Vous êtes sur la page 1sur 12

REFERAT

ILMU KESEHATAN JIWA


GANGGUAN SOMATIK PADA GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Oleh:
Zahrina Amalia Eka Nurfadillah 122011101007
Rizki Nur Fitria 122011101096

Dokter Pembimbing:
dr. Justina Evy, Sp.KJ

LAB/SMF PSIKIATRI RSD DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
REFERAT
ILMU KESEHATAN JIWA
GANGGUAN SOMATIK PADA GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Oleh:
Zahrina Amalia Eka Nurfadilah 122011101007
Rizki Nur Fitria 122011101096

Dokter Pembimbing:
dr. Justina Evy, Sp.KJ

Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya


SMF Psikiatri di RSD dr.Soebandi Jember

LAB/SMF PSIKIATRI RSD DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Gangguan mood merupakan gangguan mental yang paling umum. Prevalensi


gangguan mood diperkirakan akan semakin meningkat. Pada tahun 2020, diperkirakan
depresi mayor merupakan gangguan yang paling banyak. Sementara itu, bukti yang
muncul gangguan bipolar mulai lebih banyak prevalensinya.
Gangguan afektif bipolar adalah kondisi umum yang dijumpai, dan diantara
gangguan mental menempati posisi kedua terbanyak sebagai penyebab ketidak
mampuan/disabilitas. Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanita dengan
angka kejadian sekitar 5 per 1000 orang. Penderita depresi bipolar dapat mengalami
gangguan tidur.Kondisi tidak normal itu bisa terjadi hanya beberapa minggu sampai 2-
3bulan.Setelah itu kembali ''normal'' untuk jangka waktu relatif lama, namun
dikesempatan lain muncul kembali.
Gangguan somatic merupakan salah satu keluhan yang terdapat pada gangguan
mood. Peningkatan gejala somatic berhubungan dengan tingkat keparahan depresi dan
umur (Casper et al, 1985). Pengetahuan tentang gejala somatik pada gangguan mood
masih belum banyak diketahui. Pada penelitian sebelumnya, menganalisa tentang
gejala depresi dan menghubungkannya dengan gejala somatik. Pada penelitian
tersebut, gangguan tidur hipersomnia sebagian besar terkait dengan depresi pada
gangguan bipolar (Detre et al, 1972).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI GANGGUAN SOMATIK


Kata somatik diambil dari bahasa Yunani, yakni soma. Soma berarti badan
atau tubuh. Berdasarkan American Psychiatric Association, gangguan somatik
mencakup pasien-pasien yang menunjukkan keluhan dan gejala fisik secara
signifikan, seperti nyeri, sesak napas sehingga menyebabkan kesulitan dalan
kehidupan sehari-hari. Individu yang menderita gangguan somatik biasanya memiliki
pikiran yang berlebihan terhadap gejala fisik yang dikeluhkan. Gejala fisik tersebut
bisa berhubungan atau tidak dengan kondisi medis yang mendasarinya namun orang
tersebut mengalami gejala dan yakin bahwa mereka sedang sakit. Keluhan somatis
yang ada atau kekhawatirannya tidak dapat dijelaskan atau tidak proporsional secara
medis dan bisa cukup berat sehingga menimbulkan distres.

PATOFISIOLOGI GANGGUAN SOMATIK PADA GANGGUAN AFEKTIF


BIPOLAR
II. GEJALA GANGGUAN SOMATIK PADA GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
III. DIAGNOSIS
IV. PENATALAKSANAAN

Pada gangguan afektif bipolar terdapat salah satu episode depresif. Gejala
yang timbul saat episode depresif pada tiap orang berbeda-beda dan bersifat
individual. Gangguan depresif yang timbul bisa mempengaruhi pola pikir, perasaan,
dan perilaku seseorang serta kesehatan fisiknya. Gangguan depresif tidak mempunyai
gejala fisik yang sama dan biasanya bervariasi dari satu orang ke orang lain. Sekitar
dua pertiga pasien depresi datang dengan keluhan somatik. Keluhan tersebut antara
lain perubahan nafsu makan dan libido, kurang energi, gangguan tidur bangun lebih
cepat saat tidur, kesulitan untuk tidur, gejala somatik tanpa nyeri (pusing, palpitasi,
sesak), serta keluhan nyeri (nyeri kepala, nyeri punggung, nyeri muskuloskeletak, dan
gangguan gastrointestinal). Kebanyakan gejala tersebut muncul dikarenakan pasien
mengalami stres yang besar, kekhawatian, dan kecemasan terkait gangguan
depresifnya. Gejala somatik pada depresi semakin jelas pada peningkatan usia
sedangkan variasi mood diurnal, hypersomnia, dan peningkatan nafsu makan menjadi
kurang menonjol pada peningkatan usia. Pada gangguan bipolar fase depresi,
munculnya gejala somatik lebih sedikit dibandingkan dengan gangguan unipolar.
Sampai saat ini patofisiologi gangguan somatoform masih tidak diketahui.
Gangguan gejala somatik primer dapat berhubungan dengan kesadaran yang tinggi
dari sensasi yang dirasakan tubuh. Kesadaran ini dapat dipasangkan dengan bias
kognitif untuk menafsirkan setiap gejala fisik sebagai indikasi penyakit medis. Gejala
otonom mungkin tinggi pada beberapa pasien dengan somatisasi. Gejala otonom ini
mungkin berhubungan dengan efek fisiologis dari senyawa noradrenergik endogen
sehingga menimbulkan gejala takikardi atau hipermotilitas lambung.
Studi pencitraan otak mendukung hubungan antara gangguan gejala somatik
dengan berkurangnya volume dari amigdala otak dan konektivitas amigdala dan
region otak yang mengendalikan fungsi eksekutif dan motorik.
Pada gangguan mood terdapat peran neurotransmiter serotonin. Serotonin
disintesis dari asam amino esensial tryptophan dalam 2 tahap enzimatis. Plasma
tryptophan masuk blood-brain barrier secara aktif dengan melalui large neutral amino
acid transporter protein. Perubahan fungsi serotoninergik otak menunjukkan
perubahan fungsi tubuh dan perilaku yang merupakan gejala kllinis utama depresi,
seperti nafsu makan, tidur, fungsi seksual, sensitivitas nyeri, temperatur tubuh dan
irama sirkadian.
Selain itu terdapat faktor psikoneuroendokrinologi yang mempengaruhi
gangguan mood. Pada hiperkortisolisme terdapat gejala psikiatrik seperti anergia,
anhedonia dan mood depresi. Pada gangguan depresi mayor terdapat kadar kortisol
plasma, cairan serebrospinal dan urin yang meningkat; peningkatan kortikopin
releasing hormon di cairan serebrospinal dan terdapat hipertropi kelenjar adrenal.
Diduga adanya disregulasi axis HPA (Hipotalamus-Pituitari-Adrenal) pada gangguan
depresi mayor akibat terganggunya transmisi signal melalui reseptor kortikoid.
Antidepresan bekerja menormalkan transmisi signal ini. Pada disregulasi axis HPT
(Hipotalamus-Pituitari-Tiroid) dapat menunjukkan gejala psikiatrik. Hipertiroidisme
berhubungan dengan labilitas emosi, iritabilitas, insomnia, anxietas, kehilangan berat
badan dan agitasi psikomotor.
Pada faktor psikoneuroimunologi terdapat hubungan sistem imun dengan
gangguan mood berdasarkan dua arah. Perilaku sakit (ilness behavior) seperti
penurunan nafsu makan, kelelahan, somnolen pada gangguan mood berhubungan
dengan fungsi imunitas. Berbagai gangguan medis dan pengobatan yang meregulasi
fungsi imunitas berhubungan dengan gejala psikiatrik.

V. TATALAKSANA
A. PENATALAKSANAAN GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
a. Farmakoterapi
Fluoxetin (prozac) telah digunakan dengan suatu keberhasilan pada remaja
dengan gangguan depresif barat. Karena beberapa anak dan remaja yang
menderita depresif akan mengalami gangguan bipolar, klinisi harus mencatat
gejala hipomanik yang mungkin terjadi selama pemakaian fluoxetin dan anti
depresan lain. Pada kasus tersebut medikasi harus dihentikan untuk menentukan
apakah episode hipomanik selanjutnya menghilang. Tetapi, respon hipomanik
terhadap antidepresan tidak selalu meramalkan bahwa gangguan bipolar telah
terjadi.8 Gangguan bipolar pada masa anak-anak dan remaja adalah diobati
dengan lithium (Eskalith) dengan hasil yang baik. Tetapi, anak-anak yang
memiliki gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas) dan selanjutnya mengalami
gangguan bipolar pada awal masa remaja adalah lebih kecil kemungkinannya
untuk berespon baik terhadap lithium dibandingkan mereka yang tanpa gangguan
perilaku.
Pasien dengan gangguan bipolar membutuhkan dorongan untuk mencari dan
mempertahankan pengobatan dan tindak lanjutnya dengan segala keterbatasannya
lithium merupakan pengobatan untuk gangguan bipolar yang telah lama
digunakan meskipun banyak obat-obat generasi baru yang ditemukan, namun
efektifitas pencegahan bunuh diri masih belum jelas.
Garam Lithium (carbonate) merupakan antidepresan yang dianjurkan untuk
gangguan depresi bipolar (terdapatnya episode depresi dan mania) dan penderita
gangguan depresi. Lithium tidak bersifat sedative, depresan ataupun eforian, inilah
yang membedakannya dari antidepresan lain.
Mekanis aksi lithium mengendalikan alam perasaan belum diketahui, diduga
akibat efeknya sebagai membrana biologi. Sifat khas ion lithium dengan ukuran
yang amat kecil tersebar melalui membrana biologik, berbeda dari ion Na dan K.
Ion lithium menggantikan ion Na mendukung aksi potensial tunggal di sel saraf
dan melestarikan membrana potensial itu. Masih belum jelas betul makna interaksi
antara lithium (dengan konsentrasi 1 mEq per liter) dan transportasi monovalent
atau divalent kation oleh sel saraf.2 Aksi lithium disusunan saraf pusat
dispekulasikan merobah distribusi ion didalamsel susunan saraf pusat, perhatian
terpusat pada efek konsentrasi ionnya yang rendah dalam metabolisme biogenik
amin yang berperanan utama dalam patofisiologi gangguan alam perasaan.
Sudah lebih dari 50 tahun lithium digunakan sebagai terapi gangguan bipolar.
Keefektivitasannya telah terbukti dalam mengobati 60-80% pasien. Pamornya
semakin berkibar karena dapat menekan ongkos perawatan dan angka kematian
akibat bunuh diri.
Tapi bukan berarti lithium tanpa cela. Terdapat orang-orang yang kurang
memberi respon terhadap lithium di antaranya penderita dengan riwayat cedera
kepala, mania derajat berat (dengan gejala psikotik), dan yang disertai dengan
komorbid. Bila penggunaanya dihentikan tiba-tiba, penderita cepat mengalami
relaps. Selain itu, indeks terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar lithium
dalam darah. Gangguan ginjal menjadi kontraindikasi penggunaan lithium karena
akan menghambat proses eliminasi sehingga menghasilkan kadar toksik. Di
samping itu, pernah juga dilaporkan lithium dapat merusak ginjal bila digunakan
dalam jangka lama. Karena keterbatasan itulah, penggunaan lithium mulai
ditinggalkan. Antipsikotik mulai digunakan sebagai antimanik sejak tahun 1950.
Antipsikotik lebih baik daripada lithium pada penderita bipolar dengan agitasi
psikomotor. Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak merencanakan
pemberian antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama (golongan
tipikal) sebab dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti ekstrapiramidal,
neuroleptic malignant syndrome, dan tardive dyskinesia.
Valproat menjadi pilihan ketika penderita bipolar tidak memberi respon
terhadap lithium. Bahkan valproat mulai menggeser dominasi lithium sebagai
regimen lini pertama. Salah satu kelebihan valproat adalah memberikan respon
yang baik padakelompok rapid cycler. Penderita bipolar digolongkan rapid cycler
bila dalam 1 tahun mengalami 4 atau lebih episode manik atau depresi. Efek
terapeutik tercapai pada kadar optimal dalam darah yaitu 60-90 mg/L. Efek
samping dapat timbul ketika kadar melebihi 125 mg/L, di antaranya mual, berat
badan meningkat, gangguan fungsi hati, tremor, sedasi, dan rambut rontok. Dosis
akselerasi valproat yang dianjurkan adalah loading dose 30 mg/kg pada 2 hari
pertama dilanjutkan dengan 20 mg/kg pada 7 hari selanjutnya. Pencarian obat
alternatif terus diupayakan. Salah satunya adalah lamotrigine.
Lamotrigine merupakan antikonvulsan yang digunakan untuk mengobati
epilepsi. Beberapa studi acak, buta ganda telah menyimpulkan, lamotrigine efektif
sebagai terapi akut pada gangguan bipolar episode kini depresi dan kelompok
rapid cycler. Sayangnya, lamotrigine kurang baik pada episode manik.

1) Litium
Indikasi:
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai
terapi rumatan GB.
Dosis:
Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan
menitrasi dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-
1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari.Dosis awal yaitu 20
mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila
dibandingkan dengan untuk terapi rumatan. Untuk terapi rumatan, dosis
berkisar antara 0,4-0,8 mEql/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L, tidak efektif
sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejalatoksisitas litium dapat terjadi
bila dosis 1,5 mEq/L.
2) Valproat.
Dosis:
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam
serum berkisar antara 45 -125 ug/mL. Untuk GB II dan siklotimia
diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma 50 ug/mL. Dosis awal
untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 500 mg/hari dan
dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125
ug/mL. Efek samping, misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan
penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum 100
ug/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yang
dianjurkan adalah antara 75-100 ug/mL.
Indikasi:
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut,
terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan
litium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.
3) Lamotrigin
Indikasi:
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut
maupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.
Dosis:
Berkisar antara 50-200 mg/hari.
Antipsikotika Atipik
1) Risperidon
Dosis:
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu
tablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan
besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian
besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang
(RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang
dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua
minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkan
menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.
Indikasi:
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi
rumatan
2) Olanzapin
Indikasi:
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut
mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi
rumatan GB.
Dosis:
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.
3) Quetiapin.
Dosis:
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari.
Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg,
100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain
itu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.
Indikasi:
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran,
siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.
4) Aripiprazol
Dosis:
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran
dosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang
direkomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari.
Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk
menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg
dapat meningkatkan tolerabilitas.
Indikasi:
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia
juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai
terapi tambahan pada GB I, episode depresi.
Antidepresan
Antidepresan efektif untuk mengobati GB, episode depresi.
Penggunaannya harus dalam jangka pendek. Penggunaan jangka panjang
berpotensi meginduksi hipomania atau mania. Untuk menghindari terjadinya
hipomania dan mania, antidepresan hendaklah dikombinasi dengan stabilisator
mood atau dengan antipsikotika atipik
Intervensi Psikososial
Intervensi psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive
behavioral therapy (CBT), terapi keluarga, terapi interpersonal, terapi
kelompok, psikoedukasi, dan berbagaibentuk terapi psikologi atau psikososial
lainnya. Intervensi psiksosial sangat perlu untukmempertahankan keadaan
remisi.
b. Psikoterapi
Sedikit data yang menguatkan keunggulan salah satu pendekatan psikoterapi
dibandingkan yang lain dalam terapi gangguan mood masa anak-anak dan remaja.
Tetapi, terapi keluarga adalah diperlukan untuk mengajarkan keluarga tentang
gangguan mood serius yang dapat terjadi pada anak-anak saat terjadinya stres
keluarga yang berat. Pendekatan psikoterapetik bagi anak terdepresi adalah
pendekatan kognitif dan pendekatan yang lebih terarah dan lebih terstruktur
dibandingkan yang biasanya digunakan pada orang dewasa. Karena fungsi psikososial
anak yang terdepresi mungkin tetap terganggu untuk periode yang lama, walaupun
setelah episode depresif telah menghilang, intervensi keterampilan sosial jangka
panjang adalah diperlukan. Pada beberapa program terapi, modeling dan permainan
peran dapat membantu menegakkan keterampilan memecahkan masalah yang baik.
Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi.

B. PENATALAKSANAAN GANGGUAN SOMATIK


Penatalaksanaan gangguan somatik bisa dilakukan dengan terapi perilaku kognitif
dan obat antidepresan. Terapi perilaku kognitif akan bermanfaat jika diadaptasi untuk
keluhan somatis utama. Pasien mungkin perlu dibantu untuk mengenali dan mengatasi
stresor sosial yang dialami, juga perlu didorong untuk kembali ke fungsi normal dan
mengurangi perilaku sakit secara bertahap. Obat antidepresan bermanfaat dalam sebagian
besar kasus meskipun tidak ada depresi yang menyertai. Tetapi penggunaannya harus
disertai penjelasan yang memadai agar tidak dianggap mengada-ada.

PROGNOSIS
Prognosis Buruk Prognosis Baik
Akut Fase manic (dalam durasi pendek)
Onset terjadi pada usia muda Onset terjadi pada usia yang lanjut
Riwayat kerja yang buruk Pemikiran untuk bunuh diri yang rendah
Penyalahgunaan alcohol Gambaran psikotik yang rendah
Gambaran psikotik Masalah kesehatan (organik) yang rendah.
Gambaran depresif diantara episode
manic dan depresi
Adanya bukti keadaan depresif
Jenis kelamin laki-laki.

DAFTAR PUSTAKA
1. Casper, et al. 1985. Somatic Symptoms in Primary Affective Disorder. Arch Gen
Psychiatry. Vol 42
2. David A. Tomb, Buku Saku Psikiatri, Edisi 6, Jakarta : EGC, 2003
3. Depkes RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta. Departemen Kesehatan. 1993.
4. Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran Dorland edisi kedua puluh sembilan.
Jakarta: EGC. 2002.
5. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis Jilid Dua. Jakarta. Binarupa Aksara. 2010.
6. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis Jilid Satu. Jakarta. Binarupa Aksara. 2010.
7. Kaplan, H.ldanSaddock B.J. 1993. Comprehensive Textbook of Psychiatry vol.2 6th
edition. USA: Williams and Wilikins Baltimore.
8. Maramis, W.F. 2005. CatatanIlmuKedokteranJiwacetakankesembilan. Airlangga
University Press : Surabaya
9. Nevid, J.S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal JilidI.Edisi 5. PenerbitErlangga : Jakarta
10. Stephen Soreff. Bipolar Affective Disorder. http://emedicine.medscape.com/
article/286342-overview#a3. Diakses 30 Desember 2016
11. Yates,William R. Somatic Symptom Disorders.
emedicine.medscape.com/article/294908-overview#a5. Diakses 30 Desember 2016