Vous êtes sur la page 1sur 7

Sabtu, November 06, 2010

ASKEP TUMOR TESTISDEFINISIKanker Testis adalah pertumbuhan sel-sel ganas di dalam testis
(buah zakar), yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam
skrotum (kantung zakar).Kanker testikuler, yang menempati peringkat pertama dalam kematian
akibat kanker diantara pria dalam kelompok umur 20 sampai 35 tahun, adalah kanker yang paling
umum pada pria yang berusia 15 tahun hingga 35 tahun dan merupakan malignansi yang paling
umum kedua pada kelompok usia 35 tahun hingga 39 tahun.Kanker yang demikian diklasifikasikan
sebagai germinal atau nongerminal. Tumor germinal timbul dari sel-sel germinal testis (seminoma,
terakokarsinoma, dan karsinoma embrional); tumor germinal timbul dari epithelium.Klasifikasi
patologik tumor testis menurut WHO:Tumor sel bening: Tumor dengan satu pola
histologik: Seminoma Seminoma spermatositikKarsinoma embrionalYolk sac tumor (Karsinoma
embrional tipe infantile)Teratoma: MaturImaturDengan transformasi malignaTumor dengan lebih
dari satu pola histoligik: Karsinoma embrional plus teratoma (teratokarsinoma)Kariokarsinoma dan
tipe lain apapun (perinci tipe-tipenya)Kombinasi lain (perinci)Tumor stromal-Tali kelamin: Bentuk
berdiferensiasi baik: Tumor sel leydigTumor sel sertoliTumor sel granulosaBentuk campuran
(perinci)Bentuk berdiferensiasi tidak lengkap Sebagian besar neoplasma adalah germinal, dengan
sekitar 40% adalah seminoma. Seminoma cenderung untuk tetap setempat, sementara tumor
nonseminomas tumbuh cepat. Penyebab tumor testikuler tidak diketahui, tetapi kriptokhidisme,
infeksi, dan faktor-faktor genetic dan endokrin tampak berperan dalam terjadinya tumor
tersebut. Risiko kanker testikuler adalah 35 kali lebih tinggi pada pria dengan segala tipe testis yang
tidak turun ke dalam skrotum dibanding dengan populasi umum. Tumor testis biasanya malignan
dan cenderung untuk bermetastasis lebih dini, menyebar dari testis ke dalam nodus limfe dalam
retroperineum dan ke paru-paru. PATOFISIOLOGITumor testis pada mulanya berupa lesi
intratestikuler yang akhinya mengenai seluruh parenkim testis. Sel-sel tumor kemudian menyebar
ke rate testis, epididimis, funikulus spermatikus, atau bahkan ke kulit scrotum. Tunika albugenia
merupakan barrier yang sangat kuat bagi penjalaran tumor testis ke organ sekitarnya, sehingga
kerusakan tunika albugenia oleh invasi tumor membuka peluang sel-sel tumor untuk menyebar
keluar testisKecuali kariokarsinoma, tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe menuju ke
kelenjar limfe retroperitoneal (para aorta) sebagai stasiun pertama, kemudian menuju ke kelenjar
mediastinal dan supraclavikula, sedangkan kariokarsinoma menyebar secara hematogen ke paru,
hepar, dan otak. PENYEBABKebanyakan kanker testis terjadi pada usia di bawah 40 tahun.
Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang menunjang terjadinya
kanker testis:Testis undesensus (testis yang tidak turun ke dalam skrotum)Perkembangan testis yang
abnormalSindroma Klinefelter (suatu kelainan kromosom seksual yang ditandai dengan rendahnya
kadar hormon pria, kemandulan, pembesaran payudara (ginekomastia) dan testis yang kecil).Faktor
lainnya yang kemungkinan menjadi penyebab dari kanker testis tetapi masih dalam taraf penelitian
adalah pemaparan bahan kimia tertentu dan infeksi oleh HIV. Jika di dalam keluarga ada riwayat
kanker testis, maka resikonya akan meningkat. 1% dari semua kanker pada pria merupakan kanker
testis. Kanker testis merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada pria berusia 15-40 tahun.
Kanker testis dikelompokkan menjadi:Seminoma : 30-40% dari semua jenis tumor testis. Biasanya
ditemukan pada pria berusia 30-40 tahun dan terbatas pada testis.Non-seminoma: merupakan 60%
dari semua jenis tumor testis. Dibagi menjadi subkategori:Karsinoma embrional: sekitar 20% dari
kanker testis, terjadi pada usia 20-30 tahun dan sangat ganas. Pertumbuhannya sangat cepat dan
menyebar ke paru-paru dan hati.Tumor yolk sac: sekitar 60% dari semua jenis kanker testis pada
anak laki-laki.Teratoma: sekitar 7% dari kanker testis pada pria dewasa dan 40% pada anak laki-
laki. - Koriokarsinoma.Tumor sel stroma: tumor yang terdiri dari sel-sel Leydig, sel sertoli dan sel
granulosa. Tumor ini merupakan 3-4% dari seluruh jenis tumor testis. Tumor bisa menghasilkan
hormon estradiol, yang bisa menyebabkan salah satu gejala kanker testis, yaitu
ginekomastia. MANIFESTASI KLINISGejala berupa :Testis membesar atau teraba aneh (tidak
seperti biasanya)Benjolan atau pembengkakan pada salah satu atau kedua testisNyeri tumpul di
punggung atau perut bagian bawah - GinekomastiaRasa tidak nyaman/rasa nyeri di testis atau
skrotum terasa berat.Tetapi mungkin juga tidak ditemukan gejala sama sekali. Gejala timbul dengan
sangat bertahap dengan massa atau benjolan pada testis yang tidak nyeri. Pasien dapat mengeluh
rasa sesak pada skrotum, area inguinal, atau abdomen dalam. Sakit pinggang (akibat perluasan
nodus retroperineal), nyeri pada abdomen, penurunan berat badan, dan kelemahan umum dapat
diakibatkan oleh metastasis. Pembesaran testis tanpa nyeri adalah temuan diagnostik yang
signifikan.Satu-satunya metode deteksi dini yang efektif adalah pemeriksaan testis mandiri. Suatu
bagian penting dari promosi kesehatan untuk pria harus mencakup pameriksaan mandiri. Pengajaran
tentang pemeriksaan mandiri adalah intervensi penting untuk deteksi dini penyakit ini. EVALUASI
DIAGNOSTIKDiagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
lainnya yang biasa dilakukan:USG skrotumPemeriksaan darah untuk petanda tumor AFP (alfa
fetoprotein), HCG (human chorionic gonadotrophin) dan LDH (lactic dehydrogenase).Hampir 85%
kanker non-seminoma menunjukkan peningkatan kadar AFP atau beta HCG.Rontgen dada (untuk
mengetahui penyebaran kanker ke paru-paru)CT scan perut (untuk mengetahui penyebaran kanker
ke organ perut)Biopsi jaringan.Human chorionic gonadotropin dan a-fetoprotein adalah penanda
tumor yang mungkin meningkat pada pasien kanker testis. (Penanda tumor adalah substansi yang
disintesis oleh sel-sel tumor dan dilepaskan ke dalam sirkulasi dalam jumlah yang
abnormal). Tehnik imunositokimia yang terbaru dapat membantu mengidentifikasi sel-sel yang
tampaknya menghasilkan penanda ini. Kadar penanda tumor dalam darah digunakan untuk
mendiagnosis, menggolongkan, dan memantau respon terhadap pengobatan. Uji diagnostic lainnya
mencakup urografi intravena untuk mendeteksi segala bentuk penyimpangan uretral yang
disebabkan oleh massa tumor; limfangiografi untuk mengkaji keluasan penyebaran tumor ke sistem
limfatik; dan pemindai CT dada dan abdomen untuk menentukan keluasan penyakit dalam paru-
paru dan retroperineum. PENATALAKSANAANPengobatan tergantung kepada jenis, stadium dan
beratnya penyakit. Setelah kanker ditemukan, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan
jenis sel kankernya, selanjutnya ditentukan stadiumnya:Stadium I: kanker belum menyebar ke luar
testisStadium II: kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di perutStadium III: kanker telah
menyebar ke luar kelenjar getah bening, bisa sampai ke hati atau paru-paru.Ada 4 macam
pengobatan yang bisa digunakan:Pembedahan: pengangkatan testis (orkiektomi) dan pengangkatan
kelenjar getah bening (limfadenektomi).Terapi penyinaran: menggunakan sinar X dosis tinggi atau
sinar energi tinggi lainnya, seringkali dilakukan setelah limfadenektomi pada tumor non-
seminoma.Juga digunakan sebagai pengobatan utama pada seminoma, terutama pada stadium
awal.Kemoterapi: digunakan obat-obatan (misalnya cisplastin, bleomycin dan etoposid) untuk
membunuh sel-sel kanker.Kemoterapi telah meningkatkan angka harapan hidup penderita tumor
non-seminoma.Pencangkokan sumsum tulang: dilakukan jika kemoterapi telah menyebabkan
kerusakan pada sumsum tulang penderita.Tumor seminomaStadium I diobati dengan orkiektomi
dan penyinaran kelenjar getah bening perutStadium II diobati dengan orkiektomi, penyinaran
kelenjar getah bening dan kemoterapi dengan sisplastinStadium III diobati dengan orkiektomi dan
kemoterapi multi-obat.Tumor non-seminoma:Stadium I diobati dengan orkiektomi dan
kemungkinan dilakukan limfadenektomi perutStadium II diobati dengan orkiektomi dan
limfadenektomi perut, kemungkinan diikuti dengan kemoterapiStadium III diobati dengan
kemoterapi dan orkiektomi.Jika kankernya merupakan kekambuhan dari kanker testis sebelumnya,
diberikan kemoterapi beberapa obat (ifosfamide, cisplastin dan etoposid atau vinblastin).Kanker
testikuler adalah salah satu tumor padat yang dapat disembuhkan. Tujuan penatalaksanaan adalah
untuk menyingkirkan penyakit dan mencapai penyembuhan. Pemilihan pengobatan tergantung pada
tipe sel dan keluasan anatomi penyakit. Testis diangkat dengan orkhioektomi melalui suatu insisi
inguinal dengan ligasi tinggi korda spermatikus.Prosthesis yang terisi dengan jel dapat ditanamkan
untuk mengisi testis yang hilang. setelah orkhioektomi unilateral untuk kanker testis, sebagian besar
pasien tidak mengalami fungsi endokrin. Namun demikian, pasien lainnya mengalami penurunan
kadar hormonal, yang menandakan bahwa testis yang sehat tidak berfungsi pada tingkat yang
normal. Diseksi nodus limfe retroperineal (RPLND) untuk mencegah penyebaran kanker melalui
jalur limfatik mungkin dilakukan setelah orkhioektomi.Meskipun libido dan orgasme normal tidak
mengalami gangguan setelah RPLND, pasien mungkin dapat mengalami disfungsi ejakulasi dengan
akibat infertilitas. Menyimpan sperma di bank sperma sebelum operasi mungkin menjadi
pertimbangan.Iradiasi nodus limfe pascaoperasi dari diagfragma sampai region iliaka digunakan
untuk mengatasi seminoma dan hanya diberikan pada tempat tumor saja. Testis lainnya dilindungi
dari radiasi untuk menyelamatkan fertilitas. Radiasi juga digunakan untuk pasien yang tidak
menunjukkan respon terhadap kemoterapi atau bagi mereka yang tidak direkomendasikan untuk
dilakukan pembedahan nodus limfe.Karsinoma testis sangat responsive terhadap terapi medikasi.
Kemoterapi multiple dengan sisplantin dan preparat lainnya seperti vinblastin, bleomisin,
daktinomisin, dan siklofosfamid memberikan persentase remisi yang tinggi. Hasil yang baik dapat
dicapai dengan mengkombinasi tipe pengobatan yang berbeda, termasuk pembedahan, terapi
radiasi, dan kemoterapi. Bahkan kanker testikuler diseminata sekalipun, prognosisnya masih baik,
dan penyakit kemungkinan dapat disembuhkan karena kemajuan dalam diagnosis dan
pengobatan. INTERVENSI KEPERAWATAN/PENDIDIKAN PASIENKarena pasien mungkin
mengalami kesulitan dalam menerima kondisi ini, isu-isu yang berhubungan dengan citra tubuh dan
seksualitas harus diungkapkan. Pasien memerlukan dorongan untuk mempertahankan sikap yang
positif selama perjalanan terapi. Pasien juga harus mengetahui bahwa terapi radiasi tidak harus
selalu menghambat pasien untuk menjadi seorang ayah, dan eksisi tumor unilateral tidak harus
menurunkan virilitas.Pasien dengan riwayat satu tumor testikuler mempunyai peluang yang lebih
besar untuk mengalami tumor berikutnya. Pemeriksaan tindak lanjut mencakup rontgen, urografi
ekskretori, radioimmunoassay untuk human chorionic gonadotropins dan kadar a-fetoprotein, serta
pemeriksaan nodus limfe untuk mendeteksi malignansi kambuhan. ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN TUMOR TESTISKanker adalah istilah umum yang digunakan untuk
menggambarkan gangguan pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan
penyakit tunggal. Saat ini ada lebih dari 120 perbedaan tipe pengetahuan tentang kanker. Karena
kanker adalah penyakit seluler, ini dapat timbul dari jaringan mana saja. Dengan manifestasi yang
mengakibatkan kegagalan untuk mengontrol proliferasi dan maturasi sel.Selama bertahun-tahun
observasi dan dokumentasi, telah ditemukan bahwa perilaku metastatik dari kanker bervariasi sesuai
dengan sisi primer diagnosis. Pola perilaku ini diketahui sebagai "riwayat alamiah". Pengetahuan
tentang etiologi dan riwayat alamiah dari tipe kanker adalah penting pada perencanaan keperawatan
pasien dan pada evaluasi kemajuan, prognosis, dan keluhan fisik pasien. DATA DASAR
PENGKAJIAN PASIENAktivitas/istirahatGejala: Kelemahan dan/atau keletihan. Perubahan pada
pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi
tidur, misalnya nyeri, ansietas, berkeringat malam.Keterbatasan partisipasi dalam hobby,
latihan.Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stress
tinggi.SirkulasiGejala: Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja.Kebiasaan: Perubahan pada
tekanan darah.Integritas egoGejala: Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara
mengatasi stress (misalnya merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan
religious/spiritual).Masalah tentang perubahan dalam penampilan, misalnya alopesia, lesi cacat,
pembedahan.Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
bermakna, rasa bersalah, kehilangan control, depresi.Tanda: Menyangkal, menarik diri,
marah.EliminasiGejala: Perubahan pada pola defekasi, misalnya darah pada feses, nyeri pada
defekasi.Perubahan eliminasi urinarius, misalnya nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih,
hematuri, sering berkemih.Tanda: Perubahan pada bising usus, distensi
abdomen.Makanan/cairanGejala: Kebiasaan diet buruk (misalnya rendah serat, tinggi lemak,
adiktif, bahan pengawet).Anoreksia, mual/muntah.Intoleransi makanan.Perubahan pada berat
badan; penurunan berat badan, kakeksia, berkurangnya massa otot.Tanda: Perubahan pada
kelembaban/turgor kulit; edema.NeurosensoriGejala: Pusing; sinkope.Nyeri/kenyamananGejala:
Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi, misalnya ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat
(dihubungkan dengan proses penyakit).PernapasanGejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup
dengan seseorang yang merokok)Pemajanan asbesKeamananGajala: Pemajanan pada kimia toksik,
karsinogen.Pemajanan matahari lama/berlebihan.Tanda: Demam. Ruam kulit,
ulserasi.SeksualitasGejala: Masalah seksualitas, misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada
tingkat kepuasan.Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun.Multigravida, pasangan seks multiple,
aktivitas seksual dini. Herpes genital.Interaksi sosialGejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem
pendukung.Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau
bantuan).Masalah rentang fungsi/tanggung jawab peran.Penyuluhan/pembelajaranGejala: Riwayat
kanker pada keluarga, misalnya ibu atau bibi dengan kanker payudara.Sisi primer: penyakit primer
dalam rumah tangga ditemukan/didiagnosis.Penyakit metastatik: sisi tambahan yang terlibat; bila
tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan memberikan informasi penting untuk mencari
metastatik. Pemeriksaan diagnostikTes, seleksi tergantung riwayat, manifestasi klinis, dan indeks
kecurigaan untuk kanker tertentu.Scan (misalnya MRI, CT, gallium) dan ultrasound: dilakukan
untuk tujuan diagnostic, identifikasi metastatik, dan evaluasi respon pada pengobatan.Biopsy
(aspirasi, eksisi, jarum, melubangi): dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan
pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum tulang, kulit, organ, dan sebagainya.Penanda
tumor (zat yang dihasilkan dan disekresi oleh sel tumor dan ditemukan dalam serum, misalnya
CEA, antigen spesifik prostat, a-fetoprotein, HCG, asam fosfat prostat, kalsitonin, antigen onkofetal
pancreas, CA 15-3, CA 19-9, CA 125 dan sebagainya): dapat membantu dalam mendiagnosis
kanker tetapi lebih bermanfaat sebagai prognostic dan/atau monitor terapeutik.Tes kimia skrining,
misalnya elektrolit (natrium, kalium, kalsium); tes ginjal (BUN/Cr); tes hepar (bilirubin,
AST/SGOT alkalin fosfat, LDH); tes tulang (alkalin fosfat, kalsium)JDL dengan diferensial dan
trombosit: dapat menunjukan anemia, perubahan SDM dan SDP; trombosit berkurang atau
meningkat.Sinar x dada: menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.Prioritas
keperawatanDukungan adaptasi dan kemandirian.Meningkatkan kenyamanan.Memeprtahankan
fungsi fisiologis optimal.Mencegah komplikasi.Memberikan informasi tentang proses/kondisi
penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan. Tujuan pemulanganPasien menerima situasi denga
realistis.Nyeri hilang/terkontrol.Homeostatis dicapai.Komplikasi dicegah/dikurangi.Proses/kondisi
penyakit, prognosis, pilihan terapeutik dan aturan dipahami. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN
INTERVENSICemas/takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio
ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan
keluarga. Tujuan:Klien dapat mengurangi rasa cemasnyaRileks dan dapat melihat dirinya secara
obyektif.Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.Intervensi
Keperawatan:Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.Berikan
informasi tentang prognosis secara akurat.Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa
marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.Jelaskan
pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.Catat
koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan.Anjurkan untuk
mengembangkan interaksi dengan support system.Berikan lingkungan yang tenang dan
nyaman.Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.Rasional:Data-data
mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan
menghindari adanya duplikasi.Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses
penyakitnya.Dapat menurunkan kecemasan klien.Membantu klien dalam memahami kebutuhan
untuk pengobatan dan efek sampingnya.Mengetahui dan menggali pola koping klien serta
mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi
kecemasan.Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.Memberikan
kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.Klien mendapatkan kepercayaan diri dan
keyakinan bahwa dia benar-benar di tolong.Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit
(penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf,
inflamasi), efek samping terapi kanker. Tujuan:Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui
aktivitasMelaporkan nyeri yang dialaminyaMengikuti program pengobatanMendemontrasikan
tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkinintervensi
Keperawatan:Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitasEvaluasi therapi: pembedahan,
radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinyaBerikan
pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton
TVMenganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan
berikan sentuhan therapeutik.Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.Kolaboratif:Disusikan
penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien.Berikan analgetik sesuai indikasi seperti
morfin, methadone, narcotik dllRasional:Memberikan informasi yang diperlukan untuk
merencanakan asuhan.Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah
menyebabkan komplikasi.Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien
dari rasa nyeri.Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan
ansietas.Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien
mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.Agar
terapi yang diberikan tepat sasaran.Untuk mengatasi nyeri.Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan
tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekuensi
kemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea),
emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri. Tujuan:Klien menunjukkan berat
badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisiMenyatakan pengertiannya
terhadap perlunya intake yang adekuatBerpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan
dengan penyakitnyaIntervensi Keperawatan:Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien
makan sesuai dengan kebutuhannya.Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati
penurunan berat badan.Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar
parotis.Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang
adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau
bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.Ciptakan suasana makan yang
menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi,
latihan moderate sebelum makan.Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang
dialami klien.Kolaboratif:Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan
albuminBerikan pengobatan sesuai indikasiPhenotiazine, antidopaminergik, corticosteroids, vitamin
khususnya A, D, E dan B6, antacidaPasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara
enteral, imbangi dengan infus.Rasional:Memberikan informasi tentang status gizi
klien.Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.Menunjukkan
keadaan gizi klien sangat buruk.Kalori merupakan sumber energi.Mencegah mual muntah, distensi
berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus
berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.Agar klien merasa seperti berada dirumah
sendiri.Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan.Agar dapat diatasi
secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).Untuk mengetahui/menegakkan
terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap
klien.Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping, meningkatkan status kesehatan
klien.Mempermudah intake makanan/minuman dengan hasil yang maksimal dan sesuai
kebutuhan.Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatanberhubungan
dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif. Tujuan:Klien dapat mengatakan
secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada tingkatan siap.Mengikuti prosedur dengan
baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut.Mempunyai inisiatif dalam
perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengobatan.Bekerjasama dengan pemberi
informasi.Intervensi Keperawatan:Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa,
pengobatan dan akibatnya.Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan
pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker.Beri informasi yang akurat dan
faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.Berikan
bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama,
komplikasi. Jujurlah pada klien.Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan
mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.Review klien /keluarga tentang pentingnya status
nutrisi yang optimal.Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin,
perhatikan adanya eritema, ulcerasi.Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan
rambut.Rasional:Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan
klien.Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta
kesalahan pengertian.Membantu klien dalam memahami proses penyakit.Membantu klien dan
keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien
dan keluarga mengenai penyakit klien.Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai
nutrisi yang adekuat.Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi
serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan
minuman.Meningkatkan integritas kulit dan kepala.Resiko tinggi kerusakan membran mukosa
mulut berhubungan dengan efek samping kemoterapi dan radiasi/radiotherapi. Tujuan:Membran
mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasiKlien mengungkapkan
faktor penyebab secara verbal.Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga
kebersihan rongga mulut.Intervensi Keperawatan:Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat
pertemuan dengan klien dan secara periodik.Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa
membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah.Diskusikan
dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygiene.Intruksikan perubahan pola diet misalnya
hindari makanan panas, pedas, asam, makanan keras.Amati dan jelaskan pada klien tentang tanda
superinfeksi oral.Kolaboratif:Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapiBerikan obat
sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine, antimikrobial mouthwash preparation.Kultur lesi
oral.Rasional:Mengkaji perkembangan proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi memberikan
informasi penting untuk mengembangkan rencana keperawatan.Masalah dengan kesehatan mulut
dapat mempengaruhi pemasukan makanan dan minuman.Mencari alternatif lain mengenai
pemeliharaan mulut dan gigi.Mencegah rasa tidak nyaman dan iritasi lanjut pada membran
mukosa.Agar klien mengetahui dan segera memberitahu bila ada tanda-tanda
tersebut.Meningkatkan kebersihan dan kesehatan gigi dan gusi.Tindakan/terapi yang dapat
menghilangkan nyeri, menangani infeksi dalam rongga mulut/infeksi sistemik.Untuk mengetahui
jenis kuman sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat.Resiko tinggi kurangnya volume
cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya
intake. Tujuan:Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran
mukosa normal, turgor kulit bagus, capilary refill normal, urine output normal.Intervensi
Keperawatan:Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare,
drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.Timbang berat badan jika diperlukan.Monitor
vital sign. Evaluasi pulse peripheral, capilary refill.Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa.
Catat keadaan kehausan pada klien.Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai
kebutuhan individu.Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa,
luka bedah, adanya ekimosis dan petekie.Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka
bedah.Kolaboratif:Berikan cairan IV bila diperlukan.Berikan therapy antiemetik.Monitor hasil
laboratorium: Hb, elektrolit, albumin.Rasional:Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat
menyebabkan hipovolemia.Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada
ketidakseimbangan cairan.Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi,
hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.Dengan mengetahui
tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia.Memenuhi kebutuhan cairan yang
kurang.Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.Mencegah terjadinya
perdarahan.Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.Mencegah/menghilangkan mual
muntah.Mengetahui perubahan yang terjadi.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi,
prosedur invasif. Tujuan:Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan
pencegahan infeksi.Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung
normal.Intervensi Keperawatan:Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Batasi
pengunjung.Jaga personal hygine klien dengan baik.Monitor temperatur.Kaji semua sistem untuk
melihat tanda-tanda infeksi.Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik
prosedur.Kolaboratif:Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets.Berikan antibiotik bila
diindikasikan.Rasional:Mencegah terjadinya infeksi silang.Menurunkan/mengurangi adanya
organisme hidup.Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi.Mencegah/mengurangi
terjadinya resiko infeksi.Mencegah terjadinya infeksi.Segera dapat diketahui apabila terjadi
infeksi.Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme
penyebab infeksi.Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan defisit
pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan
fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan. Tujuan:Klien dapat mengungkapkan pengertiannya
terhadap efek kanker dan terapi terhadap seksualitasMempertahankan aktivitas seksual dalam batas
kemampuanIntervensi:Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang proses seksualitas dan reaksi
serta hubungannya dengan penyakitnya.Berikan advis tentang akibat pengobatan terhadap
seksualitasnya.Berikan privacy kepada klien dan pasangannya. Ketuk pintu sebelum
masuk.Rasional:Meningkatkan ekspresi seksual dan meningkatkan komunikasi terbuka antara klien
dengan pasangannya.Membantu klien dalam mengatasi masalah seksual yang
dihadapinya.Memberikan kesempatan bagi klien dan pasangannya untuk mengekspresikan perasaan
dan keinginan secara wajar.Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek
radiasi dan kemotherapi, defisit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. Tujuan:Klien
dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifikBerpartisipasi dalam
pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhanIntervensi Keperawatan:Kaji integritas kulit
untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.Anjurkan klien untuk
tidak menggaruk bagian yang gatal.Ubah posisi klien secara teratur.Berikan advise pada klien untuk
menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi
dokter.Rasional:Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi
awal terhadap perubahan integritas kulit.Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan
infeksi.Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.Mencegah trauma
berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif. DAFTAR PUSTAKABasuki B
Purnomo, Dasar-dasar Urologi.Edisi kedua, cetakan ketiga, CV. Sagung Seto: Jakarta
2007.Carpenito Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta, 2001.Danielle Gale & Jane Charette, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Penerbit
Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 2000.Doenges E. Marilynn, Rencana Asuhan
Keperawatan, Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3,
Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1999.Gallo & Hudak, Keperawatan Kritis Pendekatan
Holistik, Edisi VI, Volume II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1996.Long Barbara
C. Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung, 1996Price A. Sylvia & Wilson M.
Lorraine,Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit, Edisi 4, Buku II, Penerbit Buku Kedokteran
EGC: Jakarta, 1995.Robbins Stanley L, Buku SakuDasar Patologi Penyakit, Edisi 5, Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta, 1996.Suzanne. C. Smeltzer & Brenda.G.Bare.Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah, Edisi 8, volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2001.Akira Alie
Sinulingga, S.Kep, Ners di 16.16

1 komentar:

Kapuk Online24 Mei 2011 19.17Mantab artikelnya Mas Bro...terus semangat


berblogging...BalasBerandaLihat versi web

It's About Me............

Akira Alie Sinulingga, S.Kep, NersLihat profil lengkapkuDiberdayakan oleh Blogger