Vous êtes sur la page 1sur 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS

PRURITUS LANSIA

NAMA : SYAHRUL MUBARAK

NIM : 14.04.048

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG

MAKASSAR 2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Konsep Penuaan

Gerontologi, studi ilmiah tentang efek penuaan dan penyakit yang

berhubungan dengan penuaan pada manusia, meliputi aspek biologis,

fisiologis, psikososial, dan aspek rohani dari penuaan. Perawat yang

merencanakan dan memberikan perawatatn pada orang diusianya yang

telah lanjut mendukung dan mengembangkan teori yang menjadi dasar

untuk asuhan keperawatan selama tahap akhir kehidupan ini.


Sejak awal manusia telah berusaha menjelaskan bagaimana dan

mengapa terjadi penuaan, namun tidak ada teori tunggal yang dapat

menjelaskan proses penuaan. Setiap orang akan mengalami enuaan,

tetapi penuaan pada setiap individu akan berbeda tergantung faktor

herediter, stresor lingkungan, dan sejumlah besar faktor yang lain.

Walaupun tidak ada satu teori yang dapat menjelaskan peristiwa fisik,

psikologis, dan peristiwa sosial yang kompleks yang terjadi dari waktu

ke waktu, suatu pemahaman dari penelitian dan teori-teori yang

dihasilkan sangant penting bagi perawat untuk membantu orang lanjut

usia memelihara kesehatan fisik dan psikis yang sempurna.


Teori-teori yang menjelaskan bagaimana dan mengapa penuaan

terjadi biasanya dikelompokkan kedalam dua kelompok besar, yaitu

teori biologis dan psikosoaial. Penelitian yang terlibat dengan jalur

biologi telah memusatkan perhatian pada indikator yang dapat dilihat


dengan jelas pada proses penuaan, banyak pada tingkat seluler, sedangkan

ahli teori psikososial mencoba untuk menjelaskan bagaimana proses tersebut

dipandang dalam kaitan dengan kepribadian dan perilaku.

B. Faktor Resiko

Dari latar belakang diatas, yang menjadi fokus pembahasan dari penulisan

makalah ini adalah bagaimana penjelasan mengenai teori-teori penuaan, yang

meliputi:

1) Teori Biologis, terdiri dari:


a. Teori Radikal Bebas
b. Teori Genetika
c. Teori Cross Link
d. Teori Wear and Tear
e. Teori Imunologis
f. Teori Neuroendokrin
g. Riwayat Lingkungan
2) Teori Psikososial, terdiri dari:
a. Teori Kepribadian
b. Teori Tugas Perkembangan
c. Teori Disengagement
d. Teori Aktivitas
e. Teori Kontinuitas

BAB II

KONSEP MEDIS

A. DEFENISI
Pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan menimbulkan rangsangan

untuk menggaruk. Berdasarkan dua pendapat di atas, Pruritus adalah sensasi

kulit yang iritatif dan ditandai oleh rasa gatal, serta menimbulkan rangsangan

untuk menggaruk. Reseptor rasa gatal tidak bermielin, mempunyai ujung saraf
mirip sikat (penicillate) yang hanya ditemukan pada kulit, membran mukosa

dan kornea.
Pruritus merupakan sensasi kulit yang tidak nyaman bersifat iritatif sampai

tingkat ringan atau berat pada inflamasi kulit dan menimbulkan rangsangan

untuk menggaruk. Keadaan tersebut menimbulkan gangguan rasa nyaman dan

perubahan integritas kulit. Rasa gatal yang berat mengganggun penampilan

pasien. Pruritus yang tidak disertai kelainan kulit disebut pruritus esensial atau

pruritus sine materia. Pruritus psikologik, merupakan respon garukan lebih

kecil dari derajat gatal subyektif.


B. ETIOLOGI
Pruritus dapat disebabkan oleh berbagai macam gangguan. Antara lain

yaitu :
1. Pruritus lokal
Pruritus lokal adalah pruritus yang terbatas pada area tertentu di tubuh.

Beberapa Penyebab Pruritus Lokal:


a. Kulit kepala : Seborrhoeic dermatitis, kutu rambut
b. Punggung : Notalgia paraesthetica
c. Lengan : Brachioradial pruritus
d. Tangan : Dermatitis tangan
e. Pruritus perianal terjadi akibat partikel feses yang terjepit dalam

lipatan perianal atau melekat pada rambut anus.


2. Gangguan sistemik/penyakit
a. Gagal ginjal kronik.
b. Obstruksi biliaris intrahepatika atau ekstrahepatika.
c. Endokrin/Metabolik seperti Diabetes, hipertiroidisme,

Hipoparatiroidisme, dan Myxoedema.


d. Anemia, Polycythaemia, Leukimia limfatik, dan Hodgkin's disease.
3. Gangguan pada kulit
Dermatitis kontak, kulit kering, prurigo nodularis, urtikaria, psoriasis,

dermatitis atopic, folikulitis, kutu, scabies, miliaria, dan sunburn.


4. Pajanan terhadap faktor tertentu
Pajanan kulit terhadap beberapa factor, baik berasal dari luar maupun

dalam dapat menyebabkan pruritus. Faktor yang dimaksud adalah allergen


atau bentuk iritan lainnya, urtikaria fisikal, awuagenic pruritus, serangga,

dan obat-obatan tertentu (topical maupun sistemik; contoh: opioid, aspirin).


5. Hormonal
Sejumlah 2% dari wanita hamil menderita pruritus tanpa adanya

gangguan dermatologic. Pruritus gravidarum diinduksi oleh estrogen dan

terkadang terdapat hubungan dengan kolestasis. Pruritus terutama terjadi

pada trimester ketiga kehamilan, dimulai pada abdomen atau badan,

kemudian menjadi generalisata. Ada kalanya pruritus disertai dengan

anoreksi, nausea, dan muntah. Pruritus akan menghilang setelah penderita

melahirkan. Ikterus kolestasis timbul setelah penderita mengalami pruritus

2-4 minggu. Ikterus dan pruritus disebabkan oleh karena terdapat garam

empedu di dalam kulit. Selain itu, pruritus juga menjadi gejala umum

terjadi menopause. Setidaknya 50% orang berumur 70 tahun atau lebih

mengalami pruritus. Kelainan kulit yang menyebabkan pruritus, seperti

scabies, pemphigoid nodularis, atau eczema grade rendah perlu

dipertimbangkan selain gangguan sistemik seperti kolestasis ataupun gagal

ginjal. Pada sebagian besar kasus pruritus spontan, penyebab pruritus pada

lansia adalah kekeringan kulit akibat penuaan kulit. Pruritus pada lansia

berespon baik terhadap pengobatan emollient.


6. Atau bisa diklasifikasikan penyebab dari pruritus terdiri dari :
a.Faktor endogen (penyakit yang diderita, hormonal atau daya tahan

tubuh).
b. Faktor eksogen (Pakaian, logam, serangga, tungau atau faktor

lingkungan yang menyebabkan kulit menjadi lembab atau kering).


C. PATOFISIOLOGI
Pruritus merupakan salah satu dari sejumlah keluhan yang paling sering

dijumpai pada gangguan dermatologic yang menimbulkan gangguan


dermatologic yang menimbulkan gangguan rasa nyaman dan perubahan

integritas kulit jika pasien meresponnya dengan garukan. Reseptor rasa gatal

tidak bermielin, mempunyai ujung saraf mirip sikat (peniciate) yang hanya

ditemukan dalam kuit, membrane mukosa dan kornea.


Garukan menyebabkan terjadinya inflamasi sel dan pelepasan histamine

oleh ujung saraf yang memperberat gejala pruritus yang selanjutnya

menghasilkan lingkaran setan rasa gatal dan menggaruk. Meskipun pruritus

biasanya disebabkan oleh penyakit kulit yang primer dengan terjadinya ruam

atau lesi sebagai akibatnya, namun keadaan ini bisa timbul tanpa manifestasi

kulit apapun. Keadaan ini disebut sebagai esensial yang umumnya memiliki

awitan yang cepat, bias berat dan menganggu aktivitas hidup sehari-hari yang

normal.
Garukan menyebabkan inflamasi sel dan pelepasan histamin oleh ujung

saraf yang mempercepat rasa pruritus (garuk menyebabkan inflamasi, inflamasi

merangsang pelepasan histamin, gatal bertambah dorongan menggaruk

meningkat, dan seterusnya "lingkaran setan prritus). Pruritus dapat menjadi

petunjuk pertama kelainan sistemik internal seperti DM (karena: hiperglikemi,

iritabilitas ujung saraf, dan kelainan metabolik kulit), kelainan darah, kanker

(berasal dari sistem limforetikuler, seperti penyakit Hodgkin). Beberapa

preparat oral menimbulkan pruritus seperti aspirin, antibiotik, hormon,

morpin/kokain. Pada lansia pruritus disebabkan oleh kulit kering.


D. MANIFESTASI KLINIS
Pruritus secara khas akan menyebabkan pasien menggaruk yang biasanya

dilakukan semakin intensif pada malam hari. Pruritus tidak sering dilaporkan

pada saat terjaga karena perhatian pasien teralih pada aktifitas sehari-hari. Pada
malam hari dimana ha-hal yang bisa mengalihkan perhatian hanya sedikit,

keadaan priritus yang ringan sekalipun tidak mudah diabaikan. Efek sekunder

mencakup ekskorisi, kemerahan bagian kulit yang menonjol (bidur), infeksi

dan perubahan pigmentasi. Rasa gatal yang hebat akan menganggu penampilan

pasien.. Efek sekunder pruritus adalah ekskoriasi, kemerahan, bidur (kulit

menonjol), infeksi, dan perubahan pigmentasi. Pruritus pada malam lebih

intensif dari pruritus pada sianga hari, akibatnya minimnya distraktor pada

malam hari. Sebaliknya pada siang hari banyak distraktor yang mengalihkan

perasaan gatal, seperti pekerjaan, hiburan dan sebagainya.


E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes Alergi pada Kulit
Macam tes kulit untuk mendiagnosis alergi :

- Puncture, prick dan scratch test biasa dilakukan untuk menentukan

alergi oleh karena alergen inhalan, makanan atau bisa serangga.

- Tes intradermal biasa dilakukan pada alergi obat dan alergi bisa

serangga

- Patch test (epicutaneus test) biasanya untuk melakukan tes pada

dermatitis kontak

Skin Prick Test adalah salah satu jenis tes kulit sebagai alat diagnosis yang

banyak digunakan oleh para klinisi untuk membuktikan adanya IgE spesifik

yang terikat pada sel mastosit kulit. Terikatnya IgE pada mastosit ini

menyebabkan keluarnya histamin dan mediator lainnya yang dapat

menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah

akibatnya timbul flare/kemerahan dan wheal/bentol pada kulit tersebut.


2. Pemeriksaan khusus gangguan metabolik pada pruritus yang di sebabkan

oleh diabetes melitus, gangguan ginjal, serta gangguan intra/ ekstra hepatik :

GDP/G2PP, ureum kreatini, SGOT/SGPT, bilirubin direk/in direk


3. Pemeriksaan telur cacing pada pruritus ani.
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pruritus sangat bergantung pada penyebab rasa gatal itu

sendiri. Sementara pemeriksaan untuk mencari penyebab pruritus dilakukan,

terdapat beberapa cara untuk mengatasi rasa gatal sehingga menimbulkan

perasaan lega pada penderita, yaitu:


Pengobatan topical:
Dinginkan kulit dengan kain basah atau air hangat
Losion calamine. Losion ini tidak dapat digunakan pada kulit yang kering

dan memiliki batasan waktu dalam pemakaiannya karena mengandung

phenols.
Losion menthol/camphor yang berfungsi untuk memberikan sensasi dingin.
Pemakaian emmolient yang teratur, terutama jika kulit kering.
Kortikosteroid topical sedang untuk periode waktu yang pendek.

Antihistamin topical sebaiknya tidak digunakan karena dapat

mensensitisasi kulit dan menimbulkan alergi dermatitis kontak.

Pengobatan dengan medikasi oral mungkin diperlukan, jika rasa gatal

cukup parah dan menyebabkan tidur terganggu:

Aspirin: efektif pada pruritus yang disebabkan oleh mediator kinin atau

prostaglandin, tapi dapat memperburuk rasa gatal pada beberapa pasien.


Doxepin atau amitriptyline: antidepresan trisiklik dengan antipruritus yang

efektif. Antidepresan tetrasiklik dapat membantu rasa gatal yang lebih

parah.
Antihistamin: antihistamin yang tidak mengandung penenang memiliki

antipruritus. Antihistamin penenang dapat digunakan karena efek

penenangnya tersebut.
Thalidomide terbukti ampuh mengatasi prurigo nodular dan beberapa

jenis pruritus kronik.

Upaya lain yang berguna untuk menghindari pruritus, diantaranya

mencegah factor pengendap, seperti pakaian yang kasar, terlalu panas, dan

yang menyebabkan vasodilatasi jika dapat menimbulkan rasa gatal (mis.

Kafein, alcohol, makanan pedas). Jika kebutuhan untuk menggaruk tidak

tertahankan, maka gosok atau garuk area yang bersangkutan dengan telapak

tangan. Untuk gatal ringan dengan penyebab yang tidak membahayakan

seperti kulit kering, dapat dilakukan penanganan sendiri berupa:

Mengoleskan pelembab kulit berulang kali sepanjang hari dan segera

setelah mandi.
Tidak mandi terlalu sering dengan air berkadar kaporit tinggi.
Memasang alat pelembab udara, terutama di ruangan ber-AC.
Mengenakan pakaian yang tidak mengiritasi kulit seperti katun dan

sutra, menghindari bahan wol serta bahan sintesis yang tidak menyerap

keringat.
Menghindari konsumsi kafein, alkohol, rempah-rempah, air panas dan

keringat berlebihan.
Menghindari hal-hal yang telah diketahui merupakan penyebab gatal.
Menjaga higiene pribadi dan lingkungan.
Mencegah komplikasi akibat garukan dengan jalan memotong kuku dan

menggosok kulit yang gatal menggunakan telapak tangan sebagai ganti

menggaruk. Obat yang dapat dipergunakan antara lain obat oles antigatal
(dengan kandungan mentol, kampor, kalamin dan doxepin HCl) serta

obat minum, seperti doxepin dan antihistamin.


G.
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN DATA
1. Biodata
Cantumkan biodata klien secara lengkap yang mencakup umur, jenis

kelamin, suku bangsa.


2. Keluhan utama
Biasanya klien datang ke tempat pelayanan kesehatan dengan keluhan

gatal pada kulitnya, intensitas gatal lebih sering terasa pada malam hari.
3. Riwayat penyakit sekarang
Factor pencetus timbulnya pruritus dapat disebabkan oleh adanya

kelainan sistemik internal seperti diabetes melitus, kelainan darah atau

kanker, penggunaan preperat oral seperti aspirin , terapi antibiotic,

hormone. Adanya alergi, baru saja minum obat yang baru, pergantian

kosmetik dapat menjadi factor pencetus adanya pruritus. Tanda-tanda

infeksi dan bukti lingkungan seperti udara yang panas, kering, atau

seprei/selimut yang menyebabkan iritasi, harus dikenal.

Pruritus dapat terjadi pada orang yang berusia lanjut sebagai akibat

dari kulit yang kering.


4. Riwayat penyakit dahulu
Pruritus merupakan penyakit yang hilang/ timbul, sehingga pada

riwayat penyakit dahulu sebagian besar klien pernah menderita penyakit

yang sama dengan kondisi yang dirasa sekarang.


5. Riwayat penyakit keluarga
Diduga factor genetic tidak mempengaruhi timbulnya pruritus.

Kecuali dalam keluarga ada kelainan sistemik internal yang bersifat

herediter mungkin juga mengalami pruritus.


6. Riwayat psikososial
Rasa gatal dapat pula disebabkan oeh factor psikologik seperti stress

yang berlebihan dalam keluarga atau lingkunagn kerja. Pruritus


menimbulkan gangguan rasa nyaman dan perubahan integritas kulit. Rasa

gatal yang hebat akan menganggu penampilan pasien.

DIAGNOSA

1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya lesi, erosi.


2. Pola tidur tidak efektif berhubungan dengan adanya rasa gatal.
B. RENCANA KEPERAWATAN

N DIAGNOSA NOC NIC

O
1 Kerusakan a. Respon alergi setempat; a. menginspeksi adanya
integritas kulit tingkat keparahan kemerahan,
berhubungan hipersensitifitas imun pembengkakan atau
dengan adanya setempat terhadap tanda-tanda dehisensi
lesi, erosi. antigen lingkungan b. mengkaji ada atau
tertentu tadaknya tanda-tanda
b. Akses hemodinamika; infeksi luka setempat
keberfungsian area akses c. Mengkonsultasikan
dialysis pada ahli gizi tentang
c. Integritas jaringan: kulit makanan tinggi protein,
dan membrane mukosa; mineral, kalori dan
keutuhan struktur dan vitamin
fungsi fisiologis normal d. Mengkolaborasikan
kulit dan membrane pemberian antihistamin
mukosa dan topikal
kortikosteroid

2. 1. Pola tidur a. Jumlah jam tidur a. Determinasi efek-


tidak efektif dalam batas normal efek medikasi terhadap
berhubungan b. Pola tidur,kualitas pola tidur
dengan dalam batas normal b. Jelaskan
adanya rasa c. Perasaan fresh pentingnya tidur yang
gatal. sesudah tidur/istirahat adekuat
c. Fasilitasi untuk
d. Mampu mempertahankan
mengidentifikasi hal-hal aktivitas sebelum tidur
yang meningkatkan tidur (membaca)
d. Ciptakan
lingkungan yang
nyaman
e. Kolaburasi
pemberian obat tidur

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan ditandai oleh rasa gatal,

serta menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Pruritus dapat disebabkan

oleh berbagai macam gangguan. Secara umum, penyebab pruritus dapat


diklasifikasikan menjadi lima golongan:Pruritus local, Gangguan sistemik,

Gangguan pada kulit, pajanan terhadap faktor tertentu, hormonal.

Penatalaksanaan pruritus sangat bergantung pada penyebab rasa gatal

itu sendiri. Sementara pemeriksaan untuk mencari penyebab pruritus

dilakukan, terdapat beberapa cara untuk mengatasi rasa gatal sehingga

menimbulkan perasaan lega pada penderita, yaitu: Pengobatan topical dan

Pengobatan dengan medikasi oral

Daftar Pustaka

http://koekoeh.blogspot.co.id/2012/04/asuhan-keperawatan-
pruritus.html

http://laporanners.blogspot.co.id/2012_01_01_archive.html

https://hennykartika.files.wordpress.com