Vous êtes sur la page 1sur 20

ANALISIS TINGKAT RAWAN KEKERINGAN LAHAN SAWAH

DENGAN PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN


SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN
TAHUN 2014

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana S-1

Diajukan Oleh :
Aditya Dhani Susanto
NIRM : E100130042

FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
ANALISIS TINGKAT RAWAN KEKERINGAN LAHAN SAWAH
DENGAN PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN
TAHUN 2014

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana S-1

Diajukan Oleh :
Aditya Dhani Susanto
NIRM : E100130042

FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014

1
2
3

ANALISIS TINGKAT RAWAN KEKERINGAN LAHAN SAWAH


DENGAN PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN
TAHUN 2014

Aditya Dhani Susanto1, Yuli Priyana,2 Agus Anggoro Sigit3


1
Mahasiwa Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta
2,3
Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Adityadhani17@gmail.com
E 100130042

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sragen untuk tahun 2014


bertujuan untuk (1) menentukan agihan tingkat rawan kekeringan lahan
sawah di Kabupaten Sragen pada tahun 2014 dan (2) menganalisis faktor-
faktor wilayah yang dominan mempengaruhi tingkat rawan kekeringan lahan
sawah di Kabupaten Sragen.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kuantitatif berjenjang dengan penggabungan data primer citra Landsat 8 dan
data sekunder penggunaan lahan, kemiringan lereng, tekstur tanah, solum
tanah dan curah hujan. Unit pemetaan kabupaten, dan unit analisisnya
menggunakan satuan lahan. Penentuan survei lapangan menggunakan metode
stratified sampling yang didasarkan pada satuan lahan.
Hasil dari penelitian ini didapat peta tingkat rawan kekeringan lahan
sawah. Lahan sawah di Kabupaten Sragen memiliki luas 40.182 hektar.
Tingkat rawan kekeringan lahan sawah rendah memiliki persentase luas
43,16% dari seluruh lahan sawah yang ada dan mayoritas berada di satuan
lahan sawah beririgasi teknis dengan lereng yang datar serta tanahnya
bertekstur halus. Sebarannya berada di Kecamatan Sambungmacan,
Ngrampal, Gondang, Sragen, Karangmalang, Kedawung, Masaran, Sidoharjo
dan sebagian Kecamatan Sambirejo, Plupuh, dan Tanon. Tingkat rawan
kekeringan lahan sawah sedang memiliki persentase luas 30,99%, mayoritas
terletak pada satuan lahan sawah beriigasi tadah hujan dengan lereng datar
hingga landai dan bertekstur agak kasar, klasifikasi tersebut berada di
sebagian Kecamatan Sumberlawang, Miri, Kalijambe, Gemolong, Tanon,
Plupuh dan Sambirejo. Tingkat rawan kekeringan lahan sawah tinggi
memiliki persentase luas 25,85% dengan penyusun satuan lahan mayoritas
berjenis sawah tadah hujan dengan variasi lereng yang beragam dari datar
sampai agak curam dan tanahnya didominasi tekstur kasar serta agihannya
berada di Kecamatan Tangen, Gesi, Mondokan, Sukodono, Sumberlawang,
dan sebagian kecil di Kecamatan Gemolong dan Kalijambe. Faktor yang
mendominasi tingkat rawan kekeringan lahan pertanian di Kabupaten Sragen
adalah penggunaan lahan berdasarkan teknik irigasi dan solum tanah.

Kata Kunci : Kekeringan, Lahan Sawah, Kabupaten Sragen


4

THE ANALYSIS OF DROUGHT PRONE LEVEL RICE FIELD BY USING


REMOTE SENSING AND GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEMS
IN THE SRAGEN REGENCY
2014

Aditya Dhani Susanto1, Yuli Priyana,2 Agus Anggoro Sigit3


1
Student Of Geography Faculty Of Universitas Muhammadiyah Surakarta
2,3
Lectures Of Geography Faculty Of Universitas Muhammadiyah Surakarta
Adityadhani17@gmail.com
E 100130042

ABSTRACT

This research was conducted in the regency for 2014 aims to (1)
determine the distribution of drought-prone level of rice field in the Sragen
Regency in 2014 and (2) to analyze the dominant factors affecting level of
drought prone rice field in the Sragen Regency.
The method used in this research is quantitative method with the
incorporation tiered Landsat 8 as primary data and secondary data on land
use, slope, soil texture, soil solum and rainfall. Regency is the mapping unit,
and the unit of analysis using land units. Determination of the field survey
using stratified sampling method based on land units.
The results from this study obtained map level drought-prone rice field.
Rice field in Sragen has an area of 40 182 hectares. Level drought prone rice
field area has a low percentage of 43.16% of the existing rice field and the
majority are in the technical unit of irrigated rice field with a slope that is flat
and smooth-textured soil. Spreading located in the District Sambungmacan,
Ngrampal, Gondang, Sragen, Karangmalang, kedawung, Masaran, Sidoharjo
and partly District of Sambirejo, Plupuh, and Tanon. Level drought prone rice
fields were vast percentage of 30.99%, the majority located in the unit in the
technical unit of irrigated rice field with flat to gentle slope and slightly rough
textured, these classifications are in most sub-district Sumberlawang, Miri,
Kalijambe, Gemolong, Tanon, Plupuh and Sambirejo. Level drought prone
rice fields have a higher percentage of 25.85% area by land units making up
the majority of rainfed manifold with slope variations that range from flat to
moderately steep and rough texture of the soil and spreading predominantly
located in the District Tangen, Gesi, Mondokan, Sukodono, Sumberlawang,
and a small portion in the District Gemolong and Kalijambe. Factors which
dominates the level drought-prone rice field land in Sragen is land use based
on irrigation techniques and soil solum.

Keywords: Agriculture Drought, rice field, Sragen


5

1. Pendahuluan untuk pencegahan dan


1.1 Latar Belakang penanggulangan sangat lamban
Indonesia merupakan salah sehingga menjadi masalah
satu negara tropis di dunia yang berkepanjangan yang tidak
hanya memiliki 2 musim saja, terselesaikan. menurut
yaitu musim penghujan dan BAKORNAS PB (2007)
musim kemarau. Musim Kekeringan adalah hubungan
penghujan terjadi pada bulan antara ketersediaan air yang jauh
Oktober hingga Maret, dibawah kebutuhan air untuk
Sedangkan musim kemarau kebutuhan hidup, pertanian,
biasanya berlangsung pada bulan kegiatan ekonomi, dan
April hingga September (Badan lingkungan.
Meteorologi Klimatologi dan Kabupaten Sragen
Geofisika, 2014). Waktu merupakan salah satu daerah
terjadinya kedua musim tersebut yang rawan terjadinya
sampai saat ini tidak tentu kekeringan, salah satunya adalah
datangnya akibat kondisi iklim kekeringan pertanian. Hampir
global yang berubah-ubah. setiap tahun terdapat kasus
Ketidaktentuan waktu mulainya kekeringan lahan sawah di
musim penghujan dan kemarau beberapa wilayah di Kabupaten
di Indonesia berpotensi Sragen, seperti data yang
membuat suatu kerawanan dan terekam oleh Dinas Pertanian
bahaya yang mengancam Kabupaten Sragen (2013).
kehidupan makhluk di Terdapat kasus kekeringan lahan
dalamnya. pertanian yang terekam selama 8
Salah satu dari kerawanan tahun terakhir yaitu tahun 2006
dan bahaya yang berhubungan sampai tahun 2013.
dengan iklim adalah kekeringan. Kekeringan lahan sawah
Kekeringan sering terjadi di paling besar terjadi pada tahun
Indonesia, tetapi penangangan 2008 yang menyebabkan
7

kerusakan lahan sawah ringan 2. Tinjauan Pustaka


seluas 398 hektar, sedang 694 Kekeringan pertanian adalah
hektar, tinggi 1075, dan puso seluas kekurangan kandungan air di
3185 hektar di 16 kecamatan yang dalam tanah sehingga tidak
ada di Sragen. mampu memenuhi kebutuhan
Penelitian tentang tanaman tertentu pada periode
kekeringan pertanian dengan waktu tertentu sehingga dapat
menggunakan penginderaan jauh mengurangi biomassa dan jumlah
dan sistem informasi geografis tanaman (Jayaseelan, 2001).
seperti ini diharapkan mampu Setiap jenis tanaman memiliki
untuk menganalisis faktor kebutuhan air yang berbeda - beda
wilayah yang berpengaruh untuk tumbuh dan berkembang.
terhadap kejadian kekeringan Menurut BAKORNAS PB (Badan
dan dapat menghasilkan peta Koordinasi Nasional Penanganan
tematik yang mampu Bencana, 2007), peristiwa yang
menggambarkan kondisi lahan pernah terjadi dan dari data
sawah, agar kerusakan akibat historis, kekeringan di Indonesia
kekeringan dapat diminalisir. sangat berkaitan dengan fenomena
1.2 Tujuan ENSO (El-Nino Southern
Tujuan yang diharapkan Oscilation).
penulis dan dihasilkan dari Pengaruh El-Nino lebih kuat
penelitian ini adalah (1) pada musim kemarau dari pada
Menentukan agihan tingkat musim hujan. Pengaruh El-Nino
rawan kekeringan lahan sawah pada keragaman hujan memiliki
di Kabupaten Sragen pada tahun beberapa pola : akhir musim
2014. (2) Menganalisis faktor- kemarau mundur dari normal,
faktor wilayah yang dominan awal masuk musim hujan mundur
mempengaruhi tingkat rawan dari normal, curah hujan musim
kekeringan lahan sawah di kemarau turun tajam dibanding
Kabupaten Sragen. normal, deret hari kering semakin
panjang, khususnya di daerah
8

Indonesia bagian Timur. Pengaruh kekeringan lahan sawah.


musim tersebut merupakan Parameter tersebut diperoleh dari
pemicu terjadinya kekeringan, data primer berupa citra Landsat 8
apalagi kalau musim kemarau tahun 2014 dan data sekunder
yang datang berkepanjangan akan berupa data kemiringan lereng,
membuat lahan sawah akan tekstur tanah, solum tanah, dan
semakin rusak dan bahkan curah hujan yang diperoleh dari
tanaman yang ada di lahan instansi terkait. Berikut parameter
tersebut akan mati dan akhirnya yang berpengaruh terhadap
gagal panen. tingkat rawan kekeringan lahan
3. Metode Penelitian sawah di Kabupaten Sragen :
Metode yang dipergunakan dalam 1. Penggunaan Lahan Sawah
penelitian ini adalah metode Penggunaan lahan sawah
kuantitatif berjenjang, unit merupakan parameter yang
pemetaan kabupaten, dan unit didapat melalui interpretasi
analisisnya menggunakan satuan langsung dari citra Landsat 8
lahan. Penentuan survei lapangan tahun 2014 dan digabungkan
menggunakan metode Stratified dengan data guna lahan
Sampling yang didasarkan pada Kabupaten Sragen. Penggunaan
satuan lahan. Setiap satuan lahan lahan terbagi menjadi 2 jenis,
akan diambil beberapa titik yaitu penggunaan lahan untuk
sampel yang mewakili wilayahnya sawah dan non sawah.
untuk mengetahui karakteristik Penggunaan lahan sawah dibagi
lahan yang rawan kekeringan. lagi menurut teknik irigasinya.
Metode analisis tumpang susun Semakin baik teknik irigasi
berjenjang digunakan untuk semakin kecil berpotensi
mengetahui tingkat rawan mengalami kekeringan. di
kekeringan lahan sawah di Sragen terbagi menjadi 2 jenis
Kabupaten Sragen dengan teknik irigasi yaitu, sawah irigasi
melakukan overlay pada teknis dengan luas 25.928 hektar
parameter penentu tingkat rawan dan persentase 27,54% dan
9

sawah tadah hujan dengan luas merupakan kemiringan lereng


14.254 hektar dan persentase yang mendominasi di Sragen
15,14%. Berikut Tabel 3.1 dengan luas 55.580 hektar dan
tentang klasifikasi dan harkat persentase 55,88%. Berikut
penggunaan lahan sawah. Tabel 3.2 tentang klasifikasi dan
Tabel 3.1 Klasifikasi dan Harkat harkat kemiringan lereng.
Penggunaan Lahan Sawah Tabel 3.2 Klasifikasi dan
No KLASIFIKASI Harkat
Harkat Kemiringan Lereng
No KEMIRINGAN Harkat
IRIGASI KLASIFIKASI
(%)
1 Irigasi Teknis 2
2 Semi Teknis 3 1 08 Datar 1
3 Sederhana 4 2 > 8 15 Landai 2
4 Tadah Hujan 5 3 >15 25 Agak Curam 3
Sumber : Puslittanak Bogor, 2002 dalam Vira Nami 4 > 25 45 Curam 4
dengan modifikasi 5 > 45 Sangat Curam 5
Sumber : Sunarto Goenadi, dkk (2003)
2. Kemiringan Lereng
Parameter kemiringan 3. Tekstur Tanah
lereng diperoleh dari data Tekstur tanah merupakan
sekunder kelerengan dari perbandingan fraksi pasir, debu
instansi terkait. Kemiringan dan liat yang terkandung pada
lereng memiliki kaitan terhadap tanah. Perbedaan komposisi
tingkat kerawanan kekeringan pada tanah tersebut berpengaruh
lahan sawah, lereng pada suatu terhadap kemampuan
tempat berpengaruh terhadap meloloskan dan menahan air.
besar kecil air yang terkandung Hubungan tekstur tanah dengan
didalam tanah. Semakin terjal tingkat rawan kekeringan lahan
lereng dapat dipastikan daerah sawah adalah mengenai daya
tersebut cadangan airnya lebih serap tanah tersebut terhadap air.
sedikit jika dibandingkan dengan Tanah dengan tekstur yang
daerah yang memiliki kondisi kasar akan mudah meloloskan
lereng yang datar. Kabupaten air karena memiliki banyak
Sragen memiliki kemiringan ruang pori-pori diantara partikel
lereng yang beragam, mulai dari tanah tersebut, sehingga air yang
datar, landai, agak curam, dan terkandung dalam tanah akan
curam. Kemiringan lereng datar lebih sedikit jumlahnya dan
10

menjadi tidak subur. Sedangkan tampung air pada tanah. Solum


tanah dengan tekstur halus akan tanah yang dalam memiliki
lebih lama dalam mengikat air kandungan air yang lebih
karena partikel tanah sangat banyak. Solum tanah seperti itu
kecil dan mengisi seluruh ruang biasanya terdapat pada daerah
pada pori-pori tanah, sehingga yang memiliki kemiringan
air yang terkandung di lereng yang relatif datar yang
dalamnya semakin banyak. jarang terjadinya erosi tanah.
Tanah dengan tekstur halus Sedangkan untuk daerah yang
merupakan tekstur tanah paling memiliki kemiringan lereng
mendominasi dari tekstur tanah yang terjal, solum tanahnya akan
lainnya dengan luas 29268,96 lebih dangkal dikarenakan
hektar dan persentase 29%. tingginya erosi tanah yang
Berikut Tabel 3.3 tentang terjadi, sehingga memiliki
klasifikasi dan harkat btekstur sedikit kandungan air.
tanah. Parameter ini didapat dari
Tabel 3.3 Klasifikasi dan Harkat penurunan jenis tanah dengan
Tekstur Tanah didasarkan pada pendekatan
No Tekstur Klasifikasi Harkat klasifikasi USDA. Setiap jenis
Tanah
tanah memiliki kedalaman tanah
1 Halus Lempung, Lempung Berpasir, 1
Lempung Berdebu
2 Agak Geluh Berlempung, Geluh 2
yang berbeda dan klasifikasi
Lempung Berpasir
Halus USDA menjelaskan semua itu
3 Sedang Geluh berdebu, Debu, Geluh 3
secara jelas. Solum tanah sangat
4 Agak Geluh Berpasir 4
Kasar dangkal merupakan solum yang
5 Kasar Pasir, Pasir Bergeluh 5 mendominasi dari klasifikasi
Sumber : Dulbahri, 1992
solum tanah lainnya di Sragen
4. Solum Tanah
dengan luas 41704,18 hektar dan
Solum tanah merupakan
persentase 42%. Berikut Tabel
salah satu faktor penentu tingkat
3.4 tentang klasifikasi dan harkat
kekeringan lahan sawah yang
solum tanah.
berhubungan dengan daya
11

Tabel 3.4 Klasifikasi dan Harkat Selain itu perlu juga


Solum Tanah diperhitungankan tentang lama
No Solum Klasifikasi Harkat waktu pergantian musim
Tanah
kemarau ke musim penghujan.
(cm)
1 >120 Sangat Dalam 1 Musim kemarau yang
2 90-120 Dalam 2 berkepanjangan akan
3 50-90 Sedang 3
menyebabkan curah hujan yang
4 25-50 Dangkal 4
5 <25 Sangat 5
turun semakin sedikit dan akan
Dangkal menyebabkan kekurangan air
Sumber : Sunarto Goenadi, dkk (2003)
dan akhirnya terjadi kekeringan.
5. Curah Hujan Data curah hujan Kabupaten
Hujan yang turun
Sragen didapat dari Dinas
merupakan sumber dari
Pengairan dan memiliki rentang
ketersediaan air di daratan
waktu selama 10 tahun mulai
karena hujan merupakan unsur
dari tahun 2004 sampai 2013.
pokok dalam siklus hidrologi
Rata-rata curah hujan selama 10
yang terus berulang. Curah
tahun tersebut mayoritas curah
hujan yang tinggi di suatu
hujan yang turun di Sragen
daerah akan mempengaruhi
memiliki nilai 2001-2500
tingkat ketersediaan air di daerah
mm/tahun. Berikut Tabel 3.5
tersebut. Daerah yang memiliki
tentang klasifikasi dan harkat
curah hujan yang tinggi maka
curah hujan.
akan terjadi kecil kemungkinan
Tabel 3.5 Klasifikasi dan Harkat
fenomena kekeringan. begitu
Curah Hujan
pula sebaliknya apabila curah
No Rata-Rata Curah Hujan (mm/th) Harkat
hujan yang turun semakin kecil 1 > 3000 1

atau bahkan tidak ada hujan 2 2501-3000 2


3 2001- 2500 3
dalam waktu yang lama maka
4 1501- 2000 4
besar kemungkinan akan terjadi 5 < 1500 5
kekeringan. Sumber : Puslittanak Bogor, 2002 dalam Vira nami
dengan modifikasi
12

Formula yang digunakan dalam kekeringan dapat menggunakan


menentukan tingkat kerawanan metode Sturges, sebagai berikut:
kekeringan dapat dinyatakan
Interval kelas (Ci) =
dengan rumus sebagai berikut :
TKK = LS+KL+TT+ST+CH
Keterangan :
TKK = Tingkat Kerawanan =

Kekeringan = 6,33 dibulatkan menjadi 6


LS = Lahan Sawah Tabel 3.6 Kelas Tingkat Rawan
KL = Kemiringan Lereng Kekeringan Lahan Sawah
TT = Tekstur Tanah No Kelas Tingkat Rawan Harkat
ST = Solum Tanah Kekeringan Lahan

CH = Curah Hujan Sawah


1 I Rendah 6 12
Parameter tingkat kerawanan 2 II Sedang 13 18
kekeringan lahan sawah yang telah 3 III Tinggi 19 25

diberikan skor nilai kemudian Sumber : Perhitungan Harkat Parameter


Tingkat Kekeringan Lahan Sawah
dilakukan proses overlay dengan
menggabungkan setiap parameter
serta menjumlahkan masing-masing
skor tersebut untuk menentukan
tingkat kerawanan kekeringan.
Hasil klasifikasi tingkat kerawanan
kekeringan di Kabupaten Sragen di
bedakan menjadi 3 tingkat, yaitu
tingkat kerawanan kekeringan
rendah, sedang, dan tinggi, seperti
yang terlihat pada Tabel 3.6 tentang
kelas tingkat rawan kekeringan
lahan sawah. Untuk mendapatkan
interval kelas tingkat kerawanan
13

4. Hasil dan Pembahasan tahun 2014 kemarin, pada bulan


4.1 Analisis Tingkat Rawan Oktober November yang
Kekeringan Lahan Sawah Di seharusnya sudah masuk musim
Kabupaten Sragen Tahun penghujan tetapi hujan tidak
2014 kunjung turun dan kebanyakan
Kekeringan pertanian sumber air permukaan seperti
merupakan gejala alam yang waduk dan sungai untuk irigasi
membuat sumber-sumber air untuk menjadi kering.
pemenuh kebutuhan hidup tanaman Kabupaten Sragen memiliki
menipis atau bahkan mengering. kondisi wilayah yang luas dengan
Hal tersebut mengganggu penggunaan lahan sekitar 42 %
pertumbuhan tanaman dan bisa wilayahnya merupakan lahan
membuat tanaman tersebut mati, pertanian sawah. Melihat
sehingga dalam banyak kasus kenampakan tersebut, lahan sawah
menyebabkan gagal panen. sangat dimanfaatkan oleh para
Kegagalan panen tersebut membuat petani Sragen sebagai mata
kerugian besar bagi petani dan pencaharian dan sumber bahan
masyarakat lainnya yang pangan, apabila terjadi kekeringan
memanfaatkan hasil panen untuk pertanian akan membuat banyak
dikonsumsi. sekali kerugian.
Kekeringan pertanian sering Kabupaten Sragen pada tahun
terjadi pada waktu musim kemarau 2014 memiliki tingkat rawan
tiba. Pada saat itu curah hujan yang kekeringan lahan sawah yang
turun sangat sedikit dan bisa dalam heterogen, dimana terdapat tingkat
beberapa bulan tersebut tidak ada rawan kekeringan rendah, sedang
hujan sama sekali. Ketidaktentuan dan tinggi. Lahan sawah di
jatuh tempo musim penghujan dan Kabupaten Sragen memiliki luas
musim kemarau membuat 40.182 hektar sedangkan sisanya
kerawanan kekeringan pertanian 53.973 hektar merupakan lahan non
semakin meninggi. Seperti kejadian sawah. Tingkat rawan kekeringan
yang ada di Kabupaten Sragen lahan sawah rendah memiliki
14

persebaran di beberapa Kecamatan di beberapa Kecamatan Tangen,


Sambungmacan, Ngrampal, Gesi, Mondokan, Sukodono,
Gondang, Sragen, Karangmalang, Sumberlawang, dan sebagian kecil
Kedawung, Masaran, Sidoharjo dan di Kecamatan Gemolong dan
sebagian Kecamatan Sambirejo, Kalijambe. Wilayah dengan tingkat
Plupuh, dan Tanon. Tingkat rawan rawan kekeringan lahan sawah
kekeringan lahan sawah rendah tinggi memiliki luas sebesar 10.388
memiliki luasan paling besar hektar dengan persentase 25,85%
dibanding klasifikasi kekeringan dari seluruh luas wilayah
lainnya yaitu sebesar 17.341 hektar Kabupaten Sragen. Penyusun
dengan persentase 43,16% dan satuan lahan pada lahan sawah yang
mayoritas berada di satuan lahan berkategori tingkat rawan
sawah beririgasi teknis dengan kekeringan tinggi mayoritas
lereng yang datar serta tanahnya berjenis sawah tadah hujan dengan
bertekstur halus. variasi lereng yang beragam dari
Tingkat rawan kekeringan lahan datar sampai agak curam dan
sawah sedang memiliki persebaran tanahnya didominasi tekstur kasar
di sebagian Kecamatan Daerah-daerah ini merupakan
Sumberlawang, Miri, Kalijambe, daerah yang memang menjadi
Gemolong, Tanon, Plupuh dan langganan mengalami kekeringan
Sambirejo. Klasifikasi tingkat lahan pertanian maupun kekeringan
rawan kekeringan sedang memiliki hidrologis. Untuk lebih jelasnya
luas wilayah 12.452 hektar dengan dalam mengetahui agihan tingkat
persentase 30,99% dari seluruh luas rawan kekeringan lahan sawah
lahan sawah yang ada di Sragen dapat dilihat pada Gambar 4.1 di
dan mayoritas terletak pada satuan bawah tentang peta tingkat rawan
lahan sawah beriigasi tadah hujan kekeringan lahan sawah di
dengan lereng datar hingga landai Kabupaten Sragen tahun 2014.
dan bertekstur agak kasar. Faktor wilayah yang
Tingkat rawan kekeringan lahan mendominasi tingkat rawan
sawah tinggi memiliki persebaran kekeringan lahan sawah tertuju
15

pada parameter penggunaan lahan penyedot air dalam tanah pun juga
sawah berdasarkan teknik irigasi akan kesulitan karena kandungan air
yang dipakai dan parameter solum pada wilayah yang bersolum dangkal
tanah. Kedua parameter tersebut sedikit. Maka tidak dipungkiri
memiliki nilai harkat maksimal wilayah seperti yang disebutkan
yaitu 5 pada wilayah dengan diatas menjadi langganan kekeringan
tingkat rawan yang tinggi terutama untuk lahan sawah.
dibanding dengan parameter Selain melihat agihan tingkat
lainnya, sehingga kedua paramenter rawan kekeringan lahan sawah di
ini memiliki dominasi penyebab Kabupaten Sragen tahun 2014, perlu
kekeringan lahan sawah selama ini. juga ditambahkan pengetahuan
Sawah tadah hujan merupakan tentang tipe tanaman yang
jenis sawah yang mengandalkan didasarkan pada iklim. Iklim di
curah hujan yang turun sebagai Indonesia merupakan tipe iklim
sumber air untuk pengairan sawah, tropis yang membagi setiap tahun
apabila pada saat musim kemarau menjadi dua jenis musim, yaitu
tiba sawah ini akan mengalami musim kering atau kemarau dan
kekurangan air yang nantinya musim basah atau penghujan. Setiap
berdampak pada kesehatan tanaman tanaman akan tumbuh baik bila iklim
sawah. semakin lama dibiarkan untuk tanaman tersebut sesuai. Tipe
maka akan membuat sawah tersebut iklim yang sesuai untuk menentukan
mengalami kekeringan dan periode tanam dalam penelitian ini
membuat tanaman mati atau bahkan adalah tipe agroklimat iklim
sampai membuat puso. Oldeman. Tipe ini menunjukan jenis
Solum tanah yang dangkal juga tanaman apa yang sesuai untuk
membuat kandungai air yang ada di ditanam dengan melihat jenis iklim
dalam tanah semakin sedikit. yang terjadi pada saat itu.
Sehingga cadangan air untuk Tipe agroklimat iklim Oldeman
pengairan akan terganggu karena juga menunjukan bahwa selama
sumur akan mengering pada saat sepuluh tahun terakhir curah hujan
musim kemarau. Mesin diesel untuk yang terjadi di Kabupaten Sragen
16

dapat diklasifikasikan merupakan mungkin untuk meminimalisir


tipe C3. Tipe C3 pada sistem terjadinya kekeringan lahan sawah
agroklimat Oldeman menyebutkan atau bahkan memutuskan rantai
bahwa hanya dapat ditanami padi tersebut. Solusi ini merupakan cara
satu kali pada musim penghujan dan ampuh bagi petani untuk mengurangi
dapat ditanami tanaman palawija dua kerugian akibat gagal panen dan
kali selama musim kemarau. Selama tentunya perlu di perlukan bantuan
ini petani tidak menerapkan sistem juga oleh pihak pemerintah maupun
penanaman tersebut dan lebih swasta untuk memberi penyuluhan
memaksakan mengikuti daerah subur dan bantuan lainnya agar kekeringan
dengan lahan berteknik irigasi yang lahan sawah tidak terjadi lagi.
baik yaitu menanam padi tiga kali
5. Kesimpulan dan Saran
dalam setahun. Akibatnya daerah
5.1 Kesimpulan
yang tidak cukup air akan mengalami
1. Hasil dari penelitian ini
kekurangan air untuk pertumbuhan
didapat peta tingkat rawan
tanaman padi dan menyebabkan
kekeringan lahan sawah.
kekeringan.
Lahan sawah di Kabupaten
Setiap daerah di Kabupaten
Sragen memiliki luas
Sragen yang memiliki sejarah rawan
40.182 hektar. Tingkat
kekeringan perlu menerapkan pola
rawan kekeringan lahan
tanaman milik Oldeman atau paling
sawah rendah memiliki
tidak menggabungkan jenis tanaman
persentase luas 43,16% dari
yang berbeda pada satu lahan dan
seluruh lahan sawah di
mengganti tanaman padi berjenis
Sragen dengan mayoritas
tahan kekeringan seperti padi gogo
satuan lahannya berupa
atau palawija apabila memasuki
sawah beririgasi teknis
musim kemarau untuk mendapatkan
dengan lereng yang datar
hasil yang maksimal dan petani tetap
serta tanahnya bertekstur
mendapatkan keuntungan. Apabila
halus. Sebarannya berada
cara ini dilaksanakan secara
di Kecamatan
berkesinambungan maka bukan tidak
17

Sambungmacan, Ngrampal, curam dan tanahnya


Gondang, Sragen, didominasi tekstur kasar
Karangmalang, Kedawung, serta agihannya berada di
Masaran, Sidoharjo dan Kecamatan Tangen, Gesi,
sebagian Kecamatan Mondokan, Sukodono,
Sambirejo, Plupuh, dan Sumberlawang, dan
Tanon. Tingkat rawan sebagian kecil di
kekeringan lahan sawah Kecamatan Gemolong dan
sedang memiliki persentase Kalijambe.
luas 30,99%, mayoritas 2. Faktor faktor wilayah
terletak pada satuan lahan seperti penggunaan lahan
sawah beriigasi tadah hujan berdasarkan teknik irigasi
dengan lereng datar hingga dan solum tanah
landai dan bertekstur agak merupakan faktor wilayah
kasar, klasifikasi tersebut yang dominan
berada di sebagian mempengaruhi tingkat
Kecamatan Sumberlawang, rawan kekeringan lahan
Miri, Kalijambe, sawah di Kabupaten Sragen
Gemolong, Tanon, Plupuh tahun 2014.
dan Sambirejo. Tingkat 5.2 Saran
rawan kekeringan lahan 1. Menambah parameter yang
sawah tinggi memiliki berpengaruh terhadap
persentase luas 25,85% kekeringan lahan sawah
dengan penyusun satuan disertai uji lapangan untuk
lahan mayoritas berjenis mendapatkan hasil yang
sawah tadah hujan dengan lebih akurat.
lereng datar sampai agak
18

6. DAFTAR PUSTAKA

Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika. 2014. Prakiraan musim kemarau


2014. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Tahun 2014.
http://www.bmkg.go.id/bmkg pusat/Sestama/Humas/prakiraan musim
kemarau 2014 di indonesia.bmkg diakses 28 Oktober 2014.
Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana. 2007. Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya Di Indonesia, edisi II.
Penerbit : Direktorat Mitigasi Lakhar BAKORNAS PB. Jakarta.
Dinas Pertanian. 2013. Kasus Dampak Perubahan Iklim (Kekeringan) Lahan
Sawah Kabupaten Sragen Tahun 2006 2013. Sragen
Dulbahri. 1992. Kemampuan Teknik Penginderaan Jauh Untuk Kajian Agihan
dan Pemetaan Air Tanah di Daerah Aliran Sungai Progo. Disertasi.
Fakultas Geografi UGM : Yogyakarta.

Goenadi, Soenarto dkk. 2003. Konservasi lahan Terpadu Daerah Rawan


Bencana Longsoran Di Kabupaten Kulonprogo Daerah Istemawa
Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta : Pusat Studi Bencana,
Universitas Gadjah Mada.

Jamil, Dzulfikar Habibi. Tjahjono, Heri. Parman, Satyanta 2013. Deteksi


Potensi Kekeringan Berbasis Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi
Geografis Di Kabupaten Klaten. Jurna, 30-37. Semarang : Fakultas Ilmu
Sosial, Universitas Negeri Semarang.
Jayaseelan, A. T. 2001. Drought and Flood Assessment And Monitoring Using
Remote Sensing And GIS, Satellite Remote Sensing And Gis Application
In Agricultural Meteorology, 291-313.
Nami, Vira 2013. Aplikasi Sistem Informasi Geografi Dan Penginderaan Jauh
Untuk Pemetaan Kerawanan Kekeringan Lahan Sawah Kabupaten Kulon
Progo. Tugas Akhir. Yogyakarta : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah
Mada.

Oldeman, L.R. Las, Irsal. Muladi. 1980. The Agroclimatic Maps Of


Kalimantan, Maluku, Irian Jaya And Bali; West And East Nusa Tenggara.
Central Research Institute Agriculture No 60 (1980): Bogor.

Rahardjo, Puguh Dwi 2010. Teknik Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi
Geografis Untuk Mendeteksi Potensi Kekeringan Di Kabupaten Kebumen.
Jurnal Makara Teknologi Vol.14 No. 2, 95-105. Karangsambung :,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
19

Suprapto, Anjar. Sudira, Putu. Supadmo Arif, Sigit. 2008. Deteksi Dini
Kekeringan Pertanian Berbasis Sistem Informasi Geografis Di Daerah
irigasi Kumisik Kabupaten Tegal. Jurnal Engineering Pertanian Vol. VI,
No. 2, 61-68. Serpong : Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian.
Sutarja et al. 2013. Kajian Akademis Master Plan Risiko Bencana Kekeringan
(Prosiding Seminar Nasional Riset Kebencanaan, Mataram, 8-10
Oktober 2013). Seminar Nasional. Denpasar : Pusat Studi Bencana,
Universitas Udayana.

United States Department of Agriculture. 1987. Soil Mechanics Level 1 Module


3 USDA Tekxtural Classification. United States Department of
Agriculture, United States.
18