Vous êtes sur la page 1sur 8

OSTEOPOROSIS

Gol Penyakit SKDI : 3A

1. DEFINISI
Osteoporosis adalah gangguan tulang yang ditandai dengan penurunan massa
tulang dan kemerosotan mikro-arsitektur yang menyebabkan tulang menjadi rapuh
dan mudah patah (Kumar, et al., 2007). Osteoporosis merupakan suatu keadaan
dimana masa tulang atau kepadatan tulang per unit volume tulang berkurang
(decrease bone density and mass), mikro arsitektur jaringan tulang menjadi jelek dan
mengakibatkan peningkatan fragilitas tulang dengan akibat risiko untuk terjadinya
patah tulang (Rahman, et al., 1992).
2. INSIDENSI
Osteoporosis merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial. Osteoporosis
dapat menyerang pria maupun wanita. Kondisi ini berkaitan dengan usia dan khusus
pada wanita umumnya karena menopause. Satu dari tiga wanita dan satu dari 12 pria
berusia di atas 50 tahun akan menderita retak osteoporosis, hasil uji sekitar 200.000
wanita dan 40.000 pria di Skotlandia (Scotish Forum, 1997).
Menurut hasil analisa data yang dilakukan Puslitbang Gizi Depkes RI pada 14
provinsi menunjukkan bahwa masalah osteoporosis di Indonesia telah mencapai
tingkat yang perlu diwaspadai yaitu 19,7%. Tingkat kecenderungan ini 6 kali lebih
besar dibandingkan Belanda. Lima provinsi dengaan resiko osteoporosis lebih tinggi
yakni Sumatera Selatan (27,7%), Jawa Tengah (24,02%), DI Yogyakarta (23,5%),
Sumatera Utara (22,8%), Jawa Timur (21,42%), dan Kalimantan Timur (10,5%)
(Roesman, 2006).
3. PATOFISIOLOGI
Osteoporosis dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu osteoporosis Primer dan
Sekunder. Osteoporosi Primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya,
sedangkan osteoporosis sekunder adalah osteoporosi yang diketahui penyebabnya.
Pada tahun 1083, Riggs dan Melton membagi osteoporosi primer menjadi
opseoporosis tipe I (pasca menopouse) dan tipe II (senillis) (Setiyohadi, 2006).
Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen
(hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium
kedalam tulang, sehingga absorpsi kalsium di usus menurun dan meningkatkan
ekskresi kalsium di ginjal. Setelah menopouse resorpsi tulang akan meningkat dan
terjadi penurunan densitas tulang terutama pada tulang bagian trabekular karena
memiliki permukaan yang luas. Estrogen juga berfungsi menurunkan produksi
berbagai sitokin yang berperan mneingktakna kerja osteoklas. Biasanya gejala timbul
pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau
lebih lambat. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum
menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini berakibat
menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah
menopause.(Permana, 2006; Setiyohadi, 2006)
.Osteoporosis tipe senillis terjadi karena gangguan absorpsi kalsium di usus
sehingga menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder yang mengakibatkan timbulnya
osteoporosis. Selain itu juga terjadi ketidakseimbangan remodelling tulang dimana
resorpsi tulang meningkat sedangkan formasi tulang tidak berubah atau menururn.
Hal ini menyebabkan kehilangan massa tulang, perubahan mikroarsitektur tulang dan
peningkatan resiko fraktur. Selain itu peningkatan turnover tulang juga dapat memicu
terjadinya osteoporosis (Setiyohadi, 2006).
Osteoporosis sekunder adalah osteoporosis yang diketahui penyebabnya seperti
penyakitendokrin antara lain akromegali, sindrom Cushing, hiperparatiroidisme,
diabetes melitus tipe 1. Penyebab lain adalah proses keganasan seperti mieloma
multipel dan akibat pemberian obat glukokortikoid (GK) jangka panjang atau
khemoterapi dan radiasi terapi. Berbagai mekanisme yang menyebabkan osteoporosis
akibat pemberian GK
jangka lama adalah :
1. Supresi fungsi osteoblas yang secara potensial meningkat kan apoptosis osteoblas.
2. Peningkatan resorpsi osteoklas akibat stimulasi resorpsi tulang
3. Gangguan absorpsi kalsium di usus.
4. Peningkatan ekskresi kalsium di urine dan induksi oleh hiperparatiroidisme
sekunder
5. Induksi miopati yang menyebabkan risiko mudah jatuh (Francis, 1990).
4. GEJALA KLINIS
Pada tahap awal osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Pada tahap lanjut
penyakit, penurunan densitas tulang mulai tampak pada radiografi rutin dan pasien
rentan terhadap fraktur, terutama di korpus vertebrata, pelvis, femur dan tulang
penyangga lainnya (Kumar, et al., 2007).
5. PENEGAKAN DIAGNOSIS
Hingga saat ini deteksi osteoporosis merupakan hal yangsangat sulit dilakukan.
Osteoporosis merupakan penyakit yang hening (silent), kadang-kadang
tidakmemberikan tanda-tanda atau gejala sebelum patah tulang terjadi. Diagnosis
penyakit osteoporosis kadang- kadang baru diketahui setelah terjadinya patah
tulangpunggung, tulang pinggul, tulang pergelangan tangan atau patah tulang lainnya
pada orang tua, baik pria atau wanita. Biasanya dari waktu ke waktu massa tulangnya
terus berkurang, dan terjadi secara luas dan tidak dapat diubah kembali. Biasanya
massa tulang yang sudah berkurang 30 40% baru dapat dideteksi dengan
pemeriksaan X-ray konvensional (Lane, 2001).
a. Anamnesis
Anamnesis memegang peranan yang penting pada evaluasi pasien osteoporosis.
Perlu ditanyakan keluhan utama yang mengarah pada osteoporosis, seperti fraktur
kolum femoris, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi lama, penurunan tinggi
badan pada orang tua, obat-obat jangka panjang yang diminum seperti
kortikosteroid, heparin, antikonvulsan. Alkohol dan merokok juga merupakan
faktor resiko terjadinya osteoporosis. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
osteoporosis juga harus ditanyakan seperti penyakit ginjal, saluran cerna, hati dan
endokrin (Setoyohadi, 2006).
b. Pemeriksaan Fisik
Tinggi badan dan Berat Badan harus selalu diukur pada pasien osteoporosis.
Demikian juga gaya berjalan, deformitas tulang. Pasien dengan osteoporosis
sering menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus dan penurunan tinggi badan
(Setiyohadi, 2006).
c. Pemeriksaan X-ray absorptiometry
Pesawat X-ray absorptiometry menggunakan radiasi sinar X yang sangat rendah.
Selain itu keuntungan lain densito meter X-ray absorptio metry dibandingkan
DPA(Dual Photon Absorptiometry) dapat mengukur dari banyak lokasi, misalnya
pengukuran vertebral dari anterior dan lateral, sehingga pengaruh bagian belakang
corpus dapat dihindarkan, sehingga presisi pengukuran lebih tajam. Ada dua jenis
X-rayabsorptiometry yaitu SXA (Single X-ray Absorptiometry) dan DEXA (Dual
Energy X-ray Absorptiometry). Saat ini gold standardpemeriksaan osteoporosis
pada laki-laki maupunosteoporosis pascamenopause pada wanita adalahDEXA,
yang digunakan untuk pemeriksaan vertebra,collum femur, radiusdistal,
atauseluruhtubuh.Tujuandari pengukuran massa tulang: Menentukan diagnosis,
memprediksi terjadinya patah tulang dan menilai perubahan densitas tulang setelah
pengobatan atau senam badan (Rahman, 2006).
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Biokimia Tulang
Terdiri dari kalsium total dalam serum, ion Kalsium, kadar fosfor serum,
kalsium urin, fosfat urin, osteokalsin serum dan piridinoli urin. Kalsium
serum terdiri dari 3 fraksi yaitu kalsium yang terikat oada albumin (40%),
kalsium ion (48%) dan kalsium kompleks (12%). Ekskresi kalsium urin 24
jam juga harus diperhatikan walaupun tidak secara langsung menunjukkan
kelainan metabolisme tulang. Pada orang dewasa dengan asupan kalsium
600-800 mg/hari akan mengekresikan kalsium 100-250mg/24 jam. Bila
ekskresu kalsium kurang dari 100mg/24 jam harus dipikirkan kemungkinan
adanya malabsoprsi atau hiperparatiroidisme akibat retensi kalsium oleh
ginjal (Setiyohadi, 2006).
b. Pemeriksaan Radiologis
Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks
dan daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang-
tulang vertebra yang memberikan gambaran picture frame vertebra
(Setiyohadi, 2006).

7. DIAGNOSIS BANDING
- Osteomalasia
- Pagets Disease
- Multiple Myeloma
- Hiperparatiroidisme (Setiyohadi, 2006)
8. PENGOBATAN
Secara teoritis osteoporosis dapat diobati dengan cara
menghambatkerjaosteoklasdanatau meningkatkankerja osteoblas. Akan tetapi saat ini
obat-obat yangberedar pada umumnya bersifat anti resorpsi. Yang termasuk obat
antiresorpsi misalnya: estrogen ,kalsitonin, bisfosfonat. Sedangkan Kalsium dan
Vitamin D tidak mempunyai efekan tiresorpsi maupun stimulato rtulang tetapi
diperlukan untuk optimalisasi meneralisasi osteoid setelah proses pembentukan tulang
oleh sel osteoblas (Lane, 2001).
- Estrogen
Mekanisme estrogen sebagai antiresorpsi, mempengaruhi aktivitas sel osteoblas
maupun selosteoklas, telah dibicarakan diatas. Pemberian terapi estrogen dalam
pencegahan dan pengobatan osteoporosis dikenal sebagai Terapi Sulih Hormon
(TSH). Estrogen sangat baik diabsorbsi melalui kulit, mukosa vagina dan
saluran cerna. Efek samping estrogen meliputi nyeri payudara (mastalgia),
retensi cairan, peningkatan berat badan, tromboembolisme, dan pada pemakaian
jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Kontraindikasi
absolut penggunaan estrogen adalah: kanker payudara, kanker endometrium,
hiperplasien dometrium, perdarahan uterus disfungsional ,hipertensi, penyakit
tromboembolik, karsinomaovarium, dan penyakit hait yang berat (Lane, 2001;
Setiyohadi, 2006). Beberapa preparat estrogen yang dapat dipakai dengan dosis
untuk anti resorpsi, adalah estrogenterkonyugasi 0,625 mg/hari, 17-estradiol
oral 1 2mg/hari,17-estradiol perkutan1,5 mg/hari dan17-estradiolsubkutan 25
50 mg setiap 6 bulan. (Setiyohadi, 2006).
- Bisfosfonat
Bisfosfonat merupakan obat yang digunakanuntuk pengobatan osteoporosis.
Bifosfonat merupakananalog pirofosfat yang terdiri dari 2 asam fosfonat
yangdiikatsatusama lainolehatom karbon. Bisfosfonatdapatmengurangi resorpsi
tulang oleh sel osteoklas dengancara berikatan dengan permukaan tulang
danmenghambat kerja osteoklas dengan cara mengurangiproduksi proton dan
enzim lisosomal di bawah osteoklas (Setiyohadi, 2006).
Pemberianbisfosfonatsecaraoral akan di absorpsi diusus halus dan absorpsinya
sangat buruk( kurang dari 55 dari dosis yang diminum). Absorpsi juga akan
terhambat bila diberikan bersama-sama dengan kalsium, kation divalen lainnya,
dan berbagai minuman lain kecuali air. Idealnya diminum pada pagi hari dalam
keadaan perut kosong. Setelah itu penderita tidak diperkenankan makan apapun
minimal selama30 menit,dan selama itu penderita harus dalam posisitegak, tidak
boleh berbaring. Sekitar 20 50% bisfosfonat yang diabsorpsi, akan melekat
pada permukaan tulang setelah 12 24jam. Setelah berikatan dengan tulang dan
beraksi terhadap osteoklas, bisfosfonat akan tetap berada didalam tulang selama
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tetapi tidak aktif lagi. Bisfosfonat yang
tidak melekat pada tulang,tidak akan mengalami metabolisme di dalam tubuh
dan akan diekresikan dalam bentuk utuhmelalui ginjal, sehingga harus hati-hati
pemberiannya pada penderita gagal ginjal (Setiyohadi, 2006).
- Latihan pembebanan (olahraga)
Olahraga merupakan bagian yang sangat penting pada pencegahan maupun
pengobatan osteoporosis. Program olahraga bagi penderita osteoporosis sangat
berbeda dengan olahraga untuk pencegahan osteoporosis. Gerakan-gerakan
tertentu yang dapat meningkatkan risiko patah tulang harus dihindari.

Jenis olahraga yang baik adalah dengan pembebanan dan ditambah latihan-
latihan kekuatan otot yang disesuaikan dengan usia dan keadaan individu
masing-masing. Dosis olahraga harus tepat karena terlalu ringan kurang
bermanfaat, sedangkan terlalu berat pada wanita dapat menimbulkan gangguan
pola haid yang justru akan menurunkan densitas tulang. Jadi olahraga sebagai
bagian dari pola hidup sehat dapat menghambat kehilangan mineral tulang,
membantu mempertahankan postur tubuh dan meningkatkan Kebugaran secara
umum untuk mengurangi risiko jatuh (Rotikan dan Tanya, 2006).

9. KOMPLIKASI
Komplikasi osteoporosis sangat terkait dengan morbiditas dan mortalitas
kelompok masyarakat. Beberapa orang yang menderita osteoporosis juga menderita
nyeri, penurunan kualitas hidup, dan untuk beberapa orang bahkan cacat permanen
(Rachman, 2006).
10. PROGNOSIS
Pada penderita osteoporosis, sebaiknya sedini mungkin melakukan
pemeriksaandan pengobatan. Bila sudah melakukan pengobatan selama 1-2 tahun
dapat dilakukan pemeriksaan densitometri untuk menilai peningkatan densitas
tulangnya. Pemeriksaan biokimia tulang juga perlu dilakukan untuk evaluasi
pengobatan tersebut. Biasanya pemeriksaan biokimia tulang dilakukan 3-4 bulan
setelah pengobatan.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lebih baik sedini
mungkinmaksimalkan kepadatan tulang, selagi masih muda sebelum terlambat
(Setiyohadi, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Rotikan, Tanya TM. 2006. Peranan olahraga dalam mengatasi masalah osteoporosis.
Osteoporosis. Edisi 1. Perhimpunan Osteoporosis Indonesia - CV Infomedika.
Jakarta.
Rahman, I.A; Baziad, A; Saifuddin, A.B. 1992. Osteoporosis pada Wanita Klimakterik
dan Upaya Pencegahannya. Maj Kedokt Indon. 42: 522-527.
Kumar, V; Cotran, R.S; Robbins, S.L. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins. EGC
Kedokteran. Jakarta.
Scotish Need Assessment Programme (NSAP). 1997. Osteoporosis. Scotish Forum
For Public Health Medicine. Glosgow.
Roesma, S. 2006. Pencegahan Dini Osteoporosis: Pedoman Bagi Petugas UKS dan
Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Depkes RI.. Jakarta.
Permana, H. 2006. Patomekanisme Osteoporosis Sekunder Akibat Steroid dan
Kondisi Lainnya. Sub Bagian Endokrinologi dan Mentabolisme Bagian Ilmu
Penyakit Dalam RS Hasan Sadikin FK UNPAD.
Francis, R.M. 1990. Patogenesis dan Management. Kluwer Academic Press. Boston.
Lane, Nancy. E. 2001. Lebih Lengkap Tentang Osteoporosis. Divisi Buku Sport
Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Rachman, I.A. 2006. Osteoporosis Primer (Post-menopause Osteoporosis). Edisi I.
Perhimpunan Osteoporosis Indonesia-CV Infomedika. Jakarta.
Setiyohadi, B. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi IV. Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI. Jakarta.