Vous êtes sur la page 1sur 21

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Penyakit Alzheimer adalah suatu penyakit degeneratif otak yang progresif, dimana selsel otak rusak dan mati sehingga mengakibatkan gangguan mental berupa kepikunan
(demensia) yaitu terganggunya fungsi-fungsi memori (daya ingat), berbahasa, berpikir dan
berperilaku. Sebagian besar demensia disebabkan oleh penyakit Alzheimer (60%). Demensia
adalah suatu penyakit yang dapat ditatalaksana, dan demensia bukan merupakan bagian
normal dari proses penuaan peningkatan jumlah kasus pada kelompok usia yang lebih muda
(sekitar 40 - 50 tahun).
Penyakit Alzheimer ditemukan pertama kali pada tahun 1907 oleh seorang ahli psikiatri
dan neuropatologi yang bernama Alois Alzheimer. Ia mengobservasi seorang wanita berumur
51 tahun, yang mengalami gangguan intelektual dan memori serta tidak mengetahui kembali
ketempat tinggalnya, sedangkan wanita itu tidak mengalami gangguan anggota gerak
koordinasi dan reflek. Pada autopsy tampak bagian otak mengalami atropi yang difus dan
simetris, dan secara mikroskopis tampak bagian kortikal otak mengalami neuritis plaque dan
degenerasi neurofibrillary.
Hal-hal yang dianggap dapat melindungi seseorang dari Alzheimer adalah gen APO
E2&3, pendidikan tinggi (aktivitas otak tinggi), pemakaian Estrogen, dan penggunaan obat
anti inflamasi. Meskipun penyebab belum diketahui, namun gangguan mental demensia
(kepikunan) ini telah dapat ditatalaksana dengan baik melalui berbagai upaya.

B.

TUJUAN

a. Tujuan umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan
belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Gerontik
b. Tujuan khusus
Untuk mengetahui definisi alzheimer, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi,
pemeriksaan diagnostik dari alzheimer, penatalaksanaan medis dan asuhan keperawatan klien
dengan alzheimer.

C.

RUMUSAN MASALAH

1)

Apa definisi alzheimer.

2)

Bagaimana etiologi alzheimer.

3)

Bagaimana manifestasi klinis dari alzheimer.

4)

Bagaimana patofisiologi dari alzheimer.

5)

Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari alzheimer.

6)

Bagaimana penatalaksanaan medis dari alzheimer.

7)

Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan alzheimer.

BAB II
KONSEP TEORI
A. Pengertian
Penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak yang progresif, yang mematikan
sel otak sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir, dan
perubahan perilaku. (Wahyudi Nugroho, 2002, hal 176)
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang bersifat degeneratif dan progresif pada otak
yang menyebabkan cacat spesifik pada neuron, serta mengakibatkan gangguan memori,
berpikir, dan tingkah laku. (Sylvia, A. Price, 2006, hal 1134)
Penyakit alzheimer adalah penyakit degenerasi neuron kolinergik yang merusak dan
menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang berusia 65 tahun ke atas. (Arif
Muttaqin, 2008, hal 364)
Kesimpulannya, penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif yang menyerang sel
otak secara progresif yang mengakibatkan penurunan daya ingat, gangguan memori, berpikir
tingkah laku dan kelumpuhan yang terutama menyerang orang berusia 65 tahun ke atas.
B. Etiologi
Penyebab degenrasi neuron kolinergik pada penyakit Alzheimer tidak diketahui.
Sampai sekarang belum satupun penyebab penyakit ini diketahui, tetapi ada tiga teori utama
mengenai penyebabnya, yaitu :
1.

Virus lambat
Merupakan teori yang paling populer(meskipun belum terbukti) adalah yang berkaitan

dengan virus lambat. Virus-virus ini mempunyai masa inkubasi 2-30 tahun sehingga
transmisinya sulit dibuktikan. Beberapa jenis tertentu dari ensefalopati viral ditandai oleh
perubahan patologis yang menyerupai plak senilis pada penyakit Alzheimer.
2.

Proses Autoimun
Teori autoimun berdasarkan pada adanya peningkatan kadar antibodi-antibodi reaktif

terhadap otak pada penderita penyakit Alzheimer. Ada dua tipe amigaloid(suatu kompleks
protein dengan ciri seperti pati yang diproduksi dan dideposit pada keadaan-keadaan
patologis tertentu), yang satu kompos isinya terdiri atas rantai-rantai IgG dan yang lainnya
tidak diketahui. Teori ini menyatakan bahwa komplek antigen-antibodi dikatabolisir oleh
fagosit dan fragmen-fragmen imunoglobulin dihancurkan di dalam lisosom.

3.

Keracunan aluminium
Teori keracunan aluminium menyatakan bahwa karena aluminium bersifat neurotoksik,

maka dapat menyebabkan perubahan neuofibrilar pada otak. Deposit aluminium telah
diidentifikasi pada beberapa klien dengan penyakit Alzheimer, tetapi beberapa perubahan
patologi yang menyertai penyakit ini berbeda dengan yang terlihat pada keracunan
aluminium (Arif Muttaqin, 2008, hal 364-365).
C.

Patofisiologi
Proses penuaan yang terjadi pada otak dapat berupa penurunan berat otak, pelebaran
sulci serebral, penyempitan gyrus dan pembesaran ventrikel-ventrikel.
Terjadinya penyakit Alzheimer ini disebabkan karena adanya proses degeneratif dan
hilangnya kemampuan selektif sel-sel dalam korteks serebral. Hilangnya sel-sel otak baik di
kortikal maupun struktur subkortikal misalnya sel cholinergik mengakibatkan menurunnya
produksi neurotransmiter acethylcoline sampai dengan 75 %.
Hal ini yang kemudian menimbulkan gangguan kognitif. Neuro transmiter lain yang
mengalami penurunan adalah nerophinephrine, dopamin, serotinin.
Secara mikroskopik pasien alzheimer ditemukan adanya lesi pada jaringan otak yang
berupa Neuritic Plague, Neurofibrillary tangles serta adanya degenerasi granulo vaskuler.
Neuritic Plague mengelilingi sel-sel saraf terminal baik akson maupun dendrit yang
mengandung amiloid protein. Penumpukan Neuritic Plague pada frontal korteks dan
hipokampus mengakibatkan penurunan fungsi. Neurofibrillary Tangles merupakan massa
fibrosa pada sel saraf. Disamping itu kemungkinan degeneratif sel otak juga terjadi akibat
proses metabolisme. Dimana pada pasien dengan alzheimer umumnya usia lanjut dan terjadi
penurunan metabolisme sekitar 25 %.
(Tarwoto, 2007, hal 181-182)

Patways
Faktor predisposisi : Virus Lambat, Proses
Autoimun, dan Keracunan Aluminium
Penurunan metabolisme dan aliran darah di
korteks parietalis superior

Degenerasi neuron Kolinergik

Kekusutan neurofibrilar

Hilangnya

serat

kolinergik
yang difus

Penurunan

Kelainan
neurotransmiter

Asetilkolin

Demensia

sel

neuron

kolinergik yang berproyeksi ke

senilis

pada otak

dikorteks

cerebrum

Terjadi plak

saraf

hipokampus dan amigdala

Perubahan

Mengalami

Menjadi

masalah

dalam

mengingat

detail

semakin

Bicaranya

keras

kemampuan merawat

pekerjaan,

kepala

diri sendiri

disorientasi

bersikap

terhadap

tempat

secara verbal dan

waktu,

fisik

dan
Defisit

perawatan

diri

(berpakaian,

higiene)

dan
kasar
terhadap

tidak jelas dan


penuh

dengan

frase yang tidak


berarti

mengalami

orang lain ketika

kesulitan dalam tes

merasa

Gangguan

ingatan sederhana

terganggu

komunikasi
verbal

Resiko terhadap
trauma
Gangguan persepsi
sensori

D. Manifestasi Klinis
Gejala klasik penyakit demensia alzheimer adalah kehilangan daya ingat (memori)
yang terjadi secara bertahap, termasuk :
1.

Kesulitan menemukan atau menyebutkan kata yang tepat

2.

Tidak mampu mengenali objek

3.

Lupa cara menggunakan benda biasa dan sederhana, seperti pensil

4.

Lupa mematikan kompor, menutup jendela, atau menutup pintu

5.

Suasana hati dan kepribadian dapat berubah

6.

Agitasi, masalah dengan daya ingat, dan membuat keputusan yang buruk dapat
menimbulkan perilaku yang tidak biasa.

(Wahyudi Nugroho, 2002, hal 177)


E. Stadium Demensia Alzheimer
Penyakit demensia alzheimer dapat berlangsung dalam tiga stadium, yaitu :
1.

Stadium awal(masa 1-3 tahun)

Gejala stadium awal yang sering diabaikan dan disalah artikan sebagai usia lanjut atau
sebagai bagian normal dari proses otak menua. Klien menunjukan gejala sebagai berikut :
a. Kesulitan dalam berbahasa
b. Mengalami kemunduran daya ingat secara bermakana
c. Disorientasi waktu dan tempat
d. Sering tersesat di tempat yang biasa dikenal
e. Kesulitan membuat keputusan
f. Kehilangan inisiatif dan motivasi
g. Menunjukan gejala depresi dan agitasi
h. Kehilangan minat dalam hobi dan aktifitas
2.

Stadium menengah(masa 3-10 tahun)


Proses penyakit berlanjut dan masalah menjadi semakin nyata. Dan klien menunjukan
gejala sebagai berikut :

a.

Sangat mudah lupa, terutama untuk peristiwa yang baru dan nama orang

b.

Tidak dapat mengelola kehidupan sendiri tanpa timbul masalah

c.

Tidak dapat memasak, membersihkan rumah, ataupun berbelanja

d.

Sangat bergantung pada orang lain

e.

Semakin sulit berbicara

f.

Membutuhkan bantuan untuk membersihkan diri

g.

Terjadi perubahan perilaku

h.

Adanya gangguan kepribadian

3.

Stadium lanjut(masa 8-12 tahun)


Pada stadium ini terjadi :

a.

Ketidak mandirian dan inaktif yang total

b.

Tidak mengenali anggota keluarga (disorientasi personal)

c.

Sukar memahami dan menilai peristiwa

d.

Tidak mampu menemukan jalan disekitar rumah sendiri

e.

Kesulitan berjalan

f.

Mengalami inkontinensia (berkemih atau defekasi)

g.

Menunjukan perilaku yang tidak wajar di masyarakat

h.

Akhirnya bergantung pada kursi roda / tempat tidur


(Wahyudi Nugriho, 2002, hal 177-179)

F. Pemeriksaan Diagnostik

1.

Neuropatologi
Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Secara
umum didapatkan:

atropi yang bilateral, simetris lebih menonjol pada lobus temporoparietal, anterior
frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik tetap
utuh

berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr).

2.

Pemeriksaan

neuropsikologik

Penyakit alzheimer selalu menimbulkan gejala demensia.

Fungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya
gangguan fungsi kognitif umum danmengetahui secara rinci pola defisit yang terjadi.

Test psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh beberapa
bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi,
perhatian dan pengertian berbahasa..

3.

CT Scan
Menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain alzheimer
seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh dan pembesaran ventrikel
keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini

Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan beratnya
gejala klinik dan hasil pemeriksaan status mini mental

4.

MRI
Peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler (Capping anterior horn
pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan predileksi untuk demensia awal. Selain
didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti
adanya atropi hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii.

MRI lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan
penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus.

5.

EEG
Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit
alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik

6.

PET (Positron Emission Tomography)


Pada penderita alzheimer, hasil PET ditemukan:

Penurunan aliran darah

Metabolisme O2

Dan glukosa didaerah serebral

Up take I.123 sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan
kelainan fungsi kognisi danselalu dan sesuai dengan hasil observasi penelitian neuropatologi

7.

SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography)


Aktivitas I. 123 terendah pada refio parieral penderita alzheimer. Kelainan ini
berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. Kedua pemeriksaan ini
(SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin.

8.

Laboratorium darah
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita alzheimer.
Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit demensia
lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12, Calsium, Posfor, BSE, fungsi renal dan hepar,
tiroid, asam folat, serologi sifilis, skreening antibody yang dilakukan secara selektif.
(http://yulianafransiska.wordpress.com/2009/03/15/alzheimer-dementia-pada-penyakitalzheimer/)

G.

Komplikasi
Komplikasi Alzheimer erat kaitannya dengan gangguan immobilisai seperti:

Pneumonia

Inkontinensia urine dan bowel

Kontraktur

Dekubitus
(Tarwoto, 2007, hal 183)

H. Penatalaksanaan
Pengobatan penyakit Alzheimer masih sangat terbatas oleh karena penyebab dan
patofisiologis masih belum jelas.
a.

Pengobatan Simptomatik

1.

Inhibitor kolinesterase
Beberapa tahun terakhir ini, banyak peneliti menggunakan inhibitor untuk pengobatan
simptomatik penyakit Alzheimer, dimana penderita Alzheimer didapatkan penurunan kadar
asetilkolin. Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase
yang bekerja secara sentral seperti fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine). Pemberian
obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan apraksia selama pemberian berlangsung.
Beberapa peneliti mengatakan bahwa obat-obatan anti kolinergik akan memperburuk
penampilan intelektual pada organ normal dan penderita Alzheimer.

2.

Thiamin
Penelitian telah membuktikan bahwa pada penderita Alzheimer didapatkan penurunan
thiamin pyrophosphatase dependent enzyme yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase
(45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nucleus basalis. Pemberian thiamin
hidrochloryda dengan dosis 3gr/hari selama tiga bulan peroral, menunjukan perbaikan
bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama.

3.

Nootropik
Nootropik merupakan obat psikotropik, telah dibuktikan dapat memperbaiki fungsi
kognisi dan proses belajar pada percobaan binatang. Tetapi pemberian 4000mg pada
penderita Alzheimer tidak menunjukan perbaikan klinis yang bermakna.

4.

Klonidin
Gangguan fungsi intelektual pada penderita Alzheimer dapat disebabkan kerusakan
noradrenergik kortikal. Pemberian klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alpha 2
reseptor agonis dengan dosis maksimal 1,2 mg peroral selama 4 minggu, didapatkan hasil
yang kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif.

5.

Haloperidol
Pada penderita Alzheimer, sering kali terjadi gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan
tingkah laku. Pemberian oral haloperidol 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki
gejala tersebut. Bila penderita Alzheimer menderita depresi sebaiknya diberikan tricyclic anti
depressant (aminitryptiline25-100 mg/hari).

6.

Acetyl L-Carnitine (ALC)


Merupakan suatu substrate endogen yang disintesa didalam mitokondria dengan bantuan
enzim ALC transferace. Penelitian ini menunjukan bahwa ALC dapat meningkatkan aktivitas
asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase. Pada pemberiaan dosis 1-2 gr /hari/oral selama 1
tahun dalam pengobatan, disimpulakan bahwa dapat memperbaiki atau menghambat
progresifitas kerusakan fungsi kognitif.

(http://yulianafransiska.wordpress.com/2009/03/15/alzheimer-dementia-pada-penyakitalzheimer/)
b.

Terapi Nonfarmakologi

1.

Support nutrisi dan cairan

2.

Diet cair atau lunak

3.

Fisioterapi

4.

Istirahat yang cukup

5.

Terapi musik

6.

Terapi rekreasi

I.

Upaya menunda kepikunan


Upaya menunda kepikunan dapat dilakukan dengan :

1.

Menghindari faktor resiko yang dapat menimbulkan penyakit alzheimer

2.

Hidup sehat fisik dan rohani ( olahraga teratur dengan makanan 4 sehat 5 sempurna)

3.

Latihan mempertajam memori (kebugaran mental) :

a.

Kerjakan aktifitas sehari-hari secara rutin

b.

Gunakan daftar tugas tertulis, (seperti jenis barang yang akan dibeli)
(Wahyudi Nugroho, 2002, hal 199)

2.

Segi Keperawatan

A. Pengkajian
1.

Anamnesis
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan,
agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, dan diagnosa
medis. Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dan keluarga untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah penurunan daya ingat, perubahan kognitif, dan kelumpuhan
gerak ekstremitas.

2.

Riwayat penyakit saat ini


Pada anamnesa, klien mengeluhkan sering lupa dan hilangnya ingatan yang baru. Pada
beberapa kasus, keluarga sering mengeluhkan bahwa klien sering mengalami tingkah laku
aneh dan kacau serta sering keluar rumah sendiri tanpa meminta izin pada anggota keluarga
yang lain sehingga sangat meresahkan anggota keluarga yang menjaga klien.

3.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat hipertensi, diabetes mellitus,
penyakit jantung, penggunaaan obat-obatan anti ansietas dalam jangka waktu yang lama. Dan
riwayat Sindrom down yang pada suatu saat kemudian menderita penyakit Alzheimer pada
usia empat puluhan.
4.

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyebab penyakit Alzheimer ditemukan memiliki hubungan genetik yang jelas.
Diperkirakan 10-30% klien Alzheimer menunujukkan tipe yang diwariskan dan dinyatakan
sebagai penyakit Alzheimer familiar (FAD). Pengkajian adanya anggota generasi terdahulu
yang menderita hipertensi dan Diabetes mellitus diperlukan untuk melihat adanya komplikasi
penyakit lain yang dapat mempercepat progresifnya penyakit.

5.

Pengkajian Psiko Sosio Spiritual


Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respons emosi klien
terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan
masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam masyarakat. Adanya pperubahan hubungan
dan peran kerana klien mengalami kesulitan untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
Pola persepsi dan konsep diri didapatkan klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan,
mudah marah, dan tidak kooperatif.

6.

Pemeriksaan fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengrah pada keluhan-keluhan klien, oemeriksaan
fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan per sistem dan terarah(B1-B6) dengan fokus pemeriksaan pada
B3(Brain) dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan klien.

1.

Keadaan Umum
Klien dengan penyakit Alzheimer umumnya mengalami penurunan kesadaran sesuai
dengan degenerasi neuron kolinergik dan proses senilisme. Adanya perubhan pada tanda vital
meliputi bradikardi, hipotensi, dan oenurunan frekuensi pernapasan.

a.

B1 (BREATHING)
Gangguan fungsi pernapasan berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas, aspirasi ,
makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran napas.

1.

Inspeksi, didapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan untuk batuk efektif,
peningkatan produksi sputum, sesak napas, dan penggunaan otot bantu napas.

2.

Palpasi, taktil premitus seimbang kanan dan kiri.

3.

Perkusi, adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.

4.

Auskultasi, bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi, ronkhi pada klien dengan
peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan
pada klien dengan inaktivitas.

b.

B2 (BLOOD)
Hipotensi postural berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan
pada pengaturan tekanan darah oleh sistem saraf otonom.

c.

B3 (BRAIN)
Pengkajian B3(brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan
pengkajian pada sistem lainnya.
Inspeksi umum didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan status kognitif klien.

2.

Pemeriksaan Fungsi Serebri


Status mental : biasanya status mental klien mengalami perubahan yang berhubungan
dengan penurunan status

3.

Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada perubahan status
kognitif klien.

4.
a.

Pemeriksaan saraf cranial


Saraf I. Biasanya pada klien dengan penyakit Alzheimer tidak ada kelainan dan fungsi
penciuman tidak ada kelainan.

b.

Saraf II. Hasil tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan sesuai tingkat usia. Klien
dengan penyakit Alzheimer mengalami penurunan ketajaman penglihatan.

c.

Saraf III, IV, VI. Pada beberapa kasus penyakit Alzheimer biasanya tidak ditemukan
adanya kelainan pada nervus ini.

d.

Saraf V. Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada nervus ini.

e.

Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal.

f.

Saraf VIII. Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi berhubungan proses senilis dan
penurunan aliran darah regional.

g.

Saraf IX dan X. Didapatkan kesulitan dalam menelan makanan yang berhubungan dengan
perubahan status kognitif.

h.
i.

Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.


Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra
pengecapan normal.

5.

Sistem Motorik

Inspeksi umum, pada tahap lanjut, klien akan mengalami perubahan dan penurunan pada
fungsi motorik secara umum.

Tonus otot didapatkan meningkat.

Keseimbangan dan koordinasi, didapatkan mengalami gangguan karena adanya


perubahan status kognitif dan ketidakkooperatifan klien dengan metode pemeriksaan.

6.

Pemeriksaan Refleks
Pada tahap lanjut penyakit Alzheimer, sering didapatkan bahwa klien kehilangan refleks
postural , apabila klien mencoba untuk berdiri klien akan berdiri dengan kepala cenderung ke
depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti di dorong. Kesulitan dalam berputar dan
hilangnya keseimbangan(salah satunya ke depan atau ke belakang) dapat menimbulkan sering
jatuh.

7.

Sistem Sensorik
Sesuai berlanjutnya usia, klien dengan penyakit Alzheimer mengalami penurunan terhadap
sensorik secara progresif. Penurunan sensorik yang ada merupakan hasil dari neuropati yang
dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum.

a.

B4 (BLADDER)
Pada tahap lanjut, beberapa klien sering berkemih tidak pada tempatnya, biasanya yang
berhubungan dengan penurunan status kognitif pada klien Alzheimer. Penurunan refleks
kandung kemih yang bersifat progresif dan klien mungkin mengalami inkontinensia urin,
ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan
urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural.

b.

B5 (BOWEL)
Pemenuhan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang karena
kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Karena penurunan aktifitas umum,
klien sering mengalami konstipasi

c.

B6 (BONE)
Pada tahap lanjut biasanya didapatkan adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan
umum dan penurunan status kognitif menyebabkan masalah pada pola aktifitas dan
pemenuhan aktivitas sehari-hari. Adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam
melakukan pergerakan disebabkan karena perubahan pada gay berjalan dan kaku seluruh
gerakan akan memberikan risiko pada trauma fifik bila melakukan aktivitas

B.

Diagnosa Keperawatan

1.
2.

Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan defisit kognitif, gangguan sensori


Defisit perawatan diri ( makan, minum, berpakaian, hiegiene)

berhubungan dengan

perubahan proses pikir


3.

Pemenuhan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak
adekuat dan perubahan proses pikir.

4.

Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses pikir

5.

Koping individu tidak efektif berhubungan dengan perubahan proses pikir dan disfungsi
karena perkembangan penyakit

6.

Resiko injuri berhubungan dengan kehilangan memori, kerusakan motorik dan kerusakan
komunikasi

7.

Resiko terhadap trauma berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengenal bahaya


dalam lingkungan

C.

Intervensi Keperawatan

1.

Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan defisit kognitif, gangguan sensori


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, terjadi peningkatan
memori dengan kriteria hasil :

Pasien dapat menunjukkan kemampuan meningkatkan memori, orientasi dan


berkurangnya gelisah

1.

Intervensi
Perkenalkan namanya

Rasional
membantu mengingat hal yang

2.

Buat jadwal kegiatan

penting atau mendasar


Pasien
dapat
mengingat

3.

kegiatan dan waktu


Pajang foto keluarga, teman, mengingat diri dan keluarga

dan rumah
4.
Lakukan latihan memori yang membantu
5.
6.

sederhana
Kaji orientasi pasien
Panggil

pasien

memori pasien
mengidentifikasi

meningkatkan
kemampuan

orientasi pasien
dengan mengingat namanya sendiri

namanya
7.
Pemberi perwatan sebaiknya mudah mengingat dan lebih
orang yang sama
8.
Lakukan pekerjaan
mudah secara rutin

kooperatif
yang melatih orientasi pasien

2.

Defisit perawatan diri ( makan, minum, berpakaian, hiegiene)

berhubungan dengan

perubahan proses pikir


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dalam waktu 2 x 24 jam, terdapat
perilaku peningkatan dalam pemenuhan perawatan diri dengan kriteria hasil :

klien dapat menunjukan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri

Mengidentifikasikan individu / keluarga yang dapat membantu

1.

Intervensi
Rasional
Hindari aktifitas yang tidak Klien dalam keadaan cemas dan
dapat

dilakukan

klien

dan tergantung. Hal ini dilakaukan

bantu bila perlu


2.

untuk mencegah frustasi dan

harga diri klien


Ajarkan dan dukung klien Dukungan pada klien selama
selama aktifitas

3.

aktifitas

dapat

meningkatkan

perawatan diri
Gunakan pagar disekeliling Memberi
bantuan
tempat tidur

dalam

mendorong diri untuk bangun


tanpa bentuan orang lain serta
mencegah
trauma
Untuk

klien

mengalami

4.

Modifikasi lingkungan

5.

ketidakmampuan fungsi
Identifikasi kebiasaan BAB, Menigkatkan
latihan
anjurkan

6.

minum,

supositoria

dan

dan menolong mencagah konstipasi

meningkatkan aktifitas
Kolaborasi
Pemberian

mengkompensasi

Pertolongan pertama terhadap


dan fungsi bowell atau BAB

pelumas feses atau pencahar

3.

Pemenuhan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak
adekuat dan perubahan proses pikir.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi dengan kriteria hasil :

Mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh

Memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium

1.

Intervensi
Evaluasi kemampuan makan klien

Rasional
Klien mengalami

kesulitan

dalam

mempertahankan berat badan mereka,


mulut mereka kering akibat obat-obatan
dan mengalami kesulitan mengunyah
dan menelan
2.

Observasi / timbang berat badan jika Tanda kehilangan berat badan dan
memungkinkan

kekurangn intake nutrisi menunjang

3.

terjadinya masalah katabolisme


Kaji fungsi sistem Gastrointestinal Fungsi sistem gastrointestinal sangant

4.

yang meliputi suara bising usus


penting untuk makanan
Anjurkan pemberian cairan 2500 cc / Mencegah terjadinya dehidrasi akibat
hari selama tidak terjadi gangguan penggunaan ventilator selama tidak
jantung

5.

sadar

konstipasi
Lanjutkan pemeriksaan laboratorium Memberikan
yang

diindikasikan

seperti

serum, tentang

transferin, dan glukosa


4.

dan

mencegah
informasi

keadaan

terjadinya
yang

tepat

nutrisi

yang

dibutuhkan klien

Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses pikir


Tujuan: dalam waktu 2 x 24 jam, terjadi peningkatan dalam perilaku komunikasi yang efektif
dengan kriteria hasil:

membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan

meningkatkan kemampuan berkomunikasi

1.

Intervensi
Kaji kemampuan

klien

Rasional
untuk Gangguan bicara ada pada banyak klien

berkomunikasi
yang mengalami penyakit Alzheimer
2.
Menentukan cara-cara komunksi Mempertahankan kontak mata akan
seperti mempertahankan kontak mata
3.

Letakkan

bel/lampu

membuat

klien

tertarik

selama

komunikasi
panggilan Ketergantungan klien pada ventilator

ditempat yang mudah dijangkau dan akan lebh baik, rileks, perasaan aman,
berikan

penjelasan

cara dan

mengerti

bahwa

selama

menggunakannya
4.

menggunakan ventilator perawat akan

memenuhi segala kebutuhannya


Buatlah catatan dikantor perawatan Mengingatkan staf perawat untuk
tentang keadaan klien yang tak dapat berespons
berbicara

5.

dengan

klien

selama

memberikan perawatan

Anjurkan keluarga/orang lain yang Keluarga

dapat

merasakan

akrab

dekat dengan klien untuk berbicara dengan berada dekat klien selama
dengan klien memberikan informasi berbicara
6.

tentang keluarganya
Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa

Ahli

terapi

membantu

wicara

bahasa

dalam

dapat

membentuk

peningkatan latihan percakapan dan


membantu patugas kesehatan untuk
mengembangkan metode komunikasi
5.

Koping individu tidak efektif berhubungan dengan perubahan proses pikir dan disfungsi
karena perkembangan penyakit
Tujuan: dalam waktu 2 x 24 jam, koping menjadi efektif dengan kriteria hasil :

mampu menyatakan komunikasi dengan orang terdekat tentang situasi yang terjadi

Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi

1.

Intervensi
Kaji perubahan

Rasional
gangguan Menentukan bantuan individual dalam

dari

persepsi dan hubungan dengan derajat menyusun rencana perawatan


2.

ketidakmampuan
Dukung kemampuan koping

Kepatuhan terhadap program latihan


dan berjalan membantu memperlambat

3.

Catat

ketika

klien

kemajuan penyakit
menyatakan Mendukung
penolakan

terpengaruh seperti sekarat


4.

terhadap

perasaan negatif terhadap gambaran

tubuh
Beri dukungan psikologis secara Klien Alzheimer sering merasakan
menyeluruh

malu, sehingga klien dibantu dan


didukung untuk mencapai tujuan yang

5.

Bentuk

program

aktivitas

ditetapkan
pada Bentuk
program

aktivitas

pada

keseluruhan hari

keseluruhan

hari

untuk

mencegah

waktu tidur yang terlalu banyak yang


dapat mengarah pada tidak adanya
keinginan dan apatis.
6.

Resiko injuri berhubungan dengan kehilangan memori, kerusakan motorik dan kerusakan
komunikasi
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam, tidak terjadi injuri pada pasien dengan kriteria hasil :

Injuri dapat dicegah

Tidak terjadi injuri

1.

Intervensi
Rasional
Monitor fungsi motorik dan Menetapkan kemungkinan jatuh

keseimbangan berjalan
2.
Berikan alat bantu tongkat atau Membantu
kursi roda
3.

pergerakan

melakukan
dan

mengurangi

resiko jatuh
Jelaskan pada pasien setelah Postural hipotensi kemungkinan
bangun

tidur

tidak

langsung terjadi

sehingga

dapat

melakukan pergerakan
mengakibatkan pasien jatuh
4.
Penerangan yang cukup dan Mengurangi resiko jatuh
lantai tidak licin
5.
Letakkan
6.

benda-benda Menghindari terjadinya cedera

berbahaya pada tempat yang aman


Letakkan benda-benda pada Tidak membingungkan pasien
tempat

semula

dan

hindari dan meningkatkan daya ingat

merubah-rubah tempat
7.

Resiko terhadap trauma berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengenal bahaya


dalam lingkungan
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam, tidak terjadi trauma dengan kriteria hasil:

Tidak mengalami trauma

Keluarga mengenali risiko potensial di lingkungan

Intervensi
Rasional
1.
Kaji derajat gangguan kemampuan Mengidentifikasi
atau kompetensi, munculnya tingkah dilingkungan
laku yang impulsif.

resiko
dan

potensial

mempertinggi

kesadaran sehingga pemberi asuhan

2.

lebih sadar akan bahaya


Hilangkan atau minimalkan sumber Seseorang dengan gangguan kognitif
bahaya dalam lingkungan.

merupakan

awal

untuk

mengalami

trauma sebagai akibat ketidakmampuan


untuk bertanggung jawab terhadap
3.

keamanan
Alihkan perhatian pasien keitka Mempertahankan
berperilaku berbahaya

4.

dengan

menghindari konfrontasi yang dapat

meningkatkan resiko terjadinya trauma


Kenakan pakaian sesuai lingkungan Perlambatan proses metabolisme secara
fisik atau kebutuhan individu

5.

keamanan

umum mengakibatkan penurunan suhu

tubuh
Lakukan pemantauan terhadap efek Pasien mungkin tidak dapat melaporkan
samping obat

tanda atau gejala dan obat dapat dengan


mudah menimbulkan kadar toksisitas
pada lansia.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang
terutama menyerang orang berusia 65 tahun keatas

Penyebab yang pasti belum diketahui. Beberapa alternative penyebab yang telah dihipotesa
adalah intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi flament, predisposisi heriditer.

Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian
selektif neuron.

Gejala Alzheimer, dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: Gejala Ringan (lama penyakit 1-3 tahun),
Gejala sedang (lama penyakit 3-10 tahun), Gejala berat (lama penyakit 8-12 tahun).
B. Saran
Demikian makalah ini kami susun sebagaimana mestinya semoga bermanfaat bagi kita
semua khususnya bagi tim penyusun dan semua mahasiswa dan mahasiswi kesehatan pada
umumnya. Saran kami, lebih banyak membaca untuk meningkatkan pengetahuan.
Kami sebagai penyusun menyadari akan keterbatasan kemampuan yang menyebabkan
kekurangsempurnaan dalam makalah ini, baik dari segi isi maupun materi, bahasa dan lain

sebagainya. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya agar makalah selanjutnya dapat lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Muttaqin, Arif. 2002. Asuhan Keprawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta :
Salemba Medika
Nugroho, Wahyudi. 2002. Keperawatan Gerontik & Geriatik. Jakarta : EGC
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC
Tarwoto dan Wartonah, 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta :
Sagung Seto
http://yulianafransiska.wordpress.com/2009/03/15/alzheimer-dementia-pada-penyakitalzheimer/

http://nursingspy.blogspot.co.id/2014/04/asuhan-keperawatan-alzheimer.html?m=1