Vous êtes sur la page 1sur 6

Plasenta Previa

1. Pengertian

Plasenta previa adalah suatu kehamilan dimana plasenta berimplantasi abnormal pada
segmen bawah rahim (SBR), menutupi ataupun tidak menutupi ostium uteri internum (OUI),
sedangkan kehamilan itu sudah viable atau mampu hidup diluar rahim (usia kehamilan >20
minggu dan/atau berat janin >500 gram). Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi
pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum
(Saifuddin, 2002).

2. Klasifikasi Plasenta Previa

Klasifikasi plasenta previa secara teoritis dibagi dalam bentuk klinis, yaitu:

a) Plasenta Previa Totalis, yaitu menutupi seluruh ostium uteri internum pada pembukaan
4cm.

b) Plasenta Previa Sentralis, yaitu bila pusat plasenta bersamaan dengan kanalis servikalis.

c) Plasenta Previa Partialis, yaitu menutupi sebagian ostium uteri internum.

d) Plasenta Previa Marginalis, yaitu apabila tepi plasenta previa berada di sekitar pinggir
ostium uteri internum.

Menurut De Snoo yang dikutip oleh Mochtar (1998), klasifikasi plasenta previa berdasarkan
pada pembukaan 4 5 cm yaitu :

a. Plasenta Previa Sentralis, bila pembukaan 4 5 cm teraba plasenta menutupi seluruh


ostium.

b. Plasenta Previa Lateralis, bila pada pembukaan 4 5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh
plasenta, dibagi 3 yaitu : plasenta previa lateralis posterior bila sebagian menutupi ostium
bagian belakang, plasenta previa lateralis bila menutupi ostium bagian depan, dan plasenta
previa marginalis sebagian kecil atau hanya pinggir ostium yang ditutupi plasenta.

Penentuan macamnya plasenta previa tergantung pada besarnya pembukaan, misalnya


plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previa
parsialis pada pembukaan 8 cm, penentuan macamnya plasenta previa harus disertai dengan
keterangan mengenai besarnya pembukaan.
3. Etiologi

Penyebab secara pasti belum diketahui dengan jelas. Menurut beberapa pendapat para ahli,
penyebab plasenta previa yaitu :

a. Menurut Manuaba (1998), plasenta previa merupakan implantasi di segmen bawah rahim
dapat disebabkan oleh endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi,
endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasaan plasenta untuk mampu memberikan
nutrisi pada janin, dan vili korealis pada chorion leave yang persisten.

b. Menurut Mansjoer (2001), etiologi plasenta previa belum diketahui pasti tetapi meningkat
pada grademultipara, primigravida tua, bekas section sesarea, bekas operasi, kelainan janin
dan leiomioma uteri.

- Kriteria Diagnosis

Anamnesis

Perdarahan segar pada kehamilan viable.


Tanpa disertai rasa nyeri ataupun kontraksi rahim.

Obstetrik
Bagian terbawah janin belum memasuki pintu atas panggul (PAP)
Sering disertai kelainan letak (sungsang atau lintang).
Perdarahan berasal dari ostium uteri.

-Diagnosis Diferensial

Solusio Plasenta
Vassa previa (pecah)
Perdarahan obstetrik lainnya.

- Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : darah lengkap, urine lengkap.
KTG, Doppler, Laennec.
USG untuk menilai letak/implantasi plasenta, usia kehamilan dan keadaan janin
secara keseluruhan.

-Tata Laksana
Langkah-langkah tata laksana plasenta previa ditentukan oleh beberapa faktor :
1. Usia kehamilan yang berkaitan dengan kematangan paru-paru.
2. Banyaknya perdarahan yang terjadi.
3. Gradasi dari plasenta previa sendiri.

Oleh karena itu tata laksana plasenta previa dibagi mejadi dua bagian besar, yaitu :
Konservatif, yang artinya mempertahankan kehamilan sampai waktu terterntu.
Aktif yang berarti kehamilan itu segera diakhiri.

-Usia Kehamilan <8 minggu


Berikan pematangan paru Deksametason injeksi 12mg 3kali berselang 8 jam atau
Oradekson 5mg 2kali selang 8 jam, atau Deksametason 24mg single dose.
Berikan obat tokolitik (Papaverin, terbutalin, atau isoksuprina).
Prinsipnya kehamilan dipertahankan dulu, kecuali jika perdarahan ulang dilakukan
terminasi (SC).
Plasenta previa lateralis dan plasenta letak rendah masih dimungkinkan dilahirkan
pervaginam, dimana terminasi diawali dengan amniotomi (pemecahan selaput
ketuban) dan dilanjutkan dengan pemacuan (Oksitosin). Bila perdarahan tetap
berlangsung juga, dilakukan SC.
- Penyulit
Anemia
Syok akibat perdarahan banyak.
Lost coaggulopathy juga karena kehilangan darah.

4. Faktor Risiko Plasenta Previa

a. Faktor predisposisi

Menurut Manuaba (1998), faktor faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta
previa adalah umur penderita antara lain pada umur muda < 20 tahun dan pada umur > 35
tahun, paritas yaitu pada multipara, endometrium yang cacat seperti : bekas operasi, bekas
kuretage atau manual plasenta, perubahan endometrium pada mioma uteri atau polip, dan
pada keadaan malnutrisi karena plasenta previa mencari tempat implantasi yang lebih subur,
serta bekas persalianan berulang dengan jarak kehamilan < 2 tahun dan kehamilan 2 tahun.

Menurut Mochtar (1998), faktor faktor predisposisi plasenta previa yaitu: 1) Umur
dan paritas Pada paritas tinggi lebih sering dari paritas rendah, di Indonesia, plasenta previa
banyak dijumpai pada umur muda dan paritas kecil. Hal ini disebabkan banyak wanita
Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium masih belum matang. 2)
Endometrium yang cacat Endometrium yang hipoplastis pada kawin dan hamil muda,
endometrium bekas persalinan berulang ulang dengan jarak yang pendek (< 2 tahun), bekas
operasi, kuratage, dan manual plasenta, dan korpus luteum bereaksi lambat, karena
endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. 3) Hipoplasia endometrium : bila kawin
dan hamil pada umur muda.

b. Faktor pendukung

Etiologi plasenta previa sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun ada
beberapa teori dan faktor risiko yang berhubungan dengan plasenta previa, diantaranya :

1) Lapisan rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti : fibroid atau jaringan parut (dari
previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah Caesar atau aborsi).
2) Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil
konsepsi.

3) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium. Plasenta previa juga dapat terjadi
pada plasenta yang besar dan yang luas, seperti pada eritroblastosis, diabetes mellitus, atau
kehamilan multipel. Sebab sebab terjadinya plasenta previa yaitu : beberapa kali menjalani
seksio sesarea, bekas dilatasi dan kuretase, serta kehamilan ganda yang memerlukan
perluasan plasenta untuk memenuhi kebutuhan nutrisi janin karena endometrium kurang
subur.

c. Faktor pendorong Ibu merokok atau menggunakan kokain, karena bisa menyebabkan
perubahan atau atrofi. Hipoksemia yang terjadi akibat karbon monoksida akan dikompensasi
dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada perokok berat (lebih dari 20 batang
sehari).

5. Patofisiologi Plasenta Previa

Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trisemester ketiga dan mungkin juga
lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta akan
mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuknya dari jaringan
maternal yaitu bagian desidua basalis yang tumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan
melebarnya istmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi
disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada tapaknya. Demikian
pula pada waktu servik mendatar dan membuka ada bagian tapak plasenta yang lepas. Pada
tempat laserasi itu akn terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu ruang
intervillus dari plasenta. Oleh sebab itu, perdarahan pada plasenta previa betapapun pasti
akan terjadi oleh karena segmen bawah rahim senantiasa terbentuk Perdarahan antepartum
akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat segmen bawah uterus lebih
banyak mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan servik menyebabkan
sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus
marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut
otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.

6. Gambaran Klinik Plasenta Previa

Perdarahan tanpa sebab, tanpa rasa nyeri serta berulang, darah berwarna merah segar,
perdarahan pertama biasanya tidak banyak, tetapi perdarahan berikutnya hamper selalu lebih
banyak dari sebelumnya, timbulnya penyulit pada ibu yaitu anemia sampai syok dan pada
janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim, bagian terbawah janin
belum masuk pintu atas panggul dan atau disertai dengan kelainan letak oleh karena letak
plasenta previa berada di bawah janin.

7. Penatalaksanaan Plasenta Previa


Terdapat 2 macam terapi, yaitu :

a. Terapi Ekspektatif

Kalau janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia luar baginya kecil
sekali. Ekspektatif tentu hanya dapat dibenarkan kalau keadaan ibu baik dan perdarahan
sudah berhenti atau sedikit sekali. Syarat bagi terapi ini adalah keadaan ibu masih baik (Hb-
normal) dan perdarahan tidak banyak, besarnya pembukaan, dan tingkat placenta previa.

b. Terapi Aktif

Kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan, adapun caranya:

a) Cara Vaginal Untuk mengadakan tekanan pada plasenta dan dengan demikian menutup
pembuluh pembuluh darah yang terbuka (tamponade plasenta).

b) Cara Sectio caesarea Dengan maksud untuk mengosongkan rahim sehingga dapat
mengadakan retraksi dan menghentikan perdarahan dan juga untuk mencegah terjadinya
robekan cervik yang agak sering dengan usaha persalinan pervaginam pada placenta previa.
Prinsip dasar penanganan placenta previa yaitu, setiap ibu dengan perdarahan antepartum
harus segera dikirim ke rumah sakit yang memiliki fasilitas transfusi darah dan operasi.
Perdarahan yang terjadi pertama kali jarang sekali atau boleh dikatakan tidak pernah
menyebabkan kematian, asal sebelumnya tidak diperiksa dalam. Biasanya masih terdapat
cukup waktu untuk mengirimkan penderita ke rumah sakit, sebelum terjadi perdarahan
berikutnya yang hampir selalu akan lebih banyak daripada sebelumnya, jangan sekali kali
melakukan pemeriksaan dalam keadaan siap operasi. Apabila dengan penilaian yang tenang
dan jujur ternyata perdarahan yang telah berlangsung, atau yang akan berlangsung tidak akan
membahayakan ibu dan janin (yang masih hidup) dan kehamilannya belum cukup 36 minggu,
atau taksiran berat janin belum sampai 2500 gram, dan persalinan belum mulai, dapat
dibenarkan untuk menunda persalinan sampai janindapat hidup di luar kandungan lebih baik
lagi (Penanganan Pasif) sebaliknya, kalau perdarahan yang telah berlangsung atau yang akan
berlangsung akan membahayakan ibu dan atau janinnya, kehamilannya telah cukup 36
minggu, atau taksiran berat janin telah mencapai 2500 gram, atau persalinan telah mulai,
maka penanganan pasif harus ditinggalkan, dan ditempuh penanganan aktif. Dalam hal ini
pemeriksaan dalam dilakukan di meja operasi dalam keadaan siap operasi.

Daftar Pustaka

1. Leveno J. Kenneth,2009 Edisi 21,Obstetri Williams,Penerbit Buku Kedokteran EGC.


2. Dr.Achadiat M Chrisdiono,2004, Obstetri & Ginekologi, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC.