Vous êtes sur la page 1sur 26

ARF (gagal nafas akut)

Kamis, 11 Juni 2009


ASKEP ARF

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana
masing masing mempunyai pengertian yang bebrbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas
yang timbul pada pasien yang parunyanormal secara struktural maupun fungsional sebelum
awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan
penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit
penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang
memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan
asalnya.
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi
obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di
bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala,
stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan
menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode
postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen
menekan pernafasan denganefek yang dikeluarkan atau dengan meningkatkan efek dari
analgetik opioid. Pnemonia atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas
akut.
II.2 MASALAH
Gagal Nafas Akut
II.3 TUJUAN
Untuk mengetahui segala masalah yang berhubungan dengan gagal nafas akut

BAB II

PEMBAHASAN
II.1 PENGERTIAN

Gagal respirasi diartikan sebagai tidak berfungsinya respirasi yang menyebabkan


ketidaknormalan oksigenasi atau ventilasi (eliminasi CO2) yang parah, cukup untuk
menyebabkan kerusakan fungsi organ organ vital. Kriteria kadar gas darah arteri untuk
gagal respirasi tidak mutlak bisa ditentukan dengan mengetahui PO2 kurang dari 60 mmHg
dan PCO2 diatas 50 mmHg. Gagal respirasi akut terjadi dalam berbagai gangguan, baik
pulmoner maupun nonpulmoner.

(Tierney, Lawrence dkk. 2002. Diagnosis dan terapi kedokteran(penyakit dalam) : 214 )

Acute respiratory failure merupakan gangguan sistem pernapasan yang disebabkan


adanya gangguan primer pada paru atau gangguan lainnya, sehingga sistem pernapasan tidak
dapat memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.

Gagal nafas akut adalah kegagalan system pernafasan untuk


mempertahankanpertukaran oksigen dan karbondioksida dalam jumlah yang dapat
mengakibatkan gangguan pada kehidupan.

(www.putridaun.com.Rabu, 15 April 2009)

II.2 ETIOLOGI

II.2.1. Depresi Sistem saraf pusat


Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang
menngendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga
pernafasan lambat dan dangkal.
II.2. 2. Kelainan neurologis primer
Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan
menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor
pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot
pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan
sangatmempengaruhiventilasi.
II. 2. 3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru.
Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma
dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.
II. 2. 4. Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas.
Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung
dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan.
Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan
gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya
adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar
II.2 5. Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia
diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam.
Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain
yang menyababkan gagal nafas.
6. Penyakit kardiovaskular
7. Pasca bedah toraks, laparotomi tinggi

(www.putridaun.com.Rabu, 15 April 2009)

II. 3 TANDA DAN GEJALA

A. Tanda
a. Gagal nafas total
1. Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
2. Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikula dan sela iga serta tidak ada
pengembangan dada pada inspirasi
3. Adanya kesulitasn inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan
b. Gagal nafas parsial
1. Terdengar suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.
2. Ada retraksi dada
B. Gejala klinis
1. Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
2. Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)
3. Batuk dan berdahak
4. .Kesadaran menurun, agitasi

5. .Peningkatan frekuensi napas, berupa: retraksi suprasternal, interkostal,


supraklavikular

6. dan retraksi epigastrium, takipneu, pernapasan paradoks.

7. Sianosis

8. Takikardi

9. Bradipneu ( dalam keadaan lanjut )

(www.putridaun.com.Rabu, 15 April 2009)

II.4 PATOFISIOLOGI

(Mutttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan):
215)

Penekanan pusat pernafasan

Kelainan neuromuscular

Kelainan pleura dan dinding dada

Kelainan obstruktif difus

Kelainan restriktif difus

Kelainan vaskular
Pada pascaoperatif

Periode pascaoperatif

Agen agen farmakologi menekan pernapasan

Adanya penurunan metabolisme atau mengekskresi obat

Nyeri pada area thoraks dan abdomen menganggu napas dalam dan batuk

Penekanan dorongan pernapasan sentral

Gangguan pada respons ventilasi

Penurunan / hilangnya kontrol pernapasan

Penurunan pola pernapasan

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi


Gagal napas

Kelainan neurologis primer (gangguan pada respons ventilasi)

Kelainan neurologis primer

(sindrom guillain bare, miastenia gravis, kerusakan pada segmen servikal medula

spinalis, lesi akut yang luas pada otak dalam multiple sclerosis, dan poliomielitis )

Penenkanan pada dorongan pernapasan sentral

Ganggguan pada respons ventilasi

Penurunan/hilangnya control pernapasan

Ketidak sesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Trauma

Trauma pada kepala dan toraks


Cedera kepala, penurunan kesadaran, dan terjadi pendarahan dari hidung dan mulut
menyebabkan obstruksi jalan napas dan depresi pernapasan

Adanya penekanan meningkat intrapleura akibat udara atau darah

Penekanan dorongan pernapasan sentral

Gangguan pada respons ventilasi

Penurunan/ hilangnya control pernapasan

Penurunan kemampuan pengembangan paru

Ketidak sesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Penyakit paru akut

Pneumonia

Terjadi konsolidasi dan pengisian organ alveoli oleh eksudat


Penurunan jaringan efektif paru, kerusakan membran alveolar kapiler

Ketidak sesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

status asmatikus

Peningkatan kerja pernapasan dan hipoksemia sesaat (reversible)

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Penyakit paru kronis

PPOM

Gangguan pergerakan udara ked an dari luar paru


Peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia sesaat (reversible)

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Atelektasis

Kolapsnya alveoli

Gangguan dalamm pertukaran gas secara permanent (inreversible)

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Penyakit pleura

Efusi pleura, hemathotaks, dan pneumoniathoraks

Meningkatnya tekanan intrapleura akibat udara atau darah


Gangguan ventilasi

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Takar dosis

Narkotika dalam dosis berlebih

Penekanan pusat pernapasan

Kegagalan ventilasi

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Penyakiit akut paru

Status asmatikus
Peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia secara reversible

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

Atelaktasis

Kolapsnya alveoli

Gangguan dalam pertukaran gas secara reversible

Ketidaksesuaian dari ventilasi perfusi

Gagal napas

(Mutttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan):
216-217)

II. 5 PENATALAKSANAAN MEDIK/TREATMENT

Kunci untuk pengobatan gagal nafas akut adalah antisipasi terhadap kondisi ini
selanjutnya untuk menghadapi kejadian yang ditimbulkannya. Tujuan penatalaksanaan untuk
pasien gagal nafas akut adalah sebagai berikut:
1. Membuat oksigenasi arteri adekuat, dengan memeberi perfusi jaringan adekuat
2. Meniadakan penyebab dasar dari gagal nafas akut
Adapun terapi medis yang dilakukan yaitu:
1. Terapi oksigen
2. Pemberian oksigen kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal prong
Perbaiki ventilasi
3. Perbaikan jalan nafas
4. Ventilasi bantuan : memompa dengan sungkup muka berkantung (bag and mask), IPPB
5. Ventilasi kendali : IPPV, IPPV + PEEP
Inhalasi nebuliser
Fisioterapi dada
Pemantauan hemodinamik/jantung
Pengobatan
6. Bronkodilator
7. Steroid
Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan
Pengobatan spesifik yang ditujukan pada etiologinya

(www.putridaun.com.Rabu, 15 April 2009)

II. 6 PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

1. Atasi Penyebab

2. Mempertahankan jalan nafas dan meningkatkan ventilasi

a. Posisi pasien setengah duduk

b. Hidrasi

Memberikan cairan 2-3 ltr/24 jam

c. Bronchial hygiene dan fisiotherapi dada

- Latihan nafas dalam

- Analgetik saat fisiotherapi


- Jika ada ronchi anjurkan klien untuk batuk atau lakukan suctioning

- Postural drainase, vibrasi dan perkusi mungkin dibutuhkan

d. Pemberian obat obatan

- Bronchodilator

- Ekspectoran

-Sedativ, jika pasien gelisah

e. Bronkoskopi Jika lendir tidak bisa keluar dengan suctioning

f. Intubasi dan ventilasi mekanik

- Jika PaCO2 cenderung meningkat dan asidosis

- tujuan untuk menormalkan PH. Untuk pasien PPOM nilai PaCO2 tidak harus dibuat
normal.

3. Mengoptimalkan pengangkutan O2 dan menurunkan konsumsi O2 dengan cara :

a. memberikan therapy O2

b. Memberikan PEEP

c. Istirahat

d. Memberikan lingkungan nyaman

e. Mengobati demam

f. transfuse darah

g. Obatan digitalis

4. Mengatasi infeksi dengan memberikan antibiotic

5. Mencegah terjadinya komplikasi


(www.farms-area.com. Rabu, 15 April 2009)

II. 7 PX DIAGNOSTIK

1. Pemerikasan gas-gas darah arteri


Hipoksemia
Ringan : PaO2 < 80 mmHg
Sedang : PaO2 < 60 mmHg
Berat : PaO2 <>
2. Pemeriksaan rontgen dada
Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit yang tidak diketahui
3. Pemeriksaaan sputum
yang perlu diperhatikan ialah warna, bau dan kekentalan
4. EKG
Mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan
Disritmia
5. Pengukuran fungsi paru
Penggunaan spirometer dapat membuat kita mengetahui ada tidaknya gangguan
obstruksi dan restriksi paru

(www.akperppnisolojateng.com, Rabu 15 April 2009)

II.8 PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Anamnesis
Keluhan utama yang sering muncul adalah gejala sesak napas atau peningkatan
frekuensi napas. Perlu diperhatikan juga, apakah klien berubah menjadi sensitif dan cepat
marah(irritability), tampak bingung (confusion), atau mengantuk(somnolent). Yang tidak
kalah penting ialah kemampuan orientasi klien akan tempat dan waktu.
Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Kesulitan bernapas tampak dalam perubahan irama dan frekuensi pernapasan.
Keadaan normal frekuensi pernapasan 16-20 x/menit dengan amplitudo yang cukup
besar, sehingga menghasilkan volume tidal sebesar 500ml. Jika seseorang bernapas
lambat dan dangkal, itu menunjukan adanya depresi pusat pernapasan. Penyakit akut
paru sering menunjukan frekuensi pernapasan lebih dari 20x/menit atau karena
penyakit sistemik seperti sepsis, perdarahan, syok, dan gangguan metabolik seperti
diabetes melitus
Adanya tanda sianosis masih sukar ditentukan, bila saturasi oksigen darah arteri
belum dibawah 80% atau bila tekanan parsial oksigen darah arteri dibawah 50 mmHg.
Sianosis tipe sentral dapat dilihat dari perubahan warna mukosa yang semula
kemerahan menjadi kebiruan terutama pada mukosa pipi, bawah lidah, dan bibir
sebelah dalam. Sianosis tipe perifer terjadi karena sirkulasi darah buruk serta hasil
yang rendah, ditandai dengan adanya warna kebiruan pada kuku disertai akral dingin
b. Palpasi
Perawat harus memerhatikan adanya pelebaran ICS dan penurunan taktil fremitus
yang menjadi penyebab utama gagal napas.
c. Perkusi
Perkusi yang dilakukan oleh perawat dengan cermat dan seksama membuatnya dapat
menemukan daerah redup rendah dengan suara napas melemah yang disebabkan
oleh penebalan pleura, efusi pleura yang cukup banyak, dan hipersonor, bila
didapatkan pnemothoraks atau empisema paru.
d. Auskultasi
Auskultasi dilakukan untuk menilai apakah ada bunyi napas tambahan seperti
wheezing dan ronkhi serta untuk menetukan dengan tepat lokasi yang didapat dari
kelainan yang ada.

(Mutttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan):
218-219)

II. 9 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Pola nafas tidak efektif b.d. penurunan ekspansi paru
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang
efektif
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan
a. Frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan normal
b. Adanya penurunan dispneu
c. Gas-gas darah dalam batas normal
Intervensi :
a. Kaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan serta pola pernapasan.
b. Kaji tanda vital dan tingkat kesasdaran setaiap jam dan prn
c. Monitor pemberian trakeostomi bila PaCo2 50 mmHg atau PaO2<>
d. Berikan oksigen dalam bantuan ventilasi dan humidifier sesuai dengan pesanan
e. Pantau dan catat gas-gas darah sesuai indikasi : kaji kecenderungan kenaikan PaCO2
f. atau kecendurungan penurunan PaO2
g. Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap 1 jam
h. Pertahankan tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30 sampai 45 derajat
i. untuk mengoptimalkan pernapasan
j. Berikan dorongan utnuk batuk dan napas dalam, bantu pasien untuk mebebat dada
k. selama batuk
l. Instruksikan pasien untuk melakukan pernapasan diagpragma atau bibir
m. Berikan bantuan ventilasi mekanik bila PaCO > 60 mmHg. PaO2 dan PCO2
meningkat
n. dengan frekuensi 5 mmHg/jam. PaO2 tidak dapat dipertahankan pada 60 mmHg atau
o. lebih, atau pasien memperlihatkan keletihan atau depresi mental atau sekresi menjadi
p. sulit untuk diatasi.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi
sekunder terhadap hipoventilasi
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pertukaran gas
yang adekuat
Kriteria Hasil :
a. Pasien mampu menunjukkan :
b. Bunyi paru bersih
c. Warna kulit normal
d. Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan
Intervensi :
a. Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia
b. Kaji TD, nadi apikal dan tingkat kesadaran setiap[ jam dan prn, laporkan perubahan
c. tinmgkat kesadaran pada dokter.
d. Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya kecenderungan kenaikan dalam
e. PaCO2 atau penurunan dalam PaO2
f. Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji perlunya CPAP atau
PEEP.
g. Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam
h. Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan peningkatan atau
i. Penyimpangan
j. Pantau irama jantung
k. Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
l. Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik, steroid.
m. Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan oksigen.
3. Kelebihan volume cairan b.d. edema pulmo
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan pasien tidak terjadi kelebihan volume cairan
Kriteria Hasil :
Pasien mampu menunjukkan:
a. TTV normal
b. Balance cairan dalam batas normal
c. Tidak terjadi edema
Intervensi :
a. Timbang BB tiap hari
b Monitor input dan output pasien tiap 1 jam
c. Kaji tanda dan gejala penurunan curah jantung
d. Kaji tanda-tanda kelebihan volume : edema, BB , CVP
e. Monitor parameter hemodinamik
f. Kolaburasi untuk pemberian cairandan elektrolit
4. Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan curah jantung
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu mempertahankan perfusi jaringan.
Kriteria Hasil :
a. Pasien mampu menunjukkan
b. Status hemodinamik dalam bata normal
c. TTV normal
Intervensi :
a. Kaji tingkat kesadaran
b. Kaji penurunan perfusi jaringan
c. Kaji status hemodinamik
d. Kaji irama EKG

5. Pola pernapasan tidak efektif berhubungan dengan gangguan rasio O2 dan CO2.

Data : perubahan frekuensi nafas, retraksi interkostal, penurunan vital kapasitas paru,
takipnea atau henti nafas bila ventilator dihentikan, sianosis, penurunan PO2 <> 45,
peningkatan saturasi oksigen, gelisah

Tujuan keperawatan :

Pola pernapasan efektif melalui ventilator tanpa adanya penggunaan otot bantu
pernapasan

Kriteria hasil :

a. Saturasi oksigen normal

b. Tidak ada hipoksia

c. Kapasital vital normal

d. Tidak ada sianosis

Intervensi :

1. Selidiki penyebab gagal pernapasan, rasional pemahaman tentang penyebab


kegagalan pernapasan penting untuk memberikan perawatan.

2. Observasi pola napas dan catat frekuensi pernapasan, jarak antara pernapasan spontan
dan napas ventilator, rasional pasien dengan pemasanagn ventilator dapat mengalami
hiperventilasi/hipoventilasi dan pasien berupaya memperbaiki kekurangan oksigen
dengan peningkatan pola pernapasan sehingga frekuensi meningkat.

3. Auskultasi dada secara periodik, catat bila ada kelainan bunyi pernapasan. Rasional :
Memberikan informasi tentang adanya obsturksi jalan nafas, perubahan simetrisitas
dada menunjukkan tidak tepatnya letak selang endotrakeal.
4. Jumlahkan pernapasan pasien selama 1 menit penuh dan bandingkan untuk menyusun
frekuensi yang diinginkan ventilator. Rasional : Pernapasan pasien cepat
menimbulkan alkalosis respiratorik, sednagkan pernapasan pasien lambat
menimbulkan asidosis ( peningkatan PaCO2)

5. Kembangkan balon selang endotrakeal dengan tepat menggunakan tehnik hambatan


minimal, periksa pengembangan tiap 4 jam. Rasional : balon harus tepat mengembang
untuk meyakinkan ventilasi adekuat sesuai volume tidak yang diinginkan

6. Periksa selang bila ada sumbatan/lipatan. Rasional lipatan selang menghambat aliran
volume udara adekuat. Adanya air memungkinkan tumbuhkan kuman sehingga
pencetus terjadinya kolonisasi kuman.

7. Periksa fungsi alarm ventilator. Rasional : ventilator mempunyai berbagai alarm


sehingga kelainan dini bisa terdeteksi misalnya adanya penurunan tekanan gas,
saturasi oksigen, rasio inspirasi dan ekspirasi dsb.

8. Bantu pasien dalm kontorl pernapasan bila penyapihan diupayakan. Rasional melatih
pasien untuk bernapas secara lambat denga cara nafas abdomen dan penggunaan
tehnik relaksasi sehingga fungsi pernapasan bisa maksimal.

9. Kolaborasi untuk pemeriksaan analisa gas darah sesuai pesanan. Rasional untuk
mengetahui keberhasilan pemberian bantuan napas.

10. Kaji volume tidal. Rasional untuk menentukan jumlah udara inspirasi dan ekspirasi

11. Awasi rasio inspirasi den ekspirasi. Rasional : fase ekspirasi biasanya 2 kali
panjangnya dari kecepatan inspirasi.

6. tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya sekret pada jalan
nafas akibat ketidakmampuan batuk efektif.

Data :

a. Perubahan frekuensi nafas

b. Sianosis
c. bunyi nafas tidak normal (stridor)

d. gelisah

Tujuan keperawatan :

Pasien mampu mempertahankan jalan nafas bersih tanpa ada kelainan bunyi pernapasan.

Kriteria hasil :

a. Tidak ada stridor

b. frekuensi napas normal

intervensi:

1. Observasi bunyi nafas. Rasional : obstruksi disebabkan adanya akumulasi sekret,


spasme bronkus, perlengketran muskosa, dan atau adanya masalah terhadap
endotrakeal.

2. Evaluasi gerakan dada. Rasional : gerakan dada simetris dengan bunyi nafas
menunjukkan letak selang tepat. Obstruksi jalan nafas bawah menghasilkan
perubahan bunyi nafas seperti ronkhi dan whezing.

3. Catat bial ada sesak mendadak, bunyi alarm tekanan tinggi ventilator, adanya sekret
pada selang. Rasional : pasien dengan intubasi biasanya mengalami reflek batuk tidak
efektif.

4. Hisap lendir, batasi penghisapan 15 detik atau kurang, pilih kateter penghisap yang
tepat, isikan cairan garam faali bila diindikasikan. Gunakan oksigen 100 % bila ada.
Rasional : penghisapan tidak harus ruitn, dan lamanya harus dibatasi untuk
mengurangi terjadinya hipoksia. Diamter kateter <>

5. Lakukan fisioterapi dada sesuai indikasi. Rasional untuk meningkatkan ventilasi pada
semua segmen paru dan untuk drainage sekret.

6. Berikan bronkodilator sesuai pesanan. Rasional untuk meningkatkan ventilasi dan


mengencerkan sekret dengan cara relaksasi otot polos bronkus.
7. Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan tidak
efektifnya bersihan oral.

Tujuan keperawatan :

Pasien mampu menunjukkan kesehatan mukosa mulut dengan tepat tanpa adanya tanda
peradangan.

Kriteria hasil :

a. Tanda peradangan mukosa mulut tidak ada

b. mulut bersih dan tidak berbau.

Intervensi :

1. Observasi secara rutin rongga mulut, gigi, gusi terhadap adanya luka atau pendarahan.
Rasional : identifikasi dini memberikan kesempatan untuk pencegahan secara tepat.

2. Berikan perawatan mulut secara rutin. Rasional : Mencegah adanya luka membran
mukosa mulut dan menurunkan media pertumbuhan bakteri dan meningkatkan
kenyamanan.

3. Ubah posisi selang endotrakeal sesuai jadual. Rasional : menurunkan resiko luka pada
bibir dan membran mukosa mulut.

4. Berikan minyak bibir. Rasional: mempertahankan kelembaban dan mencegah


kekeringan.

8. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan


kemampuan mencerna.

Data :

a. penurunan berat badan

b. tonus otot lemah


c. peradangan pada mulut

d. bunyi usus lemah.

Tujuan keperawatan : Kebutuhan nutrisi cukup

Kriteria hasil :

a. berat badan naik

b. albumin serum normal

c. tonus otot kuat

Intervensi :

1. Evaluasi kemampuan makan. Rasional : pasien dengan selang endotrakeal harus


terpenuhi kebutuhan makannya melalui parenteral atau selang makan.

2. Observai penurunan kekuatan otot dan kehilangan lemak subkutan. Rasional :


penurunan jumlah komponen gizi mengakibatkan penurunan cadangan energi pada
otot dan dapat menurunkan fungsi otot pernapasan.

3. Timbang berat badan bila memungkinkan. Rasional untuk mengetahui bahwa


kehilangan berat badan 10 % merupakan abnormal.

4. Catat masukan oral bila memungkinkan

5. Berikan masukan cairan sedikitnya 2500 cc/ hari. Rasional : untuk mencegah adanya
dehidrasi.

6. Awasi pemeriksaan laboratorium : serum, glukosa, dan BUN/kreatinin. Rasional :


memberikan informasi tentang dukungan nutrisi adekuat atau tidak.

9. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh.

Tujuan keperawatan :

pasien menunjukkan tidak terdapat adanya tanda infeksi selama perawatan.


Kriteria hasil :

a. daya tahan tubuh meningkat,

b. diff. Count normal,

c. penurunan monosyt tidak ada,

d. lekosit normal : >10.000/mm

Intervensi :

1. Catat faktor resiko terjadinya infeksi. Rasional : faktor yang menyebabkan adanya
infeksi antara lain; malnutrisi, usia, intubasi, pemasangan ventilator lama, tindakan
invasif. Faktor ini harus dibatasi/diminimalkan.

2. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan. Rasional untuk mengurangi sekunder
infeksi

3. Pertahankan hidrasi adekuat dan nutrisi. Rasional, membantu peningkatan daya tahan
tubuh.

4. Kolaborasi dengan pemberian antibitika sesuai pesanan. Rasional : untuk membunuh


dan mengurangi adanya kuman.

10. Resiko tinggi disfungsi respons penyapihan ventilator berhubungan dengan ketidak
mampuan untuk penyapihan.

Tujuan perawatan :

pasien mampu aktip untuk berpartisipasi dalam proses penyapihan.

Kriteria hasil : tanga gagal nafas tidak ada

Intervensi :

1. Kaji faktor fisik dalam proses penyapihan : vital sign. Rasional : penyapihan adalah
kerja keras, peningkatan suhu indikasi peningkatan kebutuhan oksigen 7 %, takikardia
dan hipertensi menandai jantung kerja keras dalam bekerja sehingga penyapihan tidak
diperbolehkan, stres dalam penyapihan mengurangi stamina sehingga daya tahan
tubuh menurun.

2. Tentukan persipan psikologis. Rasional : penyapihan menimbulkan stress.

3. Jelaskan tehnik penyapihan. Rasional : membantu pasien untuk siap mengadapi


penyapihan.

4. Berikan periode istirahat tanpa gangguan. Rasional : memaksimalkan energi untuk


proses penyapihan.

5. Catat kemajuan pasien. Rasonal : untuk mengetahui perkembangan dalam proses


penyapihan.

6. Awasi respons terhadap aktivitas. Rasional : kebutuhan oksigen berlebih bila aktifitas
berlebih.

7. Kaji foto dada dan analisa gas darah. Rasional : saturasi oksigen harus memuaskan
dengan cek analisa gas darah, FIO2 <>

(www.akperppnisolojateng.com, Rabu 15 April 2009)

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Salemba Medika : Jakarta
Reksoprodjo Soelarto. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara: Jakarta.
www.farms-area.com, Rabu 15 April 2009
www.putridaun.com, Rabu 15 Apriil 2009
www.akperppnisolojateng.com, Rabu 15 April 2009
Diposkan oleh keperawatan di 02.08 Tidak ada komentar:
Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Pengikut
Arsip Blog
2009 (3)

o Juni (3)

ASKEP ARF

arf (ACUTE RESPIRATORY FAILURE)

the miror of love

Mengenai Saya

keperawatan
saya adalah warga negara indonesia yg ingin jd perawat profesional yg gi menjajki
pendidikan PSIK di STIKES MUHMDYH PALEMBANG
Lihat profil lengkapku