Vous êtes sur la page 1sur 26

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Sejak zaman dulu efek dari Cortex salicis telah dikenal dan

simplisia ini cukup luas penggunaannya sebagai obat. Zat yang berkhasiat

disini adalah asam salisilat. Asam salisilat bebas hanya mempunyai efek

antipiretik dan analgetik yang ringan.

Turunan yang terpenting dari asam salisilat ini adalah asam asetil

salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin.Berbeda dengan

asam salisilat, asam asetil salisilat memiliki efek analgesik antipiretik dan

anti inflamasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan asam salisilat.

Penggunaan obat ini sangat luas di masyarakat dan digolongkan ke dalam

obat bebas. Selain sebagai prototipe, obat ini juga digunakan sebagai

standar dalam menilai efek obat sejenis.

Melihat besarnya manfaat dari aspirin atau asetosal tersebut maka

adalah penting untuk mengetahui cara sintesis dari senyawa ini. Aspirin

dapat disintesis dari asam salisilat dengan anhidrida asetat dan

menggunakan katalis proton dan akan menghasilkan asam asetil salisilat

dan asam asetat.

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

I.2.1 Maksud Percobaan

Mengetahui dan memahami sintesis aspirin berdasarkan reaksi

asetilasi.
I.2.2 Tujuan Percobaan

Untuk mensintesis aspirin berdasarkan reaksi asetilasi antara asam

salisilat dengan anhidrat asetat serta penambahan asam sulfat pekat

sebagai katalisator.

I.3 Prinsip Percobaan

Mensintesa aspirin dengan mereaksikan antara asam salisilat

dengan asetat anhidrat dengan penambahan asam sulfat sebagai

katalisator kemudian dipanaskan di atas stirer lalu didinginkan hingga

terbentuk kristal dan mengujikan dengan FeCl 3 serta mengitung

rendamennya.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

II.1 Kajian Teori

Aspirin adalah obat anti-nyeri tertua yang sampai kini paling banyak

digunakan di seluruh dunia. Zat ini berkhasiat anti-demam kuat dan pada

dosis rendah sekali (Tjay,T.H., 298).

Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin

adalah analgesik antipiretik dan anti-inflamasi yang sangat luas digunakan

dan digolongkan dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini

merupakan standar dalam menilai efek obat sejenis (Ganiswarna,S.G.,

212).

Salisilat merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai

analgesik, antipiretik dan anti inflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat

dan efektif sebagai antipiretik. Dengan dosis ini laju metabolisme juga

meningkat. Pada dosis toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik

sehingga terjadi demam dan hiperhidrosis pada keracunan berat

(Ganiswarna,S.G., 212).

Hanya satu anhidrida asam yang terkenal adalah anhida asetat, yang

dibuat melalui reaksi asam asetat dengan ketena. CH 2=C=O pada suhu

tinggi (700o). Ketena sangat reaktif dan penting, dan dibuat di laboratorium

melalui pirolisa aseton. Berbeda dengan asam monokarboksilat, asam

dikarboksilat mudah sekali diubah menjadi anhidrida cukup dengan


pemanasan sederhana, misalnya pembuatan anhidrida suksinat dan

anhidrida phthalat (Harun, 182).

Reaksinya sedikit lebih pelan dibandingkan khlorida asam

menghasilkan asam karboksilat. Senyawa yang mengandung gugus asetil

sering dibuat dari anhidrida asetat, karena murah, mudah

pengendaliannya dan mudah menguap (Harun, hal 182).

Asam salisilat bebas hanya memiliki efek antipiretik dan analgetik

yang rendah. Karena timbulnya ransangan pada mukosa lambung akibat

diperlukannya dosis tinggi, maka asam salisilat hanya dipergunakan

dalam bentuk garamnya (Ebel, 42).

Aspirin sekarang digunakan untuk pengobatan pilofilaksis iskemia

serebral transien, mengurangi terjadinya infark miokard berulang dan

menurunkan mortilitas pada pasien infark postmiokard (Agoes, 199).

II.2 Kajian Sampel

II.2.1 Air Suling (Ditjen POM, 96., paul, 1117)

Nama Resmi : Aqua destillata

Nama Lain : Aquadest

Rumus Molekul : H2O

Rumus struktur : HOH

Bobot Molekul : 18,02

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak

berbau, tidak mempunyai rasa


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan Praktikum: Sebagai pelarut

Unsur penyusun : H = 11,19%, O = 88,81%

Bobot jenis : 1 g/ml

Titik lebur : 0 oC

Indeks bias : 1,333

II.2.2 Anhidrida Asetat (Ditjen POM, 647)

Nama Resmi : Acidum acetic anhidrida

Nama Lain : Asam asetat anhidrida

Rumus Molekul : (CH3CO)2O

Rumus Bangun : CH3 C O C CH3


ll ll
O O
BM : 102,00

Bj : 1,080 g/ml

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, berbau

tajam, mengandung tidak kurang dari 95

% C4H6O3

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan Praktikum : Pemberi gugus asetil dalam sintesis

aspirin

Titik leleh : 139oC

Indeks bias : 73oC


II.2.3 Asam salisilat (Ditjen POM, 56., paul, 930)

Nama Resmi : Acidum salicylicum

Nama Lain : Asam salisilat

Nama IUPAC : Asam ortho hidroksi benzoat

Rumus Molekul : C7H6O3

Bobot Molekul : 138,12

Rumus Bangun :

Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk

berwarna putih hampir tidak berbau rasa

agak manis dan tajam

Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4

bagian etanol (95 %) P, mudah larut

dalam kloroform P dan dalam eter P.

Larut dalam larutan amonium asetat P,

dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P

dan natrium sitrat P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan Praktikum: Sebagai bahan dasar sintesis aspirin

Unsur Penyusun : C= 60,87%, H= 4,38% dan O= 34,75%

Bobot jenis : 1,44 g/ml

Titik lebur : 157-159oC


II.2.4. Asam Sulfat (Ditjen POM, 58., paul, 1005)

Nama resmi : Acidum sulfuricum

Nama lain : Asam sulfat

Rumus molekul : H2SO4

BM : 98,07

Bj : 1,84 g/ml

Rumus bangun : O

H - O -S - O H

Unsur Penyusun : H=2,06%; O=65,25%; S=32,69%;

SO2=65,32%; SO3=81,63% dan SO4-

=97,94%

Pemerian : Cairan kental seperti minyak, korosif,

tidak berwarna, jika ditambahkan ke

dalam air menimbulkan panas

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan Praktikum : Sebagai katalisator

Titik Leleh : 10 oC

Titik didih : 290 oC

II.2.5. Besi (III) klorida (Ditjen POM, 659)

Nama resmi : Ferri (III) chloridum

Nama lain : Besi (III) klorida

Rumus kimia : FeCl3


Rumus bangun : Cl Fe Cl

Cl

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, hitam

kehijauan, bebas warna jingga dari garam

hidrat, yang telah terpengaruh oleh

kelembaban

Kelarutan : Larut dalam air, larutan beropalesensi

berwarna jingga

Kegunaan Praktikum: Sebagai indikator uji kemurnian aspirin

II.2.6. Asam Klorida (Ditjen POM, 53)

Nama Resmi : Acidum Hydrochloridum

Nama Lain : Asam Klorida

Rumus Molekul : HCl

Bobot molekul : 36,46

Rumus Bangun : H - Cl

Pemerian : Cairan; tidak berwarna; berasap; bau

merangsang. Jika diencerkan dengan 2

bagian air, asap dan bau hilang.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan Praktikum: Sebagai reaktan untuk rekristalisasi

II.2.7. Natrium Bikarbonat ( Ditjen POM, 424 )

Nama Resmi : Natrii Subcarbonat


Nama Lain : Natrium Subkarbonat/Natrium

Bikarbonat

Rumus Molekul : NaHCO3

Bobot molekul : 84,01

Rumus Bangun : Na - O C O H

Pemerian : Serbuk putih atau hablur monoklin

kecil, buram, tidak berbau dan rasa

asin

Kelarutan : Larut dalam 11 bagian air, praktis

tidak larut dalam etanol (95%) P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan Praktikum: Sebagai pelarut aspirin yang tidak

murni

II.2.8 Benzen (Ditjen POM, 1979., Paul, 1968)

Nama resmi : Benzena

Rumus molekul : C6H6

Berat molekul : 78,0

Rumus bangun :

Pemerian : Cairan transparan, tidak berwarna, dan

mudah menyala

Unsur penyusun : C= 92,25% dan H= 7,75%


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan Praktikum : Sebagai pelarut untuk memperoleh

aspirin murni

Bobot Jenis : 0,8787 g/ml

Indeks bias : 1,5016

Titik Leleh : 5,5 oC

Titik didih : 80,1 oC

II.3 Prosedur kerja

1. Prosedur kerja (Kosman,R., 6-7)

Timbang 2,0 gram (0,015 mol) kristal asam salisilat dan

ditempatkan dalam Erlenmeyer 250 ml. Tambahkan 5 ml (0,05 mol)

anhidrida asetat, diikuti dengan 5 tetes asam sulfat pekat dari pipet tetes

dan dikocok hingga asam salisilat larut. Panaskan dipenangas air selama

5-10 menit. Lalu erlemeyer didinginkan pada temperatur kamar hingga

dimana asam asetil salsiilat akan menjadi kristal dari campuran reaksi.

Jika tidak gores dinding Erlenmeyer dengan batang pengaduk dan

campuran sedikit dingin dalam tangas es (wadah es) hingga kristal

terbentuk. Tambahkan 50 ml air dan dinginkan campuran dalam tangas es

hingga proses kristalisasi berlangsung sempurna.

Kumpul hasil (kristal) secara penyaringan vakum menggunakan

penyaring buchner. Filtrat dapat digunakan. Cuci kristal beberapa kali

dengan sedikit bagian air dingin. Lanjutkan penarikan udara melalui kristal
pada penyaring buchner secara penyedotan (suction) hingga kristal bebas

dari pelarut. Timbang dan hitung hasil kasarnya.

Pemurnian :

Kedalam masing-masing 3 bagian tabung uji yang mengandung 5

ml air dilarutkan sedikit kristal dengan beberapa fenol, asam salisilat dan

hasil kasar (kristal aspirin). Tambahkan satu atau dua tetes larutan FeCl 3 1

% ke tiap-tiap tabung dan catat warna. Pembentukan kompleks besi fenol

dengan Fe (III) memberikan warna merah hingga violet, yang dipercaya

bahwa partikel fenol masih ada.

Pindahkan padatan kasar ke gelas piala 250 ml dan tambahkan 25

ml larutan natrium bikarbonat jenuh. Aduk hingga tanda (bunyi) reaksi

berhenti. Beberapa polimer yang merupakan reaksi samping. Cuci gelas

piala dan corong dengan 5-10 ml air. Buat campuran 3,5 ml asam klorida

pekat dan 10 ml air dalam gelas piala 100 ml. hati-hati menuang filtrat

kedalam campuran sambil diaduk. Aspirin akan diendapkan.

Dinginkan campuran dalam es (tangas) saring padatan dengan

penyedotan menggunakan penyaring Buchner, tekan cairan dari kristal

dengan penutup bersih dan cuci kristal dengan air dingin. Air yang

digunakan dalam tahap ini adalah air es. Tempatkan kristal pada gelas

arloji untuk dikeringkan. Timbang hasilnya, tentukan titik leburnya (135-

1360) dan hitung nilainya dalam persen. Uji terhadap adanya asam

salisilat yang tidak bereaksi menggunakan besi (III) klorida.


Rekritalisasi

Air tidak cocok sebagai pelarut untuk kristalisasi karena aspirin

akan terhidrolisis sebagian dengan pemanasan dalam air. Dilarutkan

sedikit sampel dari hasil akhir dalam sejumlah kecil benzene panas,

campuran dipanaskan dipenangas air. Jika masih ada padatan yang

tersisa saring larutan panas dari penyaring yang ditempatkan dalam

corong yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu lalu menuangkan

benzen panas. Pada pendinginan pada temperatur kamar, aspirin akan

mengrekritalisasi. Jika tidak, tambahkan petroleum eter dan dinginkan

sedikit larutan (benzene membeku pada 5 0) dalam air es, sambil digosok

dinding gelas dengan menggunakan batang pengaduk.

Kumpulkan produk (kristal) secara penyaringan vakum dengan

menggunakan corong Hirsch. Jangan lupa menguji kristal dengan FeCl 3.

Prosedur Kerja (Samhoedi,57)

1. Gabus diberi berlubang untuk menempatkan ujung pipa dari pendingin

balik kedalam labu alas bulat 250 cc.

2. Taruh dalam labu tersebut 5 gram asam salisilat dan 35 gram Benzen.

Tambah 4 gram anhidrat asetat.

3. Larutan didihkan secara perlahan-lahan selama 1,5 jam

4. Dinginkan larutan dalam beker gelas dengan diaduk untuk

memprosipitir aspirin dalam bentuk yang baik.


5. Tuangkan campuran dalam corong Buchner, pisahkan semua cairan

kemudian cuci padatan dengan sedikit benzen akhirnya dengan spritus

dilutus sedikit. Kristalkan kembali dengan campuran alkohol-air.

6. Tentukan titik leburnya. (


BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat-alat yang digunakan

Baskom, batang pengaduk, botol Semprot, corong, cawan porselin,

gelas erlenmeyer 250 ml, gelas kimia 100 ml, gelas ukur 10 ml, 50 ml, dan

100 ml, oven listrik, pipet tetes, pipet volume, tabung reaksi, timbangan

analitik, sendok tanduk, dan stirer.

III.1.2 Bahan yang digunakan

Alumunium foil, Asam salisilat, Asam Anhidrida asetat, Asam sulfat

pekat, Air suling, Es batu, FeCl3, kertas saring, kertas timbang, dan tissue.

III.2 Cara Kerja

Alat dan bahan yang akan digunakan dipersiapkan terlebih dahulu.

Asam salisilat ditimbang sebanyak 2,0512 gram dan dimasukkan ke

dalam erlenmeyer. Anhidrat asetat sebanyak 5 ml ditambahkan ke

erlenmeyer. Asam sulfat pekat sebanyak 5 tetes juga ditambahkan ke

dalam erlenmeyer. Dilakukan pemanasan menggunakan stirer selama 5-

10 menit. Kemudian didiamkan dalam suhu kamar. Dilakukan pendinginan

dengan memasukkan erlenmeyer ke dalam baskom yang berisi es batu.

Ke dalam erlenmeyer ditambahkan 50 ml air suling. Kristal disaring

dengan menggunakan corong dan kertas saring. Diambil residu, dan

dilakukan pemurnian menggunakan FeCl3 dengan cara residu dimasukkan

ke dalam tabung reaksi dan dilarutkan dengan air kemudian ditetesi FeCl 3
sebanyak 2-3 tetes, aspirin murni apabila warnanya menjadi kuning

setelah ditetesi FeCl3. Kristal yang diperoleh dikeringkan dengan

menggunakan oven listrik. Sampel kristal yang diperoleh kemudian

ditimbang. Dihitung persen rendamennya.


BAB IV

KAJIAN PRAKTIKUM

IV.1 Data Pengamatan

No. Penambahan zat Perubahan


Asam salisilat sebanyak 2,0512 gram Larutan coklat, tidak
1
ditambahkan anhidrida asetat 5 ml larut sempurna
Larutan coklat, tidak
2 Penambahan asam sulfat pekat 5 tetes
larut sempurna
Merah kecoklatan,
3 Dipanaskan
larut
4 Didinginkan Terbentuk kristal
Penambahan 50 ml aquadest dan
5 Kristal aspirin
disaring
Larutan bening
6 Uji dengan FeCl3
kekuningan (murni)
Diperoleh aspirin
7 Kristal dikeringkan
seberat 0,3036 gram
IV.2 Perhitungan

1 mol asam salisilat setara dengan 1 mol aspirin

mol asam salisilat = gram asam salisilat


BM asam salisilat

mol asam salisilat = 2 gram


138,12

= 0,015 mol

mol aspirin = 1/1 x mol asam salisilat

= 1/1 x 0,015 mol

= 0,015 mol

Berat aspirin secara teoritis

m = mol aspirin x BM aspirin


m = 0,015 x 180,16

m = 2,70 gram

Berat aspirin hasil praktek adalah 0,3036 gram

% Rendamen = Berat aspirin hasil praktikum x 100 %


Berat aspirin secara teoritis

= 0,3036 x 100 %
2,70

= 11,2 %

BAB V

KAJIAN HASIL PRAKTIKUM


Aspirin adalah obat anti-nyeri tertua yang sampai kini paling banyak

digunakan di seluruh dunia. Zat ini berkhasiat anti-demam kuat dan pada

dosis rendah sekali. Aspirin atau asetosal atau asam aseti lsalisilat adalah

turunan dari senyawa asam salisilat yang diperoleh dari simplisia

tumbuhan Cortex salicis. Asam salisilat sendiri hampir tak lagi digunakan

untuk pemakaian dalam karena penerimaan tubuh pada pemberian obat

secara oral buruk. Karena hal tersebut maka dilakukan pengubahan

gugus fungsi pada struktur asam salisilat dengan mensintesisnya menjadi

asam asetil salisilat (aspirin). Melalui esterifikasi gugus hidroksil fenolik

asam salisilat dengan asam asetat (asetilasi) dicapai tak hanya

penerimaan tubuh lokal yang lebih baik melainkan juga kerja analgetik,

antipiretik dan atiflogistik yang lebih kuat. Sintesa asam asetil salisilat

berdasarkan reaksi asetilasi antara asam salisilat dengan anhidrida

asetat dengan menggunakan asam sulfat pekat sebagai katalisator.

Pada pembuatan atau sintesa aspirin ini digunakan anhidrida asetat

dimaksudkan karena anhidrida asetat tidak mengandung air dan akan

dengan mudah menyerap air sehingga air yang dapat menghidrolisis

aspirin menjadi salisilat dapat dihindari, juga bertujuan untuk memberikan

gugus asetil dan untuk melarutkan asam salisilat.

Penambahan asam sulfat pekat pada larutan campuran asam

salisilat dengan anhidrida asetat adalah berfungsi sebagai katalisator, jadi

asam sulfat berfungsi untuk mempercepat terjadinya sintesa dengan cara

menurunkan energi aktivasi sehingga energi yang diperlukan dalam


sintesa sedikit, jadi reaksi berjalan lebih cepat. Asam sulfat merupakan

katalisator yang paling sering digunakan karena strukturnya yang

sederhana. Digunakan asam sulfat pekat karena untuk memperkecil

kemungkinan terkontaminasi dengan senyawa-senyawa lain.

Setelah asam salisilat tercampur sempurna maka larutan

dipanaskan. Fungsi dari pemanasan adalah untuk mempercepat kelarutan

dari asam salisilat sehingga dapat bercampur dengan sempurna, hal ini

dikarenakan proses pemanasan akan mempercepat gerak kinetik dari

molekul-molekul yang ada dalam larutan sehingga laju reaksi akan

semakin cepat dan reaksi berjalan cepat.

Setelah dipanaskan, erlenmeyer didinginkan terlebih dahulu pada

suhu kamar hingga dingin. Erlenmeyer tidak langsung diletakkan pada

wadah berisi es batu dikarenakan perubahan suhu yang terlalu tajam

dapat mengakibatkan erlenmeyer pecah. Ketika didinginkan dinding

erlenmeyer digores-gores dengan menggunakan batang pengaduk

bertujuan untuk mempercepat pembentukan kristal aspirin.

Setelah terbentuk kristal aspirin, pada erlenmeyer ditambahkan air

suling sebanyak 50 ml hal ini bertujuan agar reaksi pembentukan kristal

berjalan sempurna dan dimaksudkan untuk menghidrolisis kelebihan

asam yang terdapat dikristal aspirin. Kemudian dilakukan penyaringan

untuk mendapatkan kristal aspirin yang ada pada larutan. Tidak digunakan

pelarut lain, karena dapat memungkinkan aspirinnya akan larut bersama

pelarut tersebut.
Setelah didapatkan kristal aspirin pada kertas saring, maka kristal

tersebut di keringkan dalam oven selama beberapa menit. Setelah kering

maka ditimbang massa aspirin yang telah disintesa.

Setelah massa aspirin didapatkan, ternyata hasilnya berbeda dengan

perhitungan massa aspirin secara teoritis. Hal ini dapat disebabkan

karena beberapa faktor kesalahan diantaranya adalah ketidakmurnian

bahan-bahan yang digunakan, selain kesalahan pada penimbangan dan

pengukuran juga dapat mempengaruhi jumlah kristal aspirin yang

didapatkan.

Mekanisme dari reaksi ini adalah reaksi antara gugus hidroksil fenolik

asam salisilat dengan asam asetat, terjadinya penggantian gugus inti dari

asam asetat anhirida dengan gugus hidroksil dari asam salisilat untuk

pelepasan gugus hidroksil ini digunakan asam sulfat pekat sebagai

katalisator karena valensi yang tinggi dapat mengganggu kestabilan dari

ikatan gugus hidroksil yang terikat pada benzen sehingga mudah bereaksi

dan tersubtitusi oleh gugus asetil dari asam asetat anhidrida disebabkan

oleh hidrogenase oleh asam sulfat.

BAB VI

PENUTUP
VI.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum diperoleh berat kristal pada pemanasan 5-10

menit sebesar 0,3036 gr dengan persen rendamen sebesar 11,2 %.

VI.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM., 1979., Farmakope Indonesia., Edisi III., Departemen
Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta, 43, 51, 58, 96, 424, 647,
659.

Ebel, S., 1992., Obat Sintetik., Gadjah Mada University Press :


Yogyakarta, 42

Ganiswarna,S., Setiabudy,R., Suyatna., Purwantyastuti., Nafrialdi, (eds).,


1996., Farmakologi dan Terapi., Edisi IV., Gaya Baru : Jakarta,
212

Kosman,R., 2008., Penuntun Praktikum Kimia Organik Sintesis.,


UMI : Makassar, 6.

Paul,G., 1968., The Merck Index., Eighth Edition., Rahway : USA,


930, 1005, 1117.

Harun, H., 1990., Pengantar Kimia Organik I., ITB : Bandung, 182.

Mycek, M., Harvey,R., Champe,P., Agoes,A., 2001., Farmakologi


Ulasan Bergambar., Terjemahan dari Lippincotts Illustrated
Reviews : Pharmacology,2/E., Agoes,A., Widya Medika.,
jakarta, 199.

Reksohadiprodjo, S., 1976., Kimia Farmasi Preparatif., UGM :


Yogyakarta, 57

Tjay,T,H., dan Rahardja., 2002., Obat-Obat Penting., Departemen


Kesehatan Republik Indonesia., Jakarta, 298.

III.3 Kerangka Kerja


Ditimbang 2 g asam Dimasukkan ke Ditambahkan 5 ml
salisilat erlenmeyer 250 ml anhidrida asetat

Ditambahkan 5 tetes dikocok Dipanaskan dengan


asam sulfat pekat stirer selama 5-10 menit

Didinginkan pada baskom


Didinginkan pada berisi es batu sambil digores
suhu kamar dinding Erlenmeyer

Disaring dengan
Ditambahkan 50 ml air
Diuji kristal dengan uji menggunakan kertas
suling FeCl3 saring

Kristal aspirin
dikeringkan di oven
Ditimbang aspirin yang

telah kering dan dihitung

rendamennya

Skema Kerja

Ditimbang 2 g asam salisilat dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250


ml

Ditambahkan 5 ml anhidrida asetat


Ditambahkan 5 tetes asam sulfat pekat dan dikocok

Dipanaskan dengan stirer selama 5-10 menit

Didinginkan pada suhu kamar

Diletakkan pada baskom yang berisi es batu sambil digores dinding


Erlenmeyer

Ditambahkan 50 ml air suling

Disaring dengan menggunakan kertas saring

Diuji kemurnian Kristal aspirin dengan FeCl 3

Dikeringkan Kristal aspirin di dalam oven

Ditimbang aspirin yang telah kering dan dihitung rendamennya