Vous êtes sur la page 1sur 24

Mata kuliah : Sistem Endokrin

Dosen Pengajar : Annastasia Lamonge,S.Kep.,Ns.,MAN

ASUHAN KEPERAWATAN
GONDOK

Disusun Oleh :
Kelompok 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE
MANADO
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas untuk memenuhi persyaratan
penilaian dari mata kuliah Sistem Endokrin yang mana dengan tugas ini kami sebagai
mahasiswa dapat mengetahui lebih jauh dari materi yang diberikan dosen.
Makalah yang berjudul tentang Asuhan Keperawatan Gondok Mengenai penjelasan
lebih lanjut kami memaparkannya dalam bagian pembahasan.
Dengan harapan ini dapat bermanfaat, maka kami sebagai penulis mengucapakan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan apabila dalam
penulisan ada salah-salah kata mohon dimaafkan. Saran dan kritik yang membangun dengan
terbuka kami terima untuk meningkatkan kualitas makalah berikutnya.

Manado , Februari 2017

KELOMPOK 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Istilah Goiter berarti terjadinya pembesaran pada kelenjar tiroid yang dikenal dengan
goiter non toxik atau simple goiter atau strume endemmik, dengan dampak yang
ditimbulkannya hanya bersifat local yaitu sejauh mana pembesaran tersebut
mempengaruhi organ disekitarnya seperti pengaruhnya pada trakea dan esophagus.
Berdasarkan kejadiannya atau penyebarannya ada yang disebut strume endemic dan
sporadic. Secara sporadic dimana kasus-kasus ini dijumpai menyebar diberbagai tempat
atau daerah. Bila dihubungkan dengan penyebab maka struma poradik banyak
disebabkan oleh factor goitrogenik, anomaly, penggunaan obat-obat anti tiroid ,
perdangan dan neoplasma, secara endemis, dimana kasus-kasus struma ini dijumpai pada
sekelompok orang didaerah tertentu, dihubungkan dengan penyakit defisiensi yodium.
Pada umumnya goiter sering dijumpai pada daerah pegunungan, namun ada juga yang
ditemukan didataran rendah dan ditepi pantai

1.2 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui konsep penyakit dari Gondok


2. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada penyakit Gondok
3. Untuk mengetahui gambaran kasus dari Gondok

1.3 Manfaat Penulisan

1. Dari makalah ini kita dapat menambah wawasan sebagai mahasiswa dalam bidang
pengetahuan tentang penyakit Gondok
2. Dari makalah ini kita dapat mengetahui bagaimana proses keperawatan dan kasus
pada Gondok
3. Makalah ini juga dapat menjadi referensi bagi pembaca
BAB II
KONSEP PENYAKIT
2.1. Definisi
Gondok non toksik atau sederhana, dimana pembesaran kelenjar tiroid yang tidak
disebabkan oleh neoplasma umumnya diklasifikasikan sebagai endemic atau sporadic.
Gondok ini muncul jika kelenjar tiroid tidak bisa memproduksi dan mensekresi hormone
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic. Akibatnya, kadar hormone penstimulasi-
tiroid yaitu hormone THS (Thyroid stimulating hormone) naik, dan menyebabkan kelenjar
tiroid membesar akibat sintesis hormone yang tidak cukup. Akibat ini biasanya menimbulkan
kerusakan hormonal ringan sampai menengah.
Gondok endemic lebih sering menyerang wanita daripada pria, terutama saat masa
remaja dan hamil, ketika permintaan tubuh terhadap hormone tiroid meningkat. Gondok
sporadic tidak menyerang segmen populasi tertentu. Kedua tipe memiliki prognosis yang baik
jika ditangani dengan tepat.

2.2. Anatomi Fisiologi

Kelenjar tiroid terdiri atas dua buah lobus yang terletak di sebelah kanan dan kiri trakea,
dan diikat bersama oleh secarik jaringan tiroid yang disebut ismus tiroid dan yang melintasi
trakea di sebelah depannya.

Struktur. Kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel yang dibatasi epitelium
silinder, mendapat persediaan darah berlimpah, dan yang disatukan jaringan ikat. Sel itu
mengeluarkan sekret cairan yang bersifat lekat yaitu koloida tiroid, yang mengandung zat
senyawa yodium; zat yang aktif dari senyawa yodium ini ialah hormone tiroksin. Sekret ini
mengisi vesikel dan dari sini berjalan ke aliran darah, baik langsung maupun melalui saluran
limfe.

Fungsi. Sekresi tiroid diatur sebuah hormon dari lobus anterior kelenjar hipofisis, yaitu
hormon tirotropik. fungsi kelenjar tiroid sangat erat bertalian dengan kegiatan metabolik
dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan; bekerja sebagai perangsang proses
oksidasi, mengatur penggunaan oksigen, dan dengan sendirinya mengatur pengeluaran
karbon dioksida.

Hiposekresi (hipotiroidisma). Bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan sekret pada waktu
bayi maka mengakibatkan suatu keadaan ang dikenal sebagai kretinisme, berupa hambatan
pertumbuhan mental dan fisik. Pada orang dewasa, kekurangan sekresi mengakibatkan
miksudema; proses metabolic mundur dan terdapat kecendurungan untuk bertamabah berat,
geraknya lamban, cara berpikir dan bicara lamban, kulit menjad tebal dan kering, serta
rambut rontok dan menjadi jarang. Suhu badannya d bawah normal dan denyut nadi perlahan.

Hipersekresi. Pada pembesaran kelenjar dan penambahan sekresi yang disebut


hipertiroidisma, semua simtomnya kebalikan dari miksudema. Kecepatan metabolism naik
dan suhu tubuh dapat lebih tinggi dari normal. Pasien turn beratnya, gelisah dan mudah
marah, kecepatan denyut nadi naik, cardiac output bertambah, dan simtom kardio-vaskuler
mencakup fibrilasi atrium dan kegagalan jantung.

Pada keadaan yang dikenal sebagai penyakit Grave atau gondok eksoftalmus, tampak
mata menonjol ke luar. Efek ini disebabkan terlampau aktifnya hormone tiroid. Adakalanya
tidak hilang dengan pengobatan.

2.3. Etiologi

Kedua tipe gondok merupakan kelainan turun-temurun yang bisa menyebabkan


sintesis T4 yang tidak cukup atau gangguan metabolism yodium.
Gondok endemic disebabkan oleh asupan yodium dalam makanan yang tidak
mencukupi, sehingga menyebabkan produksi dan sekresi hormone tiroid tidak cukup.
Gondok sporadic disebabkan oleh tercernanya makanan goitrogenik dalam jumlah
besar atau penggunaan obat goitrogenik, yaitu propylthiouracil (PTU), methimazole
(Tapazole), iodida, dan litium(lithobid) yang bisa menyerang fetus jika diminum saat hamil.
Gondok ini juga disebabkan oleh makanan goitrogenik yaitu, rutabagas, kol, kacang keledai,
kacang tanah, buah persik, kacang polong, stroberi, bayam dan lobak.

2.4 Manifestasi Klinis


Tanda dan Gejala yang dapat muncul pada Gondok adalah sebagai berikut.
Pembesaran kelenjar ringan sampai gondok sangat besar dan multinodular
Distres respiratorik dan disfagia akibat kompresi trakea dan esophagus dan
akibat pembengkakan dan distensi leher
Gondok besar : obstruksi pengembalian venosa yang menyebabkan vena terisi
dan membengkak dan di kasus langka perkembangan sirkulasi venosa kolateral
di dada, dan bisa disertai pusing dan sinkope ( jika pasien mengangkat lengan
diatas kepalanya)

2.5 Patofisiologi
Goiter koloid, difus, nontoksik dan goiter koloid nodular merupakan gangguan yang
sangat sering dijumpai dan menyerang sampai 16% wanita dan 4 % pria yang berusia antara
20 sampai 60 tahun seperti yang telah dibuktikan oleh suatu penyelidikan di Tecumseh, suatu
komunitas di Michigan. Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali gangguan kosmetik,
tetapi kadang-kadang timbul komplikasi-komplikasi. Tiroid mungkin membesar secara difus
dan atau bernodula.
Etiologi goiter nontoksik antara lain adalah defisiensi yodium atau gangguan kimia
intratiroid oleh berbagai factor. Akibat gangguan ini kapasitas kelenjar tiroid untuk
mensekresi tiroksin terganggu, menyebabkan peningkatan kadar TSH dan hyperplasia dan
hipertrofi folikel-folikel tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid pada pasien goiter nontoksik
sering bersifat eksaserbasi dan remisi disertai hiperevolusi dan involusi pada bagian-bagian
kelenjar tiroid. Hiperplasia mungkin bergantian dengan fibrosis, dan dapat timbul nodula-
nodula mengandung folikel-folikel tiroid.
Secara klinis, pasien dapat memperlihatkan penonjolan si sepertiga bagian bawah
leher. Goiter yang besar dapat menimbulkan masalah kompresi mekanik, disertai pergeseran
letak trakea dan esofagus, dan gejala-gejala obstruksi.
Bila gangguan fungsi tiroid berat, maka goiter dapat disertai hipotiroidisme. Untuk
memastikan status fungsional goiter tersebut, diperlukan pengukuran resin T3 dan T4 serum.
Selain itu scintiscan yodium radioaktif dengan teknetium perteknetat mungkin dapat
memperlihatkan apakah nodula-nodula tersebut dingin atau panas. Nodula dingin
merupakan pertanda karsinoma, sedangkan nodula panas hampir selalu jinak. Sidik
ultrasound pada kelenjar tiroid dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan-perubahan
kistik pada nodula tiroid. Nodula kistik hampir tidak pernah bersifat ganas.
Terapi goiter antara lain dengan penekanan TSH oleh hormon tiroid. Pengobatan
dengan tiroksin yang lama akan mengakibatkan penekanan TSH hipofisis, dan penghambatan
fungsi tiroid disertai atrofi kelenjar tiroid. Goiter yang besar mungkin perlu dibedah untuk
menghilangkan gangguan mekanis dan kosmetis yang diakibatkannya. Pada masyarakat
dimana goiter timbul sebagai akibat kekurangan yodium, maka garam dapur harus diberi
tambahan yodium.
Goiter non toksik (sederhana) merupakan pembesaran tiroid (oleh karenanya disebut
non toksik). Faktor etiologi yang utama mungkin adalah defisiensi jodium dalam makanan;
ini menganggu sintesis dan sekresi hormone tiroid, jadi menaikkan produksi TSh hipofisis.
Rangsangan TSH yang lama menyebabkan pembesaran tiroid dengan menghasilkan nodulus
folikel-folikel kolid yang besar dengan derajat nekrosis hemoragi dan kalsifikasi yang
bermacam-macam atau nodular colloid Goitre. Pada keadaan kekurangan jodium yang parah,
tampak perubahan-perubahan hiperplastik menyolok, menyebabkan goiter parenkimatosa
atau difus.

2.6 Penatalaksanaan Medis


Penggantian hormone tiroid eksogenosa dengan levotiroksin (Synthroid) merupakan
pilihan penanganan yang mengurangi sekresi TSH dan memungkinkan kelenjar
beristirahat.
Yodium dosis kecil (larutan iodide Lugol atau kalium) umumnya untuk meringankan
gondok yang disebabkan oleh defisiensi yodium. Pasien gondok sporadic harus
menghindari obat dan makanan goitrogenik yang diketahui,
Gondok besar yang tidak merespons penanganan bisa membutuhkan tiroidektomi
subtotal
Pantau lingkar leher pasien untuk memeriksa apakah kelenjar tiroid semakin besar.
Periksa juga adakah perkembangan nodula keras di kelenjar, yang bisa
mengindikasikan karsinoma.
Pantau adakah tanda gondok sporadik pada pasien yang diberi obat goitrogenik.
Beri pengetahuan pada pasien mengenai garam beryodium, medikasi, dan gejala
tirotoksikosis.

2.7 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit gondok adalah:

Hipotiroidisme, yaitu produksi hormone tiroid berkurang


Kesulitan dalam bernapas/menelan
Tiroksikosis, jarang terjadi
Kanker Tiroid
Kretin (yang terjadi pada pasien di daerah endemic)
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah proses pengumpulan data secara sistematis yang bertujuan untuk
menentukan status kesehatan dan fungsional klien pada saat ini dan waktu sebelumnya, serta
untuk menentukan pola respons klien saat ini dan waktu sebelumnya.

Pengkajian pada pasien gondok adalah sebagai berikut:


Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor registrasi
medik, ata biografi ruangan dan diagnosa medis.
Riwayat kesehatan yang lalu berupa penyakit dahulu yang berhubungan dengan
keluhan sekarang.
Riwayat keluhan sekarang meliputi kapan keluhan itu timbul, apakah sudah
berobat dan keluhan apa yang dirasakan.
Pola aktivitas / istirahat
Gejala : Insomnia, sensitivitas meningkat.
Otot lemah, gangguan koordinasi.
Kelelahan berat.
Tanda : atrofi otot
Sirkulasi
Gejala : palpitasi.
Tanda : distrimia, bradikardi, hipotensi
Eliminasi
Gejala : pengeluaran urin sedikit, dan berwarna keruh.
pengeluaran feses sedikit
Integritas Ego
Gejala : mengalami stress yang berat baik emosional dan fisik, akibat penyakit
Tanda : emosi labil (euforia sedang sampai delirium), depresi.
Makanan / Cairan
Gejala : kehilangan berat badan yang mendadak.
kehausan dan sulit menelan
Tanda : pembesaran dibagian leher
Neurosensori
Tanda : bicaranya parau
Gangguan status mental dan perilaku, seperti; bingung, desiorientasi, gelisah,
peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma.
Pernapasan
Tanda : frekuensi pernapasan meningkat, takipnea.
Dispnea.
Pemeriksaan Diagnostik
o Pemeriksaan sidik tiroid, pemeriksaan dengan radiosotop untuk mengetahui
ukuran, lokasi dan fungsi tiroid, melalui hasil tangkapan yodium radioaktif oleh
kelenjar tiroid.
o Pemeriksaan ultrasonografi (USG), mengetahui keadaan nodul kelenjar tiroid
misalnya keadaan padat atau cair, adanya kista, tiroiditis.
o Biopsi asporasi jarum halus (BAJAH) yaitu dengan melakukan aspirasi
menggunakan jarum suntik halus no.22-27,sehingga rasa nyeri dapat dikurangi
dan relatif lebih aman. Namun demikian kelemahan dari pemeriksaan ini adalah
menghasilkan negatif atau positif.
o Pemeriksaan T3,T4,TSH,untuk mengetahui hiperfungsi atau hipofungsi kelenjar
tiroid atau hipofisis.
o Temografi,yaitu dengan mengukur suhu kulit pada daerah tertentu,menggunakan
alat yang disebut dinamic telethermografi. Hasilnya keadaan panas apabila selisih
suhu dengan daerah sekitarnya>0,90C dan dingin papabila <0,90C.sebagian besar
keganasan tiroid pada suhu panas.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa Keperawatan yang dapat muncul pada pasien gondok adalah sebagai berikut.
1. Gangguan Pertukaran Napas b/d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
2. Ketidakefektifan Pola Napas b/d sindrom hipoventilasi
3. Nyeri akut b/d agen cedera biologis (pembedahan kelenjar tiroid)
4. Kekurangan Volume Cairan b/d kegagalan mekanisme regulasi
5. Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan makan
6. Intoleransi Aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
7. Gangguan Citra Tubuh b/d perubahan persepsi diri
8. Hambatan komunikasi verbal b/d hambatan fisik

3.3 Intervensi
1. Gangguan Pertukaran Gas b/d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam diharapkan status pernapasan:
pertukaran gas dapat kembali normal, dengan kriteria hasil:
mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dispnea.
Intervensi :
1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas
Rasional: Pada system pernapasan di trakea terdapat sumbatan yang dapat
menghalangi jalan nafas sehingga pemantauan terhadap frekuensi dan
kedalaman pernafasan patut diperhatikan agar sumbatan tidak terus
menerus
2. Catat perubahan pada saturasi O2 , volume tidal akhir CO2 dan perubahan nilai analisa
gas darah dengan tepat.
Rasional: Karena trakea terjadi pembengkakan sehingga jalan napas tersumbat,
pencatatan saturasi O2 patut diperhatikan agar dapat menjadi indikasi untuk
terapi okseigen
3. Identifikasi kebutuhan aktual/potensial pasien untuk memasukkan alat membuka jalan
nafas
Rasional: Kebutuhan aktual/potensial pasien harus diperhatikan untuk mengetahui
seberapa banyak suplai dan kebutuhan oksigen klien
4. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Rasional: Dengan memberikan posisi yang sesuai biasanya posisi fowler dan semi
fowler, sirkulasi pernafasan dapat lebih baik
5. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi oksigen
Rasional: Terapi oksigen dapat berguna bagi klien yang terganggu saluran
pernafasannya akibat trakea yang tergeser

2. Ketidakefektifan Pola Napas b/d sindrom hipoventilasi


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x8 jam diharapkan status pernapasan : ventilasi
dapat kembali normal dengan kriteria hasil:
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dispnea
Menunjukkan jalan nafas yang paten
Intervensi:
1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernapas
Rasional :
2. Monitor pola nafas
Rasional :
3. Catat lokasi trakea
Rasional :
4. Identifikasi kebutuhan aktual/potensial pasien untuk memasukkan alat membuka jalan
nafas
Rasional :
5. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Rasional :
6. Kolaborasi untuk pemberian bronkodilator
Rasional :

3. Nyeri akut b/d agen cedera biologis (pembedahan kelenjar tiroid)


Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan nyeri dapat dikontrol, dengan
kriteria hasil:
Status Kenyamanan : Fisik
Kepuasan Klien : Manajemen Nyeri
Intervensi
1. Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan terutama pada
mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif
2. Berikan informasi mengenari nyeri, seperti penyebab, dan berapa lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur.
3. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan (mis. suhu ruangan, pencahayaan, suara bising)
4. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
5. Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (seperti relaksasi)
6. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter

4. Kekurangan volume cairan b/d kegagalan mekanisme regulasi


Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan intake cairan kembali normal
dengan kriteria hasil:
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang
berlebihan

Intervensi
1. Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik), jika diperlukan
2. Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
3. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
4. Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan IV

5. Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan makan


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan status nutrisi klien kembali
seimbang , dengan kriteria hasil:
Status menelan kembali normal
Berat badan normal sesuai dengan indeks massa tubuh.
Intervensi:
1. Identifikasi alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien
2. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi
persyaratan gizi
3. Instruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi (yaitu: membahas pedoman diet dan
piramida makanan)
4. Bantu pasien dalam menentukan pedoman atau piramida makanan yang paling cocok
dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
5. Kolaborasi pemberian obat-obatan sebelum makan (mis. penghilang rasa sakit,
antiemetik), jika diperlukan.

6. Intoleransi Aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan intoleransi aktivitas kembali
normal , dengan kriteria hasil:
Status respirasi: pertukaran gas dan ventilasi adekuat
Sirkulasi status baik
Mampu berpindah dengan atau tanpa bantuan alat
Intervensi:
1. Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual
Rasional : Membantu klien untuk menetapkan kebutuhan dan kemampuan klien
2. Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
Rasional : dengan membantu mengidentifikasi, perawat mampu menetapkan intervensi
selanjutnya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan aktivitas klien
3. Kolaborasi dengan tenaga rehabilitas medik dalam merencanakan program terapi yang
tepat.
Rasional : Program terapi yang tepat harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan klien
dan tubuh klien agar terapi ini dapat meningkatkan kemampuan klien untuk
beraktivitas

7. Gangguan Citra Tubuh b/d perubahan persepsi diri


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan citra tubuh klien kembali
normal , dengan kriteria hasil:
Kesadaran diri
Harga diri kembali seperti semula
Intervensi:
1. Monitor apakah klien bisa melihat bagian tubuh mana yang berubah
Rasional: Dengan melakukan intervensi ini, perawat bisa melihat perubahan apakah
yang terjadi pada klien saat melihat bagian tubuhnya yang berubah
2. Bantu klien untuk mendiskusikan perubahan-perubahan bagian tubuh yang
disebabkan adanya penyakit atau pembedahan dengan cara yang tepat
Rasional: Dengan mendiskusikan perubahan-perubahan bagian tubuh klien, perawat
bisa mengetahui persepsinya terhadap perubahan tubuhnya
3. Bantu klien memisahkan penampilan fisik dari perasaan berharga secara pribadi,
dengan cara yang tepat
Rasional : Membantu klien untuk menaikkan persepsinya terhadap bagian tubuhnya
yang berubah

8. Hambatan komunikasi verbal b/d hambatan fisik


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan fungsi sensori kembali
normal, dengan kriteria hasil:
Komunikasi ekspresif (kesulitan berbicara): ekspresi pesan verbal atau non verbal
yang bermakna
Intervensi:
1. Dorong pasien untuk berkomunikasi secara perlahan dan untuk mengulangi
permintaan
Rasional: Dengan mendorong klien untuk berkomunikasi secara perlahan, kita bisa
mengetahui apa yang klien bicarakan dan kita juga bisa mengidentifikasi tindakan
selanjutnya
2. Gunakan kartu baca, kertas, pensil, bahasa tubuh, gambar, daftar kosakata bahasa
asing, computer, dan lain-lain untuk memfasilitasi komunikasi dua arah yang optimal
Rasional: alat-alat diatas dapat membantu klien yang bicaranya kurang jelas akibat
suara yang parau karena trakea yang terjadi pergeseran
3. Anjurkan ekspresi diri dengan cara lain untuk menyampaikan informasi (bahasa
isyarat)
Rasional : ekspresi diri juga bisa menjadi alat bantu klien yang terkena gondok akibat
pergeseran trakea dan pita suara
4. Kolaborasi dengan dokter untuk kebutuhan terapi wicara
Rasional : terapi wicara bertujuan untuk meningkatan kemampuan verbal klien
BAB IV
STUDI KASUS
4.1 Pengkajian

Identitas klien

Nama : Ny. W

Alamat : Malanggaten Karanganyar

Usia : 59 tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Buruh

No. Registrasi : 2713xx

Diagnosa Medis : Struma Nodusa Non Toksik (SNNT) / Goitre

Tanggal Pengkajian : 25 April 2013, jam 09.00 WIB

Identitas Penanggung Jawab

Nama : Tn. S

Umur : 29 tahun

Pendidikan : SLTP

Pekerjaan : Swasta

Hub. dengan klien : Anak

Keluhan Utama : Nyeri pada bekas operasi tiroidektomi


Riwayat Penyakit Sekarang : Klien merasakan ada bejolan pada leher, dan benjolan
itu dirasakan kurang lebih tiga bulan, awalnya benjolan hanya sebesar kelereng tapi
lama kelamaan sebesar kuning telur ayam, kemudian klien memeriksakan
penyakitnya ke dr. D, dan dr. D menyarankan untuk dilakukan operasi atau
pembedahan. Setelah dioperasi, klien mengeluh sakit dan nyeri pada bekas operasi
Pola aktivitas dan lingkungan
pasien mengatakan makan dan minum perlu bantuan orang lain, toileting perlu
bantuan orang lain, mobilitas ditempat tidur perlu bantuan orang lain, berpindah
perlu bantuan orang lain
ambulasi atau ROM tidak ada gangguan

Pola istirahat tidur


sebelum sakit klien mengatakan tidur 8 jam per hari malam jam 21.00 sampai
04.00 WIB dan jarang tidur siang, kondisi saat bangun tidur segar.
selama sakit klien mengatakan pada malam hari tidur 5 jam dari pukul 21.00
sampai 02.00 WIB, setelah itu klien tidak bisa tidur lagi sampai pagi dan siang
hari pasien tidak pernah tidur siang karena merasakan nyeri pada bekas operasi
terganggu selama perawatan di rumah sakit.
Pola kognitif perseptual
sebelum sakit, klien mengatakan dapat berbicara dengan jelas, tidak
menggunakan alat bantu penglihatan, tidak menggunakan alat bantu pendengaran
selama sakit, pendengaran jelas, tidak menggunakan alat bantu penglihatan, dan
klien mengeluh nyeri. P = nyeri setelah operasi, Q= nyeri terasi seperti ditusuk-
tusuk, R= nyeri terasa dileher tepatnya dikelenjar tiroid, S= skala nyeri 7, T=
nyeri timbul 2 sampai 3 menit terutama saat bergerak.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : pasien tampak lemah, perut sakit, nyeri bekas operasi, bicara
susah dan pusing, kesadaran composmentis.
TTV : TD : 120/80 mmHG, N: 76x/mnt, R: 19x/mnt, SB: 36,8oC
Pemeriksaan head to toe
Kepala messosepal, kulit kepala bersih, sedikit ada ketombe, tidak ada lesi,
rambut lurus, bersih sedikit uban dan kusam.
Mata simetris kanan kiri, palpebra tidak ada oedema, konjungtiva anemis, sclera
tidak ikterik, pupil isokor, reflek terhadap cahaya baik, penggunaan alat bantu
pasien tidak menggunakan alat bantu penglihatan, penglihatan normal
Hidung simetris kanan dan kiri, tidak ada polip, tidak ada secret dan terlihat
bersih.
Mulut terlihat kering, tidak ada sariawan, bicara agak tidak jelas dan pelan.
Gigi bersih, tidak ada karang gigi, tidak ada karies dan tidak ada perdarahan pada
gusi
Telinga simetris kanan kiri, bersih dan tidak ada serumen.
Leher tidak ada kaku tunduk dan ada pembesaran kelenjar tiroid beruba SNNT
sekitar kurang lebih 4cm, benjolan satu setelah dilakukan pembedahan
(tiroidektomi)

Pemeriksaan Penunjang
WBC = 3,9 x 103/ul ( normal = 4,5 sampai 11,0)
RBC = 3,77 x 106/ul ( normal = 3,50 sampai 5,50)
HGB = 12,1 g/dl ( normal = 11,0 sampai 16,0)
HCT = 36,2 % ( normal = 37,0 sampai 50,0)
MCV = 96,0 fc
MCHC = 33,4 g/dl
PLT = 348 x 103/ul
FT4 = 11,72 pmol/L
TSH = 4,17 mU/L
GDS = 80 mg/dL
Pemeriksaan Radiologi, didapatkan hasil kesan yaitu proses peradangan yaitu
SNNT, dilakukan pemeriksaan EKG = Sinus Ritme

4.2 Analisa Data

Tanda dan Gejala Etiologi Masalah Keperawatan


Ds: -klien mengeluh nyeri Pembengkakkan kelenjar Nyeri Akut
P = nyeri setelah operasi, tiroid
Q= nyeri terasi seperti
ditusuk-tusuk, R= nyeri Tiroidektomi
terasa dileher tepatnya
dikelenjar tiroid, S= skala Nyeri Akut
nyeri 7, T= nyeri timbul 2
sampai 3 menit terutama
saat bergerak
Do : pasien tampak lemah,
perut sakit, nyeri bekas
operasi, bicara susah dan
pusing.
Ds: klien mengatakan Gangguan pemenuhan Intoleransi Aktivitas
makan dan minum perlu oksigen
bantuan orang lain, toileting
perlu bantuan orang lain, Ketidakadekuatan antara
mobilitas ditempat tidur suplai dan kebutuhan oksigen
perlu bantuan orang lain,
berpindah perlu bantuan Keletihan / Kelemahan
orang lain
Do: pasien tampak lemah Intoleransi Aktivitas
Ds: sebelum sakit, klien Suara serak atau parau Hambatan Komunikasi
mengatakan dapat berbicara Verbal
dengan jelas Sulit bicara/ bicara kurang
Do: bicara susah dan pusing jelas

Hambatan Komunikasi
Verbal

4.3 Diagnosa Keperawatan

N Diagnosa Keperawatan (sesuai prioritas)


o
1. Nyeri akut b/d agen cedera biologis (tiroidektomi)
2. Intoleransi aktivitas b/d ketidakadekuatan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
3. Hambatan Komunikasi Verbal b/d hambatan fisik

4.4 Intervensi

No Dx Tujuan dan Intervensi Rasional


Kriteria Hasil
1. Nyeri akut b/d Setelah 1.Observasi adanya
agen cedera dilakukan petunjuk nonverbal
biologis tindakan mengenai
(tiroidektomi) keperawatan ketidaknyamanan
d/d 2x24 jam terutama pada
Ds: Ds: -klien diharapkan nyeri mereka yang tidak
mengeluh nyeri dapat dikontrol, dapat
P = nyeri setelah dengan kriteria berkomunikasi
operasi, Q= hasil: secara efektif
2.Berikan informasi
nyeri terasi Status
mengenari nyeri,
seperti ditusuk- Kenyamanan :
seperti penyebab,
tusuk, R= nyeri Fisik
Kepuasan dan berapa lama
terasa dileher
Klien : nyeri akan
tepatnya
Manajemen dirasakan, dan
dikelenjar tiroid,
Nyeri antisipasi dari
S= skala nyeri 7,
ketidaknyamanan
T= nyeri timbul
akibat prosedur.
2 sampai 3
3.Kendalikan faktor
menit terutama
lingkungan yang
saat bergerak
dapat
Do : pasien mempengaruhi
tampak lemah, respon pasien
perut sakit, nyeri terhadap
bekas operasi, ketidaknyamanan
bicara susah dan (mis. suhu
pusing. ruangan,
pencahayaan, suara
bising)
4.Ajarkan prinsip-
prinsip manajemen
nyeri
5.Ajarkan penggunaan
teknik non-
farmakologi
(seperti relaksasi)
6.Kolaborasi
pemberian
analgesik sesuai
resep dokter

2. Intoleransi Setelah 1.Monitor respon fisik,


aktifitas b/d dilakukan emosi, sosial dan
ketidakadekuata tindakan spiritual
2.Bantu pasien untuk
n antara suplai keperawatan
mengidentifikasi
dan kebutuhan 2x24 jam
aktivitas yang
oksigen d/d diharapkan
mampu dilakukan
Ds: Klien intoleransi
3.Bantu pasien untuk
mengatakan aktivitas
memilih aktivitas
makan dan kembali
konsisten yang
minum perlu normal , dengan
sesuai dengan
bantuan orang kriteria hasil:
kemampuan fisik,
lain, toileting Status respirasi:
psikologi dan
perlu bantuan pertukaran gas sosial
orang lain, dan ventilasi 4.Kolaborasi dengan
mobilitas adekuat tenaga rehabilitas
ditempat tidur Sirkulasi status medik dalam
perlu bantuan baik merencanakan
orang lain, Mampu program terapi
berpindah perlu berpindah yang tepat.
bantuan orang dengan atau

lain tanpa bantuan

Do: pasien alat

tampak lemah
3. Hambatan Setelah 1.Dorong pasien untuk
Komunikasi dilakukan berkomunikasi
Verbal b/d tindakan secara perlahan
hambatan fisik keperawatan dan untuk
d/d 2x24 jam mengulangi
Ds: sebelum diharapkan permintaan
2.Gunakan kartu baca,
sakit, klien fungsi sensori
kertas, pensil,
mengatakan kembali normal,
bahasa tubuh,
dapat berbicara dengan kriteria
gambar, daftar
dengan jelas hasil:
kosakata bahasa
Do: bicara susah Komunikasi
dan pusing asing, computer,
ekspresif
dan lain-lain untuk
(kesulitan
memfasilitasi
berbicara):
komunikasi dua
ekspresi pesan
arah yang optimal
verbal atau 3.Anjurkan ekspresi
non verbal diri dengan cara
yang lain untuk
bermakna menyampaikan
informasi (bahasa
isyarat)
4.Kolaborasi dengan
dokter untuk
kebutuhan terapi
wicara
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Penyakit Gondok atau Goiter adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh
kurangnya asupan yodium dan juga akibat mengkonsumsi obat-obatan dan makanan
goitrogenik. Penyakit ini terbagi atas dua yaitu gondok endemik dan gondok sporadic.

5.2 Saran
Penyakit Gondok ini adalah salah satu penyakit yang sering terjadi apalagi pada
wanita oleh karena itu kelompok menyarankan agar pembaca lebih peduli lagi terhadap
penyakit ini dan berusaha untuk mencegah dengan cara menghindari penggunaan obat-obatan
goitrogenik, menghindari konsumsi makanan goitrogenik yang berlebihan dan
mengkonsumsi cukup yodium.
DAFTAR PUSTAKA
Iis Amaliah Putri Utami.(2013) Asuhan Keperawatan Gangguan Rasa Nyaman: Nyeri
Akut pada Ny. W Dengan Post. Op Tiroidektomi atas Indikasi Struma Nodusa Non
Toksik di Ruang Kantil No.19 RSUD Karanganyar. Studi Kasus pada Sekolah Tinggi
Kesehatan Kusuma Husada, Surakarta