Vous êtes sur la page 1sur 11

LAPORAN KASUS MODUL ENDODONTIK

INDIRECT PULP CAPPING

DISUSUN OLEH :

APRILIAN PRATAMA

NIM : J530165035

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2016
I. PENDAHULUAN

Perawatan endodontik merupakan bagian dari ilmu kedokteran gigi yang


menyangkut perawatan penyakit atau cedera pada jaringan pulpa dan jaringan
periapikal. Tujuan perawatan endodontik adalah mengembalikan keadaan gigi yang
sakit agar dapat diterima secara biologik oleh jaringan sekitarnya sehingga gigi dapat
dipertahankan selama mungkin didalam mulut. Hal ini berarti gigi tersebut tidak
menimbulkan keluhan dan dapat berfungsi baik. Perawatan endodontik terdiri dari
perawatan non bedah yaitu perawatan kaping pulpa, pulpotomi, mumifikasi,
perawatan saluran akar dan perawatan endodontik bedah.
Mempertahankan pulpa yang sehat dan utuh merupakan suatu pilihan yang
lebih baik dibandingkan dengan perawatan saluran akar, mengingat perawatan
endodonsi lain cenderung memerlukan waktu yang lama, rumit dan mahal. Prosedur
perawatan yang digunakan pada kasus ini adalah kaping pulpa indirek.
Kaping pulpa indirek adalah perawatan pada pulpa yang masih tertutup lapisan
dentin tipis karena karies yang dalam. Pada teknik ini obat-obatan yang digunakan
tidak berkontak langsung dengan pulpa.Pulp capping tidak langsung memerlukan
lebih dari dua kali kunjungan. Indirect pulp capping dirasa lebih memberi hasil yang
diharapkan dari pada metode direct pulp capping. Dilakukan bila pulpa belum
terbuka, tapi atap pulpa sudah sangat tipis sekali, yaitu pada karies profunda.
Perawatan ini memakai criteria jembatan dentin sebagai indicator keberhasilan
karena jembatan dentin bertindak sebagai suatu barrier untuk melindungi jaringan
pulpa dari bakteri sehingga pulpa tidak mengalami inflamasi, tetap vital, membantu
kelanjutan pertumbuhan akar dan penutupan apikal pada gigi yang pertumbuhannya
belum sempurna. Jembatan dentin terbentuk karena adanya fungsi sel odontoblas pada
daerah pulpa yang terbuka.
Jejas terhadap pulpa dapat berupa trauma mekanis, suhu yang ekstrim, bahan
kimia, dan bakteri beserta produknya. Bila pulpa terkena jejas, maka pulpa akan
mengadakan reaksi pertahanan berupa respons inflamasi dan respons imun yang dapat
bersifat permanen maupun temporer. Sifat dari reaksi ini tergantung pada tipe, lama,
dan tingkat keparahan jejas.
Pada keadaan temporer, pulpa berusaha mempertahankan vitalitasnya dengan
membentuk jembatan dentin/dentin reparatif, namun disisi lain pulpa juga memiliki
kemampuan pertahanan yang terbatas karena dikelilingi oleh jaringan dentin yang
relatif keras, tidak memiliki sirkulasi darah kolateral, dan volumenya kecil. Oleh
karena itu perlu melakukan suatu tindakan agar vitalitas dan fungsi dari pulpa gigi
dapat dipertahankan. Salah satu jenis tindakan yang dapat dilakukan adalah perawatan
kaping pulpa.
Pulpa capping adalah aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau bahan
untuk perawatan diatas pulpa yang terbuka, misalnya kalsium hidroksida yang akan
merangsang pembentukan dentin reparative Adapun tujuan pulpa capping adalah untuk
menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan
pulpa dapat mempertahankan vitalitasnya. Dengan demikian terbukanya jaringan
pulpa dapat terhindarkan.
Indirect Pulp Capping adalah perawatan pada pulpa yang masih tertutup
lapisan dentin tipis karena karies yang dalam. Pada teknik ini obat-obatan yang
digunakan tidak berkontak langsung dengan pulpa. Pulp capping tidak langsung
memerlukan lebih dari dua kali kunjungan. Indirect pulp capping dirasa lebih
memberi hasil yang diharapkan dari pada metode direct pulp capping. Dilakukan bila
pulpa belum terbuka, tapi atap pulpa sudah sangat tipis sekali, yaitu pada karies
profunda.
Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus vital dan bebas dari
inflamasi. Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila
hal ini terjadi maka tindakan selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau
tindakan yang lebih radikal lagi yaitu amputasi pulpa (Pulpotomi).

Gambar Perawatan Indirect Pulp Capping


II. LAPORAN KASUS

Data Pasien :
Nama : Fikrotul Ulya Rahmawati
Alamat : Jln. Raden Patah 47, Grobogan
No. HP : 087736455633
Tempat, Tanggal Lahir : Grobogan, 23 Juni 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Mahasiswa
Agama : Islam
Golongan Darah :O
Alergi : Tidak Ada
Penyakit Sistemik : Tidak Ada

A. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
CC : Pasien dating dengan mengeluhkan tumpatan sementaranya lepas.
PI : Keluhan tersebut dirasakan 1 hari sebelumnya. Gigi tersebut pernah di rawat
sebelumnya. Pasien merasa ngilu saat makan dan minum dingin.
PMH :
Pasien belum pernah dirawat di rumah sakit.
Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat.
Pasien tidak sedang dalam perawatan dokter.
PDH :
Pasien pernah ke dokter gigi untuk mencabutkan gigi belakang kiri bawah + 5 tahun
yang lalu tanpa komplikasi.
Pasien pernah menambalkan gigi belakang kiri bawah.
FH :
FMH :
o Ayah : Tidak dicurigai memiliki penyakit sistemik.
o Ibu : Tidak dicurigai memiliki penyakit sistemik.
PDH :
o Ayah : Pernah mencabutkan gigi di dokter gigi.
o Ibu : Tidak terdapat keluhan yang berhubungan dengan kondisi gigi.
SH :
Pasien memiliki kebiasaan menggosok gigi 3 kali sehari.
Pasien merupakan seorang mahasiswa.
Pasien tinggal di lingkungan kos yang bersih.

Kesan Umum Kesehatan Penderita :


Jasmani : Sehat
Mental : Sehat, komunikatif, dan kooperatif.
Vital Sign :
Tekanan Darah : 90/70 mmHg : Normal
Nadi : 64 x/menit
Pernafasan : 24 x/menit
Suhu : 36,5 C
Berat Badan : 41 kg
Tinggi Badan : 154 cm

B. PEMERIKSAAN OBJEKTIF

Pemeriksaan Ekstra Oral :


Fasial Neuromuskular Kelenjar Kelenjar Tulang TMJ
Ludah Limfe Rahang
Deformitas T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K

Nyeri T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K

Tumor T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K

Gangguan T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K T.A.K


Fungsi

Pemeriksaan Intra Oral :


Mukosa Bibir : T.A.K
Mukosa Pipi : T.A.K
Dasar Mulut : T.A.K
Lidah : Normal, aktivitas normal.
Orofaring : T.A.K
Gingiva : T.A.K
Oklusi : Normal Bite
Torus Palatinus : Tidak Ada
Torus Mandibula : Tidak Ada
Palatum : Normal, Bentuk U
Frenulum Labialis RA : Sedang
Frenulum Labialis RB: Sedang
Frenulum Lingualis : Sedang
Frenulum Bukalis RA : Sedang
Frenulum Bukalis RB : Sedang
Alveolus RA : Tinggi
Alveolus RB : Tinggi
Supernumerary Teeth : Tidak Ada
Diastema : Ada, pada gigi 37 - 43
Gigi Anomali : Tidak Ada
Gigi Tiruan : Tidak Ada
Pemeriksaan Odontogram

C. DIAGNOSIS DAN RENCANA PERAWATAN


Ringkasan hasil Rencana Perawatan
Elemen Diagnosis
Pemeriksaan (Berdasar Prioritas)
Terdapat kavitas pada
sisi mesio oklusal
dengan kedalaman
25 dentin mendekati. D/ Pulpitis Reversible TP/ Capping Pulpa Indirect
Sondasi (+)
Perkusi (-)
Palpasi (-)
CE (+)
Terdapat garis
kehitaman pada
permukaan fissure TP/ Restorasi RK Kavitas
37 D/ Karies Email
oklusal dengan klas I
kedalaman email.

Pemeriksaan penunjang gigi 25


Gigi 25 dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menentukan kedalaman kavitas
dan menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan. Pemeriksaan penunjangnya
merupakan radiografi periapikal.

F. TAHAPAN PERAWATAN (PENJELASAN SECARA DETAIL)


Tahapan perawatan yang dilakukan terhadap pasien yang akan dilakukan perawatan capping
pulpa adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
Pasien :
o Pasien memposisikan duduk di atas kursi gigi.
o Pasien diminta untuk duduk dengan relaks
o Pasien diberi informasi tentang perawatan yang akan dilakukan, berupa
informasi alat dan bahan yang digunakan, infromasi tahapan kerja yang
akan dilakukan, resiko yang mungkin terjadi, keberhasilan dan
kegagalan yang mungkin terjadi, serta meminta inform consent kepada
pasien.
Alat dan Bahan :
Setelah persiapan pasien telah selesai dilakukan maka dapat mempersiapkan
alat dan bahan.
o Alat yang digunakan berupa :
Diagnostik set digunakan untuk alat yang dapat membantu
inspeksi rongga mulut pasien, berupa kaca mulut, sonde,
ekskavator, dan pinset.
Bur digunakan untuk membersihkan jaringan dentin yang
nekrotik akibat karies.
Handpiece berfungsi untuk memutar bur agar bur dapat
digunakan.
Ekskavator berfungsi untuk membersihkan debris serta
jaringan karies yang terdapat di dalam kavitas.
Ball applicator digunakan untuk memasukkan CaOH atau
dycal kedalam kavitas.
Spatula plastis digunakan untuk memanipulasi /
mencampurkan base dan katalis CaOH.
o Bahan yang digunakan berupa :beserta cara manipulasi/
penggunaannya
Chlor Etil digunakan untuk mengetes vitalitas gigi.
CaOH Sebagai bahan capping pulpa, terdiri dari base dan
katalis.
SIK Tipe III Sebagai lining dan base yang melindungi bahan
CaOH agar tidak terkontaminasi saliva.
Kavit (Caviton) sebagai tumpatan sementara yang menutupi
kavitas.
Paper pad Sebagai alas / tempat manipulasi CaOH dan SIK.
2. Pembersihan jaringan nekrotik
a. Gigi yang akan dilakukan capping dibersihkan terlebih dahulu ketika akan
melakukan pemeriksaan.
b. Pembersihan jaringan dentin nekrotik dapat menggunakan ekskavator.
c. Pembersihan agar dilakukan secara hati-hati supaya tidak terjadi perforasi
kamar pulpa akibat kesalahan operator.
3. Persiapan Gigi
Setelah gigi selesai dibersihkan dari jaringan nekrotik, siapkan bahan capping pulpa.

4. Aplikasi CaOH / Dycal


CaOH atau dycal yang telah disiapkan akan dimanipulasi menggunakan spatula
plastis. Siapkan base dan katalis dycal dengan perbandingan 1:1 diatas paper pad.
Campurkan dan manipulasikan base dan katalis menggunakan spatula dengan cara
membolak-balikkan bahan / dengan cara melipat. Dycal akan setting dalam suhu
ruangan dalam waktu 2-3 menit tergantung kelembaban. Dalam rongga mulut dycal
akan setting lebih lama. Usahakan memasukkan dycal ke dalam rongga mulut kurang
dari 2 menit. Memasukkan dycal ke dalam rongga mulut dapat menggunakan ball
applicator. Aplikasikan dycal ke dalam kavitas terutama pada bagian dasar kavitas
atau pada titik terdalam kavitas yang mendekati pulpa.

5. Aplikasi SIK
Setelah dycal dimasukkan ke dalam rongga mulut. SIK dapat di manipulasi dan di
aplikasikan ke dalam rongga mulut. SIK diletakkan kedalam dasar kavitas dengan
ketebalan 1-2 mm dan menutupi bahan dycal. Usahakan agar SIK tidak mengenai
dinding kavitas.
6. Aplikasi Cavit
Cavit adalah bahan tumpatan sementara yang digunakan. Kavitas yang terbuka dan
telah terdapat Dycal dan SIK didalamnya ditutupi dengan tumpatan sementara / kavit
agar tidak terkontaminasi dengan saliva. Usahakan kavit agar tidak terjadi traumatic
oklusi.

7. Kontrol
Setelah kavit diaplikasikan, diinstruksi kepada pasien untuk control dalam waktu 1
minggu kemudian. Control dilakukan untuk mengecek tumpatan sementara agar tidak
terlepas / terbuka serta melakukan evaluasi tentang keluhan yang dirasakan pasien.

III. HASIL PERAWATAN


1Pasien Saat Datang 2 Pasien setelah perawatan pulp
capping

3 Kondisi pasien saat kontrol

PEMBAHASAN

Diagnosis gigi 25 pada pasien yakni gigi mengalami pulpitis reversible. Diagnosis
diambil setelah dilakukan pemeriksaan subjektif, objektif dan pemeriksaan radiograf.
Setelah didapatkan diagnosis tersebut pasien diinformasikan agar segera melakukan
perawatan kaping pulpa indirek.
Setelah prosedur perawatan dilakukan pasien diinstruksikan untuk kembali dalam
jangka waktu 1 minggu untuk dilakukan evaluasi. Seminggu kemudian pasien masih
merasa ngilu dan kavit terlepas. Akhirnya kami putuskan untuk mengulangi prosedur
kaping pulpa tersebut. Setelah prosedur perawatannya selesai pasien kami instruksikan
untuk menjaga kebersihan mulutnya.
Perawatan ini memakai kriteria jembatan dentin sebagai indicator keberhasilan
karena jembatan dentin bertindak sebagai suatu barrier untuk melindungi jaringan pulpa
dari bakteri sehingga pulpa tidak mengalami inflamasi, tetap vital, membantu kelanjutan
pertumbuhan akar dan penutupan apikal pada gigi yang pertumbuhannya belum
sempurna.Secara teori bahan kaping pulpa yaitu CaOH yang diaplikasikan pada
permukaan dasar kavitas bekerja dengan cara menekrosis jaringan dibawahnya yang
mengakibatkan pulpa terangsang untuk membentuk jembatan dentin.
Terbukanya pulpa karena karies lebih rendah tingkat keberhasilannya dibandingkan
dengan terbukanya pulpa akibat kesalahan mekasnis atau trauma. Keberhasilan
perawatan gigi vital terhantung pada strategi menggunakan bahan yang memiliki sel
progenitor dan juga bahan yang dapat berinteraksi dengan sel nonprogenitor pendukung.
Keberhasilan kaping pulpa dikarenakan ion kalsium didalamnya. Klinisi perlu
mengevaluasi kandungan yang berpotensi agar dapat digunakan untuk terapi gigi vital.
Pertimbangan tersebut diikutsertakan seperti mengetahui karakteristik dan efek klinis
yang kemudian bahan tersebut dapat dengan mudah diaplikasikan saat perawatan
dibutuhkan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Pulpitis reversibel pada gigi molar kiri rahang bawah pada kasus ini telah
dilakukan perawatan kaping pulpa indirek. Perawatan kaping pulpa indirek
dinyatakan telah berhasil karena pasien sudah tidak merasa linu saat
minum dingin, pasien tidak merasa sakit saat makan dan minum panas
maupun saat mengunyah makanan serta tidak merasakan nyeri spontan.
B. Saran
Pada perawatan dengan kasus pulpitis reversibel diperlukan kecermatan dan ketelitian
dalam preparasi gigi, pemilihan dan pengaplikasiaan bahan yang akan digunakan
untuk menunjang keberhasilan perawatan kaping pulpa.

V. DAFTAR PUSTAKA

Bakar, A. 2013. Kedokteran Gigi Klinis Edisi 2. Yogyakarta: Quantum Sinergis Media

Banerjee, A., Watson, T.F., 2014, Pickard Manual Konservasi Restoratif Edisi 9, Jakarta,
EGC.
D, Utreja., A, Tewari., dan HS, Chawla., 2010,A Study of Influence of Sugar on the
Modulation of Dental Plaque pH in Children With Rampant Caries, Moderate Caries
and No Caries,Journal of Indian Society of Pedodontics and Preventive Dentistry,28
(1):278-281.
Grossman LI, Oliet S, Del Ro CE. 2013.Endodontic practice. 11th ed. Philadelphia: Lea and
Febiger.
Mitchell, L., Mitchell, D.A., McCaul, L., 2014, Kedokteran Gigi Klinik Edisi 5, Jakarta,
EGC.
Walton, R.E., Torabinejad, M., 2008, Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia Edisi 3, Jakarta,
EGC.