Vous êtes sur la page 1sur 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas

secara spontan dan teratur segera setelah lahir. (Wiknjosastro, 2007, hal 709)

Asfiksia akan terjadi apabila saat lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan

transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran

CO2. Pada keadaan ini biasanya bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur

segera setelah lahir. Sampai sekarang asfiksia masih merupakan salah satu penyebab

penting morbilitas dan mortalitas perinatal. Banyak kelainan pada masa

neonatus mempunyai kaitan dengan faktor asfiksia ini. (Sarwono, 2007, hal 709)

Kematian bayi akibat asfiksia salah satunya bisa diakibatkan karena kurang

terampilnya tenaga kesehatan dalam penanganan asfiksia pada bayi baru lahir. Untuk

mengurangi angka kematian tersebut dibutuhkan pelayanan antenatal yang berkualitas,

asuhan persalinan normal dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga yang

profesional yang terutama memiliki keterampilan dan kemampuan manajemen asfiksia

pada bayi baru lahir. Untuk mengantisipasi hal ini perlu dilakukan suatu manajemen

asuhan kebidanan agar mampu menangani asfiksia pada bayi baru lahir (BBL). Dengan

harapan penerapan tersebut dapat menekan angka kematian bayi akibat asfiksia.

(Asuhan Persalinan Normal, 2007, hal 89)

Asfiksia dibagi menjadi : 1) Asfiksia Berat (nilai APGAR 0 3) resusitasi aktif

dalam keadaan ini harus segera dilakukan. Langkah utama ialah memperbaiki ventilasi

1
paruparu dengan memberikan O2 secara tekanan langsung dan berulangulang. Bila

setelah beberapa waktu pernapasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung menurun

maka pemberian obat-obatan lain serta massase jantung sebaiknya segera dilakukan. 2)

Asfiksia Sedang (nilai APGAR 4 6) pernapasan aktif yang sederhana dapat

dilakukan secara pernapasan kodok

Menurut Laporan dari organisasi kesehatan dunia (WHO) bahwa setiap

tahunnya, kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia, hampir 1

juta bayi ini kemudian meninggal. Di Indonesia, dari seluruh kematian bayi, sebanyak

57% meninggal pada masa BBL (usia dibawah 1 bulan). Setiap 6 menit terdapat satu

BBL yang meninggal. Penyebab kematian BBL di Indonesia adalah bayi berat lahir

rendah (29%), asfiksia (27%), trauma lahir, tetanus neonatorum, infeksi lain dan

kelainan kongenital (JNPK-KR 2008 hal.143).

Pada tahun 2011, jumlah angka kematian bayi baru lahir (neonatal) di negara-

negara ASEAN di Indonesia mencapai 31 per 1000 kelahiran hidup. Angka itu 5,2 kali

lebih tinggi dibandingkan malaysia. Juga, 1,2 kali lebih tinggi dibangdingkan Filipina

dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan Thailand. Karena itu masalah ini

harus menjadi perhatian serius. (http://www.docs-finder.com/jumlah-angka-kematian-

ibu-dan-bayi-di-dunia-tahun-2010-doc.html diakses tanggal 25 Mei 2011).

Di Indonesia, program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program

kesehatan ibu. Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy safer, target dari

dampak kesehatan untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kematian neonatal

dari 25/1000 kelahiran hidup menjadi 15/1000 kelahiran hidup.

2
Menurut data Depkes tahun 2010, penyebab langsung kematian bayi (28%)

disebabkan BBLR, asfiksia (12%), tetanus (10%), masalah pemberian makanan (10%),

infeksi (6%), gangguan hematologik (5%) dan lain-lain (27%).

(http://cetak.kompas.com di akses tanggal 25 Mei2010).

Di Sulawesi Barat, dalam sektor kesehatan masih menghadapi dua masalah

mendasar, yaitu sarana air bersih serta angka kematian ibu dan anak yang masih tinggi.

Kedua permasalahan ini, selalu menjadi fokus perhatian Dinas kesehatan Sulawesi

Barat. Pada tahun 2014, data menunjukkan peningkatan angka kematian ibu dari

358/100.000 kelahiran hidup, jika dibandingkan 2013, hanya menunjukkan angka

kematian ibu dari 222/100.000 kelahiran hidup. Lebih tinggi dari target sasaran

pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) sekitar 102/100.000 kelahiran

hidup.

AKB di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2013 sebesar 243/100.000 kelahiran

hidup, meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 14,5/1000 kelahiran

hidup. Apabila dibandingkan dengan target Nasional dalam RPJMN 226/100.000

kelahiran hidup, maka AKB Provinsi Sulawesi Barat sudah melampaui target Nasional,

demikian juga bila dibandingkan dengan target yang diharapkan dalam MDD

(Millennium Development Goals) tahun 2015 yaitu 23/1000 kelahiran hidup.

(Republika.co.id, Mamuju)

Di Polewali Mandar, jumlah kelahiran hidup 3 tahun terakhir yaitu 2010 2012

masing masing sebanyak, 7.193 (tahun 2010), 8.062 (tahun 2011) , dan 8.749 (tahun

2012). Dan pada tahun 2012 bayi yang meninggal sebelum ulang tahun pertamanya

adalah 109 dari 988 kelahiran hidup. Atau sebesar 11,37 %. Ditahun 2010 ditemukan

3
sebanyak 13 kematian ibu dan tahun 2011 masih tetap ditemukan sebanyal 13 kematian

ibu. Berdasarkan Laporan Tahunan KIA ditemukan Penyebab kematian Ibu pada tahun

2011 didominasi oleh faktor perdarahan yaitu 8 dari 13 kematian ibu (61.5%) kemudian

disusul oleh penyebab yang lainnya. ( Dokumen Renstra SKPD Dinas kesehatan 2014

2019).

Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Polewali Mandar yakni

jumlah Bayi yang meninggal pada tahun 2015 sebanyak 16 bayi.

Bidan sebagai tenaga kesehatan harus ikut mendukung upaya penurunan AKI dan

AKB. Peran Bidan di masyarakat sebagai tenaga terlatih dalam sistem kesehatan

nasional salah satunya adalah meningkatkan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)

dan menetapkan keikutsertaan masyarakat dalam berbagai kegiatan untuk mempercepat

penurunan AKI dan AKB.Tenaga kesehatan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan

yang bermutu sehingga diperlukan stabdar pelayanan medik. (Prawirihardjo, 2002).

Berbagai upaya yang aman dan efektif untuk mencegah dan mengatasi penyebab

utama kematian BBL adalah pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan

normal/dasar dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga professional. Untuk

menurunkan angka kematian BBL karena asfiksia, persalinan harus dilakukan oleh

tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen asfiksia

pada BBL. Kemampuan dan keterampilan ini digunakan setiap kali menolong

persalinan (JNPK-KR, 2008).

Berhubungan dengan itu maka penulis tertarik untuk memahami lebih seksama

tentang dengan Asfiksia sedang, serta mengaplikasikan secara langsung di lapangan

sehingga nantinya penulis mampu menjadi tenaga kesehatan yang profesional.

4
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan mengacuh pada tujuan yang akan dicapai

pada penalaran maka dirumuskan masalahnya adalah bagaimana melakukan asuhan

kebidanan bayi baru lahir dengan asfiksia sedang pada Bayi Ny. R di Puskesmas

Pekabata Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2016.


1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan umum
Memahami secara seksama tentang Asfiksia sedang pada bayi baru lahir

pada NyRsecara komprehensif sesuai dengan teori yang ada dan

mengaplikasikan secara langsung dilapangan.


1.3.1. Tujuan khusus
Mampu melaksanakan Asuhan kebidanan bayi baru lahir pada NyR

menggunakan pengkajian manajemen kebidanan dan pendokumentasian dengan

menggunakan SOAP.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis

Dapat memberikan informasi kepada pembaca mengenai hasil pengkajian

ini, serta dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu kebidanan dalam

hal menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan, serta dalam penerapan

ilmu metode pengkajian/penelitian dapat dijadikan referensi, khususnya mengenai

asuhan kebidanan.

1.4.2 Manfaat Praktis


a. Bagi Puskesmas pekkabata

Memberikan informasi kepada tenaga kesehatan, khususnya bidan

mengenai bahaya asfiksia sedang ,serta pemberian konseling mengenai

persiapan menghadapi persalinan.

b. Bagi Profesi Bidan

5
Hasil pengkajian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi

bidan dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya asuhan

kebidanan pada bayi dengan asfiksia sedang.


c. Bagi mahasiswa

Sebagai bahan masukan dan referensi bagi mahasiswa yang akan

melakukan asuhan kebidanan. Serta dapat bermanfaat sebagai bahan

dokumentasi dan bahan

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Tinjauan Tentang Asfiksia


2.1.1 Pengertian tentang asfiksia
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas

secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin

dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam

kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. (Sarwono, 2007, hal 709)

6
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis. Bila

proses ini berlangsung jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian.

(Saifuddin, 2002, hal 347).


Asfiksia adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur,

sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2yang menimbulkan

akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. Tujuan tindakan perawatan terhadap

bayi asfiksia adalah melancarkan kelangsungan pernafasan bayi yang sebagian

besar terjadi pada waktu persalinan. (Manuaba, I. B. G, 2010 cetakan ke II, hal 421)
Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur setelah

lahir. Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan mengalami

asfiksia sesudah persalinan. Masalah ini mungkin berkaitan dengan keadaan ibu,

tali pusat atau masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan. (JNPK-KR, 2008,

hal 144)
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara

spontan dan teratur segera setelah lahir. (Jitowiyono, Sugeng, 2010, hal 71)
2.1.2 Etiologi asfiksia bayi baru lahir

Hipoksia janin yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena

gangguan pertukaran gas serta transport O 2 dari ibu ke janin sehingga terjadi

gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Gangguan Ini dapat

berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama

kehamilan atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.

(Wiknjosastro, 2006, hal.709).

Hipoksia janin dapat merupakan akibat dari :

a. Oksigenasi darah ibu yang tidak mencukupi akibat hipoventilasi selama anestesi,

penyakit jantung sianosis gagal pernafasan, atau keracunan karbonmonoksida;

7
b. Tekanan darah ibu yang rendah akibat hipotensi, yang dapat merupakan

komplikasi anestesi spinal atau akibat kompresi vena cava dan aorta pada uterus

gravid;
c. Relaksasi uterus tidak cukup memberikan pengisian plasenta akibat adanya

tetani uterus, yang disebabkan oleh pemberian oksitosin berlebih-lebihan;


d. Pemisahan plasenta prematur ;
e. Sirkulasi darah melalui tali pusat terhalang akibat adanya kompresi atau

pembentukan simpul pada tali pusat;


f. Vasokonstriksi pembuluh darah oleh kokain;
g. Insufisiensi plasenta karena berbagai sebab, termasuk toksemia dan pasca

maturitas. (Nelson, 2000, hal 581)

Asfiksia dapat terjadi selama kehamilan atau persalinan yaiatu :

1. Asfiksia dalam kehamilan dapat disebabkan oleh :


a. Penyakit akut atau kronis
b. Keracunan obat bius
c. Uremia
d. Toksemia gravidarum
e. Anemia berat
f. Cacat bawaan
g. Trauma (Sarwono, 2006, hal 710)
2. Asfiksia dalam persalinan dapat disebabkan oleh :
a. Gangguan sirkulasi pada plasenta, misalnya pada :
Partus lama
Merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada

primipara dan lebih dari 18 jam pada multipara, dimana terjadi kontraksi

rahim yang berlangsung lama sehingga dapat risiko pada janin dimana

terjadi gangguan pertukaran O2 dan CO2 yang dapat menyebabkan asfiksia

(Manuaba, 2000, hal 292).


Kehamilan lewat waktu

Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari

42 minggu dihitung berdasarkan rumus Naegele dengan siklus haid rata-

8
rata 28 hari. Permasalahan yang timbul pada janin adalah asfiksia dimana

terjadi insufiensi plasenta yang menyebabkan plasenta tidak sanggup

memberi nutrisi dan terjadi gangguan pertukaran O2 dan CO2 dari ibu ke

janin (Manuaba, 2000, hal 222).

Lilitan tali pusat

Gerakan janin dalam rahim yang aktif pada tali pusat yang panjang

pada leher sangat berbahaya, apalagi bila lilitan terjadi beberapa kali

dimana dengan makin masuknya kepala janin ke dasar panggul maka

makin erat pula lilitan pada leher janin yang mengakibatkan makin

terganggunya aliran darah ibu ke janin (Manuaba, 2000, hal 239).

2.1.3 Patofisiologi asfiksia bayi baru lahir

Penyebab asfiksia dapat berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta. Adanya

hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia

pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia.

Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan

terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika

kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi.

Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat

akhirnya ireguler dan menghilang.

Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian

terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan

terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang. Apabila asfiksia

9
berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan

tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki

periode apneu primer. Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang

dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan

bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai

bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung,

tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak

bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara

spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan

pemberian tidak dimulai segera. (http://wordpress.com/2010/01/16/pengertian-dan-

penanganan-asfiksia-pada-bayi-baru-lahir/ di akses tanggal 25 Mei 2011)

2.1.4 Klasifikasi klinis asfiksia bayi baru lahir


Asfiksia terbagi atas :
a. Asfiksia berat (Nilai Apgar 0-3) : Memerlukan resusitasi segera secara aktif

dan pemberian O2terkendali


b. Asfiksia ringan-sedang (Nilai Apgar 4-6) : Memerlukan resusitasi atau

pemberian O2 sampai bayi dapat bernafas normal kembali.


c. Bayi normal atau sedikit asfiksia (Nilai Apgar 7-9)
d. Bayi normal (Nilai Apgar 10), (Wiknjosastro, 2007, hal 712)
2.1.5 Tanda dan gejala asfiksia bayi baru lahir
Gejala asfiksia yang khas antara lain meliputi bayi tidak bernafas atau

pernafasan megap-megap yang dalam, bayi terlihat lemas, sianosis, sukar

bernafas/tarikan dinding dada ke dalam yang kuat dan suara merintih (Saifuddin

AB, 2002)
a. Sebelum lahir
Asfiksia biasanya merupakan akibat dari anoksia/hipoksia janin, yang

menimbulkan tanda gawat janin yaitu :

10
DJJ irregular dan frekuensinya lebih dari 160 kali permenit atau kurang dari

100 kali permenit.


Mekonium dalam air ketuban pada letak kepala.
Analisa air ketuban/amnioskopi
b. Setelah lahir
Bayi tampak pucat dan kebiru-biruan serta tidak bernafas spontan
Kalau mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neorologik seperti

kejang dan menangis kurang baik/tidak baik. (Mochtar R, 1998, hal.428)


2.1.6 Diagnosis asfiksia bayi baru lahir
Asfiksia pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia atau hipoksia

janin.Diagnosis hipoksia atau anoksia dapat dibuat dalam persalinan dengan

ditemukan tanda-tanda gawat janin.Untuk dapat menegakkan diagnosis gawat janin

dapat ditetapkan dengan melakukan pemeriksaan sebagai berikut.


1. Pada saat proses persalinan
a. Denyut jantung janin yaitu antara 120-160 x / menit.
b. Denyut jantung janin menurun dibawah 100 x / menit apalagi disertai dengan

irama yang tidak teratur.


c. Terdapat mekonium dalam air ketuban pada letak kepala.
2. Melakukan penilaian asfiksia pada bayi baru lahir

Salah satu cara lain yang lebih sederhana untuk menilai asfiksia pada bayi

baru lahir adalah sebagai berikut :

11
Tabel 1 : Penilaian dengan Apgar

Skor 0 1 2

A : Appearence
Baadan merah, Seluruh tubuh
color Pucat
ekstremitas biru kemerah-merahan
(warna kulit)
P : Pulse (heart

rate)
Tidak ada Di bawah 100 Di atas 100
(frekuensi

jantung)
G : Grimace
Sedikit gerakan Menangis,
(reaksi terhadap Tidak ada
mimik batuk/bersin
rangsangan)
Ekstremitas
A : Activity
Lumpuh dalam fleksi Gerakan aktif
(tonus otot)
sedikit
R : Respiration Lemah,tidak Baik,menangis
Tidak ada
(usaha napas) teratur kuat.
Sumber : (Sarwono,2006,hal 249).

Nilai APGAR pada umumnya dilaksanakan pada 1 menit dan 5 menit sesudah

bayi lahir. Tapi penilaian harus dimulai segera sesudah bayi lahir. Apabila bayi

memerlukan intervensi berdasarkan penilaian pernapasan, denyut jantung atau

warna kulit maka penilaian ini harus dilakukan segera. Intervensi yang harus

dilakukan jangan sampai terlambat karena menunggu hasil penilaian APGAR 1

menit.

12
Nilai Apgar 4-6 menunjukkan depresi pernafasan sedang dan membutuhkan

resusitasi. Nilai Apgar kurang dari 3 menunjukkan depresi pernafasan berat

membutuhkan resusitasi segera. Nilai Apgar pada menit pertama digunakan untuk

menunjukkan bayi yang membutuhkan perhatian khusus, dan pada menit kelima

merupakan indeks dan efektifitas resusitasi.

2.1.7 Penatalaksanaan asfiksia bayi baru lahir


Untuk mendapatkan hasil yang sempurna dalam resusitasi, prinsip dasar yang perlu

di ingat ialah :
a. Mencegah kehilangan panas dan mengeringkan tubuh bayi
b. Meletakkan bayi dalam posisi yang benar : Bayi diletakkan terlentang diatas alas

yang benar, kemudian kepala lurus dan leher sedikit tengadah (ekstensi)
c. Membersihkan jalan nafas
Kepala bayi yang dimiringkan agar cairan berkumpul di mulut kemudian mulut

di bersihkan terlebih dahulu dengan tujuan agar cairan tidak teraspirasi dan

isapan pada hidung akan menimbulkan pernafasan megap-megap


d. Menilai bayi

Penilaian bayi dilakukan berdasarkan 3 gejala yang sangat penting bagi

kelanjutan hidup bayi :

a. Usaha pernafasan

Apabila bayi bernapas spontan dan memadai lanjutkan dengan menilai

frekuensi jantung dan bila bayi sukar bernapas dilakukan rangsangan taktil

dengan menepuk atau menyentil telapak kaki bayi atau menggosok

punggung bayi sambil memberikan oksigen.

b. Frekuensi denyut jantung


Setelah menilai usaha bernapas dan melakukan tindakan yang diperlukan

serta memperhatikan apakah bernapas spontan atau tidak.Bila frekuensi

13
denyut jantung >100 kali/menit dan bayi bernapas spontan,dilanjutkan

dengan menilai warna kulit.


c. Warna kulit
Penilaian warna kulit dilakukan bayi bernapas dengan spontan dan frekuensi

denyut jantung bayi > 100 kali/menit.

Tindakan-tindakan yang dilakukan pada bayi dibagi dalam dua golongan :

1. Tindakan Umum

Tindakan ini dikerjakan tanpa menilai-nilai Apgar, segera setelah bayi lahir

diusahakan agar bayi mendapatkan pernafasan yang baik, harus dicegah dan

dikurangi kehilangan panas dari tubuhnya. Penggunaan sinar lampu untuk

pemanasan luar dan untuk mengeringkan tubuh bayi untuk mengurangi

evaporasi.

Bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dan penghisapan saluran

pernafasan bagian atas segera dilakukan. Hal ini harus dilakukan secara hati-hati

untuk menghindarkan timbulnya kerusakan-kerusakan mukosa, jalan nafas,

spasmus laring, atau kolaps paru-paru. Bila bayi belum memperlihatkan usaha

bernafas, rangsangan terhadapnya harus segera dikerjakan. Hal ini dapat berupa

rangsangan nyeri dengan cara memukul kedua telapak kaki, menekan tendon

Achilles, atau pada bayi-bayi tertentu diberi suntikan Vit K. (Wiknjosastro, 2007,

hal 712)

2. Tindakan Khusus

Tindakan ini dikerjakan setelah tindakan umum diselenggarakan tanpa

hasil. Prosedur yang dilakukan disesuaikan dengan beratnya asfiksia yang timbul

pada bayi, yang dinyatakan oleh tinggi-rendahnya nilai Apgar.

14
a. Asfiksia Berat (Nilai Apgar 0-3)
Tindakan pada bayi asfiksia berat :
Menerima bayi dengan kain hangat
Letakkan bayi pada meja resusitasi
Bersihkan jalan nafas sambil memompa jalan nafas dengan balon

(ambubag)
Berikan oksigen 4-5 liter/menit
Bila tidak berhasil biasanya dipasang ETT (Endo Trachel Tube)
Bersihkan jalan nafas melalui lubang ETT
Bila bayi bernafas tapi masih sianosis/biru biasanya diberi terapi Natrium

Bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc, Dekstrose 40% sebanyak 4cc.


Bila asfiksia berkelanjutan bayi masuk NICU (Neonatus Intensive Care

Unit) dan infus terlebih dahulu. Apabila setelah 15-30 detik bayi tidak

bernafas spontan dan denyut jantung kurang dari 60x/menit atau 60-

80x/menit dan tidak bertambah dilakukan kompresi dada. Apabila denyut

jantung kurang dari 80x/menit mulai pemberian obat. (Wiknjosastro, 2007,

hal 712)
b. Asfiksia Ringan-Sedang (Nilai Apgar 4-6)
3. Tindakan pada asfiksia ringan-sedang :
a. Bayi dibungkus dengan kain lalu dibawa kemeja resusitasi
b. Bersihkan jalan nafas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian

disekitar mulut
c. Bila berhasil teruskan dengan perawatan selanjutnya yaitu membersihkan

badan bayi, perawatan tali pusat dan yang lainnya


d. Observasi suhu tubuh, untuk sementara waktu masukkan bayi kedalam

inkubator. (Wiknjosastro, 2007, hal 713)

Setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa bayi baru lahir perlu

resusitasi, tindakan harus segera dilakukan. Penundaan membahayakan bayi.

Tahap I : Langkah awal

15
Langkah awal perlu dilakukan dalam 30 detik langkah tersebut adalah :

1) Jaga bayi tetap hangat


a. Letakkan bayi di atas kain yang ada di atas perut ibu
b. Bungkus bayi dengan kain tersebut, potong tali pusat
c. Pindahkan bayi ke atas kain ditempat resusitasi
2) Atur posisi bayi
a. Baringkanlah bayi terlentang dengan kepala di dekat penolong
b. Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi

3) Isap Lendir
Gunakan alat penghisap lendir De Lee dengan cara sebagai berikut :
Isap lendir mulut dari mulut dulu kemudian hidung
Lakukan penghisapan saat alat penghisap ditarik keluar, jangan lebih dari 5

cm ke dalam mulut dan lebih dari 3 cm ke dalam hidung.


4) Keringkanlah dan Rangsang Bayi
a. Keringkanlah bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya

dengan sedikit tekanan. Rangsangan ini dapat membantu BBL mulai

bernafas sedikit tekanan. Rangsangan ini dapat membantu BBL mulai

bernafas
b. Lakukan rangsangan taktil dengan beberapa cara :
Menepuk atau menyentil telapak kaki
Menggosok perut, dada, punggung atau tungkai kaki

dengan telapak tangan


Atur kembali posisi kepala bayi dan bungkus bayi
5) Atur kembali posisi kepala bayi dan selimuti bayi
Ganti kain yang telah basah dengan kain yang ada di bawahnya
Bungkus bayi dengan kain tersebut, jangan menutupi muka, dada agar

biasa memantau pernafasan bayi


Atur kembali posisi kepala bayi sehingga sedikit ekstensi

6) Lakukan Penilaian Bayi

16
Lakukan penilaian apakah bayi bernafas normal, atau tidak bernafas megap-

megap :
a. Bila bayi bernafas normal, berikan ibunya untuk disusui
b. Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap mulai lakukan ventilasi
Tahap II : Ventilasi

Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah

volume udara ke dalam paru dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru

agar bayi bisa bernapas spontan dan teratur.

Langkah-langkah :

1. Pasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.
2. Ventilasi 2 kali
a. Lakukan tiupan / pemompaan dengan tekanan 30 cm air. Tiupan awal

tabung- sungkup/pemompaan awal balon-sungkup sangat penting untuk

membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas dan menguji apakah

jalan napas bayi terbuka.


b. Lihat apakah dada bayi mengembang.
Saat melakukan tiupan/pemompaan perhatikan apakah dada bayi

mengembang. Bila tidak mengembang :


Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara yang bocor.
Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah benar.
Periksa cairan atau lendir di mulut. Bila ada lendir atau cairan lakukan

pengisapan.
Lakukan tiupan 2 kali dengan tekanan 30 cm air (ulangan),bila dada

mengembang lakukan tahap berikutnya.


3. Cara kerja
Ventilasi Tekanan Positif
a. Bayi diletakkan dalam posisi ekstensi.
b. Agar VTP efektif,kecepatan memompa (kecepatan ventilasi) dan tekanan

ventilasi harus sesuai,kecepatan ventilasi sebaik 40-60 kali/menit dan

17
tekanan ventilasi yang dibutuhkan 30-40 cm air. Setelah papas pertama,

membutuhkan 15-20 cm air.


c. Observasi gerak dada bayi
Adanya gerakan bayi turun naik merupakan bukti bahwa sungkup

terpasang dengan baik dan paru-paru mengembang.Bayi menarik napas

dangkal apabila dada bergerak maksimum,bayi seperti menarik napas

panjang,menunjukkan paru-paruterlalu mengembang yang berarti tekanan

yang diberikan terlalu tinggi.


d. Observasi gerak tubuh bayi
Gerak perut tidak dapat dipakai sebagai pedoman ventilasi yang efektif.

Gerak perut mungkin disebabkan oleh masuknya udara kedalam lambung.


e. Penilaian suara napas bilateral
f. Suara napas didengar dengan menggunakan stetoskop, adanya suara napas

di kedua paru-paru merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi

yang benar.
g. Observasi pengembangan dada bayi
Apabila dada terlalu berkembang, kurangi tekanan dengan mengurangi

meremas balon. Apabila dada kurang berkembang mungkin disebabkan

oleh salah satu penyebab sebagai berikut pelekatan sungkup kurang

sempurna, arus udara terhambat dan tidak cukup tekanan. (Saifuddin

A.B,2002 hal 354)

Intubasi Endotrakeal

a) Peralatan

(1) Keteter isap De Lee

(2) Berbagai ukuran selang endotrakeal yang dapat disesuaikan

(3) Laringskop tekanan positif

(4) Handuk

18
(5) Plester

b) Metode

(1) Tempatkan bayi pada posisi kepala sedikit ekstensi dapat diletakkan handuk

dibawah bahu bayi.

(2) Kenalkan laringskop di sudut kanan mulut bayi.

(3) Masukkan laringskop sedalam 2-3 cm sambil merotasikan ketengah dan

menggeser lidah kekiri.

(4) Pada saat ujung bite dada diantara dasar lidah dan epiglotis, naikkan sedikit

keatas sampai glottis terlihat (kadang-kadang sedikit tekanan pada laring

eksternal oleh seorang asisten akan memudahkan pemanjangan glottis).

(5) Masukkan selang endotrakeal pada sisi kanan mulut sampai pita sura

vokalis.Pastikan anda mudah melihat (selang harus cukup kecil untuk

memungkinkan udara tetap dapat masuk yakni ruang yang mengelilinginya :

ruang ini menjamin ekskresi dapat dilakukan dengan mudah dan mengurangi

resiko kerukan jaringan).

(6) Isap secret jika diperlukan

(7) Ketika selang endotrakeal dimasukkan tahan di tempatnya dengan kencang

namun lembut kemudian tarik laringskop ke adapter kantong.

(8) Lakukan ventilasi dengan kantong oksigen,asisten dengan menggunakan

stetoskop harus memeriksa apakah ventilasi kedua paruh telah adekuat

(Saifuddin A.B, 2002 hal 359).

3) Kompesi dada

19
a) Pelaksana menghadap ke dada bayi dengan kedua tangan dalam posisi yang

benar.

b) Kompresi dilakukan di 1/3 bagian di bawah tulang dada di bawah garis khayal

yang menghubungkan kedua puting susu bayi.Hati-hati jangan menekan

prosesus xipodeus.

c) Dengan posisi jari-jari tangan yang benar gunanya tekanan yang cukup untuk

menekan tulang pada 1/2-3/4 inci (1-2 cm) kemudian tekanan dilepaskan

untuk memungkinkan pengisian jantung atau tekanan kebawah ditambah

pembebasan tekanan.

d) Rasio kompresi dada dan ventilasi data 1 menit ialah 90 kompresi dada dan 30

ventilasi ( rasio 3:1 ).Ibu jari adalah ujung-ujung jari harus tetap kontak dengan

tempat kompresi dada sepanjang waktu baik pada saat penekanan maupun pada

saat melepaskan penekanan.(Saifuddin,2006 hal 346).

8. Masalah yang bisa timbul pada bayi dengan asfikisia

a. Gangguan Pertukaran Gas

Gangguan pertukaran gas, hal ini dapat disebabkan oleh karena penyempitan pada

arteri pulmonal, peningkaytan tekanan pembuluh darah diparu-paru dan penurunan aliran

darah diparu-paru. Untuk mengatasi gangguan tersebut dapat dilakukan intervensi

rencana asuhan kebidanan diantaranya : melakukan monitoring sistem jantung dan paru-

paru dengan melakukan resusitasi, memberikan oksigen yang adekuat.

b. Penurunan Cardiac Output

Terjadi penurunan cardiac output karena adanya udema paru dan penyempitan

arteri pulmonal, untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan monitoring jantung

20
paru, mengkaji tanda-tanda vital, memonitor denyut nadi, memonitor intake dan output

serta melakukan kolaborasi dalam vaso lidator.

c. Gangguan Perfusi Jaringan

Gangguan perfusi jaringan karena adanya kemungkinan hipovolemia atau

kematian janin, kondisi ini dapat diatasi dengan mempertahankan output yang normal

dengan cara mempertahankan intake dan output, kolaborasi dalam pemberian diuretic

sesuai dengan indikasi, memonitor laboratorium urine lengkap dan pemeriksaan darah.

d. Resiko Tinggi Terjadinya Infeksi

Resiko tinggi terjadinya infeksi nosokomial yaitu respon imun yang terganggu,

hal ini dapat diatasi dengan mengurangi tindakan yang menyebabkan terjadinya infeksi

nosokomial dengan cara mengkaji dan menyediakan intervensi asuhan kebidanan dengan

memperhatikan teknik aseptic.(Hidayat, 2005)

9. Perawatan pasca resusitasi.

Setelah resusitasi, sebagian bayi akan bernafas spontan yang lainnya mungkin

masih membutuhkan bantuan nafas. Diharapkan semua telah kemerahan dengan

frekuensi jantung diatas 100x/menit. Bila diperlukan resusitasi lebih lanjut, bayi dirawat

diruang rawat lanjutan. Perawatan pasca resusitasi melupiti pengawasan suhu, tanda vital

dan antisipasi terjadinya komplikasi. Lanjutkan pemantauan kebutuhan oksigen,

frekuensi jantung dan tekanan darah. Lakukan pemeriksaan laboratorium seperti

hematokrit dan gula darah. Nilai pH darah dapat dipakai untuk memperkirakan sejauh

mana komplikasi mungkin terjadi. (Katwinkel, 2006, hal 7)

a. Pengaturan Suhu

21
Bayi dengan asfiksia cepat sekali mengalami hipotermia bila berada

dilingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi

yang relatif luas dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak

dibawah kulit untuk mencegah hipotermia bayi diletakkan dalam inkubator, suhu

inkubator untuk berat badan >2500 gram suhunya 33C. Bayi dapat mempertahankan

suhu tubuh sekitar 37C. Suhu inkubator dapat diturunkan 1C setiap minggunya.

(IDAI, 2003, hal 111)

Tabel 2. Suhu incubator sesuai dengan berat badan bayi

Berat badan Bayi (gr) Suhu Incubator (C)

1000 35

1500 34

2000 33,5

2500 33,2

3000 33

4000 32,5
Sumber : Wiknjosastro, 2007, hal 254

b. Kebutuhan Cairan

Volume cairan untuk hari-hari pertama berdasarkan umur bayi yaitU :

1) Hari 1 : 60 ml/kg BB

2) Hari 2 : 80 ml/kg BB

3) Hari 3 : 100 ml/kg BB

4) Hari 4 : 120 ml/kg BB

22
5) Hari 5 : 140 ml/kg BB

6) Hari 6 : 150 ml/kg BB

7) Hari 7 : 160 ml/kg BB

Untuk bayi berat lahir >2500 gram; 6x/hari (setiap 4 jam)

BAB III
STUDI KASUS

Pemeriksaan PENGKAJIAN
pada saat baruASUHAN
lahir KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR
DENGAN ASFIKSIA SEDANG
Tonus otot : Lemah
Nama : By. Ny L Tgl : 28 Januari 2016 No. R.M :
Warna kulit : Kebiruan
Tgl lahir : 28 Januari Jam : 22.15 wita Ruangan : Kamar Bayi
Usaha bernafas : Megap Megap
2016
Komplikasi janin
A SUBJEKTIF
. Premature
Identitas : Tidak ada
1 Malposisi
Nama : By. Ny. L : Tidak ada
Tgl/jam
Gawat janin lahir : 23 Januari 2016: Ya / jam 22.15 wita
Anak ke
Ketuban campur: 2meconium : Tidak
Jenistali
Lilitan kelamin
pusat : Perempuan : Tidak
2. Keadaan
Identitas Orang tua
bayi baru lahir : Tonus otot lemah, warna kulit kebiruan,
Nama Ibu/ Suami : Ny. L / Tn. A
bernafas megap megap
Umur
Post asfiksia normal : 30 th / 32 th
1. Pekerjaan
Pemeriksaan Umum : IRT / Wiraswasta
KeadaanAlamat
umum: Baik , kesadaran : Matakali
: komposmentis
3. : Riwayat antenatal
TTV
S : 36.5c
GP2 P1 A: 052x/i
Umur kehamilan 38 minggu 2 hari
4. Riwayat Kelahiran
N : 129x/i
Tempat lahir dan penolong : Puskesmas Pekabatta, Bidan
Cara : Spontan
Komplikasi persalinan : Asfiksia
Kondisi saat lahir : Sehat

23
2. Apgar score
Nilai apgar : 1 menit/ 5 menit/ 10 menit : 7/ 9/ 10
No Kriteria 1 menit 5 menit 10 menit

1 Denyut jantung 1 1 2

2 Usaha nafas 1 2 2

3 Tonus otot 1 2 2

4 Refleks 2 2 2

5 Warna kulit 1 2 2

Total 7 9 10
3 Pemeriksaan fisik
Kepala : tidak ada pembengkakan, ubun-ubun datar, terdapat caput succedaneum,
tidak terdapat cephal hematoma, tidak ada fraktur
Wajah : tidak odema, tidak ikterus dan kemerahan, Mata segaris dengan telinga,
hidung di garis tengah, mulut garis tengah wajah dan simetris.
Mata : Skelera tidak ikterik, konjungtiva tidak merah muda, iris berwarna merata
dan bilateral. Pupil beraksi bila ada cahaya, reflek mengedip ada dan tidak
starbismus.
Telinga : simetris, Posisi telinga berada garis lurus dengan mata, kulit tidak kendur,
pembentukkan tulang rawan yaitu pinna terbentuk dengan baik kokoh.
Hidung : Posisi di garis tengah, bernafas melalui hidung, lubang hidung tampak
simetris kiri dan kanan.
Mulut : refleks menghisap baik, refleks menelan baik, bibir merah muda, tidak ada
labiaschizis, tidak ada palatoschizis, keadaan lidah bersih, mulut tampak bersih,
mukosa bibir lembab.
Leher : tidak ada pembengkakan dan benjolan, leher bergerak aktif.
Ekstremitas atas: pergerakan aktif, jumlah jari 10, tonus otot baik, simetris
Dada : gerakan dada sesuai dengan nafas bayi, simetris kiri dan kanan, tidak ada
retraksi dinding dada.
Payudara : Jarak antar puting pada garis sejajar tanpa ada puting tambahan,
putting tenggelam.
Abdomen : tali pusat masih basah, tidak ada pembengkakkan dan benjolan.
Punggung : tidak ada spinabifida
Genitalia : testis dalam skrotum, uretra berlubang.
Anus : berlubang

24
Ekstremitas bawah: simetris, bergerak aktif, jumlah jari 10, tonus otot aktif.
4. Pemeriksaan Neurologi
Refleks labirin : positif
refleks glabellar : positif
Refleks rooting : positif
refleks sucking : positif
refleks swallow : positif
Refleks tonik neck : positif
Refleks grapshing : positif
Refleks babinski : positif
Refleks walking : positif
Refleks moro : positif
5. Antropometri
BB : 3200 gr
PB : 48 cm
Ling.Kep : 34 cm
Ling. Dada : 35 cm

25
RENCANA DAN CATATAN Nama : By. Ny. L
PERKEMBANGAN Tgl Lahir : 28 Januari 2016 L/P
PELAYANAN TERINTEGRASI No. RM :
Ruangan : Kamar Bersalin Halaman ke :
HASIL PEMERIKSAAN, ANALISA DAN
Nama dan Tanda tangan
TINDAKLANJUT
Tgl/Ja
Profesi CATATAN PERKEMBANGAN
m
S (subjective) O (Objective) Petugas TTD
A (Assesment) P (Planning)
28 Bidan S
Januari Bayi telah menangis
2016 O
Warna kulit kemerahan
22.15 TTV :
wita S : 36.5c
P : 52x/i
N : 129x/i
A
Bayi baru lahir dengan asfiksia
P
Pengikatan tali pusat dengan benang DTT
Melakukan IMD
22.16 Memberikan salep mata.
wita Memberikan injeksi Vit. K1 mg di paha kiri
bayi
Melakukan pemeriksaan fisik dan
pengukuran antropometri pada bayi
Memberikan imunisasi hepatitis B pada paha
lateral kanan

1. Atur posisi
2. Posisikan
3. Isap lender
4. Keringkan
22.17
5. Rangsangan taktil
wita 6. Posisikan kembali
S
Bayi telah menangis

26
Warna kuliat kemerahan
22.18 TTV:suhu 36,6oc,P 52x/menit,N 129x/menit
wita Bayi baru lahir dengan asfiksia ringan

P
Mengikat tali pusat
Melakukan IMD
Memberikan salep mata
Memberikan injeksi vit K1 mg dipaha kiri
bayi
Melakukan pemeriksaan fisik dan
22.19 pengukuran antropometri pada bayi
Reflex sucking : positif
wita
Reflex swallow : positif
Reflex tonik neck : positif
Reflex grapshing : positif
Reflex babinski : positif
Reflex walking : positif
Reflex moro : positif

Antropometri
BB : 3200 gram
PB : 48 cm
Ling. Kepala :34 cm
Ling. Dada :35 cm

27
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 BAYI BARU LAHIR


Dalam bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan antara teori dan hasil
asuhan yang telah diberikan pada bayi L dengan asfiksia sedang di Puskesmas
Pekkabata.
Pembahasan ini dibuat berdasarkan teori dan asuhan yang nyata dengan proses
pendekatan menajemen asuhan kebidanan yang dibagi dalam tujuh tahap yaitu : pengkajian
dan analisa data dasar, merumuskan diagnosa/masalah aktual, mengantisipasi
diagnosa/masalah potensial, tindakan segera dan kolaborasi, perencanaan tindakan asuhan
kebidanan, melaksanakan tindakan asuhan kebidanan, evaluasi hasil asuhan kebidanan,
serta mendokumentasikan asuhan kebidanan.
Pada saat bayi lahir, bayi tidak segera menangis, bernafas termegap-megap dan
warna kulit kebiruan-biruan. Berdasarkan pada teori, terdapat masalah pada bayi baru lahir
dengan asfiksia adalah bayi baru lahir yang mengalami gagal bernafas secara spontan dan
teratur segera setelah lahir (Dewi.2010). Jadi pada tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terdapat kesenjangan, karena pada kasus salah satu masalah yang ada pada bayi adalah
bernafas megap-megap, sama seperti yang ada pada teori yang disampaikan oleh
(Dewi.2010) yaitu terdapat masalah pada bayi baru lahir dengan asfiksia adalah pernafasan
menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak adekuat.
Dalam kasus ini tindakan segera yang diberikan pada bayi.Ny.R dengan asfiksia
adalah tindakan langkah awal resusitasi karena jika tidak segera ditangani mengakibatkan
potensi terjadinya apneu jika asfiksia pada bayi tidak tertangani dengan baik. Menurut teori
pada kasus asfiksia dilakukan tindakan resusitasi yang dimulai dengan langkah awal
resusitasi yaitu JAIKAP (JNPK-KR, 2008). Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tersebut
tidak ditemukan kesenjangan, karena kebutuhan yang diperlukan oleh bayi sesuai dengan
teori pada yang ada pada asuhan persalinan normal, yaitu JAIKAP untuk mengantisipasi
masalah potensial yang mungkin terjadi pada bayi berupa henti nafas.

28
Setelah bayi menangis dan pernafasan sudah membaik, tali pusat segera diikat dan
dilakukan inisiasi menyus dini (IMD). Menurut teori yang bayi diletakkan diatas dada ibu
untuk dilakukan IMD agar menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat (JNPK-KR, 2008). Dari
tinjauan teori dan tinjauan kasus tersebut tidak ditemukan kesenjangan, karena telah
dilakukan IMD pada bayi.
Berdasarkan jurnal penelitian oleh Rika Herawati, yang menyimpulkan bahwa tidak
ada hubungan yang bermakna antara usia ibu dan usia kehamilan dengan kejadian Asfiksia
Neonatorum dan ada hubungan yang bermakna dengan kekuatan hubungan lemah antara
solusio plasenta, plasenta previa, gamelli dan gangguan tali pusat dengan kejadian Asfiksia
Neonatorum.
Pada tinjauan pustaka diidentifikasikan adanya masalah potensial yang mungkin
terjadi pada bayi L berdasarkan pengumpulan data, pengamatan yang cermat dan
observasi serta evaluasi didapatkan bahwa jika asfiksia sedang jika tidak ditangani segera
maka dapat mengakibatkan terjadinya asfiksia berat.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

29
Setelah melakukan asuhan kebidanan bayi baru lahir by.Ny.L dengan asfiksia sedang
di Puskesmas Pekabatta, maka penulis dapat menyimpulkan kasus tersebut sebagai
berikut:
Didapatkan hasil dari pengkajian terhadap By.Ny.L didapatkan diagnosa kebidanan
bayi baru lahir premature segera setelah lahir dengan asfiksia yaitu bayi lahir pada tanggal
28 Januari 2016 pukul 22.15 wita, usia kehamilan 35 minggu 5 hari. Dari hasil studi
kasus terdapat kesamaan antara teori dengan studi kasus bahwa Kehamilan premature
merupakan salah satu kehamilan yang beresiko. Dimana usia kehamilannya baru 35
minggu 5 hari lengkap atau lebih dihitung dari hari pertama haid terakhir. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu
maupun janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas.
dengan diagnosa asfiksia ringan yaitu bayi lahir tidak segera menangis, warna kulit
kebiruan, tonus otot lemah dan usaha bernafas megap-megap.
Telah dilakukan tindakan segera pada bayi yaitu langkah awal resusitasi berupa
JAIKAP untuk mencegah terjadinya diagnosa potensial yaitu terjadinya henti nafas. Hasil
dari tindakan JAIKAP yaitu bayi telah menangis kuat, warna kulit kemerahan serta tonus
otot sudah baik dan kemudian setelah bayi sudah bernafas normal maka dilanjutkan
dengan dengan asuhan pasca resusitasi.
Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir sudah dilakukan yaitu melakukan IMD,
pemberian salep mata, pemberian suntikan vit.K, pemberian imunisasi Hb0, pengukuran

6.1 Saran
1. Bagi Ibu/ Klien
Diharapkan dapat menjadi bahan motivasi bagi ibu, untuk melakukan
pemeriksaan kehamilannya secara rutin, sebagai upaya preventif serta dapat
melakukan persalinan di tenaga kesehatan sehingga komplikasi dapat diatasi.
2. Bagi Profesi Bidan
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi bidan dalam upaya
meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pendokumentasian asuhan
kebidanan.
3. Bagi Institusi

30
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan informasi serta sebagai
bahan yang dapat dijadikan parameter keberhasilan menciptakan sumber daya
manusia.
4. Bagi puskesmas pekkabata
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan khususnya bagi
pemberian asuhan kebidanan di peskesmas pekkabata, Kecamatan Polewali,
Kabupaten Polewali Mandar mengenai pendokumentasian kebidanan.

31