Vous êtes sur la page 1sur 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Target Millenium Development Goals (MDGs) 5 yaitu menurunkan


Angka kematian ibu menjadi 102/100.000 pada tahun 2015 masih
memerlukan upaya khusus dan kerja keras dari seluruh pihak baik
pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat. Angka Kematian Ibu (AKI)
yang tinggi menunjukkan rawannya derajat kesehatan ibu. Angka kematian
ibu menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat
kesehatan masyarakat. Angka kematian ibu menggambarkan jumlah wanita
yang meninggal dari suatu penyabab kematian terkait dengan gangguan
kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus
insidentil) selama kehamilan, melahirkan, dan dalam masa nifas tanpa
memperhitungkan lama kehamilam per 100.000 kelahiran hidup
(Riskesdas,2013).

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)


tahun 2012-2013, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan,
persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini
masih cukup tinggi apalagi jika dibandingkan dengan negaranegara
tetangga.

Berdasarkan survei kedokteran tahun 2012, Angka kematian


Sumatera Barat masih 212 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara sesuai
target MDGs Angka kematian ibu harus diturunkan sampai 102 per 100.000
kelahiran hidup dan Angka kematian bayi sampai 23 per 1.000 kelahiran
hidup (Dinkes Sumbar, 2012).

Yang menjadi sebab utama kematian ibu di Indonesia adalah


perdarahan (27%), pre-eklampsia atau eklampsia (23%) kemudian infeksi
(11%), abortus (5%), komplikasi puerperium (5%), trauma obstetrik (5%),
emboli obtetrik (5%), partus lama (5%) dan lain-lain (11%)
(Riskesdas,2013).

Perdarahan merupakan penyebab kematian ibu terbanyak.


Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan, dan pada kehamilan
muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus (Wiknjosastro,2010).

Diwilayah Asia Tenggara, World Health Organization (WHO)


memperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahunnya diantaranya
750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Risiko kematian akibat abortus
tidak aman di wilayah Asia Tenggara di perkirakan antara satu sampai 250,
Negara maju hanya satu dari 3700. Angka tersebut memberikan gambaran
bahwa masalah abortus di Indonesia masih cukup tinggi ( Lusa, 2012).

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia


kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho, 2010). Macam
abortus ada 4 yaitu abortus spontan, abortus infeksiosa, Missed Abortion,
dan abortus habitualis. Abortus spontan sendiri meliputi abortus imminens,
abortus insipiens, abortus inkomplit, dan abortus komplit
(Wiknjosastro,2010)

Abortus inkompletus ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada


kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam
uterus. Terjadi ketika plasenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat
terjadi aborsi (Varney, 2007).

Komplikasi abortus jika tidak ditangani dapat terjadi perdarahan,


perforasi, infeksi dan syok. Bila terjadi perdarahan yang hebat akibat
abortus inkomplit dianjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasil
konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi
uterus segera dikeluarkan. Kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan
perdarahan bisa berhenti. Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase.
1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan dan memberikan asuhan
kebidanan pada ibu hamil Ny. N G 2P1A0H1 usia kehamilan 11-12
minggu dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Bersalin
Permata Hati Painan Tanggal Januari 2017.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian ibu hamil N G2P1A0H1 usia
kehamilan 11-12 minggu dengan Abortus Inkomplit di
Rumah Sakit Bersalin Permata Hati Painan Tanggal 26-27
Januari 2017.
2. Mampu menganalisa dan menginterpretasikan untuk
menentukan diagnosa aktual pada ibu hamil N G2P1A0H1
usia kehamilan 11-12 minggu dengan Abortus Inkomplit di
Rumah Sakit Bersalin Permata Hati Painan Tanggal 26-27
Januari 2017.
3. Mampu mengantisipasi kemungkinan timbulnya diagnosa/
masalah potensial pada ibu hamil N G 2P1A0H1 usia
kehamilan 11-12 minggu dengan Abortus Inkomplit di
Rumah Sakit Bersalin Permata Hati Painan Tanggal 26-27
Januari 2017.
4. Mampu melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada
ibu hamil N G2P1A0H1 usia kehamilan 11-12 minggu
dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Bersalin Permata
Hati Painan Tanggal 26-27 Januari 2017.
5. Mampu mengintervensikan tindakan asuhan kebidanan yang
telah disusun pada ibu hamil N G 2P1A0H1 usia kehamilan
11-12 minggu dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit
Bersalin Permata Hati Painan Tanggal 26-27 Januari 2017.
6. Mampu mengimplementasikan secara langsung dari rencana
tindakan yang telah disusun pada ibu hamil N G2P1A0H1
usia kehamilan 11-12 minggu dengan Abortus Inkomplit di
Rumah Sakit Bersalin Permata Hati Painan Tanggal 26-27
Januari 2017.
7. Mampu mengevaluasi efektifitas tindakan yang telah
dilaksanakan pada ibu hamil N G2P1A0H1 usia kehamilan
11-12 minggu dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit
Bersalin Permata Hati Painan Tanggal 26-27 Januari 2017.
1.3. Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis
Penulisan studi kasus ini berguna untuk menambah dan
meningkatkan kompetensi penulis dalam memberikan asuhan kebidanan
pada ibu hamil dengan Abortus Inkomplit.
2. Bagi institusi pendidikan
Penulis berharap bahwa studi kasus ini dapat bermanfaat sebagai
bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus
selanjutnya di perpustakaan Akademi Kebidanan Griya Husada.
3. Bagi Institusi Pelayanan
Dapat dijadikan perbandingan sehingga dapat memberikan asuhan
yang tepat untuk pasien pada kasus kehamilan dengan Abortus Inkomplit.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kehamilan
2.1.1. Definisi
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan
dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau
implantasi (Wiknjosastro,2010).

Menurut Wulanda (2011) kehamilan merupakan proses


yang alamiah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita
selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis bukan
patologis. Kehamilan juga merupakan proses alamiah untuk
menjaga kelangsungan peradaban manusia. Kehamilan baru bisa
terjadi jika seorang wanita sudah mengalami pubertas yang
ditandai dengan terjadinya menstruasi. Banyak hal dan banyak
organ yang terlibat selama proses kehamilan. Sedangkan menurut
Manuaba (2012) proses kehamilan merupakan mata rantai yang
bersinambung dan terdiri dari: ovulasi, migrasi spermatozoa dan
ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada
uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi
sampai aterm.

2.1.2. Pembagian Kehamilan


Menurut Wiknjosastro (2010) kehamilan dibagi menjadi 3
triwulan yaitu :
1. Triwulan I : kehamilan antara 0-12 minggu.
2. Triwulan II : kehamilan antara 13-27 minggu.
3. Triwulan III : kehamilan antara 28-40 minggu.
2.1.3. Macam-macam kehamilan
Kehamilan dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Kehamilan fisiologi
Merupakan masa kehamilan dimulai hasil dari
konsepsi sampai lahirnya janin tanpa adaya komplikasi
maupun kelainan yang berhubungan langsung dengan
kehamilan. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40
minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid
terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan
pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan
kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga
dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin,2006).
2. Kehamilan patologi
Menurut Suparyanto (2011), Patologi kehamilan
adalah penyulit atau komplikasi yang menyertai ibu saat
hamil. Komplikasi yang berhubungan dalam kehamilan yaitu
1. Hyperemesis gravidarum
2. Mola hidatidosa
3. Kelainan lamanya kehamilan
4. Kehamilan ganda
5. Kelainan air ketuban
6. Abortus
7. Kehamilan ektopik terganggu
8. Hipertensi dan pre eklampsia atau eklampsia
2.1.4. Tanda Bahaya Kehamilan
Kehamilan merupakan hal yang fisiologis, namun
kehamilan yang normal dapat berubah menjadi patologi
(Kusmiyati,2008). Salah satu asuhan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan untuk menapis adanya resiko ini yaitu melakukan
pendeteksian dini adanya komplikasi atau penyakit yang mungkin
terjadi selama hamil muda.
Menurut Cibermed (2006) kelainan pembentukan organ
(malformasi) paling banyak terjadi pada trimester pertama
kehamilan yang merupakan masa-masa pembentukan organ
dimana embrio sangat rentan terhadap efek obat-obatan atau virus.
Menurut Manuaba (2008) gawat darurat pada hamil muda antara
lain terjadi hyperemesis gravidarum, abortus, kehamilan ektopik,
dan mola hidatidosa.
Menurut Salmah (2006) yang perlu diketahui pasien dan
keluarga untuk mengenal tanda bahaya kehamilan pada trimester 1
dan 2 yaitu perdarahan yang keluar dari jalan lahir, hiperemesis,
preeklamsi dan eklamsia, ketuban pecah dini, dan gerakan janin
yang tidak dirasakan. Adapun salah satu tanda bahaya yang
penulis uraikan di sini adalah perdarahan yang keluar dari jalan
lahir, yang bisa terjadi pada trimester 1 dan 2 kehamilan dapat
dibedakan menjadi: abortus imminens, abortus insipien, abortus
inkomplit, abortus komplit, abortus infeksius, missed abortion.
2.1.4.1. Abortus
a. Pengertian
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil
konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup diluar kandungan
(Nugroho, 2010).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram (Wiknjosastro,2010).
b. Macam-Macam Abortus
1. Abortus Spontan adalah terminasi kehamilan
sebelum periode viabilitas janin atau sebelum
gestasi minggu ke 20 atau berat badan 500
gram (Varney, 2007).
Abortus spontan dibagi menjadi:
a. Abortus Imminens adalah perdarahan
bercak yang menunjukkan ancaman
terhadap kelangsungan sauatu
kehamilan. Dalam kondisi seperti ini
kehamilan masih mungkin berlanjut atau
dipertahankan. (Syaifudin, 2006).
b. Abortus Insipiens ialah peristiwa
perdarahan uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya
dilatasi servik uteri yang meningkat,
tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.
(Varney, 2007).
c. Abortus Inkompletus ialah pengeluaran
sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada
sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi
ketika plasenta tidak dikeluarkan
bersama janin pada saat terjadi aborsi
(Varney, 2007).
d. Abortus Kompletus
Perdarahan pada kehamilan muda
dimana seluruh hasil konsepsi telah
dikeluarkan dari kavum uteri (Saifuddin,
2006).
e. Abortus Infeksiosa adalah abortus yang
diserta komplikasi infeksi. Adanya
penyebaran kuman atau toksin kedalam
sirkulasi dan kavum peritoneum dapat
menimbulkan septikemia, sepsis atau
peritonitis. Atau disebut juga abortus
yang disertai infeksi pada genetalia
sedang (Wiknjosastro, 2010).
f. Missed Abortion (Retensi Janin Mati)
Perdarahan pada kehamilan muda
disertai dengan retensi hasil konsepsi
yang telah mati hingga 8 minggu atau
lebih. Kematian janin berusia 20
minggu, tetapi janin mati itu tidak
dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih
(Wiknjosastro,2010)
g. Abortus Habitualis
Adalah abortus spontan yang terjadi
3 kali atau lebih berturut-turut
(Manuaba, 2012)
2. Abortus Inkomplit
a. Pengertian
Abortus inkomplit adalah dimana
sebagian jaringan hasil konsepsi masih
tertinggal di dalam uterus dimana pada
pemeriksaan vagina, kanalis servikalis
masih terbuka dan teraba jaringan dalam
kavum uteri atau menonjol pada ostium
uteri eksternum, perdarahannya masih
terjadi dan jumlahnya bisa banyak atau
sedikit bergantung pada jaringan yang
tersisa, yang menyebabkan sebagian
placental site masih terbuka sehingga
perdarahan berjalan terus (Saifuddin,
2010).
b. Etiologi
Penyebab keguguran sebagian tidak
diketahui secara pasti tetapi terdapat
beberapa faktor sebagai berikut :
1. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil
konsepsi dapat menimbulkan
kematian janin dan cacat bawaan
yang menyebabkan hasil konsepsi
dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan
dapat terjadi karena:
a) Kelainan kromosom
Kelainan yang sering
terjadi pada abortus spontan
ialah: trisomi poliploidi dan
kemungkinan pula kelainan
kromosom seks
(Wiknjosastro, 2008).
b) Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di
endometrium di sekitar
tempat implantasi kurang
sempurna, sehingga
pemberian zat-zat makanan
pada hasil konsepsi
terganggu.
c) Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat-
obatan dan sebagainya dapat
mempengaruhi baik hasil
konsepsi maupun lingkungan
hidupnya dalam uterus.
Pengaruh ini umumnya
dinamakan pengaruh
teratogen (Wiknjosastro,
2010).
d) Kelainan pada placenta
Endarteritis dapat
terjadi dalam vili koriales dan
menyebabkan oksigenasi
placenta terganggu, sehingga
menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan kematian
janin.Keadaan ini bisa terjadi
sejak kehamilan muda
misalnya karena hipertensi
menahun. (Sarwono, 2008)
Gangguan pembuluh darah
placenta, di antaranya pada
DM (Manuaba, 2010).
e) Penyakit ibu
Penyakit mendadak
seperti tifus abdominalis,
pielonefritis, malaria dan
lain-lain dapat menyebabkan
abortus toxic, virus dan
plasmodium dapat melalui
placenta masuk ke janin,
sehingga menyebabkan
kematian janin kemudian
terjadilah abortus. Anemia
berat, keracunan,
toksoplasmosis juga dapat
menyebabkan abortus
walaupun lebih jarang
(Sarwono, 2008).
f) Kelainan tractus genitalis
Retroversio uteri,
mioma uteri atau kelainan
bawah uterus dapat
menyebabkan abortus.Tetapi
harus diingat bahwa
retroversio uteri gravidi
inkarserata atau mioma
submukosa yang memegang
peranan penting. Sebab lain
abortus ialah servik
inkompeten yang dapat
disebabkan oleh kelemahan
bawaan pada servik, dilatasi
berlebihan, amputasi atau
robekan servik luas yang
tidak dijahit.
c. Gambaran klinis
Terlambat haid atau amenorrhea
kurang dari 20 minggu.
1. Pada pemeriksaan fisik keadaan
umum tapak lemah, kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau
menurun, tekanan nadi cepat dan
kecil, suhu badan normal atau
meningkat.
2. Perdarahan pervaginam mungkin
disertai dengan keluarnya jaringan
hasil konsepsi.
3. Rasa mulas atau kram perut di daerah
sympisis, sering nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus
4. Pemeriksaan dalam :
a) Servik masih membuka,
mungkin teraba jaringan sisa
b) Perdarahan mungkin bertambah
setelah pemeriksaan dalam
5. Pembesaran uterus sesuai usia
kehamilan
6. Tes kehamilan mungkin masih positif
akan tetapi kehamilan tidak dapat
dipertahankan (Manuaba, 2010).
d. Patofsiologis
Pada awal abortus terjadi perdarahan
desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis
jaringan sekitar yang menyebabkan hasil
konsepsi terlepas dan dianggap benda
asing dalam uterus. Kemudian uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan benda
asing tersebut (Nugroho, 2010).
Pada kehamilan kurang dari 8
minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi
dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu,
penembusan sudah lebih dalam hingga
plasenta tidak dilepaskan sempurna dan
menimbulkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu
janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada
plasenta hasil konsepsi keluar dalam
bentuk seperti kantong kosong amnion
atau benda kecil yang tidak jelas
bentuknya (blighted ovum),janin lahir
mati, janin masih hidup, mola kruenta,
fetus kompresus, maserasi atau fetus
papiraseus ( Mochtar, 2001).
e. Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada
abortus adalah perdarahan, perforasi,
infeksi dan syok.
1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi
dengan pengosongan uterus dari
sisa-sisa hasil konsepsi dan jika
perlu pemberian tranfusi darah.
Kematian karena perdarahan dapat
terjadi apabila pertolongan tidak
diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan
dapat terjadi terutama pada uterus
dalam posisi hiperrentrofleksi.
3. Infeksi
Pada abortus septic virulensi
bakteri tinggi dan infeksi
menyebar ke miometrium, tuba,
parametrium dan peritoneum.
Apabila infeksi menyebar lebih
jauh, terjadilah peritonitis umum
atau sepsis dan kemungkinan
diikuti oleh syok.
4. Syok
Pada abortus biasanya terjadi
karena perdarahan (syok
hemoragik) dan karena infeksi
berat (Sarwono, 2008).
2.2. Manajemen Asuhan Kebidanan
2.2.1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan
dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang
berfokus pada klien.
Manajemen kebidanan menyangkut pemberian pelayanan yang
utuh dan menyeluruh dari kepada kliennya, yang merupakan suatu
proses manajemen kebidanan yang diselenggarakan untuk
memberikan pelayanan yang berkualitas melalui tahapan-tahapan dan
langkah-langkah yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan
data, memberikan pelayanan yang benar sesuai dengan keputusan
tindakan klinik yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien.
Standar 7 langkah varney.
Proses manajemen kebidanan terdiri dari 7 langkah yang biasa
disebut dengan 7 langkah Varney yang berurutan dimana setiap
langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan
pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh
langkah tersebut membentuk suatu karangan lengkap yang dapat
diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan ketujuh
langkah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Langkah I (Pertama) : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah ini bidan mengumpulkan semua informasi
yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan
dengan kondisi klien, untuk memperoleh data dapat dilakukan
dengan cara:
a. Data Subjektif
Keluhan utama pada pasien dengan abortus
inkomplit adalah perut bagian bawah terasa nyeri dan
keluar darah bergumpal.
Riwayat kesehatan untuk mengkaji riwayat
kesehatan pasien saat ini yang merupakan resiko tinggi
terhadap abortus inkomplit yaitu hipertensi, tifus
abdominalis, pielonefritis, malaria, diabetes mellitus, dan
lain-lain.
b. Data Objektif
Keadaan umum: keadaan umum pada pasien dengan
abortus inkomplit adalah baik, sedang atau cukup
Pemeriksaan fisik:
1. Tanda-tanda vital meliputi : Tekanan darah,
nadi, pernapasan, dan suhu
2. Genetalia: pada pasien abortus inkomplit, pada
pemeriksaan inspekulo terlihat Ostium uteri
Eksternum (OUE) terbuka dan terlihat darah
mengalir.

2. Langkah II (Kedua) : Interprestasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap


masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan
interpretasi yang benar atau data-data yang telah dikumpulkan.
Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik dan apabila
ditemukan masalah dapat segera ditentukan kebutuhan yang
diperlukan berdasarkan masalah. Berdasarkan tanda dan gejala
serta hasil pemeriksaan yang telah dilakukan maka dapat
ditentukan: NyG..P..A..H..usia kehamilanminggu dengan
abortus inkomplit.

Dasar : ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah dan


keluar darah bergumpal dari jalan lahir.

Masalah : masalah pada pasien abortus inkomplit adalah


perasaan cemas karna ada rasa nyeri pada perut bagian bawah
dan perdarahan banyak.

Kebutuhan : Berikan ibu dukungan psikologis dan


penjelasan tentang abortus inkomplit.

3. Langkah III (Ketiga) : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah


Potensial

Pada masalah ini kita mengidentifikasi masalah atau


diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan
diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil
mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila
diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada
langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman.

Pada kasus abortus inkomplit adalah terjadinya perdarahan


terus-menerus yang dapat menyebabkan syok, kekurangan
darah, menyebabkan infeksi dan abortus inkomplit.

4. Langkah IV (Keempat) : Identifikasi Tindakan Segera

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau


dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama
dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi
klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari
proses manajemen kebidanan.

Mengumpulkan dan mengevaluasi data yang menunukkan


situasi yang memerlukan tindakan segera. Meliputi: penanganan
perdarahan, penanganan syok, dilakukan curetage, penanganan
infeksi, pasang infus, beri cairan kistoloid isotonik dengan
kecepatan 30-40 tetes permenit, beri antibiotika.

5. Langkah V ( kelima ) : Merencanakan Asuhan Menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh


ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakan lanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa
yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini
informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya apa yang sudah
diidentifikasikan dari kondisi klien atau dari siapa masalah yang
berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap
wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi
berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan
apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang
berkaitan dengan sosial, ekonomi, kultural atau masalah
psikologis. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah
merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan
rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan
bersama sebelum melaksanakannya.

Asuhan yang direncanakan pada pasien abortus inkomplit


adalah:

1. Jika perdarahan tidak banyak dan kehamilan kurang dari


16 minggu evaluasi dapat dilakukan secara digital atau
dengan cunam ovum.
2. beri ergometrin 0,2 mg Im atau misoprostol 400 Mcg per
oral dan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan IV.

3. observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital

4. catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan

5. beritahu pada pasien dan keluarga bahwa tindakan medis


telah selesai dilakukan tetapi pasien masih memerlukan
perawatan.

6. Langkah VI (Enam) : Melaksanakan Perencanaan

Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh


seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan
secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan
sepenuhnya oleh bidan atau tim kesehatan lainnya. Jika bidan
tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya (misalnya : memastikan agar
langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana).
Pelaksanaan pada pasien abortus inkomplit dilakukan
sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.

7. Langkah VII (Ketujuh) : Evaluasi

Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan


dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan
kebutuhan, apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah
dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika
memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada kemungkinan
bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedangkan
sebagiannya lagi belum efektif (Dian, 2012).

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1.Pengkajian

a. Identitas / Biodata

Ibu
Nama : Ny. N

Umur : 32 Tahun

Suku / Bangsa : Minang/Indonesia

Agama : Islam

Pendidikan : S1 Pendidikan

Pekerjaan : Guru

Alamat :Cerocok Anau, Tarusan

Suami

Nama : Tn. F

Umur : 30 Tahun

Suku / Bangsa : Minang/Indonesia

Agama : Islam

Pendidikan : S1 Informatika

Pekerjaan : PNS
Alamat : Cerocok Anau, Tarusan

b. Keluhan Utama

Ibu mengatakan keluar darah bergumpal dari kemaluannya disertai


nyeri perut sejak dua hari yang lalu, dan pernah keluar bercak darah
dari kemaluannya satu bulan yang lalu.

c. Siklus Menstruasi

Menarche : Umur 14 Tahun

Siklus : 28 Hari

Banyaknya : 3 Kali ganti duk/hari

Lamanya : 7 Hari

Dimenorrhoe : Tidak

d. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu

Tgl Usia Jenis Tempat Komplikasi Bayi Nifas


No Penolong
Lahir Kehamilan Persalinan Persalinan Ibu Bayi PB/BB/JK Keadaan Lochea Laktasi
50cm/
3, 5 Spontan Tidak Tidak 3400
1 Aterm BPS Bidan Baik Normal Lancar
Tahun Pervaginam ada ada gram/
Laki-laki

Kontrasepsi yang pernah digunakan : Suntik 1 bulan, 1 tahun yang lalu:

e. Riwayat Kehamilan Sekarang


f. Hari Peratama Haid Terakhir : 04-11-2014

g. Keluhan-keluhan yang dirasakan ibu

Mual dan muntah terus : Tidak ada


menerus
Nyeri perut : Ada, sejak 6 hari yang lalu
Demam Tinggi : Tidak ada
Sakit kepala berat : Tidak ada
Penglihatan kabur : Tidak ada
Rasa nyeri BAK : Tidak ada
Gatal pada vulva : Tidak ada
Pengeluaran pervagiam : Ada, keluar bercak darah 1 bulan yang lalu, dan
keluar darah yang bergumpal 2 hari yang
lalu.

Nyeri dan kemerahan pada : Tidak ada


tungkai

Bengkak pada wajah, tangan dan kaki : Tidak ada

Obat/ suplemen termasuk : Tidak ada

jamu-jamuan yang dikonsumsi

Imunisasi
TT 1 TT 2 TT 3
Catin Hamil 1, TM 2 Hamil 1, TM 3
Riwayat Kesehatan Ibu

1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Ibu mengeluh keluar darah bergumpal disertai nyeri sejak 2 hari yang lalu.
2. Riwayat penyakit yang pernah diderita ibu

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular


(HIV/AIDS,Hepatitis,TBC),penyakit menurun
(Jantung,Ashma,Dm,Hipertensi)

3. Riwayat Alergi

Jenis makanan : Tidak Ada

Jenis obat-obatan : Tidak Ada

1. Riwayat transfusi darah : Tidak Ada


2. Riwayat operasi dinding rahim : Tidak Ada

3. Riwayat pernah mengalami kelainan jiwa : Tidak Ada

Riwayat Psikososial

Ibu mengatakan kehamilan ini adalah kehamilan yang di rencanakan,di


dukung oleh suami dan keluarga dan hubungan antara suami,keluarga dan
masyarakat sekitar baik

Riwayat Perkawinan

Menikah Umur : 25 Tahun

Setelah menikah berapa : 2,5 tahun

Kebiasaan Hidup Sehari-hari

Personal Hygiene

Mandi : 2x sehari

Sikat gigi : 2x sehari


Keramas : 1 kali dalam dua hari

Ganti pakaian : Setiap kali basah dalam

Pola Makan dan Minum

Sebelum Hamil

Pagi : 1 piring sedang pical + air putih

Siang : 1 piring sedang nasi + lauk + 2 sdk makan

sayur + air putih

Malam : 1 piring sedang nasi + lauk + air putih

Saat Hamil Sekarang

Pagi : 1 piring nasi + lauk + air putih

Siang : 1 piring sedang nasi + lauk + 2 sdk makan,sayur + air putih

Malam : 1 piring sedang nasi + lauk + air putih

Masalah atau gangguan pencernaan : Tidak Ada

Perubahan pola makan yang dialami :Ada,(ibu mengidam makanan yang


asam)

Pola Eliminasi

BAK BAB

Frek : 4-5 kali sehari Frek : 1-2 kali sehari

Warna : Kuning Jernih Warna : Kuning emas

Keluhan : Tidak ada Konsistensi : Lunak


Keluhan : Tidak ada

Pola Istirahat

Istirahat Siang : Jarang

Istirahat Malam : 6-8 Jam

Aktivitas Sehari-hari

Beban Kerja : Pekerjaan rumah tangga

Olah raga : Jarang

Kegiatan Spiritual : Sholat 5 waktu, kadang-kadang mengaji

1. Hubungan Seksual : Tidak Ada Keluhan


2. Kebiasaan yang merugikan kesehatan

Kebiasaan merokok, minuman : Tidak Ada

keras, konsumsi obat-obatan terlarang

Budaya yang merugaikan kesehatan : Tidak Ada

Persiapan untuk kegawatdaruratan

Pengambil keputusan yang berhubungan : Suami dengan kesehatan ibu

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Umum

Kesadaran : Composmentis

TD : 110/60 mmHg BB sebelum : 55 kg

Nadi : 85x/menit hamil


Suhu : 36,90C BB sekarang : 55 kg

Pernafasan : 24x/menit TB : 159 cm

Pemeriksaan Khusus

1. Inspeksi

Kepala : Bersih tidak berketombe, rambut hitam

Mata : Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik

Muka : Tidak oedema

Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid atau


kelenjar limfe

Payudara : Simetris Ki/Ka, areola mammae hiperpigmentasi,


papilla mammae menonjol

Abdomen : Tidak ada bekas luka operasi

Genetalia : Terlihat darah yang bergumpal keluar dari vagina,


pada pemeriksaan inspekulo terlihat OUE terbuka

Ekstremitas : Tidak ada oedema

1. Pemeriksaan Penunjang

USG :terlihat sisa-sisa plasenta tidak utuh lagi,. Dan terlihat Kantong
kehamilan tidak utuh lagi, terlihat sisa-sisa jaringan dalam cavum uteri.
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NY. N G2P1A0H1 USIA KEHAMILAN 11-12
MINGGU DENGAN ABORTUS INKOMPLIT DI RUMAH SAKIT BERSALIN PERMATA HATI PAINAN

PADA TANGGAL 26 27 JANUARI 2017

Data Dasar Interpretasi Diagnosa/Masal


Tindakan Intervensi Implementasi Evaluasi
Data ah Potensial

Segera
Tanggal :26 Diagnosis Abortus sepsis. Currettage Pukul : 18.00 WIB 1. Ibu mengerti
Januari 2015 dengan informasi yang
Ibu G2P1A0H1 1. Informasikan 1. Menginformasika
diberikan.
Pukul : 16.00 Usia Kehamilan hasil n hasil pemeriksaan
WIB 11-12 minggu pemeriksaan. bahwa saat ini ibu
dengan Abortus telah mengalami
Data subjektif Inkomplit, keguguran.
keadaan umum
Ibu mengatakan: 2. Informasikan 2. Menginformasika 2. Pasien mengerti dengan
ibu sedang.
penyebab sakit n pada ibu yang disampaikan
Satu bulan
Dasar keluhan yang penyebab keluhan
yang lalu Keluar
dialami. yang dialami karena
bercak darah dari 1. ibu
hasil konsepsi yang
kemaluan ibu, mengatakan ini
sudah keluar dari
dan keluar darah kehamilan ke
rahim ibu sehingga
bergumpal duanya.
tempat penanaman
disertai nyeri
hasil konsepsi juga
2. ibu
perut sejak 2 hari
ikut luruh dan
mengatakan
yang lalu.
menimbulkan nyeri
HPHTnya
yang hebat.
tanggal 04
Menstruasi November 2014.
3. Dokter spesialis 3. Dokter siap untuk
3. Kolaborasi
terakhir ibu
mengistruksikan melakukan tindakan currettage.
3. ibu dengan dokter
tanggal 04
untuk melakukan
november 2014 mengatakan spesialis tindakan currettage.
perutnya terasa kandungan untuk
Data objektif 4. Memberitahu 4. Ibu mengerti dengan
mules, keluar melakukan
ibu bahwa akan penjelasan yang diberikan.
darah bercak tindakan.
Keadaan
dilakukan tindakan
satu bulan yang
umum :
4. Beritahu ibu untuk
lalu, dan keluar
Composmentis
bahwa akan mengeluarkan hasil
bongkahan darah
dilakukan konsepsi yang
TTV dua hari yang
tindakan masih tersisa
lalu.
TD : currettage.
5. Memberikan 5. Keluarga sudah
110/60 mmHg 4. Pada saat
5. Berikan surat persetujuan menandatangani surat
melakukan
S : 36, surat persetujuan (informed consent) persetujua
pemeriksaan
9C (informed kepada keluarga
genetalia terlihat
consent) kepada pasien untuk
keluar
P : 24
keluarga pasien menyetujui
bongkahan darah
x/menit
untuk tindakan yang
dari kemaluan
menyetujui
N : 85 ibu. tindakan yang dilakukan.
x/imenit dilakukan.
5. Hasil USG 6. menyiapkan
BB : 55 kg terlihat sisa-sisa 6. Siapkan alat serta
6. peralatan sudah disiapkan.
plasenta tidak alat untuk perlengkapan
TB : 159
utuh lagi, tindakan currettage :
cm
Kantong currettage.
a. Set kuret
kehamilan tidak
Pemeriksaan
utuh lagi, sisa-
fisik b. Set infuse
sisa jaringan
Inspeksi : dalam cavum c. Underpad
uteri.
Tampak d. Kapas cebok
pengeluaran
e. Com betadin
darah bergumpal
Masalah :
saat dilakukan
f. Kapas alcohol
pemeriksaan
Ibu merasa
g. Obat-obatan
genetalia cemas dengan essensial, yaitu
perdarahan yang oksitosin,
Pada
dialaminya ergometrin,ketorola
pemeriksaan
c, Kentamin,
inspekulo dan adanya rasa
Atropin
terlihat OUE
nyeri pada perut
terbuka. h. Oksigen
bagian bawah.
Plano Test i. Spuit
1. Kebutuhan
( + ) Positif 7. Siapkan ibu
Memberi 7. Menyiapkan ibu
untuk tindakan
Pemeriksaan dorongan moral untuk dilakukan 7. ibu sudah disiapkan, infus
currettage.
penunjang kepada ibu. tindakan currettage sudah terpasang. Dan teraphy
yaitu: sudah diinjeksikan
USG : 2. Memberi
informasi a. Pasang infuse
Terlihat
tentang keadaan RL.
gumpalan darah.
ibu.
b. Injeksikan 2
Ampul Atropin, dan
Ketorolac 6 cc.

c. Pasang
oksigen 4 Liter

d. Injeksikan
Kentamin o,1 cc.

8. Berkolaborasi
8. Kolaborasi
dengan Dokter
dengan Dokter
Spesialis 8.currettage telah dilakukan
Spesialis
Kandungan (SpOG) mulai jam 18.10 18.30 WIB,
Kandungan
dalam melakukan oksitosin telah diinjeksikan 10
(SpOG)
tindakan currettage. IU.

9. Pantau keadaan
ibu, dan perdarahan
9. Pantau
keadaan ibu, dan
selama 2 jam.
perdarahan..
9. Perdarahan 20 cc, keadaan
10. Memindahkan
10. pindahkan ibu baik.
ibu ke ruang rawat.
ibu keruang
rawat.
11. memberitahu
keluarga, ibu boleh
11. Me ritahu
pulang 6 jam post
keluarga, ibu
10. ibu sudah dipindahkan
kuret atau tunggu
boleh pulang 6
keruang rawat.
keadaan ibu stabil.
jam post kuret
atau tunggu 11. keluarga terlihat mengerti
keadaan ibu dan paham.
stabil.

CATATAN PERKEMBANGAN 1
Diagnose /
Data Dasar Masalah Tindakan Intervensi Implementasi Evaluasi
Interpretasi Data
Potensial
Segera
Tanggal : 27 Januari Tidak ada Tidak ada 1. Informasikan 1. 1. Ibu
2015 hasil pemeriksaan. Menginformasikan mengerti dengan
hasil pemeriksaan yang dijelaskan.
Pukul : 08.00 WIB 2. Siapkan ibu
bahwa saat ini keadaan
untuk pulang. 2. Ibu
ibu sudah baik.
Data subjektif
diperbolehkan
3. Kolaborasi
2. Mempersiapkan pulang setelah
Ibu mengatakan:
dengan doketer
ibu untuk pulang. okter melakukan
untuk pemberian
Post currettage visite pada pukul
Diagnosis terapy. 3. Memberikan ibu
hari kedua 10.00 WIB.
terapi oral berupa
Ibu P1A1H1 post
Tidak ada ceftriaxone, asam 3. Terapi
currettage hari
keluhan mefenamat dan telah diberikan
kedua, keadaan
yaitu:
Pengeluaran
darah dari vagina umum ibu baik. Ceftriaxone
tidak terlalu banyak XX/21
Dasar
Data objektif Asam
Ibu mengatakan :
mefenamat
Keadaan umum :
XV/31
Post
Composmentis
Currettagetase hari
TTV pertama

TD : 110/70 Tidak ada


mmHg keluhan

S : 36, 5C Pengeluaran
darah dari vagina
P : 22 x/menit
tidak terlalu banyak

N : 78 x/imenit
Pemeriksaan fisik
BB : 55 kg

TB : 159 cm
Inspeksi :
Pemeriksaan fisik
Tampak pengeluaran
Inspeksi : darah pervaginam 10
cc
Tampak pengeluaran
darah pervaginam 10
cc
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Target Millenium Development Goals (MDGs) 5 yaitu


menurunkan Angka kematian ibu menjadi 102/100.000 pada tahun
2015 masih memerlukan upaya khusus dan kerja keras dari seluruh
pihak baik pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat. Angka
Kematian Ibu (AKI) yang tinggi menunjukkan rawannya derajat
kesehatan ibu. Angka kematian ibu menjadi salah satu indikator
penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Angka
kematian ibu menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari
suatu penyabab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau
penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil)
selama kehamilan, melahirkan, dan dalam masa nifas tanpa
memperhitungkan lama kehamilam per 100.000 kelahiran hidup
(Riskesdas,2013). Sedangkan menurut Manuaba (2012) proses
kehamilan merupakan mata rantai yang bersinambung dan terdiri
dari: ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan
pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan
plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.
DAFTAR PUSTAKA

Maryunani, Anik, Eka Puspita, 2013, Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan


Neonatal, Jakarta: TIM.
Maryunani, Anik,2016, Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan,Jakarta :
TIM.
Saifuddin, Abdul Bari, 2014, Ilmu Kebidanan, Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sofian, Amru, 2015, Rustam Mochtar sinopsis obstetri: obstetri fisiologi, obstetri
patologi, Jakarta: EGC.