Vous êtes sur la page 1sur 15

TUGAS KMB 1

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN
GANGGUAN SISTEM
GASTROINTESTINAL :
APENDIKSITIS & APENDIKTOMI
OLEH:

KELOMPOK 7 :
Agustina Ina Kabang
Rufina P Gapun
Tripornia Wati
Trivonia Avila Manare
KELAS
II B

DOSEN
:
Pelapina
Heriana,S.Kep.Ners

Akedemi Keperawatan Dharma Insan


Pontianak - KALBAR
1

2010
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN SISTEM GASTROINTESTINAL :
APENDIKSITIS & APENDIKTOMI
I. KONSEP DASAR MEDIK
A. Definisi Apendisitis
Apendisitis adalah suatu peradangan yang sering terjadi pada
appendiks yang merupakan kasus gawat bedah abdomen yang paling sering
terjadi.(http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/2009/11/diperoleh
tanggal 19 oktober 2010.)
Apendiksitis adalah suatu peradangan apendiks yang mengenai semua
lapisan dinding organ tersebut. Walaupun dapat terjadi pada setiap usia,
namun paling sering terjadi pada usia dewasa muda.(Sylvia A. Price &
Wilson, 1995:401)

B. Anatomi Fisiologi
Apendiks merupakan tonjolan seperti cacing dengan panjang sampai
18 cm dan membuka pada sekum sekitar 2,5 dibawah katup iliosekal
apendiks melalui lumen yang sempit. Lapisan submukosanya mengandung
banyak jaringan limfe. Jaringan limfe terlihat dalam apendiks 2 minggu
setelah lahir. Jumlah folikel mencapai puncaknya yaitu 200, antara usia 1220 tahun. Apendiks vermiformis merupakan sisa apeks sekum yang pada
manusia fungsinya tidak di ketahui.

Apendiks terletak pada titik Mc. Burney atau pada batas sepertiga
jarak dari spina iliaka anterior superior ke umbilicus. Apendiks berhubungan
dengan mesentrium ileum oleh mesentrium pendek berbentuk segitiga dan di
dalamnya berjalan pembuluh darah dan pembuluh limfe apendicular.
Posisinya bervariasi berdasarkan frekuensi letaknya, di belakang sekum, di
bawah sekum atau menggantung kedalam pelvis, di depan atau di belakang
ujung ileum, di depan sekum. (Schwartz,2000:438,Price &Wilson 1995:401)
C. Etiologi Apendisitis

Apendisksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks yang di


sebabkan oleh fekalit, hipertrofi limfoid, barium kering, benda asing seperti
biji- bijian :biji jambu, biji cabe, biji terong serta cacing askariasis.
( Schwartz,2000: 437)
Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan
makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat
menimbulkan apendisitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra
sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan
pertumbuhan kuman flora pada kolon.(http://nursingbegin.com/askepapendisitis/2009/11/ diperoleh tanggal 19 oktober 2010.)
Selain itu bisa di sebabkan karena infeksi virus atau bakteri :E. Colli,
Stapilococus serta kurang nimum terutama air putih. ( Arief Mansjoer, dkk,
2000: 307)
D. Patofisiologi Apendisitis
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks
mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak,
Namun elastisias dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan
menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa.
Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri
epigastrium.
Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal
tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri
akan menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan
bawah yang disebut apendisitis supuratif akut.
Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak dinding
appendiks yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis

ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan terjadi preforasi


disebut appendikssitis perforasi.
Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak ke arah appendiks hingga muncul infiltrat appendikkularis.
Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih
panjang, dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan
tubuh yang masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi, sedangkan
pada orang tua mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.
(http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/2009/11/diperoleh tanggal 19
oktober 2010.)
E. Tanda Dan Gejala Apendisitis
Tanda dan gejala apendiksitis adalah sebagai berikut:
1. Nyeri abdomen kuadran bawah seperti kram biasanya di sertai oleh
demam ringan, mual, muntah dan hilang nafsu makan,nyeri pada
daerah umbilicus.
2. Demam, malaise,nyeri tekan pada daerah apendiks : Mc. Burney
3. Gangguan pencernaan, seperti konstipasi atau diare. Nyeri pada
defikasi menunjukan bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung
kemih atau ureta.
4. PSOAS SIGN yaitu rasa sakit perut kanan bawah sewaktu berjalan
atau kaki kanan di tekuk dan ketika batuk.
(http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/2009/11/diperoleh tanggal 19
oktober 2010. dan Arief mansjoer,dkk:2000:307-308)
F. Pemeriksaan Diagnostik
Lekositosis sedang 10.000-18000 mm3 dengan dominansi sedang dari
polimorfonuklear. Piuria ada bila apendiks yang meradang terletak di dekat
ureter atau kandung kemih. Basiluria menunjukkan infeksi traktus urinarius.
Radiografi bermanfaat tetapi tidak bersifat diagnostic . Foto polos
abdomen dapat memperlihatkan distensi sekum, satu atau dua lingkaran usus
yang berdistensi, atau fekalit pada kuadran kanan bawah menandakan
apendisitis. Barium enema yang dilakukan secara perlahan dalam apendisitis
akut memperlihatkan tidak adanya pengisian apendiks dan efek massa pada
tepi medial serta inferior dari sekum; pengisian lengkap dari apendiks,
menyingkirkan apendisitis. Ultrasonografi mungkin bersifat diagnostic.
Radiografi toraks menyingkirkan penyakit lapangan paru kanan bawah ,yang
dapat menyerupai nyeri kuadran kanan bawah karena iritasi saraf
T10,T11,T12.
4

Laparoskopi dapat digunakan untuk membedakan antara penyakit


tuboovarium dengan ileitis. Selanjutnya dimungkinkan pengangkatan secara
laparoskopi.(schwartz,2000:438)
G. Penatalaksanaan Apendisitis
Pada apendisitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi
appendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi,
istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan
yang tidak merangsang peristaltic.
1. Tindakan pre operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan
antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita, pasien
diminta untuk tirah baring dan dipuasakan
2. Tindakan operatif : appendiktomi
3. Tindakan post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk
duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya
makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh luka
jahitan diangkat, klien pulang.
(http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/2009/11/diperoleh tanggal 19
oktober 2010.)
H. Komplikasi Apendisitis
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi appendiks, yang dapat
berkembang menjadi peritonitis, yaitu peradangan pada rongga abdomen
atau abses, yaitu penumpukan nanah pada apendiks. Insiden perforasi lebih
tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam
setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7 OC atau
lebih
tinggi,
nyeri
tekanan
bdomen
yang
kontinue.
(http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/2009/11/diperoleh tanggal 19
oktober 2010.)
Komplikasi lain adalah rupture yang dapat terjadi setelah obstruksi
terus-menerus dari lumen yang menimbulkan ganggren distal dari oklusi.
Biasanya terjadi distal dan fekalit. Suatu flegmon dari lingkaran usus yang
berlekuk-lekuk serta omentum dan meradang , dapat sembuh atau menyebar
untuk membentuk abses periapendiks atau menyebabkan obstruksi usus.
Penyebaran pada peritonitis memungkinkan kontaminasi dalam kantong
(cul-de-sac) pelvis atau rongga subhepatik kanan melalui usus kanan.
Pileplebitis (tromboflebitis septic dari system vena porta yang asenden )
timbul dengan demam tinggi ,menggigil, nyeri hepatic , dan ikterus. Emboli
septic menimbulkan abses piogenik multipel .
5

Insidens Ruptura terjadi dalam 15%-25% pasien pada saat datang , dengan
insidens yang lebih tinggi pada anak-anak dan kelompok usia tua.
(Schwartz, 2000: 438)
II.ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKS
A.Pengkajian
1. pola persepsi kesehatan pemeliharaan kesehatan
a. kurang mengkonsumsi makanan berserat dan kurang ninum
khususnya air putih.
b. Nyeri yang di rasakan 3 hari sebelum masuk di RS.
2. pola nutrisi metabolis
a. anoreksia
b. mual dan muntah
3. pola eliminasi
a. konstipasi
b. diare pada anak-anak.
4. pola aktivitas dan latihan
a. malaise
b. nyeri abdomen dapat membatasi aktivitas
c. PSOAS sign ada.
5. pola tidur dan istirahat
Tidur terganggu karena rasa nyeri.
6. pola persepsi kognitif
a. Nyeri meningkat bila beraktivitas
b. Nyeri abdomen pada titik Mc. Burney
c. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaan
7. pola persepsi dan konsep diri
a. Ansietas , depresi
b. Gelisah
c. emosi tidak stabil
8. Pola peran dan hubungan dengan sesama
Interaksi terganggu
9. Pola reproduksi seksualitas
a. Penurunan libido
b. Siklus haid
c. Amenora
d. Adanya riwayat menopause dini

10.Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress


Melakukan hal-hal atau kegiatan yang dapat meghilangkan
stress seperti membaca Koran, bercerita-cerita bersama
keluarga atau orang terdakat, dll.
11.Pola sistem kepercayaan
Kegiatan beribadah terganggu.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Pre operasi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
oleh inflamasi.
b. resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah.
c. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan akan
dilakukan tindakan pembedahan.
2. Post operasi
a. Nyeri yang berhubungan dengan proses insisi pembedahan dan
prosedur invasif.
b. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan adanya tempat
masuknya organisme sekunder terhadap adanya luka insisi bedah dan
tidak adekuatnya pertahanan utama klien.(Doengoes Marlilynn.
E,1999:509)
c. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan status hipermetabolik dan puasa.
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan aktivitas yang selalu
di bantu. (Doengeos Lynda Jualk Carpenito,2000:304)
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri , pusing kepala.
f. Kurang pengetahuan tentang peatalaksanaan dirumah, kondisi dan
prognosis yang berhubungan dengan tidak mengenal sumber infomasi.
C. Rencana Tindakan
1. Pre Op:
a. DP 1: Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
abdomen oleh inflamasi.
Tujuan: nyeri dapat di minimalkan sampai hilang.
Sasaran:
1) pasien mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
7

2) pasien dapat mendemonstrasikan tehnik relaksasi.


3) pasien tampak rileks.
4) TTV dalam batas normal ( nadi : 60-100 X/menit, suhu : 36,0-<37,5oc,
pernapasan : 12-20 X/menit, tekanan darah; dimana sistol: 90-140
mmHg dan distol 60-90 mmHg).
5) Skala nyeri menurun 0-1.

1)
2)
3)
4)
5)
6)

1)
2)
3)
4)
1)
2)
3)

Intervensi :
Kaji karakteristik nyeri.
Rasional : indetifikasi tingkat nyeri untuk intervensi lebih lanjut.
Beri posisi nyaman : semi fowler.
Rasional : mengurangi tekanan pada abdomen yang mengalami nyeri .
Beri atau ajarkan teknik relaksasi.
Rasional : mengalihkan perhatian terhadap nyeri yang berfokus.
Beri tindakan kenyaman misalnya pijatan punggung.
Rasional : beri rasa nyaman dan mengurangi nyeri.
Kolaborasi beri analgetik sesuai program medik dan rencana tindakan.
Rasional : analgetik efektif untuk mengurangi nyeri dan merupakan
wewenang dokter dalam pemberian terapi.
Kolaborasi dengan dokter untuk rencana tindakan operasi.
Rasional : perencanaan tindakan operasi merupakan wewenang
dokter.
b. DP 2 : resiko tinggi perubahan nutrisi kurag dari kebutuhan tubuh
yang berhubungan dengan anoreksial, mual dan muntah.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak
terjaadi.
Sasaran :
Pasien memahami pentingnya nutrisi bagi tubuh .
Pasien dapat mempertahankan asupan nutrisi adekuat.
Berat badan klien dalam batas normal 18,5 24,9 kg/m2. (Michael J.
Gibney, dkk ,2009:204)
Pasien bebas dari tanda-tanda manultrisi.
Intervensi :
Pantau masukan makanan .
Rasional : Pengawasan kehilangan.
Timbang berat badan tiap hari.
Rasional : sebagai alat pengkajian nutrisi dan keefektifan terapi.
Beri suasana nyaman pada saat makan.
8

4)
5)
6)
7)

1)
2)
3)
1)

2)
3)
4)

5)

Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan mengurangi mual.


Sajikan makanan dalam keadaan hangat,anjurkan pada pasien makan.
dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Mencegah mual , mencukupi asuhan nutrisi adekuat.
Anjurkan pasien menjaga kebersihan oral.
Rasional : Mulut yang bersih dan segar dapat menambah nafsu
makan.
Beri makanan halus, hindari makanan kasar dan merangsang sesuai
indikasi.
Rasional : menurunkan iritasi gaster.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin atau suplemen
tambahan dan pemberian diet.
Rasionl : Meningkatkan rangsangan nafsu makan dan mencukupi
asuhan nutisi.
c. DP 3 ansietas yang berhubungan dengan akan dilakukan
pembedahan.
Tujuan : ansietas dapat di minimalkan sampai dengan hilang.
Sasaran :
Pasien mengungkapkan ansietas berkurang.
Pasien mengungkapkan pemahaman dan alasan dilakukan
pembedahan.
Pasien tanpa rileks.
Intervensi :
Ciptakan lingkungan yang tenang dan rileks yang mendukung pasien
dapat mengungkapkan kekhawatirannya.
Rasional: Lingkungan yang tenang dapat memberi suasana nyaman
untuk komunikasi.
Kaji tingkat ansietas dan keluhan pasien.
Rasional : identifikasi tingkat kecemasan untuk intervensi selanjutnya.
Libatkan keluarga dalam memberi support.
Rasional : Keterlibatan keluarga sangat berpengaruh dalam memberi
dukungan emosional pada pasien.
Kolaborasi atau jelaskan pada pasien aktivitas rutin periode post op
(seperti ; pencukuran , puasa).
Rasional : Pemahaman tindakan perawatan dapat mengurangi
kecemasan pasien.
Kolaborasi , jelaskan periode post op (seperti : ambulasi dan
mobilisasi betahap, nyeri post op).

Rasional : Pemberitahuan awal untuk mengurangi stress dan


kecemasan lebih lanjut.

1)
2)
3)
4)
5)
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

2.Post op:
a. DP 1 : nyeri yang berhubungan dengan trauma jaringan sekunder
terhadap insisi pembedahan dan prosedur invasive.
Tujuan : Nyeri dapat diminimalkan sampai teratasi.
Sasaran :
Pasien mengungkapkan nyeri hilang atau terkontrol.
Pasien dapat mendemonstrasikan cara untuk mengurangi tekanan pada
daerah anus.
Pasien tampak rileks.
TTV dalam batas normal ( nadi : 60-100 X/menit, suhu : 36,0-<37,5 o
c, pernapasan : 12-20 X/menit, tekanan darah; dimana sistol: 90140mmHg dan distol: 60-90 mmHg ).
Skala nyeri menurun
Intervensi :
Kaji nyeri , lokasi , karakteristik, berat (skala 0-10).
Rasional : Identifikasi tingkat nyeri untuk intervensi lebih lanjut.
Kaji TTV.
Rasional : Takikardia, tacipnea, dan hipertensi dapat merupakan
petunjuk meningkatkan respon nyeri.
Beri posisi yang nyaman : semi fowler.
Rasional : Mengurangi rangsangan nyeri yang tepat dan hati-hati.
Anjurkan tehnik relaksasi.
Rasional : Mengaihkan perhatian terhadap nyeri yang berfokus.
Anjurkan pasien untuk istirahat dan ambulasi secara bertahap.
Rasional : Mengurangi rangsangan nyeri yang meningkat karena
akibat aktivitas.
Rawat luka pembedahan dengan tehnik yang tepat dan hati-hati.
Rasional : Mengurangi nyeri pada saat ganti balutan .
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik sesuai indikasi.
Rasional : analgetik efektif untuk mengurangi nyeri.
b. DP 2 : Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan adanya
tmpat masuknya organisme sekunder terhadap adanya luka insisi
bedah dan tidak adekuatnya pertahanan utama klien. (Doengoes ,
1999 : 509)
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Sasaran ;
10

1) TTV dalam batas normal (nadi: 60-100 X/menit, suhu : 36,0o - <37,5
c, pernapasan : 12 -20 X/menit, tekanan darah; dimana sistol: 90-140
mmHg dan distol: 60-90mmHg ).
2) Menunjukkan penyembuhan luka tepat waktu.
3) Pasien dapat melakukan tehnik perawatan kulit untuk mencegah
terjadinya infeksi.
4) Pasien bebas dari tanda-tanda infeksi (nyeri heba , terus- menerus ,
demam, critema, drainase purulen).
Intervensi :
1) Awasi TTV, perhatikan demam, menggigil, diaforesis, perubahan
mental meningkatnya nyeri abdomen.
Rasional ; Identifikasi dini terhadap tanda-tanda infeksi unruk
intervensi yang cepat dan tepat.
2) Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka yang benar
dan steril.
Rasional : Mencegah terjadinya kontaminasi silang.
3) Anjurkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka.
Rasional : Mencegah penularan infeksi melalui sentuhan, kuman
mungkin diularkan melalui sentuhan tangan yang kotor.
4) Ganti balutan sesuai dengan program dengan tehnik steril.
Rasional : Mencegah infeksi nasokomial.
5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antireptik , antibiotk
sesuai indikasi.
Rasional : Antireptik efektif untuk menurunkan suhu tubuh dan
antibiotic untuk mencegah infeksi.

1)
2)
3)

4)

c.DP 3 : Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


yang berhubungan dengan status hipermetabolik dan puasa.
Tujuan : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi.
Sasaran:
Pasien memahami pentingnya nutrisi bagi tubuh.
Pasien dapat mempertahankan asupan nutrisi yang adekuat.
BB klien dalam batas normal 18,5 -24,9 kg/m2. (Michael J. Gibney,
dkk, 2009:204)
Pasien bebas dari tanda-tanda mal nutrisi (kelembaban membrane
mukosa,tugor kulit baik, TTV stabil dan dalam batas normal, haluaran
urine adekuat)

Intevensi :
1) Pantau masukan makanan.
11

Rasional : Pengawasan kehilangan.


2) Timbang BB perhari.
Rasional : alat pengkajian kebutuhan nutrisi dan keefektifan terapi.
3) Awasi TTV.
Rasional : Demam terus menerus mengindentifikasikan kehilangan
cairan yang berlebihan.
4) Perhatikan membrane mukosa : kaji turgor kulit.
Rasional : Jika jelek menunjukkan tanda awal dehidrasi.
5) Auskultasi bising usus : catat kelancaran usus.
Rasional : Kelancaran bising usus menunjukkan mulai berfungsinya
alat pencernaan.
6) Beri suasana menyenangkan pada saat makan.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan mengurangi mual.
7) Sajikan makanan dalam keadaan hangat , anjurkan pasien makan
dalan porsi kecil tapi sering.
Rasonal : Mencegah mual, mencukupi asupan nutrisi adekuat.
8) Anjurkan pasien menjaga kebersihan oral.
Rasional : Mulut yang bersih dan segar dapat menambah selera
makan.
9) Beri makanan halus, hindari makan kasar dan merangsang.
Rasional : Menurunkan iritasi gaster.
10)
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin atau
suplemen tambahan dan pemberian diit.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan mencukupi asupan asupan
nutrisi.

1)
2)
3)
1)

d. DP 4 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya insisi


bedah.
Tujuan : Kerusakan kulit tidak terjadi setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
Sasaran :
Pasien tidak mengeluh nyeri.
Pasien dapat melakukan tehnik perawatan kulit untuk mencegah
terjadinya kerusakan kulit.
Mempercepat penyembuhan luka.
Intervensi :
Lakukan perawatan luka yang aseptic.
Rasional : menurunkan resiko penyebaran bakteri . Karena jika bakteri
menyebar, terjadi infeksi dan dapat terjadi kerusakan kulit.
12

2) Lihat insisi dan balutan.


Rasional : untuk mendeteksi dini terjadi kerusakan kulit.
3) Beri informasi yang tepat, jujur pada pasien atau orang terdekat.
Rasional : Pengetahuan tentang kemajuan situasi, memberikan
dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas.
4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi.
Rasional : untuk mempercepat proses penyembuhan.
e. DP 5 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri , pusing kepala.
Tujuan : Pasien kembali mampu beraktivitas.
Sasaran :
1) Pasien tidak mengatakan nyeri pusing ketik beraktivitas.
2) Pasien mengatakan mampu mika-miki sendiri.
3) Pasien mampu melakukan motivasi dengan mandiri.
Intervensi :
1) Kaji pola aktivitas klien.
Rasional : untuk mengetahui sampa dimana tingkat kemapuan klien
dalam beraktivitas.
2) Anjurkan pada klien untuk latihan mobilisasi setiap hari.
Rasional : untuk melemaskan otot dan mengurangi kekakuan pada
eksternitas.
3) Motivasi klien untuk melakukan mobilisasi fisik secara mandiri.
Rasional : membantu klien agar lebih mandiri dalam mobilisasi fisik.
f. DP 6 : Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi dan
pognosis yang berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan:Pengetahuan pasien atau keluarga bertambah.
Sasaran :
1) Pasien mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan pengobatan
dan penatalaksanaan.
2) Pasien dapat mendemonstrasikan dan berpartisipasi dalam program
pengobatan.
Intervensi :
1) Diskusikan pentingnya penatalaksanaan diit rendah residu selama 1
minggu,selanjutnya sesuai toleransi.
Rasional : mencegah terjadinya kontipasi.
2) Jelaskan pentingnya menghindari mengangkat beban dan mengedan.
Rasional : Mengurangi tekanan intra abdomen dan mengurangi nyeri.
3) Diskusikan gejala infeksi dan laporkan pada dokter bila ada tandatanda infeksi.
13

Rasional : Pengawasan untuk mencegah infeksi lebih lanjut.


4) Diskusikan perawatan insisi, temasuk mengganti balutan, pembatasan
mandi (hindari basah) dan kembali ke dokter untuk mengangkat
jahitan sesuai pesanan.
Rasional : Mencegah infeksi dan mengawasi jahitan sesuai pesanan.
5) Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodic.
Rasional : Mencegah kelemahan , meningkatkan penyembuhan dan
mempermudah kembali ke aktifitas normal.
10)Diskusikan gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh :
peningkatan nyeri, edema atau eritema luka, drainase purulen, demam.
Rasional : Mengawasi proses penyembuhan luka yang tepat dan
mencegah kemungkinan terjadinya infeksi dan mermelukan perawatan
lebih lanjut.
11)Diskusikan tentang kebutuhan pengobatan dan efek samping obat.
Rasional : ndividu memiliki toleransi yang berbeda trhadap berbagai
fungsi dan efek samping .

***

DAFTAR PUSTAKA

14

http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/ 19 oktober 2010.


Marilynn , dkk . 1999 . Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3.
Jakarta : EGC .
Gibney, dkk . 2009 . Gizi Kesehatan Masyarakat, Edisi 1.
Jakarta : EGC .
Price & Wilson . 1995 . Patofisiologi konsep-konsep penyakit, Edisi 4.
Jakarta : EGC .
Schwartz , dkk . 2000 . Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6.
Jakarta : EGC .

15