Gilmans the Pharmacological Basis of
Therapeutics. 10th ed. New York: McGraw-Hill;2011.p.1189-215.
11. Istiantoro YH, Setiabudy R. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-7. Jakarta; Fakultas
Kedokteran universitas Indonesia;2007.h.664-93.

16