Vous êtes sur la page 1sur 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bayi serotinus adalah bayi yang kehamilannya melebihi waktu 42 minggu dan
dilahirkan. Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak
menyebabkan adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat
waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga
janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim, adapun bayi yang dapat
dilahirkan maka disebut dengan bayi serotinus.
Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk membahas lebih dalam mengenai asuhan
keperawatan bayi serotinus.
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami penyakit serotinus dan asuhan keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui dan memahami konsep dasar medik dan konsep dasar askep
pada bayi serotinus.
b. Untuk mengetahui dan memahami pemberian asuhan keperawatan pada bayi
serotinus.
C. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini menggunakan
metode kepustakaan dan mencari literature literature yang ada di perpustakaan serta
mencari literatur lain yang ada di warnet dan juga menggunakan metode konsultasi.

D. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode
penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS terdiri dari konsep dasar medik dan konsep dasar
askep.
BAB III PENUTUP terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR MEDIK


1. DEFENISI
Bayi serotinus yaitu bayi yang lahir dengan masa kehamilan yang melewati 294 hari
atau 42 minggu lengkap. Diagnosa usia kehamilan didapatkan dengan perhitungan usia

1
kehamilan dengan rumus Naegele atau dengan perhitungan tinggi fundus uteri. (Kapita
Selekta Kedokteran Jilid 1 ).
Bayi serotinus adalah bayi yang kehamilannya melebihi waktu 42 minggu dan
dilahirkan(Manuaba 1998).
Bayi serotinus adalah bayi yang lahir dari ibu yang kehamilannya melewati 294 hari
atau lebih dari 42 minggu lengkap dihitung dari HPHT(Prof. Dr. dr, Sarwono
Prawirohardjo)
Bayi serotinus adalah bayi yang lahir setelah kehamilan lebih dari 42 minggu,
dihitung dari hari pertama haid terakhir tanpa mempedulikan berat badan bayi pada waktu
lahir. Postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir telah
melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa
komplikasi. (Buku Pengantar Kuliah Obstetri : hal 458).
2. ETIOLOGI
Penyebab bayi serotinus atau bayi lahir lewat waktu ini belum diketahui pasti, tetapi
pada umumnya dipengaruh oleh 2 faktor yaitu :
Masalah pada ibu yaitu :
1) Serviks belum matang
2) Kecemasan ibu
3) Persalinan traumatis
4) Hormonal, yaitu kadar progestoren
5) Faktor herediter
6) Kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta
Masalah pada bayi yaitu :
1) Kelainan pertumbuhan janin
2) Oligohidramnion
3. PATOFISIOLGI
faktor hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun, walaupun kehamilan telah
cukup bulan , sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang (Mochter, Rustam,
1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya
air ketuban dan insufisiensi juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.
Etiologi menurut Nwosu dkk, faktor-faktor yang menyebabkan serotinus yaitu stress
sehingga tidak timbulnya his, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta. (Ilmu
Kebidanan, hal : 318).
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun
setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi
juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan
nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta
berkurang sampai 50 %. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi
absorbsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko
kematian perinatal pada bayi serotinus cukup tinggi yaitu 30 % prepartum, 55 %
intrapartum, dan 15 % postpartum.

2
#Pathway
Etiologi
(faktor hormonal, kurangnya air ketuban, insufisiensi plasenta)

Kepekaan uterus terhadap oksitosin menurun

Tidak terjadi his

Terjadi penundaan persalinan

Palsenta tidak dapat memberi nutrisi

Bayi pucat, BB < 2,5 kg,


Refleks mengisap lemah Menurunnya sirkulasi darah
menuju sirkulasi plasenta
resti nutrisi kurang dari kebutuhan tali pusat kekuningan, kuku panjang,
plasenta tidak dapat melakukan
pertukaran O2/CO2 resti infeksi
asfiksia, kuku pucat, serotinus
hipofungsi plasenta resti gangguan pertukaran gas

kulit tipis dan keriput kulit kering, kuku panjang, mudah


terkelupas .
resti hipotermi
resti kerusakan integritas kulit

3
4. MANIFESTASI KLINIS
Pada bayi ditemukan tanda lewat waktu yang terdiri dari:
a. Stadium I : kulit kehilangan vernix caseosa dan terjadi maserasi sehingga
kulit menjadi kering, rapuh dan mudah terkelupas.
b. Stadium II : seperti stadium I, ditambah dengan pewarnaan mekoneum
( kehijuan di kulit.
c. Stadium III : seperti stadium I, ditambah dengan warna kuning pada kuku,
kulit dan tali pusat.
Berat badan bayi lebih berat dari bayi matur.
Tulang dan sutura lebih keras dari bayi matur
Rambut kepala lebih tebal.
Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
Kuku panjang
Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel
5. PEMERIKSAAN PENUN JANG
USG : untuk mengetahui usia kehamilan, derajat maturitas plasenta.
Kardiotokografi : untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.
Amniocentesis : pemeriksaan sitologi air ketuban.
Amnioskopi : melihat kekeruhan air ketuban.
Uji Oksitisin : untuk menilai reaksi janin terhadap kontraksi uterus.
Pemeriksaan kadar estriol dalam urine.
Pemeriksaan sitologi vagina.
6. PENATALAKSANAAN
o Setelah usia kehamilan lebih dari 40- 42 minggu, yang terpenting adalah monitoring
janin sebaik baiknya.
o Apabila tidak ada tanda tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat
ditunggu dengan pengawasan ketat.
o Lakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan kematangan cervik, apabila sudah
matang, boleh dilakukan induksi persalinan.
o Persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan
bayi, janin postmatur kadang kadang besar dan kemungkinan disproporsi
cephalopelvix dan distosia janin perlu diperhatikan. Selain itu janin post matur lebih
peka terhadap sedative dan narkosa.
o Tindakan operasi section caesarea dapat dipertimbangkan bila pada keadaan
onsufisiensi plasenta dengan keadaan cervix belum matang, pembukaan belum

4
lengkap, partus lama dan terjadi gawat janin, primigravida tua, kematian janin dalam
kandungan,pre eklamsi, hipertensi menahun, anak berharga dan kesalahan letak janin.
7. KOMPLIKASI
o BB janin bertambah besar, tetap atau berkurang.
o Gawat janin sampai bayi meninggal
o Suhu yang tidak stabil
o Hipoglikemi
o Kelainan neurogenik
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Pengumpulan Data
Biodata klien meliputi :
1) Bayi meliputi nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin.
2) Orang tua meliputi nama, (ayah dan ibu), umur, agama, suku bangsa,
pendidikan , penghasilan, pekerjaan dan alamat.
Riwayat Kesehatan
1) Riwayat antenatal
Keadaan ibu selama hamil yaitu kurangnya air ketuban, insufisiensi plasenta,
sehingga menyebabkan kehamilan lewat waktu.
2) Riwayat natal
Komplikasi persalinan juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan
permasalahan pada bayi baru lahir, misalnya akibat volume air ketuban yang
hanya sedikit karena telah terjadi reabsorbsi.
3) Riwayat post natal
Yang perlu dikaji yaitu apgar score, BB saat lahir, ada / tidaknya kelainan
kongenital. (BB saat lahir < 2,5 kg).
Pengkajian Perpola
1) Pola nutrisi-metabolik
Biasanya bayi lahir dengan kemungkinan asfeksia berat dapat mengalami
absorbsi gastrointestinal, kelemahan menghisap pada bayi, BB < 2,5 kg.
2) Pola pernapasan
Biasanya terjadi asfeksia, kuku pucat, dan sianosis.
3) Pola sirkulasi
Biasanya pada bayi post mater atau serotinus tali pusat kekuningan, dan kuku
menjadi panjang.
b. Tabulasi Data
BB < 2,5 kg, refleks menghisap lemah, asfiksia, kuku pucat, sianosis, tali pusat
kekunngan, kuku panjang, kulit kering, kulit tipis dan keriput, lemah, kuku mudah
terkelupas, bayi pucat.
c. Klasifikasi data
DS : -
DO : BB < 2,5 kg, refleks menghisap lemah, asfiksia, kuku pucat, sianosis, tali pusat
kekunngan, kuku panjang, kulit kering, kulit tipis dan keriput, lemah, kuku
mudah terkelupas, bayi pucat.
d. Analisa Data

N Sign / Symptom Etiologi Problem

5
O
1 DS : - Berkurangnya O2 ke Resti gangguan pertukaran
DO : bayi asfiksia,
janin gas
kuku pucat,
dan sianosis
2 DS : - Hipofungsi plasenta Resti hipotermi
DO : lemah, kulit
tipis, dan
keriput.
3 DS : - Menurunnya sirkulasi Resti infeksi
DO : tali pusat
darah menuju sirkulasi
kekuningan,
plasenta
kuku
panjang.
4 DS : - Penurunan fungsi Resti kerusakan integritas
DO : kulit kering, plasenta kulit
kuku
panjang,
kulit mudah
terkelupas.
DS : - Ketidakmampuan Resti nutrisi kurang dari
DO : BB < 2,5 kg,
plasenta memberikan kebutuhan tubuh
refleks
nutrisi
menghisap
lemah, pucat.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Resti gangguan pertukaran gas b/d berkurangnya O2 ke janin yang ditandai dengan :
DS :-
DO : bayi asfiksia, kuku pucat, dan sianosis.

b. Resti hipotermi b/d hipofungsi plasenta yang ditandai dengan :


DS : -
DO : lemah, kulit tipis, dan keriput.
c. Resti infeksi b/d menurunnya sirkulasi darah menuju sirkulasi plasenta yang ditandai
dengan :
DS : -
DO : tali pusat kekuningan, kuku panjang.
d. Resti kerusakan integritas kulit b/d penurunan fungsi plasenta yang ditandai dengan :
DS : -
DO : kulit kering, kuku panjang, kulit mudah terkelupas.
e. Resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan plasenta memberi
nutrisi yang ditandai dengan :
DS : -
DO : BB < 2,5 kg, refleks menghisap lemah, pucat.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN

6
a. Diagnosa I
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah resti gangguan
pertukaran gas tidak terjadi dengan kriteria hasil :
Tidak asfiksia
Kuku tidak pucat
Tidak sianosis
Intervensi :
1) Observasi tanda-tanda kekurangan O2
R/ : sianosis dan pucat pada kuku merupakan tandadari kekurangan O2.
2) Atur posisi bayi yaitu kepala bayi dengan posisi ekstensi.
R/ : posisi ekstensi dapat melonggarkan jalan napas. Pengubahan posisi dan
ambulansi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda sehingga
memperbaiki difusi gas.
3) Hangatkan bayi dalam incubator
R/ : udara yang hangat pada incubator dapat meminimalkan atau menghilangkan
tanda-tanda kekurangan O2 seperti sianosis dan kuku pucat.
4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian O2.
R/ : pemberian O2 tambahan meningkatkan dan mempertahankan oksigen dalam
bernapas.
b. Diagnosa II
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan masalah resiko tinggi
hipotermi tidak terjadi dengan kriteria hasil :
Suhu tubuh bayi normal (36,5-37,5 c)
Bayi tidak lemah.
Turgor kulit elastis
Akral hangat
Intervensi :
1) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh
R/ : suhu tubuh < 36,5c menunjukan proses penyakit atau suhu tubuh dibawah
normal (hipotermi).
2) Berikan pakaian tebal dan selimut secukupnya pada bayi.
R/ : pakaian tebal dan selimut menghangatkan tubuh bayi sehingga
meminimalkan terjadi hipotermi dan mengembalikan suhu tubuh menjadi
normal.
3) Hangatkan bayi dalam incubator.
R/ : udara yang hangat pada incubator meminimalkan terjadi hipotermi.
c. Diagnosa III
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah resiko tinggi
infeksi tidak terjadi dengan krteria hasil :
Tidak ada tanda-tanda infeksi lebih lanjut.
Intervensi
1) Observasi adanya tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal.
R/ : deteksi dini adanya kelainan atau infeksi lebih lanjut.
2) Lakukan teknik aseptik dalam memberikan asuhan keperawatan.
R/ : pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya cenderung rendah sehingga
beresiko terjadi infeksi.
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

7
R/ : Infeksi nasokomial dapat terjadi atau diakibatkan oleh perawat saat
melakukan tindakan akibat kurang steril / kurang kebersihan diri terutama
tangan yang bersentuhan langsung dengan pasien.
4) Pakai baju khusus / short waktu masuk ruangan isolasi (kamar bayi ).
R/ : Bakteri dan kuman penyakit dapat masuk dari petugas ke bayi jika tidak
menggunakan short.
5) Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
R/ : tali pusat yang mengandung antibiotik, anti jamur dan desinfektan dapat
meminimalkan resiko terjadi infeksi dan mempercepat pengeringan tali pusat
6) Jaga kebersihan (badan., pakaian ) dan lingkungan bayi.
R/ : pertumbuhan kuman penyakit dapat terjadi pada lingkungan dan tubuh bayi
yang tidak bersih.
7) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik.
R/ : antibiotik membunuh kuman penyakit dan mikroorganisme yang masuk
dalam tubuh bayi.
d. Diagnosa IV
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko tinggi integritas
kulit tidak terjadi dengan kriteria hasil :
Turgor kulit elastis
Kulit tidak mudah terkelupas
Intervensi
1) Kaji integritas kulit.
R/ : Kulit kering, kuku panjang, dan kulit mudah terkelupas merupakan tanda-
tanda akan terjadi kerusakan integritas kulit.
2) Gunakan sabun yang mengandung pelembab lebih sedikit, hindari mandi busa.
R/ : sabun yang mengandung pelembab lebih sedikit kandungan alkalin dapat
membuat kulit menjadi lembab dan elastis.
3) Gunakan air hangat saat mandi, jangan air panas.
R/ : air panas menyebabkan vasodilatasi yang akan meningkatkan pruritis.
e. Diagnosa V
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan masalah resiko tinggi
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi dengan kriteria hasil :
BB normal (2500-4000 gram )
Refleks menghisap kuat.
Wajah tidak pucat.
Turgor kulit elastis.
Intervensi
1) Monitor turgor kulit dan mukosa mulut.
R/ : Turgor kulit yang tidak elastis dan mukosa mulut yang kering dapat
menyebabkan anoreksia pada bayi sehingga refleks mengisap lemah.
2) Beri ASI / PASI sesuai kebutuhan.
R/ : ASI / PASI sebagai makanan utama bayi dapat memenuhi kebutuhan nutrisi
secara adekuat.
3) Lakukan kontrol berat badan setiap hari.
R/ : BB ideal mengidentfikasi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

8
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Serotinus atau postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir
telah melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa
komplikasi. Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput,
mengelupas lebar-lebar, sianosis, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan
maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian
telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biasanya cukup panjang. Biasanya bayi postmatur
tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil
ke-10 untuk usia gestasinya. Banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat
akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami
kerusakan otak.

B. SARAN
Bagi mahasiswa
Lebih meningkatkan pengetahuan berdasarkan konsep medik serta pemberian
asuhan keperawatan berkaitan dengan bayi serotinus.
Bagi masyarakat
Lebih meningkatkan perawatan terhadap kesehatan diri dan lingkungan terutama
pada ibu hamil.

DAFTAR PUSTAKA
Aliyah, Anna, dkk. 1997. Resusitasi neonatal. Perkumpulan Perinatologi Indonesia

(Perinasia) : Jakarta

9
Buku Acuan Nasional Pelayaran Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawiroharjo : Jakarta. 2001


A. H. Markumbag. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.

10