Vous êtes sur la page 1sur 15

BAB I

Pendahuluan
A. Latar Belakang
Apendisitis merupakan penyebab nyeri abdomen akut yang paling

sering

ditemukan dan memerlukan tindakan bedah mayor segera untuk mencegah


komplikasi yang umumnya berbahaya. Apendisitis merupakan peradangan pada
apendiks vermiformis.apendiks disubt juga sebagai umbai cacing, Penyakit ini
dapat dijumpai disemua usia, namun paling sering pada usia antara 20 sampai 30
tahun.Kejadian apendisitis 1,4 kali lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan
wanita (Sander, 2011)
Apendiks merupakan organ berbentuk panjang dan sempit panjangnya kirakira 10 cm dan berpangkal di sekum, adanya hambatan pada aliran tersebut
tampaknya merupakan salah satu penyebab timbutlnya apendisitis. Jaringan
limfoid yang yang mula-mula tampak pada usia 2 minggu akan meningkat
jumlahnya secara bertahap hingga mencpai punck pada usia 12- 20 tahun. Dimna
kejadian apendisitis juga meningkat pada usia kisaran seperti ini. Seteah berusia
30 tahun jaringan limfoid akan berkurang setengahnya dan akan menghilang
pada usia 60 tahun (Sander, 2011)
Penyakit apendisitis merupakan penyakit yang dengan bedah mayor yang paling
sering terjadi (Sylvia, 2006)
B. Rumusan Masalah
1. Apa defenisi dari penyakit Apendisitis?
2. Bagaimana epidemologi dari penyakit Apendisitis?
3. Bagaimana etiologi dari penyakit Apendisitis?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari penyakit Apendisitis ?
5. Bagaimana Patofisiologi dari penyakit Apendisitis?
6. Bagaimana diagnosis dari penyakit Apendisitis?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari penyakit Apendisitis?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari penyakit Apendisitis?
9. Bagaimana komplikasi dari penyakit Apendisitis?
10. Bagaimana diagnose banding dari penyakit Apendisitis?
11. Bagaimana prognosis dari penyakit Apendisitis?
C. Tujuan
1|Apendisitis

1. Untuk mengetahui defenisi dari penyakit Apendisitis


2. Untuk mengetahui epidemologi dari penyakit Apendisitis
3. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit Apendisitis
4. Untuk mengetahui a manifestasi klinis dari penyakit Apendisitis
5. Untuk mengetahui Patofisiologi dari penyakit Apendisitis
6. Untuk mengetahui diagnosis dari penyakit Apendisitis
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari penyakit Apendisitis
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari penyakit Apendisitis
9. Untuk mengetahui komplikasi dari penyakit Apendisitis
10. Untuk mengetahui diagnose banding dari penyakit Apendisitis
11. Untuk mengetahui prognosis dari penyakit Apendisitis

BAB II
Pembahasan
A. Defenisi
Apendisitis adalah peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan
dinding organ apendiks vermiformis (Sylvia, 2011). Apendisitis adalah
peradangan pada apendiks vermiformis.
Apendistitis merupakan peradangan pada apendiks (umbai cacing). Kirakira pria 7% lebih cenderung terkena apendisitis dari pada wanita. Apendisitis
2|Apendisitis

lebih sering menyerang pada usia 10-30 tahun. Apendisitis perforasi merupakan
kompilksi utama dari apendiks, dimana apendiks telah pecah sehingga isi
apendiks keluar menuju rongga peritenium yang dapat menyebabkan peritonitis
atau abses (Ratu,2013).
B. Epidemologi
Insidensi maksimun apendisitis akut terjadi pada dekade kedua dan ketiga
dari kehidupan. Walau penyakit tersebut dapat terjadi pada setiap saat dari
kehidupan, namun relatif jarang ditemukan pada usia yang ekstrim. Laki laki
dan perempuan memiliki risiko yang sama, kecuali antara pubertas dan usia 25
tahun, yaitu pada laki laki frekuensinya lebih tinggi dengan risiko 3:2.
Perforasi relative lebih sering terjadi pada bayi dan pada usia lanjut,
selama periode itu angka moralitasnya paling tinggi. Angka kematian telah
menurun secara menetap di Eropa dan Amerika Serikat dari 8,1 per 100.000
populsi pada tahun 1970 dan seterusnya. Insiden absolute dari penyakit itu juga
turun sebesar kira kira 40% antara tahun 1940dan 1960 tetapi sejak itu,
insidennya tetap tidak berubah. Meski berbagai macam factor seperti kebiasaan
makan, perubahan flora usus dan asupan vitamin telah dianggap menjelaskan
penurunan insidensi penyakit tersebut, namun alas an yang tepat belum dapat
dikemukakan.
Secara keseluruhan, insidensi apendisitis jauh lebih rendah di Negara
belum berkembang terutama di daerah afrika, dan pada kelompok sosioekonomi
rendah (Isselbacher, 2014)
C. Etiologi
Apendiks merupakan organ yang belum diketahi fungisnya tetapi
menghasilkan lendir1-2 ml per hari yang normalnya dicurahkan kedalam lumen
dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lender dimuara apendiks
tampaknya berperan dalam patolgenesis apendiks. Berdasarkan klasifikasi
etiologi apendisisitis terbagi atas:
1. Apendisitis Akut

3|Apendisitis

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Dan factor pencetunya disebabkan


oleh sumbatan lumen apendiks. Selain itu, hyperplasia jaringan limfoid,
tumor apendiks, dan cacing askaris yang dapat menyebabkan sumbatan dan
juga erosi mukosa apendiks yang terkena parasit (E. histolytica)
2. Apendisitis kronik
Disebakan Karena adanya fibrosis menyeluruh pada dinding apendiks,
sumbatan parsial atau lumen, adanya jaringan parut dan ulkus lama
dimukosa dan infoltrasi sel inflamasi kronik.
Penyabab paling sering dari apendisitis diduga arena faktor penymbatan
(obstruksi) oleh tinja atau feses dan hyperplasia jaringan limfoid sumbatan keras
termaksud biji-bijian. Sumatan inilah yang selanjutnya akan menjadi media
bakteri untuk dapat berkembang biak. Mamakan cabai bersama bijinya atau
jambu klutuk beserta bijinya sering kali tidak tercerna dalam tinja dan akan
menyelinap masuk ke bagian apendiks sebagai benda asing (Nurarif, 2015)
Menurut I Made ( 2010) etiologi dari apendisitis dibagi atas:
1. Obstrruksi oleh fekolit, hiperplasia limfoid ataupun tumor
2. Radang/inflamasi, yang kadang-kadang dapat oleh yersinia
pseudotuberculosisi dan aktimonikosis
3. Apendiks dapat juga terlibat pada kolitis ulseratif/penyakit crohn.
D. Manifestasi klinis
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
terjadinya peradangan mendadak pada umbai cacing yang memberikan tanda
setempat, baik disertai maupun tidak disertai dengan rangsang peritoneum local.
Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar samar dan tumpul yang
merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini
sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya, nafsu makan menurun.
Dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah. Ke titik McBurney.
Di sini, nyeri dirasa lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan
nyeri somatik setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat
kostipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu di
anggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Bila terdapat

4|Apendisitis

perangsangan peritoneum, biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan


dan batuk. (Sjamsuhidajat, 2015)
Manifestasi klinis lainnya pada appendicitis yakni (Grace, 2006) :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nyeri abdomen periumbalikal, mual, muntah.


Lokalisasi nyeri menuju fosa iliaka kanan.
Pireksia ringan
Pasien menjadi kemerahan , takikardia, lidah berselaput, halitosis.
Nyeri tekan pelvis sisi kanan pada pemeriksaan per rectal.
Peritonitis jika appendiks mengalami perforasi
Massa appendiks jika pasien dating terlambat.

Kemungkinan apendisitis dapat diyakinkan dengan menggunakan skor Alvarado:


The modified Alvarado Score
Gejala
Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut kanan bawah
Muntah-muntah
Anoreksia
Tanda
Nyeri di perut kanan bawah
Nyeri lepas
Demam diatas 37,5 C
Pemeriksaan lab
leukositosis
Hitung jenis leukosit shift to left
Total
Interpretasi dari modified Alvarado Score:

Skor
1
1
1
2
1
1
2
1
10

1-4 : sangat mungkin bukan apendisitis akut


5-7 : sangat mungkin apendisitis akut
8-10: pasti apendisitis akut
E. Patofisiologi

5|Apendisitis

F. Diagnosis
Pada anamnesis penderita akan mengeluhkan nyeri atau sakit perut. Ini
terjadi karena hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan terjadi pada seluruh
saluran cerna, sehingga nyeri viseral dirasakan pada seluruh perut. Muntah atau
rangsangan viseral akibat aktivasi n.vagus. Obstipasi karena penderita takut
untuk mengejan. Panas akibat infeksi akut jika timbul komplikasi. Gejala lain
adalah demam yang tidak terlalu tinggi, antara 37,5-38,5 C, tetapi jika suhu lebih
tinggi, diduga sudah terjadi perforasi (Departemen Bedah UGM, 2010).
Pada pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi, penderita berjalan
membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi
perforasi, dan penonjolan perut bagian kanan bawah terlihat pada apendikuler
abses (Departemen Bedah UGM, 2010).
Pada palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit kembung.
Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit tekanan,
dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri. Status lokalis abdomen kuadran
kanan bawah Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri
tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci
diagnosis.
Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok. Auskultasi akan terdapat
peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis

6|Apendisitis

generalisata akibat apendisitis perforata. Auskultasi tidak banyak membantu


dalam menegakkan diagnosis apendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis
maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus. Pada pemeriksaan colok dubur
(Rectal Toucher) akan terdapat nyeri pada jam 9-12 (Departemen Bedah UGM,
2010).

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi: akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut
dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
b. Palpasi: didaerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa nyeri dan
bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana
merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.
c. Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di
angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah (psoas
sign)
d. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila
pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga.
e. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
f. Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji Psoas akan positif dan
tanda perangsangan peritoneum tidak begitu jelas, sedangkan bila
apendiks terletak di rongga pelvis maka Obturator sign akan positif dan
tanda perangsangan peritoneum akan lebih menonjol (Nurarif, 2015).

7|Apendisitis

2. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium darah, biasanya didapati peningkatan
jumlah leukosit (sel darah putih), hingga sekitar 10.000 18.000/mm3. Jika
terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah
mengalami perforasi (pecah).) (Sanyoto, 2007).
3. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi berupa foto

barium

usus

buntu

(Appendicogram) dapat membantu melihat terjadinya sumbatan atau adanya


kotoran

(skibala)

didalam

lumen

usus

buntu.

Pemeriksaan

USG

(Ultrasonografi) dan CT scan bisa membantu dakam menegakkan adanya


peradangan akut usus buntu atau penyakit lainnya di daerah rongga panggul
(Sanyoto, 2007). Namun dari semua pemeriksaan pembantu ini, yang
menentukan diagnosis apendisitis akut adalah pemeriksaan secara klinis.
Pemeriksaan CT scan hanya dipakai bila didapat keraguan dalam
menegakkan diagnosis. Pada anak-anak dan orang tua penegakan diagnosis
apendisitis lebih sulit dan dokter bedah biasanya

lebih agresif dalam

bertindak (Sanyoto, 2007).


Laparoskopi biasanya digunakan untuk menyingkirkan kelainan
ovarium sebelum dilakukan appendisektomi pada wanita muda (Grace,
2006)
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan apendisitis tergantung dari nyeri apendisitisnya akut atau
kronis. Penatalaksanaan bedah ada dua cara yaitu non bedah (non surgical) dan
pembedahan (surgical).
1. Non bedah (non surgical)
Penatalaksanaan ini dapat berupa :
a. Batasi diet dengan makan sedikit dan sering (4-6 kali perhari)
b. Minum cairan adekuat pada saat makan untuk membantu proses pasase
makanan
c. Makan perlahan dan mengunyah sempurna untuk menambah saliva
pada makanan

8|Apendisitis

d. Hindari makan bersuhu ekstrim, pedas, berlemak, alkohol, kopi, coklat,


dan jus jeruk
e. Hindari makan dan minum 3 jam sebelum istirahat untuk mencegah
masalah refluks nonturnal
f. Tinggikan kepala tidur 6-8 inchi untuk mencegah refluks nonturna
g. Turunkan berat badan bila kegemukan untuk menurunkan gradient
tekanan gastro esophagus
h. Hindari tembakan, salisilat, dan fenibutazon yang dapat memperberat
esofagistis
2. Pengobatan yang terbaik untuk usus buntu yang sudah meradang/apendisitis
akut adalah dengan jalan membuang penyebabnya (operasi appendektomi).
Pasien biasanya telah dipersiapkan dengan puasa antara 4 sampai 6 jam
sebelum operasi dan dilakukan pemasangan cairan infus agar tidak terjadi
dehidrasi. Pembiusan akan dilakukan oleh dokter ahli anastesi dengan
pembiusan umum atau spinal/lumbal. Pada umumnya, teknik konvensional
operasi pengangkatan usus buntu dengan cara irisan pada kulit perut kanan
bawah di atas daerah apendiks (Sanyoto, 2007).
Perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman
gram negatif dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa
nasogastrik perlu dilakukan sebelum pembedahan (Sjamsuhidajat, 2015).
Pasien harus dipersiapkan dengan rehidrasi koreksi elektrolit pengendalian
demam , kemungkinan penekanan saluran cerna, dan pemberian antibiotik
yang sesuai walaupun mungkin memerlukan waktu beberapa jam tetapi hala
ini membantu mencegah penyulit yang tidak di hendaki .
a. Apabila tampak normal pada laparotomi apendiks harus di angkat dan
di teliti secara cermat untuk mengetahui penyakit lain.
b. Apabila meradang tetapi tidak mengalami gangreng atau perpfrasi,
apendiks diangkat dan dilakukan pembiakan yang sesuai lama rawat
inap untuk para pasien ini biasanya 12 48 jam.
c. Apabila apendiks mengalami gangreng atau perforasi harus dilakukan
pembiakan anaerobik dan aerobik intra operasi, peritoneum di irigasi
dan dipasang drain di abdomen. Antibiotik spektrum luas intravena

9|Apendisitis

dilanjutkan selama 10-14 hari dan drain di lepas mulai hari ke 7 paska
operasi. Angka kematian yang berkaitan dengan apendisitis perforasi
seharusnya jauh dibawah 1 % (Rudolph,2014)
Alternatif lain operasi pengangkatan usus buntu yaitu dengan cara bedah
laparoskopi. Operasi ini dilakukan dengan bantuan video camera yang
dimasukkan ke dalam rongga perut sehingga jelas dapat melihat dan
melakukan appendektomi dan juga dapat memeriksa organ-organ di dalam
perut lebih lengkap selain apendiks. Keuntungan bedah laparoskopi ini
selain yang disebut diatas, yaitu luka operasi lebih kecil, biasanya antara
satu dan setengah sentimeter sehingga secara kosmetik lebih baik (Sanyoto,
2007)
I. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa
perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami
perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks,
sekum, dan letak usus halus (Sjamsuhidajat, 2015).
Komplikasi usus buntu juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan,
obstruksi usus, abses abdomen/pelvis, dan jarang sekali dapat menimbulkan
kematian (Craig, 2011).
Insidensi perforasi 10-32 %. Perforasi terjadi 24 jam setelah awitan nyeri.
Berikut penjelasan komplikasi yang terjadi (Ratu,2013):
a. Perforasi apendiks
Perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, observasi aman untuk
dilakukan dalam masa tersebut. Tanda tanda perforasi meliputi
meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kudran kanan bawah dengan
tanda perionitis umum atau abses yang terlokalisasi,ileus , demam, malise
dan leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau
pembentukan abses telah terjadi sejak pasien pertama kali datang diagnosa
dapat di tegakkan secara pasti.
b. Peritonitis atau abses

10 | A p e n d i s i t i s

Bila tejadi peritonitis umum terapis spesifik yang dilakukan operasi untuk
menutup nasal perforasi. Bila terbentuk abses apendiks akan teraba massa
dikuadran kanan bawah yang cenderung mengelembung kearah rektum atau
vagina.
c. Dehidrasi
d. Sepsis
e. Elektrolit darah tidak seimbang
f. Pneumoni
J. Diagnosa Banding
Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai
diagnosis banding (Sjamsuhidajat, 2015):
1. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa nyeri.
Nyeri perut sifatnya lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering dijumpai
adanya

hiperperistalsis.

Panas

dan

leukositosis

kurang

menonjol

dibandingkan dengan appendicitis akut.


2. Demam dengue
Demam dengue dapat dimulai dengan nyeri perut mirip peritonitis.
Pada penyakit ini, didapatkan hasil tes positif untuk Rumpel Leede,
trombositopenia, dan peningkatan hematokrit.
3. Limfadenitis mesenterika
Limfadenitis mesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau
gastroenteritis, ditandai denga nyeri perut, teruttama perut sebelah kanan,
serta perasaan mual dan nyeri tekan perut yang sifatnya samar, terutama
perut sebelah kanan.
4. Kelainan ovulasi.
Folikel ovarium yang pecah pada ovulasi dapat menimbulkan nyeri
pada perut kanan bawah ditengah siklus menstruasi. Pada anamnesis, nyeri
yang sama pernah timbul lebih dahulu. Tidakada tanda radang, dan nyeri
biasa hilang dalam waktu 24 jam, tetapi mungkin dapat mengganggu selama
dua hari.
5. Infeksi panggul.

11 | A p e n d i s i t i s

Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan appendicitis akut.


Suhu biasanya lebih tinggi daripada appendicitis dan nyeri perut bagian
bawah perut lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai
keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina, akan timbul nyeri hebat
dipanggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan colok dubur
jika perlu untuk diagnosis banding.
6. Kehamilan diluar kandungan
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak
menentu. Jika ada rupture tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan
pendarahan, akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan
mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan vagina, didapatkan
nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan pada kuldosentesis didapatkan
darah.
7. Kista ovarium terpuntir.
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan terasa
massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut, colok vagina atau colok
rectal. Tidak terdapat demam. Pemeriksaan ultrasonografi dapat menemukan
diagnosis.
K. Prognosis
Kebanyakan pasien setelah operasi appendektomi sembuh spontan tanpa
penyulit, namun komplikasi dapat terjadi apabila pengobatan tertunda atau telah
terjadi peritonitis/peradangan di dalam rongga perut. Cepat dan lambatnya
penyembuhan setelah operasi usus buntu tergantung dari usia pasien, kondisi,
keadaan umum pasien, penyakit penyerta misalnya diabetes mellitus, ko mplikasi
dan keadaan lainya yang biasanya sembuh antara 10 sampai 28 hari (Sanyoto,
2007)
Alasan adanya kemungkinan ancaman jiwa dikarenakan peritonitis di
dalam rongga perut ini menyebabkan operasi usus buntu akut/emergensi perlu
dilakukan secepatnya. Kematian pasien dan komplikasi hebat jarang terjadi
karena usus buntSSu akut. Namun hal ini bisa terjadi bila peritonitis dibiarkan
dan tidak diobati secara benar (Sanyoto, 2007)

12 | A p e n d i s i t i s

BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Dalam praktik bedah, penyakit apendiks dianggap penting, apendisitis
adalah penyakit abdomen akut yang tersering ditangani oleh dokter bedah.
Walaupun entitas diagnostik ini menonjol, diagnosis banding herus mencakup
hampir semua proses akut yang dapat terjadi di dalam rongga abdomen, serta
beberapa keadaan kedaruratn yang mengenai organ toraks. Kadang-kadang
tumor muncul di apendiks dan mengharuskan dilakukannya eksplorasi abdomen
Survei menunjukkan bahwa sekitae 10% orang di amerika serikat dan negara
barat menderita apendisitis dalam suatu saat. Semua usia dapat terkena, tetapi
insidensi puncak adalah pada dekade kedua dan ketiga, walaupun puncak kedua
yang kecil ditemukan pada orang berusia lanjut. Laki-laki lebih sering terkena
daripada perempuan dengan rasio 1,5:1.
Apendiks akut merupakan diagnosis abdomen yang paling mudah atau
paling sulit. Kasus klasik ditandai dengan Rasa tidak nyaman di daerah
perumbilikus, di ikuti oleh anoreksia, mual, dan muntah, yang segera disertai
oleh nyeri tekan kuadran menjadi rasa pegal dalam atau kuadran kanan bawah.
Deman dan leukositosis terjadi pada awal perjalanan penyakit. Yang
disayangkan, sejumlah besar kasus tidak memberikan gambaran klasik. Penyakit
mungkin silent terutama pada usia lanjut, atau tidak memperhatikan tanda
lokal di kuadran kanan bawah, seperti bila apendiks terletak retrosekum atau
terdapat malrotasi kolon. Selain itu, penyakit berikut dapat memperlihatka
gambaran klinis mirip apendisitis akut : (1) limfedinitis mesenterium setelah
infeksi virus sistemik (2) gastroenteritis dengan adenitis mesenterium (3)
penyakit radang panggul dengan keterlibatan tubo ovarium (4) ruptur folikel
ovarium saat ovulasi (5) kehamilan eptopik (6) vebtrikulitis meckel, serta
penyakit lain. Oleh karena itu , dengan tekhnik diagnostik konvensional (diawali
13 | A p e n d i s i t i s

dengan pemeriksaan fisik) , diagnosis apendisitis akut yang akurat hanya dapat
ditegakkan pada sekitar 80% kasus, modalitas pencitraan yang lebih baru
meningkatkan kekuatan diagnosis menjadi 95%. Bagaimana pun secara umum
diakui bahwa lebih baik sekali-sekali dilakukan reseksi apendiks normal dari
pada membiarkan risiko

mordibitas dan mortalitas (sekitaer 20%) perforasi

apendiks (Kumar, 2007).


B. Saran
1. Bagi tenaga kesehatan
Dalam malakukan penegakka diagnosis pada klien dengan apendisistis harus
dilakukan dengan teliti karena gejala dari apendisitis yang tidak terlalu
Nampak dan banyaknya penyakit lain yang memilki gambaran klinis yang
hampir sama dengan apendisitis

Daftar Pustaka
Craig, S., 2011. Appendicitis Treatment & Management. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/773895-treatment[Accessed 25 April
2016]
Departemen
Bedah
UGM.
2010.
Apendik.
Diambil
dari
:
http://www.bedahugm.net/tag/appendix pada 25 April 2016
Grace, Pierce A, dkk. 2006. At a glance ilmu bedah edisi ketiga. Jakarta : erlangga.

14 | A p e n d i s i t i s

Isselbacher, Kurt J dkk. 2014. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam.


Jakarta: EGC
Kumar, Vinay Dkk. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins Edisi 7 Volume 2, Jakarta:
EGC
Nasar, I Made Dkk. 2010. Buku Ajar Patologi II (Khusus) edisi 1. Jakarta: Sagung
Seto
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhakn Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic Noc Edisi Revisi Jilid 2.
Yokyakarta: Media Action
Price, Sylvia Anderson dkk. 2006. Patofisologi: Konsep Klinis proses-proses
penyakit. Jakarta: EGC
Ratu, R Ardian. & Adwan, G Made. 2013. Penyakit Hati, Lambung, Usus, dan
Ambeien. Yogyakarta : Nuha Medika
Sander, Mochammad Aleq. Januari 2011. Accute Appendicitis : (How Should Be The
General Practitioners And Nurse Can Detect Earlier Sign And Symptoms Of
This Diease?). Vol.2 No.1. ISSN: 2086-3071
Rudolph ,Abraham M ,dkk.2014.Buku Ajar Pediatrik Rudolph Volume 2. Jakarta :
EGC
Sanyoto, D., 2007. Masa Remaja dan Dewasa. Dalam: Utama, Hendra, ed. Bunga
Rampai Masalah Kesehatan dari dalam Kandungan sampai Lanjut Usia.Jakarta:
Balai Penerbit FK UI, 297-300
Sjamsuhidajat, R. 2015. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta:EGC

15 | A p e n d i s i t i s