Vous êtes sur la page 1sur 8

Policy Paper

Mata Kuliah Perekonomian Indonesia


Analisis Kebijakan Moneter Inflation Targeting Framework

Disusun Oleh:

Adhityas Ghaniyya Tejo


1406533806

Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia
Depok
Desember 2016

STATEMENT OF AUTHORSHIP
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah terlampir adalah
murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan
tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan dan/atau digunakan sebagai bahan untuk tugas
pada mata ajaran lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya
menggunakannya.

Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarism.

Nama : Adhityas Ghaniyya Tejo


NPM : 1406533806
Tandatangan : Adhityas
Mata Ajaran : Perekonomian Indonesia
Judul Makalah : Analisis Kebijakan Moneter Inflation Targeting Framework
Tanggal : 16 Desember 2016
Dosen : T.M. Zakir Machmud, Ph.D
Asisten : Luh Putu Ratih Kumala Dewi
A. Pendahuluan

Melalui amanat yang tercakup di Undang Undang tentang Bank Indonesia Nomor 3
Tahun 2004 tentang Bank Indonesia Pasal 7 ayat (1), tujuan Bank Indonesia fokus pada
pencapaian sasaran tunggal atau single objective-nya, yaitu mencapai dan memelihara
kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu
kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang
negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek
kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang Negara lain.
(Bank Indonesia)

Dalam melaksanakan tugasnya Bank Indonesia telah menyusun berbagai kerangka


kebijakan moneter yang akan menjadi pedoman dalam langkah usaha stabilisasi ekonomi.
Salah satu fokusnya adalah pengendalian melalui kebijakan yang mengatur inflasi.

Inflasi yang stabil menjadi syarat untuk kesinambungan pertumbuhan ekonomi yang
dapat bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Pengendalian Inflasi menjadi sangat
perlu agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Inflasi yang tinggi
menyebabkan pendapatan riil dan standar hidup masyakarat menurun, selain itu dengan
adanya inflasi yang tidak stabil menimbulkan ketidakpastian yang dirasakan oleh
masyarakat yang menghambat dalam pengambilan keputusan ekonomi sehingga
menyebabkan penurunan dalam perumbuhan ekonomi, inflasi juga menyebabkan nilai
rupiah menjadi tidak stabil.

Berbagai upaya dilakukan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi dan stabilitas
nilai rupiah. Dengan dilepasnya sistem crawling band dan dianutnya sistem nilai tukar
mengambang setelah krisis ekonomi tahun 1997/98, kerangka kebijakan moneter
diarahkan pada penciptaan stabilitas harga dengan target base money (inflation targeting
lite). Sejak bulan Juli 2005, kerangka kebijakan moneter disempurnakan dengan prinsip-
prinsip Inflation Targeting Framework.

Inflation Targetting Framework sebagai kerangka kebijakan ekonomi moneter diharapkan


dapat menjaga stabilitas rupiah agar terjadi stabilitas pada perekonomian Indonesia pula.
Selain itu diharapkan ITF mampu menjadi solusi untuk stabilitas jangka panjang dengan
tingkat inflasi rendah.

B. Latar Belakang

Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan
terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi
kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang
lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi. (Bank Indonesia)

Inflasi menjadi masalah yang sangat diperbincangkan di Indonesia, karena pengaruhnya


yang besar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Berikut adalah data mengenai tingkat
inflasi yang terjadi di Indonesia. Menurut Sutawijaya (2012: 86), tingkat inflasi yang
tinggi akan berdampak negatif pada perekonomian yang selanjutnya dapat mengganggu
kestabilan sosial dan politik.

Menurut Maqrobi (2011:2), dalam suatu perekonomian, antara inflasi dan pertumbuhan
ekonomi saling berkaitan. Apabila tingkat inflasi tinggi maka dapat menyebabkan
melambatnya pertumbuhan ekonomi, sebaliknya inflasi yang relatif rendah dan stabil
dapat mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi. Begitu pula dengan pertumbuhan
ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat pula memicu terjadi inflasi yang tinggi
melalui kenaikan dalam permintaan agregat

Gambar 1
Berdasarkan Gambar 1 diatas, inflasi yang terjadi di Indonesia mengalami fluktuasi dan
mencapai tingkat tertingginya pada tahun 1998. Kemudian inflasi kembali meningkat di
tahun 2002 namun setelahnya terus menurun dan kembalik naik di tahun 2006.

Untuk itu dengan tingkat inflasi yang tidak stabil maka BI menciptakan kerangka kebijakan
moneter yang disebut sebagai Inflation Targeting Framework

C. KEBIJAKAN

Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan kerangka kerja kebijakan moneter yang
secara eksplisit mentargetkan inflasi dan kebijakan moneter secara transparan dan
konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi dimaksud.

Empat prinsip pokok rezim kebijakan moneter dengan Inflation Targeting Framework
(ITF):
1. Memiliki sasaran utama yaitu sasaran inflasi yang dijadikan sebagai prioritas
pencapaian (overriding objective) dan acuan (nominal anchor) kebijakan moneter.
2. Bersifat antisipatif (preventive atau forward looking) dengan mengarahkan respon
kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi ke depan.
3. Mendasarkan pada analisis, prakiraan, dan kaidah kebijakan tertentu dalam
menetapkan pertimbangan respon kebijakan moneter (constrained discretion).
4. Sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola yang sehat (good governance), yaitu
berkejelasan tujuan, konsisten, transparan, dan berakuntabilitas.

Menggunakan kerangka ini, Bank Indonesia menerapkan kebijakan-kebijakan moneter

D. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Setiawan, A. (2011). Inflation Targeting Framework dan Perubahan Kebijakan Moneter.


2005 2006 2007 2008 2009
Bulan Inf Inf Inf Inf Inf
IHK IHK IHK IHK IHK
asi asi asi asi asi
118, 138, 147, 158,2 113, -
Januari 1,43 1,36 1,04 1,77
53 72 41 6 78 0,07
Februar 118, - 139, 148, 159,2 114,
0,58 0,62 0,65 0,21
i 33 0,17 53 32 9 02
120, 139, 148, 160,8 114,
Maret 1,91 0,03 0,24 0,95 0,22
59 57 67 1 27
121, 139, 148, - 161,7 113, -
April 0,34 0,05 0,57
00 64 43 0,16 3 92 0,31
121, 140, 148, 164,0 113,
Mei 0,21 0,37 0,1 1,41 0,04
25 16 58 1 97
121, 140, 148, 110,0 2,46 114,
Juni 0,5 0,45 0,23 0,11
86 79 92 8*) *) 1
122, 141, 149, 111,5 114,
Juli 0,78 0,45 0,72 1,37 0,45
81 42 99 9 61
Agustu 123, 141, 151, 112,1 115,
0,55 0,33 0,75 0,51 0,56
s 48 88 11 6 25
Septem 124, 142, 152, 113,2 116,
0,69 0,38 0,8 0,97 1,05
ber 33 42 32 5 46
Oktobe 135, 143, 153, 113,7 116,
8,7 0,86 0,79 0,45 0,19
r 15 65 53 6 68
Novem 136, 144, 153, 116, -
1,31 0,34 0,18 113,9 0,12
ber 92 14 81 65 0,03
Desem 136, - 145, 155, 113,8 - 117,
1,21 1,1 0,33
ber 86 0,04 89 5 6 0,04 03
Tingka
17, 6,5 11, 2,7
t 6,6
11 9 06 8
Infasi

2010 2011 2012 2013 20142)


Bulan Inf Inf Inf Inf Inf
IHK IHK IHK IHK IHK
asi asi asi asi asi
118, 126, 130, 136, 110,9
Januari 0,84 0,89 0,76 1,03 1,07
01 29 9 88 92)
118, 126, 130, 137, 111,2
Februari 0,3 0,13 0,05 0,75 0,26
36 46 96 91 8
118, 126, 131, 138, 111,3
Maret -0,14 -0,32 0,07 0,63 0,08
19 05 05 78 7
118, 125, 131, 138, 111,3
April 0,15 -0,31 0,21 -0,1 -0,02
37 66 32 64 5
118, 125, 131, 138, 111,5
Mei 0,29 0,12 0,07 -0,03 0,16
71 81 41 6 3
119, 126, 132, 140, 112,0
Juni 0,97 0,55 0,62 1,03 0,43
86 5 23 03 1
121, 127, 133, 144, 113,0
Juli 1,57 0,67 0,7 3,29 0,93
74 35 16 63 5
122, 128, 134, 146, 113,5
Agustus 0,76 0,93 0,95 1,12 0,47
67 54 43 25 8
Septem 123, 128, 134, 145, 113,8
0,44 0,27 0,01 -0,35 0,27
ber 21 89 45 74 9
123, 128, 134, 145, 114,4
Oktober 0,06 -0,12 0,16 0,09 0,47
29 74 67 87 2
Novemb 124, 129, 134, 146, 116,1
0,6 0,34 0,07 0,12 1,5
er 03 18 76 04 4
Desemb 125, 129, 135, 146,
0,92 0,57 0,54 0,55 119 2,46
er 17 91 49 84
Tingka
t 6,96 3,79 4,3 8,38 8,36
Infasi

Bula 2015 2016


n
IH In IH In
K f K f
as as
i i
-
Janua
118 0,2 123 0,5
ri
,71 4 ,62 1
- -
Febru
118 0,3 123 0,0
ari
,28 6 ,51 9
11 12
Mare 0, 0,
8,4 3,7
t 17 19
8 5
11 12 -
0,
April 8,9 3,1 0,
36
1 9 45
11 12
0, 0,
Mei 9,5 3,4
50 24
0 8
12 12
0, 0,
Juni 0,1 4,2
54 66
4 9
12 12
0, 0,
Juli 1,2 5,1
93 69
6 5
12 12 -
Agus 0,
1,7 5,1 0,
tus 39
3 3 02
Sept 12 - 12
0,
emb 1,6 0, 5,4
22
er 7 05 1
12 - 12
Okto 0,
1,5 0, 5,5
ber 14
7 08 9
12 12
Nove 0, 0,
1,8 6,1
mber 21 47
2 8
12
Dese 0,
2,9
mber 96
9
Ting
kat 3, 2,
Infa 35 59
si