Vous êtes sur la page 1sur 3

Beranda Internasional KepentinganNasional Analisis Ekonomi&Bisnis IndustriStrategis Hankam

Antara Balkanisasi, Musuh Ima

Analisis
02092013

Search
:

Mencermati Pola Kolonialisme di Syria dan Mesir


(Bag2)
Penulis : M. Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute
(GFI)

Ketika Syria dituduh lagi, atau dicap kembali


oleh Barat menggunakan senjata kimia
membunuh rakyatnya sendiri, sebenarnya
bukan sekedar peristiwa berulang, namun
boleh dinilai sebagai isue kuno, atau stigma
basi. Kenapa demikian, karena sebelumnya,
Bashar al Assad, juga telah menerima
tuduhan dan stigma sama walau topiknya
berbeda. Tragedi Hawla misalnya, dimana
rakyat Syria dibantai dengan tata cara non
militer seperti ditembak jarak dekat, ditusuk, digorok, dll hal mana perbuatan
tersebut dituduhkan kepada militer Assad. Tetapi akhirnya tak terbukti dan
humanitarian intervention PBB pun gagal mendarat di Syria; selanjutnya pasca Isu Hanga
kekalahan milisi pemberontak (oposisi), pihak Barat kembali menebar stigma dan
WaspadaiUkr
kali ini militer Assad dituduh menggunakan senjata kimia sarin.
MuslimTatar
Islam(OKI)

Ya. Stigma berawal dari klaim London yang didukung Washington, bahwa Badan
Intelijen Inggris (MI6) menemukan sampel tanah Syria mengandung bahan kimia
yang dituduhkan pada pasukan Assad. Namun betapa lucu, klaim mengemuka ketika
sebelumnya, para penyelidik PBB justru menemukakan faktafakta kebalikannya
bahwa senjata kimia digunakan oleh milisi teroris antiAssad. Mereka mendapatkan
kesaksian dari para korban dan staf medis yang menunjukkan para milisi oposisi
bersenjata menggunakan gas sarin.
Pada25April2
Reuters Senin (6/5/13) melaporkan, Carla Del Ponte, anggota Komisi Independen
Islam(OKI)ata
PBB untuk Penyelidikan di Syria mengatakan: Kami tidak menemukan bukti bahwa
Cooperation(O
pasukan pemerintah Damaskus menggunakan senjata kimia terhadap milisi OfficialMeeting
bersenjata. Dan agaknya counter berita oleh Ponte dari Komisi Independen PBB
Ukrainauntuk
sempat meredakan suasana beberapa jenak.
ReunifikasiM
Tetapi tatkala stigma penggunaan kimia menguat kembali dimarakkan oleh Barat KoreaHarusM
melalui media. Inilah perang propaganda. Sebagaimana isyarat Joseph Goebbels,
Utara,Korea
Menteri Propaganda NAZI (1942): "Sebarkan kebohongan berulangulang kepada
RepublikRaky
publik. Kebohongan yang diulangulang, akan membuat publik menjadi percaya, dan
kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja. Lalu, pada LaporanPeng
kasus penggunaan senjata kimia di atas, sesungguhnya siapa berbohong?
KelasDuniaB
Politikuntuk
Dalam tahapan kolonialisme, penyebaran isue, stigma, atau propaganda dan lainlain OlahrawanNe
sejatinya hanya modus awal ataupun langkah permulaan karena episode berikut
niscaya ada tema yang akan dimunculkan. Sebagaimana pola yang sudahsudah,
EtnisTatarTe
membaca skenario kolonialisme Barat setelah ditebar isueisue di Syria, keniscayaan
BlokBaratun
tema yang bakal diangkat ialah penerbitan Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB Rusia
seperti dulu mereka tabur di Irak melalui (stigma) senjata pemusnah massal, atau
di Libya via isue pelanggaran HAMnya Gaddafi, dll dimana muara keduanya ialah
KalauASEAN
humanitarian intervention. Artinya entah peace keeper yang mengawaki mandat
Mengalahkan
PBB nantinya, entah NATO, atau ISAF dan lainlain, tergantung situasi kondisi.
Kendati hingga kini senjata pemusnah massal tak pernah ditemukan, tetapi Irak
Merevitalisas
terlanjur porakporanda. Libya pun demikian. Sekali lagi, siapa berbohong? ForumOKISe
Sejenak keluar topik namun dalam koridor materi. Ya. Apabila mandat PBB Konflikyang
diberikan peace keeper (pasukan baret biru) biasanya bermuara pada jajak NegaraNegar
pendapat, pemilu ulang, referendum, dst yang intinya memisah wilayah target dari
negara induk. Imperialis memang memiliki slogan: Verdeel en heerspecahkan
dan kuasai. Ini yang sering terjadi. Tak bisa tidak.

Tengoklah praktek di Sudan, model imperialisme melalui tata cara referendum,


pemilu ulang dll akhirnya sukses membelah Sudan menjadi dua negara (Sudan
dan Sudan Selatan), atau Timor Timur (Leste) kini menjadi negara merdeka, dan Arsip
lainlain. Polanya sama. Ditebar duluan isue, lalu diangkat sebuah tema, sedang KehadiranKa
skemanya adalah pendudukan, baik berupa penguasaan (pendudukan) ekonomi Spekulasi
maupun pencaplokan sumberdaya (SDA) di daerah target. Dalam kolonialisme, isue
dan tema boleh saja berubahubah sesuai keadaan, akan tetapi skema tetap MembacaPul
lestari, yakni penguasaan ekonomi dan pendudukan SDA di wilayah target. Geopolitik

Dan lazimnya ketika mandat turun ke NATO bakal berujung bombardier dan KongresUlam
pengerahan militer secara terbuka (NATO, ISAF). Ini pola (kolonialisme) berulang. Dihadirioleh
Kendati keduanya, baik peace keeper maupun tentara koalisi sering pula bersinergi
di wilayah target. Bahkan seringkali tanpa mandat PBB pun, AS dan sekutu berani SekjenPBBS
menyerbu kedaulatan negara lain dengan alasan Kepentingan Nasionalnya bagiKrisisYa
terancam. Invasi militer Barat ke Irak (tahun 2003an) merupakan contoh aktual. Ya,
berbekal preemtive strike doctrine dan stigma bahwa Irak menyimpan senjata ChinaLuncur
pemusnah massal, Negeri 1001 Malam diobrakabrik lalu Saddam Husein pun Negeri
digantung oleh AS dan sekutu. Sekali lagi, awal penyerbuan Irak dahulu tanpa bekal
mandat dari PBB, meski di tengah operasi akhirnya terbit resolusi PBB, namun PilkadaRasa
secara politis hanya melegitimasi serangan ilegal tersebut. Dan dunia membisu
seribu bahasa! WaspadaiUkr
MuslimTatar
Kembali ke Syria. Isyarat William Hague, Menteri Luar Negeri Inggris, negaranya Islam(OKI)
kemungkinan merespon penggunaan senjata kimia di Syria tanpa perlu izin DK PBB,
karena Cina dan Rusia hampir pasti memveto pemungutan suara di DK. Seketika KorutSamaS
statement Hague mendapat respon langsung dari Rusia. Sergei Lavrov, Menteri Luar SeranganAm
Negeri Rusia menyatakan, bahwa intervensi militer ke Syria tanpa mandat DK PBB
merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Tetapi toh akhirnya WaspadaiUkr
parlemen Inggris tidak menyetujui rencana invasi militer tersebut. MuslimTatar
Islam(OKI)
Menanggapi perang diplomasi antara Inggris dan Rusia tersebut, Assad berkata:
"Adakah negara yang menggunakan (senjata) kimia atau senjata pemusnah massal di MayoritasRak
sebuah tempat dimana pasukannya sendiri terkonsentrasi disana? Bukankah hal itu Diubah
bertentangan dengan logika dasar!". Lebih mengejutkan lagi, tanggapan Bashar al
Assad seolah justru menantang hegemoni Barat, karena ia mengingatkan jika AS
memilih opsi serangan militer ke Damaskus, maka Washington akan mengalami
bencana seperti di Vietnam (Rueters, Senin, 26 Agustus 2013). Sejak awal krisis,
kami telah menunggu musuh sejati kami menampakkan dirinya," kata Assad kepada
para pejabat Damaskus seperti dikutip surat kabar Lebanon alAkhbar pada Kamis
(29/8). Ia menambahkan, Damaskus akan menjadi pemenang dalam setiap Bedah Bu
konfrontasi militer yang mungkin terjadi dengan Amerika Serikat dan sekutu.
Pengarang:

Pertanyaan menggelitik muncul: benarkah Paman Sam dan sekutu nekad memilih
Isuisu Sens
opsi militer ke Syria dengan atau tanpa resolusi PBB? Beberapa analisa baik dari
Negaraneg
pakar maupun pengamat memang berkembang menyikapi kondisi aktual semacam
Mengeruk S
ini. Ada yang pro dan kontra. Tetapi tidak kami bahas pro kontra dimaksud sebab
Indonesia
kurang signifikan.

Gelagatnya, memang AS sudah mengirim kapalkapal tempur termasuk empat kapal


perusak ke Laut Mediterania. Sementara Inggris juga telah mengerahkan enam jet
tempur Typhoon ke pangkalan militer Akrotiri di Siprus, walau opsi parlemennya
menolak serangan militer ke Syria.

Terlihat pertemuan DK PBB pun berakhir tanpa mencapai kesepakatan. Sudah


diduga, sejumlah anggota DK mendorong resolusi penggunaan kekuatan terhadap GlobalFuture
Syria, tetapi Rusia dan Cina menentang keras setiap serangan militer apapun. Cetakan:
Bahkan sebelumnya, sebuah memorandum telah dikeluarkan kantor Kepresidenan I,Desember
Rusia (27/08/13) untuk Angkatan Bersenjata Rusia yang isinya untuk melakukan TebalBuku:
serangan militer besarbesaran melawan Arab Saudi jika Barat menyerang Suriah.
Tampaknya Putin sangat marah setelah pertemuan dengan Bandar bin Sultan awal
Agustus lalu, karena Sultan mengancam Rusia akan mengerahkan teroris Chechnya
jika Moskow menolak permintaannya agar melepas dukungannya terhadap Syria.
Apalagi menurut laporan FNA Selasa (27/8), bahwa Dinas Intelijen Saudi itu telah
mengalokasikan 70 juta dolar secara langsung untuk mendorong para pejabat politik
keamanan AS menyerang Syria!

(Bersambung Bag3)
Artikel Terkait
Menyikapi Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah
Mencermati Pola Kolonialisme di Syria dan Mesir (Bag1)
Tangan Israel di Suriah dan Mesir
Pemetaan Konflik Mesir

Like 0 Tweet Share

Beranda|Tentang Global Future Institute|Tentang Global Review

20082012theglobalreview.comAllrightsreserved