Vous êtes sur la page 1sur 4

ABSES PARU

1. Definisi
Abses paru adalah infeksi destruksi berupa lesi nekrotik pada jaringan paru
yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus)
dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih.
Abses paru adalah kematian jaringan paru dan pembentukan rongga yang
berisi sel-sel mati atau cairan akibat infeksi.
Bila diameter kavitas <2cm dan jumlahnya banyak (multiple small
abscesses) dinamakan necrotizing penumonia.
2. Faktor resiko
- Gangguan kesadaran: alkoholisme, epilepsi/kejang, gangguan
serebrovaskuler, anestesi umum, koma, trauma, sepsis, dan
penyalahgunaan obat.
- Iatrogenik
- Penyakit periodontal
- Kebersihan mulut yang buruk
- Pneumonia akut
- Imunosupresi
- Bronkiektasis
- Kanker paru
3. Etiologi
a. Pneumonia aspirasi disebabkan kelompok bakteri anaerob (bacteriodes
melaninogenus, peptostreptococcus spesies, basillus intermedius,
fusobacterium nucleatum, microaerrophilic streptococcus).
b. Kelompok bakteri aerob (gram positif: sekunder sebab selain aspirasi)
- Staphylococcus aureus
- Streptococcus microaerophilic
- Streptococcus pyogenes
- Streptococcus pneumonia
c. Kelompok bakteri aerob(gram negatif: biasanya merupakan sebab
nosokomial)
- Klebsiella pneumonia
- Pseudomonas aeruginosa
- E. Coli
- H. Influenza
- Nocardia spesies
- Gram negative bacill
d. Jamur : mucoraceae, aspergillus spesies
e. Parasite, amuba
f. Micobacteria
Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara yaitu aspirasi dan
hematogen. Yang paling sering dijumpai adalah kelompok abses
bronkogenik yang termasuk akibat aspirasi, stasis sekresi, benda asing,
tumor, dan striktur bronkial.

4. Patofisiologi

5. Gejala klinis
- Demam tinggi (70%-80%)
- Batuk produktif, bila terjadi hubungan abses dengan bronkus batuk
menjadi meningkat dan berbau busuk (foctor ex oroc)(40-75%)
- Nyeri dada (50%)
- Batuk darah (25%)
- Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan berat
badan, keringat malam)
6. Pemeriksaan fisik
o Inspeksi: pergerakan pernapasan menurun
o Palpasi: fremitus meningkat pada daerah yang sakit, kadang-
kadang teraba gesekan pleura
o Perkusi: redup pada daerah yang sakit
o Auskultasi: suara nafas bronkial disertai suara napas tambahan
kasar-halus, diatas kavitas akan terdengar suara napas amfhorik.
1) Redup pada perkusi (tanda-tanda konsolidasi) dengan suara napas
bronkial.
2) Ronki basah
3) Bila terjadi epyema torakis yaitu adanya hubungan abses dengan
pleura maka pemeriksaan fisiknya adalah: pergerakan dada tertinggal
pada tempat lesi, fremitus vocal menghilang, perkusi redup-pekak,
bunyi napas menghilang.
4) Jari tabuh
5) Takikardi
6) Febris

7. pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan lab
- Pemeriksaan darah rutin, leukositosis >12000 m3 dan peningkatan laju
endap darah, pada hitung leukosit didapatkan pergeseran shit to left.
- Pengecatan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH
- Pemeriksaan kultur bakteri dan tes kepekaan antibiotik
2. Pemeriksaan radiologi (Ro Thorak)
Gambaran densitas homogen yang berbentuk bulat, kemudian akan
ditemukan gambaran radiolusen dalam bayangan infiltrat padat.
Selanjutnya bila abses tersebut mengalami ruptur sehingga terjadi drainase
abses yang tidak sempurna ke dalam bronkus, maka baru tampak kavitas
yang ireguler dengan batas cairan dan udara( air fluid level) didalamnya.
Gambaran spesifik ini tampak mudah pada posisi Ro thoraks PA.
Gambaran khas abses paru anaerob kavitas single (soliter), sedangkan
abses paru sekunder (aerobic, nosocomial, dan hematogen)lesinya bisa
multiple.
3. CT Scan
Gambaran berupa lesi dens bundar dengan kavitas berdinding tebal tidak
teratur, terletak pada jaringan paru yang rusak. Pembuluh darah dan
bronkusnya berakhir pada dinding abses.
8. Penatalaksanaan

1. Antibiotik yang paling baik adalah klindamisin diberikan pada 3x600


mg intravena, lalu 4x300 mg oral/hari. Regimen alternatif penisilin G
2-10 juta unit/hari lanjut penisilin oral 4x500-750/hari.
Kombinasi penisilin 12-18 juta unit/hari dengan metronidazole 2
gr/hari dengan dosis terbagi 10 hari.
B laktamase inhibitase pada pneumonia nosokomial.
2. Drainase postural dan fisioterapi 2-5 kali seminggu selama 15 menit
jika abses tidak berhubungan dengan bronkus maka drainase dengan
bronkoskopi.
3. Operasi dengan indikasi
- Abses yang tidak mengalami perbaikan
- Komplikasi empyema, hemoptisis masif, distula bronkopleura
- Pengobatan penyakit mendasar: carcinoma, pengeluaran benda asing
dan lain-lain.