Vous êtes sur la page 1sur 61

Category Archives: Tambang Terbuka (Open Pit Mining)

INVESTIGASI GEOTEKNIK
13JAN
1 TUJUAN INVESTIGASI
Investigasi geoteknik atau penyelidikan tanah dan batuan sebagai alas bagi konstruksi jalan rel
adalah tahap yang krusial dalam perencanaan jalan kereta api. Pengalaman menunjukkan
bahwa biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan jalan kereta api dapat membengkak akibat
penyelidikan yang tidak memadai. Biaya dalam tahap penyelidikan geoteknik seringkali ditekan
hingga serendah mungkin, sehingga penyelidikan dilakukan dalam tingkat yang amat kasar, hal
ini pada akhirnya membuahkan parameter tanah yang tidak cukup representatif. Parameter
tanah yang tidak mencerminkan kondisi tanah yang sesungguhnya bermuara pada kesalahan
dalam perencanaan.

Tujuan investigasi geoteknik adalah untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan kondisi
tanah dan air tanah pada suatu lokasi tertentu. Untuk mendapatkan informasi tersebut pada
umumnya dilakukan dengan pengeboran (boring and drilling), dimana contoh tanah diambil
untuk diuji lebih lanjut. Tujuan investigasi geoteknik secara umum dapat diuraikan sebagai
berikut.

Profil perlapisan tanah


Untuk memperoleh profil perlapisan tanah, maka diperlukan pemboran untuk mengambil contoh
tanah pada kedalaman yang berbeda-beda. Dari profil perlapisan tanah informasi penting yang
harus diperoleh adalah sebagai berikut:

1. Informasi berkenaan dengan jenis lapisan tanah, tebalnya dan kemiringan lapisan-
lapisan tersebut.
2. Lokasi lapisan tanah keras atau lapisan batuan
Variasi perlapisan tanah secara horizontal yang meliputi seluruh proyek.
Kondisi air tanah yang meliputi: a) digunakan untuk menentukan letak muka air tanah
dan tekanannya dan b) digunakan untuk menentukan permeabilitas tanah.
Sifat-sifat fisik tanah dan batuan.
Sifat-sifat mekanika tanah dan batuan, seperti kekuatan dan kompressibiltas.
Hal-hal khusus pada perlapisan tanah, seperti adanya lapisan tipis material lapuk,
adanya kantung-kantung kerikil pada lapisan pasir dan lain-lain.
Informasi-informasi khusus lainnya, seperti adanya kandungan bahan kimia dalam air
tanah, diketahuinya kondisi pondasi struktur di dekat proyek.
2 PROSEDUR INVESTIGASI
Prosedur investigasi geoteknik umumnya melewati tahap-tahapan sebagai berikut:

Reconnaisance
Investigasi pendahuluan
Investigasi rinci
Penyelidikan selama konstruksi
Tahap-tahap investigasi yang disebutkan di atas pada hakikatnya menunjukkan tingkatan
investigasi yang diperlukan. Tahap investigasi tertentu akan memberi petunjuk apakah perlu
melakukan investigasi pada tahap berikutnya. Sebagai contoh, informasi yang diperoleh dalam
tahap reconnaissance akan menjadi petunjuk untuk melakukan investigasi pendahuluan
berkenaan dengan hal-hal yang perlu diinvestigasi lebih lanjut. Dalam melakukan investigasi
tidak selalu diperlukan melakukan 4 tahap investigasi secara berturut-turut. Jika dianggap
cukup, maka investigasi hanya sampai pada tahap investigasi pendahuluan, tergantung pada
tingkat kompleksitas perlapisan tanah yang ada dan struktur yang akan dibangun.

Sumber : http://www.dardela.com
Leave a comment
Posted by ban9kuy on January 13, 2013 in Tambang Terbuka (Open Pit Mining), Teknik Terowongan
Tags: air tanah, batuan, islam, kereta api, mekanika tanah

Ruang Lingkup Perencanaan Tambang


22JUN
Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya dibagi
menjadi tugas-tugas sebagai berikut :
1. Penentuan Batas dari Pit

Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu cebakan
bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan ditambang (tonase dan
kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut. Dalam
penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum diperhitungkan.
2. Perancangan Pushback

Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang habis


cadangan bijih tersebut mulaid ari titik masuk awal hingga ke batas akhir dari pit. Perancangan
pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi ultimate pit menjadi unit-unit
perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah
perancangan tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini
elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke dalam rancangan penambangan karena urut-urutan
penambangan pushback telah mulai dipertimbangkan.
3. Penjadwalan Produksi

Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang
mengikuti urutan pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk
tiap pushback yang diperoleh dari tahap 2). Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut off grade)
dan berbagai tingkat produksi bijih dan waste dievaluasi dengan menggunakan kriteria nilai
waktu dari uang, misalnya net present value. Hasilnya akan dipakai untuk menentukan
sasaran jadwal produksi yang akan memberikan tingkat produksi dan strategi kadar batas yang
terbaik.
4. Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu

Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar atau
peta-peta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun).
Peta-peta ini menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang datangnya bijih
dan waste untuk tahun tersebut. Rencana penambangan tahunan ini sudah cukup rinci, di
dalamnya sudah termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian rupa sehingga
merupakan bentuk yang dapat ditambang. Peta rencana pembuangan lapisan penutup (waste
dump) dibuat pula untuk periode waktu yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari
kegiatan penambangan dapat terlihat.
5. Pemilihan Alat

Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari tahap 4)
dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu. Dengan mengukur profil jalan
angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode
(setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.)
dihitung pula.
6. Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital

Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung jumlah gilir
kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi. Jumlah dan jadwal
kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat
ditentukan. Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.
Leave a comment
Posted by ban9kuy on June 22, 2012 in Dunia Pertambagan, Eksplorasi, Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: islam, perencanaan, peta peta, religion, urut, urutan

Reklamasi Tambang
19JUN
PENUTUPAN TAMBANG
Pada dasarnya, selain pertambangan batubara memberikan manfaat ekonomi langsung,
tidak dipungkiri pertambangan juga berpotensi menyebabkan gangguan lingkungan, termasuk
fungsi lahan dan hutan. Tekanan yang besar terhadap isu lingkungan diakibatkan oleh perilaku
beberapa pelaku usaha pertambangan, memang harus dikoreksi. Juga kadang, ketidaktahuan
masyarakat terhadap industri pertambangan secara makro. Ketidaktahuan, kadang
memunculkan presepsi keliru terhadap industri pertambangan secara keseluruhan. Padahal,
salah satu tujuan kegiatan pertambangan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi
bagi pelaku usaha pertambangan, segala yang menyebabkan ketidaktahuan masyarakat,
termasuk isu keruskan lingkungan, harus di luruskan.
Industri pertambangan batubara, termasuk PT. Berau Coal, memiliki keterkaitan yang erat
dengan upaya global melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Komitmen utuk melakukan
pembangunan berkelanjutan, sangatlah penting bagi perusahaan untuk mendapatkan dan
mempertahankan izin sosial operasi dalam masyarakat.
Masa depan industri pertambangan tergantung dari warisan yang ditinggalkannya. Reputasi
perusahaan, tidak saja dinilai pada saat memberikan manfaat selama operasi tambang. Namun,
juga tidak dilepaskan dari beberapa jauh tanggung jawab perusahaan terhadap proses
penutupan tambang.
Di masa sekarang, kalangan industri pertambangan telah menyadari bahwa untuk
mendapatkan akses ke sumber daya di masa depan, mereka harus menunjukkan mampu
menutup tambang (mine closure) secara efektif dan mendapatkan dukungan dari pemangku
kepentingan (stakeholder), khususnya masyarakat tempat tambang beroperasi. Ekspektasi dari
regulasi dan pemangku kepentingan semakin tinggi, sehingga untuk dapat mencapai hasil
maksimal, diperlukan metode yang benar serta diparalel dengan konsultasi dengan pemangku
kepentingan secara rutin.
Pentupan tambang yang buruk atau bahkan ditelantarkan akan menyebabkan masalah warisan
yang sulit bagi pemerinyah, masyarakat, perusahaan dan pada akhirnya akan merusak citra
industri pertambangan secara keseluruhan.
BAGAIMANA DENGAN BERAU COAL
Metode Penambangan
Setiap langkah korporasi, termasuk konsep pentupan tambang PT. Berau Coal, tidak lepas dari
motto perusahaan To Be Useful to Mankind in Enhancing their Quality of Life. Dengan dasar ini,
penerangan pengelolaan pasca tambang selalu mencangkup program yang menjamin adanya
keberlanjutan ekonomi, sosial dan perlindungan lingkungan. Program penutupan tambang,
justru sudah dimulai sejak tahap operasi tambang dilakukan sampai menjelang areal tersebut
siap untuk dikembalikan ke pemerintah bila telah memenuhi kriteria keberhasilan pasca
tambang.
Sebelum membicarakan pentupan tambang Berau Coal, terlebih dahulu kita mesti mengerti,
bagaimana Berau Coal menambang batubara ?
PT. Berau Coal dan kebanyakan pertambangan batubara di Indonesia, dilakukan dengan
metode tambang terbuka (open pit/surface mining). Selain ada metode lain, metode tambang
bawah tanah (under ground mining). Kriteria utama yang digunakan sebagai acuan dalam
pemilihan metode pertambangan, besarnya nilai perbandingan tanah penutup (waste) yang
harus digali dengan volume atau tonage batubara yang dapat ditambang. Perbandingan ini
dikenal dengan istilah stripping ratio atau waste/coal ratio. Selama perbandingan ini masih
memberikan margin keuntungan yang dapat diterima, tambang terbuka masih dianggap
ekonomis. Selain alasan teknik lainnya, seperti sebagian besar cadangan batubara di Indonesia
terdapat pada dataran rendah atau pegunungan dengan topografi yang landai, lapisan penutup
yang tidak terlalu tebal serta kemiringan yang relatif kecil (< 30 derajat). Sebelum kegiatan
penambang dimulai, pemahaman terhadap desain dan perancangan tambang harus cermat,
terutama menyangkut tata letak dan perencanaan bukan tambang operational (pit slope
design), penentuan target produksi awal dan pekerjaan development, jadwal produksi batubara
serta stripping overburden, rencana penggalian dan penempatan waste. pada dasarnya,
kegiatan penambangan dimulai dengan pembukaan lahan (land clearing), pengupasan dan
penyelamatan tanah (soil removal) dan pemindahan penutup batubara (overburden removal)
dan penambangan batubara.
TEKNIK REKLAMASI
Dengan metode tambang terbuka (open pit) yang dilakukan PT. Berau Coal sampai sekarang,
lahan bekas penambangan yang sudah selesai di tambang segera dilakukan reklamasi dan
revegetasi. Reklamasi merupakan kegiatan untuk merehabilitasi kembali lingkungan yang telah
rusak baik itu akibat penambangan atau kegiatan yang lainnya. Rehabilitasi ini dilakukan
dengan cara penanaman kembali atau penghijauan suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan
penambangan tersebut. Pelaksanaan reklamasi dan revegetasi , dapat dilakukan pula secara
bersamaan sejauh dengan kemajuan aktifitas penambangan. Untuk bekas tambang yang tidak
dapat ditutup kembali, pemanfaatan dapat dilakukan dengan berbagai cara serta tetap
memperhatikan aspek lingkungan, seperti untuk pemanfaatan sebagai kolam cadangan air,
pengembangan ke sektor wisata air, pembudidayaan ikan.
Kegiatan pengelolaan pengupasan tanah dan penimbunan tanah, tidak dapat dilepaskan dari
proses bagaimana tanah yang diangkut dibawa ke lokasi penimbunan tanah (soil stockpile).

Penyelamatan Soil
Kadang tanah hasil pengupasan segera digunakan sebagai pelapis tanah yang telah ditentukan
elevasi dan kemiringannya. Selanjutnya, dilakukan proses perapian dan pembuatan drainase
serta jalan untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman reklamasi. Untuk
mengurangi proses terjadinya erosi dan untuk meningkatkan kesuburan tanah di daerah
penimbunan dan reklamasi permanen, lapisan tanah penutup ini diperlukan penanaman dengan
menggunakan tanaman penutup tanah (cover crops) jenis polongan.
Untuk keperluan tanaman reklamasi, pembibitan menjadi bagian yang sangat penting. Fasilitas
pembibitan untuk memproduksi semai atau bibit yang diperluan untuk revegetasi, diperlukan
beberapa jenis tanaman yang menjadi pilihan antara lain sengon, kaliandra, johar, trembesi,
ketapang, angsana, mahoni, meranti, gaharu, sungkei, sawit, dan kakao.
REVEGETASI LAHAN BEKAS TAMBANG
Untuk penanaman tanaman penutup tanah (cover crops), Berau Coal memilih campuran jenis
tanaman polongan seperti Centrasema pubescens, Colopogonium mucoides, mucuna. Jumlah
200 kg per hektar. Sistim yang dipilih, adalah jalur atau spot pada daerah yang direvegetasi.

Penanaman Cover Crops Sistem Spot

Penanaman LCC Sistem Paritan Pada Slop


Penanaman LCC Sistem Paritan

Kombinasi LCC ( CM, CP, Mucuna)


Selanjutnya, penanaman tanaman pioner atau tanaman yang cepat tumbuh dilakukan
bersamaan dengan penanaman cover crops. Jarak yang dipilih 4m X 4m dan 5m X 5m.

Penanaman Pionir dan LCC


Pemasangan Plang Revegetasi

Tanaman Pioner (Sengon Laut) untuk Revegetasi

Perawatan Tanaman Sistem Jalur


Untuk pilihan tanaman sisipan yang umurnya lebih lama, dilakukan setelah daerah reklamasi
berumur sekitar 2-3 tahun. Proses waktu lebih untuk mendapatkan agar kondisi tajuknya
mencukup, sehingga iklim mikro mendukung tanaman jenis sisipan. Jarak lebih disesuaikan
dengan jenis tanamannya, namun biasanya 5m x 5m dan 10m X 10m.
Penyebaran tanaman penutup tanah dengan bantuan hydroseeding juga telah diperaktekkan di
Berau Coal. Luasan yang diuji sebesar 40 ha, dan difokuskan pada area reklamasi yang cukup
curam yang tidak dapat dikerjakan secara manual. Dalam kurun waktu 2 minggu, biji tanaman
penutup tanah (cover crops) sudah terlihat tumbuh.
Untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman pada lahan bekas tambang,
dapat ditentukan dari presentasi daya tumbuhnya, presentasi penutupan tajuknya,
pertumbuhannya, perkembangan akarnya, penambahan spesies pada lahan tersebut,
peningkatan humus, pengurangan erosi dan fungsi sebagai filter alam. Dengan cara ini, dapat
diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai dalam merestorasi lahan bekas.
Terakhir untuk mendapatkan keberhasilan revegetasi, dilakukan dengan pemeliharaan rutin
meliputi pemupukan berkala, penyaringan, pendangiran, pemangkasan dan penyulaman.

Tanaman Sisipan (Jenis buah-buahan)

Perawatan Tanaman Sisipan


PENUTUP
Pada pasca tambang, kegiatan utama dalam merehabilitasi lahan bertujuan untuk
mengupayakan agar ekosistem berfungsi lebih optimal. Penaatan lahan bekas tambang
disesuaikan dengan penetapan tataruang wilayah bekas tambang. Sehingga, lahan bekas
tambang dapat difungsikan menjadi kawasan lindung ataupun budidaya.
Berau Coal, dalam melakukan perencanaan penutupan tambang selalu memadukan aspek
lingkungan, ekonomi dan sosial dari semua tahapan operasional tambang. Dengan
perencanaan penutupan tambang yang baik ternyata terbukti keberhasilannya di Berau Coal.
Daerah terganggu menjadi berkurang, Potensi erosi tanah dapat dikurangi, meningkatkan
kualitas air, meminimalkan resiko potensi air asam tambang dan tentunya keberhasilan
revegetasi di daerah reklamasi yang dapat dukungan kehidupan satwa yang ada di sekitarnya.
(Disarikan serta diedit dari : Artikel Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara PT. Berau
Coal).

sumber : http://wwwenvdept-environmental.blogspot.com/p/reklamasi-revegetasi_11.html
Leave a comment
Posted by ban9kuy on June 19, 2012 in Eksplorasi, K3 dan Lingkungan Tambang, Tambang Terbuka (Open
Pit Mining)
Tags: islam, pertambangan batubara, pt berau coal, religion, sumber daya, tambang

Tambang Terbuka (Surface Mining)


28MAY

Tambang terbuka (surface mining) merupakan satu dari dua sistem penambangan yang dikenal,
yaitu Tambang terbuka dan Tambang Bawah Tanah. dimana segala kegiatan atau aktivitas
penambangan dilakukan di atas atau relatif dekat permukaan bumi dan tempat kerja
berhubungan langsung dengan dunia luar.

Penambangan pada tambang terbuka itu sendiri dilakukan dengan beberapa tahapan kerja :
pengurusan surat-surat ijin yang dibutuhkan untuk kegiatan penambangan, pembabatan (land
clearing), pengupasan lapisan tanah penutup (stripping of overburden), penambangan
(exploitation), pemuatan (loading), pengangkutan (hauling), dan pengolahan serta pemasaran.
I. Pengelompokan Tambang Terbuka
Pada prinsipnya tambang terbuka dapat digolongkan ke dalam empat golongan :
1. Open pit/Open mine/Open cut/Open cast.
Adalah tambang terbuka yang diterpakan pada penambangan ore (bijih). Misalnya nikel,
tembaga, dan lain-lain.
2. Strip Mine.
Penerapan khusus endapan horizontal/sub-horizontal terutama untuk batubara, dapat juga
endapan garam yang mendatar. Contoh Tamabang Batubara di Tanjung Enim.
3. Quarry
AdalahTambang terbuka yang diterapkan pada endapan mineral industri (industrial mineral).
Contoh Tambang batu pualam di Tulung Agung.
4. Alluvial mining
Dapat dikatakan sebagai placer Mining ataupun di Australia disebut Beach-mine yaitu cara
penambangan untuk endapan placer atau alluvial. Contoh tambang Cassiterite di Pulau
Bangka, belitung dan sekitarnya.
II. Konsiderasi Pada Operasi Penambangan
Secara garis besar, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan kegiatan
penambangan dibagi dalam dua kategori, yaitu faktor teknis dan faktor ekonomi.
1. Kajian Secara Teknis
Unsur unsur teknis yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan aktifitas kegiatan kerja
sebuah proyek penambangan meliputi :
a. Kondisi Umum tempat proyek dilaksanakan
Kondisi Kondisi tempat kerja yang perlu diperhatikan adalah meliputi kondisi geologi, topografi,
iklim dan sosial Budaya. Keadaan umum tersebut mutlak diperhitungkan guna menentukan
penjadwalan waktu kegiatan dan yang utama sekali menetapkan efesiensi kerja kerja efektif
dari pelaksanaan proyek tersebut.
b. Sarana perlengkapan peralatan kerja
Jenis perlengkapan dan peralatan kerja disesuaikan dengan kondisi tempat kerja, maksud
pekerjaaan, kapasitas produksi, dan efektifitas kerja yang diinginkan. Cara pengadaanya
diperhitungkan dengan umur produksi dan efektifitas kerja dan ketersediaan modal kerja yang
di miliki.
c. Metode Pelaksanaan kerja
Dalam proyek ini pelaksanaan kegiatan pembongkaran material dilakukan dengan peledakan.
Metode tersebut dipilih mengingat jenis materialnya memilki kekerasan yang cukup tinggi, fraksi
material yang lepas yang sasaran produksinya telah ditentukan.
2. Kajian Secara Ekonomis
Kajian secara ekonomis dimaksudkan untuk mengetahui sebuah proyek penambangan
memperoleh keuntungan atau tidak. Dalam perhitungan aliran uang diperhatikan beberapa
faktor yang berpengaruh dalam situasi ekonomi. Hal-hal yang diperhatikan tersebut adalah:
Nilai (value) daripada endapan mineral per unit berat (P). dan biasanya dinyatakan
dengan ($/ton) atau (Rp/ton).
Ongkos produksi (C), yaitu ongkos yang diperlukan sampai mendapatkan produknya
diluar ongkos stripping.
Ongkos stripping of overburden (Cob).
Cut Off Grade, akan menentukan batas-batas cadangan sehingga menentukan bentuk
akhir penambangan.
III. Aktifitas Pertambangan Pada Tambang Terbuka
A. Tahap Persiapan
Kegiatan kegiatan yang dilakukan pada awal proses pengambilan atau penambangan bahan
galian terdiri dari tahap persiapan (pra penambangan), Kegiatan tersebut meliputi :
1. Pembuatan Jalan Rintasan

Jalan rintasan berfungsi sebagai jalur lewatnya


alat alat berat ke lokasi tambang, kemudian dikembangkan sebagai jalan angkut material dari
front penambangan ke lokasi pabrik peremukan. Pembuatan jalan diguna-kan dengan memakai
Bulldozer yang nantinya digunakan pula sebagai pengupasan lapisan penutup.
2. Pembersihan Lahan
Pekerjaan ini dilakukan sebelum tahap pengupasan lapisan tanah penutup dimulai. Pekerjaan
ini meliputi pembabatan dan pengumpulan pohon yang tumbuh pada permukaan daerah yang
akan ditambang dengan tujuan untuk membersihkan daerah tambang tersebut sehingga
kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus terganggu dengan adanya
gangguan tetumbuhan yang ada didaerah penambangan.
Kegiatan pembersihan ini dilakukan dengan
menggunakan Bulldozer. Pembersihan dilakukan pada daerah yang akan ditambang yang
mempunyai ketebalan overburden beberapa meter dengan menggunakan Bulldozer dan
dilakukan secara bertahap sesuai dengan pengupasan lapisan
tanah penutup.Dalam pembabatan, pohon didorong kearah bawah lereng untuk dikumpulkan,
dimana penanganan selanjutnya diserahkan pada penduduk setempat.
3. Pengupasan Tanah Penutup

Pembuangan lapisan tanah penutup


dimaksudkan untuk membersihkan endapan batu gamping yang akan digali dari semua macam
pengotor yang menutupi permukaanya, sehingga akan mempermudah pekerjaan
penggaliannya disamping juga hasilnya akan relatif lebih bersih.
Lapisan tanah penutup pada daerah proyek terdiri atas dua jenis yaitu top soil dan lapisan
overburden sehingga lapisan dilakukan terhadap lapisan top soil terlebih dahulu dan
ditempatkan pada suatu daerah tertentu untuk tujuan reklamasi nantinya.
Setelah lapisan top soil terkupas, selanjutnya dilakukan pengupasan pada lapisan overburden
lalu didorong dan ditempatkan pada daerah tertentu dan sebagian lagi digunakan sebagai
pengeras jalan. Kegiatan pengupasan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan
bulldozer, dimana tahap pengupasan awal dilakukan untuk menyiapkan jenjang pertama dan
pengupasan berikutnya dapat dilakukan bersamaan dengan tahap produksi, sehingga pola
yang diterapkan adalah seri dan paralel yang bertujuan untuk :
Menghemat investasi dan biaya persiapan.
Menghindari pengotoran endapan batu gamping dari lapisan penutup, sehingga
mempermudah dalam pekerjaan penggalian.
Menghindari terjadinya longsoran dan bahaya angin.
4. Persiapan Peralatan Penambangan
Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan menggunakan peralatan mekanis.
Adapun alat yang digunakan diperlukan untuk menunjang kegiatan penambangan, yaitu :
Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan pengupasan lapisan tanah
penutup.
Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping hasil dari
pembongkaran keatas alat angkut.
Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front penambangan ke tempat pabrik
peremukan/penggerusan.
Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi sebagai alat preparasi batu
gamping dari front penambangan guna mendapatkan ukuran butiran yang diinginkan oleh
pasar.
Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang akan dipakai sebagai
penerangan, untuk alat pengolahan dan menggerakkan alat alat yang bekerja didalam
pabrik.
Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna memenuhi kebutuhan
peralatan dan karyawan.
5. Persiapan Pabrik Peremukan
Pabrik peremukan ini harus dibuat cukup luas agar dapat menampung material hasil
penambangan sebelum proses peremukan.
a. Pemilihan Lokasi Peremukan dan Stock Pile

Pemilihan lokasi biasanya bedasarkan topografi


daerahnya yang agak landai . Lokasi pabrik dipilih daerah yang relatif datar dan tanpa vegetasi
sehingga hanya perlu proses atau pekerjaan perataan seperlunya saja. dan dekat dengan
Infrastruktur yang ada seperti jalan, dan penerangan.
b. Pemasangan Peralatan pada Pabrik Peremuk
Untuk penempatan mesin peremuk dibutuhkan pondasi yang cukup kuat agar dapat bertahan
cukup lama sesuai dengan proyek yang diselenggarakan dan masalah konstruksi pondasi
diborongkan kepada pihak kontraktor dengan pihak pemasok mesin peremuk sebagai
konsultan.
c. Letak Kantor
Sarana perkantoran digunakan sebagai pusat pengaturan dan pelaksanaan kegiatan kerja
penambangan dan direncanakan berada pada daerah yang mudah dicapai dan dekat dengan
jalan masuk. Bangunan ini dibuat permanen karena dipakai dalam jangka waktu yang sangat
lama sesuai dengan umur proyek.
d. Pusat Perawatan Alat
Dalam menunjang kelancaran operasi dibutuhkan peralatan-peralatan yang selalu dalam
kondisi yang baik dan siap pakai. Untuk itu sangat dibutuhkan suatu sarana sebagai tempat
perawatan peralatan (spare part), agar perawatan terhadap peralatan atau mesin-mesin yang
digunakan dapat dilakukan secara rutin baik itu dalam jenis perawatan yang ringan maupun
pergantiaan suku cadangnya.
e. Penerangan
Sarana penerangan dimaksudkan untuk memberikan penerangan disekitar bangunan, jalan,
dan terutama sekali didalam kegiatan penunjang kerja. Sumber listrik untuk penerangan ini
tidak menjadi satu dengan listrik untuk pabrik, sehingga khusus untuk sarana penerangan ini
diperlukan sebuah generator.
f. SumberAir
Air merupakan sumber sarana yang sangat vital bagi sebuah proyek yang melibatkan banyak
tenaga kerja. Disamping air digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari, air juga dipakai dalam
kegiatan penambangan yang didapat dari air tanah dengan melakukan pemboran.
g. Prasarana Penunjang Lainnya
Yang dimaksud dengan prasarana lain disini adalah prasarana yang dipakai untuk kepentingan
umum dimana selain digunakan oleh perusahaan juga dapat dipakai oleh masyarakat setempat
sehingga mempunyai dampak yang positip terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Prasarana
lainnya meliputi saran olahraga, saran tempat peribadatan, poliklinik, power house, dan pos
keamanan.
B. Operasi Penambangan
Tujuan utama dari kegiatan penambangan adalah pengambilan endapan dari batuan induknya,
sehingga mudah untuk diangkut dan di proses pada proses selanjutnya selanjutnya. Setelah
operasi persiapan penambangan selesai dan pengupasan lapisan tanah penutup pada bagian
atas cadangan batugamping terlaksana (arah kemajuan penambangan dari kontur atas ke
bawah). Maka dapat dimulai kegiatan operasi penambangan.
Kegiatan penambangan terbagi atas tiga kegiatan, yaitu pembongkaran, pemuatan dan
pengangkutan. Adapun rincian dari ketiga kegiatan tersebut adalah:
1. Pembongkaran
Pembongkaran merupakan kegiatan untuk
memisahkan antara endapan bahan galian dengan batuan induk yang dilakukan setelah
pengupasan lapisan tanah penutup endapan batugamping tersebut selesai. Pembongkaran
dapat dilakukan dengan menggunakan peledakan, peralatan mekanis maupun peralatan non
mekanis.
Untuk kegiatan pembongkaran batugamping menggunakan pemboran yang kemudian
dilakukan peledakan. setelah batuan diledakkan kemudian digusur menggunakan alat bulldozer,
yang kemudian dikumpulkan di tepi batas penambangan atau tepi jalan tambang tiap blok.
Banyaknya batugamping yang dibongkar tiap-tiap blok tidak sama, tergantung persyaratan
kualitas yang diminta oleh konsumen.
2. Pemuatan

Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk


memasukkan atau mengisikan material atau endapan bahan galian hasil pembongkaran ke
dalam alat angkut. Kegiatan pemuatan dilakukan setelah kegiatan penggusuran, pemuatan
dilakukan dengan menggunakan alat muat Wheel Loader dan diisikan ke dalam alat angkut.
Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memindahkan batugamping hasil pembongkaran kedalam
alat angkut. Pengangkutan dilakukan dengan sistem siklus, artinya truck yang telah dimuati
langsung berangkat tanpa harus menunggu truck yang lain dan setelah membongkar muatan
langsung kembali ke lokasi penambangan untuk dimuati kembali.
3. Pengangkutan
Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan
untuk mengangkut atau membawa material atau endapan bahan galian dari front penambangan
dibawa ke tempat pengolahan untuk proses lebih lanjut. Kegiatan pengangkutan menggunakan
Dump Truck yang kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk dilakukan proses peremukan
(crushing), jumlah truk yang akan digunakan tergantung dari banyaknya material batugamping
hasil peledakan yang akan diangkut.
C. Pengolahan Dan Pemasaran
1. Pengolahan
Adalah kegiatan yang bertujuan untuk menaikkan kadar atau mempertinggi mutu bahan galian
yang dihasilkan dari tambang sampai memenuhi persyaratan untuk diperdagangkan atau
dipakai sebagai bahan baku untuk bahan industri lain.
Bahan galian yang dihasilkan dari tambang biasanya selain mengandung mineral berharga
yang diingikan juga mengandung mineral pengotor (gangue mineral) sehingga hasil tambang
tidak bisa langsung dimanfaatkan atau diperdagangkan. Untuk menghilangkan mineral pengotor
tersebut sehingga hasil tambang dapat dimanfaatkan atau diperdagangkan, maka dilakukan
dengan pengolahan bahan galian ( ore/mineral dressing).
Proses pemisahan pemisahan antara mineral berharga dengan mineral-mineral pengotor
didasarkan kepada perbedaan baik fisik maupun sifat kimia antara mineral berharga dengan
mineral pengotornya.
Keuntungan lain dari pengolahan bahan galian selain meningkatkan kadar mutunya. Ialah juga
untuk mengurangi jumlah volume dan beratnya sehingga dapat mengurangi jumlah volume dan
beratnya sehingga dapat mengurangi ongkos pengangkutannya.
2. Pemasaran
Pemasaran adalah kegiatan yang bertujuan untuk menjual suatu produk kepada para pemakai
produk atau konsumen dengan harga yang telah ditentukan atau berdasarkan atas perjanjian
antara kedua belah pihak yang bersangkutan. Kegiatan pemasaran dilakukan setelah kegiatan
pengolahan atau setelah syarat-syarat yang telah ditentukan oleh konsumen terhadap mutu
produk terpenuhi.
D. Reklamasi
Reklamasi merupakan pekerjaan-pekerjaan yang bertujuan untuk memperbaiki atau
mengembalikan tata lingkungan hidup agar lebih berdaya guna. Usaha ini harus dilakukan
setiap pengusaha (pengusaha pertambangan) sesuai peraturan pemerintah yang berlaku.
Dalam pelaksanaannya ada beberapa kesulitan untuk reklamasi daerah bekas tambang apabila
tanpa perencanaan pengelolaan yang baik. Kesulitan tersebut antara lain :
1. Tidak dilakukannya pengamatan terhadap tanah humus sehingga dalampelaksanaannya
baanyak tanah humus yang terbuang.
2. Tidak dilakukannya dengan tuntas sehingga terdapat bekas daerahtambang yang
dibiarkan terbuka untuk beberapa lama karena adasebagian tanah galian masih tersisa.
3. Kesulitan penentuan lokasi penimbunan tanah penutup.
Beberapa faktor penting yang saling mempengaruhi lingkungan dari kegiatan pertambangan
antara lain penerapan teknologi pertambangan. Kegiatan faktor ini saling berpengaruh bukan
hanya pada lingkungan diluar pertambangan dimana daya dukung menjadi berkurang, akan
tetapi kegiatan penambangan akan mengalami hambatan dalam kelancaran operasinya.
Reklamasi didaerah bekas tambang dilakukan dengan cara pengambilan kembali tanah
penutup (top soil) ke bekas daerah penambangan kemudian dilakukan pemupukan tanah untuk
mengembalikan kestabilan dan kesuburan tanah. Sehingga dapat ditanami tanaman yang lebih
produktif bagi penduduk setempat, agar tata lingkungan tidak jauh berbeda dengan lingkungan
sebelumnya maka dipilih bibit mahoni sebagai tanaman reklamasi.
Kegiatan reklamasi akan dilakukan setelah kegiatan penambangan selesai, dalam hal ini
setelah penambangan pada suatu daerah selesai dilaksanakan, dengan urutan kegiatan
sebagai berikut :
1. Pengupasan lapisan tanah penutup (top soil) dilaksanakan.
2. Lapisan tanah penutup (top soil) tersebut dikumpulkan pada suatu tempat.
3. Kegiatan penambangan dan pengolahan.
4. Tailing dari proses pengolahan dimasukkan kembali pada blok yang telahditambang.
5. Perataan tinggi daerah penambangan dengan daerah sekelilingnya yang tidak
ditambang.
6. Penyebaran lapisan tanah penutup (top soil).
7. Penanaman dengan tanaman keras yang cocok dengan daerah tersebut.
sumber : http://tambangunsri.blogspot.com/2011/08/tambang-terbuka-surface-mining.html
Leave a comment
Posted by ban9kuy on May 28, 2012 in Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: bangka belitung, islam, penambangan, permukaan bumi, pulau bangka, religion

Menghitung Cadangan Hipotek , Stripping


Ratio, PIT
19APR

Sering dalam kegiatan survey lapangan kita ditanya atau diminta untuk membuat perkiraan
Jumlah cadangan, Striping Ratio, Kedalaman Pit dan Lebar Pit. Bagaimana cara
menentukannya dengan menggunakan perhitungan hipotetik?
Contoh dari hasil survey lapangan pada sebuah KP batubara kita mendapatkan data berikut:
Ditemukan satu lapisan batubara dengan kemiringan lapisan batubara 40 derajat dan ketebalan
5 meter. Nah kita diminta menghitung jumlah cadangan, SR, Kedalaman dan Lebar PIT. Mau
tahu kan .?, ini rahasianya.

Kita punya data: Tebal batubara, Dip batubara, Overall Slope Highwall bisa diperkirakan,
Cropline batubara bisa diperhitungkan dan morfologi dianggap datar.

Caranya dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan perhitungan trigonometri. Dalam


perhitungan ini kita menggunakan cara perhitungan sumber daya hipotetik sebagai berikut.

Keterangan:

T = Tebal batubara,

= Dip batubara,

= Overall slope,

H = Kedalaman tambang,

X1 = Bukaan tambang 1,
X2 = Bukaan tambang 2.

Sekarang kita coba menghitung lapisan batubara yang ditemukan tadi.

A. Lebar Tambang dan Kedalaman Tambang

Dapat dihitung dengan rumus berikut:

Lebar Tambang = X1 + X2

Kedalaman tambang = X1.Tan

dimana:

SR : Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan)

BJ : Berat Jenis/Densitas Batubara

t : Tebal Batubara

: Overal Slope

: Dip

h : Kedalaman Pit
B. Striping Ratio

Striping Ratio yaitu nilai perbandingan antara Overburden yang di buang untuk mendapatkan
per ton Batubara.

SR = OB : Coal

Berdasarkan gambar tadi, jelas rasanya striping ratio dapat dengan mudah untuk dihitung.
Bayangkan gambar tadi suatu section tambang, maka kita dapat menghitung jumlah OB dan
Coal nya.

Jumlah Overburden = x Lebar Bukaan x Kedalaman Pit.

Jumlah Coal = Tebal coal x RD x (H / Sin )

Striping Ratio ; Jumlah Overburden : Jumlah Coal


Jumlah Sumber Daya Batubara

Untuk menghitung Jumlah Sumber Daya batubara dengan perkiraan SR tertentu, maka kita
harus menganggap lapisan batubara ini menerus dengan ketebalan yang relative sama.
Adapun rumus yang digunakan:

Sumber Daya Batubara = Tebal coal x RD x (H / Sin ) x Panjang Cropline


Suber : http://www.primaminingservices.com
2 Comments
Posted by ban9kuy on April 19, 2012 in Eksplorasi, Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: hanya dengan, morfologi, sumber daya, tambang, trigonometri, x1 x2

Air Tanah
05APR
Air tanah
Apa dan Bagaimana Mencarinya?

Pertanyaan diatas seringkali muncul ketika sumber air yang kita gunakan selama ini seperti air
sungai, danau atau air hujan tidak bisa kita dapatkan. Satu hal yang pasti ini adalah salahsatu
jenis air juga.
Hanya dikarenakan jenis air ini tidak terlihat secara langsung, banyak kesalahfahaman dalam
masalah ini. Banyak orang secara umum menganggap airtanah itu sebagai suatu danau atau
sungai yang mengalir di bawah tanah. Padahal, hanya dalam kasus dimana suatu daerah yang
memiliki gua dibawah tanahlah kondisi ini adalah benar. Secara umum airtanah akan mengalir
sangat perlahan melalui suatu celah yang sangat kecil dan atau melalui butiran antar batuan

Gambar 1. Model aliran air tanah melewati rekahan dan butir batuan
Batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah ini kita sebut dengan akifer.
Bagaimana interaksi kita dalam penggunaan airtanah? Yang alami adalah dengan mengambil
airtanah yang muncul di permukaan sebagai mataair atau secara buatan. Untuk pengambilan
airtanah secara buatan, mungkin analogi yang baik adalah apabila kita memegang suatu gelas
yang berisi air dan es. Apabila kita masukkan sedotan, maka akan terlihat bahwa air yang
berada di dalam sedotan akan sama dengan tinggi air di gelas. Ketika kita menghisap air dalam
gelas tersebut terus menerus pada akhirnya kita akan menghisap udara, apabila kita masih
ingin menghisap air yang tersimpan diantara es maka kita harus menghisapnya lebih keras atau
mengubah posisi sedotan. Nah konsep ini hampirlah sama dengan teknis pengambilan airtanah
dalam lapisan akifer (dalam hal ini diwakili oleh es batu) dengan menggunakan pompa (diwakili
oleh sedotan)
Hal yang menarik, jika kita tutup permukaan sedotan maka akan terlihat bahwa muka air di
dalam sedotan akan berbeda dengan muka air didalam gelas. Perbedaan ini akan
mengakibatkan pergerakan air. Sama dengan analog ini, airtanahpun akan bergerak dari
tekanan tinggi menuju ke tekanan rendah. Perbedaan tekanan ini secara umum diakibatkan
oleh gaya gravitasi (perbedaan ketinggian antara daerah pegunungan dengan permukaan laut),
adanya lapisan penutup yang impermeabel diatas lapisan akifer, gaya lainnya yang diakibatkan
oleh pola struktur batuan atau fenomena lainnya yang ada di bawah permukaan tanah.
Pergerakan ini secara umum disebut gradien aliran airtanah (potentiometrik). Secara alamiah
pola gradien ini dapat ditentukan dengan menarik kesamaan muka airtanah yang berada dalam
satu sistem aliran airtanah yang sama.
Mengapa pergerakan atau aliran airtanah ini menjadi penting? Karena disinilah kunci dari
penentuan suatu daerah kaya dengan airtanah atau tidak. Perlu dicatat: tidak seluruh daerah
memiliki potensi air tanah alami yang baik.
Model aliran air tanah itu sendiri akan dimulai pada daerah resapan airtanah atau sering juga
disebut sebagaidaerah imbuhan air tanah (recharge zone). Daerah ini adalah wilayah dimana
air yang berada di permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan mengalami proses
penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan atau celah/rekahan
pada tanah/batuan.
Gambar 2. Model siklus hidrologi
Proses penyusupan ini akan berakumulasi pada satu titik dimana air tersebut menemui suatu
lapisanatau struktur batuan yang bersifat kedap air (impermeabel). Titik akumulasi ini akan
membentuk suatu zona jenuh air (saturated zone) yang seringkali disebut sebagai daerah
luahan air tanah (discharge zone. Perbedaan kondisi fisik secara alami akan mengakibatkan
air dalam zonasi ini akan bergerak/mengalir baik secara gravitasi, perbedaan tekanan, kontrol
struktur batuan dan parameter lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai aliran air tanah.
Daerah aliran airtanah ini selanjutnya disebut sebagai daerah aliran (flow zone).
Dalam perjalananya aliran air tanah ini seringkali melewati suatu lapisan akifer yang di atasnya
memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air (impermeabel) hal ini mengakibatkan
perubahan tekanan antara air tanah yang berada di bawah lapisan penutup dan airtanah yang
berada diatasnya. Perubahan tekanan inilah yang didefinisikan sebagai air tanah tertekan
(confined aquifer) dan air tanah bebas (unconfined aquifer). Dalam kehidupan sehari-hari
pola pemanfaatan air tanah bebas sering kita lihat dalam penggunaan sumur gali oleh
penduduk, sedangkan air tanah tertekan dalam sumur bor yang sebelumnya telah menembus
lapisan penutupnya.
Airtanah bebas(water table) memiliki karakter berfluktuasi terhadap iklim sekitar, mudah
tercemar dan cenderung memiliki kesamaan karakter kimia dengan air hujan. Kemudahannya
untuk didapatkan membuat kecenderungan disebut sebagai airtanah dangkal (dangkal atau
dalam itu sangat relatif ).
Air tanah tertekan/airtanah terhalang inilah yang seringkali disebut sebagai air sumur artesis
(artesian well). Pola pergerakannya yang menghasilkan gradient potensial, mengakibatkan
adanya istilah artesis positif; kejadian dimana potensial air tanah ini berada diatas permukaan
tanah sehingga air tanah akan mengalir vertikal secara alami menuju kesetimbangan garis
potensial khayal ini. Artesis nol; kejadian dimana garis potensial khayal ini sama dengan
permukaan tanah sehingga muka air tanah akan sama dengan muka tanah. Terakhir artesis
negatif; kejadian dimana garis potensial khayal ini dibawah permukaan tanah sehingga muka air
tanah akan berada di bawah permukaan tanah..
Jadi, kalau tukang sumur bilang bahwa dia akan membuat sumur artesis, itu artinya dia akan
mencari air tanah tertekan/air tanah terhalang ini.. belum tentu airnya akan muncrat dari tanah;
Gambar 3. Air Artesis
Lalu air tanah mana yang akan dicari?
Itulah yang pertama kali harus kita tentukan. Tiap jenis air tanah memerlukan metode pencarian
yang spesifik. Tapi secara umum bisa kita bagi menjadi:
Metode berdasarkan aspek fisika (Hidrogeofisika): Penekanannya pada aspek fisik yaitu
merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Beberapa metode yang sudah umum kita dengar
dalam metode ini adalah pengukuran geolistrik yang meliputi pengukuran tahanan jenis, induce
polarisation (IP) dan lain-lain. Pengukuran lainnya adalah dengan menggunakan sesimik, gaya
berat dan banyak lagi.
Metode berdasarkan aspek kimia (Hidrogeokimia): Penekanannya pada aspek kimia yaitu
mencoba merunut pola pergerakan air tanah. Secara teori ketika air melewati suatu media,
maka air ini akan melarutkan komponen yang dilewatinya. Sebagai contoh air yang telah lama
mengalir di bawah permukaan tanah akan memiliki kandungan mineral yang berasal dari
batuan yang dilewatinya secara melimpah.

Metode manakah yang terbaik?


Kombinasi dari kedua metode ini akan saling melengkapi dan akan memudahkan kita untuk
mengetahui lebih lengkap mengenai informasi keberadaan air tanah di daerah kita.
Leave a comment
Posted by ban9kuy on April 5, 2012 in Batu Bara, Eksplorasi, Geology, Kristalografi dan Mineralogi, Mekanika
Batuan, Mekanika Tanah, Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: air hujan, air tanah, batu dengan, menghisap, rekahan, sungai danau

Perencanaan tambang terbuka Coal


17MAR
PERENCANAAN tambang
1. Arti
2. Tujuan
3. Kandungan
4. Proses Perencanaan
5. Persyaratan untuk Perencanaan
6. Macam-macam perencanaan
7. Rancangan Produk

CONCEPTUAL mine PLANNING


1. Pelaksanaan dan Hasil Perencanaan Konseptual Tambang
Langkah-Langkah
Batas ultimate (Koordinat ,Kedalaman) Lokasi
Luas ultimate
Volume ultimate (Cadangan tertambang, Waste)
Rancangan Geometri tambang ultimate dan timbunan ultimate
Rancangan interior tambang (Geometri)
Rencana Urut-urutan penambangan dan penimbunan, penumpukan
Rancangan produk (secara unik)
Jadwal Produksi Jadwal Pemasaran
Umur tambang
Biaya (Investasi dan Operasi)
Kemampulabaan

2. Penerapan Rencana Konseptual


DETAILED mine planning
1. Pelaksanaan dan Hasil Perencanaan Rinci Tambang
Langkah-langkah
Batas Blok, Subblok (5 thn, 1 thn, bulanan)
Luas Blok
Volume Blok
Rancangan geometri subblok (gali-angkut-timbun)
Rancangan interior subblok (gali-angkut-timbun)
Rancangan produk rinci
Jadwal produksi Jadwal Pemasaran Rinci
Alat Rinci
Penunjang
Biaya Rinci
Kemampulabaan

2. Pemanfaatan Rencana Rinci

Penambangan (mining)
Proses menggali cadangan bahan tambang yang berada dalam tanah (insitu) secara sistematik
dan terencana, untuk mendapatkan produk yang dapat dipasarkan
Macam Cara Penambangan
a. Tambang Permukaan (Surface Mining)
b. Tambang Bawah Tanah (Underground Mining

Tambang
a. Menggali batubara in situ sebagai bahan baku, untuk diolah menjadi produk yang akan dijual.
b. Keberadaan batubara dalam bentuk lapisan-lapisan pipih berlapis-lapis diselingi oleh tanah
(batubara) penutup.
c. Kedudukan dan pemunculan batubara dalam tanah menentukan cara penambangan
d. Bentuk bahan galian dalam tanah dapat dianggap terdiri dari kubus-kubus kecil yang
nantinya ditambang
e. Bentuk timbunan luar dan dalam tambang tergantung pada topografi landasan.

Tambang adalah seperti Pabrik


a. Bahan baku berada dalam tanah. (Gods act)
b. Menambang > Mengambil bahan baku secara ekonomik
c. Mengolah > mentransform bahan baku menjadi produk untuk dijual
d. Bahan Tambang (= Bahan Baku Produk Tambang)
# tidak terbarukan
# Bila habis, cari lokasi lain
# Harus hemat
e. Bahan Tambang terdapat di daerah

Tambang Permukaan (Arti)


Tempat penggalian bahan tambang yang dekat dengan permukaan untuk mendapatkan satu
atau lebih produk yang dapat dijual secara ekonomik

Tambang Permukaan (Proses)


a. Kegiatan
Berai, Gali, Muat, Timbun, Tumpuk
b. Cara Gali
* Sumuran Terbuka (Open Pit)
* Kelupas (Strip)
c. Hasil Galian
Produk Tambang
d. Akibat Bukaan
* Timbunan Tanah Penutup
* Bentuk Bukaan : seperti Stadion
* Bentuk Timbunan : Bukit, mendatarkan lembah dll
e. Semakin dalam Nisbah Kupas naik
f. Berhenti bila sudah mendekati batas gali ekonomik
* Nisbah Kupas meningkat sebanding dengan kedalaman
g. Lanjut Ke Tambang Dalam
h. Bila harga batubara naik,Nisbah Kupas dapat dinaikkan
i. Ciri Geometri > Ada lereng berjenjang

Kegiatan Penggalian Tambang Permukaan


a. Menggali, suatu blok masa terbatas. ( seperti memakan coklat/kue tart)
b. Dibuat blok-blok penggalian, dibagi dalam subblok-subblok sesuai dengan satuan waktu dan
mutu/ kadar
c. Dibuat jenjang-jenjang penggalian
d. Urutan penggalian mulai dari titik tertentu ,galian awal (box cut) Kemudian mengikuti pola,
tertentu hingga akhir3
e. Penggalian dilakukan terpilih (selective) supaya produk sesuai dengan rancangan
* Tidak terjadi dilution
* Terjadi pembauran dengan sendirinya antara mutu rendah dan mutu tinggi
* Tidak terjadi longsor
f. Penggalian dalam subblok pada latar kerja suatu jenjang
g. PengupasanTanah Penutup
h. Penggalian Batubara

Kegiatan Penimbunan Hasil Galian Tanah Penutup


a. Penimbunan suatu ruangan kosong seperti menimbun blok-blok coklat, mulai dari bawah
b. Dibuat blok-blok penimbunan dan dibagi dalam subblok-subblok
c. Urutan Penimbunan
* Mulai dari titik tertentu. Timbunan awal. Kemudian mengikuti arah dan pola tertentu, hingga
akhir
d. Penimbunan dilakukan terpilih, Supaya :
* terbaur antara tanah kering dan lumpur
* Tidak terjadi longsor
e. Penimbunan dalam subblok pada latar kerja suatu jenjang
f. Penimbunan diluar tambang, kemudian penimbunan dibekas tambang
g. Penimbunan mulai dari subblok bawah ke subblok atas
h. Tanah penutup bagian atas cenderung menjadi tanah timbunan subblok bawah (alas)

Kegiatan Penumpukan Bahan Galian (Sub Produk) hasil penambangan


a. Menumpuk disuatu stockpile yang dapat terdiri dari beberapa sub stockpile/kompartemen
b. Dibuat pola penumpukan, untuk terjadinya homogenisasi
c. Penumpukan dapat dilakukan terpilih, supaya :
# Terseragamkan (Homogenized)
# Terbaur (Blended)
d. Mutu batubara di Stockpile tergantung pada arah penambangan dan pola penumpukan
Perlunya Perencanaan Tambang dan Perencanaan Produk
a. Semua kegiatan memerlukan perencanaan
b. Perencanaan Carreer
c. Perencanaan Bisnis
d. Perencanaan Laba/Rugi
e. Perencanaan Keluarga
f. Perencanaan untuk merencanakan
PLAN TO PLAN
a. Produk tambang > Perencanaan Produk
b. Proses Penambangan > Perencanaan

Perencanaan Dalam Daur Managemen (Untuk Semua Bidang)

PERENCANAAN TAMBANG
Rencana Tambang
Dokumen resmi yang dibuat secara sistematik dan memuat informasi, apa, dimana, bagaimana,
oleh siapa, berapa, kapan, dengan apa, suatu tambang akan berproduksi
Catatan
Rencana adalah :
a. Simulasi masa depan
b. Perkiraan, asumsi
c. Antisipatif
Rencana merupakan :
a. Keluaran dari suatu proses perencanaan oleh Divisi/Dinas Perencanaan Produksi
b. Acuan terpenting untuk pengambilan keputusan

Kandungan (Contents)
Rencana Tambang terdiri dari :
a. Rencana Produk (Sering dilupakan)
b. Rencana Cadangan yang dapat ditambang
c. Rencana Tambang (Penggalian, Penimbunan, dll)
* Geometri, Exterior, Interior
* Rencana Produksi (Jadwal Produksi)
d. Rencana Alat dan Sarana yang dipakai
e. Umur Tambang
f. Rencana Biaya (Investasi, Operasi)
g. Rencana Laba, Rencana Rugi ?

Proses Perencanaan Tambang


Proses mentransformasi data geologi, topografi, cadangan (mutu/kadar, jumlah) menjadi suatu
rencana Produk rancangan tambang dan rencana penambangan

Persyaratan untuk Perencanaan Tambang


a. Data yang handal (reliable):
Accurate (cermat)
Precise (teliti)
Verified
Validated
b. Personel yang mempunyai :
Competency dan
Motivation
c. Anggaran yang memadai (appropriate)

Catatan :
# Competency :
ability to demonstrate
Knowledge
Skill
# Motivation :
spirit, drive

Macam Rencana Tambang


a. Rencana Konseptual Tambang (Ultimate, global, hingga mined out)
b. Rencana Rinci Tambang (Blockwise, Rinci, Periodik)

Rencana Konseptual Tambang (Global)


a. Merancang produk
b. Merancang bentuk dan geometri ultimate dari tambang (dan timbunan)
c. Menghitung Volume dan Berat (ton)
d. Mendapatkan :
* Cadangan Tertambang : Nisbah Kupas overall
* Cadangan Terpasarkan
e. Menentukan tingkat produksi hingga mined out
f. Menentukan umur tambang
g. Menentukan urutan penambangan dan penimbunan (L.D)
h. Merancang jenjang-jenjang penggalian dan penimbunan
i. Menentukan cara penambangan
j. Menentukan alat

Rencana Rinci Tambang


a. Mengguarantee rancangan produk untuk tiap tahun
b. Merancangan bentuk dan geometri (3 s/d 1 tahunan dari tambang. (dan timbunan).
c. Mendapatkan jumlah dan mutu produk
d. Cadangan tertambang : Nisbah kupas periodik
e. Cadangan Terpasarkan
f. Membuat jadwal produksi rinci (3 s.d. 1 tahun)

PERENCANAAN KONSEPTUAL TAMBANG


1. Arti
Conceptual Mine Planning
Perencanaan tambang secara garis besar, ultimate dan hingga mined out yang meliputi
Produk, cadangan tertambang, Nisbah Kupas Overall, bentuk. geometri, interior, urutan
penambangan , peralatan, jadwal produksi hingga umur tambang, tata letak, biaya, dan
kemampu labaan.

2. Tujuan
Adanya acuan untuk mengetahui
a. Produk yang dapat dihasilkan (Rancangan Produk)
b. Jumlah Cadangan Tertambang dan Nisbah Kupas Keseluruhan
c. Jumlah Cadangan Terpasarkan dan Nilai Tambang
d. Batas Ultimate : Tambang dan Timbunan (L-D)
e. Bentuk Ultimate Tambang dan Timbunan (L-D)
f. Volume Ultimate Tambang dan Timbunan (L-D)
g. Nisbah Kupas (NK overall, NK Pulang Pokok)
h. Tataletak Tambang dan Sarana
i. Luas Lahan yang diperlukan
j. Urut-urutan penambangan dan penimbunan (mulai, arah kemajuan)
k. Jadwal produksi untuk memenuhi permintaan pasar
l. Umur tambang permukaan
m. Alat yang dipakai
n. Biaya investasi, biaya produksi
o. Kemampulabaan
p. Nilai Produk (=Nilai Cadangan)
q. Kelanjutan ke tambang bawah tanah
r. Pemanfaatan lahan pasca tambang
s. Pemeliharaan lingkungan

Data yang diperlukan untuk perencanaan tambang


1. Data Utama
a. Data Legal (Kuasa pertambangan)
* Batas Koordinat
* Luas
* Keadaan Permukaan (Pemilikan, Pemanfaatan dll.)

2. Data Geologi
* Laporan
* Geologi Permukaan
* Geologi Bawah Tanah
* Model Geologi 3D, peta Geologi
* Lithologi, (Macam batuan, Ketebalan Lapisan )
* Sedimentologi
* Struktur Geologi
Lipatan
Patahan
* Petrografi

3. Data Topografi
* Peta Topografi
* Skala 50.000 : 1, 10.000 : 1, 5.000 : 1, 1.000 : 1
* Koordinat
* Garis-Garis Ketinggian ( Kontur)
* Foto Udara
* Citra Satelit
Leave a comment
Posted by ban9kuy on March 17, 2012 in Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: bahan galian, batubara, pemasaran, penambangan, sistematik, underground mining

Category Archives: Tambang Terbuka (Open Pit Mining)


INVESTIGASI GEOTEKNIK
13JAN
1 TUJUAN INVESTIGASI
Investigasi geoteknik atau penyelidikan tanah dan batuan sebagai alas bagi konstruksi jalan rel
adalah tahap yang krusial dalam perencanaan jalan kereta api. Pengalaman menunjukkan
bahwa biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan jalan kereta api dapat membengkak akibat
penyelidikan yang tidak memadai. Biaya dalam tahap penyelidikan geoteknik seringkali ditekan
hingga serendah mungkin, sehingga penyelidikan dilakukan dalam tingkat yang amat kasar, hal
ini pada akhirnya membuahkan parameter tanah yang tidak cukup representatif. Parameter
tanah yang tidak mencerminkan kondisi tanah yang sesungguhnya bermuara pada kesalahan
dalam perencanaan.

Tujuan investigasi geoteknik adalah untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan kondisi
tanah dan air tanah pada suatu lokasi tertentu. Untuk mendapatkan informasi tersebut pada
umumnya dilakukan dengan pengeboran (boring and drilling), dimana contoh tanah diambil
untuk diuji lebih lanjut. Tujuan investigasi geoteknik secara umum dapat diuraikan sebagai
berikut.

Profil perlapisan tanah


Untuk memperoleh profil perlapisan tanah, maka diperlukan pemboran untuk mengambil contoh
tanah pada kedalaman yang berbeda-beda. Dari profil perlapisan tanah informasi penting yang
harus diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Informasi berkenaan dengan jenis lapisan tanah, tebalnya dan kemiringan lapisan-
lapisan tersebut.
2. Lokasi lapisan tanah keras atau lapisan batuan
Variasi perlapisan tanah secara horizontal yang meliputi seluruh proyek.
Kondisi air tanah yang meliputi: a) digunakan untuk menentukan letak muka air tanah
dan tekanannya dan b) digunakan untuk menentukan permeabilitas tanah.
Sifat-sifat fisik tanah dan batuan.
Sifat-sifat mekanika tanah dan batuan, seperti kekuatan dan kompressibiltas.
Hal-hal khusus pada perlapisan tanah, seperti adanya lapisan tipis material lapuk,
adanya kantung-kantung kerikil pada lapisan pasir dan lain-lain.
Informasi-informasi khusus lainnya, seperti adanya kandungan bahan kimia dalam air
tanah, diketahuinya kondisi pondasi struktur di dekat proyek.

2 PROSEDUR INVESTIGASI
Prosedur investigasi geoteknik umumnya melewati tahap-tahapan sebagai berikut:

Reconnaisance
Investigasi pendahuluan
Investigasi rinci
Penyelidikan selama konstruksi
Tahap-tahap investigasi yang disebutkan di atas pada hakikatnya menunjukkan tingkatan
investigasi yang diperlukan. Tahap investigasi tertentu akan memberi petunjuk apakah perlu
melakukan investigasi pada tahap berikutnya. Sebagai contoh, informasi yang diperoleh dalam
tahap reconnaissance akan menjadi petunjuk untuk melakukan investigasi pendahuluan
berkenaan dengan hal-hal yang perlu diinvestigasi lebih lanjut. Dalam melakukan investigasi
tidak selalu diperlukan melakukan 4 tahap investigasi secara berturut-turut. Jika dianggap
cukup, maka investigasi hanya sampai pada tahap investigasi pendahuluan, tergantung pada
tingkat kompleksitas perlapisan tanah yang ada dan struktur yang akan dibangun.

Sumber : http://www.dardela.com
Leave a comment
Posted by ban9kuy on January 13, 2013 in Tambang Terbuka (Open Pit Mining), Teknik Terowongan
Tags: air tanah, batuan, islam, kereta api, mekanika tanah

Ruang Lingkup Perencanaan Tambang


22JUN
Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya dibagi
menjadi tugas-tugas sebagai berikut :
1. Penentuan Batas dari Pit
Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu cebakan
bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan ditambang (tonase dan
kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut. Dalam
penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum diperhitungkan.
2. Perancangan Pushback

Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang habis


cadangan bijih tersebut mulaid ari titik masuk awal hingga ke batas akhir dari pit. Perancangan
pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi ultimate pit menjadi unit-unit
perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah
perancangan tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini
elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke dalam rancangan penambangan karena urut-urutan
penambangan pushback telah mulai dipertimbangkan.
3. Penjadwalan Produksi

Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang
mengikuti urutan pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk
tiap pushback yang diperoleh dari tahap 2). Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut off grade)
dan berbagai tingkat produksi bijih dan waste dievaluasi dengan menggunakan kriteria nilai
waktu dari uang, misalnya net present value. Hasilnya akan dipakai untuk menentukan
sasaran jadwal produksi yang akan memberikan tingkat produksi dan strategi kadar batas yang
terbaik.
4. Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu

Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar atau
peta-peta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun).
Peta-peta ini menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang datangnya bijih
dan waste untuk tahun tersebut. Rencana penambangan tahunan ini sudah cukup rinci, di
dalamnya sudah termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian rupa sehingga
merupakan bentuk yang dapat ditambang. Peta rencana pembuangan lapisan penutup (waste
dump) dibuat pula untuk periode waktu yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari
kegiatan penambangan dapat terlihat.
5. Pemilihan Alat

Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari tahap 4)
dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu. Dengan mengukur profil jalan
angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode
(setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.)
dihitung pula.
6. Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital
Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung jumlah gilir
kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi. Jumlah dan jadwal
kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat
ditentukan. Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.
Leave a comment
Posted by ban9kuy on June 22, 2012 in Dunia Pertambagan, Eksplorasi, Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: islam, perencanaan, peta peta, religion, urut, urutan

Reklamasi Tambang
19JUN
PENUTUPAN TAMBANG

Pada dasarnya, selain pertambangan batubara memberikan manfaat ekonomi langsung,


tidak dipungkiri pertambangan juga berpotensi menyebabkan gangguan lingkungan, termasuk
fungsi lahan dan hutan. Tekanan yang besar terhadap isu lingkungan diakibatkan oleh perilaku
beberapa pelaku usaha pertambangan, memang harus dikoreksi. Juga kadang, ketidaktahuan
masyarakat terhadap industri pertambangan secara makro. Ketidaktahuan, kadang
memunculkan presepsi keliru terhadap industri pertambangan secara keseluruhan. Padahal,
salah satu tujuan kegiatan pertambangan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi
bagi pelaku usaha pertambangan, segala yang menyebabkan ketidaktahuan masyarakat,
termasuk isu keruskan lingkungan, harus di luruskan.
Industri pertambangan batubara, termasuk PT. Berau Coal, memiliki keterkaitan yang erat
dengan upaya global melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Komitmen utuk melakukan
pembangunan berkelanjutan, sangatlah penting bagi perusahaan untuk mendapatkan dan
mempertahankan izin sosial operasi dalam masyarakat.
Masa depan industri pertambangan tergantung dari warisan yang ditinggalkannya. Reputasi
perusahaan, tidak saja dinilai pada saat memberikan manfaat selama operasi tambang. Namun,
juga tidak dilepaskan dari beberapa jauh tanggung jawab perusahaan terhadap proses
penutupan tambang.
Di masa sekarang, kalangan industri pertambangan telah menyadari bahwa untuk
mendapatkan akses ke sumber daya di masa depan, mereka harus menunjukkan mampu
menutup tambang (mine closure) secara efektif dan mendapatkan dukungan dari pemangku
kepentingan (stakeholder), khususnya masyarakat tempat tambang beroperasi. Ekspektasi dari
regulasi dan pemangku kepentingan semakin tinggi, sehingga untuk dapat mencapai hasil
maksimal, diperlukan metode yang benar serta diparalel dengan konsultasi dengan pemangku
kepentingan secara rutin.
Pentupan tambang yang buruk atau bahkan ditelantarkan akan menyebabkan masalah warisan
yang sulit bagi pemerinyah, masyarakat, perusahaan dan pada akhirnya akan merusak citra
industri pertambangan secara keseluruhan.
BAGAIMANA DENGAN BERAU COAL
Metode Penambangan
Setiap langkah korporasi, termasuk konsep pentupan tambang PT. Berau Coal, tidak lepas dari
motto perusahaan To Be Useful to Mankind in Enhancing their Quality of Life. Dengan dasar ini,
penerangan pengelolaan pasca tambang selalu mencangkup program yang menjamin adanya
keberlanjutan ekonomi, sosial dan perlindungan lingkungan. Program penutupan tambang,
justru sudah dimulai sejak tahap operasi tambang dilakukan sampai menjelang areal tersebut
siap untuk dikembalikan ke pemerintah bila telah memenuhi kriteria keberhasilan pasca
tambang.
Sebelum membicarakan pentupan tambang Berau Coal, terlebih dahulu kita mesti mengerti,
bagaimana Berau Coal menambang batubara ?
PT. Berau Coal dan kebanyakan pertambangan batubara di Indonesia, dilakukan dengan
metode tambang terbuka (open pit/surface mining). Selain ada metode lain, metode tambang
bawah tanah (under ground mining). Kriteria utama yang digunakan sebagai acuan dalam
pemilihan metode pertambangan, besarnya nilai perbandingan tanah penutup (waste) yang
harus digali dengan volume atau tonage batubara yang dapat ditambang. Perbandingan ini
dikenal dengan istilah stripping ratio atau waste/coal ratio. Selama perbandingan ini masih
memberikan margin keuntungan yang dapat diterima, tambang terbuka masih dianggap
ekonomis. Selain alasan teknik lainnya, seperti sebagian besar cadangan batubara di Indonesia
terdapat pada dataran rendah atau pegunungan dengan topografi yang landai, lapisan penutup
yang tidak terlalu tebal serta kemiringan yang relatif kecil (< 30 derajat). Sebelum kegiatan
penambang dimulai, pemahaman terhadap desain dan perancangan tambang harus cermat,
terutama menyangkut tata letak dan perencanaan bukan tambang operational (pit slope
design), penentuan target produksi awal dan pekerjaan development, jadwal produksi batubara
serta stripping overburden, rencana penggalian dan penempatan waste. pada dasarnya,
kegiatan penambangan dimulai dengan pembukaan lahan (land clearing), pengupasan dan
penyelamatan tanah (soil removal) dan pemindahan penutup batubara (overburden removal)
dan penambangan batubara.
TEKNIK REKLAMASI
Dengan metode tambang terbuka (open pit) yang dilakukan PT. Berau Coal sampai sekarang,
lahan bekas penambangan yang sudah selesai di tambang segera dilakukan reklamasi dan
revegetasi. Reklamasi merupakan kegiatan untuk merehabilitasi kembali lingkungan yang telah
rusak baik itu akibat penambangan atau kegiatan yang lainnya. Rehabilitasi ini dilakukan
dengan cara penanaman kembali atau penghijauan suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan
penambangan tersebut. Pelaksanaan reklamasi dan revegetasi , dapat dilakukan pula secara
bersamaan sejauh dengan kemajuan aktifitas penambangan. Untuk bekas tambang yang tidak
dapat ditutup kembali, pemanfaatan dapat dilakukan dengan berbagai cara serta tetap
memperhatikan aspek lingkungan, seperti untuk pemanfaatan sebagai kolam cadangan air,
pengembangan ke sektor wisata air, pembudidayaan ikan.
Kegiatan pengelolaan pengupasan tanah dan penimbunan tanah, tidak dapat dilepaskan dari
proses bagaimana tanah yang diangkut dibawa ke lokasi penimbunan tanah (soil stockpile).

Penyelamatan Soil
Kadang tanah hasil pengupasan segera digunakan sebagai pelapis tanah yang telah ditentukan
elevasi dan kemiringannya. Selanjutnya, dilakukan proses perapian dan pembuatan drainase
serta jalan untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman reklamasi. Untuk
mengurangi proses terjadinya erosi dan untuk meningkatkan kesuburan tanah di daerah
penimbunan dan reklamasi permanen, lapisan tanah penutup ini diperlukan penanaman dengan
menggunakan tanaman penutup tanah (cover crops) jenis polongan.
Untuk keperluan tanaman reklamasi, pembibitan menjadi bagian yang sangat penting. Fasilitas
pembibitan untuk memproduksi semai atau bibit yang diperluan untuk revegetasi, diperlukan
beberapa jenis tanaman yang menjadi pilihan antara lain sengon, kaliandra, johar, trembesi,
ketapang, angsana, mahoni, meranti, gaharu, sungkei, sawit, dan kakao.
REVEGETASI LAHAN BEKAS TAMBANG
Untuk penanaman tanaman penutup tanah (cover crops), Berau Coal memilih campuran jenis
tanaman polongan seperti Centrasema pubescens, Colopogonium mucoides, mucuna. Jumlah
200 kg per hektar. Sistim yang dipilih, adalah jalur atau spot pada daerah yang direvegetasi.
Penanaman Cover Crops Sistem Spot

Penanaman LCC Sistem Paritan Pada Slop

Penanaman LCC Sistem Paritan

Kombinasi LCC ( CM, CP, Mucuna)


Selanjutnya, penanaman tanaman pioner atau tanaman yang cepat tumbuh dilakukan
bersamaan dengan penanaman cover crops. Jarak yang dipilih 4m X 4m dan 5m X 5m.
Penanaman Pionir dan LCC

Pemasangan Plang Revegetasi

Tanaman Pioner (Sengon Laut) untuk Revegetasi


Perawatan Tanaman Sistem Jalur
Untuk pilihan tanaman sisipan yang umurnya lebih lama, dilakukan setelah daerah reklamasi
berumur sekitar 2-3 tahun. Proses waktu lebih untuk mendapatkan agar kondisi tajuknya
mencukup, sehingga iklim mikro mendukung tanaman jenis sisipan. Jarak lebih disesuaikan
dengan jenis tanamannya, namun biasanya 5m x 5m dan 10m X 10m.
Penyebaran tanaman penutup tanah dengan bantuan hydroseeding juga telah diperaktekkan di
Berau Coal. Luasan yang diuji sebesar 40 ha, dan difokuskan pada area reklamasi yang cukup
curam yang tidak dapat dikerjakan secara manual. Dalam kurun waktu 2 minggu, biji tanaman
penutup tanah (cover crops) sudah terlihat tumbuh.
Untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman pada lahan bekas tambang,
dapat ditentukan dari presentasi daya tumbuhnya, presentasi penutupan tajuknya,
pertumbuhannya, perkembangan akarnya, penambahan spesies pada lahan tersebut,
peningkatan humus, pengurangan erosi dan fungsi sebagai filter alam. Dengan cara ini, dapat
diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai dalam merestorasi lahan bekas.
Terakhir untuk mendapatkan keberhasilan revegetasi, dilakukan dengan pemeliharaan rutin
meliputi pemupukan berkala, penyaringan, pendangiran, pemangkasan dan penyulaman.

Tanaman Sisipan (Jenis buah-buahan)


Perawatan Tanaman Sisipan
PENUTUP
Pada pasca tambang, kegiatan utama dalam merehabilitasi lahan bertujuan untuk
mengupayakan agar ekosistem berfungsi lebih optimal. Penaatan lahan bekas tambang
disesuaikan dengan penetapan tataruang wilayah bekas tambang. Sehingga, lahan bekas
tambang dapat difungsikan menjadi kawasan lindung ataupun budidaya.
Berau Coal, dalam melakukan perencanaan penutupan tambang selalu memadukan aspek
lingkungan, ekonomi dan sosial dari semua tahapan operasional tambang. Dengan
perencanaan penutupan tambang yang baik ternyata terbukti keberhasilannya di Berau Coal.
Daerah terganggu menjadi berkurang, Potensi erosi tanah dapat dikurangi, meningkatkan
kualitas air, meminimalkan resiko potensi air asam tambang dan tentunya keberhasilan
revegetasi di daerah reklamasi yang dapat dukungan kehidupan satwa yang ada di sekitarnya.
(Disarikan serta diedit dari : Artikel Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara PT. Berau
Coal).

sumber : http://wwwenvdept-environmental.blogspot.com/p/reklamasi-revegetasi_11.html
Leave a comment
Posted by ban9kuy on June 19, 2012 in Eksplorasi, K3 dan Lingkungan Tambang, Tambang Terbuka (Open
Pit Mining)
Tags: islam, pertambangan batubara, pt berau coal, religion, sumber daya, tambang

Tambang Terbuka (Surface Mining)


28MAY
Tambang terbuka (surface mining) merupakan satu dari dua sistem penambangan yang dikenal,
yaitu Tambang terbuka dan Tambang Bawah Tanah. dimana segala kegiatan atau aktivitas
penambangan dilakukan di atas atau relatif dekat permukaan bumi dan tempat kerja
berhubungan langsung dengan dunia luar.

Penambangan pada tambang terbuka itu sendiri dilakukan dengan beberapa tahapan kerja :
pengurusan surat-surat ijin yang dibutuhkan untuk kegiatan penambangan, pembabatan (land
clearing), pengupasan lapisan tanah penutup (stripping of overburden), penambangan
(exploitation), pemuatan (loading), pengangkutan (hauling), dan pengolahan serta pemasaran.
I. Pengelompokan Tambang Terbuka
Pada prinsipnya tambang terbuka dapat digolongkan ke dalam empat golongan :
1. Open pit/Open mine/Open cut/Open cast.
Adalah tambang terbuka yang diterpakan pada penambangan ore (bijih). Misalnya nikel,
tembaga, dan lain-lain.
2. Strip Mine.
Penerapan khusus endapan horizontal/sub-horizontal terutama untuk batubara, dapat juga
endapan garam yang mendatar. Contoh Tamabang Batubara di Tanjung Enim.
3. Quarry
AdalahTambang terbuka yang diterapkan pada endapan mineral industri (industrial mineral).
Contoh Tambang batu pualam di Tulung Agung.
4. Alluvial mining
Dapat dikatakan sebagai placer Mining ataupun di Australia disebut Beach-mine yaitu cara
penambangan untuk endapan placer atau alluvial. Contoh tambang Cassiterite di Pulau
Bangka, belitung dan sekitarnya.
II. Konsiderasi Pada Operasi Penambangan
Secara garis besar, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan kegiatan
penambangan dibagi dalam dua kategori, yaitu faktor teknis dan faktor ekonomi.
1. Kajian Secara Teknis
Unsur unsur teknis yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan aktifitas kegiatan kerja
sebuah proyek penambangan meliputi :
a. Kondisi Umum tempat proyek dilaksanakan
Kondisi Kondisi tempat kerja yang perlu diperhatikan adalah meliputi kondisi geologi, topografi,
iklim dan sosial Budaya. Keadaan umum tersebut mutlak diperhitungkan guna menentukan
penjadwalan waktu kegiatan dan yang utama sekali menetapkan efesiensi kerja kerja efektif
dari pelaksanaan proyek tersebut.
b. Sarana perlengkapan peralatan kerja
Jenis perlengkapan dan peralatan kerja disesuaikan dengan kondisi tempat kerja, maksud
pekerjaaan, kapasitas produksi, dan efektifitas kerja yang diinginkan. Cara pengadaanya
diperhitungkan dengan umur produksi dan efektifitas kerja dan ketersediaan modal kerja yang
di miliki.
c. Metode Pelaksanaan kerja
Dalam proyek ini pelaksanaan kegiatan pembongkaran material dilakukan dengan peledakan.
Metode tersebut dipilih mengingat jenis materialnya memilki kekerasan yang cukup tinggi, fraksi
material yang lepas yang sasaran produksinya telah ditentukan.
2. Kajian Secara Ekonomis
Kajian secara ekonomis dimaksudkan untuk mengetahui sebuah proyek penambangan
memperoleh keuntungan atau tidak. Dalam perhitungan aliran uang diperhatikan beberapa
faktor yang berpengaruh dalam situasi ekonomi. Hal-hal yang diperhatikan tersebut adalah:
Nilai (value) daripada endapan mineral per unit berat (P). dan biasanya dinyatakan
dengan ($/ton) atau (Rp/ton).
Ongkos produksi (C), yaitu ongkos yang diperlukan sampai mendapatkan produknya
diluar ongkos stripping.
Ongkos stripping of overburden (Cob).
Cut Off Grade, akan menentukan batas-batas cadangan sehingga menentukan bentuk
akhir penambangan.
III. Aktifitas Pertambangan Pada Tambang Terbuka
A. Tahap Persiapan
Kegiatan kegiatan yang dilakukan pada awal proses pengambilan atau penambangan bahan
galian terdiri dari tahap persiapan (pra penambangan), Kegiatan tersebut meliputi :
1. Pembuatan Jalan Rintasan

Jalan rintasan berfungsi sebagai jalur lewatnya


alat alat berat ke lokasi tambang, kemudian dikembangkan sebagai jalan angkut material dari
front penambangan ke lokasi pabrik peremukan. Pembuatan jalan diguna-kan dengan memakai
Bulldozer yang nantinya digunakan pula sebagai pengupasan lapisan penutup.
2. Pembersihan Lahan
Pekerjaan ini dilakukan sebelum tahap pengupasan lapisan tanah penutup dimulai. Pekerjaan
ini meliputi pembabatan dan pengumpulan pohon yang tumbuh pada permukaan daerah yang
akan ditambang dengan tujuan untuk membersihkan daerah tambang tersebut sehingga
kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus terganggu dengan adanya
gangguan tetumbuhan yang ada didaerah penambangan.

Kegiatan pembersihan ini dilakukan dengan


menggunakan Bulldozer. Pembersihan dilakukan pada daerah yang akan ditambang yang
mempunyai ketebalan overburden beberapa meter dengan menggunakan Bulldozer dan
dilakukan secara bertahap sesuai dengan pengupasan lapisan
tanah penutup.Dalam pembabatan, pohon didorong kearah bawah lereng untuk dikumpulkan,
dimana penanganan selanjutnya diserahkan pada penduduk setempat.
3. Pengupasan Tanah Penutup

Pembuangan lapisan tanah penutup


dimaksudkan untuk membersihkan endapan batu gamping yang akan digali dari semua macam
pengotor yang menutupi permukaanya, sehingga akan mempermudah pekerjaan
penggaliannya disamping juga hasilnya akan relatif lebih bersih.
Lapisan tanah penutup pada daerah proyek terdiri atas dua jenis yaitu top soil dan lapisan
overburden sehingga lapisan dilakukan terhadap lapisan top soil terlebih dahulu dan
ditempatkan pada suatu daerah tertentu untuk tujuan reklamasi nantinya.
Setelah lapisan top soil terkupas, selanjutnya dilakukan pengupasan pada lapisan overburden
lalu didorong dan ditempatkan pada daerah tertentu dan sebagian lagi digunakan sebagai
pengeras jalan. Kegiatan pengupasan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan
bulldozer, dimana tahap pengupasan awal dilakukan untuk menyiapkan jenjang pertama dan
pengupasan berikutnya dapat dilakukan bersamaan dengan tahap produksi, sehingga pola
yang diterapkan adalah seri dan paralel yang bertujuan untuk :
Menghemat investasi dan biaya persiapan.
Menghindari pengotoran endapan batu gamping dari lapisan penutup, sehingga
mempermudah dalam pekerjaan penggalian.
Menghindari terjadinya longsoran dan bahaya angin.
4. Persiapan Peralatan Penambangan
Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan menggunakan peralatan mekanis.
Adapun alat yang digunakan diperlukan untuk menunjang kegiatan penambangan, yaitu :
Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan pengupasan lapisan tanah
penutup.
Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping hasil dari
pembongkaran keatas alat angkut.
Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front penambangan ke tempat pabrik
peremukan/penggerusan.
Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi sebagai alat preparasi batu
gamping dari front penambangan guna mendapatkan ukuran butiran yang diinginkan oleh
pasar.
Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang akan dipakai sebagai
penerangan, untuk alat pengolahan dan menggerakkan alat alat yang bekerja didalam
pabrik.
Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna memenuhi kebutuhan
peralatan dan karyawan.
5. Persiapan Pabrik Peremukan
Pabrik peremukan ini harus dibuat cukup luas agar dapat menampung material hasil
penambangan sebelum proses peremukan.
a. Pemilihan Lokasi Peremukan dan Stock Pile
Pemilihan lokasi biasanya bedasarkan topografi
daerahnya yang agak landai . Lokasi pabrik dipilih daerah yang relatif datar dan tanpa vegetasi
sehingga hanya perlu proses atau pekerjaan perataan seperlunya saja. dan dekat dengan
Infrastruktur yang ada seperti jalan, dan penerangan.
b. Pemasangan Peralatan pada Pabrik Peremuk
Untuk penempatan mesin peremuk dibutuhkan pondasi yang cukup kuat agar dapat bertahan
cukup lama sesuai dengan proyek yang diselenggarakan dan masalah konstruksi pondasi
diborongkan kepada pihak kontraktor dengan pihak pemasok mesin peremuk sebagai
konsultan.
c. Letak Kantor
Sarana perkantoran digunakan sebagai pusat pengaturan dan pelaksanaan kegiatan kerja
penambangan dan direncanakan berada pada daerah yang mudah dicapai dan dekat dengan
jalan masuk. Bangunan ini dibuat permanen karena dipakai dalam jangka waktu yang sangat
lama sesuai dengan umur proyek.
d. Pusat Perawatan Alat
Dalam menunjang kelancaran operasi dibutuhkan peralatan-peralatan yang selalu dalam
kondisi yang baik dan siap pakai. Untuk itu sangat dibutuhkan suatu sarana sebagai tempat
perawatan peralatan (spare part), agar perawatan terhadap peralatan atau mesin-mesin yang
digunakan dapat dilakukan secara rutin baik itu dalam jenis perawatan yang ringan maupun
pergantiaan suku cadangnya.
e. Penerangan
Sarana penerangan dimaksudkan untuk memberikan penerangan disekitar bangunan, jalan,
dan terutama sekali didalam kegiatan penunjang kerja. Sumber listrik untuk penerangan ini
tidak menjadi satu dengan listrik untuk pabrik, sehingga khusus untuk sarana penerangan ini
diperlukan sebuah generator.
f. SumberAir
Air merupakan sumber sarana yang sangat vital bagi sebuah proyek yang melibatkan banyak
tenaga kerja. Disamping air digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari, air juga dipakai dalam
kegiatan penambangan yang didapat dari air tanah dengan melakukan pemboran.
g. Prasarana Penunjang Lainnya
Yang dimaksud dengan prasarana lain disini adalah prasarana yang dipakai untuk kepentingan
umum dimana selain digunakan oleh perusahaan juga dapat dipakai oleh masyarakat setempat
sehingga mempunyai dampak yang positip terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Prasarana
lainnya meliputi saran olahraga, saran tempat peribadatan, poliklinik, power house, dan pos
keamanan.
B. Operasi Penambangan
Tujuan utama dari kegiatan penambangan adalah pengambilan endapan dari batuan induknya,
sehingga mudah untuk diangkut dan di proses pada proses selanjutnya selanjutnya. Setelah
operasi persiapan penambangan selesai dan pengupasan lapisan tanah penutup pada bagian
atas cadangan batugamping terlaksana (arah kemajuan penambangan dari kontur atas ke
bawah). Maka dapat dimulai kegiatan operasi penambangan.
Kegiatan penambangan terbagi atas tiga kegiatan, yaitu pembongkaran, pemuatan dan
pengangkutan. Adapun rincian dari ketiga kegiatan tersebut adalah:
1. Pembongkaran

Pembongkaran merupakan kegiatan untuk


memisahkan antara endapan bahan galian dengan batuan induk yang dilakukan setelah
pengupasan lapisan tanah penutup endapan batugamping tersebut selesai. Pembongkaran
dapat dilakukan dengan menggunakan peledakan, peralatan mekanis maupun peralatan non
mekanis.
Untuk kegiatan pembongkaran batugamping menggunakan pemboran yang kemudian
dilakukan peledakan. setelah batuan diledakkan kemudian digusur menggunakan alat bulldozer,
yang kemudian dikumpulkan di tepi batas penambangan atau tepi jalan tambang tiap blok.
Banyaknya batugamping yang dibongkar tiap-tiap blok tidak sama, tergantung persyaratan
kualitas yang diminta oleh konsumen.
2. Pemuatan
Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk
memasukkan atau mengisikan material atau endapan bahan galian hasil pembongkaran ke
dalam alat angkut. Kegiatan pemuatan dilakukan setelah kegiatan penggusuran, pemuatan
dilakukan dengan menggunakan alat muat Wheel Loader dan diisikan ke dalam alat angkut.
Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memindahkan batugamping hasil pembongkaran kedalam
alat angkut. Pengangkutan dilakukan dengan sistem siklus, artinya truck yang telah dimuati
langsung berangkat tanpa harus menunggu truck yang lain dan setelah membongkar muatan
langsung kembali ke lokasi penambangan untuk dimuati kembali.
3. Pengangkutan

Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan


untuk mengangkut atau membawa material atau endapan bahan galian dari front penambangan
dibawa ke tempat pengolahan untuk proses lebih lanjut. Kegiatan pengangkutan menggunakan
Dump Truck yang kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk dilakukan proses peremukan
(crushing), jumlah truk yang akan digunakan tergantung dari banyaknya material batugamping
hasil peledakan yang akan diangkut.
C. Pengolahan Dan Pemasaran
1. Pengolahan
Adalah kegiatan yang bertujuan untuk menaikkan kadar atau mempertinggi mutu bahan galian
yang dihasilkan dari tambang sampai memenuhi persyaratan untuk diperdagangkan atau
dipakai sebagai bahan baku untuk bahan industri lain.
Bahan galian yang dihasilkan dari tambang biasanya selain mengandung mineral berharga
yang diingikan juga mengandung mineral pengotor (gangue mineral) sehingga hasil tambang
tidak bisa langsung dimanfaatkan atau diperdagangkan. Untuk menghilangkan mineral pengotor
tersebut sehingga hasil tambang dapat dimanfaatkan atau diperdagangkan, maka dilakukan
dengan pengolahan bahan galian ( ore/mineral dressing).
Proses pemisahan pemisahan antara mineral berharga dengan mineral-mineral pengotor
didasarkan kepada perbedaan baik fisik maupun sifat kimia antara mineral berharga dengan
mineral pengotornya.
Keuntungan lain dari pengolahan bahan galian selain meningkatkan kadar mutunya. Ialah juga
untuk mengurangi jumlah volume dan beratnya sehingga dapat mengurangi jumlah volume dan
beratnya sehingga dapat mengurangi ongkos pengangkutannya.
2. Pemasaran
Pemasaran adalah kegiatan yang bertujuan untuk menjual suatu produk kepada para pemakai
produk atau konsumen dengan harga yang telah ditentukan atau berdasarkan atas perjanjian
antara kedua belah pihak yang bersangkutan. Kegiatan pemasaran dilakukan setelah kegiatan
pengolahan atau setelah syarat-syarat yang telah ditentukan oleh konsumen terhadap mutu
produk terpenuhi.
D. Reklamasi
Reklamasi merupakan pekerjaan-pekerjaan yang bertujuan untuk memperbaiki atau
mengembalikan tata lingkungan hidup agar lebih berdaya guna. Usaha ini harus dilakukan
setiap pengusaha (pengusaha pertambangan) sesuai peraturan pemerintah yang berlaku.
Dalam pelaksanaannya ada beberapa kesulitan untuk reklamasi daerah bekas tambang apabila
tanpa perencanaan pengelolaan yang baik. Kesulitan tersebut antara lain :
1. Tidak dilakukannya pengamatan terhadap tanah humus sehingga dalampelaksanaannya
baanyak tanah humus yang terbuang.
2. Tidak dilakukannya dengan tuntas sehingga terdapat bekas daerahtambang yang
dibiarkan terbuka untuk beberapa lama karena adasebagian tanah galian masih tersisa.
3. Kesulitan penentuan lokasi penimbunan tanah penutup.
Beberapa faktor penting yang saling mempengaruhi lingkungan dari kegiatan pertambangan
antara lain penerapan teknologi pertambangan. Kegiatan faktor ini saling berpengaruh bukan
hanya pada lingkungan diluar pertambangan dimana daya dukung menjadi berkurang, akan
tetapi kegiatan penambangan akan mengalami hambatan dalam kelancaran operasinya.
Reklamasi didaerah bekas tambang dilakukan dengan cara pengambilan kembali tanah
penutup (top soil) ke bekas daerah penambangan kemudian dilakukan pemupukan tanah untuk
mengembalikan kestabilan dan kesuburan tanah. Sehingga dapat ditanami tanaman yang lebih
produktif bagi penduduk setempat, agar tata lingkungan tidak jauh berbeda dengan lingkungan
sebelumnya maka dipilih bibit mahoni sebagai tanaman reklamasi.
Kegiatan reklamasi akan dilakukan setelah kegiatan penambangan selesai, dalam hal ini
setelah penambangan pada suatu daerah selesai dilaksanakan, dengan urutan kegiatan
sebagai berikut :
1. Pengupasan lapisan tanah penutup (top soil) dilaksanakan.
2. Lapisan tanah penutup (top soil) tersebut dikumpulkan pada suatu tempat.
3. Kegiatan penambangan dan pengolahan.
4. Tailing dari proses pengolahan dimasukkan kembali pada blok yang telahditambang.
5. Perataan tinggi daerah penambangan dengan daerah sekelilingnya yang tidak
ditambang.
6. Penyebaran lapisan tanah penutup (top soil).
7. Penanaman dengan tanaman keras yang cocok dengan daerah tersebut.
sumber : http://tambangunsri.blogspot.com/2011/08/tambang-terbuka-surface-mining.html
Leave a comment
Posted by ban9kuy on May 28, 2012 in Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: bangka belitung, islam, penambangan, permukaan bumi, pulau bangka, religion

Menghitung Cadangan Hipotek , Stripping


Ratio, PIT
19APR

Sering dalam kegiatan survey lapangan kita ditanya atau diminta untuk membuat perkiraan
Jumlah cadangan, Striping Ratio, Kedalaman Pit dan Lebar Pit. Bagaimana cara
menentukannya dengan menggunakan perhitungan hipotetik?

Contoh dari hasil survey lapangan pada sebuah KP batubara kita mendapatkan data berikut:
Ditemukan satu lapisan batubara dengan kemiringan lapisan batubara 40 derajat dan ketebalan
5 meter. Nah kita diminta menghitung jumlah cadangan, SR, Kedalaman dan Lebar PIT. Mau
tahu kan .?, ini rahasianya.

Kita punya data: Tebal batubara, Dip batubara, Overall Slope Highwall bisa diperkirakan,
Cropline batubara bisa diperhitungkan dan morfologi dianggap datar.

Caranya dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan perhitungan trigonometri. Dalam


perhitungan ini kita menggunakan cara perhitungan sumber daya hipotetik sebagai berikut.
Keterangan:

T = Tebal batubara,

= Dip batubara,

= Overall slope,

H = Kedalaman tambang,

X1 = Bukaan tambang 1,

X2 = Bukaan tambang 2.

Sekarang kita coba menghitung lapisan batubara yang ditemukan tadi.

A. Lebar Tambang dan Kedalaman Tambang

Dapat dihitung dengan rumus berikut:

Lebar Tambang = X1 + X2
Kedalaman tambang = X1.Tan

dimana:

SR : Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan)

BJ : Berat Jenis/Densitas Batubara

t : Tebal Batubara

: Overal Slope

: Dip

h : Kedalaman Pit

B. Striping Ratio

Striping Ratio yaitu nilai perbandingan antara Overburden yang di buang untuk mendapatkan
per ton Batubara.

SR = OB : Coal

Berdasarkan gambar tadi, jelas rasanya striping ratio dapat dengan mudah untuk dihitung.
Bayangkan gambar tadi suatu section tambang, maka kita dapat menghitung jumlah OB dan
Coal nya.
Jumlah Overburden = x Lebar Bukaan x Kedalaman Pit.

Jumlah Coal = Tebal coal x RD x (H / Sin )

Striping Ratio ; Jumlah Overburden : Jumlah Coal


Jumlah Sumber Daya Batubara

Untuk menghitung Jumlah Sumber Daya batubara dengan perkiraan SR tertentu, maka kita
harus menganggap lapisan batubara ini menerus dengan ketebalan yang relative sama.
Adapun rumus yang digunakan:

Sumber Daya Batubara = Tebal coal x RD x (H / Sin ) x Panjang Cropline


Suber : http://www.primaminingservices.com
2 Comments
Posted by ban9kuy on April 19, 2012 in Eksplorasi, Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: hanya dengan, morfologi, sumber daya, tambang, trigonometri, x1 x2

Air Tanah
05APR
Air tanah
Apa dan Bagaimana Mencarinya?

Pertanyaan diatas seringkali muncul ketika sumber air yang kita gunakan selama ini seperti air
sungai, danau atau air hujan tidak bisa kita dapatkan. Satu hal yang pasti ini adalah salahsatu
jenis air juga.
Hanya dikarenakan jenis air ini tidak terlihat secara langsung, banyak kesalahfahaman dalam
masalah ini. Banyak orang secara umum menganggap airtanah itu sebagai suatu danau atau
sungai yang mengalir di bawah tanah. Padahal, hanya dalam kasus dimana suatu daerah yang
memiliki gua dibawah tanahlah kondisi ini adalah benar. Secara umum airtanah akan mengalir
sangat perlahan melalui suatu celah yang sangat kecil dan atau melalui butiran antar batuan

Gambar 1. Model aliran air tanah melewati rekahan dan butir batuan
Batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah ini kita sebut dengan akifer.
Bagaimana interaksi kita dalam penggunaan airtanah? Yang alami adalah dengan mengambil
airtanah yang muncul di permukaan sebagai mataair atau secara buatan. Untuk pengambilan
airtanah secara buatan, mungkin analogi yang baik adalah apabila kita memegang suatu gelas
yang berisi air dan es. Apabila kita masukkan sedotan, maka akan terlihat bahwa air yang
berada di dalam sedotan akan sama dengan tinggi air di gelas. Ketika kita menghisap air dalam
gelas tersebut terus menerus pada akhirnya kita akan menghisap udara, apabila kita masih
ingin menghisap air yang tersimpan diantara es maka kita harus menghisapnya lebih keras atau
mengubah posisi sedotan. Nah konsep ini hampirlah sama dengan teknis pengambilan airtanah
dalam lapisan akifer (dalam hal ini diwakili oleh es batu) dengan menggunakan pompa (diwakili
oleh sedotan)
Hal yang menarik, jika kita tutup permukaan sedotan maka akan terlihat bahwa muka air di
dalam sedotan akan berbeda dengan muka air didalam gelas. Perbedaan ini akan
mengakibatkan pergerakan air. Sama dengan analog ini, airtanahpun akan bergerak dari
tekanan tinggi menuju ke tekanan rendah. Perbedaan tekanan ini secara umum diakibatkan
oleh gaya gravitasi (perbedaan ketinggian antara daerah pegunungan dengan permukaan laut),
adanya lapisan penutup yang impermeabel diatas lapisan akifer, gaya lainnya yang diakibatkan
oleh pola struktur batuan atau fenomena lainnya yang ada di bawah permukaan tanah.
Pergerakan ini secara umum disebut gradien aliran airtanah (potentiometrik). Secara alamiah
pola gradien ini dapat ditentukan dengan menarik kesamaan muka airtanah yang berada dalam
satu sistem aliran airtanah yang sama.
Mengapa pergerakan atau aliran airtanah ini menjadi penting? Karena disinilah kunci dari
penentuan suatu daerah kaya dengan airtanah atau tidak. Perlu dicatat: tidak seluruh daerah
memiliki potensi air tanah alami yang baik.
Model aliran air tanah itu sendiri akan dimulai pada daerah resapan airtanah atau sering juga
disebut sebagaidaerah imbuhan air tanah (recharge zone). Daerah ini adalah wilayah dimana
air yang berada di permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan mengalami proses
penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan atau celah/rekahan
pada tanah/batuan.

Gambar 2. Model siklus hidrologi


Proses penyusupan ini akan berakumulasi pada satu titik dimana air tersebut menemui suatu
lapisanatau struktur batuan yang bersifat kedap air (impermeabel). Titik akumulasi ini akan
membentuk suatu zona jenuh air (saturated zone) yang seringkali disebut sebagai daerah
luahan air tanah (discharge zone. Perbedaan kondisi fisik secara alami akan mengakibatkan
air dalam zonasi ini akan bergerak/mengalir baik secara gravitasi, perbedaan tekanan, kontrol
struktur batuan dan parameter lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai aliran air tanah.
Daerah aliran airtanah ini selanjutnya disebut sebagai daerah aliran (flow zone).
Dalam perjalananya aliran air tanah ini seringkali melewati suatu lapisan akifer yang di atasnya
memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air (impermeabel) hal ini mengakibatkan
perubahan tekanan antara air tanah yang berada di bawah lapisan penutup dan airtanah yang
berada diatasnya. Perubahan tekanan inilah yang didefinisikan sebagai air tanah tertekan
(confined aquifer) dan air tanah bebas (unconfined aquifer). Dalam kehidupan sehari-hari
pola pemanfaatan air tanah bebas sering kita lihat dalam penggunaan sumur gali oleh
penduduk, sedangkan air tanah tertekan dalam sumur bor yang sebelumnya telah menembus
lapisan penutupnya.
Airtanah bebas(water table) memiliki karakter berfluktuasi terhadap iklim sekitar, mudah
tercemar dan cenderung memiliki kesamaan karakter kimia dengan air hujan. Kemudahannya
untuk didapatkan membuat kecenderungan disebut sebagai airtanah dangkal (dangkal atau
dalam itu sangat relatif ).
Air tanah tertekan/airtanah terhalang inilah yang seringkali disebut sebagai air sumur artesis
(artesian well). Pola pergerakannya yang menghasilkan gradient potensial, mengakibatkan
adanya istilah artesis positif; kejadian dimana potensial air tanah ini berada diatas permukaan
tanah sehingga air tanah akan mengalir vertikal secara alami menuju kesetimbangan garis
potensial khayal ini. Artesis nol; kejadian dimana garis potensial khayal ini sama dengan
permukaan tanah sehingga muka air tanah akan sama dengan muka tanah. Terakhir artesis
negatif; kejadian dimana garis potensial khayal ini dibawah permukaan tanah sehingga muka air
tanah akan berada di bawah permukaan tanah..
Jadi, kalau tukang sumur bilang bahwa dia akan membuat sumur artesis, itu artinya dia akan
mencari air tanah tertekan/air tanah terhalang ini.. belum tentu airnya akan muncrat dari tanah;

Gambar 3. Air Artesis


Lalu air tanah mana yang akan dicari?
Itulah yang pertama kali harus kita tentukan. Tiap jenis air tanah memerlukan metode pencarian
yang spesifik. Tapi secara umum bisa kita bagi menjadi:
Metode berdasarkan aspek fisika (Hidrogeofisika): Penekanannya pada aspek fisik yaitu
merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Beberapa metode yang sudah umum kita dengar
dalam metode ini adalah pengukuran geolistrik yang meliputi pengukuran tahanan jenis, induce
polarisation (IP) dan lain-lain. Pengukuran lainnya adalah dengan menggunakan sesimik, gaya
berat dan banyak lagi.
Metode berdasarkan aspek kimia (Hidrogeokimia): Penekanannya pada aspek kimia yaitu
mencoba merunut pola pergerakan air tanah. Secara teori ketika air melewati suatu media,
maka air ini akan melarutkan komponen yang dilewatinya. Sebagai contoh air yang telah lama
mengalir di bawah permukaan tanah akan memiliki kandungan mineral yang berasal dari
batuan yang dilewatinya secara melimpah.

Metode manakah yang terbaik?


Kombinasi dari kedua metode ini akan saling melengkapi dan akan memudahkan kita untuk
mengetahui lebih lengkap mengenai informasi keberadaan air tanah di daerah kita.
Leave a comment
Posted by ban9kuy on April 5, 2012 in Batu Bara, Eksplorasi, Geology, Kristalografi dan Mineralogi, Mekanika
Batuan, Mekanika Tanah, Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: air hujan, air tanah, batu dengan, menghisap, rekahan, sungai danau

Perencanaan tambang terbuka Coal


17MAR
PERENCANAAN tambang
1. Arti
2. Tujuan
3. Kandungan
4. Proses Perencanaan
5. Persyaratan untuk Perencanaan
6. Macam-macam perencanaan
7. Rancangan Produk

CONCEPTUAL mine PLANNING


1. Pelaksanaan dan Hasil Perencanaan Konseptual Tambang
Langkah-Langkah
Batas ultimate (Koordinat ,Kedalaman) Lokasi
Luas ultimate
Volume ultimate (Cadangan tertambang, Waste)
Rancangan Geometri tambang ultimate dan timbunan ultimate
Rancangan interior tambang (Geometri)
Rencana Urut-urutan penambangan dan penimbunan, penumpukan
Rancangan produk (secara unik)
Jadwal Produksi Jadwal Pemasaran
Umur tambang
Biaya (Investasi dan Operasi)
Kemampulabaan

2. Penerapan Rencana Konseptual


DETAILED mine planning
1. Pelaksanaan dan Hasil Perencanaan Rinci Tambang
Langkah-langkah
Batas Blok, Subblok (5 thn, 1 thn, bulanan)
Luas Blok
Volume Blok
Rancangan geometri subblok (gali-angkut-timbun)
Rancangan interior subblok (gali-angkut-timbun)
Rancangan produk rinci
Jadwal produksi Jadwal Pemasaran Rinci
Alat Rinci
Penunjang
Biaya Rinci
Kemampulabaan

2. Pemanfaatan Rencana Rinci

Penambangan (mining)
Proses menggali cadangan bahan tambang yang berada dalam tanah (insitu) secara sistematik
dan terencana, untuk mendapatkan produk yang dapat dipasarkan
Macam Cara Penambangan
a. Tambang Permukaan (Surface Mining)
b. Tambang Bawah Tanah (Underground Mining

Tambang
a. Menggali batubara in situ sebagai bahan baku, untuk diolah menjadi produk yang akan dijual.
b. Keberadaan batubara dalam bentuk lapisan-lapisan pipih berlapis-lapis diselingi oleh tanah
(batubara) penutup.
c. Kedudukan dan pemunculan batubara dalam tanah menentukan cara penambangan
d. Bentuk bahan galian dalam tanah dapat dianggap terdiri dari kubus-kubus kecil yang
nantinya ditambang
e. Bentuk timbunan luar dan dalam tambang tergantung pada topografi landasan.

Tambang adalah seperti Pabrik


a. Bahan baku berada dalam tanah. (Gods act)
b. Menambang > Mengambil bahan baku secara ekonomik
c. Mengolah > mentransform bahan baku menjadi produk untuk dijual
d. Bahan Tambang (= Bahan Baku Produk Tambang)
# tidak terbarukan
# Bila habis, cari lokasi lain
# Harus hemat
e. Bahan Tambang terdapat di daerah

Tambang Permukaan (Arti)


Tempat penggalian bahan tambang yang dekat dengan permukaan untuk mendapatkan satu
atau lebih produk yang dapat dijual secara ekonomik

Tambang Permukaan (Proses)


a. Kegiatan
Berai, Gali, Muat, Timbun, Tumpuk
b. Cara Gali
* Sumuran Terbuka (Open Pit)
* Kelupas (Strip)
c. Hasil Galian
Produk Tambang
d. Akibat Bukaan
* Timbunan Tanah Penutup
* Bentuk Bukaan : seperti Stadion
* Bentuk Timbunan : Bukit, mendatarkan lembah dll
e. Semakin dalam Nisbah Kupas naik
f. Berhenti bila sudah mendekati batas gali ekonomik
* Nisbah Kupas meningkat sebanding dengan kedalaman
g. Lanjut Ke Tambang Dalam
h. Bila harga batubara naik,Nisbah Kupas dapat dinaikkan
i. Ciri Geometri > Ada lereng berjenjang

Kegiatan Penggalian Tambang Permukaan


a. Menggali, suatu blok masa terbatas. ( seperti memakan coklat/kue tart)
b. Dibuat blok-blok penggalian, dibagi dalam subblok-subblok sesuai dengan satuan waktu dan
mutu/ kadar
c. Dibuat jenjang-jenjang penggalian
d. Urutan penggalian mulai dari titik tertentu ,galian awal (box cut) Kemudian mengikuti pola,
tertentu hingga akhir3
e. Penggalian dilakukan terpilih (selective) supaya produk sesuai dengan rancangan
* Tidak terjadi dilution
* Terjadi pembauran dengan sendirinya antara mutu rendah dan mutu tinggi
* Tidak terjadi longsor
f. Penggalian dalam subblok pada latar kerja suatu jenjang
g. PengupasanTanah Penutup
h. Penggalian Batubara

Kegiatan Penimbunan Hasil Galian Tanah Penutup


a. Penimbunan suatu ruangan kosong seperti menimbun blok-blok coklat, mulai dari bawah
b. Dibuat blok-blok penimbunan dan dibagi dalam subblok-subblok
c. Urutan Penimbunan
* Mulai dari titik tertentu. Timbunan awal. Kemudian mengikuti arah dan pola tertentu, hingga
akhir
d. Penimbunan dilakukan terpilih, Supaya :
* terbaur antara tanah kering dan lumpur
* Tidak terjadi longsor
e. Penimbunan dalam subblok pada latar kerja suatu jenjang
f. Penimbunan diluar tambang, kemudian penimbunan dibekas tambang
g. Penimbunan mulai dari subblok bawah ke subblok atas
h. Tanah penutup bagian atas cenderung menjadi tanah timbunan subblok bawah (alas)

Kegiatan Penumpukan Bahan Galian (Sub Produk) hasil penambangan


a. Menumpuk disuatu stockpile yang dapat terdiri dari beberapa sub stockpile/kompartemen
b. Dibuat pola penumpukan, untuk terjadinya homogenisasi
c. Penumpukan dapat dilakukan terpilih, supaya :
# Terseragamkan (Homogenized)
# Terbaur (Blended)
d. Mutu batubara di Stockpile tergantung pada arah penambangan dan pola penumpukan
Perlunya Perencanaan Tambang dan Perencanaan Produk
a. Semua kegiatan memerlukan perencanaan
b. Perencanaan Carreer
c. Perencanaan Bisnis
d. Perencanaan Laba/Rugi
e. Perencanaan Keluarga
f. Perencanaan untuk merencanakan
PLAN TO PLAN
a. Produk tambang > Perencanaan Produk
b. Proses Penambangan > Perencanaan

Perencanaan Dalam Daur Managemen (Untuk Semua Bidang)

PERENCANAAN TAMBANG
Rencana Tambang
Dokumen resmi yang dibuat secara sistematik dan memuat informasi, apa, dimana, bagaimana,
oleh siapa, berapa, kapan, dengan apa, suatu tambang akan berproduksi
Catatan
Rencana adalah :
a. Simulasi masa depan
b. Perkiraan, asumsi
c. Antisipatif
Rencana merupakan :
a. Keluaran dari suatu proses perencanaan oleh Divisi/Dinas Perencanaan Produksi
b. Acuan terpenting untuk pengambilan keputusan
Kandungan (Contents)
Rencana Tambang terdiri dari :
a. Rencana Produk (Sering dilupakan)
b. Rencana Cadangan yang dapat ditambang
c. Rencana Tambang (Penggalian, Penimbunan, dll)
* Geometri, Exterior, Interior
* Rencana Produksi (Jadwal Produksi)
d. Rencana Alat dan Sarana yang dipakai
e. Umur Tambang
f. Rencana Biaya (Investasi, Operasi)
g. Rencana Laba, Rencana Rugi ?

Proses Perencanaan Tambang


Proses mentransformasi data geologi, topografi, cadangan (mutu/kadar, jumlah) menjadi suatu
rencana Produk rancangan tambang dan rencana penambangan

Persyaratan untuk Perencanaan Tambang


a. Data yang handal (reliable):
Accurate (cermat)
Precise (teliti)
Verified
Validated
b. Personel yang mempunyai :
Competency dan
Motivation
c. Anggaran yang memadai (appropriate)

Catatan :
# Competency :
ability to demonstrate
Knowledge
Skill
# Motivation :
spirit, drive

Macam Rencana Tambang


a. Rencana Konseptual Tambang (Ultimate, global, hingga mined out)
b. Rencana Rinci Tambang (Blockwise, Rinci, Periodik)

Rencana Konseptual Tambang (Global)


a. Merancang produk
b. Merancang bentuk dan geometri ultimate dari tambang (dan timbunan)
c. Menghitung Volume dan Berat (ton)
d. Mendapatkan :
* Cadangan Tertambang : Nisbah Kupas overall
* Cadangan Terpasarkan
e. Menentukan tingkat produksi hingga mined out
f. Menentukan umur tambang
g. Menentukan urutan penambangan dan penimbunan (L.D)
h. Merancang jenjang-jenjang penggalian dan penimbunan
i. Menentukan cara penambangan
j. Menentukan alat

Rencana Rinci Tambang


a. Mengguarantee rancangan produk untuk tiap tahun
b. Merancangan bentuk dan geometri (3 s/d 1 tahunan dari tambang. (dan timbunan).
c. Mendapatkan jumlah dan mutu produk
d. Cadangan tertambang : Nisbah kupas periodik
e. Cadangan Terpasarkan
f. Membuat jadwal produksi rinci (3 s.d. 1 tahun)

PERENCANAAN KONSEPTUAL TAMBANG


1. Arti
Conceptual Mine Planning
Perencanaan tambang secara garis besar, ultimate dan hingga mined out yang meliputi
Produk, cadangan tertambang, Nisbah Kupas Overall, bentuk. geometri, interior, urutan
penambangan , peralatan, jadwal produksi hingga umur tambang, tata letak, biaya, dan
kemampu labaan.

2. Tujuan
Adanya acuan untuk mengetahui
a. Produk yang dapat dihasilkan (Rancangan Produk)
b. Jumlah Cadangan Tertambang dan Nisbah Kupas Keseluruhan
c. Jumlah Cadangan Terpasarkan dan Nilai Tambang
d. Batas Ultimate : Tambang dan Timbunan (L-D)
e. Bentuk Ultimate Tambang dan Timbunan (L-D)
f. Volume Ultimate Tambang dan Timbunan (L-D)
g. Nisbah Kupas (NK overall, NK Pulang Pokok)
h. Tataletak Tambang dan Sarana
i. Luas Lahan yang diperlukan
j. Urut-urutan penambangan dan penimbunan (mulai, arah kemajuan)
k. Jadwal produksi untuk memenuhi permintaan pasar
l. Umur tambang permukaan
m. Alat yang dipakai
n. Biaya investasi, biaya produksi
o. Kemampulabaan
p. Nilai Produk (=Nilai Cadangan)
q. Kelanjutan ke tambang bawah tanah
r. Pemanfaatan lahan pasca tambang
s. Pemeliharaan lingkungan

Data yang diperlukan untuk perencanaan tambang


1. Data Utama
a. Data Legal (Kuasa pertambangan)
* Batas Koordinat
* Luas
* Keadaan Permukaan (Pemilikan, Pemanfaatan dll.)

2. Data Geologi
* Laporan
* Geologi Permukaan
* Geologi Bawah Tanah
* Model Geologi 3D, peta Geologi
* Lithologi, (Macam batuan, Ketebalan Lapisan )
* Sedimentologi
* Struktur Geologi
Lipatan
Patahan
* Petrografi

3. Data Topografi
* Peta Topografi
* Skala 50.000 : 1, 10.000 : 1, 5.000 : 1, 1.000 : 1
* Koordinat
* Garis-Garis Ketinggian ( Kontur)
* Foto Udara
* Citra Satelit
Leave a comment
Posted by ban9kuy on March 17, 2012 in Tambang Terbuka (Open Pit Mining)
Tags: bahan galian, batubara, pemasaran, penambangan, sistematik, underground mining