Vous êtes sur la page 1sur 23

Nama : Mario V.

Baemamenteng

NIM : 14061037

MK : Sistem Reproduksi II

1. Aborsi

Abortus/keguguran sendiri artinya suatu ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan, dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat anak kurang dari 500 gram.

Abortus pun dibagi bagi lagi menjadi beberapa bagian, antara lain :

1. Abortus Komplet

Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20 minggu.

2. Abortus Inkomplet

Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang tertinggal.

3. Abortus Insipiens

Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks yang telah mendatar, sedangkan
hasil konsepsi masih berada lengkap di dalam rahim.

4. Abortus Iminens

Abortus tingkat permulaan, terjadi perdarahan per vaginam, sedangkan jalan lahir masih tertutup
dan hasil konsepsi masih baik di dalam rahim.

5. Missed Abortion

Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus terlah meninggal dalam kandungan sebelum
kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih dalam kandungan.

6. Abortus Habitualis

Abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut turut atau lebih.
Untuk menangani pasien abortus, ada beberapa langkah yang dibedakan menurut jenis abortus
yang dialami, antara lain :

1. Abortus Komplet

Tidak memerlukan penanganan penanganan khusus, hanya apabila menderita anemia ringan
perlu diberikan tablet besi dan dianjurkan supaya makan makanan yang mengandung banyak
protein, vitamin dan mineral.

2. Abortus Inkomplet

Bila disertai dengan syok akibat perdarahan maka pasien diinfus dan dilanjutkan transfusi darah.
Setelah syok teratasi, dilakukan kuretase, bila perlu pasien dianjurkan untuk rawat inap.

3. Abortus Insipiens

Biasanya dilakukan tindakan kuretase bila umur kehamilan kurang dari 12 minggu yang disertai
dengan perdarahan.

4. Abortus Iminens

Istirahat baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan karena cara ini akan
mengurangi rangsangan mekanis dan menambah aliran darah ke rahim. Ditambahkan obat
penenang bila pasien gelisah.

5. Missed Abortion

Dilakukan kuretase. Cuma kudu hati hati karena terkadang plasenta melekat erat pada rahim.

Terbukanya jalan lahir akibat abortus dan akibat dari tindakan kuretase tentu tidak terlepas dari
komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi yaitu infeksi, perforasi/robekan/lubang pada dinding
rahim. Tapi bila dikerjakan sesuai prosedur dan pasien cepat tanggap akan keluhan yang diderita
maka kemungkinan terjadinya komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin.
Abortus pada wanita hamil bisa terjadi karena beberapa sebab diantaranya :

1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Kelainan inilah yang paling umum menyebabkan
abortus pada kehamilan sebelum umur kehamilan 8 minggu. Beberapa faktor yang menyebabkan
kelainan ini antara lain : kelainan kromoson/genetik, lingkungan tempat menempelnya hasil
pembuahan yang tidak bagus atau kurang sempurna dan pengaruh zat zat yang berbahaya bagi
janin seperti radiasi, obat obatan, tembakau, alkohol dan infeksi virus.

2. Kelainan pada plasenta. Kelainan ini bisa berupa gangguan pembentukan pembuluh darah
pada plasenta yang disebabkan oleh karena penyakit darah tinggi yang menahun.

3. Faktor ibu seperti penyakit penyakit khronis yang diderita oleh sang ibu seperti radang paru
paru, tifus, anemia berat, keracunan dan infeksi virus toxoplasma.

4. Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut rahim, kelainan
bentuk rahim terutama rahim yang lengkungannya ke belakang (secara umum rahim melengkung
ke depan), mioma uteri, dan kelainan bawaan pada rahim.
1. Kehamilan Ektopik Terganggu

Ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa Yunani, topos yang
berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan berada di luar tempat yang semestinya.

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian
besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-
rata 30 tahun, frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%.
apabila tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi
si penderita.

Istilah kehamilan ektopik lebih tepat daripada istilah ekstrauterin yang sekarang masih juga
dipakai,oleh karena terdapat beberapa jenis kehamilan ektopik yang berimplantasi dalam uterus
tetapi tidak pada tempat yang normal

Kehamilan ektopik terganggu adalah terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di
luar endometrium kavum uterik. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan
ektopik terganggu karna kehamilan pada pars interstisialis tubah dan kanalis servikalis masih
termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi
abortus atau pecah, dalam hal ini dapat berbahaya bagi wanita hamil tersebut maka kehamilan ini
disebut kehamilan ektopik terganggu

Etiologi

Kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada perjalanan sel telur dari indung telur (ovarium)
ke rahim (uterus). Dari beberapa studi faktor resiko yang diperkirakan sebagai penyebabnya
adalah:

1. Infeksi saluran telur (salpingitis), dapat menimbulkan gangguan pada motilitas saluran telur.

2. Riwayat operasi tuba.

3. Cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang.

4. Kehamilan ektopik sebelumnya.

5. Aborsi tuba dan pemakaian IUD.

6. Kelainan zigot, yaitu kelainan kromosom.

7. Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan perubahan-perubahan pada


endosalping, sehingga walaupun fertilisasi dapat terjadi, gerakan ovum ke uterus terlambat.

8. Operasi plastik pada tuba.

9. Abortus buatan.
Patofisiologi

Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam
perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat
terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat
dari hal ini yaitu :

1. Kemungkinan tubal abortion, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal
(fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla, darah
yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu banyak karena
dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.

2. Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari distensi
berlebihan tuba.

3. Faktor abortus ke dalam lumen tuba.

4. Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda.

5. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal.
Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit hingga banyak,
sampai menimbulkan syok dan kematian2.

Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik adalah:

1) hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi,

2) abortus ke dalam lumen tuba, dan

3) ruptur dinding tuba.

Abortus ke dalam lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars ampullaris, sedangkan
ruptur lebih sering terjadi pada kehamilan pars isthmica. Pada abortus tuba, bila pelepasan hasil
konsepsi tidak sempurna atau tuntas, maka perdarahan akan terus berlangsung. Bila perdarahan
terjadi sedikit demi sedikit, terbentuklah mola kruenta. Tuba akan membesar dan kebiruan
(hematosalping), dan darah akan mengalir melalui ostium tuba ke dalam rongga abdomen hingga
berkumpul di kavum Douglas dan membentuk hematokel retrouterina.

Pada kehamilan di pars isthmica, umumnya ruptur tuba terjadi lebih awal, karena pars isthmica
adalah bagian tuba yang paling sempit. Pada kehamilan di pars interstitialis ruptur terjadi lebih
lambat (8-16 minggu) karena lokasi tersebut berada di dalam kavum uteri yang lebih akomodatif,
sehingga sering kali kehamilan pars interstitialis disangka sebagai kehamilan intrauterin biasa.
Perdarahan yang terjadi pada kehamilan pars interstitialis cepat berakibat fatal karena suplai
darah berasal dari arteri uterina dan ovarika. Oleh sebab itu kehamilan pars interstitialis adalah
kehamilan ektopik dengan angka mortalitas tertinggi. Kerusakan yang melibatkan kavum uteri
cukup besar sehingga histerektomi pun diindikasikan.

Ruptur, baik pada kehamilan fimbriae, ampulla, isthmus maupun pars interstitialis, dapat terjadi
secara spontan maupun akibat trauma ringan, seperti koitus dan pemeriksaan vaginal. Bila
setelah ruptur janin terekspulsi ke luar lumen tuba, masih terbungkus selaput amnion dan dengan
plasenta yang masih utuh, maka kehamilan dapat berlanjut di rongga abdomen. Untuk memenuhi
kebutuhan janin, plasenta dari tuba akan meluaskan implantasinya ke jaringan sekitarnya, seperti
uterus, usus dan ligamen.

Manifestasi Klinik

Gejala dan tanda kehamilan ektopik terganggu sangat berbeda-beda; dari perdarahan yang
banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas sehingga
sukar membuat diagnosanya. Gejala dan tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik
terganggu, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi dan
keadaan umum penderita sebelum hamil. Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting
kedua pada kehamilan ektopik terganggu.

Hal ini menunjukkan kematian janin. Kehamilan ektopik terganggu sangat bervariasi, dari yang
klasik dengan gejala perdarahan mendadak dalam rongga perut dan ditandai oleh abdomen akut
sampai gejala-gejala yang samar-samar sehingga sulit untuk membuat diagnosanya.

Kehamilan ektopik dapat juga ditandai dengan Amenore; gejala kehamilan muda; Nyeri perut
bagian bawah, pada ruptur tuba nyeri terjadi tiba-tiba dan hebat, menyebabkan penderita pingsan
sampai syok, pada abortus tuba nyeri mula-mula pada satu sisi menjalar ke tempat lain, bila
darah sampai ke diafragma bisa menyebabkan nyeri bahu, bila terjadi hematokel retrouterina
terdapat nyeri defekasi; perdarahan pervaginam berwarna coklat tua.

Diagnosis

Walaupun diagnosanya agak sulit dilakukan, namun beberapa cara ditegakkan, antara lain
dengan melihat :

1. Anamnesis dan gejala klinis

Riwayat terlambat haid, gejala dan tanda kehamilan muda, dapat ada atau tidak ada perdarahan
per vaginam, ada nyeri perut kanan / kiri bawah. Berat atau ringannya nyeri tergantung pada
banyaknya darah yang terkumpul dalam peritoneum.
2. Pemeriksaan fisik

a. Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah adneksa.

b. Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan ekstremitas dingin, adanya
tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas dinding
abdomen.

c. Pemeriksaan ginekologis

3. Pemeriksaan dalam: seviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan kiri.

4. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-hCG (+). Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan
jumlah sel darah merah dapat meningkat.

b. USG : - Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri

c. Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri

d. Adanya massa komplek di rongga panggul

5. Kuldosentesis : suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada
darah.

6. Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi.

7. Ultrasonografi berguna pada 5 10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di luar uterus.

Penanganan

Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pada laparotomi perdarahan
selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi sumber
perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam rongga perut sebanyak
mungkin dikeluarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus dipertimbangkan
yaitu: kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi
kehamilan ektopik. Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan
bagian tuba yang terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan pemantauan terhadap kadar HCG
(kuantitatif). Peninggian kadar HCG yang berlangsung terus menandakan masih adanya jaringan
ektopik yang belum terangkat.

Penanganan pada kehamilan ektopik dapat pula dengan transfusi, infus, oksigen, atau kalau
dicurigai ada infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan
dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus dirawat inap di rumah
sakit.
a. Penatalaksanaan medis

Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat merusak integritas jaringan dan sel
hasil konsepsi. Tindakan konservativ medik dilakukan dengan pemberian methotrexate.
Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi keganasan, termasuk
penyakit trofoblastik ganas. Pada penyakit trofoblastik, methotrexate akan merusak sel-sel
trofoblas, dan bila diberikan pada pasien dengan kehamilan ektopik, methotrexate diharapkan
dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga menyebabkan terminasi kehamilan tersebut. Terapi
methotrexate dosis tunggal adalah modalitas terapeutik paling ekonomis untuk kehamilan
ektopik yang belum terganggu.

Kandidat-kandidat penerima tatalaksana medis harus memiliki syarat-syarat berikut ini: 1)


keadaan hemodinamik yang stabil dan tidak ada tanda robekan dari tuba, 2) tidak ada aktivitas
jantung janin, 3) diagnosis ditegakkan tanpa memerlukan laparaskopi, 4) diameter massa ektopik
< 3,5 cm, 5) kadar tertinggi -hCG < 15.000mIU/ ml, 6)

b. Penatalaksaan bedah

Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien dengan kehamilan tuba yang belum
terganggu maupun yang sudah terganggu. Tentu saja pada kehamilan ektopik terganggu,
pembedahan harus dilakukan secepat mungkin, seperti Salpingostomi dan Salpingotomi

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :

a. Pada pengobatan konservatif, yaitu bila kehamilan ektopik terganggu telah lama
berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang, Ini merupakan indikasi operasi.

b. Infeksi

c. Sterilitas

d. Pecahnya tuba falopii

e. Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya embrio


Prognosis

Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dengan
persediaan darah yang cukup. Hellman dkk., (1971) melaporkan 1 kematian dari 826 kasus, dan
Willson dkk (1971) 1 diantara 591 kasus. Tetapi bila pertolongan terlambat, angka kematian
dapat tinggi. Sjahid dan Martohoesodo (1970) mendapatkan angka kematian 2 dari 120 kasus.
Penderita mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik
kembali. Selain itu, kemungkinan untuk hamil akan menurun. Hanya 60% wanita yang pernah
mengalami kehamilan ektopik terganggu dapat hamil lagi, walaupun angka kemandulannya akan
jadi lebih tinggi. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0 14,6%.
Kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah sekitar 50% (1,5).
2. Mola Hidatinosa

Mola hidatidosa (hamil anggur) adalah kelainan di dalam kehamilan dimana jaringan plasenta
(ari-ari) berkembang dan membelah terus menerus dalam jumlah yang berlebihan. Mola dapat
mengandung janin (mola parsial) atau tidak terdapat janin di dalamnya (mola komplit). Pada
kebanyakan kasus, mola tidak berkembang menjadi keganasan, namun sekitar 2-3 kasus per
1000 wanita, mola dapat berubah menjadi ganas dan disebut koriokarsinoma. Kemungkinan
terjadinya mola berulang berkisar 1 dari 1000 wanita. Kadar hormon yang dihasilkan oleh mola
hidatidosa lebih tinggi dari kehamilan biasa.

Penyebab

Sejauh ini penyebabnya masih belum diketahui. Diperkirakan bahwa faktor-faktor seperti
gangguan pada telur, kekurangan gizi pada ibu hamil, dan kelainan rahim berhubungan dengan
peningkatan angka kejadian mola. Wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau diatas 40 tahun
juga berada dalam risiko tinggi. Mengkonsumsi makanan rendah protein, asam folat, dan karoten
juga meningkatkan risiko terjadinya mola.

Tanda dan gejala

Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa. Kecurigaaan biasanya terjadi
pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa, pembesaran
rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya
materi seperti anggur pada pakaian dalam. Tanda dan gejala serta komplikasi mola :

1. Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan 10% pasien masuk RS

2. Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar)

3. Gejala gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan BB yang tidak
dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab

4. Gejala gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai, peningkatan
tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah :

1. Serum -hCG untuk memastikan kehamilan dan pemeriksaan -hCG serial (diulang pada
interval waktu tertentu)

2. Ultrasonografi (USG). Melalui pemeriksaan USG kita dapat melihat adakah janin di dalan
kantung gestasi (kantung kehamilan) dan kita dapat mendeteksi gerakan maupun detak jantung
janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG maka kemungkinan
kehamilan ini bukanlah kehamilan yang normal

3. Foto roentgen dada

Tatalaksana Mola harus dikeluarkan seluruhnya dari dalam rahim yang biasanya dilakukan
melalui tindakan dilatasidan kuretase atau lebih dikenal sebagai kuret. Sebagai alternatif dapat
digunakan obat oksitosin atauprostaglandin untuk membuat rahim berkontraksi dan
mengeluarkan isinya. Setelah itu tindakan kuretase tetap harus dilakukan untuk memastikan
rahim sudah bersih. Ibu harus memeriksakan darah dan air seninya secara teratur selama 1 tahun
setelah dilakukannya tindakan untuk memastikan hormon hCG kembali normal dan tidak ada
pertumbuhan jaringan plasenta lagi. Apabila terapi berhasil dengan baik maka wanita pada
umumnya dapat kembali hamil lagi jika mereka menginginkannya. Namun penting untuk
diingatkan bahwa sebaiknya wanita dengan mola tidak hamil terlebih dahulu selama 12 bulan
pertama.

Pencegahan

Karena pengertian dan penyebab dari mola masih belum diketahui secara pasti maka kejadian
mola hidatidosa sulit untuk dicegah. Bagaimanapun juga, nutrisi ibu yang baik dapat
menurunkan risiko terjadinya mola.
Pengertian

Plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri
internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah
rahim. (Cunningham, 2006).

Plasenta Previa adalah plasenta berimplantasi, baik parsial atau total pada sekmen bawah uteri
dan terletak di bawah (previa) bagian presentasi bawah janin .(Lewellyn, 2001)

Plasenta previa plasenta yang letaknya apnormal, pada sekme uterus sehingga dapat menutupi
sebagian atau seluruh pada jalanlahir (Mansjoer, 2001).

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000).

Etiologi

Penyebab plasenta previa belum diketahui dengan pasti, namun bermacam-macam teori dan
faktor-faktor dikemukakan sebagai etiologi.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta previa :

a. Umur penderita

Umur muda karena endometrium masih belum sempurna.

Umur diatas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang kurang subur.

b. Paritas

Pada paritas yang tinggi kejadian plasenta previa makin besar karena endometrium belum sempat
tumbuh.

c. Endometrium yang cacat

Bekas persalinan berulang dengan jarak pendek.

Bekas operasi, bekas kuretase atau plasentamanual.

Pertumbuhan tumor endometrium seperti pada mioma uteri atau polip endometrium.

Gestasi ganda.

Endometriosis puerperal.
d. Hipoplasia endometrium

Bila kawin dan hamil pada umur muda

Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup :

a. Perdarahan (hemorrhaging).

b. Usia lebih dari 35 tahun.

c. Multiparitas.

d. Pengobatan infertilitas.

e. Multiple gestation.

f. Erythroblastosis.

g. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya.

h. Keguguran berulang.

i. Status sosial ekonomi yang rendah.

j. Jarak antar kehamilan yang pendek.

k. Merokok.

Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang
meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas cesar atau
operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah
plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim.

Sedangkan menurut Kloosterman(1973), Plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus


tidak selalu dapat dengan jelas diterangkan. Vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi
akibat persalinan yang lalu dapat menyebabkan plasenta previa, tidak selalu benar. Memang
apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup seperti pada kehamilan kembar maka plasenta yang
letaknya normal sekalipun akan memperluas permukaannya sehingga mendekati atau menutupi
pembukaan jalan lahir. Frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih 35 tahun
kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25
tahun . Pada grandemultipara yang berumur lebih dari 30 tahun kira-kira 4 kali lebih sering dari
grandemultipara yang berumur kurang dari 25 tahun.
Patofisologi

Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh
organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta
previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam
usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding uterus
sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.

Plasenta previa adalah implantasi plasenta bawah rahim sehingga menutupi kanalis servikalis
dan mengganggu proses persalinan dengan terjadinya perdarahan. Zigot yang tertanam sangat
rendah dalam kavum uteri, akan membentuk plasenta yang pada awal mulanya sangat
berdekatan dengan ostimintenum. Plaseta yang letaknya demikian akan diam di tempatnya
sehingga terjadi plasenta previa

Penurunan kepala janin yang mengakibatkan tertekannya plasenta (apabila plasenta tumbuh di
segmen bawah rahim ). Pelebaran pada segmen bawah uterus dan pembukaan serviks akan
menyebabkan bagian plasenta yang di atas atau dekat ostium akan terlepas dari dinding uterus.
Segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pada trimester III.Perdarahan tidak
dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus berkontraksi seperti
pada plasenta letak normal. ( Doengoes, 2000 ).

Klasifikasi

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan
lahir pada waktu atau derajat abnormalitas tertentu :

1. Placenta previa totalis

Bila plasenta menutupi ostium internum servisis seluruh pembukaan jalan lahir. Pada posisi ini,
jelas tidak mungkin bayi dilahirkan per-vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko
perdarahan sangat hebat.

2. Placenta previa partialis

Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi ostium internum pembukaan jalan lahir.
Pada posisi inipun risiko perdarahan masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui
per-vaginam.

3. Placenta previa marginalis

Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Bisa dilahirkan per-vaginam tetapi
risiko perdarahan tetap besar.
4. Low-lying placenta

(Plasenta letak rendah, lateralis placenta atau kadang disebut juga dangerous placenta). Yaitu
posisi plasenta beberapa mm atau cm dari tepi jalan lahir sehingga tidak akan teraba pada
pembukaan jalan lahir. Risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa
dilahirkan per-vaginam dengan aman, asal hati-hati.

Tanda dan Gejala

Menurut FKUI (2000), tanda dan gejala plasenta previa di antaranya adalah:
a. Pendarahan tanpa sebab dan tanpa rasa nyeri dari biasanya serta berulang.
b. Darah biasanya berwarna merah segar.
c. Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas.
d. Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin.
e. Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila
dilakukan periksa dalam sebelumnya. Tetapi perdarahan berikutnya (reccurent bleeding)
biasanya lebih banyak.

Menurut Departemen Kesehatan RI (1996) :

Gejala Utama :

Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa
alasan dan tanpa rasa nyeri.

Gejala Klinik :

1. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali
biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih
banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.

2. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa
sakit.

3. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.

4. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi
letak janin lintang atau letak sungsang.

5. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan, sebagian
besar kasus, janinnya masih hidup.
Perdarahan adalah gejala primer dari placenta previa dan terjadi pada mayoritas (70%-80%) dari
wanita-wanita dengan kondisi ini. Perdarahan vagina setelah minggu ke 20 kehamilan adalah
karakteristik dari placenta previa. Biasanya perdarahan tidak menyakitkan, namun ia dapat
dihubungkan dengan kontraksi-kontraksi kandungan dan nyeri perut. Perdarahan mungkin
mencakup dalam keparahan dari ringan sampai parah.

Pemeriksaan ultrasound digunakan untuk menegakan diagnosis dari placenta previa. Evaluasi
ultrasound transabdominal (menggunakan probe pada dinding perut) atau transvaginal (dengan
probe yang dimasukan ke dalam vagina namun jauh dari mulut serviks) mungkin dilakukan,
tergantung pada lokasi dari placenta. Adakalanya kedua tipe-tipe dari pemeriksaan ultrasound
adalah perlu. Adalah penting bahwa pemeriksaan ultrasound dilakukan sebelum pemeriksaan
fisik dari pelvis pada wanita-wanita dengan placenta previa yang dicurigai, karena pemeriksaan
fisik pelvic mungkin menjurus pada perdarahan yang lebih jauh.

Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan pervaginam (yang keluar melalui
vagina) tanpa nyeri yang pada umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua. Ibu dengan plasenta
previa pada umumnya asimptomatik (tidak memiliki gejala) sampai terjadi perdarahan
pervaginam. Biasanya perdarahan tersebut tidak terlalu banyak dan berwarna merah segar. Pada
umumnya perdarahan pertama terjadi tanpa faktor pencetus, meskipun latihan fisik dan
hubungan seksual dapat menjadi faktor pencetus. Perdarahan terjadi karena pembesaran dari
rahim sehingga menyebabkan robeknya perlekatan dari plasenta dengan dinding rahim.
Koagulapati jarang terjadi pada plasenta previa. Jika didapatkan kecurigaan terjadinya plasenta
previa pada ibu hamil, maka pemeriksaan Vaginal Tousche (pemeriksaaan dalam vagina) oleh
dokter tidak boleh dilakukan kecuali di meja operasi mengingat risiko perdarahan hebat yang
mungkin terjadi.

Komplikasi

1. Plasenta abruptio. Pemisahan plasenta dari dinding rahim.

2. Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan histerektomi


(operasi pengangkatan rahim).

3. Plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta.

4. Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (< 37 minggu).

5. Kecacatan pada bayi.


Menurut Roeshadi (2004), kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya
plasenta previa adalah sebagai berikut :

a. Pada ibu dapat terjadi :

1) Perdarahan hingga syok akibat perdarahan.

2) Anemia karena perdarahan.

3) Plasentitis

4) Endometritis pasca persalinan

b. Pada janin dapat terjadi :

1) Persalinan premature.

2) Asfiksia berat.

Prognosis

Perdarahan yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa, dapat menyebabkan kesakitan
atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya. Faktor resiko yang juga penting dalam
terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah menjalani seksio sebelumnya, kejadian
plasenta previa meningkat 1% pada kehamilan dengan riwayat seksio. Kematian ibu disebabkan
karena perdarahan uterus atau karena DIC (Disseminated Intravascular Coagulopathy).
Sedangkan morbiditas/ kesakitan ibu dapat disebabkan karena komplikasi tindakan seksio
sesarea seperti infeksi saluran kencing, pneumonia post operatif dan meskipun jarang dapat
terjadi embolisasi cairan amnion (Hanafiah, 2004).

Terhadap janin, plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan pertumbuhan
janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang kurang dibandingkan dengan
bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa. Risiko kematian neonatal juga
meningkat pada bayi dengan plasenta previa (Hanafiah, 2004).
Pemeriksaaan Penunjang dan Laboratorium

a. USG : biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan congenital, letak dan derajat
maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan teknik operasi
yang akan dilakukan.

b. Kardiotokografi (KTG) : dilakukan pada kehamilan > 28 minggu.

c. Laboratorium : darah perifer lengkap. Bila akan dilakukan PDMO atau operasi, perlu
diperiksa faktor waktu pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu.

d. Sinar X : Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian


tubuh janin.

e. Pengkajian vaginal : Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya
ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34
minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double
setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan
staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.

f. Isotop Scanning : Atau lokasi penempatan placenta.

g. Amniocentesis : Jika 35 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada


amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau
kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi
direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Medis

Episode pendarahan signifikan yang pertama biasanya terjadi di rumah pasien, dan biasanya
tidak berat. Pasien harus dirawat di rumah sakit dan tidak dilakukan pemeriksaan vagina, karena
akan mencetuskan perdarahan yang sangat berat. Di rumah sakit TTV pasien diperiksa, dinilai
jumlah darah yang keluar, dan dilakukan close match. Kehilangan darah yang banyak
memerlukan transfusi. Dilakukan palpasi abdomen untuk menentukan umur kehamilan janin,
presentasi, dan posisinya.

Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan segara setelah masuk, untuk mengkonfirmasi diagnosis


Penatalaksanaan selajutnya tergantung pada perdarahan dan umur kehamilan janin. Dalam kasus
perdarahan hebat, diperlukan tindakan darurat untuk melahirkan bayi (dan plasenta) tanpa
memperhitungkan umur kehamilan janin. Jika perdarahan tidak hebat, perawatan kehamilan
dapat dibenarkan jika umur kehamilan janin kurang dari 36 minggu. Karena perdarahan ini
cenderung berulang, ibu harus tetap dirawat di RS. Episode perdarahan berat mungkin
mengharuskan pengeluaran janin darurat, namum pada kebanyakan kasus kehamilan dapat
dilanjutkan hingga 36 minggu, kemudian pilihan melahirkan bergantung pada apakah derajat
plasenta previanya minor atau mayor. Wanita yang memiliki derajat plasenta previa minor dapat
memilih menunggu kelahiran sampai term atau dengan induksi persalinan, asalkan kondisinya
sesuai. Plasenta previa derajat mayor ditangani dengan seksio seksarae pada waktu yang
ditentukan oleh pasien atau dokter, meskipun biasanya dilakukan sebelum tanggal yang
disepakati, karena perdarahan berat dapat terjadi setiap saat.

Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk penanganan plasenta previa
tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu:
a. Kaji kondisi fisik klien.
b. Menganjurkan klien untuk tidak coitus.
c. Menganjurkan klien istirahat.
d. Mengobservasi perdarahan.
e. Memeriksa tanda vital.
f. Memeriksa kadar Hb.
g. Berikan cairan pengganti intravena RL.
h. Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih premature.
i. Lanjutkan terapi ekspektatif bila KU baik, janin hidup dan umur kehamilan < 37 minggu.

Penanganan konservatif bila :

a. Kehamilan kurang 37 minggu.

b. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

c. Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan selama 15
menit).

Penanganan konservatif berupa :

1) Istirahat.

2) Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia.

3) Memberikan antibiotik bila ada indikasii.

4) Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit.


Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka
lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul
perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.

Penanganan aktif bila :

1) Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan.

2) Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.

3) Anak mati.

Penanganan aktif berupa :

a) Persalinan per vaginam.

b) Persalinan per abdominal.

Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up) yakni dalam
keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan :

a. Plasenta previa marginalis.

b. Plasenta previa letak rendah.

c. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala
sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan maka
lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila gagal drips
(sesuai dengan protap terminasi kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio
sesar.

Penanganan (pasif)

1) Tiap perdarahan triwulan III yang lebih dari show harus segera dikirim ke Rumah sakit
tanpa dilakukan suatu manipulasi/UT.

2) Apabila perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartus, kehamilan belum
cukup 37 minggu/berat badan janin kurang dari 2.500 gram persalinan dapat ditunda
dengan istirahat, obat-obatan; spasmolitik, progestin/progesterone, observasi teliti.
3) Siapkan darah untuk transfusi darah, kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya
tidak prematur.

4) Bila ada anemia; transfusi dan obat-obatan penambah darah.

Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi plasenta previa dan janin prematur tetapi
tanpa perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan dengan menciptakan suasana yang
memberikan keamanan sebesar-besarnya bagi ibu maupun janin. Perawatan di rumah sakit yang
memungkinkan pengawasan ketat, pengurangan aktivitas fisik, penghindaran setiap manipulasi
intravaginal dan tersedianya segera terapi yang tepatmerupakan tindakan yang ideal. Terapi yang
diberikan mencangkup infus larutan elektrolit, tranfusi darah, persalinan sesarea dan perawatan
neonatus oleh ahlinya sejak saat dilahirkan.

Pada penundaan persalinan, salah satu keuntungan yang kadang kala dapat diperoleh meskipun
relatif terjadi kemudian dalam kehamilan, adalah migrasi plasenta yang cukup jauh dari serviks,
sehingga plasenta previa tidak lagi menjadi permasalahan utama. Arias (1988) melaporkan hasil-
hasil yang luar biasa pada cerclage serviks yang dilakukan antara usia kehamilan 24 dan 30
minggu pada pasien perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa.

Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan ke dalam dua kategori,
yaitu persalinan sesarea atau per vaginam. Logika untuk melahirkan lewat bedah sesarea ada dua
:

a. Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinakan uterus untuk berkontraksi
sehingga perdarahan berhenti

b. Persalinan searea akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks yang


merupakan komplikasi serius persalinan per vaginam pada plasenta previa totalis serta parsial.

b. Penatalaksanaan keperawatan

Sebelum dirujuk anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri, tidak
melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misal batuk, mengedan
karena sulit buang air besar). Pasang infus NaCl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairal
peroral, pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit
untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan
janin. Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan transfusi darah bila tidak teratasi,
upaya penyelamatan optimal, bila teratasi, perhatikan usia kehamilan.Penanganan di RS
dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjatan, usia gestasi kurang dari 37
minggu, taksiran Berat Janin kurang dari 2500g, maka :
- Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi
bertahap, beri kortikosteroid 12 mg IV/hari selama 3 hari.

- Bila perdarahan berulang, lakukan PDMO kolaborasi (Pemeriksaan Dalam Di atas Meja
Operasi), bila ada kontraksi tangani seperti kehamilan preterm. Bila tidak ada renjatan usia
gestasi 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2500g atau lebih lakukan PDMO, bila ternyata
plasenta previa lakukan persalinan perabdominam, bila bukan usahakan partus pervaginam.

Cara menyelesaikan persalinan dengan placenta previa adalah :

1. Seksio Cesaria (SC)

- Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga


walaupun janin meninggal atau tak punya harapan hidup tindakan ini tetap dilakukan.

- Tujuan SC antara lain :

a. Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan
menghentikan perdarahan.

b. Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri, jika janin dilahirkan
pervaginam.

- Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sehingga cervik uteri dan
segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek. Selain itu, bekas tempat implantasi
placenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan susunan
serabut otot dengan korpus uteri.

- Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.

- Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan perdarahan,

infeksi, dan keseimbangan cairan dan elektrolit.

2. Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan
dengan cara-cara sebagai berikut :

- Amniotomi dan akselerasi Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis
dengan pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, placent akan
mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada
atau masih lemah akselerasi dengan infus oksitosin.

- Versi Braxton Hicks Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade
placenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang
masih hidup.

- Traksi dengan Cunam Willet Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian
diberi beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk
menekan placentadan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini
biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.