Vous êtes sur la page 1sur 3

Beranda Internasional KepentinganNasional Analisis Ekonomi&Bisnis IndustriStrategis Hankam

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Analisis
26082013

Search
:

Mencermati Pola Kolonialisme di Syria dan Mesir


(Bag1)
Penulis : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute
(GFI)

Pasca tergulingnya Mohamad Morsi oleh


kudeta militer (3 Juli 2013), tampaknya
kadar gejolak di Mesir lebih tinggi serta
meluas daripada Arab Spring kemarin. Dan
prakiraan waktu pun sepertinya belum dapat
diterka sama sekali. Kenapa demikian, oleh
karena aneka false flag operation (operasi
bendera palsu) terbaca begitu gencar dikibarkan oleh Barat dengan beragam
kemasan. Kemudian dijelaskan sekilas pada awal catatan ini, maksud Barat ialah
Amerika (AS) dan sekutu, termasuk Israel selaku anak emas, guru, atau sekutu
tradisional AS.

Isu Hanga
WaspadaiUkr
Tak pelak lagi, di sebuah kolonialisasi selain modus false flag mampu
MuslimTatar
mendangkalkan atau mengaburkan khalayak awam dalam melihat peta konflik
Islam(OKI)
sesungguhnya, bahkan seringkali juga menjerumuskan orang, kelompok, ataupun
golongan ke dalam kekeliruan (kerangka) berpikir, misperception, kesalahan
langkah, dan lainlain. Ini terlihat dari beberapa elemen bangsabangsa yang
memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama muslim, tetapi tidak cukup pemahaman
soal trend, tata cara, modus, ataupun modelmodel deception (penyesatan) dalam
kolonialisme. Merujuk judul artikel ini, sebaiknya dimulai dari Syria yang sekarang
kembali bergolak kendati militer pemerintahan Bashar al Assad dinilai banyak pihak
telah dianggap memenangkan peperangan melawan kaum pemberontak.

Pertanyaan menarik timbul: apakah kita mengetahui hakiki dan mapping konflik di
Pada25April2
Syria? Kalau sudah paham, syukurlah. Tapi bagi yang setengahsetengah atau
Islam(OKI)ata
sekedar mengirangira apalagi hanya ikutikutan, semoga artikel sederhana ini bisa
Cooperation(O
membuka sedikit wawasan, dan menguak pemahaman soal pola kolonialisasi yang OfficialMeeting
sering diterapkan oleh Barat, kendati pada dokumen Global Future Institute (GFI),
Ukrainauntuk
Jakarta, sebenarnya telah banyak diulas beberapa penulis. Tulisan ini cuma
menebalkan saja.
ReunifikasiM
KoreaHarusM
Pemetaan Dina Y. Sulaeman misalnya, membagi kaum oposisi (pemberontak) di Syria
Utara,Korea
ke dalam tiga kelompok besar. Penelitian Dina, research associate GFI, menarik
RepublikRaky
disimak. Inilah mapping kelompok dimaksud, antara lain:
LaporanPeng
Pertama, kelompok yang lahir di Turki terdiri atas Syrian National Council (SNC) dan
KelasDuniaB
Free Syrian Army (FSA). Perlu dicatat disini, bahwa pada diri FSA bernaung milisi
Politikuntuk
(sebagian menyebutnya mujahidin) termasuk al Qaida. OlahrawanNe

Kedua, National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces. Kelompok
EtnisTatarTe
ini terbentuk di Doha, Qatar. Tak bisa dipungkiri, bahwa Ikhwanul Muslimin (IM)
BlokBaratun
sebagai muslim moderat tergabung pada koalisi di atas. Kelompok ini didukung oleh Rusia
Qatar, Arab Saudi, AS, Inggris dan Prancis, koalisi negaranegara yang selama ini
membiayai, mengirim senjata dan memfasilitasi para pasukan jihad dari berbagai
KalauASEAN
negara seperti Arab, Libya dan lainlain agar datang ke Syria membantu FSA.
Mengalahkan

Ketiga, kelompok berhaluan Hizbut Tahrir (HT) meski tidak mengatasnamakan


Merevitalisas
HT tetapi mendapat dukungan berbagai cabangnya di dunia, termasuk HT dari ForumOKISe
Indonesia. Sikapnya mengecam koalisi yang dibentuk di Qatar. Kelompok ini meliputi

Gabhat al Nousra, Ahrar Al Sham Kataeb, Liwaa al Tawhiid, dan Ahrar Souria. Ia
Gabhat al Nousra, Ahrar Al Sham Kataeb, Liwaa al Tawhiid, dan Ahrar Souria. Ia Konflikyang
cenderung memisah dengan kelompok lain dan mendeklarasikan bahwa NegaraNegar
perjuangannya dalam rangka membentuk khilafah di Syria.

Hal yang menarik, kendati ketiga oposisi seolaholah terberai, tetapi memiliki tekad
dan suara sama, yakni menumbangkan rezim Bashar al Assad. Seperti ada invesible
hand meremot dinamika konflik dari kejauhan agar para pemberontak tetap satu
tujuan walau berbeda cara dan jalan. Hal ini terbukti ketika mereka ternyata saling
bekerjasama pada upaya penciptaan opini publik: betapa kejam dan brutalnya Arsip
rezim Assad dalam membantai rakyatnya sendiri. Kemungkinan besar, inilah opini KehadiranKa
rekaan ketiga oposisi yang hasilnya sungguhsungguh mengaburkan fakta Spekulasi
sebenarnya, atau istilahnya false flag operation. Seakanakan bekerjasama padahal
demi kepentingan musuh! MembacaPul
Geopolitik
Jika disandingkan dengan kajian Dina, analisa Rijal Mumazziq Z tampak lebih
sederhana meskipun substansi tak jauh beda. Ia mengatakan, sesungguhnya hanya KongresUlam
ada dua kubu oposisi di Syria, yaitu Sekuler dan Islamis. Tidak ada kubu lain. Dihadirioleh
Keduanya samasama keras kepala dan terbagi dalam beberapa faksi. Yang top
Jabhat anNushrah (kubu Islamis) karena merupakan cabang alQaidah. Model SekjenPBBS
pemetaan oposisi ala Rizal ini, selain memeta kaum oposisi hanya menjadi dua bagiKrisisYa
golongan, juga cenderung mencermati pola dan model divide et impera (pecah
belah) atau adu jangkrik yang dimainkan AS serta sekutu di banyak negara, ChinaLuncur
contohnya Syria. Beberapa hipotesa pun muncul. Misalnya, apabila Assad tumbang, Negeri
mereka akan terus memasok senjata sembari menyaksikan adu jangkrik
berikutnya, yakni antara kubu Sekuler dalam FSA melawan kelompok Islamis. PilkadaRasa

Hipotesa selanjutnya, bila kubu Sekuler menang, ongkos yang dikeluarkan pun WaspadaiUkr
tetap hemat. Artinya selain laba sumber daya alam (SDA) yang melimpah, MuslimTatar
(tambahan penulis) penguasaan geopolitic of pipeline, juga kubu Sekuler bakal Islam(OKI)
disetir oleh majikannya persis di Irak dan Libya. Faktor lain yang terabaikan
namun sesungguhnya tujuan utama ialah rebutan geostrategi posisi Syria yang tepat KorutSamaS
di simpul Jalur Sutera. Itulah jalur ekonomi dan militer legenda sejak dahulu kala, SeranganAm
namun sekarang justru banyak dilupakan oleh orang (baca: Catatan Kecil tentang
Jalur Sutera www.theglobalreview.com). WaspadaiUkr
MuslimTatar
Sedang hipotesa terakhir, jika kubu Islamis menang, maka isue sektarian SunniSyiah Islam(OKI)
akan semakin dikobarkan, lalu moncong meriam "mujahidin" diarahkan ke Hizbullah
di Lebanon. Biarkan keduanya bertarung. Hizbullah hanyalah target (sasaran) MayoritasRak
antara, karena sasaran utama sebenarnya Iran. Lagilagi, isue sektarian memang Diubah
bumbu terlezat dalam citarasa konflik dan perang di Timur Tengah. Luar biasa!

Kajian keduanya baik Dina maupun Rizal, sepertinya ingin menjelaskan makna
statement Moshe Yaalon, Menteri Pertahanan: tidak melihat akhir dari perang ini.
Dengan kata lain, Israel tak ingin perang berakhir. Bahkan ia akan melakukan apa
saja supaya peperangan terus berlangsung, termasuk diantaranya tuduhan
bumbu konflik Yaalon kepada pemerintah Syria ketika terjadi pembunuhan massal Bedah Bu
menggunakan senjata kimia. Sekali lagi, inilah salah satu langkah false flagnya
Pengarang:
Barat. Efektif memang, selain membakar peperangan, juga sebagai dalih agar segera
diterbitkan mandat (resolusi) PBB di Syria.
Isuisu Sens
Negaraneg
Dengan demikian jelas, bahwa perang berlarut di Syria bukanlah konflik etnis,
Mengeruk S
ataupun perang agama, tidak pula konflik antar mazhab sebagaimana dikibarkan
Indonesia
oleh Barat dengan taktik false flag melalui media mainstream, online, jejaring
sosial, dan lainlain. Bukan! Syria hanya proxy war (medan tempur) dari berbagai
kepentingan para adidaya dunia!

(Bersambung Bag2)

Artikel Terkait GlobalFuture


Tangan Israel di Suriah dan Mesir Cetakan:
Pemetaan Konflik Mesir I,Desember
Gejolak Mesir: Bukti Kebangkitan Islam dan Runtuhnya Hegemoni Superpower! TebalBuku:
Mengkaji Gejolak Mesir dari Perspektif Geopolitik Jalur Sutera (Bag1)
Membaca Abdul Fattah al Sisi, Presiden de fakto Mesir
Membaca Yang Tersirat di balik Tumbangnya Presiden Mesir Mohamed Mursi

Tweet Share 15
Beranda|Tentang Global Future Institute|Tentang Global Review

20082012theglobalreview.comAllrightsreserved