Vous êtes sur la page 1sur 2

Nama: Stephanie Jesslyn

NIM: 120100077

Aborsi

Kasus aborsi di Indonesia diperkirakan semakin meningkat tiap tahunnya. Berdasarkan data yang
dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), diperkirakan setiap
tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta jiwa dari 5 juta kelahiran pertahun. Bahkan,
1-1,5 juta diantaranya adalah kalangan remaja. Data yang dihimpun Komnas Perlindungan
Anak Indonesia (KPAI) menemukan dalam kurun waktu tiga tahun (2008-2010) kasus aborsi
terus meningkat. Tahun 2008 ditemukan 2 juta jiwa anak korban Aborsi, tahun berikutnya (2009)
naik 300.000 menjadi 2,3 juta janin yang dibuang paksa. Sementara itu, pada tahun 2010 naik
dari 200.000 menjadi 2,5 juta jiwa. 62,6 persen pelaku diantaranya adalah anak berusia dibawah
18 tahun. Metode aborsi 37 persen dilakukan melalui kuret, 25 persen melalui oral dan pijatan,
13 persen melalui cara suntik, 8 persen memasukkan benda asing ke dalam rahim dan selebihnya
melalui jamu dan akupunktur.

Ketua KPAI Maria Ulfah Anshor mengatakan bahwa pada 2003, rata-rata terjadi 2 juta kasus
aborsi per tahun. Lalu pada tahun berikutnya, 2004 penelitian yang sama menunjukkan kenaikan
tingkat aborsi yakni 2,1-2,2 juta per tahun. Kehamilan pranikah angkanya 12,7 persen, dan 87
persen dilakukan oleh perempuan yang memiliki suami. Data serupa juga diungkap oleh Inne
Silviane, Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat, pelaku
aborsi justru paling banyak adalah perempuan yang sudah menikah karena program KB-nya
gagal. Data studi PKBI di 12 kota dari tahun 2000-2011 juga menunjukkan, 73-83 persen wanita
yang ingin aborsi ialah wanita menikah karena kegagalan kontrasepsi (majalah Detik, Juli 2012).
Berapapun jumlah aborsi yang terjadi di Indonesia dan siapa pelakunya remaja atau wanita yang
sudah menikah, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menjadi penyebab aborsi ini angkanya
cenderung terus meningkat.

Beberapa kalangan meyakini faktor pendorong melakukan aborsi adalah kehamilan yang tidak
direncanakan akibat dari seks pranikah, perkosaan, dan kontrasepsi yang gagal. Pertama, seks
pranikah dilakukan saat usia mereka diliputi rasa penasaran dan ingin mencoba, tapi tidak mau
bertanya pada orang tua ataupun guru konseling, dan terlebih lagi pengetahuan mereka mengenai
kontrasepsi masih minim. Akhirnya, mereka mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang
salah seperti film porno. Orang tua harus memberi pendampingan dan pendidikan seks agar tidak
terjerumus pada hubungan seks pranikah. Karena, ujung-ujungnya yang menjadi korban adalah
perempuan jika kehamilan tidak diinginkan (KTD) terjadi, meskipun aborsi dilakukan maupun
tidak.

Kedua, perkosaan. Dalam kasus perkosaan jelas bahwa jika terjadi KTD, perempuan pasti akan
menolak keberadaan janin dalam rahimnya, perasaan dendam, tidak menginginkan, depresi,
harus menghadapi stigma miring masyarakat yang tidak menganggap ia sebagai korban.
Sehingga, aborsi menjadi solusi terbaik yang diambil. Ketiga, kontrasepsi yang gagal. Aborsi ini
sering dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah, dengan alasan ekonomi, melanjutkan
pendidikan, ikatan kerja, alasan tidak ingin menambah anak, serta alasan kesehatan.
Takut diangggap aib keluarga

Selain faktor diatas, ada faktor eksternal yang lebih mendorong terjadinya aborsi dilihat dari
konstruksi sosial kebanyakan perempuan mengambil keputusan aborsi karena faktor-faktor diluar
dirinya, perempuan takut akan kemarahan keluarga, tidak mau dianggap sebagai aib keluarga,
tertekan, perasaan belum siap menjadi ibu, dan malu pada lingkungannya. Masyarakat lebih
cenderung memberi penghakiman norma kesusilaan dan stigma negatif pada perempuan yang
mengalami KTD pranikah maupun pada anak yang di dalam rahimnya. Akhirnya, segala hal
tersebut terakumulasi dan aborsi dianggap solusi terbaik dari tekanan konstruksi sosial yang
terjadi. Sehingga, dampak dari pascaaborsi yang bisa mengancam kesehatan dan nyawa
perempuan terabaikan.

Peran negara seharusnya lebih mengayomi perempuan dalam masalah aborsi ini. Aborsi yang
aman dan terjangkau, dilakukan oleh ahli dalam bidangnya yang mengerti tentang protokol dan
hukum mengenai aborsi. Kesehatan reproduksi perempuan adalah hal yang pentingterkait
dengan dampak pasca-aborsi. Dalam rangka menekan terjadinya KTD bukan hanya kampanye
kondom tapi pengetahuan pendidikan seks dan pengetahuan aborsi yang aman berikut
dampaknya melakukan aborsi. Pengetahuan mengenai kontrasepsi yang sesuai dan terjangkau
perlu digalakkan pada setiap lapisan masyarakat. Bimbingan konseling perlu untuk mereka yang
mengalami KTD, agar aborsi bukan dijadikan solusi final. Ada banyak solusi lain yang bisa
dilakukan selain aborsi.

Peran orang tua dan sekolah harus turut serta dalam memberi pengetahuan pendidikan seks yang
sesuai jenjang umur anak. Orang tua harus terbuka pikirannya bahwa pendidikan seks bukanlah
hal yang tabu, tapi penting. Maka dari itu kedekatan antara orangtua dan anak harus terjalin.
Jangan sampai seorang anak melakukan seks pranikah, perkosaan, hanya karena alasan ingin
tahu akibat dari sumber informasi yang salah. Tindak aborsi bisa dapat dikendalikan angkanya,
jika KTD bisa diantisipasi sebelumnya. Stigma negatif pada perempuan yang mengalami KTD
dari seks pranikah, dan perkosaan dari masyarakat harus dirubah. Masyarakat harus menerima
merengkuh mereka sebagai wujud kampanye anti aborsi. Tidak ada aborsi yang aman,
kemungkinan efeknya tetap ada baik psikologis maupun berkaitan dengan kelangsungan
kesehatan reproduksi perempuan.