Vous êtes sur la page 1sur 23

PERSATUAN PERANGKAT DESA INDONESIA

ANGGARAN DASAR

PEMBUKAAN

Didorong oleh keinginan luhur untuk berperan serta secara aktif menegakan,
mengamankan, mengisi dan melestarikan Negara Kesatuan Republik Indonesa yang
diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 serta usaha meningkatkan
pembangunan bangsa seperti yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 dan
mewujudkan peningkatan harkat dan martabat serta kesejahtraan Perangkat Desa
Indonesia maka perlu dibentuk Organisasi. Atas Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
maka pada tanggal 17 Juni 2006 dalam Kongres Perangkat Desa Indonesia di Tegal
Jawa Tengah telah dirikan suatu organisasi dengan nama Persatuan Perangkat Desa
Indonesia dan Disingkat PPDI. PPDI sebagai wadah terhimpunnya segenap perangkat
desa merupakan organisasi profesi, perjungan dan ketenagakerjaan yang berdasarkan
Pancasila. Organisasi ini bersifat Unitaristrik, Indenpenden, dan tidak berpolitik praktis
yang secara aktif menjaga, memelihara, mempertahankan Persatuan dan kesatuan
Bangsa yang dijiwai semangat kekeluargaan, kesetiakawanan yang kokoh serta
kesejahtraan lahir batin dan kesetiakawanan organisasi baik didaerah maupun
Nasional. PPDI sebagai organisasi perjungan mengemban amanat cita-cita Proklamasi
17 Agustus 1945 dengan menjamin, menjaga dan mempertahankan keutuhan dan
kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan membudidayakan nilai-
nilai ;uhur pancasila. Atas dasar hal-hal tersebut di atas maka disusunlah Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Perangkat Desa Indonesia.

BAB I
NAMA.WAKTU DAN KEDUDUKAN
Pasal 1
(1) Organisasi ini bernama Persatuan Perangkat Desa Indonesia disingkat PPDI
(2) PPDI didirikan pada tanggal 17 Juni 2006
(3) PPDI didirikan dalam jangka waktu tidak ditentukan
(4) Organisasi tingkat pusat berkedudukan di Ibu Kota Negara Kesaatuan Republik
Indonesia .

BAB II
DASAR ORGANISASI
Pasal 2
PPDI berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945

BAB III
JATIDIRI
Pasal 3
PPDI adalah Organisasi profesi

BAB IV SIFAT
Pasal 4
(1) PPDI adalah organisasi yang bersifat
(a) Uniteristik tanpa memandang perbedaan tempat bekerja,kedudukan, suku,
Agama, adat istiadat
dan asal usul.
(b) Indenpenden yang berlandaskan prinsip kemandirian organisasi dengan
mengutamakan
kemitrasejajarkan dengan berbagai pihak.
(c) Tidak berpolitik praktis artinya tidak terkait dan mengingat diri pada kekuatan
organisasi lain dan
atau partai politik apapaun.
(2) PPDI memiliki dan melandasi kegiatannya pada semangat Demokrasi,
kekelurgaan,
keterbukaan dan tanggung jawab etika moral serta hukum.
BAB V
KEDAULATAN
Pasal 5
Kekuatan organisasi ada ditanggan Anggota dan dilaksankan sepenuhnya oleh Munas

BAB VI
TUJUAN
Pasal 6
Mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Berperan aktif mencapai tujuan Nasional dalam
membangun bangsa dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Mempertinggi
kesadaran dan sikap Perangkat Desa serta meningkatkan mutu dan profesional
perangkat Desa Memelihara, menjaga, meningkatkan harkat dan martabat serta
kesejahtraan anggota dan kesetiakawanan organisasi.

BAB VI
TUGAS DAN FUNGSI
Pasal 7
PPDI mempunyai tuga dan fungsi sebagai berikut : Meningkatkan keimanan dan
ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mempertahankan, mengamankan dan
mengamalkan Pancasila. Melestarikan dan mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia Meningkatkan intergritas bangsa dan menjaga tetap terjaminnya
keutuhan persatuan dan kesatuan. Mempersatukan semaua Perangkat Desa guna
meningkatkan pengabdian dan peran serta didalam pembangunan Nasional.
Menegakkan dan melaksanakan kode etik dan Ikrar Perangkat Desa Indonesia sesuai
peraturan organisasi. Memelihara dan mempertinggi kesadaran perangkat desa akan
profesi, pengabdian dan kemampuannnya. Meningkatkan harkat dan martabat serta
kesejahtraan anggota Memperkuat kedududkan, wibawa, dan social perangkat desa
Indonesia.

BAB VII
KODE ETIK DAN IKRAR PERANGKAT DESA INDONESIA
Pasal 8
(1) PPDI memeiliki dan melaksanakan kode etik dan ikrar perangkat desa Indonesia
(2) Kode etik dan ikrar sebagaimana tersebut ayat 1 ( satu ) pasal ini diatur dalam
anggaran Rumah
Tangga dan persatuan organisasi

BAB VIII
ATRIBUT
Pasal 9
PPDI memiliki atribut organisai yang terdiri dari lambang, panji dan bendera PPDI

BAB VIX
KEANGGOTAAN
Pasal 10
Yang dapat diterima menjadi anggota PPDI adalah Warga Negara Indonesia yang
dengan sukarela mengajukan permohonan menjadi anggota serta memenuhi
persyaratan yang ditentukan dalam Anggaran Rumah Tangga Organisasi.
Pasal 11
Keanggotaan berakhir apabila :
(a) Atas permintaan sendiri
(b) Karena diberhentikan
(c) Karena meninggal dunia, atau
(d) Purna tugas
BAB X
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA
Pasal 12
(1) setiap anggota PPDI mempunyai hak ;
a. Hak bicara
b. Hak suara
c.Hak memilih
d. Hak dipilih
e.Hak membela diri
f. Hak memperoleh pembelaan dan perlindungan hokum
(2) Tatacara penggunaan dan pelaksanaan hak anggota diatur dalam anggaran
Rumah Tangga
Organisasi.

Pasal 13
(1) Setiap anggota PPDI Berkewajiban :
a.Menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan organisasi serta kode etik dan ikrar
perangkat
desa Indonsia
b.Mematuhi AD/ART peraturan peraturan dan disiplin organisasi
c.Melaksanakan program organisasi secara aktif
(2) Tatacara melaksanakan kewajiban anggota diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
organisasi.

BAB XI
SUSUNAN DAN PERANGKAT KELENGKAPAN ORGANISASI
Pasal 14
PPDI memiliki tata urutan / tingkat organisasi sebagai berikut :
(a) Tingkat pusat
(b) Tingkat Propinsi
(c) Tingkat kabupaten
(d) Tingkat kecamatan
Pasal 15
Organisasi tingkat pusat meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia.

Pasal 16
Organisasi tingkat propinsi meliputi satu wilayah propinsi

Pasal 17
Organisasi tingkat Kabupaten meliputi satu wilayah kabupaten

Pasal 18
Organisasi tingkat kecamatan meliputi satu wilayah kecamatan

Pasal 19
Perangkat kelengkapan organisasi PPDI terdiri dari :
(a) Badan pimpinan organisasi
(b) Forum organisasi
(c) Tim Pemerikas Keuangan
(d) Badan penasehat
(e) Majelis Kehormatan organisasi dan kode etik profesi

BAB XII
BADAN PIMPINAN ORGANISASI
Pasal 20
Badan pimpinan organisasi terdiri dari ;
(a) Pengurus PPDI Pusat adalah pengurus tingkat pusat.
(b) Pengurus PPDI Propinsi adalah pengurus tingkat propinsi
(c) Pengurus PPDI Kabupaten adalah pengurus tingkat Kabupaten
(d) Pengurus PPDI Kecamatan adalah pengurus tingkat Kecamatan

Pasal 21
1.Susunan, proses pencalonan dan pemilihan pengurus PPDI Pusat , PPDI Propinsi,
PPDI
Kabupaten, PPDI Kecamatan diatur dan ditetapkan dalam anggran Rumah Tangga
2. Masa bahkti kepengurusan adalah 5 ( Lima ) Tahun
Pasal 22
(1) Badan Pimpinan Organisasi bertugas melaksanakan program dan kegiatan
organisasi. (2) Badan pimpinan organisasi sesuai dengan tingkatan masing masing
berwenang menetapkan
kebijakan organisasi untuk memperlancar pelaksanaan tugas organisasi serta
bertindak ke
dalam dan keluar atas nama organisasi.
(3) Badan pimpinan organisasi sesuai dengan tingkatannya masing masing
berkewajiban
memberikan pertanggungjawaban pada forum organisasi tertinggi pada tingkatan
masing-masing.

Pasal 23
Sebelum memeulai tugas, seluruh anggota Badan Pimpinan organisasi disahkan dan
dilantik oleh badan pimpinan organisasi setingkat lebih tinggi kecuali seluruh anggota
tingkat pusat yang mengucapkan janji dihadapan Munas
Tatacara pelaksanaan pelantikan, pengucapan janji dan pengesahan Badan pimpinan
organisasi tersebut dalam ayat (1) pasal ini diatur dalam anggaran Rumah Tangga.

BAB XIII
FORUM ORGANISASI
Pasal 24
(1) Jenis Forum organisasi PPDI terdiri dari
a.Muyawarah Nasional PPDI disebut Munas
b. Munas Luar Biasa PPDI di sebut Munas Lub
c. Musyawarah Kerja Nasional disebut Muskernas
d.Rapat Kerja Nasional disebut Rakernas
e.Rapat Pimpinan Nasional disebut Rapimnas
f. Rapat Koordinsai nasional disebut Rakornas
(2) Jenis Forum organisasi PPDI Propinsi terdiri dari :
a.Muyawarah PPDI Propinsi disebut Muswil
b.Musyawarah Luar Biasa PPDI Propinsi di sebut Muswilub
c.Musyawarah Kerja Wilayah PPDI Propinsi disebut Muskerwil
d. Rapat Kerja Wilayah PPDI Propinsi disebut Rakerwil
e. Rapat Pimpinan Wilayah PPDI Propinsi disebut Rapimwil
f.Rapat Koordinsai Wilayah PPDI Propinsi disebut Rakorwil
(3) Jenis Forum Organisasi PPDI Kabupaten
a. Muyawarah Daerah PPDI Kabupaten disebut Musda
b. Musyawarah Daerah Luar Biasa PPDI Kabupaten di sebut MUSDALUB
c. Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten disebut Muskerda
d. Rapat Kerja Daerah PPDI Kabupaten disebut Rakerda
e. Rapat Pimpinan Daerah PPDI Kabupaten disebut Rapimda
f. Rapat Koordinsai Daerah PPDI Kabupaten disebut Rakorda
(4) Jenis Forum Organisasi PPDI Tingkat Kecamatan
a. Muyawarah PPDI Kecamatan disebut Muscam
b. Musyawarah Luar Biasa PPDI Kecamatan di sebut Muscamlub
c. Musyawarah Kerja PPDI Kecamatan disebut Muskercam
d. Rapat Kerja PPDI Kecamatan disebut Rakercam
e.Rapat Koordinsai PPDI Kecamatan disebut Rakorcam
(5) Ketentuan mengenai tugas fungsi dan susunan serta tatacara kerja masing-masing
forum organisasi tersebut dalam ayat (1) pasal ini diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.

BAB XVI
BADAN PENASEHAT
Pasal 25
Badan pimpinan Organisasi semua tingkatan dibantu oleh sebuah badan penasehat
yang
diangkat dan disahkan serta diberhentikan bersama-sama badan pimpinan organisasi
yang bersangkutan oleh forum organisasi yang memilihnya.
Badan penasehat bertugas memberi nasehat, pertimbangan dan saran kepada badan
pimpinan organisasi baik diminta atau tidak.
(1) Badan penasehat terdiri dari unsure pemerintah, masyarakat, para ahli.
(2) Ketentuan menegenai susunan, tugas, fungsi, dan tata kerja Badan Penasehat
diatur dalam
Anggarah Rumah Tangga
Masa bhakti kepengurusan badan penasehat ditetapkan sama dengan masa bhakti
kepengurusan badan pimpinan organisasi sesuai tingkatannya.

BAB XV
MAJELIS KEHORMATAN ORGANISASI DANKODE ETIK PROFESI
Pasal 26
Terkecuali untuk organisasi tingkat kecamatan, badan pimpinan organisasi dapat
membentuk majelis kehormatan dan kode etik profesi dari unsure badan penasehat
dan Badan pimpinan Oganisasi.

BAB XVI
PERBENDAHARAAN
Pasal 27
(1) Sumber keuangan organisasi diperoleh dari :
a. Iuran wajib dari anggota
b. Sumbangan dan donator yang tidak mengingkat.
c. Usaha usaha yang sah yang tidak bettentangan dengan ad/art
(2) Kekayaan organisasi dibukukan dan diiventariskan sebaik-baiknya .
(3) Ketentuan mengenai tatacara pengolaan keuangan dan kekayaan organisasi
diatur dalam
anggaran Rumah Tangga.

BAB XVII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal 28
(1) Perubahan AD / ART adalah Kewenangan Munas
(2) Munas dimaksud ayat (1) pasal ini, sah apa bila dihadiri sekurang-kurangnya +1
( satu per
dua + Satu ) dari jumlah daerah kabupaten yang ada kepengurusannya
Perubahan AD/ART harus disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 ( Dua pertiga ) jumlah
yang hadir.

BAB XVIII
PEMBUBARAN
Pasal 29
(1) Pembubaran organisasi diputuskan oleh Munas yang diadakan khusus untuk
keperluan itu
(2) Munas yang dimaksud pada ayat (1) pasal ini, sah apabila dihadiri 2/3 ( dua
pertiga ) dari
jumlah pengurus PPDI Kabupaten yang memiliki lebih dari 2/3 ( dua pertiga )
jumlah suara. (3) Pembubaran wajib disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 ( dua
pertiga ) jumlah suara yang
hadir.
(4) Apabila Munas memutuskan pembubaran, maka dalam keputusan tersebut
ditentukan
pedoman dan tata kerja organisasi dalam keadaan likuidasi.

BAB XVIX
PENUTUP
Pasal 30
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran
Rumah
tangga atau peraturan lain.
(2) Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan oleh konggres.

Ditetapkan oleh : di Purwokerto


Pada tanggal : 23 Januari 2011
PENGURUS PUSAT PERSATUAN PERANGKAT DESA INDONESIA ( PPDI )

Ketua Umum Sekretaris Jenderal

UBAEDI ROSYIDI MUGIONO MUNAJAD,BSC


ANGGARAN RUMAH TANGGA PPDI

( PERSATUAN PERANGKAT DESA INDONESIA )

BAB I KODE ETIK DAN IKRAR

Pasal 1

(1) Kode etik perangkat desa Indonesia merupakan etika jabatan perangkat desa yang
menjadi landasan moral dan pedoman tingkah laku yang dijunjung tinggi,
diamalkan dan diamankan oleh setiap perangkat desa Indonesia.

(2) Ikrar perangkat desa Indonesia merupakan penegasan kebulatan tekad anggota
PPDI dalam pengahayatan dan pengamalan kode etik perangkat desa Indonesia.

(3) Kode etik dan Ikrar perangkat desa Indonesia tercantum dalam naskah tersendiri.

(4) Setiap anggota PPDI Wajib memahami, menghayati, mengamalkan dan


menjunjung tinggi kode etik dan ikrar perangkat desa indonesia

(5) Tatacara penggunaan dan pengucapan ikrar perangkat desa Indonesia diatur
lebih lanjut dalam ketentuan tersendiri.

BAB II KEANGGOTAAN

Pasal 2

Tata cara penerimaan Anggota

(1) Keanggotaan dapat diperoleh dengan jalan mengajukan permohonan menjadi


anggota kepada pengurus PPDI kabupaten melalui pengurus kecamatan.

(2) Pengurus PPDI Kecamatan menetapkan permohonan keanggotaan dan


melaporkannya kepada pengurus PPDI Kabupaten. Pengurus PPDI Kabupaten
mengeluarkan Kartu Tanda Anggota bagi anggota yang bersangkutan.

(3) Dalam surat permohonan ini dilampiri :

- Foto Copy KTP / Kartu Domisili

- Foto Copy Surat Keputusan ( SK ) Pengangkatan Perangkat Desa.

Pasal 3

Kewajiban Anggota Anggota mempunyai kewajiban untuk ;

(a) Menaati AD/ART, peraturan serta ketentuan organisasi


(b) Menjunjung tinggi kode etik dan ikrar perangkat desa Indonesia

(c) Mematuhi disiplin organisasi

(d) Melaksanakan program,tugas serta misi organisasi

(e) Mambayar iuran anggota

(f) Memberikan sumbangan sukarela kepada PPDI jika dibutuhkan.

Pasal 4

Hak Anggota Anggota PPDI memiliki

(a) Hak pilih yaitu hak untuk dipilih dan memilih menjadi pengurus organisasi

(b) Hak suara yaitu hak untuk memberikan suaranya pada waktu pungutan suara

(c) Hak bicara yaitu hak mengeluarkan pendapat baik secara lisan maupun tertulis.

(d) Hak membela diri yaitu hak untuk menyampaikan pembelaan diri atas tindakan
disiplin organisasi yang dijatuhkan kepadanya atau atas pembatasan hak-hak
keanggotaannya.

(e) Hak memperoleh kesejahtraan, pembelaan dan perlindungan hukum dalam


melaksanakn tugasnya. Pasal 5

Disiplin organisasi

(1) Tindakan disiplin organisasi dapat dikenakan kepada anggota yang :

(a) Dianggap telah melanggar kode etik perangkat desa Indonesia, Ikrar Perangkat
Desa Indonesia. AD/ART serta disiplin organisasi.

(b) Tidak membayar uang iuran selama 10 ( sepuluh ) bulan berturut turut dengan
tidak memberikan alasan yang dapat dibenarkan oleh organisasi.

(2) Tindakan disiplin dapat berupa ;

(a) Peringkatan lisan atau tertulis

(b) Pemberhentian / pembebasan sebagai anggota

(c) Pemberhentian / pembebasan sebagai anggota.

(3) Sebelum suatu tindakan disiplin dilakukan, pengurus organisasi yang mempunyai
wewenang untuk menegakan tindakan disiplin wajib mengadakan penyelidikan yang
seksama.

(4) Sebelum suatu tindakan disiplin dilakukan, anggota yang dianggap bersalah
diberi kesempatan membela diri dengan cukup dan disertai pembuktian yang sah.

(5) Semua anggota yang terkena tindakan disiplin organisasi mempunyai hak
banding kepada instansi organisasi yang lebih tinggi sampai tingkat Musyawarah
Nasional.

BAB III

ORGANISASI TINGKAT PUSAT

Pasal 6

Status, Wilayah dan perangkat kelengkapan Organisasi


(1) Organisasi tingkat pusat merupakan Instansi tertinggi organisasi yang meliputi
seluruh wilayah Republik Indonesia.

(2) Munas merupakan pemegang kedaulatan tertinggi organisasi

(3) Organisasi pusat berkedudukan di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

(4) Perangkap kelengkapan organisasi tingkat pusat terdiri dari :

(a) Pengurus Pusat

(b) Munas,Munas merupakan pemegang kedaulatan tertinggi organisasi

(c) Badan penesahat tingkat pusat

(d) Majelis kehormatan dan kode etik Profesi tingkat pusat.

(e) Tim Pemeriksa Keungan .

BAB IV

ORGANISASI TINGKAT PROPINSI

Pasal 7

Status, wilayah dan perangkat kelengkapan organisasi

(1) Organisasi PPDI tingkat propinsi meliputi wilayah satu propinsi atau daerah
setingkat propinsi.

(2) Dalam wilayah satu propinsi atau setingkat propinsi tidak boleh didirikan
organisasi PPDI tingkat propinsi yang lain yang mempunyai batas wilayah yang sama.

(3) Perangkat kelengkapan organisasi PPDI tingkat propinsi terdiri dari :

(a) Pengurus PPDI Propinsi


(b) Musyawarah Daerah PPDI Propinsi, Musyawarah Daerah luar biasa propinsi, kerja
propinsi dan forum organisasi lainnya ditingkat propinsi.

(c) Badan penasehat PPDI Propinsi

(d) Majelis kehormatan Organisasi dan kode Etik profesi tingkat propinsi

Pasal 8

Pengesahan dan penolakan organisasi Tingkat Propinsi

(1) Pengesahan organisasi PPDI tingkat propinsi

(a) Pengesahan organisasi PPDI Tingkat Propinsi yang baru dilakukan oleh pengurus
pusat

(b) Untuk mendapatkan pengesahan sebagai organisasi PPDI tingkat Propinsi, calon
Organisasi PPDI Tingkat propinsi wajib mengajukan surat permintaan pengesahan
kepada pengurus pusat dengan menjelaskan : - Nama Pengurus PPDI Tingkat
Propinsi - Susunan pengurus PPDI Tingkat propinsi - Alamat pengurus /
kantor organisasi PPDI Tingkat Propinsi - Laporan / Berita acara pembentukan
organisasi PPDI tingkat provinsi yang bersangkutan. - Keadaan organisasi PPDI
Tingkat Kabupaten dan tingkat Kecamatan di bawahnya.

(c) Organisasi PPDI Tingkat Propinsi dianggap sah apabila sudah menerima surat
pengesahan dari pengurus Pusat.

(2) Penolakan organisasi PPDI tingkat Propinsi


(a) Peneolakan pengesahan organisasi PPDI Tingkat propinsi dilakukan oleh pengurus
pusat dengan PPDI dengan Pemberithuan melalui surat penolakan kepada yang
berkepentingan dengan penjelasan alasanya. (b) Calon Organisasi PPDI Tingkat
Propinsi yang ditolak permintaanya, dapat mengajukan permasalahan kepada
Rapimnas Pusat berikutnya yang wajib diagendakan secara khusus oleh Pengurus
Pusat.

Pasal 9

Pembekuan, Pencairan dan Pembubaran Organisasi PPDI tingkat provinsi

(1) Pembekuan Organisasi PPDI Tingkat Provinsi

(a) Pembekuan Organisasi PPDI Tingkat Provinsi berarti menonaktifkan seluruh


kepengurusan Organisasi PPDI Tingkat Provinsi dan mencabut seluruh hak-haknya
untuk mengadakan ikatan ikatan atas nama PPDI. (b) Pembekuan dan pencairan
kembali Organisasi PPDI tingkat Provinsi dilakukan kepada Pengurus Pusat PPDI yang
kemudian memberikan pertanggungjawabannya kepada Rakernas Pusat dengan
mempertimbangkan usul dan saran Pengurus PPDI Tingkat Provinsi yang
bersangkutan.

(c) Pembekuan dilakuakan karena pengurus : - Melanggar Kode Etik dan Ikrar
Perangkat Desa Indonesia - Melanggar AD/ ART serta ketentuan organisasi lainnya, dan
- Tidak memperhatikan kehidupan/ kegiatan organisasi

(2) Pembekuan wajib didahului dengan peringatan tertulis oleh Pengurus Pusat
sekurangkurangnya tiga kali berturut-turut

(3) Sesudah organisasi PPDI Tingkat Provinsi dibekukan, segala kegiatan organisasi
yang ada di daerah diurus langsung oleh pengurus Pusat dan segala urusan Organisasi
PPDI Tingkat Provinsi menjadi tanggung jawab Pengurus Pusat.

(4) Pencairan Organisasi PPDI Tingkat Provinsi (a) Pengurus Pusat wajib
menghidupkan kembali Organisasi PPDI Tingkat Provinsi itu antara lain dengan
menyelenggarakan Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi, selambat-lambatnya 6 (enam)
bukan sesudah pembekuan. (b) Pengurus Pusat dapat mencairkan kembali suatu
Organisasi PPDI Provinsi yang dibekukan kalau Organisasi PPDI Provinsi tersebut telah
dapat melakukan secara wajar. (5) Pembubaran organisasi PPDI Provinsi (a)
Organisasi PPDI Provinsi dapat dibubarkan oleh Musyawarah Kerja Nasional
( Muskernas ) jika 12 (dua belas) bulan sesudah dibekukan dan setelah berbagi daya
upaya untuk menghidupkan kembali tidak juga berhasil. (b) Sesudah Organisasi PPDI
Provinsi dibubarkan. Organissi PPDI Kabupaten dan organisasi dibawahnya yang tetap
memenuhi syarat diurus langsung oleh Pengurus Pusat. (c) Kekayaan Organisasi PPDI
Provinsi, utang piutang, dan urusan lain-lain dari Organisasi PPDI Provinsi yang
dibubarkan menjadi tanggungjawab Pengurus Pusat (d) Pembubaran serta pengalihan
segala kekayaan Organisasi PPDI Tingkat Provinsi oleh Pengurus Pusat wajib
diumumkan melalui media masa baik cetak maupun elektronik setempat. BAB V
ORGANISASI TINGKAT KABUPATEN Pasal 10 Status, Wilayah, dan Perangkat
Kelengkapan (1) Wilayah Organisasi PPDI Kabupaten dapat meliputi satu wilayah
Kabuapten (2) Dalam wilayah satu Organisasi PPDI Kabupaten tidak boleh didirikan
Organisasi PPDI Kabupaten lain yang mempunyai batas wilayah yang sama. (3) Jika
wilayah suatu Organisasi PPDI berkembang menjadi lebih dari satu wilayah sederajat
dapat didirikan Organisasi PPDI Kabuapten yang baru dengan tatacara sebagai
berikut : (a) Pengurus PPDI Kabupaten mengadakan Rapat Anggota PPDI Kabupaten
khusus untuk menetapkan pembentukan Organisasi PPDI Kabupaten baru (b)
Rapat Anggota PPDI Kabupaten tersebut menetapkan Pengurus PPDI Kabupaten yang
baru sebagai penanggungjawab organisasi di daerah baru tersebut. (4) Ketentuan
tentang tatacara wewenang dan tanggungjawab penyelenggara Rapat anggota
tersebut. (5) Perangkat Kelengkapan Organisasi PPDI Kabuapten terdiri dari : (a)
Pengurus PPDI Kabupaten (b) Rapat Anggota PPDI Kabupaten, Rapat Anggota Luar
Biasa PPDI Kabupaten, dan Rapat Kerja PPDI Kabupaten. (c) Badan Pembina PPDI
tingkat Kabupaten (d) Majelis Kehormatan Organisasi dan Kode Etik Profesi tingkat
Kabupaten. Pasal 11 Pengesahan dan Penolakan Organisasi PPDI Kabuapten (1)
Pengesahan Organisasi PPDI Kabupaten yang baru dilakukan oleh Pengurus Pusat
dengan mempertimbangkan usul dan saran Pengurus PPDI Provinsi yang
bersangkutan. (2) Untuk memperoleh pengesahan sebagai Organisasi PPDI Kabupaten
calon organisasi PPDI Kabuapten wajib mengajukan Surat permintaan Pengesahan
kepada Pengurus Pusat melalui Pengurus PPDI Provinsi dengan menjelaskan : (a)
Nama calon Organisasi PPDI Kabupaten (b) Susunan Pengurus Organisasi PPDi
Kabuapten pertama kali (c) Alamat Pengurus/ kantor Organisasi PPDI Kabupaten (d)
Laporan/ Berita Acara tentang pembentukan Organisasi PPDi kabuapten yang
bersangkutan (e) Keadaan Organisasi PPDI Kecamatan dibawahnya (3) Organisasi
PPDI Kabupaten dianggap sah apabila sudah menerima surat pengesahan dari
Pengurus Pusat. (4) Pengesahan diberikan apabila memenuhi ketentuan sebagai
berikut : (a) Pembentukannnya telah sesuai dengan syarat dan prosedur yang
ditetapkan dalam Anggaran Rumah tangga Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3) (b) Calon
Organisasi PPDI Kabupaten telah menyelesaikan administrasi organissai. (c)
Memperlihatkan kegiatan organisasi. (d) Usul dan saran pengurus PPDI Provinsi yang
bersangkutan (5) Penolakan pengesahan Organisasi PPDI Kabupaten dilakukan oleh
Pengurus Pusat dengan mempertimbangkan usul dan saran Pengurus PPDI Provinsi
yang bersangkutan yang diberitahukan dengan surat penolakan kepada yang
berkepentingan dengan menjelaskan alasannya (6) Calon Organisasi PPDI Kabupaten
yang ditolak permintaan pengesahannya dapat mengajukan permasalahannya kepada
Rapat Kerja Nasional tahun berikutnya wajib diagendakan secara khusus oleh
Pengurus Pusat. Pasal 12 Pembekuan Pencairan dan Pembubaran Organisasi PPDI
Tingkat Kabupaten (1) Pembekuan Organisasi PPDI Tingkat Kabupaten (a) Pembekuan
Organisasi PPDI tingkat Kabupaten berarti menonaktifkan seluruh kepengurusan
Organisasi PPDI Tingkat Kabupaten dan mencabut seluruh hak-haknya untuk
mengadakan ikatan-ikatan atas nama PPDI. (b) Pembekuan dilakukan karena pengurus
: - Melanggar Kode Etik dan Ikrar Perangkat desa Indonesia - Melanggar AD/ART serta
ketentuan organisasi lainnya, dan - Tidak memperhatikan kehidupan/ kegiatan
organisasi. (c) Pembekuan wajib didahului dengan peringatan tertulis oleh Pengurus
Pusat sekurangkurangnya tiga kali berturut-turut. (d) Sesudah Organisasi PPDI
Tingkat Kabupaten dibekukan, segala kegiatan organisasi yang ada di daerah diurus
langsung oleh Pengurus Pusat dan segala urusan Organisasi PPDI Tingkat Kabupaten
menjadi tanggung jawab Pengurus Pusat. (2) Pencairan Organisasi PPDI Tingkat
Kabupaten (a) Pengurus Pusat wajib menghidupkan kembali Organisasi PPDI Tingkat
kabupaten itu antara lain dengan menyelenggarakan Musyawarah Daerah PPDI
Kabupaten, selambat lambatnya 6 (enam) bulan sesudah pembekuan. (b) Pengurus
Pusat dapat mencairkan kembali Organisasi PPDI Tingkat Kabupaten itu antara lain
dengan menyelenggarkan Musyawarah Daerah PPDI Kabupaten yang dibekukan kalau
Organisasi PPDI Kabupaten tersebut telah dapat melakukan secara wajar dan dengan
mempertimbangkan usul dan saran Pengurus PPDI Provinsi. (3) Pembubaran
Oranisasi PPDI Kabupaten (a) Organisasi PPDI Kabupaten dapat dibubarkan oleh
Musyawarah Kerja Nasional jika 12 (dua belas) bulan sesudah dibekukan dan setelah
berbagai daya upaya untuk menghidupkan kembali tidak juga berhasil. (b) Sesudah
organisasi PPDI Kabupaten dibubarkan, Organisasi PPDI Kabupaten dan organisasi
dibawahnya yang tetap memenuhi syarat diurus langsung oleh Pengurus Pusat yang
pelaksaannya dapat didelegasikan kepada Pengurus PPDI Provinsi yang bersangkutan
atau kepada Pengurus PPDI Kabuapten yang berdekatan. (c) Kekayaan Organisasi PPDI
Kabupaten, utang piutang, dan urusan lain-lain dari Organissi PPDI Kabupaten yang
dibubarkan menjadi tanggungjawab Paengurus Pusat yang pelaksanaannya dapat
didelegasikan kepada Pengurus PPDI Provinsi yang bersangkutan. (d) Pembubaran
serta pengalihan segala kekayaan Organisasi PPDI Kabupaten oleh Pengurus Pusat
wajib diumumkan melalui media masa baik cetak maupun elektronik setempat. BAB VI
ORGANISASI TINGKAT KECAMATAN Pasal 13 Status, Wilayah, dan Perangkat
Kelengkapan Organisasi (1) Wilayah Organisasi Tingkat Kecamatan meliputi wilayah
satu kecamatan (2) Perangkat kelengkapan Organisasi Tingkat Kecamatan dapat
terdiri dari : (a) Pengurus PPDI Kecamatan (b) Rapat Anggota PPDI Kacamatan, Rapat
Anggota Luar Biasa PPDI Kecamatan, dan Rapat Kerja PPDI Kecamatan (c) Badan
Pembina PPDI tingkat Kecamatan Pasal 14 Pengesahan dan Penolakan Organisasi PPDI
Kecamatan Anggaran Rumah Tangga pasal 11 berlaku pula bagi pengesahan dan
penolakan permintaan pembentukan PPDI tingkat Kecamatan, dengan ketentuan
bahwa yang berhak memberikan atau menolak permintaan pengesahan Kecamatan
adalah Pengurus PPDI Provinsi dengan mempertimbangkan usul dan saran Pengurus
PPDI Kabupaten yang bersangkutan. Pasal 15 Pembekuan, Pencairan dan Pembubaran
Kecamatan Anggaran Rumah Tangga 12 berlaku pula bagi pembekuan, Pencairan dan
Pembubara PPDI Kecamatan, dengan ketentuan bahwa yang berhak menetapkan
Pembekuan, Pencairan dan Pembubaran Kecamatan adalah Pengurus PPDI Provinsi
dengan mempertimbangkan usul dan Pengurus PPDI Kabupaten yang bersangkutan.
BAB VII SYARAT-SYARAT PENGURUS Pasal 16 Syarat Umum dan Syarat Khusus (1)
Semua anggota kepengurusan Organisasi PPDI disemua jenis dan tingkatan wajib
memenuhi syarat-syarat umum sebagai berikut : (a) Beriman dan bertaqwa Kepada
Tuhan Yang Maha Esa (b) Berjiwa dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara
murni dan konskuen (c) Anggota PPDI yang telah membuktikan peran serta katif
dalam kepengurusan dan atau terhadap prganisasi (d) Bersih, jujur, bermoral
tinggi, bertanggungjawab, terbuka dan berwawasan luas (2) Anggota Pengurus
Pusat, Pengurus PPDI Provinsi, Pengurus PPDI Kabupaten dan Pengurus PPDI
Kecamatan disamping memiliki syarat umum tersebut dalam ayat (1) pasal ini : wajib
memiliki syarat khusus sebagai berikut: (a) Pernah duduk dalam kepengurusan
organisasi pada tingkat yang sama atau paling rendah dua tingkat dibawahnya. (b)
Tidak merangkap jabatan menjadi pengurus dalam perangkat kelengkapan organisasi
PPDI wilayah dan atau tingkat lainnya. (c) Pengurus PPDI tidak merangkap menjadi
pengurus organisasi lainnya. (d) Tidak menduduki jabatan pengurus lebih dari
dua kali masa bakti berturut-turut dalam jabatan yang sama. BAB VIII PENGURUS
PUSAT Pasal 17 Susunan Pengurus (1) Dalam kepengurusan PPDI perlu dilaksankan
kesetaraan gender (2) Anggota Pengurus Pusat PPDI berjumlah sebanyak banyaknya
60 Orang dengan susunan sebagai berikut : (a) Pengurus harian, sebanyak-banyaknya
13 ( Tiga Belas ) orang. 1. Ketua Umum 2. Ketua 1 Bidang Program Kerja 3. Ketua
2 Bidang Pembinaan 4. Ketua 3 Bidang Administrasi, Menejemen,Humas dan
Informasi dan komunikasi. 5. Ketua 4 Bidang Keuangan dan Usaha 6. Sekretaris
Jendral 7. Sekretaris 1 8. Sekretaris 2 9. Sekretaris 3 10. Bendahara Umum 11.
Bendahara 1 12. Bendahara 2 13. Bendahara 3 (b) Sekretaris bidang 1. Sekretaris
bidang Organisasi dan Kaderisasi 2. Sekretaris Bidang Ketenagakerjaan dan kesra 3.
Sekretaris Bidang Informasi dan Komunikasi 4. Sekretaris Bidang Kerohanian 5.
Sekretaris Bidang Pembinaan dan Kesenian dan Olahraga 6. Sekretaris Bidang
Advokasi dan Perlindungan Hukum Pasal 18 Pemilihan Pengurus pusat (1) Pada setiap
Musyawarah Nasional pengurus Pusat mengakhiri masa baktinya dan diselenggarakan
pemilihan Pengurus Pusat yang baru. (2) Calon pengurus Pusat wajib tercantum dalam
daftar nama calon tetap yang di usulkan Pengurus PPDI Kabupaten dan disahkan oleh
Munas (3) Pengurus Pusat dipilih oleh Munas, yang dalam hal ini berturut turut
memilih ketua umum, 4 ketua dalam satu paket dam sekretaris jendral melalui
pemungutan suara secara bebas dan rahasia. (4) Kelima Pengurus terpilih tersebut
menjadi formatur yang bertugas melengkapi susunan Pengurus Pusat PPDI tersebut
pada ayat (2) pasal ini. (5) Serah terima Pengurus Pusat lama kepada pengurus Pusat
baru dilakukan dihadapan peserta Munas yang bersangkutan. (6) Pemilihan Pengurus
Pusat dipimpin Panita pemilihan Pengurus Pusat PPDI yang susunan dan
keanggotaannya disahkan oleh Munas (7) Sebelum memulai tugasnya, seluruh
anggota Pengurus Pusat mengucapkan janji dihadapan peserta Munas yang
memilihnya. (8) Dalam hal kekosongan anggota Pengurus Pusat, Pengisiannya
dilakukan oleh Rapat Pengurus Pusat dan hasilnya dilaporkan pada Rapat Kerja
Nasioanl, kecuali untuk jabatan Pengurus Pusat terpilih pengisian wajib dilakukan
Rapimnas dengan tetap mengindahkan pasal 16 dan pasal 17 Anggaran Rumah
Tangga. Pasal 19 Tugas dan Tanggungjawab Pengurus Pusat (1) Pengurus pusat PPDI
bertugas menentukan kebijakan organisasi dan melaksanakan segala ketentuan dan
kebijakan sesuai dengan Anggaran dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan-
Keputusan Munas. Munas Luar Biasa, Rakernas,rapimnas dan rapat Pengurus Pusat
PPDI. (2) Penjabaran tugas Pengurus Pusat diatur tersendiri dalam ketentuan
organisasi yang menjadi bagian tak terpisahkan dan tidak bertentangan dengan AD/
ART. (3) Dalam menjalankan kebijakan tersebut Pengurus Pusat PPDI merupakan
badan pelaksana tertinggi yang bersigat kolektif. (4) Pengurus Pusat
betanggungjawab kepada Munas atas kepengurusan organisasi untuk masa baktinya.
(5) Pengurus Pusat bertanggungjawab kepada Munas atas kepengurusan organisasi
untuk masa baktinya. (6) Pengurus Pusat bertanggungjawab atas pelaksanaan Kode
Etik Perangkat Desa Indonesia, Ikrar Perangkat Desa Indonesia, Anggaran dasar dan
Anggaran Rumah tangga serta keputusan Munsyawarah dan Rapat Kerja Nasioanal
BAB IX PENGURUS PROVINSI Pasal 20 Susunan pengurus (1) Dalam kepengurusan PPDI
perlu dilaksanakan kesetaraan gender. (2) Anggota Pengurus PPDI Provinsi berjumlah
sebanyak-banyaknya 45 orang dengan susunan sebagai berikut : (a) Pengurus harian,
sebanyak-banyak 13 orang. 1 Ketua Umum 2. Ketua 1 Bidang Program Kerja 3.
Ketua 2 Bidang Pembinaan 4. Ketua 3 Bidang Administrasi, Menejemen,Humas dan
Informasi dan komunikasi. 5. Ketua 4 Bidang Keuangan dan Usaha 6. Sekretaris
Umum 7. Sekretaris 1 8. Sekretaris 2 9. Sekretaris 3 10. Bendahara Umum 11.
Bendahara 1 12. Bendahara 2 13. Bendahara 3 (b) Pengurus PPDI Provinsi dapat
dilengkapi paling banyak 7 orang sekretaris bidang yang nama, susunan, serta
fungsinya dapat mengacu pada nama, susunan, serta fungsi sekretaris bidang di
Pengurus Pusat. Pasal 21 Tugas dan Tanggungjawab Pengurus Provinsi (1) Pengurus
PPDI Provinsi bertugas dan berkewajiban : (a) Menentukan kebijakan organisasi dan
melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan sesuai dengan Anggaran dasar,
Anggaran Rumah Tangga, keputusan-Keputusan Munas, Munas Luar Biasa, Rakernas,
Rakerwil PPDI Provinsi, Rakerwil Luar Biasa Provinsi, Rakerwil Provinsi dan rapat
Pengurus PPDI Provinsi di wilayahnya. (b) Melaksanakan program kerja organisasi baik
program kerja organisasi baik program kerja nasional maupun program kerja Provinsi.
(c) Mengawasi, mengkoordinasi, membimbing dan membina aktifitas Pengurus PPDI
Kabupaten. (d) Menegakkan disiplin organisasi dan mengatur ketertiban serta
kelancaran keuangan Pengurus Pusat dan Pengurus PPDI provinsi. (2) Penjabaran
tugas Pengurus PPDI Provinsi diatur tersendiri dalam ketentuan organisasi yang
menjadi bagian tak terpisahkan dan tidak bertentangan dengan AD/ ART. (3) Pengurus
PPDI bertanggungjawab atas pelaksanaan Kode Etik Perangkat Desa Indonesia, Ikrar
Perangkat Desa Indonesia, Anngaran dasar dan Anggaran rumah Tangga, keputusan
Munyawarah Nasional, Musyawarah Kerja Nasional, Musyawara Wilayah PPDI Provinsi
serta Musyawarah Kerja Wilayah ( Muskerwil ) PPDI provinsi. (4) Pengurus PPDI Provinsi
bertanggungjawab kepada Muswil PPDI Provinsi atas kepengurusan organisasi untuk
masa baktinya. (5) Dalam menjalankan kebijakan tersebut Pengurus PPDI Provinsi
merupakan badan pelaksana tertinggi di wilayahnya yang bersifat kolektif
berlandaskan pada prinsip keterbukaan, tanggungjawab, demokrasi dan kekeluargaan.
(6) Pengurus PPDI Provinsi berkewajiban mengirimkan laporan kepada Pengurus Pusat
setiap enam bulan sekali. Pasal 22 Pemilihan Pengurus PPDI Provinsi (1) Pada setiap
Musyawarah Kerja Wilayah( Muskerwil ) PPDI Provinsi yang diadakan paling lambat 6
bulan setelah Musyawarah Wilayah ( Muswil ) pengurus PPDI Provinsi wajib mengakhiri
masa baktinya dan diselenggarakan pemilihan Pengurus PPDI provinsi yang baru. (2)
Bakal calon Pengurus PPDI Provinsi wajib tercantum dalam daftar nama calon tetap
yang diusulkan Pengurus PPDI kabupaten paling lambat 1 bulan sebelum Musyawarah
Wilayah ( Muswil ) Provinsi. (3) Tata cara dan Proses pencalonan diatur sebagai
berikut : (a) Pengurus PPDI Kabupaten berhak mencalonkan sebanyak-banyaknya 18
orang bakal calon yang memenuhi syarat sesuai pasal 16. (b) Sebelum diajukan untuk
menjadi calon tetap dan disahkan Musyawarah Kerja Wilayah ( Muskerwil ) PPDI
Provinsi sebuah Panitia Khusus meneliti semua persyaratan teknis dan administratif
para bakal calon dan menyampaikan rekomendasinya kepada Musyawarah Kerja
Wilayah ( Muskerwil ) (c) Panitia khusus diangkat dan ditetapkan muskerwil PPDI
Profinsi terakhir yang terdiri dari wakil pengurus PPDI Kabupaten yang ada di Profinsi
tersebut. (d) Enam bakal calon sah yang memperoleh dukungan suara terbanyak
dapat memeperoleh kesempatan untuk menyampaikan visi dan misinya dihadapan
peserta muswil yang waktu serta acaranya akan diatur oleh pemimpin Muswil. (4)
Tatacara dan proses pemilihan pengurus harian Provinsi diatur sebagai berikut : (a)
Musyawarah Wilayah memilih secara berturut-turut ketuaUmum, 4 Ketua dalam satu
paket dan sekretarus umum. (b) Calon Pengurus tercantum dalam daftar nama calon
tetap yang diusulkan Pengurus PPDI Kecamatan. (c) Keenam Pengurus Harian terpilih
tersebut bertindak selaku formatur yang bertugas melengkapi susunan Harian terpilih
tersbut bertindak selaku formatur yang bertugas melengkapi susunan Pengurus
provinsi sesuai dengan pasal 16 dan pasal 17. (d) Formatur wajib melengkapi susunan
Pengurus PPDI Provinsi dari nama-nama yang tercantum dalam daftar calon yang
diseleksi oleh Musyawarah Kerja Wilayah ( Muskerwil ) PPDI Provinsi tersebut.
(5) Pemilihan pengurus PPDI Provinsi dipimpin oleh Pengurus pusat PPDI yang dibantu
oleh Panitia Pelaksana pemilihan Pengurus PPDI Propinsi yang susunan dan
keanggotaannya disahkan oleh Musyawarah Wilayah ( Muswil ) Provinsi tanpa
mengikutsertakan anggota Pengurus PPDI Provinsi yang lama. (6) Serah terima
Pengurus PPDI Provinsi lama kepada Pengurus PPDI Provinsi baru dilakukan dihadapan
peserta Musyawarah Wilayah Propinsi yang bersangkutan. (7) Sebelum memulai
tugasnya, seluruh anggota Pengurus PPDI Provinsi dilantik oleh Pengurus Pusat dan
mengucapkan janji dihadapan peserta Muswil provinsi yang memilihnya. (8) Dalam hal
ini terjadi kekosongan anggota pengurus PPDI Provinsi, pengisiannya dilakukan oleh
Rapat Pengurus PPDI Provinsi dan hasilnya dilaporkan kepada Musyawarah Kerja
Wilayah ( Muskerwil ) Provinsi, kecuali untuk jebatan Pengurus PPDI Provinsi dan
hasilnya dilaporkan kepada Muskerwil Provinsi, kecuali untuk jabatan Pengurus PPDI
Provinsi terpilih pengisiannya wajib dilakukan oleh Musyawarah Wilayah Provinsi
dengan tetap mengindahkan pasal 16 dan pasal 17 Anggaran Rumah Tangga. BAB X
PENGURUS KABUPATEN Pasal 23 Susunan Pengurus (1) Anggota Pengurus PPDI
Kabupaten dengan susunan sebagai berikut : (a) Pengurus Harian 1. Ketua 2. Wakil
Ketua 1 3. Wakil Ketua 2 4. Wakil Ketua 3 6. Sekretaris 7. Wakil Sekretaris 1 8.
Wakil Sekretaris 2 9. Bendahara 10. Wakil Bendahara 1 11. Wakil Bendahara 2 (b)
Pengurus harian PPDI kabuapten dapat dilengkapi sekretaris bidang tertentu. (2)
Pembagian tugas dan fungsi sekretaris bidang dapat dilaksanakan berdasarkan acuan
pada pembagian tugas dan fungsi sekretaris bidang di Pengurus PPDI Provinsi. Pasal
24 Tugas dan Tanggungjawab pengurus Kabupaten (1) Pengurus PPDI Kabupaten
bertugas dan berkewajiban : (a) Menentukan kebijakan organisasi dan melaksanakan
segala ketentuan dan kebijakan sesuai dengan Anggaran Dasar. Anggaran Rumah
tangga, keputusan-Keputusan Munas, Munas Luar Biasa, Rakernas, Muswil PPDI
Provinsi, Rakerwil PPDI Provinsi, Rapat Anggota PPDI Kabupaten, Rakerda Kabupaten
dan Rapat Pengurus PPDI Kabuapten di wilayahnya. (b) Melaksanakan program kerja
organisasi baik program kerja nasional, program kerjaprovinsi dan program kerja
kabupaten. (c) Mengawasi, mengkoordinasi, membimbing dan membina aktifitas
Pengurus PPDI Kecamatan. (d) Menegakkan disiplin organisasi dan mengatur
ketertiban serta kelancaran keuangan Pengurus Pusat, pengurus PPDI Provinsi dan
Pengurus PPDI Kabupaten. (2) Penjabaran tugas Pengurus PPDI Provinsi dan Pengurus
PPDI Kabupaten diatur tersendiri dalam ketentuan organisasi yang menjadi bagian tak
terpisahkan dan tidak bertentangan dengan AD/ ART. (3) Pengurus PPDI Kabupaten
bertanggungjawab asat pelaksanaan Kode Etik Perangkat Desa Indonesia, Ikrar
Perangkar desa Indonesia, Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Keputusan
Musda , rakerda , Muswil PPDI provinsi, Muskerwil PPDI Provinsi, Rapat Anggota PPDI
Kabupaten, Rapat Kerja Kabupaten dan Rapat Pengurus PPDI kabupaten.a (4) Pengurus
PPDI Kabupaten bertanggungjawab kepada Rapat Anggota PPDI Kabupaten atas
kepengurusan organisasi untuk masa baktinya. (5) Pengurus PPDI Kabupaten
merupakan badan pelaksana tertinggi di wilayahnya yang bersifat kolektif
berlandaskan pada prinsip keterbukaan, tanggungjawab, demokrasi dan kekeluargaan.
(6) Pengurus PPDI Provinsi berkewajiban mengirimkan laporan kepada Pengurus PPDI
Provinsi dengan tembusan kepada Pengurus setiap enam bulan sekali. Pasal 25
Pemilihan Pengurus PPDI kabupaten (1) Pengurus PPDI Kabupaten dipilih oleh rapat
Anggota PPDI Kabupaten yang wajib diadakan paling lambat 6 bulan setelah PPDI
provinsi. (2) Bakal Calon wajib tercantum dalam daftar nama calon tetap yang
diusulkan Pengurus PPDI Kecamatan dan atau perwakilan anggota. (3) Tatacara dan
proses pencalonan Pengurus PPDI diatur sebagai berikut : a. Pengurus PPDI
Kecamatan berhak mencalonkan sebanyak-banyaknya 13 orang bakal calon yang
memenuhi syarat sesuai pasal 16 b. Sebelum diajukan untuk menjadi calon tetap dan
sahkan Rapat Anggota PPDI Kabupaten membentuk sebuah Panitia Khusus meneliti
sema persyaratan teknis dan administratif para bakal calon dan menyampaikan
rekomendasinya kepada Rapat Anggota. c. Panitia Khusus diangkat dan ditetapkan
Rapat Anggota PPDI Kabupaten terakhir yang terdiri wakil 5 Pengurus PPDI Kecamatan.
d. Tujuh bakal calon sah yang memperoleh dukungan suara terbanyak dapat
memperoleh kesempatan yang menyampaikan visi dan misinya dihadapan peserta
Rapat Anggota PPDI Kabuapten yang waktu serta acaranya akan diatur oleh Pimpinan
Rapat Anggota. (4) Tatacara dan proses pemilihan Pengurus harianPPDI Kabupaten
diatur sebagai berikut : (a) Rapat Anggota PPDI Kabupaten memilih secara berturut
turut ketua umum, 2 wakil ketua dalam satu paket, sekretaris dalam satu paket dan
Bendahara serta wakil bendahara dalam satu apket melalui pemungutan suara secara
bebas dan rahasia. (b) Calon Pengurus harus tercantum dalam daftar nama calon
tetap yang diusulkan Pengurus PPDI kecamatan. (c) Ketujuh Pengurus Harian terpilih
tersebut bertindak selaku formatur dengan wewenang Rapat Anggota PPDI kabupaten
bertugas melengkapi susuann Pengurus PPDI Kabupaten yang memnuhi syarat sesuai
dengan psal 16 dan pasal 17. (d) Formatur wajib melengkapi susunan Pengurus PPDI
Kabupaten dari nama-nama yangtercantum dalam daftar calon yang diseleksi oleh
Rapat Anggota PPDI Kabupaten tersebut. (e) Pemilihan Pengurus PPDI Kabuapten
dipimpin oleh Pengurus PPDI Provinsi yang dibantu oleh panitia Pelaksana pemilihan
Pengurus PPDI Kabupaten yang susunan dan kenaggotannya disahkan oleh rapat
Anggota PPDI Kabupaten tanpa mengikutsertakan anggota Pengurus PPDI Kabupaten
yang lama. (5) Serah terima Pengurus PPDI Kabupaten lama kepada Pengurus PPDI
Kabupaten baru dilakukan dihadapan peserta Rapat Anggota PPDI Kabupaten yang
bersangkutan. (6) Sebelum memulai tugasnya, seluruh anggota Pengurus PPDI
Kabupaten dilantik oleh Pengurus PPDI Provinsi dan mengucapkan janji dihadapan
peserta Rapat Anggota PPDI Kabupaten yang memilihnya. (7) Dalam hal terjadi
kekosongan PPDI Kabupaten dan hasilnya dilaporkan kepada Rapat Kerja Kabupaten,
kecuali untuk jabatan Pengurus harian terpilih pengisiannya wajib dilakukan oleh
Rapat Kerja Kabupaten dengan tetap mengindahkan pasal 16 dan pasal 17 Anggaran
Rumah Tangga. BAB XI PENGURUS KECAMATAN Pasal 26 Susunan Pengurus (1)
Anggota Pengurus PPDI Kecamatan dengan susunan sebagai berikut : (a) Pengurus
Harian, sebanyak-banyaknya 5 orang. 1. Ketua 2. Wakil Ketua 3. Sekretaris 4. Wakil
Sekretaris 5. Bendahara 6. Wakil Bendahara (b) Pengurus Harian PPDI Kecamatan
dapat dilengkapi sekretaris bidang tertentu. (2) Pembagian tugas dan fungsi sekretaris
bidang dapat dilaksanakan berdasarkan acuan pada pembagian tugas dan fungsi
sekretaris bidang di Pengurus PPDI kabupaten. Pasal 27 Tugas dan Tanggungjawab
Pengurus PPDI Kecamatan (1) Pengurus PPDI Kecamatan bertugas menentukan
kebijakan organisasi dan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan-
keputusan Muswil PPDI Provinsi, RapatAnggota PPDI kabupaten, Rapat Anggota
Kecamatan, Rapat Kerja Kecamatan dan Rapat Pengurus PPDI Kecamatan di
wilayahnya. (2) Penjabaran tugas Pengurus PPDI kecamatan diatur tersendiri dalam
ketentuan organisasi yang menjadi bagian tak terpisahkan dan tikda bertentangan
dengan AD/ ART. (3) Tugas pokok Pengurus PPDI Kecamatan meliputi : (a) Mengawasi,
mengkoordinasi, membimbing dan membina aktifitas Pengurus PPDI Kecamatan. (b)
Menegakkan disiplin organisasi dan mengatur ketertiban serta kelancaran keuangan
pengurus Pusat, Pengurus PPDI Provinsi, Pengurus PPDI kabupaten dan Pengurus PPDI
Kecamatan. (4) Pengurus PPDI Kecamatan bertanggungjawab atas pelaksanaan Kode
Etik Perangkat Desa Indonesia, Ikrar Perangkat Desa Indonesia. Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga. Keputusan-keputusan Munas, Munas Luar Biasa, Rakernas ,
Muswil PPDI Provinsi, Rakerwil PPDI Provinsi, Rapat Anggota PPDI Kabupaten, Rapat
Kerja Kabupaten, Rapat Anggota Kecamatan dan Rapat Kerja Kecamtan. (5) Pengurus
PPDI Kecamatan bertanggungjawab kepada rapat anggota PPDI Kecamatan atas
kepengurusan organisasi untuk masa baktinya. (6) Pengurus PPDI Kecamatan
merupakan badan pelaksana tertinggi di wilayahnya yang bersifar kolektif
berlandaskan pada prinsip keterbukaan, tanggungjwab, demokrasi dan kekeluargaan.
(7) Pengurus PPDI Kecamatan berkewajiban mengirim laporan kepada Pengurus PPDI
Kabupaten dengan tembusan Kepada Pengurusan PPDI Provinsi setiap enam bulan
sekali. Pasal 28 Pemilihan Pengurus PPDI Kecamatan (1) Pengurus PPDI Kecamatan
dipilih oleh Rapat Anggota PPDI Kecamatan yang diadakan setelah masa bahaktinya
berakhir. (2) Rapat Anggota PPDI Kecamatan memilih secara berturut-turut ketua, 1
Wakil Ketua dan Sekretaris melalui pemungutan suara secara bebas dan rahasia. (3)
Ketiga pengurus tersebut bertindak selaku formatur dengan wewenang dari Rapat
Anggota untuk melengkapi susunan Pengurus PPDI Kecamatan seperti yang termaksud
dalam pasal 16 dan pasal 17. (4) Formatur wajib melengkapi susunan Pengurus PPDI
Kabupaten dari nama-nama yang tercantum dalam daftar calon yang diseleksi dan
disahkan oleh Rapat Anggota PPDI Kecamatan tersebut. (5) Pencalonan Pengurus PPDI
Kecamatan dilaksanakan oleh Rapat Anggota PPDI Kecamatan. (6) Serah terima
Pengurus PPDI Kecamatan lama kepada Pengurus PPDI Kecamatan baru dilakukan
lengsung dalam Rapat Anggota PPDI kecamatan itu juga. (7) Sebelum memulai
tugasnya, Pengurus PPDI Kecamatan mengucapkan janjidan dilantik oleh pengurus
PPDI Kabupaten dihadapan peserta Rapat Anggota PPDI Kecamatan yang memilihnya.
(8) Dalam hal terjadi kekosongan anggota Pengurus PPDI Kecamatan, pengisiannya
dilakukan oleh Rapat Pengurus PPDI Kecamatan, kecuali untuk jabatan Pengurus
harian terpilih pengisiannya wajib dilakukan oleh Rapat kerja Kecamatan dengan tetap
mengindahkan pasal 16 dan pasal 17 anggaran rumah tangga. BAB XII FORUM
ORGANISASI Pasal 29 Jenis Forum organisasi Jenis forum organisasi : (1) Jenis
Forum organisasi PPDI terdiri dari a. Muyawarah Nasional PPDI disebut Munas b.
Munas Luar Biasa PPDI di sebut MunasLub c. Musyawarah Kerja Nasional disebut
Muskernas d. Rapat Kerja Nasional disebut Rakernas e. Rapat Pimpinan Nasional
disebut Rapimnas f. Rapat Koordinsai nasional disebut Rakornas (2) Jenis
Forum organisasi PPDI Propinsi terdiri dari : a. Muyawarah Wilayah PPDI Propinsi
disebut Muswil b. Musyawarah Luar Biasa PPDI Propinsi di sebut Muswilub c.
Musyawarah Kerja Wilayah PPDI Propinsi disebut Muskerwil d. Rapat Kerja Wilayah
PPDI Propinsi disebut Rakerwil e. Rapat Pimpinan Wilayah PPDI Propinsi disebut
Rapimwil f. Rapat Koordinsai Wilayah PPDI Propinsi disebut Rakorwil (3) Jenis
Forum Organisasi PPDI Kabupaten a. Muyawarah Daerah PPDI Kabupaten disebut
MUSDA b. Musyawarah Daerah Luar Biasa PPDI Kabupaten di sebut MUSDALUB
c. Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten disebut MUSKERDA d. Rapat Kerja
Daerah PPDI Kabupaten disebut RAKERDA e. Rapat Pimpinan Daerah PPDI
Kabupaten disebut RAPIMDA f. Rapat Koordinsai Daerah PPDI Kabupaten disebut
RAKORDA (4) Jenis Forum Organisasi PPDI Tingkat Kecamatan a. Muyawarah
PPDI Kecamatan disebut MUSCAM b. Musyawarah Luar Biasa PPDI Kecamatan di
sebut MUSCAMLUB c. Musyawarah Kerja PPDI Kecamatan disebut MUSKERCAM
d. Rapat Kerja PPDI Kecamatan disebut RAKERCAM e. Rapat Koordinsai PPDI
Kecamatan disebut RAKORCAM Pasal 30 Kourum (1) Munas dianggap sah apabila di
hadiri sekurang-kurangnya setengah plus satu dari jumlah kabupaten yang ada
kepengurusannya. (2) Muswil dianggap sah, apabila dihadiri sekurang-kurangnya
setengah plus satu dari jumlah Kabupaten yang ada kepengurusanya. (3) Musda
dianggap sah, apabila dihadiri sekurang-kurangnya setengah plus satu dari jumlah
Kecamatan yang ada kepengurusanya. (4) Muscam dianggap sah,apabila dihadiri
sekurang-kurangnya setengah plus satu dari jumlah anggota sekecamatan. (5) JIka
suatu rapat terpaksa ditunda karena tidak memenuhi kourum maka rapat akan
diadakan 30 hari Pasal 31 Pengambilan Keputusan (1) Keputusan diambil dengan cara
musyawarah untuk mufakat. (2) Apabila upaya untuk mencapai mufakat tidak berhasil
makan diputuskan dengan suara terbanyak. BAB XIII MUNAS Pasal 32 Waktu dan Sifat
(1) Munas diselenggarakan dan dipimpin oleh Pengurus pusat setiap lima tahun
sekali. (2) Munas Luar Biasa diadakan jika : (a) Jika Mukernas menganggap perlu,
atas dasar keputusan yang disetujui paling sedikit 2/3 (duapertiga) jumlah suara yang
hadir. (b)Atas permintaan lebih dari 2/3 (Dua pertiga ) jumlah Kabupaten yang ada
kepengurusannya. (c) Bila dipandang perlu oleh pengurus pusat dan disetujui
MUKERNAS (3) Dalam jangka waktu waktu selambat-lambatnya 6 bulan sesudah
keputusan atau permintaan tersebut ayat (2) (a), (b) dan (c) pasal ini diterima.
Pengurus Pusat wajib menyelenggarakan Munas Luar Biasa. (4) Munas Luar Biasa
Khusus yang membicarakan pembubaran organisasi dapa dilaksanakan atas
permintaan sekurang-kurangnya 2/3 (duapertiga) jumlah Kabupaten yang mewakili
sedikit 2/3 (duapertiga) jumlah suara. Pasal 33 Peserta Munas (a) Pengurus Pusat PPDI
(c) Utusan PPDI Provinsi (d) Utusan PPDI Kabupaten Pasal 34 Hak Bicara dan Hak Suara
(1) Tiap peserta mempunyai hak bicara (2) Hak suara hanya ada pada utusan
Kabuapten (3) Tiap-tiap Kabuapten mempunya 1 (satu) suara untuk jumlah sampai
dengan 2000 anggota (4) Jumlah suara Kabupaten sedikitnya 1 dan sebanyak-
banyaknya 3 suara (5) Satu Kabupaten boleh mewakili hanya satu Kabupaten lain
yang berhalangan menghadiri Munas dengan mandate yang sah. (6) Mandat untuk
mewakili Kabupaten yang dimaksud dalam ayat (5) pasal ini tidak boleh diberikan
kepada Pengurus PPDI Provinsi, Pengurus Pusat dan Anggota Penasihat. Pasal 35 Acara
Munas (1) Acara pokok Munas paling sedikit wajib membahas dan menetapkan hal-hal
sebagai berikut : (a) Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Pusat, mengenai hal-
hal : - Kegiatan pelaksanaan program organisasi selama satu masa bhakti ;
- Kebijakan keuangan organisasi, inventaris dan kekayaan organisasi. (b)
Penetapan program Kerja termasuk rencana anggaran keuangan untuk masa bhakti
yang akan datang (c) Pemilihan pengurus Pusat (2) Acara lainnya yang
ditetapkan dan disahkan Munas sesuai kewenangan yang diatur dalam AD dan ART
serta peraturan organisasi Pasal 36 Tim Pemeriksa Keuangan (1) Untuk memeriksa
keungan dan kekayaan yang menjadi tanggung jawab Pengurus semua tingkatan
dilaksanakan oleh Tim Pemeriksa Keuangan yang dibetuk oleh musyawarah tertinggi
di tingkatan. (2) Tim tersebut terdiri atas 5 orang (3) Tim Pemerikasa Keuangan
memilih ketua, sekretaris, dan pelapor serta melaporkan hasil pekerjaan kepada
musyawarah tersebut. (4) Seluruh pembiayaan panitia menjadi tanggung jawab
Pengurus Pusat dan dimasukkandalam anggaran Musyawarah Nasional ( Munas ) Pasal
37 Panitia Pemerikasa Mandat dan Hak Suara (1) Pengurus Pusat membentuk Panitia
Pemeriksa Mandat dan Hak Suara, yang bertugas : (a) Memrikasa mandate dan hak
suara Pengurus Kabupaten yang mengirim utusannya ke Munas (b) Melaporkan
hasilnya kepada Munas (2) Panitia beranggotakan sebanyak 12 orang mewakili 12
Provinsi yang tidak merangkap Panitia Pemeriksa Keuangan. (3) Panitia Pemeriksa
Mandat dan hak Suara wajib menyelesaikan tugasnya sebelum siding pertama Munas
dimulai. (4) Panitia memilih ketua, sekretaris dan pelapor hasil pekerjaannya kepada
Munas. (5) Jumlah suara Kabupaten dalam Munas ditetapkan berdasarkan daftar
anggota Kabupaten di Pengurus Pusat yang ditutup 2 bulan sebelum Munas dimulai.
Pasal 38 Panitia Pemilihan Pengurus Pusat (1) Panitia Pemilihan Pengurus pusat terdiri
atas utusan Pengurus PPDI Provinsi masingmasing 1 orang wakil (2) Panitia bertugas
mempersiapkan dan melaksanakan pemilihan pengurus serta menyusun berita acara
hasil pemilihan yang dilaporkan kepada Munas (3) Panitia Pemilihan memilih Ketua,
Sekretaris dan Pelapor serta melaporkan hasil pekerjaannya kepada Munas BAB XIV
MUSYAWARAH KERJA NASIONAL Pasal 39 Status (1) Musyawarah Kerja Nasional
adalah rapat antar Pengurus PPDI Provinsi yang diselenggarakan dan dipimpin oleh
Pengurus Pusat dan merupakan instasi tertinggi di bawah Munas (2) Tugas
Musyawarah Kerja Nasional adalah menetapkan garis kebijakan yang ada dalam
keputusan Munas selama masa antara Munas. (3) Pengurus PPDI provinsi ikut
bertanggung jawab tentang Keputusan Musyawarah Kerja Nasional kepada
Musyawarah Nasional Pasal 40 Waktu (1) Musyawarah Kerja Nasional satu tahun sekali
(2) Musyawarah Kerja Nasional pertama dalam masa bhakti yang baru diadakan
selambat-lambatnya 7 bulan setelah Munas. (3) Musyawarah Kerja Nasional terakhir
dalam masa bhakti itu diadakan selambat-lambatnya 3 bukan sebelum Munas (4)
Musyawarah Kerja Nasional dapat juga diadakan : (a) Jika Pengurus Pusat
menganggap perlu (b) Atas permintaan (seperdua) jumlah Pengurus PPDI Provinsi
dan dalam jangka waktu 2 bulan sesudah permintaan tersebut. Pengurus Pusat wajib
menyelanggarakannya. Pasal 41 Peserta pengurus PPDI Provinsi Peserta Musyawarah
Kerja Nasional terdiri dari : (a) pengurus Pusat PPDI (b) Utusan Pengurus PPDI Provinsi,
Kabupaten Pasal 42 Hak Bicara dan Hak Suara (1) Dalam Musyawarah Kerja Nasional
semua peserta mempunyai hak bicara (2) Hak suara ada pada utusan-utusan PPDI
Provinsi dengan ketentuan sebagai berikut : (a) Tiap PPDI Provinsi sekurang-kurangnya
1 suara dan sebanyak-banyaknya 5 suara. (b) Tiap 30.000 anggota berhak 1 suara.
Pasal 43 Kewajiban Musrawarah Kerja Nasional (1) Membahas dan menilai cara
pelaksanaan Keputusan Munas oleh Pengurus Pusat. (2) Menetapkan ketentuan-
ketentuan umum, rencana kerja tahunan dan kebijakan yang bersifat nasional yang
belum ditetapkan dalam Munas. Masa bhakti kepengurusan wajib menetapkan
program kerja Pengurus Pusat selama lima tahunan. (3) Musyawarah Kerja Nasional
terakhir dari masa bhakti kepengurusan wajib menetapkan Panitia Pemeriksa
Keuangan Pengurus Pusat dan Panitia Pemeriksa Mandat dan hak Suara untuk Munas
yang akan datang. BAB XV MUSYAWARAH WILAYAH PROPINSI Pasal 44 Waktu (1)
Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi diadakan dan dipimpin oleh Pengurus PPDI
Provinsi tiap lima tahun sekali (2) Musyawarah Wilayah Luar Biasa PPDI Provinsi Luar
Biasa diadakan : (a) Atas permintaan MUKERWIL PPDI Propinsi berdasarkan keputusan
2/3 ( Dua Pertiga ) suara yang hadir. (b) Atas permintaan lebih dari (seperdua)
jumlah Kecamatan yang mewakili lebih dari ( seperdua) jumlah suara. (c) Atas
permintaan Pengurus Pusat Pasal 45 Peserta Peserta Musyawarah Wilayah Provinsi
terdiri dari : (a) utusan PPDI Kabupaten (b) Pengurus PPDI Propinsi (c) Pengurus PPDI
Provinsi (d) Utusan Pengurus Pusat Pasal 46 Hak Bicara dan Hak Suara (1) Dalam
Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi semua peserta mempunyai hak bicara (2) Hak
suara hanya ada pada utusan-utusan PPDI Kecamatan (3) Tiap PPDI Kecamatan
memiliki 1 suara untuk 200 orang angota. (4) Jumlah suara 1 PPDI kecamatan
sedikitnya 1 dan sebanyak-banyaknya 3 suara. (5) PPDI Kecamatan boleh mewakili 1
PPDI Kecamtan lain yang berhalangan menghadiri Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi
dengan mandate yang sah. Pasal 47 Acara Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi (1)
Acara pokok Muswil PPDI Provinsi paling sedikit wajib membahas dan menetapkan hal-
hal sebagai berikut : (a) Laporan pertanggungjawaban Pengurus PPDI Provinsi,
mengenai hal-hal : - Kegiatan pelaksanaan program organisasi selama satu masa
bhakti ; - Kebijakan keuangan organisasi, invetaris dan kekayaan organisasi. (b)
Penetapan Program Kerja termasuk rencana anggaran keungan untuk masa bhakti
yang akan datang. (c) Pemilihan Pengurus PPDI Provinsi masa bhakti berikutnya. (2)
Acara lainnya yang ditetapkan dan disahkan dalam Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi
sesuai kewenangan yang diatur dalam AD dan ART serta peraturan organisasi. Pasal
48 Panitia Pemeriksa Keuangan (1) Untuk memeriksa keuangan dan kekayaan yang
menjadi tanggung jawab Pengurus Pusat dilaksanakan oleh Panitia Pemeriksa
Keuangan yang dibetuk oleh Konferensi Pusat terakhir sebelum MUNAS (2) Panitia
beranggotakan sedikit 3 orang yang mewakili dari 3 Kabupaten. Pasal 49 Panitia
Pemeriksa Mandat dan Hak Suara (1) Panitia Pemeriksa Mandat dan Hak Suara, yang
bertugas : (a) memeriksa mandate dan hak suara PPDI Kecamatan yang mengirim
utusannya ke Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi ; (b) melaporkan hasilnya kepada
Musyawarah Wilayah PPDI provinsi. (2) Panitia beranggotakan sebanyak 7 dan
sedikitnya 3 orang mewakili seluruh Kabupaten yang tidak merangkap Panitia
Pemeriksa Keuangan. (3) Panitia memilih Ketua, sekretaris dan pelapor serta
melaporkan hasil pekerjaannya kepada Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi. Pasal 50
Panitia Pemilihan Pengurus PPDI Provinsi (1) Panitia pemilihan Pengurus PPDI provinsi
terdiri atas utusan Pengurus PPDI kabupaten masing-masing 1 orang wakil. (2) Panitia
bertugas mempersiapkan dan melaksanakan pemilihan pengurus serta menyusun
berita acara hasil pemilihan yang dilaporkan kepada Musyawarah Wilayah ( Muswil )
PPDI Provinsi. (3) Panitia pemilihan memilih Ketua, Sekretaris dan Pelapor serta
melaporkan hasil pekerjaan kepada Musyawarah Wilayah ( Muswil ) PPDI provinsi. BAB
XVI MUSYAWARAH KERJA WILAYAH Pasal 51 Status, tugas dan Kewajiban (1)
Musyawarah Kerja Wilaya PPDI Provinsi adalah rapat antar Pengurus PPDI kabupaten
yang diselenggarakan dan dipimpin oleh Pengurus PPDI Provinsi dan merupakan
instansi tertinggi di bawah Musyawarah Wilayah PPDI Provinsi. (2) Tugas Musyawarah
Kerja Wilayah PPDI provinsi adalah menetapkan program tahunan dan kebijakan
organisasi sepanjang tidak bertentangan dengan keputusan Musyawarah Wilayah
( Muswil ) PPDI provinsi. (3) Pengurus PPDI kabupaten ikut bertanggungjawab tentang
Keputusan Musyawarah Kerja Wilayah PPDI Provinsi Kepada Muswil PPDI Provinsi.
Pasal 52 Waktu (1) Musyawarah Kerja Wilayah PPDI Provinsi diadakan satu tahun
sekali (2) Musyawarah Kerja Wilayah PPDI provinsi yang pertama dalam masa bhakti
PPDI Provinsi yang beru diadakan selambat-lambatnya 6 bulan setelah Musyawarah
Wilayah PPDI Provinsi. (3) Musyawarah Kerja Wilayah PPDI Provinsi terakhir dalam
masa bahkti itu diadakan selambatlambatnya 3 bulan sebelum Musyawarah Wilayah
PPDI Provinsi. (4) Musyawarah Kerja Wilayah PPDI Provinsi dapat juga diadakan : (a)
Jika Pengurus PPDI Provinsi dapat juga diadakan: (b) Atas permintaan + 1
(seperdua plus satu ) dari Kabupaten yang sudah ada pengurusnya. (c) Atas
permintaan Pengurus Pusat. Pasal 53 Peserta Peserta Musyawarah Kerja Wilayah PPDI
Provinsi terdiri dari : (a) Pengurus PPDI Kabupaten / Utusan (b) Pengurus PPDI Propinsi
(c) Pengurus PPDI Pusat Pasal 54 Hak Biacara dan Hak Suara (1) Dalam Musyawarah
Kerja Wilayah PPDI provinsi tiap peserta mempunyai hak bicara (2) Hak suara ada
pada utusan-utusan Pengurus PPDI Kabupaten (3) Tiap PPDI Kabupaten mempunyai 1
suara untuk jumlah sampai 2000 anggota (4) Jumlah suara PPDI kabupaten sekurang-
kurangnya 1 suara dan sebanyak-banyaknya 5 suara. Pasal 55 Kewajiban Musyawara
Kerja Wilayah PPDI Provinsi (1) Membahas dan menilai cara pelaksanaan Keputusan
Muswil PPDI Provinsi. (2) Menetapkan rencana kerja tahunan dan kebijakan yang
belum ditetapkan dalam Muswil PPDI Provinsi (3) Menentukan penggantian anggota
pengurus harian terpilih antar waktu apabila terjadi kekosongan (4) Mambahas dan
menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi (RAPBO) Pengurus
PPDI Provinsi untuk tahun mendatang. (5) Musyawarah Kerja Wilayah PPDI Provinsi
menjelang Munas sedikit menetapkan calon-calon anggota Panitia Pemilihan Pengurus
Pusat. BAB XVII MUSYAWARAH DAERAH PPDI KABUPATEN Pasal 56 Waktu (1)
Musyawarah Daerah PPDI Kabupaten diadakan dan dipimpin oleh Pengurus PPDI
Kabupaten tiap lima tahun sekali (2) Musyawarah Daerah ( Musda ) PPDI Luar Biasa
Kabupaten dapat juga diadakan : (a) Kalau Pengurus PPDI Kabupaten menganggap
perlu dan disetujui Rapat KErja Kabupaten. (b) Atas permintaan lebih dari
(seperdua) jumlah Kecamatan yang mewakili lebih dari (seperdua) jumlah suara. (c)
Atas permintaan Pengurus PPDI Provinsi (3) Dalam jangka waktu 2 bulan sesudah
salah satu dan atau semua permintaan tersebut diterima Pengurus PPDI Kabupaten
wajib menyelenggarakannya. Pasal 57 Peserta Peserta Musyawarah Daerah PPDI
Kabupaten terdiri dari : (a) Pengurus Kecamatan (b) Pengurus PPDI Kabupaten (c)
Pengurus PPDI Provinsi utusan Pasal 58 Hak Bicara dan Hak suara (1) Dalam
Musyawarah Daerah PPDI Kabupaten semaua peserta mempunyai hak Bicara (2) Hak
suara hanya pada utusan utusan PPDI Kecamatan (3) Jumlah suara 1 PPDI
kecamatan sedikitnya 1 suara dan sebanyak banyaknya 5 suara (4) PPDI Kecamatan
boleh mewakili 1 PPDI Kecamatan lain yang berhalangan menghadiri Musyawarah
Daerah PPDI Kabupaten dengan mandate yang sah. Pasal 59 Acara Musyawarah
Daerah PPDI Kabupaten (1) Acara pokok Rapat Anggota PPDI Kabuapten paling sedikit
wajib membahas dan menetapkan hal-hal sebagai berikut : (a) Laporan
Pertanggungjawaban Pengurus PPDI Kabupten, mengenai hal- hal : a. Kegiatan
pelaksanaan program organisasi, inventaris dan kekayaan organisasi, b. Kebijakan
keuangan organisasi, inventaris dan kekayaan organisasi. (b) Penetapan Program Kerja
termasuk rencana anggaran keuangan untuk masa bhakti yang akan datang. (c)
Pemilihan Pengurus PPDI Kabuapten masa bhakti berikutnya. (2) Acara lainnya yang
ditetapkan dan disahkan dalam Rapat Anggota PPDI Kabupaten sesuai kewenangan
yang diatur dalam AD dan ART serta peraturan organisasi. Pasal 60 Panitia Pemeriksa
Keuangan (1) Untuk memeriksa keuangan dan kekayaan yang menjadi tanggung
jawab Pengurus PPDI Kabupaten dilaksanakan oleh Panitia Pemeriksa Keuangan yang
dibentuk oleh Rapat Anggota PPDI Kabupaten. (2) Panitia beranggotakan sedikitnya 3
orang yang mewakili dari 3 Kecamatan. Pasal 61 Panitia Pemeriksa Mandat dan Hak
Suara (1) Panitia pemeriksa Mandat dan Hak Suara, yang bertugas : (a) Memeriksa
mandate dan hak suara PPDI Kecamatan yang mengirim utusannya ke Musyawarah
Daerah PPDI Kabupaten (b) Melaporkan hasil kepada Musyawarah Daerah PPDI
Kabupaten. (2) Panitia beranggotakan sebanyak 7 dan sedikitnya 3 orang mewakili
seluruh Kecamatan yang tidak merangkap Panitia Pemeriksa Keuangan. (3) Panitia
memilih ketua, sekretaris dan pelapor serta melaporkan hasil pekerjaannya kepada
Musyawarah Daerah PPDI Kabupaten. Pasal 62 Panitia Pemilihan Pengurus PPDI
Kabupaten (1) Panitia Pemilihan Pengurus PPDI Kabupaten terdiri atas utusan Pengurus
PPDI Kecamatan masing-masing 1 orang wakil. (2) Panitia bertugas mempersiapkan
dan melaksanakan pemilihan pengurus serta menyusun berita acara hasil pemilihan
yang dilaporkan kepada Musyawarah daerah PPDI Kabupaten. (3) Panitia Pemilihan
memilih Ketua, Sekretaris, dan Pelapor serta melaporkan hasil pekerjaan kepada
Musyawarah Daerah PPDI Kabupaten. BAB XVIII MUSYAWARAH KERJA DAERAH PPDI
KABUPATEN Pasal 63 Status dan Tugas (1) Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten
adalah rapat antar Pengurus PPDI Kecamatan yang diselenggarakan dan dipimpin oleh
Pengurus PPDI Kabupaten dan merupakan instansi tertinggi di bawah Musyawarah
Daerah PPDI Kabupaten. (2) Tugas Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten adalah
menetapkan program tahunan dan kebijakan organisasi sepanjang tidak bertentangan
dengan Rapat Anggota PPDI Kabuapten. (3) Musyawarah Kerja Daerah PPDI
Kabuapten dapat menentukan penggantian anggota Pengurus harian terpilih antar
waktu apabila terjadi kekosongan. Pasal 64 Waktu (1) Musyawarah Kerja Daerah
( Muskerda ) PPDI Kabupaten diadakan satu tahun sekali (2) MUSKERDA PPDI
Kabupaten yang Pertama dalam masa bhakti PPDI Kabupaten yang baru diadakan
selambat-lambatnya 6 bulan setelah Musyawarah Daerah ( Musda ) PPDI Kabuapten.
(3) Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten terakhir dalam masa bhakti itu
diadakan selambat lambatnya 3 bulan sebelum Musyawarah Daerah PPDI Kabupaten.
(4) Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten dapat juga diadakan: (a) Jika Pengurus
PPDI Kabupaten menganggap perlu (b) Atas permintaan Pengurus PPDI Provinsi. (c)
Atas permintaan Pengurus PPDI Provinsi (d) Atas permintaan Pengurus Pusat (5) Dalam
jangka waktu 2 bulan sesudah salah satu dan atau semua permintaan tersebut
diterima Pengurus PPDI Kabupaten wajib menyelenggarakan. Pasal 65 Peserta Peserta
Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten terdiri dari : (a) Pengurus PPDI Kecamatan
(b) Pengurus PPDI Kabupaten (c) Pengurus PPDI Provinsi Pasal 66 Hak bicara dan Hak
Suara (1) Dalam Rapat Kerja PPDI Kabupaten tiap peserta mempunyai hak bicara (2)
Hak suara ada apda utusan-utusan Pengurus PPDi Kecamatan (3) Jumlah suara PPDI
Kecamatan sekurang-kurangnya 1 suara sebanyak-banyaknya 5 suara. Pasal 67
Kewajiban Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten (1) Membahas dan menilai cara
pelaksanaan Keputusan Musyawarah Daerah PPDI Kabuapten. (2) Menetapkan
rencana kerja tahunan dan kebijakan yang belum ditetapkan dalam Musyawarah
Daerah PPDI Kabupaten. (3) Menentukan penggantian anggota pengurus harian
terpilih antar waktu apabila terjadi kekosongan (4) Membahas dan menetapkan
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi (RAPBO) Pengurus PPDI
Kabupaten untuk tahun mendatang. (5) Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten
menjelang MUSWIL sedikitnya menetapkan calon-calon anggota Panitia Pemilihan
Pengurus Propinsi (6) Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten menjelang Musda
sedikitnya menetapkan calon-calon anggota Pengurus Pusat dan menjelang
Musyawarah Daerah Kabupaten menetapkan calon anggota Panitia Pemilihan
Pengurus Kabupaten. BAB XIX MUSYAWARAH PPDI KECAMATAN Pasal 68 Musyawarah
Kecamatan (1) Musyawarah Kecamatan ( Muscam ) PPDI kecamatan diselenggarakan
dan dipimpin oleh pengurus PPDI Kecamatan tiap 3 tahun sekali pada akhir masa
bhakti kepengurusan PPDI Kecamatan. (2) Rapat Anggota PPDI Kecamatan Luar Biasa
dapat juga diadakan. (a) Jika Pengurus PPDI Kecamatan menganggap perlu (b) Atas
permintaan sekurang-kurangnya + 1( seperdua + satu ) jumlah anggota PPDI
Kecamatan. (c) Atas permintaan Pengurus PPDI Kabupaten (d) Atas
permintaan Pengurus PPDI Provinsi (3) Peserta rapat Anggota PPDI Kecamatan terdiri
dari : (a) Seluruh anggota PPDI Kecamatan (b) Pengurus PPDI Kecamatan (c) Wakil
Pengurus PPDI Kabupaten (d) Wakil Pengurus PPDI Provinsi (4) Semua anggota
berdasarkan undangannnya mempunyai hak bicara (5) Hak bicara dan hak suara ada
pada semua anggota PPDI Kecamatan yang hadir (6) Anggota yang tidak hadir
dianggap tidak mengunakan hak biacara dan hak suaranya (7) Acara pokok Rapat
Anggota PPDI Kecamatan wajib membahasdan menetapkan antara lain : (a) Laporan
pertanggungjawaban Pengurus PPDI Kecamatan termasuk kebijakan keuangan dalam
masa bhaktinya (b) Rencana kerja termasuk anggaran keuangan dalam masa bhakti
yang akan datang. (c) Pemilihan Pengurus PPDI Kecamatan (8) Pada dasarnya segala
ketentuan tentang penyelenggaraan Musyawarah PPDI Kecamatan disesuaikan
berdasarkan ruang lingkup dan tingkatannya. Pasal 69 MUSYAWARAH KERJA
KECAMATAN (1) Muskercam PPDI Kecamatan diadakan dan dipimpin oleh Pengurus
PPDI Kecamatan (2) Muskercam PPDI Kecamatan dapat juga diadakan : (a) Jika
Pengurus PPDi Kecamatan menganggap perlu (b) Atas permintaan sekurang-
kuranganya 9seprdua) jumlah anggota PPDi Kecamatan (c) Atas permintaan
Pengurus PPDI Kabupaten (d) Atas permintaan Pengurus PPDI Provinsi (3) Dalam
jangka waktu 1 bulan setelah salah satu dan atau semua permintaan tersebut dalam
ayat (2) pasal ini diterima. Pengurus PPDI Kecamatan wajib menyelenggarakannya. (4)
Peserta Rapat Kerja PPDI Kecamatan: (a) Seluruh anggota PPDI Kecamatan (b)
Pengurus PPDI Kecamatan (c) Pengurus Kabupaten Utusan (5) Hak bicara dan hak
suara ada pada semua anggota PPDI Kecamatan yang hadir dengan ketentuan 1
anggota 1 suara (6) Anggota yang tidak hadir di anggap tidak menggunakan hak
bicara dan hak suaranya (7) Pada dasarnya segala ketentuan tentang
penyelenggaraan Musyawarah Kerja Daerah PPDI Kabupaten berlaku juga pada
penyelenggaraan Musyawarah Kerja Kecamatan PPDI Kecamatan dengan disesuaikan
berdasarkan ruang lingkup dan tingkatannya. BAB XX RAPAT KERJA DAN PERTEMUAN
LAIN Pasal 70 Rapat Pengurus (1) Rapat Pengurus/Pengurus Harian di setiap tingkatan
diadakan sesuai keperluan dan sekurang-kurangnya diselenggarakan 1 kali sebulan.
(2) Rapat Pengurus Lengkap Pimpinan Organisasi diselenggarakan sekurang-
kurangnya 3 bulan sekali. (3) Rapat Pleno Lengkap Organisasi yang dihadiri oleh
seluruh Pengurus Organisasi, dan Badan Penasihat diadakan sekurang-kurangnya 3
bulan sekali. (4) Rapat Pengurus Lengkap dapat juga diadakan atas permintaan
jumlah anggota Pengurus Langkap dan atau ada hal-hal yang mendesak. (5)
Pertemuan khusus antara berbagai pihak secara terpisah dapat diasakan sesuai
keperluan. (6) Dalam rapat tersebut semua anggota yang hadir mempunyai hak bicara
dan hak suara yang sama. Pasal 71 Pertemuan Lain Pertemuan lain dapat
diselenggarakan oleh pengurus organisasi di semua tingkatan apabila di perlukan
dalam upaya kelancaran pelaksanaan misi organisasi. BAB XXI BADAN PENASEHAT
DAN PEMBINA Pasal 72 Badan Penasehat / Pembina Pengurus Pusat (1) Atas usul
Pengurus Pusat, Munas menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Penasihat
Pembina Pusat yang sedikitnya berjumlah 9 orang dan terdiri atas tokoh-tokoh
dibidang pemerintahan, kemasyarakatan dan para ahli yang berkaitan dengan
pemerintahan dan ketenagakerjaan. (2) Badan Penasihat / Pembina baik diminta atau
tidak bertugas member nasihat dan mebina serta memberikan saran-saran kepada
Pengurus Pusat. (3) Masa bhakti Badan Penasihat / Pembina Pusat sama dengan masa
Bhakti Pengurus Pusat. Pasal 73 Badan Penasihat / Pembina Pengurus PPDI Provinsi (1)
Atas usul Pengurus PPDI Provinsi yang baru, Musyawarah Wilayah Provinsi
menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Provinsi yang sedikitnya berjumlah 7
orang dan terdiri atas tokoh-tokoh dibidang pemerintahan , kemasyarakatan dan para
ahli yang berkaitan dengan pemerintahan dan ketenagakerjaan. (2) Badan Penasihat /
Pembina baik diminta atau tidak bertugas memberikan nasihat dan saran-saran
kepada Pengurus Propinsi (3) Masa bhakti Badan Penasihat Provinsi sama dengan
masa Bhakti Provinsi. Pasal 74 Badan Penasihat Pembina pengurus PPDI Kabupaten
(1) Atas usul Pengurus PPDI Kabupaten, Musyawarah Daerah Kabupaten menetapkan
susunan dan keanggotaan Badan Penasihat Kabupaten yang sedikitnaya berjumlah 5
orang dan terdiri atas tokoh-tokoh dibidang pemerintahan, kemasyarakatan dan para
ahli yang berkaitan dengan pemerintahan dan ketenagakerjaan. (2) Badan Penasihat /
Pembina baik diminta atau tidak bertugas memeberi nasihat dan saran-saran kepada
Pengurus Kabupaten (3) Masa bhakti Badan Penasihat Kabupaten sama dengan masa
Bhakti Pengurus kabupaten. Pasal 75 Badan Penasihat / Pembina Pengurus PPDI
Kecamatan (1) Atas usul Pengurus PPDI Kecamatan, Muscam Kecamatan menetapkan
susunan keanggotaan Badan Penasihat/ Pembina Kecamatan yang sedikitnya
berjumlah 3 orang dan terdiri atas tokoh-tokoh dibidang pemerintahan,
kemasyarakatan dan para ahli yang berkaitan dengan pemerintahan dan
ketenagakerjaan. (2) Badan Penasihat baik diminta atau tidak bertugas memberi
nasihat dan saran-saran kepada Pengurus Kecamatan. (3) Masa bhakti Badan
Penasihat Kecamatan sama dengan masa Bhakti Pengurus Kecamatan. BAB XXII
MAJELIS KEHORMATAN ORGANISASI DAN KODE ETIK PROFESI Pasal 76 Status,
Kedudukan dan Wewenang (1) Jika dianggap perlu Badan Pemimpin Organisasi tingkat
Kabupaten dapat membentuk Majelis Kehormatan Organisasi dan Kode Etik Profesi
sesuai dengan tingkatnya. (2) Fungsi dan tugas Majelis Kehormatan Organisasi dan
Kode Etik Profesi ditingkat Kecamatan menjadi tanggung jawab Pengurus PPDI
Kabupaten. (3) Majelis Kehormatan Organisasi dan Kode Etik Profesi bertugas
memberikan saran, pendapat dan pertimbangan kepada Badan Pimpinan Organisasi
yang membentuknya tentang: (a) Pelaksanaan bimbingan, pengawasan, dan
penilaian dalam pelaksanaan disiplinorganisasi serta kode etik Perangkat Desa; (b)
Pelaksanaan, penegakan, dan pelanggaran disiplin organisasi yang terjadi di wilayah
kewenangannya; (c) Pelaksanaan dan cara penegakkan disiplin organisasi dan kode
etik Perangkat Desa; (4) Susunan Keanggitaan Majelis Kehormatan Organisasi dan
Kode ETIK Provesi terdiri dari unsure Badan Penasihat/Pembina , Badan Pimpinan
Organisasi, unsure keahlian lainnya sesuai dengan keperluan (5) Tatacara, tugas,
wewenang dan mekanisme kerja Majelis Organisasi dan Kode Etik diatur lebih lanjut
dalam ketentuan tersendiri. BAB XXIII PERBENDAHARAAN Pasal 77 Keuangan
Organisasi (1) Setiap anggota wajib membayar iuran Rp 5.000,-, tiap Bulan (2) Uang
iuran anggota ditetapkan oleh Rapat Kerja PPDI Provinsi minimal Rp. 5.000,- setiap
bulan, dengan rincian pendistribusian sebagai berikut; - Untuk pengurus Pusat 10 % -
Untuk Pengurus PPDI Profinsi Rp. 10% - Untuk Pengurus PPDI Kabupaten 30 % - Untuk
Pengurus PPDI Kecamatan 50 % (3) Pelaksanaan pengumpulan uang iuran melalui
rekening organisasi didistribusikan melalui pengurus kabupaten dan dipertanggung
jawabkan kepada Pengurus di bawah koordinasi Pengurus Provinsi. (4) Apabila
dipandang perlu pengurus kabupaten dapat menentukan besaran iuran dari ketentuan
tersebut dari ayat 2 Pasal 78 Kekayaan Organisasi (1) Pengurus disemua tingkatan
wajib mencatat dan menginventearisasikan kekayaan organisasi. (2) Senua
pemindahan hak, pelepasan, dan pemutasian kekayaan organisasi baik berupa barang
bergerak maupun barang tidak bergerak wajib mendapat persetujuan rapat pengurus
dan dipertanggung jawabkan pada forum organisasi tertinggi di wilayahnya (3)
Inventarisasi kekayaan organisasi menjadi bagian pertanggung jawaban pengurus.
Pasal 79 (1) Tim Pemeriksa Keuangan dan kekayaan yang menjadi tanggung jawa
pengurus semua tingkatan dilaksanakan oleh tim pemeriksa keungan yang dibentuk
oleh forum tertinggi di semua tingkatan. (2) Tim pemrik Keuangan terdiri dari 5 orang.
(3) Tim tersebut terdiri dari - Ketua - Sekretaris - Anggota BAB XXIV KETENTUAN
PERALIHAN Pasal 80 Paling lambat 1 tahun setelah berlakunya AD/ART ini semua
Badan kelengkapan organisasi dari Pusat sampai Kecamatan wajib melakukan
penyesuaian dengan isi dan materi AD/ART ini yang dilaksanakan melalui forum
organisasi sesuai tingkatannya. BAB XXV P E N U T U P Pasal 81 (1) Hal-hal lain yang
belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini diatur dan ditetapkan dalam
Peraturan Organisasi oleh Pengurus Pusat dan dipertanggungjawabkan kepada Munas
(2) Apabila terjadi perbedaan penafsiran atas materi AD/ART maka penafsiran yang
berlaku dan sah adalah penafsiran yang dilakukan oleh Pengurus Pusat sampai ada
penafsiran dalam Munas berikutnya. (3) Anggaran Rumah Tangga berlaku sejak
tanggal ditetapkan. Ditetapkan Oleh : Munas tahun 2011 Pada Tanggal : 22 Januari
2011 PENGURUS PUSAT PERSATUAN PERANGKAT DESA INDONESIA (PPDI)

Ketua Umum Sekretaris l Jendral


.