Vous êtes sur la page 1sur 3

CHANCROID

Gol Penyakit SKDI : 3A

1. Definisi
Chancroi data ulkus mole adalah infeksi menular seksual yang ditandai
dengan ulkus pada daerah genetalia disertai pembengkakan kelenjar limfe
inguinal dan penanahan yang disebabkan oleh streptobacillusducrey
(haemophilusducreyi), bakteri tersebut mempunya isi fatmati pada suhu 500C
selama 1 jam dan mati dengan anti septik (Suwarni, 2011).
2. Etiologi
Chancroid disebabkan oleh bakteri gram negative Haemophilusducreyi.
Bakteri ini merupakan bakteri berbentuk batang pendek, ramping, dengan ujung
membulat (coccobasilus), anaerob fakultatif, non-motile, tidak membentuk spora,
mereduksi nitrat menjad initrit, dan berukuran sekitar 1,5m (panjang) da 0,2 m
(lebar). Basil seringkali berkelompok, berderet membentuk rantai
(Streptobacillus) pada pewarnaan Gram (Rook et al, 2011).
3. Insidensi
Penyakit ini bersifat endemic dan tersebar di daerah tropic dan subtropik,
terutama dikota dan pelabuhan. Selain itu dapat terjadi di daerah yang memiliki
sarana kesehatan yang kurang misalnya di Afrika, Asia, dan Karibia.Di Afrika
bagian selatan dan timur, dimana yang melakukan sirkums isi agak rendah dan
prevalensi HIV yang tinggi.
4. Patofisiologi
Setelah bakteri masuk kedalam tubuh lebih kurang 7 hari muncul pustula
yang kemudian pecah dan meninggalkan ulkus yang dalam . Luka infeksi
mengakibatkan kematian jaringan di sekitarnya. Penyakit ditularkan secara
langsung melalui hubungan seksual, predileksi pada genital, jari mulut dan dada
5. Gambaran Klinis
Setelah masain kubasi satu hingga dua minggu, chancroid atau ulkus mole
menimbulkan benjolan kecil yang kemudian menjadi borok/lesi dalam satu hari
dan benjolan berwarna abu-abu kekuningan serta jika di lukai atau dikikis missal
dengan kuku maka akan keluar darah, terasa nyeri yang sangat hebat.
6. Pemeriksaan

1
Adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis chancroid
adalah :
Pemeriksaan gram (Gram stain).
Spesimen diambil dari apusan eksudat ulkus. Eksudat diperoleh dari dasar
ulkus dengan cotton swab. Dapat memperlihatkan basil gram negatif, pendek,
berantai, yang disebut dengan tampilan school of fish, namun, H. ducreyi sulit
dilihat pada apusan gram dan spesimennya sering mengalami kontaminasi
polimikrobial.
Metodekultur.
Ini merupakan metode diagnostik yang paling baik. H. ducreyi tidak dapat
dibiakkan pada medium rutin. Akan tetapi, dapat dibiakkan pada media khusus
yakni media yang diperkaya gono coccal agar dan Mueller-Hinton chocolate agar
atau Mueller-Hinton agar dibagian dasar, kemudian dibagian atasnya ditambah
dengan chocolate horse blood and isovitale X (MH-HBC). Selain itu, pada media
ini ditambahkan vancomycinhydrochlorida untuk menghambat pertumbuhan yang
berlebihan dari bakteri kontaminan.Organisme ini paling baik tumbuh pada suhu
33 oC 35 oC dengan kelembaban tinggi. Koloni-koloninya berwarna kuning
keabu-abuan dan non mukoid.
PCR.
Ini adalah tes diagnostik yang merupakan gold-standart dan mempunyai
sensibilitas dan spesifisitas paling tinggi. Teknik PCR ini disebut juga dengan M-
PCR (multiplex polymerase chain reaction) yang melibatkan penambahan
pasangan primer multiple kecampuran reaksi dalam rangka memperbanyak
sekuans DNA lesi (Rook et al, 2011).
7. Diagnosa Banding
a. Herpes simplex
b. Ulkus durum atau sifilis primer
c. Limfogranul oma venereum
d. Granuloma inguinale

8. Penatalaksaan
a. Terapisitemik
Pasien dengan ulkus genitalia sebaiknya diterapi dengan pengobatan
sifilisdan ulkus mole. Terapi pada granuloma inguinale diberikan pada area
endemic dan terapi limfogranulomavenerum sebaiknya diberikan jika ada
pembesaran kelenjar getah bening inguinal.

2
Azitromycin 1 gr, oral, single dose.
Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi IM.
Siprofloksasin 2x500 mg selama 3 hari.
Eritromisin 4x500 mg selama 7 hari.
Amoksisilin + asamklavunat 3x125 mg selama 7 hari.
Streptomisin 1 gr sehariselama 10 hari.
Kotrimoksasol 2x2 tablet selama 7 hari.
b. TerapiTopikal
Terapi local dilakukan dengan membersihkan dan mengkompres bubo
untuk mengurangi edema. Pemberian anti septic seperti povidonyodium.
Limfadenitis tidak boleh di insisi. Bila perlu dia spirasi untuk mencegah
rupture spontan. Pasien dengan bubo yang tidak berfluktuasi dan berespon baik
terhadap antibiotic tidak perlu dilakukan drainase pada lesinya (Suwarni,
2011).
9. Komplikasi
Jika ulkus membesar dapat menjadi Gian Chancroid pembesaran kelenjar
limfe
Luka infeksi mengakibatkan kematian jaringan disekitarnya (Suwarni, 2011).
Menurut Adrew (2011), komplikasilainnya yang dapat terjadi pada
penderita adalah mixed chancre, abses kelenjar inguinal, balanitis, fimosis,
parafimosis, fistula uretra dan fasosphiroketosis.
10. Prognosis
Prognosis chancroid atau ulkus mole adalah baik dan disarankan pasien
dan pasangannya diobati bersama-sama dan tidak melakukan aktivitas seksual
sampai lesi sembuh sempurna (Suwarni, 2011).

DAFTARPUSTAKA

Adrew, J. 2011. Tropical Dermatophatology.Bolognia : Tropical Series


Rook, H ;Filtzpatrick ; Holmes. 2011. Pediatric Dermatology. Bolognia : Tropical Series
Suwarni, D. 2011. PenyakitKelamin: UlkusMolle. Jakarta :DepkesRI press