Vous êtes sur la page 1sur 2

1. Mengapa neraca lingkungan penting?

Saat ini begitu banyaknya masalah yang terkait dengnan lingkungan hidup yang
berkaitan dengan pembangunan. Masalah tersebut dapat timbul akibat proses
pembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan hidup. Begitu juga
dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang menjalankan bisnis hanya untuk
mencari keuntungan tanpa melihat dampaknya bagi lingkungan. Dengan cara seperti
ini maka terjadi kemerosotan kualitas lingkungan di mana-mana, yang diikuti dengan
timbulnya bencana alam. Terdapat banyak hal yang menyebabkan aspek lingkungan
hidup menjadi kurang diperhatikan dalam proses pembangunan, seperti ketersediaan
SDM sampai kepada hal-hal yang berskala lebih luas seperti penerapan teknologi
yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu saat ini banyak peraturan-peraturan
daerah tentang pelestarian lingkungan hidup salah satunya mewajibkan perusahaan-
perusahaan untuk memperhatikan lingkungan sekitar dalam berbisnis.

Kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan hidup


nantinya akan dianalisis bagaimana perlakuan akuntansinya terhadap dana yang sudah
dikeluarkan untuk pengelolaan lingkungan hidup. Analisis dilakukan dengan cara
pengukuran dan mengidentifikasi biaya yang telah dikeluarkan khususnya biaya yang
timbul akibat kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan alam. Nantinya biaya-
biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) yang telah dikeluarkan perusahaan akan
dilaporkan dalam neraca. Hal ini yang disebut dengan Neraca Lingkungan (NL).

Menurut saya neraca lingkungan sangat penting bagi perusahaan, karena neraca
lingkungan membantu perusahaan dalam penghematan dan penggunaan SDA secara
konservatif oleh negara-negara di dunia ini. Nantinya kegiatan-kegiatan perusahaan
yang bersangkutan dengan lingkungan akan di masukkan dalam neraca lingkungan,
hal ini agar para pemangku kepentingan dalam perusahaan bisa melihat apa yang
sudah dilakukan perusahaan terhadap lingkungan. Sehingga dapat memberikan nilai
tambah terhadap perusahaan ini.

2. Kenapa konsep Triple Bottom Line (TBL) perlu direkonstruksi ulang?


Konsep Triple Bottom Line (TBL) merupakan konsep dalam pengkuran kinerja
perusahaan yang terdiri dari tiga aspek, yaitu ekonomi (profit), alam (planet) dan
realitas sosial (people). Konsep ini saling menyeimbangkan dan berhubungan agar
dalam menjalankan bisnisnya perusahaan tidak hanya berfokus untuk mencari laba
saja tetapi juga memperhatikan alam dan masyarakat sekitar yang berdampak karena
bisnis yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Konsep TBL ini juga
merupakan konstruksi dari konsep sebelumnya yang hanya terdiri dari satu aspek saja
yaitu laba. Tetapi karena dianggap masih mementingkan aspek finansial saja, tanpa
non finansial, maka perlu direkonstruksi menjadi TBL.

Saya juga setuju dengan konsep Triple Bottom Line (TBL) yang harus direkonstruksi
ulang, karena konsep ini juga belum menyeluruh dankurang lengkap karena masih
mementingkan kehidupan duniawi saja. Padahal dalam menjalankan bisnis
seharusnya para perusahaan-perusahaan juga harus ingat pada Allah karena yang
berkehendak terhadap semua ini. Dalam konsep TBL, belum ada kesadaran yang
mengarahkan orang-orang untuk mengakui adanya kehadiran Tuhan, padahal Allah
alam, dan manusia merupakan satu kesatuan. Oleh karena itu konsep TBL perlu di
rekonstruksi ulang dengan menambahkan aspek Nabi dan Allah sehingga hasil
rekonstruksi yang baru bisa disebut dengan Pentuple Bottom Line (PBL). Konsep
PBL ini terdiri dari profit, planet dan people, dengan Nabi dan Allah sebagai elemen
spiritual.
3. Bagaimana cara medekonstruksi konsep Triple Bottom Line (TBL)?
Saya setuju bahwa konsep triple bottom line perlu direkonstruksi ulang dengan
menambahkan aspek Nabi dan Allah dengan cara menggunakan konsep taqwa.
Karena konsep taqwa sendiri di dalam beberapa surat Al-quran memiliki arti
kepatuhan seorang individu terhadap Allah, dengan cara mematuhi semua perintahnya
sesuai dengan yang ada di dalam Al-quran.

Di alam ini manusia hidup saling bergantung dan membutuhkan sumber daya yang
sudah disediakan oleh alam yang merupakan ciptaan Allah. Oleh karena itu sebagai
seorang manusia hendaknya berterimakasih kepada Allah karena sudah memberikan
kenikmatan terhadap para manusia, dengan cara bertaqwa. Sehingga taqwa bisa
disebut merupakan keadaan spiritual seorang individu dimana memiliki kesadaran
batin bahwa Allah, manusia, dan alam merupakan satu kesatuan, serta kesadaran
mematuhi akan perintah Allah dalam bentuk undang-undang ilahi. Ini berarti bahwa
seorang individu harus melakukan perbuatan baik untuk dirinya, untuk alam semesta,
orang, dan nabi sebagai bentuk dari menghormati-Nya. Semua tindakan manusia,
termasuk melakukan bisnis, adalah untuk menyembah Tuhan. Jadi dalam menjalankan
bisnis hendaknya perusahaan memperhatikan kelima aspek yang saling bersangkutan,
tidak hanya profit, planet dan people, tetapi juga nabi dan Tuhan.
4. Bagaimana desain konstruksi neraca lingkungan yang baik?
Saya setuju bahwa perusahaan harus menyusun neraca lingkungan, agar dapat
mengetahui biaya-biaya yang sudah dikeluarkan oleh perusahaan untuk pengelolaan
lingkungan hidup.
Neraca Sumber Daya Alam atau Lingkungan (SDAL) adalah sebuah instrumen yang
mana membantu langkah penghematan dan penggunaan SDA secara konservatif oleh
negara-negara di dunia ini. Neraca SDAL yang baik memiliki 2 klasifikasi yaitu
neraca fisik dan neraca moneter. Neraca fisik merupakan gambaran arus barang
lingkungan ke dalam penggunaan ekonomi, merekam perunahan yang terjadi selama
periode perhitungan. Sedangkan neraca moneter adalah menyajikan nilai moneter
sumber daya alam setelah melalui perhitungan dan cara-cara penilaian yang disepakati
SDA yang telah disusun neraca fisiknya dapat juga disusun dalam bentuk neraca
moneter dengan memberikan penilaian pada setiap jenis sumber daya alam.