Vous êtes sur la page 1sur 20

Meningitis Tuberkulosis dan Penatalaksanaannya

Apriandy Pariury
102011299/F3
riapariury@gmail.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510
Pendahuluan
Penyakit infeksi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama
di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Meningitis adalah
infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater, arakhnoid, dan dalam
derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang
superfisial. Dibandingkan dengan jenis-jenis tuberkulosa lain, meningitis tuberkulosa
paling banyak menyebabkan kematian. Jumlah penderita meningitis tuberkulosa
kurang lebih sebanding dengan prevalensi infeksi oleh mikobakterium tuberkulosa
pada umumnya. Dibandingkan dengan meningitis bakterial akut maka perjalanan
penyakit lebih lama dan perubahan atau kelainan dalam CSS tidak begitu hebat.1,2
Meningitis tuberkulosis adalah radang selaput otak akibat komplikasi
tuberculosis primer. Secara histologik meningitis tuberculosis merupakan meningoensefalitis (tuberkulosa) dimana terjadi invasi ke selaput dan jaringan susunan saraf
pusat.1
Skenario
Seorang perempuan berusia 35 tahun, datang ke UGD Rumah Sakit dengan
keluhan nyeri kepala dan penglihatan ganda sejak 1 bulan terakhir.
Anamnesis
Anamnesis pada meningitis meliputi keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat keluarga,dan psikososial.2
Keluhan utama
Hal yang sering menjadi alasan pasien meminta pertolongan kesehatan adalah
suhu badan tinggi, kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.

Pada skenario diketahui seorang perempuan berusia 35 tahun, datang ke UGD


Rumah Sakit dengan keluhan nyeri kepala dan penglihatan ganda sejak 1 bulan
terakhir.2
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui untuk mengetahui jenis
kuman penyebab. Di sini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul
seperti kapan mulai terjadinya serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Pada
pengkajian klien dengan meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan
dengan akibat infeksi dan peningkatan tekanan intrakranial. Keluhan tersebut di
antaranya sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala
dihubungkan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen.
Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit. Keluhan kejang
perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana
sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang dan tindakan
apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut. Adanya
penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran dihubungkan dengan meningitis
bakteri. Disorientasi dan gangguan memori biasanya merupakan awal adanya
penyakit. Perubahan yang terjadi bergantung pada beratnya penyakit, demikian pula
respons individu terhadap proses fisiologis. Keluhan perubahan perilaku juga umum
terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan
koma. Pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti riwayat selama menjalani
perawatan di RS, pernahkah menjalani tindakan invasif yang memungkinkan
masuknya kuman ke meningen terutama tindakan melalui pembuluh darah.2
Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)
Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya
huhungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien
mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit
dan hemoglobinopatis lain, tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya
pengaruh immunologis pada masa sebelumnya.2
Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan kepada pasien terutama jika ada
keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti tuberkulosis yang
sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberkulosa. Pengkajian pemakaian
2

obat-obat yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat kortikosteroid,


pemakaian jenis-jenis antibiotik dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian
antibiotik) dapat menambah komprehensifnya pengkajian. Pengkajian riwayat ini
dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data
dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.2
Pada scenario,dijelaskan bahwa pasien tersebut mempunyai riwayat batuk
lama selama 3 bulan dan tidak rutin minum obat.
Riwayat Penyakit Keluarga (RPK)
Riwayat Penyakit Keluarga juga penting peranannya, dimana riwayat penyakit
ini ditanyakan untuk mengetahui apakah di keluarga tersebut ada yang pernah
mengalami gejala penyakit yang sama atau mungkin factor resiko yang dapat
menyebabkan. Beberapa penyakit tertentu menunjukkan faktor genetik juga
berpengaruh pada penyakit yang diderita anggota keluarga. 2
Riwayat SosioEkonomi
Pada riwayat sosioekonomi perlu ditanyakan suasana, kebersihan tempat
tinggal pasien. Ditanyakan pula pekerjaan dan kesibukan pasien sehari-hari. Perlu
ditanyakan pula hobi dan kebiasaan pasien.2
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik penting dilakukan untuk menegakkan diagnosis bersama
dengan anamnesis dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik yang dilakukan
adalah pengecekan tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan,dan tekanan darah) dan
pemeriksaan neurologis.2
Berikut adalah pemeriksaan neurologis yang dapat dilakukan untuk
membantu menegakkan diagnosis:2
Pemeriksaan Kesadaran TTV
Pada saat pasien datang kita melihat bagaimana keadaan umum dan kesadaran
pasien, berikut merupakan tingkatan kesadaran pasien:2
1. Compos Mentis: Sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun
terhadap lingkungannya. Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa
dengan baik.
3

2. Apatis: kurang memberikan respon terhadap sekelilingnya atau bersifat


acuh tak acuh terhadap sekelilingnya.
3. Delirium: penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur
bangun yang terganggu. Pasien tampak gaduh, gelisah, kacau, disorientasi
dan meronta-ronta.
4. Somnolen: keadaan mengantuk yang masih dapat pulih penuh bila
dirangsang, tetapi bila rangsang berhenti, pasien akan tertidur kembali.
5. Sopor : keadaan mengantuk yang dalam. Pasien masih dapat dibangunkan
dengan rangsang yang kuat, misalnya rangsang nyeri, tetapi pasien tidak
terbangun sempurna dan tidak dapat membrikan jawaban verbal yang baik.
6. Coma: tidak sadar, dan tidak ada reaksi terhadap rangsangan apapun juga.
Setelah itu kita mengukur antropometri (berat dan tinggi badan pasien, serta
lingkar lengan atas), pemeriksaan TTV, dan pemeriksaan tanda rangsang meningeal
o Kesadaran
o Lingkar lengan atas
o Tanda-tanda vital (TTV):

Suhu

Tekanan darah

Tekanan nadi

Frekuensi pernafasan

Pada skenario diketahui Tekanan darah: 110/70 mmHg, tekanan nadi 96x
per menit, frekuensi pernafasan 18x per menit dan suhu 38oC.
Pada mata ditemukan pupil isokor, diameter 3 mm, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung (+/+). Paru-paru: Suara Nafas Vesikuler, Rhonki
(+) apeks paru kiri, wheezing -/-. Jantung: Bunyi Jantung 1-2 Reguler, Gallop (-),
Murmur (-). Pada Abdomen: Supel, datar, Bunyi usus (+) normal. Ekstremitas:
hangat.
Pemeriksaan Rangsangan Meningeal
a. Pemeriksaan Kaku Kuduk

Pasien berbaring terlentang, tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala


pasien. Kemudian kepala ditekukkan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai
dada. Selama penekukan ini diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk
4

kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Kaku kuduk dapat bersifat
ringan atau berat. Pada kaku kuduk yang berat kepala tidak dapat ditekuk, melah
sering kepala terkedik ke belakang. Pada keadaan yang ringan, kaku kuduk dinilai
dari tahanan yang dialami waktu menekukkan kepala.
Hasil pada skenario: Kaku kuduk (+)
b. Pemeriksaan Tanda Kernig

Penderita yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada persendian panggul


sampai membuat sudut 90 derajat. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada
persendian lutut. Biasanya kita dapat melakukan ekstensi ini sampai sudut 135
derajat, antara tungkai bawah dan tungkai atas. Bila terdapat tahanan dan rasa nyeri
sebelum mencapai sudut ini, maka dikatakan bahwa tanda kernig positip.
c. Pemeriksaan Tanda Brudzinski I (Brudzinskis neck sign)

Tangan ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang berbaring, kita


tekukkan kepala sejauh mungkin sampai dagu mencapai dada. Tangan yang satu lagi
sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan. Bila tanda
brudzinski positip, maka tindakan ini mengakibatkan fleksi kedua tungkai. Sebaiknya
perlu diperhatikan apakah
d. Pemeriksaan Tanda brudzinski II (Brudzinskis contralateral leg sign)

Pada pasien yang sedang berbaring, satu tungkai difleksikan pada persendian
panggul, sedang tungkai yang satu lagi berada dalam keadaan ekstensi (lurus). Bila
tungkai yang satu ini ikut pula terfleksi, maka disebut tanda Brudzinski II positip.
Sebagai halnya dalam memeriksa adanya tanda brudzinski I, perlu diperhatikan
terlebih dahulu apakah terdapat kelumpuhan pada tungkai.
Pemeriksaan Saraf Kranial
Pada tubuh kita didapat 12 nervus yang masing-masing mempunyai fungsi
yang sangat penting. Setiap nervus memegang peranannya masing-masing. Tetapi
pada pemeriksaan fisik untuk meningitis kita hanya memerlukan pemeriskaan saraf
kranial N.III,, IV, VI, VII, dan XII.

Sebelumnya pemeriksa menginspeksi mata pasien, apakah terdapat ptosis,


anemis atau kuning. Selanjutnya pemeriksaan untuk N.III, IV dan VI pemeriksa
memperhatikan kelopak mata pasien

kemudian pasien diminta untuk mengikuti

gerakan jari yang diberikan oleh pemeriksa dengan matanya membentuk huruf H,
pemeriksa melihat apakah gerakan mata pasien mulus tidak ada jerky juga nigtasmus?
Pemeriksa juga menanyakan pada pasien, apakah ada diplopia (penglihatan ganda).
Pemeriksaan N.VII, pasien diminta untuk mengangkat alis dan mengerutkan
dahi. Pasien juga diminta untuk menutup mata dan pemeriksa melihat apakah mata
pasien dapat menutup sempurna atau ada bagian yang terbuka. Pemeriksaan lainnya
pasien diminta untuk menyeringai, mecucurkan bibir dan mengembungkan pipi.
Pemeriksaan N.XII, pasien diminta untuk menjulurkan lidah, lihat lidah pasien
apa ada fasikulasi, tremor, deviasi. Pasien juga diminta untuk menggembungkan pipi
dan mendorong sisi pipi dalam pipi bagian kiri dan kanan dengan lidah.
Pemeriksaan Motorik: terdiri dari pemeriksaan gerakan pasif dan aktif, yang dapat
dilakukan pada ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. Pada pemeriksaan ekstremitas
atas dan bawah kita dapat melakukan inspeksi untuk menilai sikap, bentuk, ukuran,
dan gerakan abnormal. Sedangkan untuk palpasi pada ekstremitas atas berfungsi
untuk menilai tonus otot.
Pemeriksaan gerakan pasif pada ekstremitas atas dan bawah terdiri dari rigidity,
cogwheel phenomena, spastic, flaccid.
Pemeriksaan Sensorik. Pada lesi kortikal kita harus bandingkan kanan dan kiri,
sedangkan pada lesi medula spinalis kita bandingkan atas dan bawah. Pada
pemeriksaan sensorik kita dapat lakukan tes nyeri, raba, suhu, rasa getar, rasa posisi,
stereognosis.
Refleks Fisiologis. Pada pemeriksaan ini dapat dilakukan refleks biseps, triseps,
brachioradialis, refleks lutut/quadriceps femoris posisi tidur dan duduk, serta refleks
achilles/triceps surae posisi tidur dan duduk.
Refleks Patologis. Pada pemeriksaan ini kita dapat lakukan uji banbinski dan
Hoffmann-Tromner.

Pemeriksaan penunjang3
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis
pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau
untuk melihat bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit. Disamping itu
juga pemeriksaan ini sering dilakukan untuk melihat kemajuan atau respon terapi
pada pasien yang menderita suatu penyakit infeksi.3
Pemeriksaan Darah
pemeriksaan, yaitu:3
1. Hemoglobin

Lengkap

terdiri

dari

beberapa

jenis

parameter

2. Hematokrit
3. Leukosit (White Blood Cell / WBC)
4. Trombosit (platelet)
5. Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)
6. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)
7. Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)
8. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)
9. Platelet Disribution Width (PDW)
10. Red Cell Distribution Width (RDW)
Hasil pemeriksaan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hb
: 12,8 gr/dL
Ht
: 38%
Leukosit : 12000 sel/ul
Trombosit: 242000 sel/ul
Eritrosit : 5 juta/uL
LED
: 90 mm/jam

Gula Darah Sewaktu: 148 mg/dL


2. Pemeriksaan LCS adalah pemeriksaan dengan cara mengambilan cairan otak
lalu diperiksa kadar zat yang diinginkan di LCS tersebut. Cara pengambilan
dilakukan dengan cara punksi lumbal di L3/4 pada orang dewasa dan L4/L5
pada bayi. LCS diambil maksimum 5 ml.
Pada skenario:
1. Warna : jernih
2. Dominan : sel mononuklear
3. Protein : (102)
7

4. Glukosa : (50)
5. Leukosit : 187 / uL
6. Nonne pandy: (+)
3. Pemeriksaan tambahan lainnya:3
Tes Tuberkulin
Ziehl-Neelsen ( ZN )
Pemeriksaan Batang Tahan Asam (Ziehl Neelsen): Sputum yang diambil harus
berasal dari trakea atau bronkus, bukan saliva (air liur). Atau melalui LCS.

Tabel 1. Hasil pemeriksaan BTA

PCR ( Polymerase Chain Reaction )


4. Pemeriksaan Foto Thorax:4
Pada skenario: terdapat gambaran kesuraman di apex pulmo sinistra.

Gambar 1. Foto Torax Tuberculosis4


5.

Pemeriksaan CT scan dan MRI: Pemeriksaan CT-scan dengan kontras ditemukan lesi
penyengatan kontras di daerah basal disertai adanya tanda peninggian tekanan
intrakranial. Pemeriksaan MRI lebih sensitive dari CT-scan, tetapi spesifitas juga
masih terbatas.4

Diagnosis Kerja
Diagnosa pada meningitis TB dapat dilakukan dengan beberapa cara:1
1.

Anamnesis: ditegakkan berdasarkan gejala klinis, riwayat kontak dengan

2.

penderita TB
Lumbal pungsi
Gambaran LCS pada meningitis TB :1,3

Warna jernih / xantokrom


Jumlah Sel meningkat MN > PMN
Limfositer
Protein meningkat
Glukosa menurun <50 % kadar glukosa darah
1. Pemeriksaan tambahan lainnya:3
Tes Tuberkulin
Ziehl-Neelsen ( ZN )
PCR ( Polymerase Chain Reaction )
2.
Rontgen thorax4
TB apex paru
TB milier
3.
CT scan otak4
Penyengatan kontras (enhancement) di sisterna basalis
Tuberkuloma : massa nodular, massa ring-enhanced
Komplikasi : hidrosefalus
4. MRI4
Diagnosis dapat ditegakkan secara cepat dengan PCR, ELISA dan aglutinasi
Latex. Baku emas diagnosis meningitis TB adalah menemukan M. tb dalam kultur
CSS. Namun pemeriksaan kultur CSS ini membutuhkan waktu yang lama dan
memberikan hasil positif hanya pada kira-kira setengah dari penderita.
Diagnosis Banding6
1. Meningitis limfositik (virus) akut
Sebagian besar kasus meningitis limfositik akut disebabkan oleh virus. Berbeda
dengan meningitis bakterialis, kebanyakan kasus meningitis virus bersifat swasirna,
dan pasien umumnya memiliki prognosis yang lebih baik. Meningitis dapat terjadi
dalam perjalanan setiap infeksi virus. Pada beberapa kasus, meningitis virus berkaitan
dengan infeksi pada parenkim (ensefalitis), tetapi meningitis biasanya adalah

manifestasi satu-satunya infeksi SSP. Penyebab penting adalah echovirus,


coxsackievirus, virus gondongan, dan virus imunodefisiensi manusia (HIV).
Gambaran klinis pada meningitis virus serupa dengan yang ditemukan pada
meningitis bakterialis akut, tetapi biasanya lebih ringan. CSS mengandung banyak
limfosit. Konsentrasi protein CSS biasanya meningkat sedang, tetapi berbeda dengan
meningitis bakterialis akut, kadar glukosa CSS biasanya normal.
2. Meningitis bacterial
Kebanyakan kasus meningitis bacterial disebabkan oleh infeksi meningen oleh
satu dari tiga organisme berikut:
C Neisseria meningitides (meningokokus),
C Haemophilus influenza (tipe b) (jarang, terjadi setelah vaksinasi),
C Streptococcus pneumonia (pneumokokus).
Organisme lainnya, terutama mycobacterium tuberculosis, dapat ditemukan pada
kelompok berisiko yang spesifik, misalnya pasien immunocompromised.
Epidemiologi
Di negera maju, insidensi meningitis bacterial adalah 5-10 per 100.000 per tahun.
Gambaran klinis
Umumnnya terdapat nyeri kepala hebat disertai nyeri dan kekakuan pada leher dan
punggung, muntah, serta fotofobia. Kecepatan onset nyeri kepala cukup cepat
(menit hingga jam), walaupun umumnnya tidak mendadak seperti pendarahan
subaracnoid. Pasien dapat mengalami penurunan kesadaran dan kejang.
Pemeriksaan umum menunjukkan tanda infeksi seperti demam, takikardia,
syok, dan kadang adanya bukti sumber infeksi primer (misalnya pneumonia,
endokarditis, sinusitis, otitis media). Sebagian besar kasus meningitis
meningokokal akan disertai kemerahan, biasanya berupa petekie atau purpura.
Tanda-tanda neurologis meliputi:

Meningismus bukti iritasi meningen, kaku kuduk saat leher difleksikan,

tangisan bayi yang bernada tinggi/ meningeal cry, tanda kernig.


Penurunan tingkat kesadaran,
Peningkatan tekanan intracranial edema papil, fontanel (ubun-ubun) menonjol

pada bayi.
Palsi nervus kranialis dan tanda neurologis fokal lainnya.

Etiologi

10

Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis jenis


hominis, jarang oleh jenis bovinum atau aves. Mycobacterium tuberculosis tipe
human merupakan basilus tahan asam yang merupakan penyebab pathogen yang
banyak menginfeksi sistem nervus. Penyakit ini terdapat pada penduduk dengan
keadaan sosio-ekonomi rendah, penghasilan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari,
perumahan tidak memenuhi syarat kesehatan minimal, hidup dan tinggal atau tidur
berdesakan, kekurangan gizi, kebersihan yang buruk. Faktor suku atau ras, kurang
atau tidak mendapat fasilitas imunisasi.1,6
Epidemiologi
Meningitis TB merupakan salah satu komplikasi TB primer. Morbiditas dan
mortalitas penyakit ini tinggi dan prognosisnya buruk. Komplikasi meningitis TB
terjadi setiap 300 TB primer yang tidak diobati. CDC melaporkan pada tahun 1990
morbiditas meningitis TB 6,2% dari TB ekstrapulmonal. Insiden meningitis TB
sebanding dengan TB primer, umumnya bergantung pada status sosio-ekonomi,
higiene masyarakat, umur, status gizi dan faktor genetik yang menentukan respon
imun seseorang. Faktor predisposisi berkembangnya infeksi TB adalah malnutrisi,
penggunaan kortikosteroid, keganasan, cedera kepala, infeksi HIV dan diabetes
melitus. Penyakit ini dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih sering dibanding
dengan dewasa terutama pada 5 tahun pertama kehidupan. Jarang ditemukan pada
usia dibawah 6 bulan dan hampir tidak pernah ditemukan pada usia dibawah 3 bulan.6

Anatomi
Otak dan medulla spinalis dilindungi oleh meningea yang melindungi struktur
saraf yang halus, membawa pembuluh darah dan sekresi cairan, yaitu cairan
serebrospinal yang memperkecil benturan atau goncangan.5
a.

Lapisan luar (Dura mater)


Dura terdiri dari dua lapisan jaringan ikat yang padat dan keras. Lapisan luar

yang melapisi tengkorak berfungsi sebagai periosteum dan secara kuat melekat pada
tulang. Dan lapisan dalam yang bersatu dengan lapisan luar merupakan selaput otak
11

yang sebenarnya dan menghadap rongga subdural yang sangat sempit untuk
membentuk bagian-bagian falx serebri, tentorium serebeli dan diafragma sellae.2
b.

Lapisan tengah (Arakhnoid)

Merupakan selaput yang halus tetapi kuat yang memisahkan pia mater dari dura mater
terdiri dari membrane selular luar dan lapisan jaringan ikat dalam. Membentuk sebuah
kantung atau balon berisi cairan otak yang meliputi susunan saraf pusat. Ruangan
diantara dura mater dan arakhnoid disebut ruangan subdural yang berisi sedikit cairan
jernih menyerupai getah bening. Pada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan
vena yang menghubungkan system otak dengan mening serta dipenuhi oleh cairan
serebrospinal.5
c.

Lapisan dalam (Pia mater)

Merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang mensuplai darah
ke otak dalam jumlah yang banyak dan menyelipkan dirinya ke dalam celah yang ada
pada otak dan sum-sum tulang belakang.5
Patofisiologi
Meningitis TB terjadi akibat penyebaran infeksi secara hematogen ke
meningen. Dalam perjalanannya meningitis TB melalui 2 tahap. Mula-mula terbentuk
lesi di otak atau meningen akibat penyebaran basil secara hematogen selama infeksi
primer. Penyebaran secara hematogen dapat juga terjadi pada TB kronik, tetapi
keadaan ini jarang ditemukan. Selanjutnya meningitis terjadi akibat terlepasnya basil
dan antigen TB dari fokus kaseosa (lesi permulaan di otak) akibat trauma atau proses
imunologik, langsung masuk ke ruang subarakhnoid. Meningitis TB biasanya terjadi
36 bulan setelah infeksi primer.1,6
Kebanyakan bakteri masuk ke cairan serebro spinal dalam bentuk kolonisasi
dari nasofaring atau secara hematogen menyebar ke pleksus koroid, parenkim otak,
atau selaput meningen.Kerusakan lapisan dura dapat disebabkan oleh fraktur , paska
bedah saraf, injeksi steroid secara epidural, tindakan anestesi, adanya benda asing
seperti implan koklear, VP shunt, dll. Sering juga kolonisasi organisme pada kulit
dapat menyebabkan meningitis. Walaupun meningitis dikatakan sebagai peradangan
selaput meningen, kerusakan meningen dapat berasal dari infeksi yang dapat

12

berakibat edema otak, penyumbatan vena dan memblok aliran cairan serebrospinal
yang dapat berakhir dengan hidrosefalus, peningkatan intrakranial, dan herniasi.1,6
Skema patofisiologi meningitis tuberkulosa:
BTA masuk tubuh

Tersering melalui inhalasi


Jarang pada kulit, saluran cerna

Multiplikasi

Infeksi paru / focus infeksi lain

Membentuk tuberkel

Penyebaran hematogen

Meningens

BTA tidak aktif/dorman


Bila daya tahan tubuh menurun

Rupture tuberkel meningen

Pelepasan BTA ke ruang subarachnoid

MENINGITIS
Manifestasi Klinis
Gejala klinis meningitis TB berbeda untuk masing-masing penderita. Faktorfaktor yang bertanggung jawab terhadap gejala klinis erat kaitannya dengan
perubahan patologi yang ditemukan. Tanda dan gejala klinis meningitis TB muncul
perlahan-lahan dalam waktu beberapa minggu.1,3
Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke tengkuk
dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya
otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu tengkuk kaku dalam
sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran
menurun.tanda Kernigs dan Brudzinsky positif.
Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta
virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang
tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, kejang. Setelah itu biasanya penderita

13

merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta
penglihatan menjadi kurang jelas.1,3
Gejala pada bayi yang terkena meningitis, biasanya menjadi sangat rewel
muncul bercak pada kulit tangisan lebih keras dan nadanya tinggi, demam ringan,
badan terasa kaku, dan terjadi gangguan kesadaran seperti tangannya membuat
gerakan tidak beraturan.1,3
Gejala meningitis meliputi:

Gejala infeksi akut


Panas
Nafsu makan tidak ada
Anak lesu
Gejala kenaikan tekanan intracranial
Kesadaran menurun
Kejang-kejang
Ubun-ubun besar menonjol
Gejala rangsangan meningeal
kaku kuduk
Kernig
Brudzinky I dan II positif

Gejala klinis meningitis tuberkulosa dapat dibagi dalam 3 stadium:


Stadium I : Stadium awal
Gejala prodromal non spesifik : apatis, iritabilitas, nyeri kepala, malaise,
demam, anoreksia
Stadium II : Intermediate
Gejala menjadi lebih jelas
Mengantuk, kejang,
Defisit neurologik fokal : hemiparesis, paresis saraf kranial(terutama N.III dan
N.VII, gerakan involunter
Hidrosefalus, papil edema
Stadium III : Advanced
Penurunan kesadaran
Disfungsi batang otak, dekortikasi, deserebrasi
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Non Farmakologis
-

Bed rest total


Konsul ke spesialis saraf

Penatalaksanaan Farmakologis7
14

Terapi Farmakologis yang dapat diberikan pada meningitis TB berupa:

Rifampicin ( R )
Efek samping: Hepatotoksik
INH ( H )
Efek samping: Hepatotoksik, defisiensi vitamin B6
Pyrazinamid ( Z )
Efek samping: Hepatotoksik
Streptomycin ( S )
Efek samping: Gangguan pendengaran dan vestibuler
Ethambutol ( E )
Efek samping: Neuritis optika
Regimen : 2RHZE / 7-10RHZS
Nama Obat

DOSIS

INH

Dewasa : 10-15 mg/kgBB/hari

Anak : 20 mg/kgBB/hari

+ piridoksin 50 mg/hari
Streptomisin

20 mg/kgBB/hari i.m selama 3 bulan

Etambutol

25 mg/kgBB/hari p.o selama 2 bulam pertama


Dilanjutkan 15 mg/kgBB/hari

Rifampisin

Dewasa : 600 mg/hari

Anak

10-20

mh/kgBB/hari
Di samping tuberkulostatik dapat diberikan rangkaian pengobatan dengan
deksametason untuk menghambat edema serebri dan timbulnya perlekatan-perlekatan
antara araknoid dan otak.
Steroid diberikan untuk:

Menghambat reaksi inflamasi

Mencegah komplikasi infeksi

Menurunkan edema serebri

Mencegah perlekatan arachnoid pada jaringan otak

Mencegah arteritis/infark otak

Indikasi Steroid :

Kesadaran menurun
Defisit neurologist fokal
15

Dosis steroid:
Deksametason 10 mg bolus intravena, kemudian 4 kali 5 mg intravena selama 2
minggu selanjutnya turunkan perlahan selama 1 bulan.
Bagan Penatalaksanaan Meningitis6
Jika dijumpai tanda klinis meliputi :
1) Panas
2) Kejang
3) Tanda rangsang meningeal
4) Penurunan kesadaran

Cari tanda kenaikan tekanan intra cranial :


1) Mual muntah hebat
2) Nyeri kepala
3) Ubun-ubun cembung (anak)

16

Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan adalah:3
- Hidrosefalus
Hidrosefalus merupakan komplikasi yang cukup sering terjadi dari meningitis
tuberkulosa dan dapat saja terjadi walaupun telah mendapat terapi dengan respon
yang baik. Hampir selalu terjadi pada penderita yang bertahan hidup lebih dari 4-6
minggu. Hidrosefalus sering menimbulkan kebutaan dan dapat menjadi penyebab
kematian yang lambat. Perluasan inflamasi pada sisterna basal menyebabkan
gangguan absorpsi CSS sehingga menyebabkan hidrosefalus komunikans dan dapat
pula terjadi hidrosefalus obstruksi (hidrosefalus non komunikans) akibat dari oklusi
aquaduktus oleh eksudat yang mengelilingi batang otak, edema pada mesensefalon
atau adanya tuberkuloma pada batang otak atau akibat oklusi foramen Luschka oleh
eksudat.
Hidrosefalus komunikans dan non komunikans dapat terjadi pada meningitis
tuberkulosa. Adanya blok pada sisterna basalis terutama pada sisterna pontis dan
interpedunkularis oleh eksudat tuberkulosis yang kental menyebabkan gangguan
penyerapan CSS sehingga menyebabkan hidrosefalus komunikans. Gejalanya antara
lain ialah ataksia, inkontinensia urin dan demensia. Dapat juga terjadi hidrosefalus
17

non komunikans (obstruktif) akibat penyumbatan akuaduktus atau foramen Luschka


oleh eksudat yang kental. Gejala klinisnya ialah adanya tanda-tanda peningkatan
tekanan intracranial seperti penurunan kesadaran, nyeri kepala, muntah, papiledema,
refleks patologis (+) dan parese N VI bilateral.
Epilepsi
Epilepsi adalah penyakit saraf menahun yang menimbulkan serangan
mendadak

berulang-ulang

tak

beralasan.

Kata

'epilepsi'

berasal

dari

bahasa Yunani (Epilepsia) yang berarti 'serangan'.


Otak

kita

terdiri

dari

jutaan

sel

saraf

(neuron),

yang

bertugas

mengoordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan,


berpikir, menggerakkan [otot].Pada penderita epilepsi, kadang-kadang sinyal-sinyal
tersebut, tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh
berbagai unsur-unsur, antara lain; trauma kepala (pernah mengalami cedera di daerah
kepala), tumor otak, dan lain sebagainya.6
Umumnya epilepsi mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam proses kelahiran,
luka kepala, stroke, tumor otak, alkohol. Kadang-kadang, epilepsi mungkin juga
karena genetika, tapi epilepsi bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap
belum diketahui.
- Buta karena atrofi N.II
Dapat terjadi dengan gangguan visual yang bervariasi sampai buta total.
- Kelumpuhan otot yang dipersarafi N.III, N.IV dan N.VI
Prognosis
Prognosis meningitis tuberkulosa lebih baik sekiranya didiagnosa dan diterapi
seawal mungkin. Sekitar 15% penderita meningitis nonmeningococcal akan dijumpai
gejala sisanya. Secara umumnya, penderita meningitis dapat sembuh, baik sembuh
dengan cacat motorik atau mental atau meninggal tergantung:2
o umur penderita.
o Jenis kuman penyebab
o Berat ringan infeksi
o Lama sakit sebelum mendapat pengobatan
o Kepekaan kuman terhadap antibiotik yang diberikan
18

Kesimpulan
Meningitis Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada
meningitis tuberculosis terdapat 3 stadium yaitu stadium 1 dengan gejala apatis,
iritabilitas, nyeri kepala, malaise, demam, anoreksia. Stadium 2 dengan gejala
mengantuk, kejang, hemiparesis, paresis saraf kranial, gerakan involunter,
hidrosefalus, papil edema. Sedangkan pada stadium 3 terdapat gejala penurunan
kesadaran,disfungsi batang otak, dekortikasi, deserebrasi.
Pada pemeriksaan fisik biasa didapatkan kaku kuduk (+), brudzinski (+).
Meningitis tuberkulosis dapat diobati dengan obat anti tuberkulosis yaitu INH,
Rifampicin, Pirazinamid, Etambutol kemudian dapat diberikan steroid seperti
deksametason

untuk

menghambat

reaksi

inflamasi

mencegah

komplikasi

infeksi,menurunkan edema serebri, mencegah perlekatan arachnoid pada jaringan


otak, mencegah arteritis/infark otak.

Daftar Pustaka
1. Lumbantobing SM. Neurologi klinik: pemeriksaan fisik dan mental. Jakarta:
FKUI;2013.h.5-6, 17-20.
2. Gleadle J. Pengambilan anamnesis. Dalam: At a glance anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Jakarta:Erlangga; 2007.h.1-17.
3. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi kedokteran jawetz, melnick,
dan adelberg. Edisi ke-23. Jakarta: EGC; 2008.h.325-7.
4. Rasad S. Radiologi diagnostik. Edisi ke-2. Jakarta:FKUI; 2011.h.131, 381.
5. Harsono. Buku ajar neurologi klinis. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2008.h.161-3.

19

6. Koppel BS. Bacterial, Fungal,& Parasitic infections of the Nervous System in


Current Diagnosis and Treatment Neurology. USA; The McGraw-Hill
Companies. 2007.p.403-8, 421-3.
7. Dinihari TN, Siagian V. Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI;2014.h.20.

20