Vous êtes sur la page 1sur 26

MUKADDIMAH

Bahwa sesungguhnya Proklamasi 17 Agustus1945 adalah tonggak sejarah dan pintu gerbang
menuju Bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, sekaligus menjadi titik tolak
strategis dalam membentuk pemerintahan Negara Indonesia untuk mewujudnyatakan cita-cita
Bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yaitu
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Bahwa Bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur itu, pada gilirannya
diwujudnyatakan melalui Trisakti yang mengandung makna sebagai Bangsa yang berdaulat
secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Secara keseluruhan
mengisi kemerdekaan itu dilaksanakan melalui Nawa Cita yang bertujuan untuk mewujudkan
kedaulatan, kemandirian, dan berkepribadian Bangsa berdasarkan Gotong Royong.

Bahwa cita-cita Bangsa Indonesia, berdasarkan budaya Gotong Royong yang bersendikan
Trisaksi dan melalui Nawa Cita itu mengalami ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, oleh
karena Undang Undang Dasar 1945 telah mengalami banyak perubahan substansial. Perubahan
pada Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945 telah menghasilkan Demokrasi Liberal, Ekonomi
Liberal dan Budaya kontemporer yang merusak. Sehingga, Pancasila sebagai pandangan hidup
Bangsa dan Dasar Negara Republik Indonesia, secara sengaja telah direduksi fungsi dan perannya
sebagai Bintang Penuntun Bangsa.

Dengan berpegang pada asas Gotong Royong yang merupakan esensi Pancasila, maka Undang-
Undang Dasar 1945 niscaya wajib ditinjau kembali, dan dilakukan perubahan yang dipandang
perlu secara bertahap, sehingga Majelis Permusyawaratan Rakyat dapat mengambil peran
sentralnya dalam menyusun dan menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Dengan
berpegang kepada Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka
dibentuklah Partai Kerja Rakyat Indonesia, sebagai sebuah partai politik yang nasionalis dan
humanis, demokratis dan kerakyatan, terbuka, modern, dan menjunjung tinggi kemajemukan,
dengan Anggaran Dasar sebagai berikut.

BAB I
NAMA, WAKTU, LAMBANG DAN KEDUDUKAN

Pasal 1
NAMA

Partai ini bernama Partai Kerja Rakyat Indonesia, disingkat PAKAR INDONESIA.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 1


Pasal 2
WAKTU

PAKAR INDONESIA didirikan pada hari Rabu, tanggal 1 Juni 2016 untuk jangka waktu yang tidak
ditentukan lamanya.

Pasal 3
LAMBANG DAN TANDA GAMBAR

PAKAR INDONESIA memiliki Lambang dan Tanda Gambar, sebagai berikut:

Lambang Tanda Gambar

Pasal 4
KEDUDUKAN

Majelis Agung, Majelis Pendiri Pusat, Dewan Pengurus Pusat dan Mahkamah Partai wajib
berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

BAB II
KEDAULATAN
Pasal 5

Kedaulatan Partai berada di tangan Rapat Anggota dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis
Pendiri Pusat menurut ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 2


BAB III
WILAYAH
Pasal 6

Wilayah Partai meliputi seluruh wilayah kedaulatan hukum Negara Republik Indonesia.

BAB IV
ASAS DAN SIFAT

Pasal 7
ASAS

PAKAR INDONESIA berasaskan Gotong Royong, berlandaskan Pancasila sebagai Falsafah Hidup
Bangsa dan Dasar Negara Republik Indonesia.

Pasal 8
SIFAT

PAKAR INDONESIA adalah partai politik yang bersifat nasionalistis humanis-religius.

BAB V
VISI DAN MISI
Pasal 9
VISI

PAKAR INDONESIA memiliki visi percepatan cita-cita dan kehendak Bangsa sebagaimana
termaktub dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Pasal 10
MISI

Misi PAKAR INDONESIA adalah:


1. Memajukan demokrasi gotong royong yang berkedaulatan rakyat;
2. Membangun sistem ekonomi berdikari dan tata kelola perekonomian nasional yang
bertumpu pada kekayaaan budaya dan alam Indonesia;
3. Memperkokoh budaya daerah yang berkepribadian Indonesia dengan mengedepankan
kemajemukan sebagai pengejawantahan Bhinneka Tunggal Ika.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 3


BAGIAN VI
TUJUAN, TUGAS POKOK DAN FUNGSI

Pasal 11
TUJUAN

PAKAR INDONESIA bertujuan:


1. Mewujudkan kepemimpinan nasional yang berwawasan global dan berkarakter;
nasionalistis humanis-religius untuk mewujudkan cita-cita Bangsa sebagaimana termaktub
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;
2. Mengupayakan kembali dipulihkannya sistem perekonomian nasional yang berasaskan
kekeluargaan dan gotong royong;
3. Mengembalikan peran dan fungsi Badan-badan Usaha Milik Negara sebagai agen produksi
dan distribusi nasional;
4. Melindungi dan mengaktualkan adat budaya dan kearifan lokal untuk menjaga kepribadian
Bangsa dari ancaman budaya asing;
5. Memajukan kehidupan sosial yang bermartabat dan kehidupan individu yang memiliki daya
saing tinggi.

Pasal 12
TUGAS POKOK

Tugas pokok PAKAR INDONESIA adalah mengembalikan dan memperjuangkan terwujudnya


kehidupan sosial-politik demokratis gotong royong yang berkeadilan sosial berdasarkan
kebhinnekaan adat budaya, keberagaman kepercayaan, dan saling tolong menolong sebagai
keluarga besar Bangsa Indonesia.

Pasal 13
FUNGSI

PAKAR INDONESIA berfungsi:


1. Membangun Organisasi Partai dengan tata kelola yang baik dan benar;
2. Membangun negarawan, pemimpin bangsa dan kader-kader politik dan mendorong
partisipasi rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada
keberagaman dan kesetaraan;
3. Menjadi mitra lembaga tinggi Negara dan lembaga publik secara konstruktif untuk
mendorong taraf hidup masyarakat dan Bangsa semakin maju;
4. Menyerap, menampung, menyalurkan, dan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan
bersama rakyat Indonesia.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 4


BAB VII
KEANGGOTAAN DAN KADER

Pasal 14
KEANGGOTAAN

Anggota PAKAR INDONESIA adalah:


1. Warga Negara Republik Indonesia yang menyetujui Asas, Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga Partai;
2. Setia kepada Pancasila sebagai Falsafah Hidup Bangsa dan Dasar Negara Republik
Indonesia;
3. Ketentuan lebih lanjut tentang Keanggotaan PAKAR INDONESIA sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 15
KADER

Kader PAKAR INDONESIA:


1. Anggota Partai yang berperan sebagai tenaga inti, penggerak dan pelindung Partai;
2. Mengikuti tahapan kaderisasi melalui Pendidikan dan Pelatihan Kader yang
diselenggarakan oleh Majelis Pendiri pada semua tingkatan;
3. Terdiri dari beberapa tingkatan Kader;
4. Dipersiapkan untuk menjadi:
1. Calon pengurus partai di berbagai tingkatan Kepengurusan Partai;
2. Calon anggota DPR dan DPRD;
3. Calon Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah;
4. Calon Presiden atau Wakil Presiden;
5. Calon Pejabat Publik lainnya.
5. Ketentuan lebih lanjut tentang Kader Partai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai
denganayat (4) diaturkan dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VIII
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA

Pasal 16
HAK ANGGOTA

1. Setiap Anggota PAKAR INDONESIA berhak:


1. Memperoleh Kartu Anggota;
2. Bicara dan berpendapat;
3. Memilih dan dipilih;
4. Membela diri;
5. Mengundurkan diri;
2. Ketentuan lebih lanjut tentang hak angggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dalam Anggaran Rumah Tangga.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 5


Pasal 17
KEWAJIBAN ANGGOTA

Anggota PAKAR INDONESIA berkewajiban:


1. Mengamalkan Asas dalam kehidupan sehari-hari;
2. Mengamalkan Pancasila;
3. Menjunjung tinggi nama dan kehormatan Partai;
4. Membayar Iuran Partai;
5. Memegang teguh dan menjalankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta
Peraturan-peraturan Organisasi Partai;
6. Aktif melaksanakan Program dan Kebijakan Partai;
7. Mengibarkan Bendera Partai;
8. Ketentuan lebih lanjut tentang kewajiban anggota Partai seperti tercantum dalam ayat (1),
sampai dengan ayat (7) diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB IX
STRUKTUR ORGANISASI WEWENANG DAN KEWAJIBAN PENGURUS

Pasal 18
STRUKTUR ORGANISASI PARTAI

1. Struktur Organisasi Partai menurut pembagian:


1. Tingkat Nasional;
2. Tingkat Provinsi;
3. Tingkat Kabupaten/Kota;
4. Tingkat Kecamatan;
5. Tingkat Desa/Kelurahan atau sebutan lainnya, dan;
6. Tingkat Rukun Warga/Rukun Tetangga.
2. Struktur Organisasi tingkat Nasional terdiri dari Majelis Agung (MA), Majelis Pendiri Pusat
(MPP), Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan Mahkamah Partai (MP);
3. Struktur Organisasi tingkat Provinsi terdiri dari Majelis Madya (MM), Majelis Pendiri
Daerah (MPD) dan Dewan Pengurus Daerah (DPD);
4. Struktur Organisasi tingkat Kabupaten/Kota terdiri dari Majelis Rendah (MR), Majelis
Pendiri Cabang (MPC) dan Dewan Pengurus Cabang (DPC);
5. Struktur Organisasi tingkat Kecamatan disebut Pengurus Anak Cabang (PAC);
6. Struktur Organisasi tingkat Desa/Keluarahan disebut Pengurus Ranting (PR).
7. Struktur Organisasi tingkat Rukun Warga/Rukun Tetangga disebut Pengurus Anak Ranting
(PAR).

Pasal 19
PERWAKILAN PARTAI

1. PIKA dapat membentuk Perwakilan Partai di luar negeri;


2. Ketentuan lebih lanjut tentang perwakilan luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 6


Pasal 20
MAJELIS AGUNG

1. Majelis Agung adalah kelembagaan Partai yang keanggotaannya bersifat otonom dan
perseorangan;
2. Majelis Agung hanya dipimpin oleh seorang Ketua dan seorang Sekretaris yang disepakati
diantara para anggota Mejelis Agung;
3. Majelis Agung berwenang:
1. Mengeluarkan veto atas perubahan Anggaran Dasar dalam Rapat Anggota Nasional;
2. Memberikan pertimbangan atas keputusan Majelis Pendiri Pusat, diminta atau tidak
diminta;
3. Memberikan saran dan nasihat secara tertulis kepada Ketua Majelis Pendiri Pusat dan
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat;
4. Memberhentikan Pengurus Majelis Pendiri Pusat, apabila nyata dan terbukti dalam
tindakannya membayakan Organisasi Partai;
5. Mengesahkan keanggotaan Majelis Madya dan Majelis Rendah yang dihasilkan Rapat
Anggota Daerah dan Rapat Anggota Cabang;
4. Majelis Agung berkewajiban:
1. Menjalankan setiap peran dan fungsinya sejalan dengan Asas, Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga;
2. Memberikan pertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
3. Bersumpah atau berjanji didepan Pemuka Agama dalam Rapat Anggota Nasional.
5. Anggota Majelis Agung dapat ditambah dari diantara Tokoh dan Pemuka Nasional yang
berjasa terhadap Negara dan perjuangan Partai;
6. Penambahan anggota Majelis Agung sebagaimana ketentuan pada ayat (5) diatur kemudian
dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 21
MAJELIS PENDIRI PUSAT

1. Majelis Pendiri Pusat (MPP) adalah pemegang mandat Rapat Anggota Nasional yang
bersifat kolektif;
2. Majelis Pendiri Pusat berwenang:
1. Mengesahkan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang
dihasilkan Rapat Anggota Nasional;
2. Menentukan kebijakan tingkat nasional berdasarkan Asas, sejalan dengan Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional dan Peraturan
Organisasi Partai;
3. Mengeluarkan Peraturan Organisasi untuk menjalankan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga sebagaimana mestinya;
4. Mengesahkan Komposisi Personalia Mahkamah Partai yang dipilih melalui Rapat
Anggota Nasional;
5. Mengesahkan Komposisi dan Personalia Dewan Pengurus Pusat yang dipilih melalui
Rapat Anggota Nasional;
6. Mengesahkan Personalia Pengurus Majelis Pendiri Daerah yang dipilih dari diantara
anggota Majelis Pendiri Daerah;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 7


7. Mengesahkan Personalia Pengurus Majelis Pendiri Cabang yang dipilih dari diantara
anggota Majelis Pendiri Cabang;
3. Majelis Pendiri Pusat berkewajiban:
1. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan berdasarkan Asas, sejalan dengan
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional dan
Rapat-rapat lainnya ditingkat Nasional, serta Peraturan Organisasi Partai;
2. Memberikan pertanggungjawaban secara berkala kepada Majelis Agung dan
pertanggungjawaban akhir kepada Rapat Anggota Nasional;
4. Anggota Majelis Pendiri Pusat dapat ditambah dari diantara Kader-kader Partai yang
berjasa terhadap perjuangan Partai;
5. Penambahan anggota Majelis Pendiri Pusat sebagaimana ketentuan pada ayat (4) diatur
kemudian dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 22
MAHKAMAH PARTAI

1. Mahkamah Partai (MP) diusulkan oleh Rapat Anggota Nasional dan disahkan oleh Majelis
Permusyawaratan Pusat;
2. Mahkamah Partai berwenang:
1. Menyelesaikan persoalan-persoalan yang terkait dengan perselisihan Partai yang
tidak dapat diselesaikan oleh Dewan Pengurus pada semua tingkatan;
2. Menyelesaikan persoalan-persoalan anggota Partai yang terkait dengan masalah
moral, sosial, dan hukum, yang mengganggu nama baik Partai.
3. Mahakamah Partai berkewajiban:
1. Melaksanakan segala ketentuan sejalan dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Keputusan Majelis Pendiri Pusat, dan
Peraturan Organisasi Partai;
2. Memberikan pertanggungjawaban secara berkala kepada Majelis Pendiri Pusat dan
pertanggungjawaban akhir kepada Rapat Anggota Nasional.
4. Mahkamah Partai dapat mengabil keputusan yang menyimpang namun tidak bertentangan
dengan Asas Partai, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga;
5. Ketentuan lebih lanjut tentang Mahkamah Partai diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 23
DEWAN PENGURUS PUSAT

1. Dewan Pengurus Pusat (DPP) adalah eksekutif Partai pada tingkat Nasional yang terdiri
dari para profesional;
2. Dewan Pengurus Pusat berwenang:
1. Menyusun strategi, rencana kerja, dan program-program Partai sesuai dengan
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, dan
Keputusan Majelis Pendiri Pusat, serta Peraturan Organisasi Partai;
2. Mengesahkan Personalia Badan-badan dan Lembaga-lembaga untuk mendukung
Dewan Pengurus Pusat;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 8


3. Memberikan penghargaan dan sanksi kepada personalia Badan-badan dan Lembaga-
lembaga Dewan Pengurus Pusat sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga;
3. Dewan Pengurus Pusat berkewajiban:
1. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan sejalan dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Keputusan Majelis
Pendiri Pusat dan Peraturan Organisasi Partai;
2. Memberikan pertanggungjawaban harian kepada Majelis Pendiri Pusat dan
pertanggungjawaban akhir kepada Rapat Anggota Nasional;
3. Mendapat bagian 15% (limabelas persen) Iuran Partai dan memanfaatkannya untuk
pengelolaan sehari-hari Partai di tingkat nasional;
4. Melaksanakan publikasi, sosialisasi dan komunikasi Partai secara nasional dan
pengendalian Brand Image Partai;
5. Mengadimistrasiakan tabungan Calon Anggota Legislatif tingkat Pusat dan
menyerahkan pokok tabungan kepada calon 6 (enam) bulan sebelum Pemulihan
Umum;
6. Melakukan pemberkasan Calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia sesuai dengan Daerah Pemilihannya;
7. Melaksanakan kampanye Partai secara nasional dan mengendalikan kegiatan
kampanye di daerah serta seluruh pelosok nusantara;
8. Menyiapkan pengadaan atribut Partai dan mendistribusikannya ke seluruh
kelembagaan Partai di daerah dan seluruh pelosok nusantara;
9. Melakukan komunikasi dengan Komisi Pemilihan Umum untuk program Kepemiluan.

Pasal 24
MAJELIS MADYA

1. Majelis Madya (MM) adalah kelembagaan Partai di Daerah yang keanggotaannya bersifat
otonom dan perseorangan;
2. Majelis Madya hanya dipimpin oleh seorang Ketua dan seorang Sekretaris yang disepakati
diantara para anggota Mejelis Madya;
3. Majelis Madya berwenang:
1. Memberikan pertimbangan atas keputusan Majelis Pendiri Daerah, diminta atau tidak
diminta;
2. Memberikan saran dan nasihat secara tertulis kepada Ketua Majelis Pendiri Daerah
dan Ketua Dewan Pengurus Daerah;
3. Memberhentikan Pengurus Majelis Pendiri Daerah, apabila nyata dan terbukti dalam
tindakannya membayakan Organisasi Partai;
4. Majelis Madya berkewajiban:
1. Menjalankan setiap peran dan fungsinya sejalan dengan Asas, Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga;
2. Bertanggungjawab kepada Majelis Agung;
3. Bersumpah atau berjanji didepan Pemuka Agama dalam Rapat Anggota Daerah.
5. Anggota Majelis Madya dapat ditambah dari diantara Tokoh dan Pemuka Nasional yang
berjasa terhadap Negara dan perjuangan Partai;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 9


6. Penambahan anggota Majelis Madya sebagaimana ketentuan pada ayat (5) diatur kemudian
dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 25
MAJELIS PENDIRI DAERAH

1. Majelis Pendiri Daerah (MPD) adalah pemegang mandat Rapat Anggota Daerah yang
bersifat kolektif;
2. Majelis Pendiri Daerah berwenang:
1. Menentukan kebijakan tingkat Daerah berdasarkan Asas, sejalan dengan Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Daerah, Keputusan Majelis
Pendiri Pusat dan Peraturan Organisasi Partai;
2. Mengeluarkan Peraturan Daerah untuk menjalankan Peraturan Organisasi Partai
sebagaimana mestinya;
3. Mengesahkan Komposisi dan Personalia Dewan Pengurus Daerah yang dipilih melalui
Formatur Dewan Pengurus Daerah;
4. Mengesahkan Komposisi dan Personalia Pengurus Anak Cabang yang dipilih dalam
Rapat Anggota Anak Cabang Partai;
3. Majelis Pendiri Daerah berkewajiban:
1. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan sejalan dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Keputusan Majelis
Pendiri Pusat dan Keputusan Rapat Anggota Daerah serta Peraturan Organisasi
Partai;
2. Memberikan pertanggungjawaban berkala kepada Majelis Pendiri Pusat dan
pertanggungjawaban akhir kepada Rapat Anggota Daerah.
4. Anggota Majelis Pendiri Daerah dapat ditambah dari diantara Kader-kader Partai yang
berjasa terhadap perjuangan Partai;
5. Penambahan anggota Majelis Pendiri Daerah sebagaimana ketentuan pada ayat (4)
diaturdalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 26
DEWAN PENGURUS DAERAH

1. Dewan Pengurus Daerah (DPD) adalah eksekutif Partai pada tingkat Daerah yang terdiri
dari para profesional;
2. Dewan Pengurus Daerah berwenang:
1. Menyusun strategi, rencana kerja, dan program-program Partai sesuai dengan
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, dan
Keputusan Majelis Pendiri Pusat dan Daerah, serta Peraturan Organisasi Partai;
2. Mengesahkan Personalia Badan-badan dan Lembaga-lembaga yang mendukung
Dewan Pengurus Daerah;
3. Memberikan penghargaan dan sanksi kepada Badan-Badan dan Lembaga-lembaga
Dewan Pengurus Daerah sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga;
3. Dewan Pengurus Daerah berkewajiban:

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 10


1. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan sesuai dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Keputusan Majelis
Pendiri Pusat dan Daerah, dan Peraturan Organisasi Partai;
2. Memberikan pertanggungjawaban harian kepada Majelis Pendiri Daerah dan
pertanggungjawaban akhir kepada Rapat Anggota Daerah;
3. Mendapat bagian 25% (duapuluh lima persen) Iuran Partai dan memanfaatkannya
untuk pengelolaan sehari-hari Partai ditingkat daerah;
4. Mengadimistrasiakan tabungan Calon Anggota Legislatif tingkat Provinsi dan
menyerahkan pokok tabungan kepada calon 6 (enam) bulan sebelum Pemulihan
Umum;
5. Menyiapkan pengadaan atribut Partai tingkat Provinsi dan mendistribusikannya ke
seluruh kelembagaan Partai di tingkat basis;
6. Melakukan pemberkasan Calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi
sesuai dengan Daerah Pemilihannya;
7. Melaksanakan kampanye dan sosialisasi Partai di daerahnya serta mengkoordinasikan
seluruh kegiatan kampanye dan sosialisasi yang dilakukan oleh Dewan Pengurus
Cabang;
8. Melakukan komunikasi dengan Komisi Pemilihan Umum Daerah Provinsi untuk
program Kepemiluan.

Pasal 27
MAJELIS RENDAH

1. Majelis Rendah (MR) adalah kelembagaan Partai di Cabang yang keanggotaannya bersifat
otonom dan perseorangan;
2. Majelis Rendah hanya dipimpin oleh seorang Ketua dan seorang Sekretaris yang disepakati
diantara para anggota Mejelis Rendah;
3. Majelis Rendah berwenang:
1. Memberikan pertimbangan atas keputusan Majelis Pendiri Cabang, diminta atau tidak
diminta;
2. Memberikan saran dan nasihat secara tertulis kepada Ketua Majelis Pendiri Cabang
dan Ketua Dewan Pengurus Cabang;
3. Memberhentikan Pengurus Majelis Pendiri Cabang, apabila nyata dan terbukti dalam
tindakannya membayakan Organisasi Partai;
4. Majelis Rendah berkewajiban:
1. Menjalankan setiap peran dan fungsinya sejalan dengan Asas, Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga;
2. Bertanggungjawab kepada Majelis Agung;
3. Bersumpah atau berjanji didepan Pemuka Agama dalam Rapat Anggota Cabang.
5. Anggota Majelis Rendah dapat ditambah dari diantara Tokoh dan Pemuka Nasional yang
berjasa terhadap Negara dan perjuangan Partai;
6. Penambahan anggota Majelis Rendah sebagaimana ketentuan pada ayat (5) diatur
kemudian dalam Anggaran Rumah Tangga.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 11


Pasal 28
MAJELIS PENDIRI CABANG

1. Majelis Pendiri Cabang (MPC) adalah pemegang mandat Rapat Anggota Cabang yang
bersifat kolektif;
2. Majelis Pendiri Cabang berwenang:
1. Menentukan kebijakan tingkat Cabang berdasarkan Asas, sesuai dengan Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Keputusan
Majelis Pendiri Pusat dan Daerah, Rapat Anggota Cabang, serta Peraturan Organisasi
Partai;
2. Mengeluarkan Peraturan Cabang untuk menjalankan Peraturan Organisasi dan
Peraturan Daerah sebagaimana mestinya;
3. Mengesahkan Komposisi dan Personalia Dewan Pengurus Cabang yang dipilih melalui
Rapat Anggota Cabang;
4. Mengesahkan Komposisi dan Personalia Pengurus Ranting yang dipilih dalam Rapat
Anggota Ranting;
3. Majelis Permusyawaratan Cabang berkewajiban:
1. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan sesuai dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Keputusan Majelis
Pendiri Pusat , Keputusan Rapat Anggota Daerah dan Cabang serta Peraturan
Organisasi Partai;
2. Memberikan pertanggungjawaban berkala kepada Majelis Pendiri Pusat dan
pertanggungjawaban akhir kepada Rapat Anggota Cabang.
4. Anggota Majelis Pendiri Cabang dapat ditambah dari diantara Kader-kader Partai yang
berjasa terhadap perjuangan Partai;
5. Penambahan anggota Majelis Pendiri Daerah sebagaimana ketentuan pada ayat (4)
diaturdalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 29
DEWAN PENGURUS CABANG

1. Dewan Pengurus Cabang (DPC) adalah eksekutif Partai pada tingkat Cabang yang terdiri
dari para profesional;
2. Dewan Pengurus Cabang berwenang:
1. Menyusun strategi, rencana kerja, dan program-program Partai sesuai dengan
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Daerah
dan Cabang, Keputusan Majelis Pendiri Pusat, Daerah dan Cabang serta Peraturan
Organisasi Partai;
2. Mengesahkan Personalia Badan-Badan dan Lembaga-lembaga yang mendukung
Dewan Pengurus Cabang;
3. Memberikan penghargaan dan sanksi kepada personalia Badan-Badan dan Lembaga-
lembaga Dewan Pengurus Cabang sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga;
4. Menyelesaikan perselisihan Pengurus Anak Cabang dan Pengurus Ranting.
3. Dewan Pengurus Cabang berkewajiban:

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 12


1. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan sesuai dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Daerah dan Cabang,
Keputusan Majelis Pendiri Pusat, Daerah dan Cabang, dan Peraturan Organisasi Partai;
2. Memberikan pertanggungjawaban harian kepada Majelis Pendiri Cabang dan
pertanggungjawaban akhir pada Rapat Anggota Cabang.
3. Melakukan pengumpulan Iuran Partai dari Anggota dan Kader serta dari Pengurus
Anak Cabang dan berhak mendapat bagian 60% (enampuluh persen) untuk
pengelolaan sehari-hari Cabang;
4. Mengadimistrasiakan tabungan Calon Anggota Legislatif tingkat Kabupaten/Kota dan
menyerahkan pokok tabungan kepada calon 6 (enam) bulan sebelum Pemulihan
Umum;
5. Melakukan pemberkasan Calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota sesuai dengan Daerah Pemilihannya;
6. Melaksanakan kampanye dan sosialisasi Partai di daerahnya serta mengkoordinasikan
seluruh kegiatan kampanye dan sosialisasi yang dilakukan oleh Pengurus Anak
Cabang, Pengurus Ranting dan Pengurus Anak Ranting;
7. Melakukan komunikasi dengan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten/ Kota
untuk program Kepemiluan.

Pasal 30
PENGURUS ANAK CABANG

1. Pengurus Anak Cabang (PAC) adalah Pelaksana Partai yang bersifat kolektif di tingkat
Kecamatan;
2. Merupakan ujung tombak dan basis perjuangan Partai ditingkat Kecamatan;
3. Pengurus Anak Cabang berwenang:
1. Menentukan program tingkat Anak Cabang sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran
Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Daerah, Cabang, maupun Anak
Cabang, serta Peraturan Organisasi Partai;
2. Mengkonsolidasikan Saksi-saksi Pemilihan Umum di seluruh Kecamatan;
3. Menggalang komunikasi dengan Panitia Pemilu Kecamatan (PPK) untuk mendapatkan
informasi yang benar mengenai pelaksanaan dan hasil Pemilihan Umum di tingkat
Kecamatan;
4. Menyelesaikan perselisihan Pengurus Anak Ranting Partai.
5. Mengesahkan Komposisi dan Personalia Pengurus Anak Ranting yang dipilih dalam
Rapat Anggota Anak Ranting Partai.
4. Pengurus Anak Cabang berkewajiban:
1. Merumuskan dan melaksanakan segala kebijakannya sesuai dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Daerah dan Cabang,
Keputusan Majelis Pendiri Pusat, Daerah dan Cabang dan Rapat Anggota Anak Cabang,
serta Peraturan Organisasi Partai;
2. Menggalang simpatisan dan melakukan pendaftaran calon Anggota Partai di
wilayahnya;
3. Memungut Iuran Partai dari Anggota dan Kader Partai dan berhak mendapat bagian
30% (tigapuluh persen) untuk mengelolaan sehari-hari Anak Cabang;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 13


4. Memberikan pertanggungjawaban berkala kepada Majelis Pendiri Daerah dan
pertanggungjawaban akhir pada Rapat Anggota Kecamatan.
5. Menyusun strategi dan siasat kapanye untuk pemenangan Partai dalam Pemilihan
Umum tingkat Kecamatan;
6. Melaporkan seluruh data hasil Perhitungan Suara ditingkat Kecamatan kepada Dewan
Pengurus Pusat, Daerah dan Cabang;

Pasal 31
PENGURUS RANTING

1. Pengurus Ranting (PR) adalah PelaksanaPartai yang bersifat kolektif di tingkat


Desa/Kelurahan atau sebutan lain;
2. Merupakan ujung tombak, pertahanan, teladan dan moral Partai di tingkat basis
Desa/Keluarahan;
3. Pengurus Ranting Partai berwenang:
1. Merumuskan program tingkat Ranting sesuai Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Daerah, Cabang, Anak Cabang, maupun
Ranting, serta Peraturan Organisasi Partai;
2. Menyelesaikan perselisihan kepengurusan Anak Ranting Partai.
4. Pengurus Ranting Partai berkewajiban:
1. Melaksanakan segala kebijakannya sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, Keputusan Rapat Anggota Nasional, Daerah, Cabang, Anak Cabang, dan
Ranting, Keputusan Majelis Pendiri Pusat, Daerah dan Cabang serta Peraturan
Organisasi Partai;
2. Menggalang simpatisan dan melakukan pendaftaran calon Anggota Partai di
wilayahnya;
3. Memungut Iuran Partai, menyerahkannya kepada Pengurus Anak Cabang dan berhak
mendapat bagian 60% (enampuluh persen) untuk mengelolaan sehari-hari Ranting
Pantai;
4. Menggalang dan mengkonsolidasikan Saksi-saksi Pemilihan Umum di seluruh
Desa/Kelurahan;
5. Menggalang simpatisan dan pendukung Partai di tingkat Desa/Kelurahan untuk
pemenangan Pemilihan Umum;
6. Menggalang komunikasi dengan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KKPS)
untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai pelaksanaan dan hasil Pemilihan
Umum di tingkat Desa/Kelurahan setempat;
7. Memberikan pertanggungjawaban secara berkala kepada Majelis Permusyawaratan
Cabang dan pertanggungjawaban akhir pada Rapat Anggota Ranting;
8. Melaporkan seluruh data hasil Perhitungan Suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS)
kepada Pengurus Anak Cabang.

Pasal 32
PENGURUS ANAK RANTING

1. Pengurus Anak Ranting (PAR) adalah Pelaksana Partai yang bersifat kolektif di tingkat
Rukun Warga/Rukun Tetangga;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 14


2. Merupakan ujung tombak dan pertahanan Partai di tingkat basis Partai;
3. Pengurus Anak Ranting Partai berwenang:
1. Menjalankan segala programnya dengan berpedoman pada Rapat Anggota Nasional,
Daerah, Cabang, Anak Cabang serta Ranting dan Peraturan Organisasi Partai;
2. Menyiapkan Saksi-saksi Pemilihan Umum di seluruh Tempat Pemungutan Suara
(TPS);
3. Meyusun strategi dan taktik untuk pemenangan Pemilihan Umum di wilayah
setempat.
4. Pengurus Anak Ranting Partai berkewajiban:
1. Menggalang simpatisan dan melakukan pendaftaran calon Anggota Partai di
wilayahnya;
2. Melaksanakan kebijakannya sesuai Rapat-rapat Partai tingkat Nasional, Daerah dan
Cabang di basis Partai sejalan dengan budaya setempat;
3. Membantu Pengurus Anak Cabang dan Ranting melakukan pemungutan Iuran Partai
terhadap Anggota dan Kader Partai di lingkungan setempat;
4. Memberikan pertanggungjawaban pada Rapat Anggota Anak Ranting.
5. Menyusun strategi dan siasat sedemikian rupa untuk pemenangan Partai dalam
Pemilihan Umum di wilayah setempat;

BAB X
BADAN DAN LEMBAGA
Pasal 33

1. Dewan Pengurus Pusat dapat membentuk Badan dan Lembaga di tingkat Nasional untuk
melaksanakan tugas-tugas dalam bidang tertentu;
2. Dewan Pengurus Daerah dapat membentuk Badan dan Lembaga di tingkat Daerah untuk
melaksanakan tugas-tugas dalam bidang tertentu;
3. Dewan Pengurus Cabang dapat membentuk Badan dan Lembaga di tingkat Cabang untuk
melaksanakan tugas-tugas dalam bidang tertentu;
4. Setiap Badan dan Lembaga yang dibentuk masing-masing Kepengurusan wajib mendapat
persetujuan Majelis Pendiri sesuai tingkatannya;
5. Ketentuan lebih lanjut tentang Badan dan Lembaga ditatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB XI
PENCALONAN DAN PEMILIHAN UMUM

Pasal 34
PENCALONAN LEGISLATIF

1. Pendaftaran calon anggota Legislatif diselenggarakan oleh Majelis Pendiri Partai sesuai
tingkatannya;
2. Mendahulukan anggota Majelis Pendiri Partai, Dewan Pengurus Partai dan Pengurus Partai
yang memenuhi syarat;
3. Calon anggota Legislatif yang berasal dari Majelis Pendiri Partai, Dewan Pengurus Partai
dan Pengurus Partai diwajibkan menabung 2 (dua) tahun sebelum Pemilihan Umum;
Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 15
4. Seluruh calon anggota Legislatif wajib menempuh syarat-syarat psikotest dan kemampuan
finansial;
5. Partai sama sekali tidak memungut biaya terhadap calon anggota Legislatif yang berasal
dari Kader dan Anggota Partai;
6. Proses pemberkasan calon anggota Legislatif sepenuhnya dilakukan oleh Dewan Pengurus
sesuai tingkatannya;
7. Calon anggota Legislatif yang berasal dari luar Partai, proses pendaftarannya menyesuaikan
dengan Jadwal Komisi Pemilihan Umum;
8. Bagi Calon Anggota Legislatif terpilih wajib mendapatkan Kartu Pengenal Anggota:
9. Ketentuan lebih lanjut tentang calon anggota Legislatif diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.

Pasal 35
PENCALONAN EKSEKUTIF

1. Pencalonan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah pada dasarnya mendahulukan Kader-
kader Partai yang memenuhi syarat;
2. Partai dapat memberikan dukungan terhadap calon Kepala Daerah/Wakil Kepada Daerah
secara bersama-sama dengan Partai Politik lainnya;
3. Partai dapat memberikan dukungan terhadap Calon Perseorangan;
4. Partai dapat menyeleksi orang seorang untuk dicalonkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah;
5. Ketentuan lebih lanjut tentang pencalonan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diatur
dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB XII
FRAKSI
Pasal 36

1. Partai memiliki Fraksi dan Alat Kelengkapan Partai dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat
Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota dengan komposisi
dan personalianya diusulkan oleh Dewan Pengurus Pusat, Daerah dan Cabang dan
ditetapkan oleh Majelis Pendiri Pusat, Daerah dan Cabang;
2. Fraksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pelaksana kebijakan Partai pada
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat
Kabupaten/Kota untuk meagregasikan aspirasi dan kepentingan rakyat berdasarkan Asas,
Sifat, Misi, Visi dan Tujuan Partai.
3. Ketentuan tentang Fraksi Partai dan Alat Kelengkapan Partai sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) diatur kemudian dalam Peraturan Organisasi.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 16


BAB XIII
HUBUNGAN DAN KERJASAMA
Pasal 37

1. Partai menjalin kerjasama dengan Organisasi Kemasyarakatan dan Lembaga Swadaya


Masyarakat untuk menggerakkan potensi masyarakat dan sebagai sumber kader;
2. Partai mengadakan hubungan khusus dengan Organisasi Kemasyarakatan dan Lembaga
Swadaya Masyarakat yang menyalurkan aspirasinya kepada Partai;
3. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 38

1. Partai dapat menjalin hubungan dan kerjasama dengan Partai Politik lain untuk mencapai
cita-cita dan tujuan Bangsa dan Negara dalam rangka memperjuangkan aspirasi dan
kepentingan rakyat;
2. Partai dapat menjalin hubungan dan kerjasama dengan Badan dan Lembaga Negara, dan
Organisasi Internasional lainnya;
3. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga.

BAB XIV
RAPAT ANGGOTA DAN RAPAT-RAPAT

Pasal 39
RAPAT ANGGOTA DAN RAPAT-RAPAT TINGKAT NASIONAL

1. Rapat Anggota dan Rapat-Rapat tingkat Nasional terdiri dari:


1. Rapat Anggota Nasional (RAGOTNAS);
2. Rapat Anggota Nasional Luar Biasa (RAGOTNAS-LB);
3. Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS);
4. Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS;
5. Rapat Kerja Nasional Khusus (RAKERNASUS).
2. Rapat Anggota Nasional:
1. Adalah pemegang kekuasaan tertinggi Partai yang diadakan sekali dalam 5 (lima)
tahun;
2. Memiliki kewenangan:
a. Kecuali terhadap Asas Partai, mengusulkan perubahan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Partai untuk mendapat pengesahan dari Majelis Pendiri
Pusat;
b. Menetapkan Kebijakan Politik Partai;
c. Menetapkan Program Umum Partai;
d. Menilai Pertanggungjawaban Majelis Pendiri Pusat;
e. Memilih anggota Majelis Pendiri Pusat;
f. Menilai Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 17


g. Memilih dan mengesahkan Formatur Dewan Pengurus Pusat yang diajukan oleh
Rapat Anggota Nasional yang terdiri dari 9 (sembilan) anggota formatur;
h. Mengajukan Komposisi dan Personalia Dewan Pengurus Pusat kepada Majelis
Pendiri Pusat untuk mendapatkan pengesahan;
i. Menetapkan kebijakan-kebijakan lainnya yang dianggap perlu dan sejalan dengan
Visi, Misi Tujuan Partai;
3. Rapat Anggota Nasional Luar Biasa:
1. Rapat Anggota Nasional Luar Biasa adalah Rapat Anggota Nasional yang
diselenggarakan atas permintaan dan/atau persetujuan sekurang-kurangnya 2/3
Dewan Pengurus Daerah, berdasarkan alasan:
a. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat dinilai oleh Rapat Majelis Pendiri Pusat telah
bertindak sewenang-wenang;
b. Partai dalam keadaan terancam atau menghadapi hal ihwal kegentingan yang
memaksa;
c. Dewan Pengurus Pusat melanggar Anggaran Dasar atau Dewan Pengurus Pusat
tidak dapat melaksanakan Keputusan Rapat Anggota Nasional;
2. Rapat Anggota Nasional Luar Biasa diselenggarakan oleh Majelis Pendiri Pusat;
3. Rapat Anggota Nasional Luar Biasa mempunyai kekuasaan dan wewenang yang sama
dengan Rapat Anggota Nasional;
4. Dewan Pengurus Pusat wajib memberikan pertanggungjawaban di dalam Rapat
Anggota Nasional Luar Biasa.
4. Rapat Pimpinan Nasional:
1. Rapat Pimpinan Nasional adalah rapat pengambilan keputusan tertinggi di bawah
Rapat Anggota Nasional;
2. Rapat Pimpinan Nasional diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun
oleh Majelis Pendiri Pusat.
5. Rapat Kerja Nasional:
1. Adalah rapat yang diadakan untuk menyusun dan mengevaluasi program kerja hasil
Rapat Anggota Nasional;
2. Rapat Kerja Nasional dilaksanakan pada awal dan pertengahan periode
kepengurusan;
3. Rapat Kerja Nasional diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat;
6. Rapat Kerja Nasional Khusus:
1. Adalah rapat yang diadakan khusus untuk pencalonan Presiden dan/atau Wakil
Presiden;
2. Apabila calon Presiden dan/atau Wakil Presiden yang diusung Partai lebih dari
seorang, maka calon-calon yang bersangkutan memaparkan visi, misi dan programnya
dihadapan para peserta Rapat Kerja Nasional Khusus;
3. Rapat Kerja Nasional Khusus menilai masing-masing visi, misi dan program calon
Presiden dan/atau Wakil Presiden untuk kemudian memutuskan siapa yang akan
dicalonkan oleh Partai.
4. Rapat Kerja Nasional Khusus diselenggaran oleh Majelis Pendiri Pusat dan
dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Pusat.
7. Ketentuan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat
(6) diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 18


Pasal 40
RAPAT ANGGOTA DAN RAPAT-RAPAT TINGKAT DAERAH

1. Rapat Anggota dan Rapat-Rapat tingkat Daerah terdiri dari:


1. Rapat Anggota Daerah (RAGOTDA);
2. Rapat Anggota Daerah Luar Biasa (RAGOTDA-LB);
3. Rapat Pimpinan Daerah (RAPIMDA);
4. Rapat Kerja Daerah (RAKERDA);
5. Rapat Kerja Daerah Khusus (RAKERDASUS).
2. Rapat Anggota Daerah;
1. Adalah pemegang kekuasaan Partai di tingkat Provinsi yang diadakan sekali dalam 5
(lima) tahun;
2. Memiliki kewenangan:
a. Memutuskan Kebijakan Politik tingkat Daerah;
b. Menetapkan Program Umum Daerah Partai;
c. Menilai pertanggungjawaban Majelis Pendiri Daerah;
d. Memilih anggota Majelis Pendiri Daerah;
e. Menilai pertanggungjawaban Dewan Pengurus Daerah;
f. Memilih dan mengesahkan Formatur Dewan Pengurus Daerah yang diajukan oleh
Rapat Anggota Daerah yang terdiri dari 7 (tujuh) anggota formatur;
g. Mengajukan Komposisi dan Personalia Dewan Pengurus Daerah kepada Majelis
Pendiri Daerah untuk mendapatkan pengesahan;
h. Menetapkan kebijakan-kebijakan lain yang dianggap perlu untuk tingkat Daerah.
3. Rapat Anggota Daerah Luar Biasa:
1. Rapat Anggota Daerah Luar Biasa adalah Rapat Anggota Daerah yang diselenggarakan
ataspermintaan sekurang-kurangnya 2/3 Dewan Pengurus Cabang dari Daerah yang
bersangkutan dan disetujui oleh Dewan Pengurus Pusat, berdasarkan alasan:
a. Kepemimpinan Dewan Pengurus Daerah dalam keadaan terancam;
b. Dewan Pengurus Daerah melanggar Anggaran Dasaratau Dewan Pengurus Daerah
tidak dapat melaksanakan Keputusan Rapat Anggota Daerah;
2. Rapat Anggota Daerah Luar Biasa diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat;
3. Rapat Anggota Daerah Luar Biasa mempunyai kekuasaan dan wewenang yang sama
dengan Rapat Anggota Daerah;
4. Dewan Pengurus Daerah wajib memberikan pertanggung-jawaban di dalam Rapat
Anggota Daerah Luar Biasa.
4. Rapat Pimpinan Daerah:
1. Rapat Pimpinan Daerah adalah rapat pengambilan keputusan di bawah Rapat Anggota
Daerah;
2. Rapat Pimpinan Daerah berwenang mengambil keputusan-keputusan selain yang
menjadi wewenang Rapat Anggota Daerah;
3. Rapat Pimpinan Daerah diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun oleh
Majelis Pendiri Daerah;
5. Rapat Kerja Daerah:
1. Adalah rapat yang diadakan untuk menyusun dan mengevaluasi program kerja hasil
Rapat Anggota Daerah;
2. Rapat Kerja Daerah dilaksanakan pada awal dan pertengahan periode kepengurusan.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 19


3. Diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah;
6. Rapat Kerja Daerah Khusus
1. Adalah rapat yang diadakan khusus untuk membicarakan pencalonan Kepala Daerah
dan/atau Wakil Kepala Daerah Provinsi;
2. Apabila calon Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah lebih dari satu, maka yang
bersangkutan wajib menyampaikan visi, misi dan program dihadapan peserta Rapat
Kerja Daerah Khusus;
3. Rapat Kerja Daerah Khusus selanjutnya menilai visi, misi, dan program kerja masing-
masing calon dan menetapkan satu orang untuk dicalonkan sebagai Kepala Daerah
dan/atau Wakil Kepala Daerah tingkat Provinsi.
4. Rapat Kerja Daerah Khusus diselenggaran oleh Majelis Pendiri Daerah dan
dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Daerah;
7. Ketentuan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat
(6) diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 41
RAPAT ANGGOTA DAN RAPAT-RAPAT TINGKAT CABANG

1. Rapat Anggota dan Rapat-rapat tingkat Cabang terdiri atas:


1. Rapat Anggota Cabang (RAGOTCAB);
2. Rapat Anggota Cabang Luar Biasa (RAGOTCAB-LB);
3. Rapat Pimpinan Cabang (RAPIMCAB);
4. Rapat Kerja Cabang (REKERCAB);
5. Rapat Kerja Cabang Khusus (RAKERCABSUS).
2. Rapat Anggota Cabang:
1. Adalah pemegang kekuasaan Partai di tingkat Cabang yang diadakan sekali dalam 5
(lima) tahun;
2. Memiliki kewenangan:
a. Memutuskan kebijakan Politik Partai tingkat Cabang;
b. Menetapkan Program Kerja Cabang;
c. Menilai pertanggungjawaban Majelis Pendiri Cabang;
d. Memilih anggota Majelis Pendiri Cabang;
e. Menilai Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Cabang;
f. Memilih dan mengesahkan Formatur Dewan Pengurus Cabang yang diajukan oleh
Rapat Anggota Cabang yang terdiri dari 5 (lima) anggota formatur;
g. Mengajukan Komposisi dan Personalia Dewan Pengurus Cabang kepada Majelis
Pendiri Cabang untuk mendapatkan pengesahan.
h. Menetapkan kebijakan-kebijakan lainnya sejalan dengan kebutuhan Cabang;
3. Rapat Anggota Cabang Luar Biasa:
1. Rapat Anggota Cabang Luar Biasa adalah Rapat Anggota Cabang yang diselenggarakan
atas permintaan sekurang-kurangnya 2/3 Pimpinan Anak Cabang dan disetujui oleh
Dewan Pengurus Daerah, berdasarkan alasan:
a. Kepemimpinan Dewan Pengurus Cabang dalam keadaan terancam;
b. Dewan Pengurus Cabang melanggar Anggaran Dasar atau Dewan Pengurus
Cabang tidak dapat melaksanakan Keputusan Rapat Anggota Cabang.
2. Rapat Anggota Cabang Luar Biasa diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 20


3. Rapat Anggota Cabang Luar Biasa mempunyai kekuasaan dan wewenang yang sama
dengan Rapat Anggota Cabang;
4. Dewan Pengurus Cabang wajib memberikan pertanggungjawaban di dalam Rapat
Anggota Cabang Luar Biasa.
4. Rapat Pimpinan Cabang:
1. Rapat Pimpinan Cabang adalah rapat pengambilan keputusan di bawah Rapat Anggota
Cabang;
2. Rapat Pimpinan Cabang berwenang mengambil keputusan-keputusan selain yang
menjadi wewenang Rapat Anggota Cabang;
3. Rapat Pimpinan Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun oleh
Majelis Pendiri Cabang.
5. Rapat Kerja Cabang:
1. Rapat Kerja Cabang adalah rapat yang diadakan untuk menyusun dan mengevaluasi
program kerja hasil Rapat Anggota Cabang;
2. Rapat Kerja Cabang dilaksanakan pada awal dan pertengahan periode kepengurusan;
3. Diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Cabang.
6. Rapat Kerja Cabang Khusus:
1. Adalah rapat yang diadakan khusus untuk membicarakan pencalonan Kepala Daerah
dan/atau Wakil Kepala Daerah Kabupaten/Kota;
2. Apabila calon Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah lebih dari satu, maka yang
bersangkutan wajib menyampaikan visi, misi dan program dihadapan peserta Rapat
Kerja Cabang Khusus;
3. Rapat Kerja Cabang Khusus selanjutnya menilai visi, misi, dan program kerja masing-
masing calon dan menetapkan satu orang untuk dicalonkan sebagai Kepala Daerah
dan/atau Wakil Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota.
4. Rapat Kerja Daerah Khusus diselenggaran oleh Majelis Pendiri Cabang dan
dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Cabang.
7. Ketentuan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat
(6) diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 42
RAPAT ANGGOTA DAN RAPAT-RAPAT TINGKAT ANAK CABANG

1. Rapat Anggota dan Rapat-Rapat Tingkat Anak Cabang terdiri atas:


1. Rapat Anggota Anak Cabang (RAGOTANCAB);
2. Rapat Anggota Luar Biasa Anak Cabang (RAGOTANCA-LB);
3. Rapat Pimpinan Anak Cabang (RAPIMANCAB);
4. Rapat Kerja Anak Cabang (RAKERANCAB).
2. Rapat Anggota Anak Cabang:
1. Adalah pemegang kekuasaan Partai di tingkat Kecamatan yang diadakan sekali dalam
5 (lima) tahun;
2. Memiliki kewenangan:
a. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Anak Cabang;
b. Menetapkan Program Kerja Pengurus Anak Cabang;
c. Memilih dan mengesahkan Formatur Pengurus Anak Cabang yang diajukan oleh
Rapat Anggota Anak Cabang yang terdiri dari 5 (lima) anggota formatur;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 21


d. Mengajukan Komposisi dan Personalia Pengurus Anak Cabang kepada Majelis
Pendiri Daerah untuk mendapatkan pengesahan;
e. Menetapkan keputusan-keputusan lainnya.
3. Rapat Anggota Luar Biasa Anak Cabang:
1. Rapat Anggota Luar Biasa Anak Cabang adalah Rapat Anggota Anak Cabang atas
permintaan sekurang-kurangnya 2/3 Ranting atau sebutan lain dan disetujui oleh
Dewan Pengurus Cabang, berdasarkan alasan:
a. Pengurus Anak Cabang dalam keadaan terancam;
b. Pengurus Anak Cabang melanggar Anggaran Dasar atau Pengurus Anak Cabang
tidak dapat melaksanakan Keputusan Rapat Anggota Anak Cabang.
2. Rapat Anggota Luar Biasa Anak Cabang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus
Cabang;
3. Rapat Anggota Luar Biasa Anak Cabang mempunyai kekuasaan dan wewenang yang
sama dengan Rapat Anggota Anak Cabang;
4. Pengurus Anak Cabang wajib memberikan pertanggungjawaban di dalam Rapat
Anggota Luar Biasa Anak Cabang.
4. Rapat Pimpinan Anak Cabang:
1. Rapat Pimpinan Anak Cabang adalah rapat pengambilan keputusan di bawah Rapat
Anggota Anak Cabang;
2. Rapat Pimpinan Anak Cabang berwenang menyelesaikan masalah-masalah dan
mengambil keputusan-keputusan selain yang menjadi wewenang Rapat Anggota Anak
Cabang;
3. Rapat Pimpinan Anak Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun,
dan diselenggarakan oleh Pengurus Anak Cabang.
5. Rapat Kerja Anak Cabang:
1. Rapat Kerja Anak Cabang adalah rapat yang diadakan untuk menyusun dan
mengevaluasi program kerja hasil Rapat Anggota Anak Cabang;
2. Rapat Kerja Anak Cabang dilaksanakan pada awal dan pertengahan periode
kepengurusan;
3. Diselenggarakan oleh Pengurus Anak Cabang.
6. Ketentuan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat
(5) diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 43
RAPAT ANGGOTA DAN RAPAT-RAPAT TINGKAT RANTING

1. Rapat Anggota dan Rapat-rapat tingkat Ranting terdiri atas:


1. Rapat Anggota Ranting (RAGOTRAN);
2. Rapat Kerja Ranting (RAKERAN);
2. Rapat Anggota Ranting:
1. Adalah pemegang kekuasaan Partai di tingkat Ranting Partai yang diadakan sekali
dalam 5 (lima) tahun;
2. Memiliki kewenangan:
a. Menetapkan Program Kerja Pengurus Ranting;
b. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Ranting;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 22


c. Memilih dan mengesahkan Formatur Pengurus Ranting yang diajukan oleh Rapat
Anggota Ranting yang terdiri dari 3 (tiga) anggota formatur;
d. Mengajukan Komposisi dan Personalia Pengurus Ranting kepada Majelis Pendiri
Cabang untuk mendapatkan pengesahan;
e. Menetapkan keputusan-keputusan lain.
3. Rapat Kerja Ranting:
1. Rapat Kerja Ranting adalah rapat yang diadakan untuk menyusun dan mengevaluasi
program kerja hasil Rapat Anggota Cabang;
2. Rapat Kerja Ranting dilaksanakan pada awal dan pertengahan periode kepengurusan.
3. Diselenggarakan oleh Pengurus Rating;
4. Ketentuan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 44
RAPAT ANGGOTA ANAK RANTING

1. Rapat Anggota Anak Ranting adalah pemegang kekuasaan Partai di tingkat Anak Ranting
Partai yang diadakan sekali dalam 5 (lima) tahun;
2. Rapat Anggota Anak Ranting berwenang:
1. Menetapkan Program Kerja Pengurus Anak Ranting;
2. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Anak Ranting;
3. Menyusun Kepengurusan Anak Ranting;
4. Mengajukan Komposisi dan Personalia Pengurus Anak Ranting kepada Pengurus Anak
Cabang untuk mendapatkan pengesahan;
3. Menetapkan keputusan-keputusan lain yang dianggap penting bagi pengembangan basis
Partai;
4. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.

BAB XV
HIRARKI KEPUTUSAN DAN PERATURAN
Pasal 45

1. Keputusan dan Peraturan Partai bersifat herarkis berjenjang dari atas ke bawah;
2. Keputusan dan Peraturan Partai terbawah dilarang bertentangan dengan Keputusan dan
Peraturan Partai setingkat diatasnya;
3. Apabila ditemukan Keputusan dan Paraturan Partai yang bertentangan, maka Mejelis
Pendiri Pusat berhak menilai, Keputusan dan Peraturan Partai yang berada di bawahnya
dapat dinyatakan batal demi hukum.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 23


BAB XVI
KUORUM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 46

1. Pengambilan keputusan pada dasarnya dilakukan secara musyawarah untuk mencapai


mufakat;
2. Rapat Anggota dan Rapat-rapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 sampai dengan
Pasal 44 hanya sah, apabila dihadiri oleh 2/3 (dua pertiga) jumlah peserta yang berhak
hadir;
3. Pengambilan keputusan yang menyangkut orang seorang dalam Rapat Anggota dan Rapat-
rapat lainnya dapat diambil berdasarkan suara yang terbanyak;
4. Khusus tentang perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, maka:
1. Sekurang-kurangnya dua per tiga dari jumlah peserta harus hadir;
2. Keputusan adalah sah apabila diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua
per tiga dari jumlah peserta yang hadir.

BAB XVII
KEUANGAN
Pasal 47

Keuangan diperoleh dari:


1. Iuran Anggota Partai yang dipungut setiap bulan dan berjenjang;
2. Sumbangan dari orang seorang atau badan yang sah dan tidak mengikat;
3. Usaha-usaha lainnya yang sah.

Pasal 48

1. Pemungutan Iuran Partai setiap bulan dilakukan oleh Pengurus Ranting, apabila Pengurus
Ranting belum terbentuk dilakukan Pengurus Anak Cabang;
2. Pengurus Ranting berhak mengelola 60% (enampuluh persen) dan 40% (empatpuluh
persen) dikelola oleh Pengurus Anak Cabang dari akumulasi Iuran Partai setiap bulan;
3. Iuran Partai setiap bulan, berlaku ketentuan:
1. Akumulasi pada Pengurus Anak Cabang, 70% (tujuhpuluh persen) diserahkan kepada
Dewan Pengurus Cabang, dan;
2. Akumulasi pada Dewan Pengurus Cabang, 25% (duapuluh lima persen) diserahkan
kepada Dewan Pengurus Daerah, dan;
3. Akumulasi pada Dewan Pengurus Daerah, 15% (limabelas persen) diserahkan kepada
Dewan Pengurus Pusat;
4. Apabila pemungutan Iuran Partai dilakukan oleh Pengurus Anak Cabang, maka dari seluruh
akumulasi setiap bulan berlaku ketentuan yang sama sebagaimana diatur ayat (3);
5. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) diatur
dalam Anggaran Rumah Tangga.

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 24


BAB XVIII
PERSELISIHAN PARTAI DAN PENYELESAIAN HUKUM
Pasal 49

1. Perselisihan Partai adalah perselisihan yang meliputi, antara lain:


1. Perselisihan yang berkenaan dengan Kepengurusan Partai disemua tingkatan;
2. Pelanggaran terhadap Hak Anggota yang dilakukan Partai pada semua tingkatan;
3. Pemecatan Anggota yang dilakukan Partai, tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan;
4. Masalah pertanggungjawaban keuangan Partai;
5. Keberatan atas Keputusan yang dikeluarkan oleh Partai;
2. Sebagai Badan Hukum, Partai diwakili oleh Majelis Pendiri Pusat di dalam dan di luar
pengadilan;
3. Majelis Pendiri Pusat dapat melimpahkan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) kepada Majelis Pendiri Daerah dan Cabang sesuai dengan tingkatannya masing-masing;
4. Ketentuan lebih lanjut tentang Perselisihan dan Penyelesaian Hukum diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga.

BAB XIX
PEMBUBARAN PARTAI
Pasal 50

1. Pembubaran partai hanya dapat dilakukan berdasarkan usulan dari Rapat Anggota Nasional
yang khusus diadakan untuk itu;
2. Usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinyatakan sah apabila dihadiri oleh seluruh
peserta dan Keputusan Rapat Anggota Nasional dinyatakan sah apabila disetujui secara
aklamasi peserta yang hadir;
3. Keputusan tentang pembubaran partai merupakan hak sepenuhnya Majelis Pendiri Pusat;
4. Dalam hal Partai dibubarkan maka segala kekayaannya diserahkan kepada badan-
badan/lembaga-lembaga sosial di Indonesia.

BAB XX
ATURAN PERALIHAN
Pasal 51

1. Untuk pertama kalinya Program Umum PAKAR INDONESIA bersinergi dengan Program
Nawa Cita secara nasional.
2. Untuk pertama kalinya Kepengurusan tingkat Pusat:
1. Anggota Majelis Agung, Majelis Madya dan Majelis Rendah dipilih dan ditetapkan
sesuai kebutuhan dari para Penggagas Partai;
2. Majelis Pendiri Pusat terdiri dari para pendiri Partai yang terdaftar sebagai Penggagas
Partai, ditambahkan dengan Pendiri Partai tingkat Provinsi yang tidak terdaftar
sebagai Penggagas Partai;
3. Kepengurusan Majelis Pendiri Pusat ditetapkan secara musyawarah mufakat diantara
para Penggagas Partai;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 25


4. Pengangkatan dan pemberhentian Personalia Dewan Pengurus Pusat dilakukan oleh
Majelis Pendiri Pusat;
5. Personalia Dewan Pengurus Pusat diambil dari para Penggagas Partai, ditambah dari
para Pendiri Provinsi;
6. Pengangkatan dan pemberhentian Mahkamah Partai dilakukan oleh Majelis Pendiri
Pusat.
3. Untuk pertama kalinya Kepengurusan tingkat Daerah:
1. Majelis Pendiri Daerah terdiri dari para Pendiri Partai di tingkat Provinsi yang
disepakati menjadi anggota Majelis Pendiri Daerah;
2. Kepengurusan Majelis Pendiri Daerah ditetapkan secara musyawarah mufakat
diantara para Pendiri Provinsi;
3. Pengangkatan dan pemberhentian Dewan Pengurus Daerah dilakukan oleh Majelis
Pendiri Daerah dan disahkan oleh Majelis Pendiri Pusat;
4. Personalia Dewan Pengurus Daerah diambil dari para Pendiri Provinsi;
4. Untuk pertama kalinya Kepengurusan Cabang, Anak Cabang, Ranting dan Anak Ranting
Partai:
1. Majelis Pendiri Cabang terdiri dari para Pendiri Cabang ditambah para Pendiri
Provinsi yang disepakati menjadi anggota Majelis Pendiri Cabang;
2. Dewan Pengurus Cabang diusulkan oleh Majelis Pendiri Daerah dan disahkan oleh
Majelis Pendiri Pusat;
3. Personalia Dewan Pengurus Cabang diambil dari Pendiri Provinsi, ditambah dari para
Pendiri Cabang;
4. Pengurus Anak Cabang diusulkan oleh Dewan Pengurus Cabang, diambil dari anggota
Partai tingkat Kecamatandan disahkan oleh Majelis Pendiri Daerah;
5. Pengurus Ranting diusulkan oleh anggota tingkat Ranting, diambil dari anggota Partai
tingkat Desa/Kelurahandan disahkan oleh Majelis Pendiri Cabang;
6. Pengurus Anak Ranting diusulkan oleh anggota tingkat Anak Ranting, diambil dari
anggota Partai tingkat Rukun Warga/Rukun Tetanggadan disahkan oleh Pengurus
Anak Cabang;

BAB XXI
PENUTUP
Pasal 52

1. Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam Anggaran Dasar, ditetapkan dalam
Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan Organisasi Partai;
2. Untuk pertama kalinya Anggaran Dasar ini berlaku sejak diaktakan di depan Notaris;

Anggaran Dasar PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 26