Vous êtes sur la page 1sur 7

Kutpan tentang Peradaban Islam oleh H.A.

R Gibb dalam bukunya whither islam yang dikutip M nats,


bhwa islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang
sempurna) Mas Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Dinasti ABbasiyah ddirikan oleh
para keturunan al-Abbas, dimana nama daulah bani abbasiyah diambil dari nama al-abbas bin abdul
mutholib, paman nabi Muhammad SAW. Pendiirinya yaitu Abdullah as-Saffah bin Ali bin Abdullah bil
Al-Abbas, atau lebih dikenal dengan sebutan abul abbas As-saffah. Dinasti abbasiyah berdiri antara
tahun 132-656 H/750-1258 M. dimana pusat pemerintahannya dikota Baghdad. Awal kekuasaannya
ditandai dgn embangan yang dilakukan oleh dinasti umayan di Andalusia (SPanyol). Babni abasiyah
mempunyai khalifah sebanyak 37 org, dari masa pemerintahan abul abbas as-safah sampai kholifah
al-Watsiq Billah, diaman agama islam mencapai zaman keemasan( 132-232 H)/749-879 M). dan
pasda masa Kholifah Al-mutawakkil sampai dengan Al-Mu;stashim, islam mengalami kemunduran
dan keruntuhan akibat serangan bangsa mongol tartar pimpunan Hulakho khan pada tahun 656/1258
M. dan selama dinasti ini berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan
perubahan politik,social dan budaya.Berdasarkan pola pemerintahan dan pla politik itu para
swjarawan biasanya membagi masa pemerintahan bani abbas menjadi 5 periode :
1.
2.
3.

Periode pertama ( 132H-232 H/750 M-847 M) disebut periode Pengaruh Persia Pertama
Periode kedua (232 H/847 M-334 H/945M),disebut masa pengaruh Turki Pertama
Periode kertigan (334 H-447 H/945M-1055 M) masa kekuasaan dinasti buwain dalam
pemerintahan khalifah abbasiyah.periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode keempat (447H-590H/1055 M-1194 M), masa kekuasaan dinasti bani sejak dalam
pemerintahan khalifah abbasiyah,biasaya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua
5. Periode kelima ( 590 H-656 H/1194 M-1258 M), masakhalifah bebas dari pengaruh dinasti
lain, tetapi kekuasaanyahanya efektif disekitar kota Baghdad.
A. Perbedaan umayah dan abasiyahdilihat dari :
Dari perkembagan politik
Dinasti umayah sangat besifat Arab oriented,artinya dalam segala hal para pejabatnya bersal ari
keturunan arab murni, begitu pula corak perdaban yang dihasilkan pada dinasti ini. Sedankan
dinasti abbasiyah diasamping bersifat Arab murni,juga sedikit banyak telah terpengaruh dengan
corak pemikiran dan peradaban Persia,romawi Timur, Mesir dan sebagainya.
B. Perkembagan perdaban Islam
Masa oemerintahan dnasti abbasiyah merupakan masa kejayaan isalam dalam berbagai
bidang,khusunya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.kebankitan ilmiah pada
zaman ini terbagi di dalam tiga hal :
Kegiatan menyusun buku-buku ilmiah
Mengatur ilmu-ilmu islam
Penerjemhan dari dari bahasa asing
Setelah mencapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan kepada
anggota-anggota pemerintahan, keuangan, undang-undang dan berbagai ilmu pengetahuan untuk
bergiat di lapangan masing-masing. Dengan demikian munculah pada zaman itu sekelompok penyairpenyair handalan, filosof-filosof, ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan
pujangga-pujangga yang memperkaya perbendaharaan bahasa Arab.Banyak ahli dalam bidangbidang ilmu pengetahuan, seperti; filsafat. Filosuf terkenal saat itu antara lain adalah
Al-Kindi (185-260 H/801-873 M). Abu Nasr al Faraby (258-339 H/870-950 M), yang menghasilkan
karya dalam bentuk buku berjudul Fusus al-Hikam, Al- Mufarriqat, Arau ahl al-Madinah al-Fadhilah.
Selain mereka, juga ada
Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M), Ibnu Bajjah (w. 533 H/1138 M), diantara karyanya adalah Risalatul
Wada, akhlak, kitab al-Nabat, Risalah al-Ittishal al-Aql bil Ihsan, Tadbir al-Mutawahhid, kitab al-Nais,
Risalah al-Ghayah al-Insaniyah, Al-Ghazali (1059-1111 M), Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1196 M), dan
lain-lain. Selain filsafat, juga terjadi perkembangan dan kemajuan dalam bidang Ilmu Kalam atau
Teologi. Diantara tokoh-tokohnya adalah Washil bin Atha, Baqillani, Asyary Ghazali, Sajastani, dan
lain-lain.Adapun bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai
berikut :
a. Kota-kotapusat peradaban

Kota Baghdad dan samarra, diman baghda adalah ibu kota Negara yang didirikan oleh
kholifah abu jafar al Mansur (754-775M) ada tahun 752 M.sejak awal beridirnya sudah
menjadi pusat peradaban dan kebankitan ilmu pengetahuan.
Kota samarra terletak di seblah timur tiggris,yang berjarak +_ 60 KM dari kota Baghdad ,
didalamya terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni banguna islam di kotakota lain
b. Bidang pemerintahan pada masa Basaiyah I (750-847)
kekuasaan khalofah sangat terasa dimana kekuasaan kholifah sebagai kepal Negara
sebagi penguasa tertinggi dan mengatr segala urusan Negara, sedangkan masa absiyah
II * 847-946 M0 menurun Karen waxir(perdana mentri) telah mulai meiliki andil dalam
urusan Negara.masa abasyah k1 3 dan ke 4, kholifah menjadi boneka saja, karena para
gubernur didaerah telah menempatkan dri mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa
penuh. Dgn demikian oemerintah tidak ada apa-apanya lagi. Dalam pembagian wilayah
(propinsi), pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat, gubernurnya
bergelar Amir/ Hakim. Imaraat saat itu ada tiga macam, yaitu ; Imaraat Al-Istikhfa, AlAmaarah Al-Khassah dan Imaarat Al-Istilau. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak
otonomi terbatas, sedangkan desa/ al-Qura dengan kepala desanya as-Syaikh al-Qoryah
diberi otonomi penuh. Selain itu, dinasti Abbasiyah juga telah membentuk angkatan
perang yang kuat di bawah panglima, sehingga kholifah tidak turun langsung dalam
menangani tentara. Kholifah juga membentuk Baitul Mal/ Departemen Keuangan untuk
mengatur keuangan negara khususnya. Di samping itu juga kholifah membentuk badan
peradilan, guna membantu kholifah dalam urusan hukum.
c. Bidang Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu aqli.
Ilmu naqli terdiri dari Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawwuf dan
Ilmu Bahasa. Adapaun ilmu aqli seperti : Ilmu Kedokteran, Ilmu Perbintangan, Ilmu
Kimia, Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi.
C. Perluasan/ekspansi Kekuasaan Islam
Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasaan Islam semakin
bertambah, meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijaz, Yaman
Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Irak, Iran (Persia), Yordania, Palestina, Lebanon, Mesir,
Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afganistan dan Pakistan, dan meluas sampai ke Turki, Cina
dan juga India. Khalifah Al-Manshur berusaha menaklukan kembali daerah-daerah yang
sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di
daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia,
kota Malatia, wilayah Coppadocia, dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara, bala
tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus.Di pihak lain, dia
berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Bizantium
membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di
Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oksus dan India.
D. Sebab-sebab Kemunduran dan Kehancuran
Kehancuran Dinasti Abbasiyah ini tidak terjadi dengan cara spontanitas, melainkan melalui
proses yang panjang yang diawali oleh berbagai pemeberontakan dari kelompok yang tidak
senang terhadap kepemimpinan kholifah Abbasiyah.
Disamping itu juga, kelemahan
kedudukan kekholifahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, disebabkan oleh luasnya wilayah
kekuasaan yang kurang terkendali, sehingga menimbulkan disintegrasi wilayah. Berakhirnya
kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode
kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu
dinasti tertentu, walaupun banyak sekali Dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya dinasti yang
cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah
merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. Wilayah kekuasaan
khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol
dan tatar menyerang Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa
perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah
awal babak baru dalam sejarah Islam, yang disebut masa pertengahan.Sebagaimana dalam
periodisasi khalifah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua, namun
demikian faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba, benihbenihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya khalifah pada saat periode ini sangat

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

kuat, benih-benih ini tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat
bahwa apabila kalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai pegawai sipil, tetapi
jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Di antara
kelemahan yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah adalah sebagai
berikut :
Mayoritas Kholifah Abbasiyah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadinya dan
cenderung hidup mewah.
Luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit
dilakukan.
Ketergantungan kepada tentara bayaran.
Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki dan Persia, yang menimbulkan kecemburuan bagi
bangsa Arab murni.
Permusuhan antara kelompok suku dan agama.
Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan menelan banyak korban.
Penyerbuan tentara Mongol di bawah pimpinan Panglima Hulagu Khan yang menghacur
leburkan kota Baghdad.

Kesimpulan
Daulah Bani Abbasiyah diambil dari nama Al-Abbas bin Abdul Mutholib, paman Nabi Muhammad
SAW. Pendirinya ialah Abdullah As-Saffah bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas, atau lebih dikenal dengan
sebutan Abul Abbas As-Saffah. Daulah Bani Abbasiyah berdiri antara tahun 132 656 H / 750 1258
M. Lima setengah abad lamanya keluarga Abbasiyah menduduki singgasana khilafah Islamiyah. Pusat
pemerintahannya di kota Baghdad.Di antara kota pusat peradaban pada masa dinasti Abbasiyah
adalah Baghdad dan Samarra. Bangdad merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang
didirikan Kholifah Abu Jafar Al-Mansur (754-775 M) pada tahun 762 M. Sejak awal berdirinya, kota ini
sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan. Ketika banyak terjadi
pemberontakan, kekuatan Dinasti Abbasiyah pun melemah. Sehingga terjadi kegoncangan kekuasaan
yang berakhir dengan disintegrasi wilayah dan keruntuhan dinasti ini.
Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa Daulah Abbasiyah.
Perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju. Kemajuan ilmu pengetahuan diawali dengan
penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab,
pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan terbentuknya mazhabmazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir. Imperium kedua di
dunia islam yang menggantikan Daulah Umayyah ini muncul setelah terjadi revolusi sosial yang
dipelopori oleh para keturunan Abbas yang didukung oleh golongan oposisi terhadap Daulah
Umayyah seperti kaum Syiah, Khawarij, Qadariyah, Mawali (non Arab) dan suku Arab bagian selatan.
Kemajuan peradaban Abbasiyah sebagiannya disebabkan oleh stabilitas politik dan
kemakmuran ekonomi kerajaan ini. Pusat kekuasaan Abbasiyah berada di Baghdad. Daerah ini
tertumpu pada pertanian dengan sistem irigasi dan kanal di sungai Eufrat dan Tigris yang mengalir
sampai Teluk Persia. Perdagangan juga menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Bagdad yang
menjadi kota Transit perdagangan antar wilayah timur seperti Persia, India, China, dan Nusantara dan
wilayah barat seperti negara-negara Eropa dan Afrika Utara sebelum ditemukan jalan lautmenuju
timur melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Penduduk Daulah Abbasiyah terdiri dari berbagai etnik dan suku bangsa yang hidup di wilayah
yang memiliki cuaca dan kondisi geografis yang sangat berbeda. Meski kesatuan politik Islam sering
tercabik-cabik, para khalifah Daulah Abbasiyah dapat membangun peradaban Islam yang agung.
Namun, imperium ini runtuh di paruh kedua abad ke-13 setelah terjadi perang saudara yang berlarutlarut, disusul dengan kemunculan penguasa-penguasa dan pemberontakan tentara-tentara bayara
Awal

Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan yang paling dahsyat
dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul
Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah). Yang akhirnya
dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah
riwayat Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah.
Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan
tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan
kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan suatu revolusi. Sebelum daulah Bani Abbasiyah
berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas, antara satu
dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk
menegakkan kekuasaan keluarga besar paman nabi SAW yaitu Abbas Abdul Mutholib (dari
namanya Dinasti itu disandarkan). Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan
Khurasan.
Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan
pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik.
Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syiah pendukung Ali bin Abi Tholib. Ia
bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan Bani Umayyah. Demikian pula dengan
Khurasan, kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang
bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh
nafsu dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan
dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan.
Di bawah pimpinan Muhammad bin Ali al-Abbasy, gerakan Bani Abbas dilakukan dalam dua fase yaitu
: 1) fase sangat rahasia; dan 2) fase terang-terangan dan pertempuran. Setelah Muhammad
meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, maka seorang pemuda Persia yang gagah berani dan
cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany, bergabung dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu
dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran. Akhirnya bulan
Zulhijjah 132 H Marwan, Khalifah Bani Umayyah terakhir terbunuh di Fusthath, Mesir. Kemudian
Daulah bani Abbasiyah resmi berdiri.. Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan
berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah,
kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari
rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman
khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur Saya
adalah sultan Tuhan diatas buminya.
Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah
Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya
gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu : pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayah .
dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persi.
Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh
seorang wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan wizaraat .Sedangkan wizaraat
itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu:
1)

Wizaraat Tanfiz (sistem pemerintahan presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah

2)

dan bekerja atas nama Khalifah.


Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan .
Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja . Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh
Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah
Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah
dewan yang bernama diwanul kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang raisul kuttab
(sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul
diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan
an-nidhamul idary al-markazy.

Selain itu, dalam zaman daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara,
baitul maal, organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan
berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya.
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode
kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran ini tidak datang secara tiba-tiba. Benihbenihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena Khalifah pada periode ini sangat kuat,
benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa
apabila Khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika
Khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan
2.
Perkembangan Peradaban di Bidang Fisik
Bangunan Tempat Peribadatan dan Pendidikan
Di antara bentuk bangunan yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan adalah madrasah. Madrasah
yang terkenal saat itu adalah Madrasah Nizamiyah, yang didirikan di Baghdad, Isfahan, Nisabur,
Basrah, Tabaristan, Hara dan Musol oleh Nizam al-Mulk seorang perdana menteri pada tahun 456
486 H. selain madrasah, terdapat juga Kuttab, sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah,
Majlis Muhadhoroh sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai
perpustakaan. Di samping itu, terdapat juga bangunan berupa tempat-tempat peribadatan, seperti
masjid. Masjid saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat, tetapi juga
sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di antara masjid-masjid tersebut adalah
masjid Cordova, Ibnu Toulun, Al-Azhar dan lain sebagainya.
3.
Kehidupan Perekonomian Daulah Bani Abbasiyah
Permulaan masa kepemimpinan Bani Abbassiyah, perbendaharaan negara penuh dan berlimpahlimpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Yang menjadi Khalifah adalah Mansyur. Dia
betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia
mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam. Dan keberhasilan kehidupan
ekonomi maka berhasil pula dalam :
a.

Pertanian, Khalifah membela dan menghormati kaum tani, bahkan meringankan pajak hasil bumi

b.

mereka, dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali.


Perindustrian, Khalifah menganjurkan untuk beramai-ramai membangun berbagai industri,

sehingga terkenallah beberapa kota dan industri-industrinya.


c.
Perdagangan, Segala usaha ditempuh untuk memajukan perdagangan seperti:
Membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang.
Membangun armada-armada dagang.
Membangun armada : untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut.
Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam
dan luar negeri. Akibatnya kafilah-kafilah dagang kaum muslimin melintasi segala negeri dan kapalkapal dagangnya mengarungi tujuh lautan. Selain ketiga hal tersebut, juga terdapat peninggalanpeninggalan yang memperlihatkan kemajuan pesat Bani Abbassiyah.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
4.

Istana Qarruzzabad di Baghdad


Istana di kota Samarra
Bangunan-bangunan sekolah
Kuttab
Masjid
Majlis Muhadharah
Darul Hikmah
Masjid Raya Kordova (786 M)
Masjid Ibnu Taulon di Kairo (876 M)
Istana Al Hamra di Kordova
Istana Al Cazar, dan lain-lain
Strategi Kebudayaan dan Rasionalitas

Dalam negara Islam di masa Bani Abbassiyah berkembang corak kebudayaan, yang berasal
dari beberapa bangsa. Apa yang terjadi dalam unsur bangsa, terjadi pula dalam unsur kebudayaan.
Dalam masa sekarang ini berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan
akal/rasio yaitu Kebudayaan Persia, Kebudayaan Yunani, Kebudayaan India dan Kebudayaan Arab dan
berkembangnya ilmu pengetahuan.
a.
b.
c.
d.
III.

Kebudayaan Persia
Kebudayaan Hindi
Kebudayaan Yunani
Kebudayaan Arab
KESIMPULAN
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al
Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn
Ali ibn Abdullah ibn Abbas.
Pada periode pertama pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya.Secara politis,
khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di
sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan
landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini
berakhir pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik meskipun filsafat dan ilmu
ilmu pengetahuan terus berkembang.
Pada mulanya ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun untuk lebih
memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad.
Dengan demikian pusat pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa
Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat
sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Dia menciptakan
tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen, dia juga menbentuk protokol
Negara, sekertaris, dan kepolisian Negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Jawatan pos
yang sudah ada ditingkatkan peranannya dari mengatar surat sampai menghimpun seluruh informasi
di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar.
Puncak perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa
Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam
bidang pendidikan misalnya di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Namun
lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya
perpustakaan dan akademi.Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat antara lain al-Farabi, Ibnu Sina,
dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan
interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibnu Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat
diantaranya adalah As-Syifa'.

D.

KEMUNDURAN DAULAH ABBASIYAH


Disamping kelemahan Khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah
menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa di antara
nya adalah sebagai berikut:

1.

Faktor Internal

a.

Persaingan antar Bangsa

Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak


awal Khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para Khalifah adalah orang-orang kuat yang
mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil,
seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu
kekuasaan Daulah Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir
b.

Kemerosotan Ekonomi
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya,
kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling
berkaitan dan tak terpisahkan

c.

Konflik Keagamaan
Konflik yang melatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan Zindik
atau Ahlussunnah dengan Syiah saja, tetapi juga antara aliran dalam Islam.

d.

Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan


Kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para
penguasa untuk hidup mewah, yang kemudian ditiru oleh para haratawan dan anak-anak pejabat
sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin

2.
a.
b.

Faktor Eksternal
Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.
Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.