Vous êtes sur la page 1sur 3

Abses Hati

Teori dan penatalaksanaan 2016

FAKTA:

Insiden abses hati amebik di RS di Indonesia berkisar antara 5-15% pasien pertahun. (i)

Penelitian epidemiologi di Indonesia menunjukkan penderita abses hati amebik pada pria memiliki
rasio 3,4-8,5 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita. (i)
PENGERTIAN
Apa itu abses hati?
Abses hati merupakan kista berisi nanah yang terdapat di hati. (ii) Prevalensi abses hati yang tinggi erat
hubungannya dengan sanitasi yang buruk dan status ekonomi yang rendah. Penyebab abses hati dapat
disebabkan oleh infeksi dari bakteri, parasit ataupun jamur. Di negara yang sedang berkembang, abses
hati amuba lebih sering didapatkan secara endemik dibandingkan dengan abses hati piogenik. Abses hati
piogenik disebabkan oleh infeksi bakteri seperti E. coli, S. Faecalis, P. Vulgaris, dan Salmonella typhi.
Sedangkan abses hati amebik disebabkan oleh organisme mikroskopis parasit yaitu E. Histolytica. (iii)
PENYEBAB DAN FAKTOR RISIKO
Apa saja penyebab abses hati?
Penyebab umum:

Infeksi saluran empedu (30% -60%): obstruksi empedu dan kondisi peradangan sekunder (misalnya,
kolesistitis, choledocholithiasis, dan kolangitis, terutama pada pasien dengan keganasan saluran
empedu dengan stent empedu)

Infeksi dari organ-organ pencernaan atau organ pelvis melalui sirkulasi portal (24%): contoh termasuk
usus buntu, divertikulitis, dan perforasi usus

Tidak diketahui (20%)

Penyebaran hematogen sekunder dengan bakteremia (15%): infeksi endokarditis, pielonefritis, infeksi
mulut yang tidak diobati, semua penyebab gangguan sistem kekebalan tubuh pada anak-anak
(misalnya, leukemia)

Patogen penyebab infeksi:


Bakteri penyebab paling umum: Escherichia coli, Klebsiella spp., Proteus, Enterococcus,
Staphylococcus aureus, dan Streptococcus faecalis. Streptococcus milleri dan bakteri anaerob lainnya
seperti Bacteroides spp. menjadi semakin umum

Entamoeba histolytica dapat ditinjau jika pasien baru-baru ini melakukan perjalanan ke daerah tropis
atau dari daerah endemik atau HIV-positif

Candida albicans adalah kemungkinan patogen pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang
terganggu

Abses hati amebik secara signifikan lebih sering terjadi pada pria daripada wanita
Penyebab langka:

Infeksi sekunder dari abses hati amebik, tumor hati ganas primer dan sekunder

Penyebaran infeksi secara langsung dari organ lokal (empiema kandung empedu, abses periternal)
Fistula antara hati dan intra-abdominal organ yang terinfeksi, seperti fleksura hepatika pada kolon

Tusukan atau luka benda tumpul pada hati

Jamur patogen pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu
Apa saja faktor penyebab dan predisposisi abses hati?

Radang usus, terutama penyakit Crohn, karena hilangnya integritas barrier mukosa

Sirosis hati

Transplantasi hati
Embolisasi arteri hepatika (pada pasien karsinoma hepatoseluler yang menjalani terapi TACE (Trans
Arterial Chemo Embolization))

Institusionalisasi (pada lembaga pemasyarakatan, panti wreda, dan lain-lain)

Gangguan sistem kekebalan tubuh

Usia yang lebih tua (terutama terkait dengan sepsis bilier)

Malnutrisi, keganasan, kehamilan, penggunaan steroid, dan asupan alkohol yang berlebihan
merupakan predisposisi pembentukan abses hati (vi)
GEJALA DAN TANDA ABSES HATI
Bagaimana gejala dan tanda awal dari penderita abses hati?
Gejala klinis yang dapat ditemukan pada amubiasis hati seperti:
- Nyeri perut kanan atas
- Demam
- Anoreksia (nafsu makan menurum)
- Nausea (mual)
- Vomitus (muntah)
- Berat badan menurun
- Batuk
- Pembengkakan perut kanan atas
- Ikterus (kuning pada mata dan kulit)
- BAB berdarah
- Temperatur tubuh naik
- Malnutrisi
- Fluktuasi
- Hepatomegali
Gejala klinis abses hati piogenik pada umumnya hampir sama, namun lebih serius dibandingkan abses
hati amebik. Terutama demam yang intermiten (hilang timbul) atau kontinu (terus menerus) yang disertai
menggigil. (i)
TES DAN PENGOBATAN
Bagaimana cara mengetahui ada tidaknya abses di hati?
Tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui keberadaan abses di hati meliputi:

- Abdominal CT scan
- Abdominal ultrasound
- Complete blood count (CBC)
- Liver function tests
- Bilirubin blood test (piogenik)
- Blood culture for bacteria (piogenik)
- Liver abscess aspiration untuk melihat adanya infeksi bakteri atau amebik pada abses hati.
- Serology for amebiasis (amebik)
- Stool testing for amebiasis (amebik) (v)
Bagaimana pengobatan terhadap penyakit abses hati?
Pengobatan abses hati piogenik biasanya meliputi aspirasi cairan abses dengan menggunakan jarum
khusus. Tindakan operasi diperlukan bila abses terlalu besar atau telah timbul perforasi. Selain itu, juga
akan diberikan antibiotik untuk sekitar 4 6 minggu. Terkadang, antibiotik saja dapat menyembuhkan
infeksi. (v,vi)
Untuk abses hati amebik, pengobatan pada umumnya dengan antibiotik seperti metronidazole atau
tinidazol. Selain itu, pengobatan dengan paromomycin atau diloxanide juga dianjurkan untuk eradikasi
amuba dalam usus, sehingga mencegah penyakit datang kembali. (iii,vi)
PENCEGAHAN
Apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya abses hati?
Pengobatan yang tepat dari infeksi perut dan infeksi lainnya dapat mengurangi risiko terjadinya abses
hati piogenik. (vi)
Untuk abses hati amebik, pencegahan dapat dilakukan dengan meminum air murni dan tidak makan
sayuran mentah atau buah dikupas ketika bepergian di negara-negara tropis dengan sanitasi yang buruk.
(iii)
DAFTAR PUSTAKA
(i) Sulaiman, Akbar, Lesmana dan Noer. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. Jakarta: Jayabadi
(ii) Infomedis, Abses Hati (Liver Abscesses) http://info-medis.blogspot.com/2008/11/abses-hati-liverabscesses.html diakses pada tanggal 4 April 2013
(iii) Pubmed Health, Amebic Liver
Abscess http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001260/diakses pada tanggal 4 April 2013
(iv) Clinicalkey, Liver Abscess https://www.clinicalkey.com/topics/gastroenterology/liverabscess.htmldiakses pada tanggal 4 April 2013
(v) Pubmeb Health, Pyogenic Liver
Abscess http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001307/diakses pada tanggal 4 April 2013
(vi) Feldman, Friedman, dan Brandit .2010. Sleisenger dan Fordtranss. Gastrointestinal and Liver
Disease. Pathophysiology/ Diagnosis/ Manajemen. Ninth Edition. Canada: Saunders Elsevier.