Vous êtes sur la page 1sur 14

Akad Musyarakah

PENDAHULUAN

Akad Musyarakah adalah akad kerjasama yang didasarkan atas bagi hasil. Berbeda dengan
akad mudharabah di mana pemilik dana menyerahkan modal sebesar 100% dana pengelola dana
berkontribusi dalam kerja.

Dalam akad musyarakah ,para mitra berkontribusi dalam modal maupun kerja. Keuntungan
dari usaha syariah akan dibagikan kepada para mitra sesuai dengan nisbah yang disepakati para mitra
ketika akad, sedangkan kerugian akan ditanggung para mitra sesuai dengan proporsi modal.Para mitra
melakukan akad musyarakah dilandasi dengan keinginan kuat untuk meningkatkan harta kekayaan
yang dimilikinya melalui kerjasama diantara mereka.

A. PENGERTIAN AKAD MUSYARAKAH

Menurut Afzalur Rahman, seorang Deputy Secretary General in The Musalim School Trust ,
secara bahasa al-syirkah berarti al-ikhtilath (percampuran) atau persekutuan dua orang atau lebih,
sehingga antara masing-masing sulit dibedakan atau tidak dapat dipisahkan. Istilah lain dari akad
musyarakah adalah sharikah atau syirkah atau kemitraan.

Dewan syariah Nasional MUI dan PSAK No. 106 mendefinisikan musyarakah sebagai akad
kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu , di mana masing-masing pihak
memberikan kontribusi dana dengan ketentuan dana bahwa keuntungan dibagi berdasarkan porsi
kontribusi dana. Para mitra bersama-sama menyediakan dana untuk mendanai sebuah usaha tertentu
dalam masyarakat, baik usaha yang sudah berjalan maupun yang baru, apabila salah satu mitra dapat
mengembalikan dana tersebut dan bagi hasil yang telah disepakati nisbahnya secara bertahap atau
sekaligus kepada mitra lain.

Investasi musyarakah dapat dalam bentuk kas, setara kas atau aset nonkas. Musyarakah
merupakan akad kerja sama di antara para pemilik modal yang mencampurkan modal mereka dengan
tujuan mencari keuntungan. Dalam musyarakah, para mitra sama-sama menyediakan modal untuk
membiayai suatu usaha tertentu dan bekerja bersama mengelola usaha tersebut. Dimana modal yang
ada harus digunakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama sehingga tidak
boleh digunakan untuk kepentingan pribadi atau dipinjamkan pada pihak lain tanpa seizing mitra
lainnya.

Setiap mitra harus memberi kontribusi dalam pekerjaan dan Ia menjadi wakil mitra lain juga
sebagai agen bagi usaha kemitraan. Sehingga seorang mitra tidak dapat lepas tangan dari aktivitas
yang di lakukan mitra lainnya dalam menjalankan aktivitas bisnis yang normal. Dengan bergabungnya
dua orang atau lebih hasil yang diperoleh diharapkan jauh lebih baik dibandingkan jika dilakukan
sendiri karena di dukung oleh kemampuan akumulasi modal yang lebih besar, relasi bisnis yang lebih
luas, keahlian yang lebih beragam, wawasan yang lebih luas, pengendalian yang lebih tinggi, dsb.

Apabila usaha tersebut untung maka keuntungan akan dibagikan kepada para mitra sesuai
dengan nisbah yang telah disepakati (baik persentase maupun periodenya harus secara tegas dan jelas
ditentukan di dalam perjanjian), sedangkan bila rugi akan didistribusikan kepada para mitra sesuai
dengan porsi modal dari setiap mitra. Hal tersebut sesuai dengan prinsip system keuangan syariah
yaitu pihak-pihak yang yang terlibat dalam suatu transaksi harus bersama-sama menanggung
(berbagi) risiko.

Pada dasarnya, atas modal yang ditanamkan tidak boleh ada jaminan dari mitra lainnya
karena bertentangan dengan prinsip untung muncul bersama risiko (al ghunmu bi al ghurmi). Namun
demikian, untuk mecegah mitra melakukan kelalaian, melakukan kesalahan yang disengaja atau
melanggar perjanjian yang sudah disepakati, diperbolehkan meminta jaminan dari mitra lain atau
pihak ketiga.

PSAK NO 106 par 7 memberikan contoh yang disengaja yaitu :

a) pelanggaran terhadap akad; antara lain penyalahgunaan dana investasi, manipulasi


biaya, dan pendapatan operasional.
b) pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah dalam musyarakah, dapat
ditemukan aplikasi ajaran islam tentang taawun (gotong royong), ukhwah
(persaudaraan) dan keadilan.

Selain musyarakah, terdapat juga kontrak investasi untuk bidang pertanian yang pada
prinsipnya sama dengan prinsip syirkah. Bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman
pertanian setahun dinamakan muzaraah.Bila bibitnya berasal dari pemilik tanah, maka disebut
mukhabarah. Sedangkan bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman pertanian tahunan
disebut musaqat (Karim, 2003).

Untuk menghindari persengketaan di kemudian hari, sebaiknya akad kerja sama dibuat secara
tertulis dan dihadiri oleh para saksi. Akad perjanjian tersebut harus mencakup berbagai aspek antara
lain terkait dengan besaran modal dan penggunaannya (tujuan usaha musyarakah), pembagian kerja di
antara mitra, nisbah yang digunakan sebagai dasar pembagian laba dan periode pembagiannya dsb.

Apabila terjadi hal yang tidak diinginkan, atau terjadi persengketaan, para pihak dapat
merujuk kepada kontrak yang telah disepakati bersama. Apabila terjadi sengketa dan tidak terdapat
kesepakatan antara pihak yang bersengketa maka penyelesaiannya dilakukan berdasarkan keputusan
institusi yang berwenang, misalnya badan arbitrasi syariah.
B. JENIS AKAD MUSYARAKAH

Berdasarkan eksistensi :

1) Syirkah Al Milk
Mengandung arti kepemilikan bersama (co-ownership) yang keberadaannya
muncul apabila dua orang atau lebih memperoleh kepimilikan bersama (joing) atas suatu
kekayaan (aset) misalnya dua orang atau lebih menerima warisan/hibah/wasiat sebidang
tanah atau harta kekayaan atau perusahaan baik yang dapat dibagi atau tidak dapat dibagi-
bagi.
Skema Musyarakah

2) Syirkah Aluqud (kontrak)


Syirkah Aluqud yaitu kemitraan yang tercipta dengan kesepekatan dua orang
atau lebih untuk bekerja sama dalam mecapai tujuan tertentu. Setiap mitra dapat
berkontribusi dengan modal/dana dan atau dengan bekerja, serta berbagi keuntungan dan
kerugian.
Berbeda dengan syirkah al milk, dalam kerja sama jenis ini setiap mitra dapat
bertindak sebagai wakil dari pihak lainnya Syirkah Alquid dapat dibagi menjadi sebagai
berikut :
a. Syirkah Abdan (syirkah fisik), disebut juga syirkah amal (syirkah kerja)
atau syirkah shanaaI (syirkah para tukang) atau syirkah taqabbul
(syirkah penerimaan).
b. Syirkah wujuhadalah kerja sama antara dua pihak di mana masing-
masing pihak sama sekali tidak menyertekan modal. Mereka
menjalankan usahanya berdasarkan kepercayaan pihak ketiga.
c. Syirkah Inan (negosiasi) adalah bentuk kerja sama di mana posisi dan
kompisisi pihak-pihak yang terlibat didalamnya adalah tidak sama, baik
dalam hal modal maupun pekerjaan.
d. Syirkah Mufawwadhah adalah bentuk kerja sama di mana posisi dan
kompisisi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya harus sama, baik dalam
hal modal, pekerjaan, agama, keuntungan, maupun risiko kerugian.

Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) :


1) Musyarakah Permanen adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana setiap mitra
ditentukan saat akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad (PSAK No. 106 par
04).
Contohnya : antara mitra A dan mitra P yang melakukan akad musyarakah menanamkan
modl yang jumlah awal masing-masing Rp 20.000.000 , maka sampai akhir masa akad
syirkah modal mereka masing-masing tetap Rp 20.000.000
2) Musyarakah Menurun/Musyarakah Mutanaqisah adalah musyarakah dengan ketentuan
bagian dana salah satu mitra akan dialihkan secara bertahap kepada mitra lainnya
sehingga bagian dananya akan menurun dan pada akhir masa akad mitra lain tersebut
akan menjadi pemilik penuh usaha musyarakah tersebut.
(PSAK No. 106 par 04) contohnya : antara mitra A dan mitra P melakukan akad
musyarakah, mitra P menanamkan Rp 10.000.000 dan menanamkan Rp 20.000.000 .
seiring berjalannya kerjasama akad musyarakah tersebut, modal mitra P Rp 10.000.000
tersebut akan beralih kepada mitra A melalui pelunasan secara bertahap yang dilakukan
oleh mitra A .

C. DASAR SYARIAH

Sumber Hukum Akad Musyarakah :

1. Al-Quran
Maka mereka berserikat pada sepertiga. (QS 4:12)
Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian
mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh. (QS 38:24)
2. As-Sunah
Hadis Qudsi: Aku (Allah) adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat,
sepanjang salah seorang dari keduanya tidak berkhianat terhadap lainnya. Apabila
seorang berkhianat terhadap lainnya maka Aku keluar dari keduanya. (HR. Abu Dawud
dan Al-Hakim dari Abu Hurairah)
Pertolongan Allah tercurah atas dua pihak yang berserikat, sepanjang keduanya tidak
saling berkhianat. (HR. Muslim)

Berdasarkan keterangan Al-Quran dan Hadis tersebut, pada prinsipnya seluruh ahli
fiqih sepakat menetapkan bahwa hokum musyarakah adalah mubah, meskipun mereka masih
memperselisihkan keabsahan hukum dari beberapa jenis akad musyarakah.

Rukun dan Ketentuan Syariah dalam Akad Musyarakah :

1. Pelaku: Para mitra harus cakap hukum dan baligh


2. Objek musyarakah merupakan suatu konsekuensi dengan dilakukannya akad musyarakah
yaitu harus ada modal dan kerja.

Modal :

1. Modal yang diberikan harus tunai.


2. Modal yang diserahkan dapat berupa uang tunai, emas, perak, aset perdagangan, atau aset
tidak berwujud seperti lisensi, hak paten, dsb.
3. Apabila modal yang diserahkan dalam bentuk nonkas, maka harus ditentukan nilai
tunainya terlebih dahulu dan harus disepakati bersama
4. Modal yang diserahkan oleh setiap mitra harus dicampur. Tidak dibolehkan pemisahan
modal dari masing-masing pihak untuk kepentingan khusus.
5. Dalam kondisi normal, setiap mitra memiliki hak untuk mengelola aset kemitraan
6. Mitra tidak boleh meminjam uang atas nama usaha musyarakah, demikian juga
meminjamkan uang kepada pihak ketiga dari modal musyarakah, menyumbang atau
menghadiahkan uang tsb. Kecuali, mitra lain telah menyepakatinya
7. Seorang mitra tidk diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan modal itu untuk
kepentingannya sendiri
8. Pada prinsipnya dalam musyarakah tidak boleh ada penjaminan modal, seorang mitra
tidak bisa menjamin modal mitra lainnya, karena musyarakah didasarkan prinsip al-
ghunmu bi al ghurmi-hak untuk mendapat keuntungan berhubungan dengan risiko yang
diterima.
9. Modal yang ditanamkan tidak boleh digunakan untuk membiayai proyek atau investasi
yang dilarang oleh syariah.

Kerja:
1. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah.
2. Tidak dibenarkan bila salah seorang diantara mitra mengatakan tidak ikut serta
menangani pekerjaan dalam kemitraan tsb.
3. Meskipun porsi kerja antara satu mitra dengan mitra lainnya tidak harus sama. Mitra yang
porsi kerjanya lebih banyak boleh meminta bagina keuntungan yang lebi besar.
4. Setiap mitra bekerja atas nama pribadi atau mewakili mitranya.
5. Para mitra harus menjalankan usaha sesuai denga syariah
6. Seorang mitra yang melaksanakan pekerjaan di luar wilayah tugas yang ia sepakati,
berhak mempekerjakan orang lain untuk menangani pekerjaan tersebut.
7. Jika seorang mitra yang mempekerjakan pekerja lain untuk melaksanakan tugas yang
menjadi bagiannya, biaya yang timbul harus di tanggungnya sendiri.

3. Ijab Kabul Adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela di antara pihak-pihak pelaku akad yang
dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi
modern.

4. Nisbah

Nisbah diperlukan untuk pembagian keuntungan dan harus disepakati oleh para mitra di awal akad
sehingga risiko perselisihan diantara para mitra dapat dihilangkan.

Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Keuntungan harus dapat dikuantifikasi dan ditentukan dasar perhitungan keuntungan tersebut.
Misalnya, bagi hasil atau bagi laba.

Keuntungan yang dibagikan tidak boleh menggunakan nilai proyeksi akan tetapi harus
menggunakan nilai realisasi keuntungan.
Mitra tidak dapat menentukan bagian keuntungannya sendiri.

Pada prinsipnya keuntungan milik para mitra namun diperbolehkan mengalokasikan keuntungan
untuk pihak ketiga bila disepakati.

Berakhirnya Akad Musyarakah

Akad musyarakah akan berhasil, jika:

Salah seorang mitra menghentikan akad.

Salah seorang mitra meninggal, atau hilang akal.

Dalam hal ini mitra yang meninggal atau hilang akal dapat digantikan oleh salah seorang ahli
warisnya yang cakap hukum (baligh dan berakal sehat). Apabila disetujui oleh semua ahli waris
lain dan mitra lainnya.

Modal musyarakah hilang/habis.

Apabila salah satu mitra keluar dar kemitraan baik dengan mengundurkan diri, meninggal atau
hilang akal maka kemitraan tersebut dikatakan bubar. Karena musyarakah berawal dari
kesepakatan utuk bekerja sama dan dalam kegiatan opersaional setiap mitra mewakili mitra
lainnya. Salah seorang mitra tidak ada lagi berarti hubungan perwakilan itu sudah tidak ada.

D. PENETAPAN NISBAH DALAM AKAD MUSYARAKAH

Nisbah dapat ditentukan melalui dua cara, yaitu:

1. Pembagian keuntungan proporsional sesuai modal


Dengan cara ini, keuntungan harus dibagi diantara para mitra secara proporsional sesuai modal
yang disetorkan, tanpa memandang apakah suatu jumlah pekerjaan yang dilaksankan oleh para
mitra sama ataupun tidak sama. Apabila salah satu pihak menyetorkan modal lebih besar, maka
pihak tersebut akan mendapatkan proporsi labah yang lebih besar. Jika para mitra mengatakan
keuntungan akan dibagi diantara kita, berarti keuntungan akan di alokasikan menurut porsi
modal masing-masing mitra.
2. Pembagian keuntungan tidak proporsional dengan modal
Dengan cara ini, dalam penetuan nisbah yang dipertimbangkan bukan hanya modal yang
disetorkan, tapi juga tanggung jawab, pengalaman, kompetensi atau waktu kerja yang lebih
panjang.
Nisbah bisa ditentukan sama untuk setiap mitra 50:50 atau berbeda 70:30 misalnya proporsional
dengan modal masing-masing mitra. Begitu para mitra sepakat atas nisbah tertentu berarti dasar
inilah yang digunakan untuk pembagian keuntungan.

E. PERLAKUAN AKUNTANSI (PSAK 106)

Perlakuan Akuntansi untuk transaksi musyarakah akan dilihat dari dua sisi pelaku yaitu Mitra
Aktif dan Mitra Pasif.

Dimana mitra aktif adalah pihak yang mengelola usaha musyarakah baik mengelola sendiri
ataupun merujuk pihak lain untuk mengelola atas namanya, mitra aktif juga bertanggung jawab untuk
melakukan pengelolaan sehingga mitra aktif yang akan melakukan pencatatan akuntansi, atau jika dia
menunjuk pihak lain untuk ikut mengelola usaha maka pihak tersebut yang akan melakukan
pencatatan akuntansi; sedangkan mitra pasif adalah pihak yang tidak ikut mengelola usaha biasanya
adalah lembaga keuangan.

Akuntansi Untuk Mitra Aktif dan Mitra Pasif :

Akuntansi untuk Mitra Aktif dan Mitra Pasif dianggap sama, Karena dalam illustrasi ini
pencatatan akuntansi ini untuk usaha musyarakah dilakukan oleh pihak ketiga yang ditunjuk agar
lebih muda di illustrasikan. Jadi, pada hakikatnya jurnal yang dibuat oleh pihak ketiga atau Mitra
Aktif adalah sama. Perbedaannya jika pencatatan dilakukan oleh Mitra Aktif, maka ia harus membuat
akun buku besar pembantu untuk memisahkan pencatatan dari transaksi musyarakah dengan transaksi
lainnya.

1. Pengakuan investasi musyarakah


Investasi Musyarakah diakui pada saat penyerahan kas atau aset nonkas untu usaha musyarakah.
2. Biaya Pra-akad
Biaya pra-akad yang terjadi akibat musyarakah (misalnya biaya studi kelayakan) tidak dapat diakui
sebagai bagian investasi musyarakah kecuali ada persetujuan dari seluruh mitra musyarakah.
Jurnal untuk mitra aktif pada saat mengeluarkan biaya :
Dr.Uang muka akad xxx
Kr.Kas xxx

Apabila mitra lain sepakat, biaya ini dianggap sebagai bagian investasi musyarakah maka dicatat
sebagai nilai investasi musyarakah.
Jurnal :
Dr.Investasi musyarakah xxx
Kr.Uang muka akad xxx

Apabila mitra lain tidak setuju biaya ini dianggap sebagai bagian investasi musyarakah maka akan
di catat sebagai beban.
Jurnal :
Dr.Beban musyarakah xxx
Kr.Uang muka akad xxx
3. Pengukuran investasi musyarakah
Penyerahan kas atau aset nonkas sebagai modal untuk investasi musyarakah
a. apabila investasi dalam bentuk kas akan dinilai sebesar jumlah yang diserahkan ; maka jurnal :
Dr.Investasi musyarakah-kas xxx
Kr.Kas xxx

b. Apabila investasi dalam bentuk aset nonkas, maka di nilai sebesar nilai wajar dan jika nilai
wajar aset nonkas yang diserahkan lebih besar dari nilai buku, maka oleh mitra aktif selisihnya
akan dicatat dalam akun selisih penilaian aset musyarakah ( dilaporkan dalam bagian ekuitas).
Jurnal :
Dr.Investasi musyarakah-aset nonkas xxx
Dr.Akumulasi penyusutan xxx
Kr.Selisih penilaian aset musyarakah(sebagai bag.ekuitas) xxx
Kr.Aset nonkas xxx

Selisih penilaian aset musyarakah tersebut diamortisasi selama masa akad musyarakah menjadi
keuntungan.
Jurnal :
Dr.Selisih penilaian aset musyarakah xxx
Kr.Keuntungan xxx

Jika nilai wajar aset nonkas yang diserahkan lebih kecil dari nilai buku, maka selisihnya dicatat
sebagai kerugian dan diakui pada saat penyerahan aset nonkas.

Jurnal :

Dr.Investasi musyarakah-aset nonkas xxx

Dr.akum.Penyusutan xxx

Dr.Kerugian penurunan nilai xxx

Kr.Aset nonkas xxx

Apabila investasi dalam bentuk aset nonkas dan diakhir akad akan diterima kembali maka atas
aset nonkas musyarakah disusutkan berdasarkan nilai wajar, dengan masa manfaat berdasarkan
masa akad atau masa manfaat ekonomi aset

Jurnal :

Dr.Beban Depresiasi xxx

Kr.Akumulasi Depresiasi xxx

Untuk mitra pasif, akun selisih penilaian aset musyarakah digantikan dengan akun keuntungan
tangguhan dan diamortisasikan selama masa akad. Apabila aset nonkas dikembalikan di akhir
akad maka akun investasi musyarakah nonkas akan berkurang nilainya sebesar beban
penyusutan aset yang diserahkan dikurangi dengan amortisasi keuntungan tangguhan

4. Apabila dari investasi musyarakah diperoleh keuntungan maka jurnal :


Dr.Kas/piutang xxx
Kr.Pendapatan bagi hasil xxx
Apabila dari investasi yang dilakukan rugi maka jurnal :
Dr.Kerugian xxx
Kr.Penyisihan Kerugian xxx

5. Apabila modal investasi yang diserahkan berupa aset nonkas, dan di akhir akad dikembalikan
dalam bentuk kas sebesar nilai wajar aset nonkas yang disepakati ketika aset tersebut diserahkan.
Maka ketika akad musyarakah berkhir, aset nonkas akan di likuidasi/dijual terlebih dahulu dan
keuntungan atau kerugian dari penjualan aset ini (selisih antara nilai buku dan nilai jual)
didistribusikan pada setiap mitra sesuai nisbah.

Ketika pelunasan dengan asumsi tidak ada penyisihan kerugian dan poenjualan aset nonkas
mengahasilkan keuntungan , maka jurnal :

Dr.Kas xxx

Kr.Investasi musyarakah xxx

Kr.Keuntungan xxx

Ketika pelunasan dengan asumsi ada penyisihan kerugian dan penjualan aset nonkas menghasilkan
keuntungan, maka jurnal :

Dr.Kas xxx

Dr.Penyisihan kerugian xxx

Kr.Investasi musyarakah xxx

Kr.Keuntungan xxx

Pencatatan diakhir akad :

1. Apabila modal investasi yang diserahkan berupa kas. Jika tidak ada kerugian, maka jurnal:

Dr.Kas xxx

Kr.Investasi musyarakah xxx

Jika ada kerugian, maka jurnal :


Dr.Kas xxx

Dr.Penyisihan kerugian xxx

Kr.Investasi musyarakah xxx

2. Apabila modal investasi berupa aset nonkas, dan dikembalikan dalam bentuk aset nonkas
yang sama pada akhir akad. Jika tidak ada kerugian , maka jurnal :
Dr.Aset nonkas xxx
Kr.Investasi musyarakah xxx

Jika ada kerugian , mitra yang menyerahkan aset nonkas harus menyetorkan uang sebesar
nilai kerugian, maka jurnal :

Dr.Penyisihan Kerugian xxx

Kr.Kas xxx

Dr.Aset nonkas xxx

Kr.Investasi musyarakah xxx

6. Bagian mitra aktif untuk jenis akad musyarakah menurun (dengan pengembalian dana mitra secara
bertahap) nilai investasi musyarakahnya sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset nonkas yang
diserahkan pada awal akad ditambah jumlah dana syirkah temporer yang telah dikembalikan pada
mitra pasif dikurangi rugi jika ada.Sedangkan bagian mitra pasif nilai investasi musyarakahnya
sebesar kas atau nilai wajar aset yang diserahkan pada awal akad dikurangi dengan pengembalian
dari mitra aktif jika ada.

7. Penyajian

Mitra aktif menyajikan hal-hal yang terkait dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan
sebagai berikut:

Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif dan yang diterima oleh mitra pasif
disajikan sebagai investasi musyarakah
Aset musyarakah yang diterima dari mitra pasif disajikan sebagai unsur dana syirkah
temporer
Selisih penilaian aset musyarakah (jika ada) disajikan sebagai unsur ekuitas

Mitra pasif menyajikan hal-hal yang terkait dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan
sebagai berikut:

Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif disajikan sebagai investasi musyarakah.
Keuntungan tangguhan dari selisih penilaian aset nonkas yang diserahkan pada nilai wajar
disajikan sebagai pos lawan (contra account) dari musyarakah.

8. Pengungkapan

Mitra mengungkapkan hal-hal yang terkait transaksi musyarakah, tetapi tidak terbatas, pada:

Isi kesepakatan utama usaha musyarakah, seperti porsi dana, pembagian hasil usaha, aktivitas
usaha musyarakah, dan lain-lain;
Pengelola usaha, jika tidak ada mitra aktif; dan
Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.

Akuntansi untuk Pengelola Dana

Akuntansi untuk pengelola musyarakah dilakukan oleh mitra aktif atau pihak yang mewakilinya.

1. Penerimaan dana musyarakah dari mitra pasif atau mitra aktif diakui sebagai dana syirkah temporer
sebesar:

a. Jumlah yang diterima untuk penerimaan dalam bentuk kas, dan jurnal:

Dr. Kas XXX

Kr. Dana Syirkah Temporer XXX

Selanjutnya untuk dana syirkah temporer harus dipisahkan (dalam bentuk sub ledger) antara dana
yang berasal dari mitra aktif atau mitra pasif.

b. nilai wajar untuk penerimaan dalam bentuk aset nonkas, maka akan dicatat sebesar nilai wajarnya
dan jurnal:

Dr. Aset Nonkas XXX

Kr. Dana Syirkah Temporer XXX

Apabila di akhir akad aset nonkas tidak dikembalikan maka yang mencatat beban depresiasi
adalah usaha musyarakah atas dasar nilai wajar dan disusutkan selama masa akad atau selama umur
ekonomis.Sedangkan jika dikembalikan, yang mencatat beban depresiasi adalah mitra yang
menyerahkan aset nonkas sebagai modal investasinya.

Dr. Beban depresiasi XXX

Kr. Akumulasi Depresiasi XXX


2. Pencatatan untuk pembagian laba untuk mitra aktif dan mitra pasif

Saat mencatat pendapatan:

Dr. Kas/Piutang XXX

Kr. Pendapatan XXX

Saat mencatat beban:

Dr. Beban XXX

Kr. Kas/Utang XXX

Jurnal penutup yang dibuat di akhir periode (apabila diperoleh keuntungaan:

Dr. Pendapatan XXX

Kr. Beban XXX

Kr. Pendapatan yang Belum Dibagikan XXX

Jurnal ketika dibagihasilkan kepada pemilik dana:

Dr. Beban Bagi Hasil Musyarakah XXX

Kr. Utang Bagi Hasil Musyarakah XXX

Jurnal pada saat pengelola dana membayar bagi hasil:

Dr. Utang bagi hasil Musyarakah XXX

Kr. Kas XXX

Pada akhir periode, akun pendapatan yang belum dibagikan dan beban bagi hasil ditutup.Jurnal:

Dr. Pendapatan yang Belum Dibagikan XXX

Kr. Beban bagi hasil XXX

Jurnal penutup yang dibuat apabila terjadi kerugian:

Dr. Pendapatan XXX

Dr. Penyisihan Kerugian XXX

Kr. Beban XXX


Jika kerugin akibat kelalaian atau kesalahan mitra aktif atau pengelola usaha, maka kerugian tersebut
ditanggung oleh mitra aktif atau pengelola usaha musyarakah.Jurnal:

Dr. Penyisihan Kerugian-Mitra Aktif XXX

Kr. Kerugian yang Belum Dialokasikan XXX

3. Pencatatan yang dilakukan pada akhir akad.

a. Apabila dana investasi yang diserahkan berupa kas, maka jurnal:

Dr. Dana Syirkah Temporer XXX

Kr. Kas XXX

Kr. Penyisihan Kerugian XXX

b. Apabila dana investasi yang diserahkan berupa aset nonkas, dan di akhir akad dikembalikan,
maka jurnal:

Dr. Dana Syirkah Temporer XXX

Kr. Aset Nonkas XXX

Jika aset harus dikembalikan, dan terjadi kerugian maka mitra yang menyerahkan aset nonkas
harus menyerahkan kas untuk menutup kerugian.Jurnal:

Dr. Kas XXX

Kr. Penyisihan Kerugian XXX

c. Apabila modal investasi yang diserahkan berupa aset nonkas, dan di akhir akad akan
dikembalikan dalam bentuk kas, maka aset nonkas harus dilikuidasi/dijual terlebih dahulu dan
keuntungan atau kerugian dari penjualan aset ini (selisih antara nilai buku dengan nilai jual)
didistribusikan pada setiap mitra sesuai kesepakatan. Jika penjualan tersebut menghasilkan
keuntungan maka akan menambah dana mitra. Jurnal:

Dr. Kas XXX

Dr. Akumulasi Depresiasi XXX

Kr. Aset Nonkas XXX

Kr. Keuntungan XXX

Keuntungan ditutup ke dana syirkah temporer, jurnalnya:


Dr. Keuntungan XXX

Kr. Dana Syirkah Temporer XXX

Jika penjualan tersebut menghasilkan kerugian, akan di tagih kepada mitra, maka jurnal:

Dr. Kas XXX

Dr. Akumulasi Depresiasi XXX

Dr. Penyisihan Kerugian XXX

Kr. Aset Nonkas XXX

Ketika pelunasan, asumsi tidak ada penyisihan kerugian dan dari penjualan aset nonkas mengalami
keuntungan, jurnal:

Dr. Dana Syirkah Temporer XXX

Kr. Kas XXX

Ketika pelunasan, asumsi ada penyisihan kerugian dari penjualan aset nonkas mengalami keuntungan,
jurnal:

Dr. Dana Syirkah Temporer XXX

Kr. Penyisihan Kerugian XXX

Kr. Kas XXX

4. Penyajian

Pengelola menyajikan hal-hal yang terkait dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan
sebagai berikut.

a. Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif dan yang diterima dari mitra pasif
disajikan sebagai investasi musyarakah.
b. Aset musyarakah yang diterimadari mitra pasif disajikan sebagai unsur dana syirkah temporer.
c. Selisih penilaian aset musyarakah (jika ada) disajikan sebagi unsur ekuitas.