Vous êtes sur la page 1sur 6

Acute Medulla Compression

Golongan Penyakit : 3B
a. Definisi
Kompresi medulla spinalis terjadi akibat medulla spinalis tertekan oleh tumor, lesi atau
inflamasi yang menyebabkan kelemahan anggota gerak atau paralisis (Caroll, 2007). Kompresi
medulla spinalis dapat dibagi menjadi subakut dan akut. Kompresi subakut medulla biasanya
terjadi karena adanya tumor, abses atau granuloma sedangkan kompresi akut medulla umumnya
terjadi karena trauma atau perdarahan (misalnya epidural hematom) (Mumenthaler, 2006).
Kompresi akut medulla merupakan masalah gawat darurat neurologi (Weiner, 2001).
b. Insidensi
Kompresi medulla spinalis bisa dialami oleh semua orang dengan berbagai rentang usia.
Trauma merupakan penyebab utama kompresi akut medulla. Di Amerika Serikat terdapat sekitar
11000 cedera medulla spinalis akibat trauma setiap tahunnya. Rata-rata kasus cedera medulla
spinalis di dunia adalah 15 sampai 40 kasus per satu juta penduduk per tahun. Lebih dari
setengah (53%) orang yang mengalami cedera medulla spinalis berusia 16 sampai 30 tahun
(Cook, 2012).
c. Patofisiologi
Kompresi akut medulla dapat disebabkan oleh trauma, herniasi diskus, fraktur tulang,
subluksasi tulang belakang atau luka tembus (misalnya luka tembak, luka pisau, penyebab
iatrogenik). Cedera pada korda spinalis atau serabut saraf muncul dari peregangan atau tekanan.
Hal ini menyebabkan cedera pada white matter (selubung/traktus yang termielinisasi) dan grey
matter (cell bodies) pada korda spinalis dengan hilangnya semua atau beberapa modalitas
sensorik (tusukan jarum, getaran, panas / dingin, tekanan) dan fungsi motorik (Cook, 2012).
Medulla spinalis (spinal cord) dan akar saraf sangat bergantung pada pasokan darah yang
meyuplai energi secara konstan agar dapat menimbulkan sinyal aksonal. Kondisi yang
mengganggu suplai darah, baik secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan
kerusakan pada jalur transmisi yang akan menimbulkan berbagai gejala berupa kelemahan
anggota gerak atau parastesia (Cook, 2012).
d. Gambaran Klinis
Gejala khas kompresi akut medulla spinalis adalah sebagai berikut (Weiner, 2001) :
Nyeri punggung
Parestesia tungkai (perasaan menggelikan, baal atau kesemutan)
Perubahan pola kencing (lebih sering atau jarang kencing)
Kelemahan anggota gerak bawah (terutama pada saat naik tangga)
Konstipasi
Gejala awal dapat berupa (Weiner, 2001) :
Hilangnya sensasi nyeri (pinprick) atau perbedaan reaksi terhadap rangsang nyeri tusuk
pada anggota gerak bawah. Batas perubahan sensasi tersebut dapat/tidak ditemukan.
Kemungkinan terdapat suatu batas perubahan sensasi terhadap rangsang dingin atau sekresi
keringat.
Hilangnya sensasi getar dan posisi pada kaki
Hiper-refleksi ringan pada anggota gerak bawah disbanding anggota gerak atas
Catatan: Refleks patologis sering tidak ditemukan dan refleks fisiologis menurun pada fase
akut kompresi medulla spinalis
Nyeri pada kolumna vertebralis merupakan gejala yang membantu menentukan letak lesi
Gejala lanjutan dapat berupa (Weiner, 2001) :
Kelemahan yang nyata (berat)
Hiper-refleksia
Refleks patologis
Adanya batas perubahan sensasi nyeri, suhu dan/atau getar. Pemeriksaan sensasi getar pada
vertebra sering membantu menentukan letak lesi. Periksa batas perubahan sekresi keringat.
Hilangnya tonus otot sfringter ani, tidak adanya refleks dinding perut, tidak adanya refleks
bulbokavernosus.
Retensi urin.
e. Pemeriksaan Penunjang
Neuroimaging merupakan pemeriksaan penunjang yang dapat menunjukkan bukti defenitif
untuk melihat ada atau tidaknya kompresi medulla spinalis: MRI umumnya lebih dipilih
dibandingkatan CT scan untuk tujuan penegakan diagnosis penyakit ini (Mumenthaler, 2006).
f. Diagnosa
Untuk mendiagnosis kompresi akut medulla diawali dengan anamnesis gejala dan
pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan, dokter akan mencari tanda-tanda kompresi medulla
seperti hilangnya sensasi, kelemahan dan refleks abnormal. Kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan CT atau MRI (OConnell, 2012).
g. Diagnosis Differential
1. Mielitis transversa ditandai dengan paraplegia atau tetraplegia akut/subakut, kadang
asimetris, disertai nyeri punggung dan hilangnya sensasi sensoris. Infeksi virus sebelumnya
(mononucleosis) kadang terjadi kadang tidak. Cairan serebrospinalis menunjukkan
pleositosis dengan peningkatan protein dan glukosa normal. Mielografi atau MRI biasanya
diperlukan untuk menyingkirkan lesi kompresi pada medula spinalis. Sebagai tambahan MRI
dapat menunjukkan proses patologis dalam medulla spinalis seperti adanya plak pada
penyakit demielinisasi.
2. Mielopati radiasi biasanya terjadi dalam 6 bulan sampai 1 tahun setelah radiasi medulla
spinalis daerah dada ( misalnya pada limfoma). Awal kelainan dapat bersifat tersembunyi
atau mendadak dan mungkin hanya terbatas pada parastesia atau berkembang menjadi
paralisis. MRI atau mielografi diperlukan untuk menyingkirkan adanya kemungkinan lesi
kompresi (kadang-kadang mielopati radiasi terjadi beberapa tahun setelah radioterapi).
3. Mielopati transversa akut mungkin terkjadi akibat sumbatan arteri spinalis anterior. Biasanya
terjadi gangguan fungsi motorik dan sensasi nyeri serta suhu, sedang sensasi posisi dan getar
tidak terganggu sehubungan dengan strutur anatomi aliran pembuluh darah pada medulla
spinalis (Weiner, 2001).
h. Penanganan
Pengobatan kompresi medulla spinalis bergantung pada lokasi kompresi medulla spinalis
dan penyebabnya. Pengobatan sedini mungkin sangat bermanfaat. Beberapa metoda pengobatan
kompresi medulla spinalis adalah radioterapi (untuk tumor metastasis kanker payudara, prostat,
atau limfoma Hodgkin), operasi dekompresi untuk tumor ektradular soliter solid yang bersifat
radio resisten atau kombinasi terapi dan radioterapi (Weiner, 2001).
Deksametason (10-50 mg IV) segera diberikan (sebelum mielografi, MRI, radioterapi, atau
operasi) bila secara klinis dicurigai adanya kompresi, karena dapat membantu mempertahankan
fungsi medulla spinalis (Weiner, 2001).

i. Komplikasi
Komplikasi dapat berupa hilangnya control terhadap organ yang dipersarafinya seperti
hilangnya control kandung kemih, ani, fungsi seksual (impoten pada pria) dan lain-lain
(Cook, 2012).
j. Prognosis
Prognosis kompresi medulla spinalis jelas berkaitan dengan keterlambatan antara saat
timbul gejala kompresi medulla spinalis dengan tindakan pengobatan (Weiner, 2001). Semakin
lama pengobatan dilakukan maka semakin buruk pula prognosisnya (OConnell, 2012).
k. Daftar Pustaka
Caroll, Lisa. 2007. Acute Medicine: A Handbook for Nurse Praticioner.
Cook, G and Sharp, K. 2012. Spinal Cord Compression. BMJ.
<http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/1012/treatment/step-by-
step.html> [diakses tanggal: 12 April 2013].

Mumenthaler, M and Heinrich M. 2006. Fundamentals of Neurology. Thieme.


OConnell, TX and Movalia, M. 2012. Brocherts Crush Step 2: The Ultimate USMLE
Step 2 Review. Lippincott Williams and Wilkins. USA.
Weiner, H.L. and Lawrence P.L. 2001. Buku Saku Neurologi. EGC. Jakarta.

Radicular Syndrome
Golongan Penyakit : 3A
a. Definisi
Radicular syndrome adalah istilah yang digunakan untuk mengindikasikan kerusakan pada
sebuah akar saraf akibat kompresi atau tekanan (Aad Van der El, 2010). Biasanya terdapat lebih
dari satu akar saraf yang terlibat. Nyeri biasanya disertai dengan gejala berikut: spasme otot,
abnormlitas reflex dan gangguan sensorik dan motorik (Baert, 2008).
b. Insidensi
Sindrom radikuler kebanyakan terjadi pada populasi usia tua. Hal ini disebabkan proses
degenerasi diskus yang progresif sehingga menimbulkan deformitas tulang belakang yang dapat
menyebabkan kompresi pada akar saraf (Baert, 2008).

c. Patofisiologi
Radicular syndrome menyebabkan nyeri dan gejala lain seperti mati rasa, kesemutan dan
kelemahan pada lengan atau kaki. Hal ini disebabkan oleh tekanan atau akar saraf yang teriritasi.
Akar saraf adalah cabang dari medulla spinalis yang membawa sinyal keluar ke seluruh tubuh di
sepanjang tulang belakang. Sindrom radikuler sering disebabkan oleh tekanan langsung dari
herniasi diskus atau perubahan degeneratif pada tulang belakang yang menyebabkan iritasi dan
peradangan pada akar saraf. Gejala sensorik lebih umum dibandingkan gejala motorik, dan
kelemahan otot biasanya merupakan tanda bahwa ada kompresi saraf yang lebih parah. Kualitas
dan jenis nyeri akibat sindrom radikuler dapat bervariasi dari sakit dan sulit untuk melokalisasi,
tajam dan terbakar (Baert, 2008).
d. Gambaran Klinis
Gejala klinis radicular syndrome adalah sebagai berikut (Mumenthaler, 2004) :
Nyeri di daerah akar saraf yang terkena. Menurut Urban (1981) tekanan atau peregangan
pada sebuah saraf tidak menimbulkan nyeri. Nyeri selalu terjadi ketika ada sebuah reaksi
peradangan dan fibrosis pada saraf. Jika sumber kerusakan saraf (radikulopati) di kaki
maka nyeri akan terasa dari pantat, paha sampai kaki. Jika sumber radikulopati di leher,
hal ini ditandai dengan nyeri bahu dan lengan. Sebuah radikulopati toraks dapat terjadi,
tetapi jarang karena torangks kurang mobile dan kurang rentan terhadap herniasi diskus
yang akan menekan saraf.
Abnormalitas sensori (deficit sensori), terutama mempengaruhi sensasi nyeri atau algesia.
Sebuah zona anestetik muncul jika beberapa akar saraf rusak.
Paresis
Atropi
Abnormalitas refleks
e. Pemeriksaan Penunjang
Beberapa tes pencitraan tulang belakang seperti X-ray, MRI dan Ct-scan dapat digunakan
untuk menunjukkan ada tidaknya saraf terkompresi yang berhubungan dengan gejala. Pengujian
lain mungkin termasuk studi konduksi EMG untuk mendiagnosa abnormalitas aktivitas listrik
saraf yang terlibat (Baert, 2008).

f. Diagnosa
Sindrom radikuler didiagnosis dengan menghubungkan gejala dengan hasil pemeriksaan
pada pasien. Diagnosis yang benar untuk sindrom radikuler dimulai dengan pemeriksaan fisik
lengkap: leher, punggung, lengan dan ekstremitas bawah. Kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan fleksibilitas, kekuatan otot, sensasi dan reflex. Setelah itu dilakukan pencitraan
tulang belakang untuk melihat keadaan akar saraf yang terkena (Mumenthaler, 2006).
g. Penanganan
Terapi fisik, manipulasi chiropractic,edukasi pasien dan obat anti-inflamasi non-steroid
merupakan pengobatan non-invasif paling umum untuk sebagian besar pasien dengan tidak ada
bukti kelemahan otot yang signifikan yang disebabkan oleh sindrom radikuler. Suntikan epidural
steroid juga dapat diberikan untuk kasus yang parah. Seperti dibahas sebelumnya, kelemahan
otot adalah tanda mengenai saraf kompresi akar atau sindrom radikuler. Jika ditemukan cedera
saraf yang sebenarnya, operasi dapat diindikasikan untuk meringankan tekanan pada saraf.
Dalam situasi lain, operasi mungkin dilakukan jika pengobatan non-bedah telah gagal
memperbaiki gejala sindrom radikuler (Tollison, 2002).
h. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi berupa penyakit radang sendi seperti ankylosing spondilitis
dan rheumatoid arthritis (Hardin, 1995).
i. Prognosis
Tingkat keberhasilan operasi sindrom radikuler cenderung cukup baik, yaitu sekitar 80%
sampai 90% (Baert, 2008).
j. Daftar Pustaka
Aad Van der El, 2010. Orthopaedic Manual Therapy Diagnosis. Jones and Bartlett Publish.
United Kingdom.
Baert, Albert L. 2008. Encylopedia of Diagnostic Imaging. Springer. New York.
Hardin, HG amd Hallan Hj. 1995. Cervical Spine and Radicular Pain Syndrome. Curr
OpinRheumatol. 7(2) p. 136-140.
Mumenthaler, M and Heinrich M. 2006. Fundamentals of Neurology. Thieme. Switzerland.
Tollison, CD et al. 2002. Practical Pain Management. Lippincott Williams and Wilkins. USA.