Vous êtes sur la page 1sur 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan kesehatan nasional bertujuan untuk meningkatkan hidup

sehat bagi setiap penduduk agar dapat meningkatkan derajat kesehatan yang

optimal. Salah satu upaya untuk mencapainya adalah melalui kesehatan utama

yang merupakan rangkaian masyarakat yang dilakukan berdasarkan gotong

royong dan swadaya untuk mendorong diri mereka sendiri, mengenal dan

memecahkan masalah masyarakat dalam bidang kesehatan atau yang

berkaitan, agar mampu memelihara dan meningkatkan kehidupan yang

sejahtera
Asuhan Kebidanan Komunitas merupakan salah satu bentuk pelayanan

profesional yang bertujuan pada komunitas dengan penekanan kelompok

resiko tinggi, dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui

pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan menjamin keterjangkauan

pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dengan melibatkan komunitas sebagai

mitra perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan.


Asuhan Kebidanan komunitas adalah pelayanan kebidanan profesional

yang ditunjukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko

tinggi, dengan upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal melelui

pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, menjamin keterjangkuan

pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan dilibatkan klien sebagai mitra

dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kebidanan (Safrudin,

2009; h. 1-2)

1
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat dimana masalah

kesehatan dapat timbul, berupa masalah KIA/KB, KESLING, TUMBANG,

dan PENYAKIT.
Dalam hal ini penulis mengambil kasus pada keluarga Tn. S dan Ny. N di

Jalan Hangnadim no. 17 Desa Tualang Kecamatan Tualang 2017 sebagai bukti

pelaksanaan praktek Asuhan Kebidanan Komunitas dan melaksanakan

implementasi sesuai dengan prioritas masalah

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada setiap

individu dalam keluarga yang bersiko tinggi termasuk ibu hamil resiko

tinggi (kehamilan letak lintang) dengan menerapkan pola pikir melalui

pendekatan manajemen kebidanan dan kompetensi bidan.

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu menjelaskan Konsep Dasar Keluarga


2. Mahasiswa mampu menjelaskan Konsep Dasar Kehamilan
3. Mahasiswa mampu menjelaskan Konsep Dasar Asuhan Kebidanan

pada Kehamilan letak lintang.

1.3 MANFAAT PENULISAN

Dalam penulisan laporan asuhan kebidanan pada kehamilan patologis ini

diharapkan mahasiswa mampu menerapkan teori yang diperoleh saat di

bangku kuliah dalam praktik lapangan di Puskesmas Sedati Sidoarjo dan

memperoleh pengalaman secara langsung dalam masalah memberikan asuhan

kebidanan khususnya kehamilan, serta dapat meningkatkan kemampuan dalam

2
memberikan asuhan kebidanan pada pasien khususnya dengan kehamilan letak

lintang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

3
2.1 Konsep Keluarga

a. Pengertian

Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang

berarti "anggota") adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang

masih memiliki hubungan darah(Wikipedia, 2009).

Menurut Departemen Kesehatan RI ( 2009 ), keluarga merupakan

unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan

beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu

atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Sedangkan menurut Salvicion dan Ara Celis (2005), keluarga

adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan

darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya

dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam

perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu

kebudayaan.

b. Struktur Keluarga

Struktur keluarga ada beberapa macam, diantaranya :

1) Patriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga

adalah dipihak ayah.

2) Matriakal, yang dominan dan memegang kekuasan dalam keluarga

adalah dipihak ibu.

3) Equalitarian, yang memegang kekuasan dalam keluarga adalah ayah

dan ibu.

4
4) Patrilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama

keluarga sedarah suami.

5) Keluarga Kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi

pembinaan keluaraga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian

keluarga karena adanya hubungan dengan suatu atau istri.

c. Ciri-Ciri Keluarga

Ciri-ciri struktur keluarga menurut Anderson Carter :

1) Terorganisasi
Adalah saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota

keluarga.
2) Ada keterbatasan
Adalah setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai

keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.


3) Ada perbedaan dan kekhususan
Adalah setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya

masing-masing.

d. Bentuk-Bentuk Keluarga

1) Nuclear Family (keluarga inti)

Adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.

2) Extendet Family (Keluarga Besar)

Adalah keluarga inti di tambah dengan sanak saudara misalnya: nenek,

kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.

3) Serial Family (Keluarga Berantai)

Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih

dari 2x dan merupakan satu keluarga inti.

4) Single Family (Keluarga Duda atau Janda)

5
Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.

5) Composite Family (Keluarga Berkomposisi)

Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami atau hidup bersama.

6) Cahibitation Family (Keluarga habitas)

Adalah dua orang yang menjadi satu keluarga.

e. Peran Keluarga

Menurut Hartan dan Hunt peran keluarga terdiri dari sebagai berikut :

1) Peran Ayah.

Ayah sebagai suami dari istri dan ayah bagi anak-anaknya berperan

mencari nafkah, pendidikan, perlindungan dan member rasa aman sebagai

kepala keluarga, sebagai kelompok masyarakat.

2) Peran Ibu

Sebagai istri dan suami dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai

peran mengurus rumah tangga pengasuh anak-anaknya dan sebagai satu

kelompok dari peran sentral darianggota masyarakat dan pencari nafkah

3) Peran Anak

Anak melaksanakan perahan psikososial sesuai tingkat

perkembangan baik,fisik, mental, social , dan spiritual.

f. Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga sehari-hari menurut Horton dan Hunt yaitu :

1) Fungsi pengaturan seksual.

6
Yaitu keluarga merupakan wadah sah baik ditinjau dari agama

maupun maryarakat dalam pengetahuan dan pemuasan keinginan seksual.

2) Fungsi Reproduksi

Yaitu keluarga berfungsi menghasilkan anggota baru sebagai

penerus keturunan.

3) Fungsi Perlindungan dan Pemeliharaan

Yaitu memberikan perlindungan dan pemeliharaan terhadap stress.

4) Fungsi Pendidikan

Yaitu keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama

dan utama karena anak-anak mengenal pendidikan sejak lahir.

5) Fungsi Sosialisasi

Yaitu individu atau anggota keluargamempelajari kebiasaan ide-ide

nilai dan tingkah laku dalam masyarakat.Melalui lingkungan keluarga.

6) Fungsi Toleran dan Efektif

Yaitu apabila rasa cinta kasih saying dalam keluarga dapat

dirasakan oleh semua anggota maka anggota keluarga akan merasakan

kesenangan kegembiraan dan ketentraman sehingga mereka akan kerasan

tinggal dirumah maka keluarga merupakan tempat rekreasi bagi anggota

keluarga.

7) Fungsi Ekonomi.

Yaitu anggota keluarga sebagai penghasil ekonomi terutama orang

tua sedangkan anggota keluarga yang lain atau anak berfungsi sebagai

konsumen.

8) Fungsi Status Sosial

7
Yaitu suatu dasar yang menunjukan kedudukan atau status bagi

anggota nya

g. Tugas Keluarga

Pada dasarnya ada 8 tugas pokok dalam keluarga, yaitu :

1) Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya


2) Pemeliharaan sumber-sumbr daya yang ada pada keluarga.
3) Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan

kedudukannya masing-masing.
4) Sosialisasi antar anggota keluarga.
5) Pengaturan jumlah anggota keluarga.
6) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
7) Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih

luas
8) Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga

h. Tahap-Tahap Kehidupan Keluarga

Tahap tahap kehidupan keluarga menurut Duvall adalah sebagai berikut :

1) Tahap pembentukan kelurga


Tahap ini dimulai dari pernikahan, yang dilanjutkan dalam

membentuk rumah tangga.


2) Tahap menjelang kelahiran anak
Tugas keluarga yang utama untuk mendapatkan keturunan sebagai

generasi penerus, melahirkan ank merupakan kebanggan bagi keluarga

yang merupakan saat-saat yang dinantikan.


3) Tahap menghadapi bayi
Dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik, dan memberikan

kasih sayang kepada anak karena pada tahap ini bayi kehidupannya

sangat tergantung pada kedua orang tuanya dan kondisinya masih

sangat lemah.
4) Tahap menghadapi anak prasekolah

8
Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal kehidupan sosialnya,

sudah mulai bergaul dengan teman sebaya, tetapi sangat rawan dalam

masalah kesehatan, karena tidak mengetahui mana yang kotor dan mana

yang bersih. Dalam fase ini anak sangat stress terhadap pengaruh

lingkungan dan tugas keluarga adalah mulai menanamkan norma-norma

kehidupan,norma-norma agama, norma-norma social budaya dan

sebagainya.
5) Tahap menghadapi anak sekolah
Dalam tahap ini tugas keluarga adalah bagaimana mendidik anak,

mengajari anak untuk mempersiapkan masa depannya.Membiasakan

anak belajar secara teratur, mengontrol tugas-tugas sekolah anak, dan

meningkatkan pengetahuan umum anak.


6) Tahap menghadapi anak remaja
Tahap ini adalah tahap yang paling rawan, karena dalam tahap ini

anak akan mencari identitas diri dalam membentuk kepribadiannya,

oleh karena itu suri tauladan dari kedua orang tua sangat

diperlukan.Komunikasi dan saling pengertian antara kedua orang tua

dengan anak perlu dipelihara dan dikembangkan.


7) Tahap melepaskan anak ke masyarakat
Setelah melalui tahap remaja dan anak telah dapat menyelesaikan

pendidikannya, maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak

kemasyarakat dalam memulai kehidupannya yang sesungguhnya, dalam

tahap ini anak akan memulai kehidupan berumah tangga.

8) Tahap berdua kembali


Setelah anak besar dan menempu kehidupan keluarga sendiri-

sendiri, tinggalah suami istri berdua saja.dalam tahap ini kelurga akan

merasa sepi,dan bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat

menimbulkan depresi dan stress.

9
9) Tahap masa tua
Tahap ini masuk ke tahap lanjut usia, dan kedua orang tua

mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini.

i. Gambaran Keluarga Sehat

Pelayanan kebidanan komunitas diarahkan untuk mewujudkan

keluarga yang sehat dan sejahtera. Pelayanan kebidanan komunitas adalah

bagian upaya kesehatan keluarga. Keluarga sehat adalah kondisi yang

mendorong terwujudnya keluarga sejahtera (Syahlan, 1996).

Gambaran keluarga sehat dapat dikemukaan sebagai berikut :

1. Anggota keluarga dalam kondisi sehat fisik, mental, maupun sosial.


2. Cepat meminta bantuan kepada tenaga kesehatan atau unit pelayanan

kesehatan bila timbul masalah kesehatan pada salah satu anggota

keluarga.
3. Di rumah tersedia kotak berisi obat-obatan sederhana untuk P3K.
4. Tinggal di rumah dan lingkungan yang sehat.
5. Selalu memperhatikan kesehatan keluarga dan masyarakat.

Seorang bidan yang bekerja di komunitas harus mengetahui data

wilayah kerjanya, data tersebut mencakup komposisis keluarga, keadaan

sosial, ekonomi, adat kebiasaan, kehidupan beragama, status kesehatan,

serta masalah ibu dan anak balita. Keberhasilan bidan yang bekerja di

bidang komunitas tergantung pada peningkatan kesehatan ibu dan anak

balita di wilayah kerjanya.

Sasaran umum pelayanan kebidanan komunitas adalah ibu dan

anak dalam keluarga. Menurut Undang-Undang No. 12 tentang Kesehatan,

yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri, anak dan anggota

keluarga lainnya.

10
Didalam kesehatan keluarga, kesehatan istri mencakup kesehatan

masa pra kehamilan, persalinan, pasca persalinan dan masa diluar masa

kehamilan (masa interval) serta persalinan. Upaya kesehatan ibu dan anak

dilakukan melalui peningkatan kesehatan anak di kandungan, masa bayi,

masa balita, dan masa pra sekolah.

2.2 Konsep Kehamilan

2.2.1 Pengertian Kehamilan


Menurut Manuaba (2010: 80) kehamilan adalah pertumbuhan dan
perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai
permulaan persalinan.
Masa kehamilan dimulai dari masa konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)
dihitung dari hari pertama haid terakhir. Menurut Manuaba (2010),
pembagian umur kehamilan, yaitu trimester I antara 0-12 minggu, trimester
II antara 12-28 minggu dan trimester III antara 28-40 minggu.

2.2.3 Proses Permulaan Kehamilan


Setiap bulan wanita mengalami ovulasi,ovum lepas dan ditangkap
fimbriae. Kemudian masuk saluran telur. Saat koitus,cairan semen tumpah
kedalam vagina dan sperma bergerak memasuki rongga rahim masuk saluran
telur.Disekitar ovum banyak berkumpul sperma dan hanya satu sperma yang
dapat membuahi ovum dan biasanya pembuahan terjadi di ampula tuba
falopii.
Ovum yang telah dibuahi segera membelah diri dan bergerak menuju
ruang rahim dan melekat pada mukosa rahim untuk bersarang (nidasi)
pembuahan hingga nidasi membutuhkan waktu 6-7 hari,untuk menyuplai
darah dan zat-zat makanan bagi mudigah/janin.Singkatnya,dalam proses
kehamilan harus ada ovum,sperma,nidasi dan plasenta.

2.2.4 Perubahan Fisiologis pada Ibu Hamil

11
Pada kehamilanterdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita,
khususnya pada alat genetalia eksterna dan interna serta payudara
(mammae).Dalam hal ini hormon estrogen dan progesteron mempunyai
peranan penting (Saifuddin, 2002).
1. Sistem Reproduksi
a. Uterus
1) Ukuran
Ukuran uterus membesar selama kehamilan. Hal ini terjadi
akibat hipertropi otot polos uterus, selain serabut-serabut
kolagen. Yang adapun menjadi higroskopik akibat
meningkatnyakadar esterogen. Sehingga uterus dapat
mengikuti pertumbuhan janin. Pada kehamilan cukup bulan
ukurannya panjangnya 32 cm,lebar 24 cm dan ukuran muka
belakang 22 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc.
2) Berat
Berat uterus normal lebih kurang 30 gram,pada akhir
kehamilan (40 minggu). Berat uterus ini menjadi 1000 gram
(Indrayani, 2011 : 101).
3) Bentuk dan konsistensi
Pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti
buah advokad agak gepeng, pada kehamilan 4 bulan uterus
berbentuk bulat, selanjutnya pada akhir kehamilan ke bentuk
semula lonjong seperti telur. Pada minggu-minggu pertama
isthmus uteri terjadi hipertropi seperti korpus uteri. Hipertropi
isthmus pada triwulan pertama membuat isthmus menjadi
panjang dan lebih lunak. Hal ini dalam obstetric dikenal
sebagai tanda hegar.
4) Kontraktilitas

12
Kontraksi uterus berlangsung mulai awal kehamilan
hinggaterjadi persalinan. Kontraksi tidak menimbulkan rasa
sakit dan biasanya terjadi setiap 5-10 menit yang dikenal
sebagai kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi uterus juga tidak
beraturan baik kekuatan maupun munculnya dan mulai
timbulnya sejak minggu ke-6 kehamilan.
b. Serviks Uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan
karena hormon estrogen.Jika korpus uteri mengandung lebih
banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung
jaringan ikat, hanya 10% jaringan otot.Jaringan ikat pada serviks
ini banyak mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen
meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi maka
konsistensi serviks menjadi lunak. Kelenjar-kelenjar diserviks
akan berfungsi lebih sering dan mengeluarkan sekresi lebih
banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh
mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak.Keadaan ini
sampai batas tertentu masih merupakan keadaan fisologik
(Saifuddin, 2002).
c. Ovarium
Ovulasi terhenti karenaberkembangnya korpus luteum
graviditas sampai terbentuk uri (plasenta) yang mengambil alih
pengeluaran esterogen dan progesteron.
d. Vagina dan Vulva
Terjadi hipervaskularisasi sehingga vagina dan vulva
terlihat lebih merah dan kebiruan akibat pengaruh esterogen yang
disebut tanda Chadwick.
2. Payudara
Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon
somatommamotropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum
mengeluarkan air susu. Estrogen menimbulkan hipertrofi sistem
saluran, sedangkan progesteron menambah sel-sel asinus pada
mammae.Somatomammotropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel

13
asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel, sehingga terjadi
pembuatan kasein, laktalbumin dan laktoglobulin.Dengan demikian
mammae dipersiapkan untuk laktasi.Disamping itu, dibawah pengaruh
progesteronedan somatomammotropin, terbentuk lemak disekitar
kelompok-kelompok alveolus, sehingga mammae menjadi besar.
Papilla mammae akan membesar, lebih tegak dan tampak lebih hitam
(Saifuddin, 2002).
Sampai bulan ketujuh, payudara memproduksi sedikit
kolostrum, yaitu cairan kekuningan yang diminum bayi saat awal
kehidupannya (Baby Guide, 2005).Selama kehamilan, payudara
bertambah besar, tegang dan berat.Dapat teraba noduli-noduli, akibat
hipertropi kelenjar alveoli bayangan vena-vena lebih membiru.
Hyperpigemntasi pada puting susu dan areola payudara. Kalau diperas,
keluar air susu (kolastrum) berwarna kekuningan (Sarwono ,2010).

14
3. Sirkulasi Darah
Volume darah akan bertambah banyak kira-kira 25%, dengan
puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti curah jantung yang
meningkat sebanyak 30%. Akibat hemodilusi yang mulai jelas
kelihatan pada kehamilan 4 bulan, ibu yang menderita penyakit jantung
dapat jatuh dalam keadaan dekompensasi kordis (Sarwono, 2010).
Karena kebutuhan suplai darah meningkat pada ibu hamil,
jantung bekerja keras selama hamil.Akibat penimbunan cairan volume
darah meningkat akibat pertumbuhan janin, ini bisa membuat kaki
menjadi bengkak, bahkan bisa menimbulkan varises (Baby Guide,
2005).
Cordiac output maternal meningkat sekitar 30-50% selama
kehamilan. Cardiac output tergantung pada posisi ibu dan menurun
pada saat ibu berbaring telentang.Pada saat posisi telentang, uterus
yang membesar menekan vena cava inferior, mengurangi aliran balik
vena ke jantunga sehingga menurunkan cardiac output.Pada akhir
kehamilan mungkin terjadi hambatan yang besar pada vena cava
inferior pada saat ibu berbaring terlentang.Pengaruh ini sangat besar
pada kehamilan aterm.Antara 1-10% ibu hamil mengalami sindrom
hipotensi pada saat berbaring terlentang dan mengalami penurunan
tekanan darah serta gejala-gejala seperti pusing, mual dan rasa ingin
pingsan (JHPIEGO Buku 2, 2003).
4. Traktus Urinarius
Ibu hamil cenderung bolak-balik kamar kecil untuk buang air
seni,tidak hanya terjadi pada siang, malam pun juga terjadi. Ini terjadi
pada awal trimester I dan akhir Trimester III kehamilan.Penyebabnya
adalah pembesaran rahim dan janin yang menekan kandung kemih
(Baby Guide, 2005).
Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun kebawah
pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena
kandung kencing mulai tertekan kembali (Saifuddin, 2002).
5. Kulit
Perubahan hormon selama kehamilan bisa membuat perubahan
pada kulit dan rambut.Saat hamil rambut menjadi lebih berminyak atau
sebaliknya lebih kering.Sedangkan perubahaan kulit umumnya jika

15
kulit ibu berminyak berubah menjadi kering, demikian sebaliknya.Ini
terjadi karena adanya perubahan hormon pada ibu hamil.Oleh karena
itu ibu hamil harus merawat dan menjaga kesehatan dan kecantikan
tubuhnya (Baby Guide, 2005).
6. Sistem Respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak
jarang mengeluh tentang rasa sesak nafas dan pendek nafas.Hal ini
ditemukan pada kehamilan 32 minggu keatas oleh karena usus-usus
tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diagframa, sehingga
diagframa kurang leluasa bergerak.Untuk memenuhi kebutuhan
oksigen yang meningkat kira-kira 20%, seorang wanita selalu bernafas
lebih dalam, dan bagian bawah toraksnya juga melebar ke bagian sisi
bawah dari diafragma (Saifuddin, 2002).
Ketika perut mulai membesar, ibu agak sesak bernafas adalah
hal yang biasa terjadi.Untuk mencegahnya jangan lupa berdiri dan
duduk dengan sikap tenang.Jika ingin berbaring telentang, letakkan
kepala dan bahu diatas sebuah bantal.Ini adalah efek dari rahim yang
membesar, paru-paru tertekan dan membuat ibu hamil sesak nafas dan
cepat lelah (Baby Guide, 2005).
7. Sistem Endokrin
Selama kehamilan noirmal kelenjar hipofisis akan membesar
kurang lebih 135 %. Akan tetapi kelenjar ini tidak begitu mempunyai
arti penting dalam kehamilan.Pada perempuan yang mengalami
hipofisektomi persalinan dapat berjalan dengan lancar. Hormon
prolaktin akan meningkat 10x lipat pada saat kehamilan aterm.
Sebaliknya, setelahpersalinan konsentrasinya pada plasma akan
menurun. Hal ini juga ditemukan pada ibu-ibu yang mnyusui.
Kelenjar tiroid akan mengalami pembesaran hingga 15 ml pada
saat persalinan akibat dri hiperplasia kelenjar dan peningkatan
vaskularisasi.
Pengaturan konsentrasi kalsium sangat berhubungan erat
dengan magnesium, fosfat, hormon paratiroid, vitamin D, dan
kalsitonin. Adanya gangguan pada salah satu faktor itu akan

16
menyebabkan perubahan pada yang lainnya. Konsentrasi plasma
hormon paratiroid akan menurun pada trimester pertama dan kemudian
akan meningkat secara progresif. Aksi yang penting dari hormon
paratiroid ini adalah untuk memasok janin dengan kalsium yang
adekuat.Selain itu, juga diketahui mempunyai peran dalam produksi
peptida pada janin, plasenta dan ibu.Pada saat hamil dan menyusui
dianjurkan untuk meendapat asupan vitamin D 10 g atau 400 IU.
Kelenjar adrenal pada kehamilan normal akan mengecil,
sedangkan hormon androstenedion, testosteron, dioksikortikosteron,
aldosteron, dan kortisol akan meningkat. Sementara itu,
dehidroepiandrosteron sulfat akan menurun.
8. Sistem Pencernaan
Karena pengaruh hormon esterogen,pengeluaran asam lambung
meningkat yang dapat menyebabkan pengeluaran air liur berlebihan,
daerah lambung terasa panas, terjadi mual dan pusing terutama pada
pagi hari yang disebut morning sicknes, muntah disebut emesis
gravidarum.
9. Sistem Metabolik
a. BMR meningkat 15-20 %
b. Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 meq
menjadi 145 meq perliter disebabkan hemodilusi darah dan
kebutuhan mineral yang diperlukan janin.
c. Kebutuhan protein meningkat untuk perkembangan fetus,alat
kandungan,payudara dan persiapan laktasi.
d. Kadar kolesterol meningkst hingga 350 mg (lebih dari 100 cc)
hormon osmamotropin berperan daalm pembentukan lemak
payudara.
e. Kebutuhan kalori meningkat terutama dari pembakaran zat
arang,namun bila dibutuhkan lemak ibu dipergunakan untuk
menambah kalori.
f. Wanita hamil membutuhkan banyak gizi dan protein zat hamil
harus diberikan Fe dan roboransia yang berisi vitamin dan mineral.
10. Sistem Muskuloskeletal
Lordosis yang progresif akan menjadi bentuk yang umum pada
kehamilan. Akibat kompensasi dari pembesaran uterus keposisi

17
anterior, lordosis menggeser pusat daya berat kebelakang kearah dua
tungkai. Sendi sakroiliaka, sakrococsigis dan pubis akan meningkat
mobilitasnya, yang diperkirakan karena pengaruh hormonal. Mobilitas
tersebut dapat mengakibatkan perubahan sikap ibu dan pada akhirnya
menyebabkan perasaan tidak enak pada bagian bawah punggung
terutama pada akhir kehamilan.
2.2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dalam Kehamilan
1. Status Kesehatan
Status kesehatan wanita hamil akan berpengaruh pada
kehamilan. Kesehatan ibu selama hamil akan mempengaruhi
kehamilannya dan mempengaruhi tumbuh kembang zigot, embrio dan
janin termasuk kenormalan letak janin.
2. Status Gizi
Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat sangat mutlak
dibutuhkan oleh ibu hamil agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bagi
pertumbuhan dan perkembangan bayi yang dikandungnya dan
persiapan fisik ibu untuk menghadapi persalinan dengan aman.
Selama proses kehamilan bayi sangat membutuhkan zat-zat
penting yang hanya dapat dipenuhi dari ibu. Penting bagi bidan untuk
memberikan informasi ini kepada ibu karena terkadang pasien kurang
memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsinya.Biasanya
masyarakat di era sekarang ini lebih mementingkan selera dengan
mengabaikan kualitas makanan yang dikonsumsi.
Pemenuhan gizi seimbang selama hamil akan meningkatkan
kondisi kesehatan bayi dan ibu, terutama dalam menghadapi masa
nifas sebagai modal awal untuk menyusui.
3. Gaya Hidup
Selain pola makan yang dihubungkan dengan gaya hidup
masyarakat sekarang ternyata ada beberapa gaya hidup lain yang
cukup merugikan kesehatan seorang wanita hamil, misalnya kebiasaan
begadang, berpergian jauh dengan berkendara motor dan lain-lain.

18
Gaya hidup ini akan mengganggu kesejahteraan bayi yang
dikandungnya karena kebutuhan istirahat mutlak harus dipenuhi.
4. Faktor Psikologis
a. Stresor Internal dan Eksternal
1) Stressor internal
Stressor internal meliputi faktor-faktor pemicu stress
ibu hamil yang berasal dari diri ibu sendiri. Adanya beban
psikologis yang ditanggung oleh ibu dapat menyebabkan
gangguan perkembangan bayi yang nantinya akanterlihat
ketika bayi lahir. Anak akan tumbuh menjadi seseorang
dengan kepribadian yang tidak baik, bergantung pada kondisi
stress yang dialami oleh ibunya, seperti anak yang menjadi
temperamental, autis atau orang yang terlalu rendah diri
(minder). Ini tentu saja tidak diharapkan.Oleh karena itu,
pemantauan kesehatan psikologis pasien sangat perlu
dilakukan.
2) Stressor eksternal
Pemicu stress yang berasal dari luar bentuknya sangat
bervariasi, misalnya masalah ekonomi, konflik keluarga,
pertengkaran dengan suami, tekanan dari lingkungan (respon
negatif dari lingkungan pada kehamilan lebih dari 5 kali), dan
masih banyak kasus yang lain.
b. Support Keluarga
Setiap tahap usia kehamilan, ibu akan mengalami
perubahan baik yang bersifat fisik maupun psikologis. Ibu harus
melakukan adaptasi pada setiap perubahan yang terjadi dimana
sumber stress terbesar terjadi dalam rangka melakukan adaptasi
terhadap kondisi tertentu.
Dalam menjalani prose situ ibu hamil sangat membutuhkan
dukungan yang intensif dari keluarga dengan cara menunjukkan
perhatian dan kasih sayang.
c. Subrainstormingtan Abuse (substance abuse)

19
Kekerasan yang dialami oleh ibu hamil di masa kecil akan
sangat membekas dan sangat memengaruhi kepribadiannya. Ini
perlu diperhatikan karena pada klien yang mengalami riwayat ini,
tenaga kesehatan harus lebih maksimal dalam menempatkan diri
sebagai teman atau pendamping yang bisa dijadikan tempat
bersandar bagi klien dalam masalah kesehatan.Klien dengan
riwayat ini biasanya tumbuh dengan kepribadian yang tertutup.
d. Partner Abuse
Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban kekerasan
terhadap perempuan adalah wanita yang telah bersuami. Setiap
bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan harus selalu
diwaspadai oleh tenaga kesehatan jangan sampai kekerasan yang
terjadi akan membahayakan ibu dan bayinya. Efek psikologis yang
muncul gangguan rasa aman dan nyaman pada pasien. Sewaktu-
waktu pasien akanmengalami perasaan terancam yang akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janinnya.
e. Faktor lingkungan, sosial budaya dan ekonomi
1) Kebiasaan dan Adat Istiadat
Ada beberapa kebiasaan adat istiadat yang merugikan
kesehatan ibu hamil. Tenaga kesehatan harus dapat menyikapi
hal ini dengan bijaksana jangan sampai menyinggung
kearifan lokal yang sudah berlaku di daerah
tersebut.Penyampaian mengenai pengaruh adat dapat melalui
berbagai teknik, misalnya melalui media masa, pendekatan
tokoh masyarakat dan penyuluhan yang menggunakan media
efektif. Namun, tenaga kesehatan juga tidak boleh
mengesampingkan adanya kebiasaan yang sebenarnya
menguntungkan bagi kesehatan. Jika kita menemukan adanya
adat yang sama sekali tidak berpengaruh buruk terhadap
kesehatan, tidak ada salahnya jika memberikan respon yang
positif dalam rangka menjalin hubungan yang sinergis dengan
masyarakat.
2) Fasilitas Kesehatan

20
Adanya fasilitas kesehatan yang memadai akan sangat
menguntungkan kualitas pelayanan kepada ibu hamil. Deteksi
dini terhadap kemungkinan adanya penyulit akan lebih tepat,
sehingga langkah antisipatif akan lebih cepat diambil.
Fasilitas kesehatan ini sangat menentukan atau berpengaruh
terhadap upaya penurunan angka kesehatan ibu (AKI).
3) Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi terbukti sangat berpengaruh
terhadap kondisi kesehatan fisik dan psikologis ibu hamil.
Pada ibu hamil dengan tingkat sosial ibu hamil yang baik
otomatis akan mendapatkan kesejahteraan fisik dan psikologis
yang baik pula. Status gizi pun akan meningkat karena nutrisi
yang didapatkan berkualitas, selain itu ibu tidak akan
terbebani secara psikologis mengenai biaya persalinan dan
pemenuhan kebutuhan sehari-hari setelah bayinya lahir.Ibu
akan lebih fokus untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya
sebagai seorang ibu. Sementara pada ibu hamil dengan
kondisi ibu hamil yang lemah akan mendapatkan banyak
kesulitan terutama masalah pemenuhan kebutuhan primer.

2.2.6 DiagnosaKehamilan
Manifestasi kehamilan dapat dibagi menjadi :
1. Tanda Mungkin Hamil
Umumnnya didasarkan pada gejala-gejala subyektif, perubahan-
perubahan yang dirasakan ibu sekama kehamilan, antara lain :
a. Amenorea
b. Mual dan muntah
c. Mengidam
d. Pingsan
e. Anoreksia
f. Miksi yang sering
g. Konstipasi
h. Pigmentasi kulit
i. Varises
j. Hipersalivasi

21
2. Tanda Tidak Pasti Hamil
Perubahan-perubahan yang diobservasi oleh pemeriksa, bersifat
obyektif, namun berupa dugaan kehamilan saja, antara lain :
a. Perut membesar
b. Uterus membesar
c. Tanda Chadwicks
d. Tanda Goodel
e. Tanda Hegar
f. Tanda Piscaseck
g. Teraba Ballotement
h. Braxton Hicks
i. Reaksi kehamilan (- hCG)

3. Diagnosa pasti kehamilan (positif)


Tanda pasti kehamilan merupakan tanda-tanda obyektif yang
didapatkan pemeriksa dan dapat digunakan untuk menegakkan diagnose
pada kehamilan. Yang termasuk tanda pasti kehamilan yaitu :
a. Quickening (gerakan janin pertama kali)
b. Denyut jantung janin
c. Teraba bagian-bagian janin

2.3 Skor Poedji Rochjati


2.3.1 Definisi
Cara untuk mendeteksi dini kehamilan berisiko menggunakan
skor Poedji Rochjati. Berdasarkan jumlah skor kehamilan dibagi
menjadi tiga kelompok yaitu, kehamilan risiko rendah, kehamilan
risiko tinggi dan kehamilan risiko sangat tinggi,tentang usia ibu hamil,
riwayat kehamilan, riwayat persalinan, riwayat penyakit ibu hamil.
1. Kehamilan Risiko Rendah (KRR) dengan jumlah skor 2.
2. Kehamilan Risiko Tinggi (KRT) dengan jumlah skor 6-10.
3. Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST) dengan jumlah skor
12.
2.3.2 Tujuan
1. Melakukan pengelompokan sesuai dengan risiko kehamilannya,
dan mempersiapkan tempat persalinan yang aman sesuai dengan
kebutuhannya.
2. Melakukan pemberdayaan terhadap ibu hamil, suami, maupun
keluarga agar mempersiapkan mental, biaya untuk rujukan
terencana.

22
2.3.3 Fungsi
1. Alat komunikasi untuk edukasi kepada ibu hamil, suami maupun
keluarga untuk kebutuhan pertolongan mendadak ataupun rujukan
terencana.
2. Alat peringatan bagi petugas kesehatan. Semakin tinggi skor, maka
semakin intensif pula perawatan dan penanganannya.
2.3.4 Cara Pemberian Skor
1. Kondisi ibu hamil umur, paritas dan faktor risiko diberi nilai 2,4,
dan 8.
2. Pada umur dan paritas diberi skor 2 sebagai skor awal.
3. Tiap faktor risiko memiliki skor 4 kecuali pada letak sungsang,
luka bekas sesar, letak lintang, perdarahan antepartum, dan
preeklamsia berat/eklamsia diberi skor 8.

23
2.3.5 Pencegahan Kehamilan Resiko Tinggi
1. Informasi dan edukasi /KIE untuk kehamilan dan persalinan aman.
a. Kehamilan risiko rendah (KRR), persalinan dapat di rumah
ataupun polindes, tetapi penolongnya harus bidan. Dukun
hanya membantu pada saat nifas.
b. Kehamilan Risiko Tinggi (KRT), harus diberi penyuluhan
untuk bersalin di puskesmas, polindes, atau langsung di rumah
sakit saja. Terutama pada letak lintang primigravida, dengan
tinggi badan rendah.
c. Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST), diberi penyuluhan
untuk langsung di rujuk ke rumah sakit dengan alat lengkap
dan dibawah pengawasan dokter spesialis.
2. Memeriksakan kehamilan secara teratur minimal 4 kali.
3. Imunisasi TT dua kali selama kehamilan dengan jarak satu bulan,
untuk mencegah tetanus neonatorum.
4. Makan makanan bergizi selama kehamilan.
5. Menghindari hal-hal yang menibulkan komplikasi pada ibu hamil.
a. Bekerja terlalu keras.
b. Merokok, minum alkohol, pecandu narkotika yang
menyebabkan cacat bawaan pada janin.
c. Obat-obatan.
d. Berdekatan dengan penyakit menular.
e. Pijat urut di perut.
f. Berpantang makanan yang dibutuhkan pada ibu hamil.
6. Mengenali tanda tanda kehamilan risiko tinggi. Jika menemukan
tanda risiko tinggi langsung periksa ke puskesmas, polindes,bidan,
rumah bersalin, atau rumah sakit. ( Rochjati, 2003).

2.4 Kehamilan Letak Lintang


2.4.1 Definisi
Kehamilan letak lintang adalah suatu keadaan dimana sumbu
panjang janin tegak lurus atau hamper tegak lurus pada sumbu panjang
ibu. Pada letak lintang, bahu menjadi bagian terendah yang disebut
presentasi bahu atau presentasi akromion. Jika punggung di bagian depan
disebut dorsoanterior dan jika dibelakang disebut dorsoposterior,
(Sastrawinata, 2005)

24
Kehamilan letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin
melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan
bokong berada pada sisi yang lain.
Terdapat 2 jenis letak lintang :
1. Presentasi bahu (Presentasi akromion) yaitu pada letak lintang, bahu
yang menjadi bagian terendah.
2. Dorso anterior yaitu jika punggung terdapat di sebelah depan dan dorso
posterior yaitu jika punggung terdapat di sebelah belakang (DS
Bratakoesoema,2005)
2.4.2 Etiologi

1. Relaksasi dinding abdomen karena multipara, hidramnion, atau


kehamilan ganda

2. Oligohidramnion

3. Kehamilan prematur

4. Bentuk uterus abnormal ( Uterus arkuatus, septus )

5. Panggul sempit

6. Ada penghalang di pintu atas panggul ( plasenta previa, terdapat tumor


genitalia interna)

7. Kelainan bentuk janin intrauterin

8. Lilitan tali pusat pada janin ( leher dan lainnya), (Manuaba, 2010)

2.4.3 Diagnosis
1. Pada inspeksi, tampak perut melebar ke samping dan pada kehamilan
cukup bulan fundus uteri lebih rendah dari biasa, hanya beberapa jari
diatas pusat, (Sastrawinata, 2005)
2. Pemeriksaan abdominal: sumbu panjang janin teraba melintang, tidak
teraba bagian pada pelvis inlet sehingga terasa kosong, ( WHO, 2013 )

25
3. Tinggi fundus lebih rendah, kelainan bentuk uterus (memanjang ke
lateral), kepala dapat diraba di sisi lateral (biasanya sisi kiri), ( Datta,
2009 ).
4. Pemeriksaan abdomen dengan palpasi perasat leopold mendapatkan
hasil (Sastrawinata, 2005) :
a. Leopold Ifundus uteri tidak ditemukan bagian janin (kosong)
b. Leopold II teraba balotemen kepala pada salah satu fosa iliaka dan
bokongpada fosa iliaka yang lain.
c. Leopold III dan IV, bagian bawah Rahim kosong
5. Auskultasi : denyut jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri.
6. Pada pemeriksaan vaginal, tidak ada bagian terendah yang teraba di
pelvis, sedangkan pada saat inpartu, yang teraba adalah bahu, siku atau
tangan, (WHO,2013).
2.4.4 Komplikasi
1. Pada Ibu
a. Ruptur uteri dan traumatik uteri
b. Infeksi
c. Terdapatnya letak lintang kasep (Neglected Transverse Lie),yang
berpotensi meningkatkan kematian pernatal, diketahui dengan :
1) Adanya ruptur uteri mengancam
2) Tangan yang dimasukan kedalam kavum uteri terjepit antara
janin dan panggul
3) Dengan narkosa dalam sulit merubah letak janin
(Mochtar,1995)
d. Meningkatnya kematian maternal karena :
1) Letak lintang selalu disertai plasenta previa
2) Kemungkinan terjadi cedera tali pusat meningkat.
3) Keharusan tindakan Operasi SC tidak bisa dihindari
4) Sepsis setelah ketuban pecah atau lengan menumbung melalui
vagina
2. Pada Janin
a. Kematian janin akibat :
1) Prolaps funikuli
2) Aspiksia karena gangguan sirkulasi uteroplasental
3) Tekukan leher yang kuat (DS Bratakoesoema,2005 &
Cuningham,1995)
2.4.5 Penatalaksanaan

1. Pada kehamilan

26
Dalam kehamilan, diusahakan versi luar segera setelah
diagnosis letak lintang ditegakkan. Sedapat-dapatnya dijadikan letak
kepala, namun jika ini tidak memungkinkan, diusahakan versi
menjadi letak sungsang.
Jika versi ini berhasil, kepala didorong kedalam pintu atas
panggul supaya kepala terfiksasi oleh PAP dan anak tidak memutar
kembali. Agar tidak berputar kembali, terutama pada multipara
sesudah versi luar berhasil, sebaiknya pasien dianjurkan memakai
gurita, (Sastrawinata, 2005)
Versi luar pada letak lintang hanya terdiri dari dua tahap
yaitu tahap rotasi dan tahap fiksasi, (Wiknjosastro, 2007).
Tindakan bidan menangani letak lintang dengan melakukan
versi luar sudah ditinggalkan tetapi masih dapat dicoba untuk
melakukan versi luar alami dengan jalan menganjurkan ibu untuk
melakukan posisi lutut-dada ( knee-chest ) selama 10-15 menit
setiap hari sebanyak 2-3 kali sampai terjadi perubahan posisi janin
dalam rahim. Anjuran ini hanya mungkin bila kehamilan masih
muda sehingga hokum gaya berat masih berlaku karena longgarnya
ruangan intrauterine. Masa kehamilan sekitar 6,5 7,5 bulan, usia
kehamilan lebih dari ini sudah sulit dilakukan karena ruangan
dalam Rahim sudah semakin sempit, (Manuaba,2010)

2. Pada persalinan

Pertolongan persalinan letak lintang pada multipara


bergantung kepada beberapa faktor. Apabila riwayat obstetri yang
bersangkutan baik, tidak didapatkan kesempitan panggul dan janin
tidak seberapa besar, dapat ditunggu dan diawasi sampai pembukaan
lengkap untuk melakukan versi ekstraksi. Selama menunggu harus
diusahakan supaya ketuban tetap utuh dan melarang ibu meneran
atau bangun. Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap
dan terdapat prolapsus funikuli, harus segera dilakukan seksio
sesaria. Jika ketuban pecah, tetapi tidak ada prolapsus funikuli, maka

27
bergantung tekanan dapat ditunggu sampai pembukaan lengkap
kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri persalinan
dengan seksio sesaria. Dalam hal ini, persalinan dapat diawasi untuk
beberapa waktu guna mengetahui apakah pembukaan terjadi dengan
lancar atau tidak. Versi ekstraksi dapat dilakukan pula pada
kehamilan kembar, apabila setelah bayi pertama lahir, ditemukan
bayi kedua berada dalam letak lintang.
Pada letak lintang belum kasep, ketuban masih ada, dan
pembukaan kurang dari 4 cm, dicoba versi luar. Jika pembukaan
lebih dari 4 cm pada primigravida dengan janin hidup dilakukan
sectio caesaria, jika janin mati, tunggu pembukaan lengkap,
kemudian dilakukan embriotomi. Pada multigravida dengan janin
hidup dan riwayat obstetri baik dilakukan versi ekstraksi, jika
riwayat obsterti jelek dilakukan SC. Pada letak lintang kasep janin
hidup dilakukan SC, jika janin mati dilakukan embriotomi. (Dasuki,
2000)
Pada letak lintang kasep, bagian janin terendah tidak dapat
didorong ke atas, dan tangan pemeriksa yang dimasukkan ke dalam
uterus tertekan antara tubuh janin dan dinding uterus. Demikian pula
ditemukan lingkaran Bandl yang tinggi. Berhubung adanya bahaya
ruptur uteri, letak lintang kasep merupakan kontraindikasi mutlak
melakukan versi ekstraksi. Bila janin masih hidup, hendaknya
dilakukan seksio sesaria dengan segera.
Versi dalam merupakan alternatif lain pada kasus letak
lintang. Versi dalam merupakan metode dimana salah satu tangan
penolong masuk melalui serviks yang telah membuka dan menarik
salah satu atau kedua tungkai janin ke arah bawah. Umumnya versi
dalam dilakukan pada kasus janin letak lintang yang telah meninggal
di dalam kandungan dengan pembukaan serviks lengkap. Namun,
dalam keadaan tertentu, misalnya pada daerah-daerah terpencil, jika
dilakukan oleh penolong yang kompeten dan berpengalaman, versi
dalam dapat dilakukan untuk kasus janin letak lintang yang masih

28
hidup untuk mengurangi risiko kematian ibu akibat ruptur uteri.
Namun, pada kasus letak lintang dengan ruptur uteri mengancam,
korioamnionitis dan risiko perdarahan akibat manipulasi uterus,
maka pilihan utama tetaplah seksio sesaria.
Dalam posisi letak lintang, keadaan lebih berbahaya karena
persalinan spontan tidak mungkin berlangsung. Satu-satunya jalan
yang dapat mencapai bayi lahir baik dan keadaan ibu baik hanyalah
dengan jalan seksio sesaria, ( Manuaba, 2010 )

29
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS DALAM KONTEKS KELUARGA
PADA KELUARGA TN. S DENGAN NY.N HAMIL DENGAN LETAK
LINTANG UK 30-31 MINGGU DESA TUALANG KECAMATAN
TUALANG TAHUN 2017

PENGKAJIAN

A. Data Umum
1. Identitas Kepala Keluarga :

Nama : Tn. S
Umur : 28 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Jl. Hangnadim no. 17 desa tualang
No. Telepon :-

30
2. Komposisi keluarga

No. Nama L/P Hub. Umur Pendidikan Pekerjaan


Kel
1. Tn. S L Suami 28 thn SMA Buruh
2. Ny.N P Istri 22 thn SMA IRT

3. Tipe keluarga : dyad family


4. Kebiasaan Tidur : Kebiasaan Tidur keluarga tidak teratur dan tergantung
pada kemauan anggota keluarga masing-masing
5. Kebiasaan Makan : Makan 3 X sehari dengan makanan pokok beras
(Nasi). Keadaan anggota keluarga tidak ada yang gemuk dan kurus pada
umumnya sesuai antara berat badan dan tinggi badan
6. Pemggunaan waktu senggang : penggunaan waktu senggang oleh ibu
digunakan untuk mengurus rumah tangga, ibu tidak terlalu aktif mengikuti
kegiatan ibu-ibu di RT/RW. Ayah sehari-harinya sibuk dengan
pekerjaanya. Tetapi waktu berkumpul dengan keluarga tetap dilakukan
7. Status Sosial Ekonomi : pencari nafkah dalam keluarga adalah suami
dengan penghasilan tetap setiap bulannya yang mengurus keuangan
keluarga adalah istri.
8. Aktivitas rekreasi keluarga
Biasanya keluarga melihat TV bersama, mendengarkan radio,
kadang-kadang pergi bersama.

B. Situasi Lingkungan
9. Perumahan
Rumah berstatus milik sendiri terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar
tamu, 1 dapur merangkap dengan ruang makan, ventilasi cukup,
kebersihan rumah cukup, pekarangan dimanfaatkan dengan menanam
tumbuhan.
10. Sumber air minum : menggunakan air galon keadaan jernih, tidak
berbau, tidak berasa.
11. Tempat pembuangan Tinja : keluarga mempunyai WC sendiri, yaitu
WC jongkok
12. Tempat pembuangan air limbah : air limbah dibuang melalui got yang
sudah ada yang akan dialirkan di parit
13. Pembuangan sampah : sampah dibakar disamping pekarangan rumah
14. Kandang ternak : keluarga memelihara ayam, burung disamping
rumah, kandang yang disediakan cukup bersih
15. Pemnfaatan fasilitas kesehatan : Bila ada anggota keluarga yang sakit
keluarga segera membawa kepuskesmas atau bidan yang ada didekat
rumah.
16. Keadaan Kesehatan Keluarga
17. Keluarga berencana : ibu belum pernah menggunakan KB
18. Riwayat persalinan : ibu belum pernah bersalin
19. Keadaan gizi keluarga : pertumbuhan fisik Tn. S sesuai dengan usia
begitu pula dengan ibu
20. Penyakit Yang diderita keluarga : tidak ada penyakit serius yang
dialami anggota keluarga hanya seperti : batuk, pilek. Ny.N saat ini
sedang hamil anak ke 1 umur kehamilan 7 bulan, keluhan selama
hamil ini ibu sering kencing. Ny.N periksa hamil rutin di dokter atau
pada bidan

21. Fungsi Keluarga


1. Fungsi afektif
Sikap dan hubungan antar anggota keluarga baik, dan menurut ibu
keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
2. Fungsi sosialisasi
Interaksi dalam keluarga baik dan mengajarkan kepada keluarganya
untuk hidup sederhana dan saling tolong menolong dengan sesama.
3. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga Tn.N tidak mampu mengenal masalah kesehatan yang
ditimbulkan akibat kehamilan istrinya. Bila ada anggota keluarga yang
saKit Tn.s mempercayakan ke tenaga kesehatan, biasanya berobat ke
Bidan atau Puskesmas.

22. Stressor dan Koping Keluarga


1. Stressor jangka pendek
Stressor jangka pendek yang dirasakan oleh keluarga Tn.S adalah
menghadapi kehamilan pertama.
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor
Keluarga tidak merasakan ada masalah dalam keluarganya oleh karena
itu hal yang wajar terjadi pada hamil muda.
3. Strategi koping yang digunakan
Jika ada masalah selalu dibicarakan bersama keluarga untuk
dimusyawarahkan.
23. Data Asuhan kebidanan kehamilan
A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata

Nama ibu : Ny N Nama suami : Tn S

Umur :22 tahun Umur :28 thn

Agama : Islam Agama

: Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Supir

Alamat : Jl. Hangnadim No.17

Alasan Kunjungan :

Ingin mengetahui kesehatan ibu dan janin

2. Riwayat Menstruasi

HPHT : 8-07-2016 TP: 15-4-2017

Siklus : 28 hari

3. Riwayat perkawinan
Perkawinan ke :1
Usia saat kawin : 20
Lama perkawinan : 1 tahun
4. Riwayat Kehamilan, persalinan, nifas yang lalu

N Tgl/Th UK Tempat Jenis penolon Nifas Anak Keadaa Ket


O partus persalina
n partus g Jk/BB n
n Anak

sek
INI

5. Riwayat Kehamilan saat ini G1 P0 A0 H0


Pertama kali periksa kehamilan pada UK : 5 minggu di bidan
Pemeriksaan saat ini yang ke 5
Masalah yang pernah dialami : mual, pusing.
6. Riwayat Kesehatan Ibu
- Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti : DM, hipertensi,

asma, jantung, ginjal dan lain-lain


7. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan didalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit

seperti: DM,asma, jantung, ginjal, hipertensi dan lain-lain


8. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan KB
9. Pola aktivitas sehari-hari
Pola makan dan minum:
- Makan : 2-3 kali/hari
- Minum : 7 gelas/hari
- Keluhan atau masalah : tidak ada
Pola eliminasi :
- BAK : 6-7 kali/hari
- BAB : 1-2 kali/hari
- Masalah : tidak ada
Pola istirahat dan tidur :
- Istirahat : 5-6 jam
- Masalah : tidak ada
10. Data psikososial
- Ibu dan keluarga menerima kehamilan ini dengan senang
- Ibu dapat diajak berkomunikasi dengan baik
- Ibu mendapat dukungan dari suami, orangtua, mertua dan keluarga lainnya

B. DATA OBJEKTIF
Pemeriksaan Umum :
- Kesadaran : composmentis
- Sikap tubuh : normal
- Tanda-tanda vital :
a. Tekanan Darah : 120/80 mmHg c. Pernafasan : 20x/menit
b. Nadi : 80 x/menit d. Suhu : 36,4C
- BB sebelum hamil : 60 kg
- BB sekarang : 71,5 kg
- Lila : 29 cm

Pemeriksaan Head to toe :


- Kepala : bersih, tidak ada pembengkakan
- Muka : tidak oedem dan tidak hiperpigmentasi
- Mata : sklera: tidak ikterus, konjungtiva : merah muda
- Telinga : tidak tampak kelainan
- Gigi : tidak karies
- Leher : tidak ada pembengkakan pada kelenjar tiroid
- Payudara : putting susu menonjol, pengeluaran kolostrum(-)
- Abdomen :
a) Inspeksi : tidak ada luka bekas operasi
b) Palpasi :
Palpasi Leopold
- Leopold I : tfu 4 jari diatas pusat, teraba bagian kecil-kecil

janin (ekstremitas)
- Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba bagian keras janin

(kepala janin) dan bagian kiri perut ibu teraba bagian

bulat,lunak,tidak melenting (bokong janin)


- Leopold III :Bagian terendah janin teraba keras,melebar

seperti papan (punggung janin)


- Leopold IV : tidak dilakukan

Tfu : 28 cm

TBJ : (28-13) X 155 = 2325 gr

- Auskultasi : DJJ : (+ )
- Ekstremitas : akral hangat
Oedema : -/-
Varises : -/-
Reflek patella : +/+ kiri kanan pergerakan normal
C. DIAGNOSA

G1P0A0H0 usia kehamilan 30-31 minggu janin hidup, tunggal,

intrauterine, letak lintang keadaan umum ibu dan janin baik.

D. PENATALAKSANAAN
a. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu dalam keadaan

ibu baik, yaitu Tekanan darah ibu normal : 120/80 mmHg, P: 20x/I, N:

80x/I dan suhu: 36,4 C


b. Memberi konseling pada ibu mengenai kehamilan letak lintang yaitu

suatu keadaan dimana janin melintang di dalam rahim ibu dengan

kepala pada sisi samping bagian perut ibu yang satu sedangkan
bokong berada pada sisi yang lain. Sehingga bagian terendah janin

bukanlah kepala, melainkan punggung janin. Faktor lain yang

mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa atau

plasenta(ar-ari) berada di bawah dan menutupi jalan lahir, selain itu

juga ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang

yaitu: kehamilan ganda, polihidramnion (kelebihan air ketuban), atau

juga karena pengkerutan pelvis. Dengan posisi yang sedemikian ini

akan mempersulit terjadinya penurunan.


c. Beri KIE pada ibu mengenai perubahan fisiologi kehamilan yang

berhubungan dengan nyeri pinggang, yaitu diakibatkan karena

pertumbuhan janin dalam kandungan ibu yang menekan tulang

panggul ibu, sehingga ibu merasakan nyeri. Cara menyikapinya ibu

bisa menuranginya dengan tidur posisi miring dan jangan berdiri

terlalu lama karena bsa lebih menambah beban yang di tumpu oleh

tulang panggul ibu.


d. Menganjurkan ibu untuk melakukan posisi knee chest ( sujud dengan

kaki sejajar pinggul dan dada sejajar lutut) Lakukan 3 kali sehari

selama 10-15 menit setiap kali


e. Memberitahu ibu makan makanan yang bergizi seperti mengkonsumsi

sayuran hijau, ikan, kacang-kacangan meminum susu


f. Memberitahu tanda bahaya kehamilan, yaitu: keluar darah dari vagina,

serta mual muntah yang berlebihan, bengkak pada wajah dan tangan,

penglihatan kabur, gerakan janin berkurang, demam, nyeri kepala yang

hebat dan nyeri pada abdomen.


g. Memberitahukan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau segera

datang ke tenaga kesehatan terdekat jika ada keluhan dan tanda bahaya

yang telah di jelaskan kepada ibu.


ANALISA DATA

Masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga Tn. S


adalah Ny. N Hamil resiko tinggi yaitu kehamilan letak lintang

PERUMUSAN MASALAH

Dari data-data diatas dan hasil analisa sederhana, hanya sedikit


permasalahan yang timbul yaitu kehamilan Ny. N dengan letak lintang

PRIORITAS MASALAH

Prioritas masalah diatas adalah kehamilan Ny, N dengan resiko tinggi letak lintang

RENCANA ASUHAN KEBIDANAN

Diagnosa Tujuan Evaluasi Rencana


Kebidanan Umum Khusus Kriteria Standar intervensi
Kurangnya Keluarga 1.Mengetahui Ada 1.Ny.S 1.Beri
pengetahuan mengetahui tentang perubahan mengetahui penjelasan
tentang resiko tentang kehamilan perilaku tentang tentang
hamil dengan masalah resti positif pada kehamilan kehamilan
letak litnag kesehatan 2.Mengetahui Ny.N dan resti dan resti
yang terjadi cara keluarganya tanda bahaya 2.Ajarkan tanda
pada mengatasi kehamilan bahaya
keluarganya masalah 2.Ny.S kerhamilan
dan dapat yang timbul mengetahui dan cara
memecahkan pada cara mengatasi
masalah kehamilan mengatasi masalah
kesehatan 3.Keluarga masalah yang timbul
saling yang timbul pada
mendukung pada kehamilan
dalam kehamilan 3.Ajak keluarga
pemantauan 3.Ny.S tetap untuk saling
proses bersemangat mendukung
kehamilan menjalankan dalam
perannya pemantauan
dan proses
Keluarga kehamilan
saling
mendukung
dalam
pemantauan
proses
kehamilan

IMPLEMENTASI

1. Menjelaskan tentang pengertian kehamilan dan kehamilan yang termasuk resti


2. Menjelaskan tentang tanda bahaya kehamilan
3. Menjelaskan tentang cara mengatasi masalah yang timbul pada kehamilan
4. Mengajak keluarga saling mendukung dalam pemantauan proses kehamilan

EVALUASI
Ny. N dan Tn. S dapat menjelaskan kembali tentang :
1. Pengertian kehamilan dan kehamilan yang termasuk resti
2. Tanda bahaya kehamilan
3. Cara mengatasi masalah yang timbul pada kehamilan
4. Keluarga menyatakan mendukung proses kehamilan.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis melaksanakan asuhan kebidanan komunitas terhadap

keluarga Tn. S dengan kehamilan Ny. N dengan letak lintang, dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut :


1. Intervensi yang penulis ambil dan penulis lakukan yaitu konseling

kehamilan dengan faktor resiko, tanda bahaya kehamilan dan

penanganannya.
2. Hasilnya keluarga Tn. S mengerti faktor resiko kehamilan, tanda

bahaya kehamilan dan penanganannya dan keluarga bersedia untuk

mendukung kehamilan Ny. N


3. Peningkatan pelayanan olah kader dan tenaga kesehatan khususnya

puskesmas sangat penting agar dapat meningkatkan pengetahuan

masyarakat pentingnya untuk mengetahui kehamilan dengan resiko

tinggi
B. Saran

1. Keluarga
a. Kepada keluarga di harapakan lebih mengerti tentang kesehatan
b. Kepada Ny. N diharapkan lebih mengerti tentang faktor resiko dan
tanda bahaya kehamilan.
c. Kepada Tn. S diharapkan mampu mendukung istrinya dalam
kehamilan dan lebih peduli akan kesehatan kehamilan Ny.N
d. Diharapkan kepada keluarga untuk lebih mengutamakan kesehatan
2. Masyarakat
a. Diharapkan bagi masyarakat sekitar untuk lebih meningkatkan
pemahaman tentang kualitas rumah yang sehat.
b. Diharapkan masyarakat sekitar juga paham akan faktor resiko
kehamilan dan peduli dengan tetangga dengan kehamilan letak
lintang
3. Kader
a. Bagi kader diharapkan untuk lebih meningkatkan pelayanan bagi
ibu hamil khusunya dengan letak lintang
4. Puskesmas
a. Bagi puskesmas di harapkan lebih memperhatikan masalah
kesehatan warga terutama konseling akan kehamilan, faktor resiko
serta tanda bahaya kehamilan itu sendiri.
b. Perlu ditingkatkan kerjasama antara masyarakat, tokoh masyarakat,
kader, petugas kesehatan dengan puskesmas dalam upaya
meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat dalam program
kesehatan Ibu dan Anak.