Vous êtes sur la page 1sur 17

1

ABSTRAK
Etika merupakan hal yang sudah umum dan banyak dibicarakan saat ini,
tetapi dalam penerapanya masih banyak orang yang mengabaikanya.Berangkat
dari hal ini penulis ingin menyampaikan betapa pentingnya etika dalam sebuah
pemerintahan terutama untuk meningkatkan pelayanan public, serta bagaimana
penerapan etika itu sendiri didalam good govermenct untuk menigkatkan
akuntabilitas pelayanan public. Dengan tujuan untuk mengetahui serta
mendiskripsikan etika dalam organisasi dalam menigkatkan akuntabilitas
pelayanan public. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian
kuantitatif dengan mengunakan pendekatan pure research, sumber data diperoleh
dari data primer dan data sekunder. Dengan mengunakan instrument penelitian
questioner.
BAB 1
Latar Belakang
Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral.
Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang
apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
Etika merupakan suatu ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia
sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan etika profesi terdapat suatu
kesadaran yang kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin
memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukan.
Penanaman etika saat ini sering diabaikan dalam aparatur pemerintahan,
sehingga berdampak pada pelayanan public, Dimana banyak aparatur pemerintah
kita yang tidak memperhatikan etika dalam melayani masyrakat tetapi lebih
berpatok pada sikap arogansi, sehingga masyrakatpun semakin bersikap apatis
kepada pemerintah. Disinilah pentingnya menanamkan etika dalam aparatur
pemerintah supaya dapat mempengaruhi dalam pemberian layanan pada
masyrakat sehingga mencapai tujuan pemerintah dalam meningkatkan pelayanan
public.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana implementasi etika dalam good government?
2

2. Bagaimana menigkatkan akuntabilitas peleyanan public?


3. Bagaiman implementasi etika dalam good government untuk menigkatkan
akuntabilitas pelayanan publik?
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan implementasi etika dalam good
government.
2. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan akuntabilitas pelayanan public.
3. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan implementasi etika dalam goog
government dalam menigkatkan pelayanan public.
Manfaat Penilitian
1. Manfaat Toeritis
a. Terwujudnya karya ilmiah berupa term peaper yang dapat dimanfaatkan oleh
dunia akademik.
b.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi pembaca
dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengetahui pentingnya etika dalam
sebuah pemerintahan untuk menigkatkan pelayanan public.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai data penunjang untuk melakukan K3( kuliah, kerja, kompetensi).
b.Hasil penelitian ini dapat di gunakan untuk memberikan kontribusi yang
komprehensif dan konstruktif dalam memahami dinamika wawasan pengetahuan
tentang etika dalam organisasi untuk menigkatkan pelayanan public.
3

BAB II
KAJIAN TEORI
A. PENELITIAN TERDAHULU
1. Pelayanan Publik Prima Kerakyatan.

a. Pelayanan publik (Prima) kerakyatan hasil penelitian ini adalah kurang baik

yaitu sebesar 56,25%;

b. Dan perubahan Pelayanan Publik (Prima) Kerakyatan ini 37,5%-nya

dipengaruhi oleh variabel Responsibilitas dan Akuntabilitas Perilaku Arogansi

Legislatif, Responsibilitas dan Akuntabilitas Sikap Apatisme , dan Kepemimpinan

Visioner serta Integratif;

c. Dan jika variabel Responsibilitas dan Akuntabilitas Perilaku Arogansi

Legislatif mengalami penurunan, maka Pelayanan Publik (Prima) kerakyatan akan

mengalami penurunan pula.

d. Besar kecilnya perubahan pada variabel Pelayanan Publik (Prima) kerakyatan

45,4%-nya dipengaruhi oleh variabel Responsibilitas dan Akuntabilitas Sikap

Apatisme Masyarakat

e. Juga besar kecilnya perubahan pada variabel Pelayanan Publik (Prima)

kerakyatan dipengaruhi oleh variabel Kepemimpiunan Visioner dan Integratif

sebsar 43,7%,

f. Bahwa asil koefisen R-Square sebesar 0,212 atau sebesar 21,2% terjadinya

perubahan Kepemimpinan Visioner dan Integratif dipengaruhi oleh Variabel

Responsibilitas dan Akuntabilitas Perilaku Arogansi Legislatif dan Sikap

Apatisme Masyarakat. Adapun sisanya 78,8% adalah dipengaruhi oleh faktor lain

yang tidak diteliti dan dikaji dalam penelitian ini.


4

g . Hasil analisis individual jalur 1, yaitu Responsibilitas dan Akuntabilitas

Perilaku Arogansi Legislatif, nilai koefisien korelasi tidak signifikan berpengaruh

pada kepemimpinan visioner dan integratif, maknanya memang betul karena visi

legilslatif adalah akumulasi dari anggota (individu), sehingga bilamana

menggunakan hipotesis terbalik citra individu akan merusak citra institusi, namun

citra institusi kecil kemungkinan membawa citra individu, karena dalam individu

yang dibutuhkan bukan citra tetapi adalah kapabilitas.

h. Hasil analisis individual jalur 2, yaitu Responsibilitas dan Akuntabilitas Sikap

Apatisme Masyarakat, nilai koefisien korelasi hasilnya signifikan sebesar 0,465

atau sebesar 46,5%, artinya bahwa perubahan yang terjadi pada Kepemimpinan

Visioner dan Integratif 46,5% - nya, dipengaruhi oleh Responsibilitas dan

Akuntabilitas Sikap Apatisme Masyarakat. Sedangkan sisanya tidak dikaji dalam

penelitian ini. Bahwa benar Responsibilitas dan Akuntabilitas Sikap Apatisme

Masyarakat secara parsial dan signifikan berpengaruh pada Kepemimpinan

Visioner dan Integratif dimasa yang akan datang, maknanya, perubahan yang

mendasar Perilaku Legislatif di masa yang akan datang lebih banyak dipengaruhi

oleh masyarakat itu sendiri, yaitu peningkatan Sumber Daya Manusia dalam hal

ini adalah Kader Politik yang tumbuh dari masyarakat ke partai, bukan datang

secara Individual, karena Sebagian / Legislatif sebelumnya dengan sistem pilihan

bebas, maka yang terjadi bukan kader partai tetapi individu.

1. Etika
5

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata etika yaitu
ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti
yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat,
akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat
kebiasaan.
Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika
yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara
etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang
biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
Etika merupakan suatu ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia
sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan etika profesi terdapat suatu
kesadaran yang kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin
memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukan.
- Menurut Bertens : Nilai- nilai atau norma norma yang menjadi pegangan
seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
- Menurut KBBI : Etika dirumuskan dalam 3 arti yaitu tentang apa yang baik dan
apa yang buruk, nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar
dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
- Menurut Sumaryono (1995) : Etika berkembang menjadi studi tentang manusia
berdasarkan kesepakatan menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang
menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan manusia pada umumnya.
Selain itu etika juga berkembang menjadi studi tentang kebenaran dan
ketidakbenaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak
manusia.
Kesimpulan:
Etika adalah ilmu apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan
manusia tentang perilaku baik dan buruk, serta nilai yang berkenaan dengan
akhlak, dan nilai mengenai benar salah yang dianut oleh suatu golongan atau
masyrakat yang mengambarkan perangai manusia dalam kehidupan manusia pada
umumnya. (Mega, 2013,dongko).
2. Good Government
6

Menurut Sedarmayanti, 2004, Pemerintah atau Government:


Secara konseptual pengertian kata baik (good) dalam istilah kepemerintahan yang
baik (good governance) mengandung dua pemahaman:
a. Nilai yang menjunjung tinggi keinginan/ kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang
dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional)
kemandirian, pembangunan berlanjutan dan keadilan social.
b. Aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam
pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut.
Menurut Sedarmayanti, 2004, Kepemerintah atau Governance:
Tindakan, fakta, dan pola kegiatan atau penyelenggaraan pemerintahan.
Tidak hanya berarti kepemerintahan sebagai suatu kegiatan, tetapi juga
mengandung arti pengurusan, pengelolaan, pengarahan, pembinaan
penyelenggaraan dan bisa juga diartikan pemerintahan.
Sehingga dapat disimpulkan good government adalah nilai yang menjunjung
tinggi keinginan dan kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan
kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan nasional kemandirian, pembangunan
berlanjutan dan keadilan social dan aspek fungsional dari pemerintah yang efektif
dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut serta
suatu tindakan, fakta, pola dan kegiatan atau penyelenggaraan pemerintah. (Mega,
2014, Malang).

3. Akuntabilitas
Dubnick (1998) istilah akuntabilitas berasal dari bahasa Prancis lamaComptes
render yang berarti memberikan laporan. Pemerintah dikatakan akuntabel,jika
warga masyarakat bisa melihat perwakilan dari pemerintah yang tidak
representative dan bisa menyetujui perwakilan dengan benar (Manin,dan
Stokers,1999). Berakuntabilitas berarti harus memberikan jawaban atas
ketidakgiatan dan menerima sangsi,(bergantung pada jawabannya),baik posotif
maupun negatif (Okarson 1989). Dapat di simpulkan bahwa akuntabilitas adalah
suatu tindakan yang di pertanggungjawabkan atas apa yang di lakukan atau
7

kerjakan kepada masyarakat agar kegiatan yang di lakukan itu di ketahui dan
dapat di percaya oleh publik.

4. Pelayanan Publiik
Pelayanan publik oleh Moenir 1998 dalam Rabuli, 2008:12, diartikan sebagai
kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan landasan
factor materiil melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha
memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.Sedangkan Kotle (2006)
mengatakan bahwa pelayanan publik adalah setiap kegiatan yang menguntungkan
dalam suatu kumpulan atau suatu kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun
hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik.Selanjutnya Sampara 2006: 5
berpendapat bahwa suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam
interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik.
Menurut Siagian 1992 dalam Rabuli, 2008:12, mendefinisikan pelayanan
masyarakat sebagai aktifitas yang dilakukan utuk memberikan jasa-jasa dan
kemudahan kepada masyarakat.
Kesimpulan bahwa pelayanan publik adalah suatu kegiatan pelayanan
yang di berikan oleh seseorang atau kelompok yang ingin memenuhui setiap
kebutuhan masyarakat dengan mengutamakan kepuasan Pelanggan demi
mendatangkan ke untungan kepada masyarakat terhadap pelayanan yang di
berikan tersebut.

5. Akuntabilitas Pelayanan Publik


Akuntabilitas secara tidak langsung menyatakan bahwa pegawai pemerintah harus
bertanggungjawab terhadap publik. Akuntabilitas melengkapi responsibilitas
dalam penekanan yang berbeda. Akuntabilitas menyatakan bahwa publik
melakukan control yang kuat kepada pegawai yang dipilih melalui voting dan
cara-cara yang ditentukan. Pertanggungjawaban tentang sifat, sikap, perilaku dan
kebijakan dalam kerangka menjalankan tugas dan tanggungjawab kepada publik,
menurut ilmu administrasi disebut akuntabilitas.
8

Menurut The Oxfor Advance Leaners Dictionary yang dikutip oleh


Lembaga Administrasi Negara, 2000:21 dalam Drs, Sugeng Rusmiwari, M.si,
2009:12, diartikan sebagai sesuatu yang diperlukan atau diharapkan untuk
memberikan penjelasan atas apa yang telah ditentukan.
Nisjar, 1997:72 dalam Drs, Sugeng Rusmiwari, M.si, 2009:12,
menjelaskan akuntabilitas sebagai kewajiban bagi aparatur pemerintahan untuk
bertindak selaku penanggung gugat atas segala tindakan kebijakan yang
ditetapkannya. Jadi akuntabilitas disebut juga sebagai tanggungjawab yang
bersifat objektif.
Istilah Pelayanan dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1996), di artikan
sebagai :
a. Perihal atau cara melayani
b. Usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang atau
jasa),
c. Kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang atau jasa.
Menurut Islamy 1994 dalam Rabuli, 2008:10, pengertian publik, secara
tradisional tidak langsung diartikan semata-mata bersifat kelembagaan akan tetapi
lebih dari itu, yaitu dalam hubungannya dengan beberapa besar pengaruh atau
kaitan lembaga tersebut dengan kepentingan publik (masyarakat). Dalam hal ini
berarti bahwa dalam keadaan bagaimana pun, pemerintah atau instansi pemerintah
atau organisasi baru dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya melalui
pemberian kemudahan kepada masyarakat selaku pihak-pihak yang harus dilayani
tanpa membedakan antara satu dengan yang lain.
Pelayanan publik oleh Moenir 1998 dalam Rabuli, 2008:12, diartikan
sebagai kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan
landasan factor materiil melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam
rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.Menurut
Siagian 1992 dalam Rabuli, 2008:12, mendefinisikan pelayanan masyarakat
sebagai aktifitas yang dilakukan utuk memberikan jasa-jasa dan kemudahan
kepada masyarakat.
Kesimpulan akuntabilitas pelayanan publik yaitu merupakan suatu
tindakan yang dilakukan oleh aratur pemerintah sebagai pihak penanggung jawab
9

untuk memberikan penjelasan terhadap kegiatan yang dilakukan untuk


memberikan jasa-jasa dengan kemudahan bagi masyarakat.
3. HIPOTESIS
Secara etimologi , hipotesis terbentuk dari dua kata hypo dan tesis. Hypo
berarti kurang, thesis adalah adalah pendapat. Jadi hipotesis adalah suatu
kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang belum sempurna.
(bungin,2005: 75).
Hipotesis adalah sebagai suatu keterangan yang sementara suatu fakta dapat di
amati. Trelease (1960 :182).
KESIMPULAN
Hipotesis adalah suatu kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang
belum sempurna sehingga sebagai suatu keterangan yang sementara, suatu fakta
dapat diamati.(mega. Malang 2013 )
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumusan hipotesis (Ha)
1. Jika Implementasi Etika dalam good goverment baik maka penyelenggaraan
akuntabilitas pelayanan publik pun baik.
2. Jika Akuntabilitas pelayanan publik baik maka Implementasi Etika dalam
ghood government pun baik.

BAB III
10

METODE PENELITIAN
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.Berdasara beberapa hal
tersebut terdapat empat kata kuni yang perlu diperhatikan yaitu,cara ilmiah,data
tujuan,dan kegunaan.Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu berdasarkan pada
ciri-ciri keilmuan,yaitu rasional,empiris dan sistematis.Rasional berarti penelitian
itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal,sehingga terjanggu oleh
penalaran manusia.Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh
indra manusia,shingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara
yang digunakan.Sistematis artinya,proses yang digunakan dalam penelitian itu
digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang
bersifat logis.
Sumber:Sugiono.,metode penelitian kuantitatif kualitatif dan
R&D.alfabeta.Bandung.2009:2-7.
Menurut Cooper dan Emory (1996, p.12), metode penelitian adalah langkah-
langkah atau cara-cara penyelidikan sistematis yang ditujukan pada penyediaan
informasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan. ( Moh.Nazir,Ph.D,2003:35).
KESIMPULAN
Metode Penalitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan langkah-
langkah atau cara-cara penyelidikan sistematis yang ditujukan pada penyediaan
informasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dengan tujuan dan kegunaan
tertentu.(mega.2013 C).
1. JENIS PENELITIAN
Penelitian merupakan suatu proses yang panjang, berawal dari minat untuk
mengetahui fenomena tertentu dan selanjutnya berkembang menjadi gagasan teori
atau pemilihan metode penelitian yang sesuai dan seterusnya.
Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional,karaena metode ini cukup lama
digunakan sehingga sudah mntradisi sebagai metode untuk penelitian.Metode ini
disebut sebagai metode posivistik karena berlandaskan pada filsafaat
positivme.Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi
kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris,obyektif,terukur,rasional,dan
11

sistematis.Metode ini juga disebut metode dicovery,karena dengan metode ini


dapat ditemukan dan dikembangkan sebagai iptek baru.Metode ini disebut metode
kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis mengunakan
statistik.(sugiono.2009.2-7).
Nawawi (2005 : 3) mengemukakan bahwa penelitian kuantitatif adalah
suatu proses menghasilkan data berupa jawaban tertulis dari orang-orang atau
responden dan perilaku yang di amati berdasarkan pernyataan tertulis.yang di
peroleh melalui checklist, yang kemudian di isi oleh responden berdasarkan
jawaban yang tersedia kemudian peneliti menghubungkan dengan keadaan atau
fenomena yang sebenarnya dilapangan, yang berkaitan denga penelitian yang
sedang di lakukan.
KESIMPULAN
Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional,karaena metode ini
cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian
dengan proses menghasilkan data berupa jawaaban tertulis dari orang-orang
melalui checklist yang dibuat.(mega.2013.f)
2. VARIABEL
Variabel dapat didefinisikan sebagai atribut dari seseorang atau obyek yang
mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan
yang lain. (Hatch dan Farhady, 1981, dalam Sugiyono, 2001, h.20).
Variabel adalah fenomena yang berfariasi dalam bentuk, kualitas, mutu standard
an sebagainya. (Bungin, 2005, 59).
Variabel adalah konstruk yang sifat-sifatnya diberi nilai dalam bentuk bilangan.
(rakhmat,2000,12).
KESIMPULAN
Variabel adalah sebagai atribut dari seseorang atau obyek yang mempunyai
variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan yang lain
dalam bentuk ,kualitas, mutu standart sehingga konstruk yang sifat-sifatnya diberi
nilai dalam bentuk bilangan.(mega. 2013 A).
Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam aktifitas organisasi baik organisai
bisnis maupun organisasi pemerintahan membutuhkan yang namanya Etika (X1)
12

untuk menjalankan Good Goverment (X2), agar terjalin keharmonisan dan


kerjasama yang baik antara sesama dalam menigkatkan akuntabilitas pelayanan
publik (Y).
Ada pengaruh antara good Goverment (X2) terhadap akuntabilitas pelayanan
publik(Y).
Ada pengaruh antara Etika (X1), terhadap Akuntabilitas pelayanan publik (Y).

3. INDIKATOR
Menurut :
Wilson dan Sapanurchart (1993)
Indikator adalah pengukuran tidak langsung suatu peristiwa atau kondisi.
Green (1992)
Indikator adalah variabel yang menunjukan suatu kecendrungan situasi, yang
dapat dipergunakan untuk mengukur perubahan.
Organisasi kesehatan dunia (WHO)
Indikator adalah variabel untuk mengukur suatu perubahan baik langsung ataupun
tidak langsung.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa indikator adalah variabel yang
mngukur suatu peristiwa, kondisi dan perubahan baik langsung atau tidak
langsung. (mega,2013, dongko).
Berikut merupakan indikator dari masing-masing variabel :
a. Variabel Bebas X1/Independen Variabel - Etika :
1. Perilaku
2. Kebiasaan
3. Nilai
b. Variabel Bebas X2/Dependen Variabel Good Goverment :
1. Tindakan
2. Fakta
3. Kegiatan
c. Variabel Terikat Y/Dependent Variabel Akuntabilitas pelayanan publik

1. Tanggungjawab
2. Cara melayani
3. Kepuasan
4. SUMBER DATA
13

Menurut :
Arikunto (2006)
Sumber data adalah subyek dari mana data tersebut diperoleh. Pemilihan dan
penentuan sumber data tergantung pada permasalahan yang diselidiki.
a. Data Primer
Menurut :
Sugiyono (2003)
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya atau belum
melalui proses pengumpulan dari pihak lain.
Kartono (1961)
Data Primer adalah memberikan informasi dan data secara langsung sebagai hasil
pengumpulan sendiri untuk kemudian disiarkan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data primer adalah data yang
diperoleh langsung dari sumbernya sebagai hasil pengumpulan sendiri dan belum
melalui proses pengumpulan dari pihak lain.
b. Data Sekunder.
Menurut :
Mazuki (2006)
Data Sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh
peneliti
Bungin (2004)
Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber
sekunder data yang kita butuhkan.
Cooney dan Emory (1996)
Data Sekunder adalah study yang dilakukan oleh pihak lain untuk sasaran mereka
sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data sekunder adalah data yang
diperoleh dari sumber kedua dan bukan diusahakan sendiri pengumpulannya
melainkan study yang dilakukan oleh pihak lain untuk sasaran mereka sendiri.
5. POPULASI DAN SAMPEL/TEKNIK SAMPLING
a. Populasi
Menurut :
Palte (1978)
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya dapat
diduga.
Arikunto (2002)
14

populasi adalah keseluruhan aspek subyek penelitian, dimana apabila seseorang


ingin meneliti elemen yang ada pada suatu wilayah penelitianya merupakan
penelitian populasi.
Suharsimi (1997)
Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan keseluruhan
obyek yang menjadi sasaran penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda,
dan tumbu-tumbuhan.
Dari penelitian tersebut maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh perangkat dan staf di kantor Kecamatan Dau Kabupaten Malang sebanyak
20 orang.
b. Sampel.
Sampel adalah wakil semua unit strata dan sebagainya yang ada dalam
populasi.(bungin,2005,102)
Sampel adalah sebagian dari kumpulan populasi yang dapat di amati dan
mewakili dari jumlah populasi yang ada.(rakhmat,2000:78).
Sedangkan Sample adalah bagian populasi terjangkau yang dapat
dipergunakan melalui sampling (Nursalam,2003:95).
KESIMPULAN
Sampel adalah wakil semua unit strata dan sebagainya yang ada dalam
populasi terjangkau yang dapat dipergunakan melalui sampling yang dapat
diamati dan mewakili dari jumlah populasi yang ada.(mega.2023 E).
6. INSTRUMEN PENELITIAN.
Menurut :
Prof,Dr.Suharsimi Arikunto, 2006 )
Instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti
dalam pengumpulan data agar pekerjaan lebih mudah dan lebih baik.
Ada beberapa teknik dalam penelitian antara lain :
a. Kuesioner
Menurut :
Koentijoroningrat (1975)
Kuesioner adalah suatu daftar yang berisi serangkaian pertanyaan mengenai suatu
hal dalam suatu bidang.
Gilbert (2005)
15

Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang digunakan oleh peneliti untuk


memperoleh data secara langsung dari sumbernya melalui proses komunikasi atau
dengan mengajukan pertanyaan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kuesioner adalah daftar pertanyaan
yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data secara langsung dari
sumbernya dalamg suatu biadang yang akan diteliti.
b. Dokumentasi
Dokumntasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.
Menurut :
Moleong, 1999).
Dokumentasi adalah setiap bahan yang tertulis atau film yang dipersiapkan untuk
penelitian, pengujian suatu peristiwa atau record maupun yang tidak dipersiapkan
untuk itu.
Arikunto (1998)
Dokumentasi adalah setiap bahan yang tertulis atau film yang dipersiapkan untuk
penelitian, pengujian suatu peristiwa atau record maupun yang tidak dipersiapkan
untuk itu.
Dalam penelitian ini instrument yang digunakan oleh peneliti adalah kuesioner.
16

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto dan Suharsini, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Penerbit
Rineka Cipta Jakarta 1996.
Kartini Kartono. Pengantar Metodologi Penelitian Sosial, Penerbit CV. Mandar
Maju, 1961: 73.
Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitaf (R & D), Penerbit Alfabeta,
Eds Juli, 2006.
Moenir 1998 dalam Rabuli, 2008:12, Upaya pemerintah desa dalam
meningkatkan pelayanan publik, Universitas tribhuwana tunggadewi, Malang.

Oekarson, Ronald J.1989.Governnance structure for Enhancing Accountability


and Responiveness
Kotle, 2006, Reformasi Pelayanan Publik, Jakarta,, PT. Bumi Aksara,

Dubnick,Melvin. J.2002. Seeking Salvation for Acclountability,Paperwork. Boston


: American Political Science Assotation
Sugiono.,metode penelitian kuantitatif kualitatif dan
R&D.alfabeta.Bandung.2009
Bungin.2005.Metodologi penelitian kuantitatif.Kencana prenada medi. Jakarta.
17

B.Ostle 1975, Moh.Nazir,Ph.D,2003:36


Siagian 1992 dalam Rabuli, 2008:12
Sedarmayanti, Good Governance (Kepemerintahan Yang Baik), Mandar Maju,
Bandung, 2004. H. 3.