Vous êtes sur la page 1sur 11

MAKALAH

KIMIA FARMASI
5-PIRAZOLON

Disusun Oleh :
Annisa Lestari 4311415067

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SEMARANG
2016
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................


DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................
1.3 Tujuan dan Manfaat...............................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Produk ...................................................................................................
2.2 Kajian Bahan dan Fungsi ......................................................................
2.3 Alat dan Fungsi .....................................................................................
2.4 Cara Pembuatan Cake ...........................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.....................................................................................
3.2 Saran ..............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
LAMPIRAN ...................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Obat adalah benda atau zat yang dapat digunakan untuk merawat penyakit,
membebaskan gejala, atau mengubah proses kimia dalam tubuh. Obat ialah suatu
bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam
menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan
penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia
atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan
manusia termasuk obat tradisional.
Analgetika (Obat Penghilang rasa nyeri) ialah obat yang digunakan untuk
mengurangi/menekan rasa sakit, misalnya rasa sakit kepala, otot, perut, gigi dan
sebagainya. Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu tubuh.
Antispasmodik adalah obat yang membantu mengurangi atau menghentikan kejang
otot di usus. Analgetik dapat meringankan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran
penderita. Karena khasiat dari obat analgetika ini dapat mengurangi rasa sakit/nyeri,
maka obat analgetika ini menjadi sangat populer dan disenangi oleh masyarakat,
meskipun tidak dapat menyembuhkan/menghilangkan penyakit dari penyebabnya
Analgesik seringkali digunakan secara gabungan serentak, misalnya bersama
parasetamol dan kodeinpseudoefedrin untuk obat sinus, atau obat antihistamin untuk
alergi. dijumpai di dalam obat penahan sakit (tanpa resep). Jadi analgesik-antipiretik
adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang
tinggi.
Obat analgesik termasuk obat antiradang non-steroid (NSAID). NSAID seperti
aspirin, naproksen, dan ibuprofen bukan saja melegakan sakit, malah obat ini juga
bisa mengurangi demam dan kepanasan. Analgesik bersifat narkotik seperti opoid dan
opidium bisa menekan sistem saraf utama dan mengubah persepsi terhadap kesakitan
(noisepsi). Obat jenis ini lebih berkesan mengurangi rasa sakit dibandingkan NSAID.
Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya
gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot.
Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri
(pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf
bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangang dialaihkan
melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat (SSP), melalui sumsum tulang
belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana
rangsang terasa sebagai nyeri.

2. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud analgetika ?
b. Apa itu piralozon ?
c. Bagaimana penggolongan atau turunan 5-piralozon ?
d. Apa manfaat dan dampak dari turunan 5-piralozon ?
e. Bagaimana efek farmakologi turunan 5-piralozon dan pengaruh struktur aktivitas
dibandingkan senyawa lain dalam satu golongan ?
f. Bagaimana Analisis penetapan kadar senyawanya ?

3. Tujuan Penulisan
a. Mengetahui kue (cake)
b. Mengetahui zat additif yang digunakan untnuk membuat kue
c. Mengetahui proses pembuatan kue
BAB III
PEMBAHASAN

1. Analgetika
Analgetika adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem syaraf pusat secara
selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran.
Analgetika bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi rasa sakit. Rasa nyeri
dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah
melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di
dalam tubuh, seperti peradangan (rematik, encok), infeksi-infeksi kuman atau kejang-
kejang otot. Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau
kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan
melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator-mediator nyeri yang letaknya pada
ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ)
lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf
Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke pusat
nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri.
Rasa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh, rasa nyeri timbul bila ada
jaringan tubuh yang rusak, dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan
cara memindahkan stimulus nyeri. Dengan kata lain, nyeri pada umumnya terjadi
akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata.
Menurut Torrance & Serginson (1997), ada tiga jenis sel saraf dalam proses
penghantaran nyeri yaitu sel syaraf aferen atau neuron sensori, serabut konektor atau
interneuron, dan sel saraf eferen atau neuron motorik. Sel-sel syaraf ini mempunyai
reseptor pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan ke sum-sum
tulang belakang dan otak. Reseptor-reseptor ini sangat khusus dan memulai impuls
yang merespon perubahan fisik dan kimia tubuh. Reseptor-reseptor yang berespon
terhadap stimulus nyeri disebut nosiseptor. Mediator nyeri antara lain mengakibatkan
reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung-ujung
saraf bebas di kulit, mukosa, dan jarigan lainnya. Nociceptor ini terdapat diseluruh
jaringan dan organ tubuh, kecuali di system saraf pusat. Dari sini rangsangan
disalurkan ke otak melalui jaringan yang hebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sinaps
yang amat banyak melalui sum-sum tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan
otak tengah. Dari thalamus impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana
impuls dirasakan sebagai nyeri. Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor
melepaskan zat-zat kimia, yang terdiri dari prostaglandin, histamin, bradikinin,
leukotrien, substansi p, dan enzim proteolitik. Zat-zat kimia ini akan mensensitasi
ujung syaraf dan menyampaikan impuls ke otak (Torrance & Serginson, 1997).
Berdasarkan pembagian senyawa analgetika, senyawa ini dibagi menjadi
beberapa macam,antara lain : Analgetika narkotika dan non-narkotika. Berdasarkan
mekanisme kerjanya antara lain : Mekanisme kerja analgetik narkotik dzn Mekanisme
kerja analgesik non narkotik. Berdasarkan mekanisme kerja analgesik non narkotik
terdiri dari : Analgesik, Antipiretik, Antiradang.
Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu tubuh.Pada keadaan
demam, thermostat di hipotalamus terganggu, menyebabkan suhu tubuh meningkat.
Obat analgetika-antipiretika bekerja mengembalikan fungsi thermostat ke suhu tubuh
normal, dengan cara rangsangan pusat pengatur kalor di hipotalamus. Sehingga terjadi
vasodilatasi perifer dikulit dan pengeluaran kalor disertai keluarnya banyak keringat.
Berdasarkan struktur kimianya obat analgetika-antipiretika dibagi menjadi dua
kelompok yaitu : Turunan anilin dan para aminofenol dan Turunan 5-pirazolon.

2. Piralozon
Piralozon termasuk ke dalam golongan obat analgesikantipiretik. Analgesik
adalah golongan obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri seperti nyeri kepala, gigi,
dan sendi. Obat golongan analgesik umumnya juga mempunyai efek antipiretik, yakni
mampu menurunkan suhu tubuh, sehingga biasa disebut obat golongan analgesik-
antiperitik, seperti aspirin, parasetamol, dan antalgin.
Analgesik-antiperitik biasanya digunakan untuk mengobati penyakit dengan
gejala demam (suhu tubuh meningkat) dan nyeri, seperti influenza dan salesma.
Karena mempunyai efek samping yang ringan, obat golongan analgesik- antiperitik
dijual bebas di pasaran.
Obat golongan ini mampu menurunkan panas (antiperitik) karena menormalkan
pusat pengatur suhu yang terletak di batang otak. Selain itu mampu melebarkan
pembuluh darah kulit dan memperbanyak keringat sehingga semakin banyak panas
yang dibuang. Selain bekerja di susunan syaraf pusat, analgesik-antiperitik dapat
mencegah pembentukan prostaglandin, yakni zat yang menimbulkan rasa nyeri dan
panas.

3. Penggolongan dan turunan 5-piralozon


Turunannya seperti antipirin, amindopirin dan metampiron, aspirin. Turunan ini
digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada keadaan nyeri kepala, nyeri spasma usus,
ginjal, saluran empedu, dan urin, neuralgia, migrain, dismenorhu, nyeri gigi dan nyeri
rematik. Efek samping yang ditimbulkan oleh turunan 5-pirazolon adalah
agranulositosis (berkurangnya sel darah putih), yang dalam beberapa kasus dapat
berakibat fatal, karena itu penggunaan analgesik yang mengandung piralozon perlu
disertai resep dokter.
Turunan 5-pirazolon, seperti antipirin, amidopirin, dan metampiron
mempunyai aktifitas analgesikantipiretik dan antirematik serupa dengan aspirin.
Turunan ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada keadaan nyeri kepala, nyeri
pada spasma usus, ginjal, saluran empedu dan usus, neuralgia, migraine, dismenore,
nyeri gigi dan nyeri pada rematik. Efek sampinga yang ditimbulkan oleh turunan 5-
pirazolon adalah agranulositosis yang dalam beberapa kasus dapat berakibat
fatal. (Siswandono dan Soekardjo, 2008)
3.1 Antipirin
Antipirin (fenazon) mempunyai aktivitas analgesik hampir sama dengan
asetanilid dengan awal kerja yang lebih cepat. Efek samping agranulosistisnya
cukup besar sehingga sekarang tidak lagi digunakan untuk pemakain sistemik.
Antipirin mempunyai efek paralitik pada syaraf sensori dan motorik sehingga
digunakan untuk anestesi setempat dan vasokontriksi pada pengobatan rinitis dan
laringitis dosis : 5-15%.
Fenazon (antipirin) adalah senyawa induk dari obat-obat tersebut diatas tanpa
khasiat antiradang (1884). Karena berdaya lebih lemah dan lebih sering
menimbulkan reaksi kulit, obat ini kini praktis sudah ditinggalkan. Adakalanya
fenozon masih digunakan dalam obat kumur pada nyeri tenggorokan, berdasarkan
efek local anastesis (lemah) dan kerja vasokonstriksinya
3.2 Amidopirin
Aminodopirin (pyramidon, aminopirin, aminofenazon) mempunyai aktivitas
analgesik serupa dengan antipirin, awal kerjanya lebih lambat dan masa kerjanya
lebih panjang. Adsorbsi obat dalam saluran-saluran cerna cepat, dan kurang lebih
25-30%. Efek sampingnya cukup besar dan berakibat fatal sehingga sekarang
tidak lagi digunakan.
Aminofenazon
Derivat-pirazolinon ini (1887) berkhasiat analgetis, antipiretis dan
antiradang. Resorpsinya di usus cepat, mulai kerjanya sesudah 30-45 menit,
plasma-t1/2-nya 2-7 jam. Karena efek sampingnya terhadap darah
(agranulositosis, leukopenia) sering fatal, obat ini sudah sejak tahun 1980-
an dilarang peredarannya di banyak negara. Bila timbul borok-borok kecil
di mulut, nyeri tenggorok atau demam (tanda-tanda agranulositosis),
pengobatan harus segera dihentikan! Kehamilan dan laktasi. Semua obat
dari kelompok pirazolinon tidak boleh digunakan selama kehamilan dan
laktasi. Dosis: 3 dd 300-600 mg, maksimal 3 g/ hari.
3.3 Metampiron NA
Metampiron NA (metamizol Na, antalgin, novalgin, dipiron) merupakan
antipiretik yang cukup populer di indonesia. Adsorbsinya sangat cepat dan cepat
termetabolisme di hati. Efek sampingnya sangat berat sehingga di larang beredar
di amerika serikat, inggris, jepang dan australia. Dosis : 500 mg 4dd
3.4 Profifenazon
Profifenazon (isopiriin dan larodon) digunakan terutama sebagai antirematik.
Senyawa dapat menimbulkan spasma pada otot bergaris dan penggunaannya
sering di kombinasi dengan obat analgesik lain. Dosis : 500mg 4dd. Propifenazon
(isopropilantipirin, saridon, migrant) adalah derivate fenazon (1951) tanpa daya
antiradang dengan sifat kurang lebih sama. Plasma waktu paruhnya 90 menit.
Risiko agranulositosis dikatakan lebih ringan.
Propifenazon (isopropilantipirin, saridon, migrant) adalah derivate fenazon
(1951) tanpa daya antiradang dengan sifat kurang lebih sama. Plasma waktu
paruhnya 90 menit. Risiko agranulositosis dikatakan lebih ringan.
3.5 Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini
digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam
pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin
dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat
ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.
3.6 Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika
digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM
(intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan
kanker. Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan
rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang
persisten/menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap
menggunakan analgesik narkotika. Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat
untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh
aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat
menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai
dengan aturan. Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara
mendadak. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan
penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan
dihentikan.

4. Manfaat dan Dampak Turunan 5-Piralozon

5. Efek farmakologi turunan 5-piralozon dan pengaruh struktur aktivitas dibandingkan


senyawa lain dalam satu golongan
Efek farmakologi:
Analgesik meningkatkan nilai ambang rasa nyeri
Antipiretik mempengaruhi termostat
Anti inflamasi efeknya lemah
Kurang iritasi lambung kecuali fenilbutazon
Reaksi merugikan:
Agranulositosis, anemia aplastik, trombositopenia, hemolisis, udem, tremor, mual,
muntah, perdarhan lambubg, anuria

Efek merugikan;
Fenil butazon, Oksifenbutazon: edema (retensio urina), mulut kering, nausea,
vomiting, perdarahan lambung, renal tubuler necrosis, liver necrosis, alergi
(dermatitis exfoliative), agranulositosis
Kontra indikasi: ulcus pepticum, hipertensi, (karena sifat retensi air dan natrium)
dan alergi
Fenilbutazon: digunakan untuk mengobati artritis rematoid
Efek antiinflamasinya sama kuat dengan salisilat, serta punya efek uricosuric
ringan
payah jantungEfek retensi natrium dan klorida menyebabkan edema dan
bertambahnya volume plasma
Diabsorbsi cepat po kadar maksimum 2 jam
Indikasi: pirai akut, artritia rematoid, gangguan sendi (spondilitis ankilosa,
osteoartritis)
Sediaan:
Aminopirin (piramidon) dan Antipirin (fenazon) tidak digunakan lagi (1977)
karena toksik nitrosamin (karsinogenik)
Fenilbutazon (butazolidin) dan Oksifenbutazon karena toksisitasnya (koma,
trismus, kejang, syok, asidosis metabolik, depresi sumsum tulang, proteinuria,
hematuria, oliguria, gagal ginjal, ikterus) digunakan jika obat lain yang lebih
aman tidak ada
Dipiron (antalgin/novalgin): Tablet 500 mg dan larutan suntik 500 mg/ml
Dipiron: hanya digunakan sebagai analgesik antipiretik, antiinflamasinya lemah
Keamanan diragunakan, sebaiknya digunakan secara suntikan
Efek samping dan intoksikasi:
Agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia (perhatikan penggunaan
jangka panjang)
Hemolisis, udem, tremor, mual, muntah, perdarahan lambung dan anuria

BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan

2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28351/5/Chapter%20I.pdf/. Akses 9
Desember)
(http://www.farmasiku.com/index.php?target=products&product_id=29806/. Akses 10
Desember)
Drs.Priyanto, Apt, M. Biomed. 2008. Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi
dan Keperawatan. Liskonfi. Jawa Bara
Gilang. 2010. Analgesik non-opioid atau NSAID/OAINS. Jakarta : Erlangga.
Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik buku 2. Jakarta : Salemba Medika.
Neal,Michael J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis edisi ke lima. Erlangga: Jakarta
Piki, Ahmad. 2014. Makalah Kimia Farmasi Tentang Obat-Obat Golongan Analgetika
( Narkotika, Antipiretika, Dan Antispasmodik ). Poltekkes kemenkes ri : pagkalpinang
Sardjono, Santoso dan Hadi rosmiati D. Farmakologi dan Terapi, bagian farmakologi FK-UI,
Jakarta, 1995 ; hal ; 189-206.
Siswandono dan B. Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal edisi ke-2. Surabaya: Airlangga
University Press.
LAMPIRAN

Gambar 1. Proses Mixer