Vous êtes sur la page 1sur 10

Dimensi Akuntansi Keperilakuan

Para akuntan dan manajer profesional menyadari kebutuhan akan tambahan informasi
ekonomi yang dihasikan sistem akuntansi. Oleh karena itu, informasi ditambah tidak hanya
melaporkan data data keuangan tetapi data data non keuangan yang terkait dalam proses
pengambilan keputusan. Sehingga para akuntan wajar memasukan dimensi dimensi
keperilakuan dari berbagai pihak yang terkait dengan informasi yang dihasilkan oleh system
akuntansi.
1. Lingkup Akuntansi Keperilakuan
Akuntansi keperilakuan berada di balik peran akuntansi tradisional yang berarti
mengumpulkan, mengukur, mencatat dan melaporkan informasi keuangan. Dengan
demikian, dimensi akuntansi berkaitan dengan perilaku manusia dan juga dengan desain,
konstruksi, serta penggunaan suatu sistem informasi akuntansi yang efisien. Akuntansi
keperilakuan, dengan mempertimbangkan hubungan antara perilaku manusia dan sistem
akuntansi, mencerminkan dimensi sosial dan budaya manusia dalam suatu organisasi.
Ruang lingkup akuntansi keperilakuan sangat luas, yang meliputi antara lain:
a. Aplikasi dari konsep ilmu keperilakuan terhadap desain konstruksi sistem akuntansi
b. Studi reaksi manusia terhadap format dan isi laporan akuntansi
c. Cara dimana informasi diproses untuk membantu pengambilan keputusan
d. Pengembangan teknik pelaporan yang dapat mengkomunikasikan perilaku para pemakai data
e. Pengembangan strategi untuk motivasi dan mempengaruhi perilaku, cita cita serta tujuan
dari orang orang yang menjalankan organisasi.
Lingkup dari akuntasi keperilakuan dapat dibagi menjadi tiga bidang besar :
a. Pengaruh perilaku manusia berdasarkan desain, kontruksi, dan penggunaan sistem akuntansi
b. Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia
c. Metode untuk memprediksi dan strategi unuk mengubah perilaku manusia
2. Aplikasi dari Akuntansi Keperilakuan
Sangatlah banyak keuntungan ekonomi dan keuntungan manusia yang didapat dari
pengenalan aspek keperilakuan dalam akuntansi. Riset menunjukkan bahwa jika seorang
Manager yang sadar terhadap aspek keperilakuan dari akuntansi akan memanggil orang-orang
yang terlibat guna menyelidiki lebih lanjut bagaimana mereka memandang inovasi tersebut,
apakah menguntungkan atau sebaliknya, dan apakah mereka takut dengan inovasi itu.
Seorang akuntan keperilakuan pasti ingin mengetahui penyebab dari sikap dan
perilaku yang sepertinya akan diulang di masa mendatang. Jika yang terulang adalah perilaku
yang tidak diinginkan maka dapat disimpulkan terdapat proses penyusunan anggaran yang
tidak efesien. Oleh karena itu akuntan keperilakuan akan mendukung strategi untuk
mengubah keadaan perilaku untuk membuatnya sesuai dengan fungsi organisasi yang
diinginkan.
Untuk itu dapat disimpulkan tujuan dari akuntan keperilakuan adalah mengukur dan
mengevaluasi faktor-faktor keperilakuan yang relevan dan mengomunikasikan hasilnya guna
pengambilan keputusan internal dan eksternal.
Akuntansi keperilakuan : perluasan logis peran akuntansi tradisional
Pengambilan keputusan dengan menggunakan laporan akuntansi dapat menjadi lebih
baik jika laporan tersebut banyak mengandung informasi yang relevan. Akuntan mengakui
adanya fakta ini melalui prinsip akuntansi yang dikenal dengan pengungkapan penuh (full
disclosure).
Bentuk lanjut dari gambaran ekonomi suatu perusahaan secara logis memerlukan
aplikasi dari prinsip pengungkapan penuh. Untuk itu diperlukan suatu masukan informasi
keperilakuan guna melengkapi data keuangan dan data lain yang dilaporkan. Sejak
meningkatnya pengakuan terhadap beberapa aspek perilaku dan sosial dari akuntansi
belakangan ini, terdapat suau kecenderungan untuk memandang bagian akuntansi yang lebih
substansial secara lebih luas. Menurut pandangan para akuntan perusahaan dan masyarakat
akademis mulai mengambangkan perspektif mereka sendiri dalam mendekati beberapa
pengertian yang mendalam mengenai pemahaman atas perilaku manusia pada organisasi.
Para akuntan berkualitas akan memperhitungkan gejala keperilakuan dalam
melakukan penyelidikan karena mereka mengetahui data keperilakuan sangat berarati untuk
melengkapi data keuangan. Lebih lanjut lagi, para akuntan menjadi satu-satunya kelompok
yang secara logis mampu mengikutsertakan informasi keperilakuan ke dalam laporan
keuangan bisnis yang ada.
Landasan Teori dan Pendekatan Akuntansi Keperilakuan
1. Dari Pendekatan Normatif ke Deskriptif
Pada awal perkembangannya, desain riset dalam bidang akuntansi manajemen masih
sangat sederhana, yaitu hanya memfokuskan pada masalah-masalah perhitungan harga
pokok produk. Seiring dengan perkembangan teknologi produksi, permasalahan riset
diperluas dengan diangkatnya topik mengenai penyusunan anggaran, akuntansi
pertanggungjawaban dan masalah harga transfer. Meskipun demikian, berbagai riset
tersebut masih bersifat normatif.
Pada tahun 1950-an C. Argyris menerbitkan risetnya pada tahun 1952, desain riset
akuntansi manajemen mengalami perkembangan yang signifikan dengan dimulainya usaha
untuk menghubungkan desain sistem pengendalian manajemen suatu organisasi dengan
perilaku manusia. Sejak saat itu, desain riset lebih bersifat deskriptif dan diharapkan lebih
bisa menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi oleh para pelaku organisasi.
2. Dari Pendekatan Universal ke Pendekatan Kontijensi
Riset akuntansi keperilakuan pada awalnya dirancang dengan pendekatan universal
(universalistic approach), seperti riset Argyris (1952), Hopwood , dan Otley. Tetapi, karena
pendekatan ini memiliki banyak kelemahan, maka segera muncul pendekatan lain yang
selanjutnya mendapat perhatian besar dalam bidang riset, yaitu pendekatan kontinjensi
(contingency approach).
Berbagai riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi dilakukan dengan tujuan
mengidentifikasi berbagai variabel kontinjensi yang mempengaruhi perancangan dan
penggunaan sistem pengendalian manajemen. Secara ringkas, berbagai variabel kontinjensi
yang mempengaruhi desain system pengendalian manajemen tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Ketidakpastian (uncertainty) seperti tugas, rutinitas, repetisi, dan faktor-faktor eksternal
lainnya.
b. Teknologi dan saling ketergantungan (technology and interdependence) seperti proses
produksi, produk masal, dan lainnya.
c. Industri, perusahaan, dan unit variabel seperti kendala masuk ke dalam industri, rasio
konsentrasi, dan ukuran perusahaan.
d. Strategi kompetitif (competitive strategy) seperti penggunaan biaya rendah atau keunikan.
e. Faktor-faktor yang dapat diamati (observability factor) seperti desentralisasi, sentralisasi,
budaya organisasi dan lainnya
Chenhall dan Morris meneliti tentang hubungan antara variabel kontinjensi
ketidakpastian lingkungan dan ketergantungan organisasi terhadap hubungan antara struktur
organisasi dan persepsi atas manfaat sistem akuntansi.
Lingkup dan Sasaran Hasil dari Akuntansi Keperilakuan
Pada masa lalu, para akuntan semata-mata fokus pada pengukuran pendapatan dan
biaya yang mempelajari pencapaian kinerja perusahaan di masa lalu guna memprediksi masa
depan. Mereka mengabaikan fakta bahwa kinerja masa lalu adalah hasil masa lalu dari
perilaku manusia dan kinerja masa lalu itu sendiri merupakan suatu faktor yang akan
mempengaruhi perilaku di masa depan. Mereka melewatkan fakta bahwa arti pengendalian
secara penuh dari suatu organisasi harus diawali dengan memotivasi dan mengendalikan
perilaku, tujuan, serta cita-cita individu yang saling berhubungan dalam organisasi.
Persamaan dan Perbedaan Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan
Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi keperilakuan
manusia. Akuntansi keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan
akuntansi. Ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial, sedangkan akuntansi
keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntasi dan pengetahuan keperilakuan. Namun
ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan sama-sama menggunakan prinsip sosiologi dan
psikologi untuk menilai dan memecahkan permasalahan organisasi.
Ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial, akuntansi keperilakuan
merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan pengetahuan keperilakuan. Akuntansi keperilakuan
diterapkan dengan praktis menggunakan riset ilmu keprilakuan untuk menunjukkan dan
memperediksi perilaku manusia. Namun, terdapat perbedaan penting antara kedua golongan
tersebut dalam hubungannya dengan sasaran hasil, fokus, pendidikan, keahlian dan fungsi
masing-masing. Akuntansi adalah suatu profesi dan sangat diinginkan agar para akuntan
menjadi terlatih untuk memikirkan tindakan secara professional. Pelatihan ini berbeda dari
pengalaman yang dilihat oleh para ilmuwan.
Beberapa perbedaan antara akuntan keperilakuan dan ilmuwan keperilakuan:
Perbedaan Akuntan Keperilakuan Ilmuwan Keperilakuan
Area Keahlian Keutamaan akuntansi: Keutamaan ilmu sosial: tidak
Pengetahuan dasar dari ilmu ada pengetahuan akuntansi
social
Kemampuan Mendesain dan Bukan merupakan elemen Elemen kunci dalam
Melaksanakan Perencanaan utama dalam pelatihan pelatihan
Proyek Keperilakuan
Pengetahuan dan Elemen kunci dalam Bukan elemen utama dalam
Pemahaman terhadap pelatihan pelatihan
Pekerjaan Organisasi Bisnis
Secara Umum dan Sistem
Akuntansi Secara Khusus
Orientasi Profesional Ilmiah
Pendekatan Masalah Praktik Teoritis dan Praktik
Fungsi Melayani klien, menasehati Ilmu kelanjutan dan
manajemen pemecahan masalah
Kepentingan dalam Ilmu Terbatas terhadap akuntansi- Terbatas terhadap disiplin
Keperilakuan terkait bidang yang luass dalam ilmu
keperilakuan

Pengaruh Organisasional terhadap Perilaku


Manusia bekerja dengan dibatasi oleh organisasi. Perilakunya dipengaruhi oleh banyak faktor,
termasuk ukuran organisasional dan struktur. Gaya kepemimpinan atau filosofi manajemen,
otoritas/hubungan pertanggungjawaban, hubungan status, dan norma-norma kelompok juga turut
mempengaruhi perilaku dan fungi organisasi.
Orang dalam organisasi saling bertukar jaringan informasi dalam kantor atau di luar kantor.
Informasi tersebut mungkin saja akurat, disimpangkan atau palsu. Berdasarkan informasi yang
diterima dan kemudian diproses oleh seseorang, keputusan-keputusan diambil dan sikap dibentuk.
Keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang sudah disimpangkan atau informasi palsu dapat
mengarah pada terbentuknya sikap pekerjaan dan sikap organisasi serta kepemimpinan yang tidak
kondusif bagi efisiensi operasional.

BAB 2
Konsep Akuntansi dan Hipotesis Keperilakuan

Persepsi Berbeda Tentang Perusahaan


Perusahaan merupakan organisasi yang memiliki berbagai sistem yang saling terkait. Sistem
tersebut dibuat oleh sejumlah orang guna mempermudah proses operasi perusahaan serta
pengendalian aktivitas perusahaan secara keseluruhan. Salah satu aspek terpenting dalam
organisasi melibatkan proses akuntansi perusahaan. Akan tetapi, subjek konsep dasar
akuntansi merupakan suatu hal yang sering diabaikan. Subjek tersebut terkadang hanya
didasarkan pada akademisi lain dan ditarik dari pojok pengetahuan lain sebelum diabaikan
lagi. Dengan beberapa pengecualian, buku teks dasar telah mengabaikan masalah ini, dan
jarang membahasnya di luar lingkaran akademik. Dua konsep utama yaitu konsep
kepemilikan dan konsep entitas, telah berulang kali dimuat dalam literature dan terkadang
mengalami perbaikan, modifikasi, dan refleksi sudut pandang alternative sebagai usaha
rekonsiliasi.
1. Konsep Kepemilikan
Mereka yang menganut konsep telah memahami perusahaan sebagai sesuatu yang dimiliki
oleh seorang pemilik tunggal, sekumpulan partner, dan sejumlah pemegang saham. Asset
perusahaan dilihat sebagai kepemilikan dari orang-orang tersebut dan kewajiban (hutang)
perusahaan sebagai kewajiban mereka. Total asset dikurangi dengan total kewajiban sama
dengan kekayaan bersih yang dimasukkan dalam perusahaan. Pos-pos pendapatan dan biaya
akan meningkatkan atau mengurangi kekayaan bersih.
2. Konsep Entitas
Konsep entitas, sama seperti konsep kepemilikan, merupakan sebuah sudut pandang, sebuah
sikap dalam pikiran yang tidak hanya dibatasi terhadap akuntan. Ini merupakan esensi dari
konsep akuntansi entitas. Penganut konsep ini melihat entitas sebagai sesuatu yang terpisah
dan berbeda dari pihak-pihak yang memberikan kontribusi modal kepada entitas tersebut.
Mereka memandang asset dan kewajiban sebagai milik dari entitas itu sendiri dan bukan
milik dari pemegang saham atau pemilik perusaahaan. Ketika keuntungan diperoleh oleh
entitas tersebut, keuntungan tersebut juga menjadi milik entitas yang akan diserahkan
kepada pemegang saham hanya jika dividen diumumkan. Dalam pandangan para penganut
konsep ini, keuntungan yang tidak dibagi tetap milik entitas dan membentuk bagian dari
ekuitas entitas sendiri,dan ini tidak dipengaruhi oleh penggunaan keuntungan tak
terdistribusi yang dicantumkan pada bagian pemegan saham di neraca.
3. Konsep Tanggung Jawab sosial
Beberapa orang memahami perusahaan sebagai lembaga social yang beroperasi untuk
memajukan seluruh anggota dan kelompok dalam masyarakat. Mereka melihat perusahaan
bertanggung jawab kepada pemegang saham, manajemen, pegawai, pemasok, konsumen,
pemerintah dan anggota public lainnya. Golongan ini memberikan konsep ketiga yang
dengan jelas menyampaikan ide tanggung jawab social sebagaimana dengan mana entitas
bertidak dan melakukan aktivitasnya. Sepertinya, konsep ini berhubungan dengan etika
dalam hal tujuan, sasaran dan cara mendapatkan atau mencapai tujuan dan sasaran tersebut,
dan bukan dengan usaha untuk mengubah persepsi perusahaan sebagai entitas yang
memiliki aset bersih.
Teori - Teori Ekonomi Perusahaan
Mc Guire mengatakan area ini telah ditutupi oleh ekonom yang memandang
perusahaan (enterprise) dan wirausahawan (entrepreneur) sebagai suatu kesatuan atau sebagai
sesuatu yang sama. Dengan demikian, pada suatu waktu menyebut keuntungan sebagai
pengembalian return) bagi perusahaan, sementara pada saat yang lain menyebut keuntungan
sebagai pengembalian (return) kepada pemilik perusahaan. Lebih lanjut lagi, ada kebulatan
suara diantara para ekonom tentang jwaban yang tepat terhadap pertanyaan apakah
keuntungan merupakan pengembalian (return) terhadap individual atau unit komunitas.
Para ekonom memiliki sudut pandang yang identik dengan Husband karena mereka
melihat pemegang saham-bahkan dalam perusahaan besar modern sekalipun-membuat
keputusan untuk mengangkat, ememcat, atau mempertahankan manajemen. Merekaa
merupakan wirausahawan sesungguhnya.
Straus dan Davis adalah wakil dari ekonom yang mengadopsi konsep entitas serta
melihat perusahaan itu sendiri sebagai wirausahawan dan keuntungan sebagai penghasilan
bersih dari perusahaan. Pandangan ini tentu saja mengeleminasi ketidaksesuain dari
keuntungan tidak dibagi dalam model ekonomi.
konsep kepemilikan sepertinya merupakan perwujudan dari ideology kapitalisme
klasik tradisional. Ini tercermin dalam pernyataan ekonom, Milton Friedman, yang merupakan
pendukung dari ideologi tersebut ketika dia menyampaikan konsep tanggung jawab sosial
yang banyak di adopsi oleh pejabat perusahaan.
Selain itu, perusahaan adalah sebuh instrument yang dimiliki oleh pemegang saham.
Sebaliknya, konsep entitas sepertinya menjadi esensi dari ideology kapitalisme manajerial
dari Monsen, dimana melihat pebisnis dan perusahaan besar digantikan oleh wirausahawan.
Ideologi ini juga berhubungan dengan tanggungjawab sosial industri yang selama ini
konsisten dengan konsep entitas.
Konsekuensi Dari Sudut Pandang yang Berbeda
Lorig menampilkan perbedaan akuntansi dan pelaporan yang menurutnya disebabkan
oleh eksistensi dari dua sudut pandang utama. Alasan ini akan sulit menemukan dari daftar
item-item ketika menyampaikan persepsi tentang sudut pandang yang sesuai dengan
perbedaan spesifik. Misalnya, dia mengatakan orang yang menganut konsep entitas akan
mencatat biaya untuk dividen atas saham preferen karena mereka memandang para pemegang
saham preferen sebagai orang yang berbeda diluar kelompok kepemilikan, tetapi berbeda
dalam kategori yang sama dengan pemegang obligasi. Sementara, orang yang menganut
konsep kepemilikan. Tidak memandang demikian. Mereka yang memandang sudut pandang
Husband dan Staubus yang berada pada ujung (ekstrim) dari kontinum konsep kepemilikan
akan menyesuaikan item-item yang sama ini sesuai dengan sudut pandangnya.s disisi lain,
Lorig memandang pemegang saham preferen sebagai wirausahawan. Dengan demikian, akan
sulit membuat daftar perbedaan komprehensif guna melukiskan seluruh sudut pandang dalam
dua kategori utama.
Banyak hal dalam daftar Lorig yang berhubungan dengan cara bagaimana item-item
diperlakukan dalam pernyataan keuangan untuk pelaporan kepada pemegang saham, dan
penulis tidak yakin bahwa pernyataan keuangan tersebut harus mencerminkan sikap atau
konsep perusahaan maupun tanggung jawab dari pihak yang mempersiapkannya. Ketika
pernyataan dipersiapkan, setiap pertimbangan harus didasarkan pada regulasi agensi serta
gaya dan metode yang digunakan sebelumnya. Lebih lanjut, lagi diasumsikan bahwa orang
yang menganut sudut pandang entitas bisa saj mempersiapkan pernyataan keuangan ini
dengan cara yang mereka anggap akan menyenangkan pemegang saham.
Lorig menunjukkan semua pendukung konsep entitas tidak tertarik pada penilaian
kembali aset ketika terjadi perubahan tingkat harga. Hal ini meruakan kebalikan dari para
pendukung sudut pandang kepemilikan yang mempraktikkan penilaian kembali aset ketika
terjadi perubahan tingkat harga. Orang-prang yang menganut sudut pandang entitas biasanya
lebih peduli pada kehidupan dan pertumbuhan entitas, dan serta segala sesuatu yang berkaitan
guna memastikan bahwa seluruh aset digunakan secara menguntungkan di berbagai divisi
organisasi. Untuk mengendalikan hal tersebut maupun kinerja manajer secara efektif, nilai
sekarang perlu diperhatikan. Reevaluasi aset sering dibutuhkan guna memungkinkan
dilakukannya hal tersebut. Bagi penganut sudut pandang entitas, reevaluasi aset akan
menambah ekiutas entitas dengan sendirinya. Meskipun penganut sudut pandang entitas
reevaluasi aset berguna untuk mengarahkan perhatian pada sisi aset dari neraca, terdapat
beberapa perbedaan signifikan antara konsep entitas dengan konsep kepemilikan dalam hal
cara penilaian aset kembali.
Beberapa Hipotesis Keprilakuan untuk Konsep yang Berbeda
Perusahaan yang sama, misalnya mengumpulkan fakta yang sama. Namun, fakta tersebut
sering dipandang secara berbeda. Contoh ini semata-mata mengilustrasikan masalah yang
telah diperhatikan oleh para psikolog selama bertahun-tahun. Apa yang disebut sebagai fakta
objektif biasanya hanya merupakan sesuatu yang dipahami oleh seorang individu. Kita
melihat dunia dengan cara yang agak berbeda dengan cara orang lain sehingga perbedaan
dalam persepsi sangat mungkin terjadi.
Memang didasari bahwa persepsi yang berbeda sering menghasilkan toleransi dan
memungkinkan seseorang untuk meneriama sudut pandang orang lain sebagai sesuatu yang
sah (legitimate). Namun, sebagaimana disampaikan oleh Stagner, orang-orang sering menjadi
sangat terlibat pada situasi di mana mereka gagal membedakan keterlibatan mereka sendiri
dengan fakta spsifik. Secara khusus, ini terjadi pada situasi yng melibatkan konflik.
1. Alasan Terjadinya Perbedaan Persepsi
Secara jelas, persepsi, sikap, kerangka referensi, nilai, kelompok referensi, norma
kelompok, lingkungan, budaya, sistem kepribadian berhubungan dengan pola interaksi
secara tumpang tindih. Sebagaimana banyak ditulis pada buku-buku maupun jurnal-jurnal
yang khusus membahas mengenai masalah ini, pembahasan pada buku ini tidak lebih dari
sekadar memberikan gambaran kasar yang dibutuhkan untuk memahami masalah tersebut.
Untuk memahami cara manusia merespons dan mengatasi lingkungan social, kita harus
mengetahui apakah arti lingkungan bagi manusia tersebut. Persepsi umumnya bergantung
pada besarnya asumsi yang dibawa oleh seorang individu pada kesempatan khusus. Makna
dan signifikansi yang kita tentukan pada sesuatu, seseorang, dan suatu kejadin bergantung
pada makna dan signifikansi yang kita bangun menjadi kerangka referensi melalui
pengalaman masa lalu. Kerangka ini mungkin saja menggunakan sistem nilai kita, yang
terkadang dicetak selama bertahun-tahun ketika kita membentuk sikap terhadap
bermacam-macam situasi, orang, kelompok, dan sebagainya. Katz mengatakan bahwa
ketika sikap khusus diorganisasikan ke dalam struktur hierarkis, maka sikap khusus
tersebut mencakup sistem nilai.
Sikap ini adalah pembentukan psikologis yang kita pelajari sejalan dengan
perkembangan kita; ketika dipelajari, sikap tersebut menuntut kita bertindak menurut
karakteristik tertentu. Ini menunjukkan dampak keluarga perkembangan sikap dari setiap
individu. Banyak orang menganggap faktor keluarga adalah pengaruh langsung utama
karena keluarga merupakan filter biasa dimana budaya , kelas, agama, dan sumber-sumber
lainnya mengalir keseorang individu diawal perkembangan usianya. Bukti ini disampaikan
oleh Lipset yang dari temuan penelitiannya melaporkan bahwa terdapat konruensi yan relatf
tinggi antara suara ayah dan suara pemilih (voter) pertama. Namun, terdapat peangaruh
penting lain terhadap perkembangan sikap selain keluarga. Budaya adalah pengaruh paling
penting yang sangat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Ahli
antropologi telah menunjukkan bagaimana perbedaan budaya bertanggung jawab atas
bermacam-macam perbedaan sikap terhadap banyak hal. Namun, dalam pembahasan ini,
budaya total tidak menjadi faktor penting karena terdapat perbedaan persepsi dalam satu
budaya.
Selanjutnya, harus dinyatakan bahwa manusia tidak sepenuhnya menyadari seluruh aspek
dari struktur nilai mereka atau bermacam-macam sikap yang masuk ke struktur tersebut.
Oleh karena itu, mereka tidak sepenuhnya menyadari persepsi mereka terhadap lingkungan
tertentu. Banyak dari nilai-nilai ini terekam di alam bawah sadar mereka, menunggu
kemungkinan untuk tampil jika terdapat motivasi yang sesuai.
Hipotesis tersebut didasarkan pada observasi informasi yang dilakukan terhadap
beberapa praktik akuntan public, akuntan dalam perdagangan dan industry, pemegang
saham, para pelaku bisnis dalam segala ukuran, mahasiswa dan seterusnya.
2. Beberapa Hipotesis Mengenai Konsep Kepemilikan
Terdapat hipotesis bahwa sebagian besar pemegang saham yang memiliki saham dari
suatu perusahaan dalam jumlah yang substansial menagnut pandanagan kepemilikan. Secara
khusus, hal ini terjadi pada pemegang saham yang memiliki saham biasa dalam kuantitas
yang substansial. Di sini, diakui bahwa sebagian besar praktik akuntan public didasarkan
pada pandangan kepemilikan, dan mereka yang membahas hal ini sepertinya setuju bahwa
ini merupakan hasil dari pengadopsian mereka terhadap sudut pandang pemegang saham
ketika mereka melakukan audit terhadap banyak perusahaan. Bagi sebagian besar akuntan
public, fungsi utama sistem akuntansi adalah mencerminkan kepentingan para pemegang
saham. Pemeriksaan yang dilakukan oleh badan akuntansi cenderung berorientasi pada gaya
dan aroma dari konsep kepemilikan, dan ini menghasilkan gaya pendidikan kepemilikan
akuntan public yang cenderung menuju pada arah yang sama.hasilnya adalah akuntan publik
cenderung memandang aset bersih sebagai sesuatu yang benar-benar dimilki oleh pemegang
saham.
Selanjutnya pengaruh dalam keluarga. Banyak istri dan anak dari pemegang saham
yang besar juga menjadi pemegang saham, dan konsep kepemilikan diserap dalam atmosfer
rumah. Banyak akuntan public mengikuti jejak ayahnya, dan bahkan ketika anaknya masuk
kepekerjaan berbeda , mereka sering menggunakan banyak nilai orang tua sebagai bagian
dari nilai yang dianutnya.
Ketika kepemilikan menyebar diantara ribuan pemegang saham, pemilik perusahaan
hampir tidak dapat dibedakan dengan public umum. Dengan demikian, citra public dari
perusahaan sangat mungkin menjadi citra dari pemiliknya juga. Tidak satupun dari banyak
pemangku kepentingan (stakeholder) kecil dengan masalah seperti ini menyebut dirinya
sebagai pemilik perusahaan yang sahamnya mereka pegang. Perbedaan dalam sudut
pandang mereka sepertinya dikondisikan oleh faktor-faktor lain.