Vous êtes sur la page 1sur 19

sebagaimana dimaksud huruf a dan

huruf b maka perlu menetapkan


Peraturan Daerah tentang
Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan;

BUPATI TEMANGGUNG

PROVINSI JAWA TENGAH


PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang
NOMOR 2 TAHUN 2014 Dasar Negara Republik Indonesia
TENTANG Tahun 1945;
PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN 2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun
BERKELANJUTAN 1950 tentang Pembentukan Daerah-
daerah Kabupaten Dalam
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun
BUPATI TEMANGGUNG, 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraria (Lembaran
Menimbang : a. bahwa lahan pertanian pangan Negara Republik Indonesia Tahun
merupakan sumber daya alam yang 1960 No. 104, Tambahan Lembaran
dikaruniakan oleh Tuhan Yang Negara Republik Indonesia Nomor
Maha Esa yang dikuasai oleh 2013);
negara dan dipergunakan untuk 4. Undang-UndangNomor 32 Tahun
sebesar-besarnya kemakmuran dan 2004 tentangPemerintahan Daerah
kesejahteraan rakyat sebagaimana (Lembaran Negara Republik
diamanatkan oleh Undang-undang Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Dasar Negara Republik Indonesia TambahanLembaran Negara
Tahun1945; Republik Indonesia Nomor 4437)
b. bahwa dengan meningkatnya sebagaimana telah diubah beberapa
pertambahan penduduk, kali terakhir dengan Undang-
perkembangan ekonomi dan Undang Nomor 12 Tahun 2008
industri telah menyebabkan tentang Perubahan Kedua Atas
terjadinya degradasi, alih fungsi dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
fragmentasi lahan pertanian pangan 2004 tentang Pemerintahan Daerah
yang mengakibatkan menurunnya (Lembaran Negara Republik
kemandirian, ketahanan dan Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,
kedaulatan pangan di Daerah; Tambahan Lembaran Negara
c. bahwa berdasarkan pertimbangan Republik Indonesia Nomor 4844);
5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun Indonesia Tahun 2012 Nomor 22,
2004 tentang Perimbangan Tambahan Lembaran Negara
Keuangan Antara Pemerintah Pusat Republik Indonesia Nomor 5280);
dan Pemerintahan Daerah 11. Undang-Undang Nomor 18 Tahun
(Lembaran Negara Republik 2012 tentang Pangan (Lembaran
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Negara Republik Indonesia Tahun
Tambahan Lembaran Negara 2012 Nomor 227, Tambahan
Republik Indonesia Nomor 4438); Lembaran Negara Republik
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun Indonesia Nomor 5360);
2007 tentang Penataan Ruang 12. Undang-Undang Nomor 19 Tahun
(Lembaran Negara Republik 2013 tentang Perlindungan dan
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Pemberdayaan Petani (Lembaran
Tambahan Lembaran Negara Negara Republik Indonesia Tahun
Republik Indonesia Nomor 4725); 2013 Nomor 131, Tambahan
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun Lembaran Negara Republik
2009 tentang Perlindungan dan Indonesia Nomor 5433);
Pengelolaan Lingkungan Hidup 13. Peraturan Pemerintah Nomor 20
(Lembaran Negara Republik Tahun 2006 tentang Irigasi
Indonesia Nomor 140, Tambahan (Lembaran Negara Republik
Lembaran negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20,
Indonesia Nomor 5059); Tambahan Lembaran Negara
8. Undang-Undang Nomor 41 Tahun Republik Indonesia Nomor 4624);
2009 tentang Perlindungan Lahan 14. Peraturan Pemerintah Nomor 38
Pertanian Pangan Berkelanjutan Tahun 2007 tentang Pembagian
(Lembaran Negara Republik Urusan Pemerintah, Pemerintahan
Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Daerah Provinsi dan Pemerintahan
Tambahan Lembaran Negara Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Republik Indonesia Nomor 5068); Negara Republik Indonesia Tahun
9. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
2011 tentang Pembentukan Lembaran Negara Republik
Peraturan Perundang-undangan Indonesia Nomor 4737);
(Lembaran Negara Republik 15. Peraturan Pemerintah Nomor 8
Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata
Tambahan Lembaran Negara Cara Penyusunan, Pengendalian
Republik Indonesia Nomor 4737); dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
10. Undang-Undang Nomor 2 Tahun Pembangunan Daerah (Lembaran
2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Negara Republik Indonesia Tahun
Pembangunan Untuk Kepentingan 2008 Nomor 21, Tambahan
Umum (Lembaran Negara Republik Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4817); 21. Peraturan Pemerintah Nomor 25
16. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2012 tentang Sistem
Tahun 2008 tentang Rencana Tata Informasi Perlindungan Lahan
Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Pertanian Pangan Berkelanjutan
Negara Republik Indonesia Tahun (Lembaran Negara Republik
2008 Nomor 48, Tambahan Indonesia Tahun 2012 Nomor 46,
Lembaran Negara Republik Tambahan Lembaran Negara
Indonesia Nomor 4833); Republik Indonesia Nomor 5283);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 15 22. Peraturan Pemerintah Nomor 30
Tahun 2010 tentang Tahun 2012 tentang Pembiayaan
Penyelenggaraan Penataan Ruang Perlindungan Lahan Pertanian
(Lembaran Negara Republik Pangan Berkelanjutan (Lembaran
Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Negara Republik Indonesia Tahun
Tambahan Lembaran Negara 2012 Nomor 55, Tambahan
Republik Indonesia Nomor 5103); Lembaran Negara Republik
18. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Indonesia Nomor 5288);
Tahun 2010 tentang Bentuk Dan 23. Peraturan Presiden Republik
Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Indonesia Nomor 1 Tahun 2007
Penataan Ruang (Lembaran Negara tentang Pengesahan, Pengundangan
Republik Indonesia Tahun 2010 dan Penyebarluasan Peraturan
Nomor 118, Tambahan Lembaran Perundang-undangan;
Negara Republik Indonesia Nomor 24. Peraturan Presiden Republik
5160); Indonesia Nomor 71 Tahun 2012
19. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tentang Penyelenggaraan Tanah
Tahun 2011 tentang Penetapan dan Bagi Pembangunan Untuk
Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Kepentingan Umum(Lembaran
Berkelanjutan (Lembaran Negara Negara Republik Indonesia Tahun
Republik Indonesia Tahun 2011 2012 Nomor156);
Nomor 2, Tambahan Lembaran 25. Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Negara Republik Indonesia Nomor Tengah Nomor 6 Tahun 2010
5185); tentang Rencana Tata Ruang
20. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Wilayah Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2012 tentang Insentif Tahun 2009-2029 (Lembaran
Perlindungan Lahan Pertanian Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun
Pangan Berkelanjutan (Lembaran 2010 Nomor 6, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun Daerah Provinsi Jawa Tengah
2012 Nomor 19, Tambahan Nomor 28);
Lembaran Negara Republik 26. Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Indonesia Nomor 5279); Tengah Nomor 2 Tahun 2013
tentang Perlindungan Lahan Kabupaten Temanggung Tahun
Pertanian Pangan Berkelanjutan 2012 Nomor 23, Tambahan
Provinsi Jawa Tengah (Lembaran Lembaran Daerah Kabupaten
Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun Temanggung Nomor 22);
2013 Nomor 2, Tambahan Lembaran
Daerah Provinsi Jawa Tengah
Nomor 48);
27. Peraturan Daerah Kabupaten
Temanggung Nomor 7 Tahun 1989
tentang Penyidik Pegawai Negeri
Sipil di Lingkungan Pemerintah
Daerah Kabupaten Temanggung
(Lembaran Daerah Kabupaten
Temanggung Tahun 1989 Nomor 1
seri C);
28. Peraturan Daerah Kabupaten
Temanggung Nomor 6 Tahun 2008
tentang Urusan Pemerintahan yang
Menjadi Kewenangan Pemerintah
Daerah Kabupaten Temanggung
(Lembaran Daerah Kabupaten
Temanggung Tahun 2008 Nomor 6);
29. Peraturan Daerah Kabupaten
Temanggung Nomor 16 Tahun 2009
tentang Irigasi (Lembaran Daerah
Kabupaten Temanggung Tahun
2009 Nomor 16);
30. Peraturan Daerah Kabupaten
Temanggung Nomor 1 Tahun 2012
tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Temanggung
Tahun 20112031 (Lembaran
Daerah Kabupaten Temanggung
Tahun 2012 Nomor 1, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten
Temanggung Nomor 1);
31. Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun
2012 tentang Izin Pemanfaatan
Ruang (Lembaran Daerah Dengan Persetujuan Bersama
8. Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang selanjutnya
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH disingkat LP2B adalah bidang lahan pertanian yang
KABUPATEN TEMANGGUNG ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara
dan konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi
BUPATI TEMANGGUNG kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional.
9. Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah wilayah
MEMUTUSKAN : budidaya pertanian terutama pada wilayah perdesaan yang
memiliki hamparan Lahan Pertanian Pangan
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG Berkelanjutan dan/atau hamparan Lahan Cadangan
PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN Pertanian Pangan Berkelanjutan serta unsur
BERKELANJUTAN penunjangnya dengan fungsi utama untuk mendukung
kemandirian, ketahanan dan kedaulatan nasional.
BAB I 10. Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
KETENTUAN UMUM adalah sistem dan proses dalam merencanakan dan
menetapkan, mengembangkan, memanfaatkan dan
Pasal 1 membina, mengendalikan dan mengawasi lahan pertanian
pangan dan kawasannya secara berkelanjutan.
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 11. Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan atau nilai
1. Daerah adalah Kabupaten Temanggung. kesesuaian lahan tersebut ditentukan oleh kecocokan
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah antara persyaratan tumbuh/hidup komoditas yang
sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. bersangkutan dengan kualitas, karakteristik lahan yang
3. Bupati adalah Bupati Temanggung. mencakup aspek iklim, tanah dan terrain (topografi, lereng
4. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat dan elevasi)
SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten 12. Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang
Temanggung selanjutnya disingkat LCP2B adalah lahan potensial yang
5. Pertanian adalah bidang lahan yang digunakan untuk dilindungi pemanfaatannya agar kesesuaian dan
usaha pertanian. ketersediaannya tetap terkendali untuk dimanfaatkan
6. Rencana Tata Ruang dan Wilayah Daerah yang selanjutnya sebagai LP2B pada masa yang akan datang.
disingkat RTRW adalah Peraturan Daerah Kabupaten 13. Pertanian Pangan adalah usaha manusia untuk mengelola
Temanggung Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata lahan dan agroekosistem dengan bantuan teknologi,
Ruang Wilayah Kabupaten Temanggung Tahun 2011- modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk mencapai
2031. kedaulatan dan ketahanan pangan serta kesejahteraan
7. Lahan adalah bagian daratan dari permukaan bumi rakyat.
sebagai suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah beserta 14. Kedaulatan Pangan adalah hak Daerah yang secara
segenap faktor yang mempengaruhi penggunaannya mandiri dapat menentukan kebijakan pangannya, yang
seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang menjamin hak atas pangan bagi masyarakatnya, serta
terbentuk secara alami maupun akibat pengaruh manusia. memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan
sistem pertanian pangan yang sesuai dengan potensi
sumber daya lokal.
15. Setiap Orang adalah perorangan, kelompok orang, atau
korporasi, baik yang berbentuk badan hukum maupun BAB II
bukan badan hukum. ASAS, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP
16. Kepentingan Umum adalah kepentingan bangsa, negara,
dan masyarakat yang harus diwujudkan oleh Pemerintah Pasal 2
dan/atau Pemerintah Daerah dan digunakan sebesar-
besarnya untuk kemakmuran rakyat. LP2B diselenggarakan berdasarkan asas :
17. Alih Fungsi Lahan Pertanian adalah perubahan fungsi a. manfaat;
Lahan Pertanian menjadi bukan Lahan Pertanian baik b. keberlanjutan dan konsisten;
secara tetap maupun sementara. c. keterpaduan;
18. Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk d. keterbukaan dan akuntabilitas;
menunjang pertanian. e. kebersamaan dan gotong royong;
19. Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan f. partisipatif;
pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang g. keadilan;
diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, h. keserasian, keselarasan dan keseimbangan;
penggunaan, dan pembuangan air irigasi. i. kelestarian lingkungan dan kearifan lokal;
20. Sistem Informasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan j. desentralisasi;
adalah kesatuan komponen yang terdiri atas kegiatan yang k. tanggung jawab daerah;
meliputi penyediaan data, penyeragaman, penyimpanan l. keragaman; dan
dan pengamanan, pengolahan, pembuatan produk m. sosial dan budaya.
informasi, penyampaian produk informasi dan penggunaan
informasi yang terkait satu sama lain, serta Pasal 3
penyelenggaraan mekanismenya pada Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan. Peraturan Daerah ini bertujuan untuk :
21. Penyidikan Tindak Pidana di bidang tata ruang adalah a. mengendalikan dan melindungi LP2B;
serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk b. menjamin tersedianya LP2B;
mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu c. mewujudkan kemandirian, ketahanan dan kedaulatan
membuat terang tindak pidana dibidang tata ruang yang pangan;
terjadi serta menemukan tersangkanya. d. melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik
22. Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, petani;
Pejabat atau Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas dan e. meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani
wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan dan masyarakat;
penyidikan. f. meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani;
23. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat g. mempertahankan keseimbangan ekologis;
PPNS adalah Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil tertentu h. mewujudkan revitalisasi pertanian;dan
di lingkungan Pemerintah Daerah yang diberi wewenang i. meningkatkan optimalisasi pemanfaatan investasi
khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan infrastruktur pertanian.
penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah.
Pasal 4
c. Kondisi lahan yang dimungkinkan untuk menjadi lahan
Ruang lingkup Peraturan Daerah ini meliputi : pengganti.
a. Penetapan LP2B dan LCP2B;
b. Pengendalian Alih Fungsi LP2B. Bagian Ketiga
Peta LP2B dan LCP2B
BAB III Pasal 7
PENETAPAN LP2B DAN LCP2B
Bagian Kesatu Peta LP2B dan LCP2B tercantum dalam Lampiran yang
Penetapan LP2B merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah
ini.
Pasal 5
Pasal 8
(1) Pemerintah Daerah menetapkan LP2B Tahun 2011 - 2031.
(2) Luas LP2B sebagaimana tertuang dalam RTRW adalah Peta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dikecualikan dari
seluas 20.709 Ha. LP2B dan LCP2B sebagai berikut :
(3) Luas lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) a. jalan nasional dengan ketentuan 100 m dari garis
merupakan luas yang harus dipertahankan sampai tahun sempadan jalan;
2031. b. jalan provinsi dengan ketentuan 50 m dari garis sempadan
(4) Penetapan LP2B dilaksanakan melalui tahapan: jalan; dan
a. inventarisasi data; c. jalan kabupaten tertentu dengan ketentuan 25 m dari garis
b. pemaduan data spasial dengan peta arahan ruang dari sempadan jalan.
RTRW;
c. koordinasi dengan instansi terkait;
d. menampung aspirasi masyarakat ;dan
e. pemetaan secara detail berdasar prioritas pertumbuhan Bagian Keempat
wilayah. Kriteria LP2B dan LCP2B
Bagian Kedua
Penetapan LCP2B Pasal 9

Pasal 6 Lahan yang dapat ditetapkan menjadi LP2B dan LCP2B harus
memenuhi kriteria:
(1) Pemerintah Daerah menetapkan LCP2B. a. berada pada lahan yang mendukung produktivitas;
(2) Luas LCP2B sebagaimana tertuang dalam RTRW adalah b. memiliki potensi teknis dan kesesuaian lahan untuk
seluas 5.000Ha. pertanian pangan;
(3) Penetapan LCP2B sebagaimana dimaksud pada ayat (1) c. didukung infrastruktur dasar; dan/atau
berpedoman pada : d. telah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian pangan.
a. LP2B;
b. Peta Arahan Ruang dari RTRW; dan BAB IV
OPTIMALISASI LP2B dan LCP2B
a. menjaga dan memanfaatkan tanah sesuai peruntukan;
Pasal 10 dan
b. mencegah kerusakan irigasi.
OptimalisasiLP2B dan LCP2Bmeliputi : (2) Setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
a. intensifikasi lahan; berperan serta dalam:
b. pembangunandan peningkatan infrastruktur irigasi. a. menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah;
b. mencegah kerusakan lahan; dan
c. memelihara kelestarian lingkungan.
Pasal 11 (3) Setiap orang yang memiliki hak atas tanah yang
ditetapkan sebagai LP2B dan LCP2B yang tidak
Intensifikasi lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada
huruf a dilakukan dengan : ayat (1) dan menimbulkan akibat rusaknya lahan
a. peningkatan kesuburan tanah; pertanian, wajib untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
b. peningkatan kualitas benih/bibit;
c. diversifikasi tanaman pangan;
d. pencegahan dan penanggulangan hama/penyakit
tanaman;
e. pemanfaatan teknologi pertanian; BAB VI
f. pengembangan inovasi pertanian; dan PENGENDALIAN
g. penyuluhan pertanian. Bagian Kesatu
Umum
BAB V
PEMANFAATAN Pasal 14

Pasal 12 (1) Pengendalian LP2B dan LCP2B dilakukan secara


terkoordinasi.
(1) Pemanfaatan LP2B dan LCP2B dilakukan dengan (2) Bupati menunjuk Dinas/Instansi Pengendali Tata Ruang
menjamin pengelolaan konservasi tanah dan air. untuk melakukan koordinasi pengendalian sebagaimana
(2) Pemerintah Daerah bertanggungjawab terhadap dimaksud pada ayat (1)
pelaksanaaan konservasi tanah dan air yang meliputi :
a. perlindungan sumber daya lahan dan air;
b. pelestarian sumber daya lahan dan air; Pasal 15
c. pengelolaan kualitas lahan dan air; dan
d. pengendalian pencemaran. Pengendalian LP2Bdan LCP2B sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 14 ayat (1) melalui pemberian :
Pasal 13 a. mekanisme perizinan;
b. proteksi / perlindungan; dan
(1) Setiap orang yang memiliki hak atas tanah yang c. penyuluhan.
ditetapkan sebagai LP2B dan LCP2B berkewajiban :
Bagian Kedua c. waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran air
Insentif minum, saluran pembuangan air dan sanitasi, dan
bangunan pengairan lainnya;
Pasal 16 d. pelabuhan, bandar udara, dan terminal;
e. infrastruktur minyak, gas, dan panas bumi;
Pemerintah Daerah memberikan Insentif perlindungan LP2B f. pembangkit, transmisi, gardu, jaringan, dan distribusi
dan LCP2B kepada petani berupa: tenaga listrik;
a. bantuan keringanan pajak bumi dan bangunan; g. jaringan telekomunikasi dan informatika Pemerintah;
b. pengembangan infrastruktur pertanian; h. tempat pembuangan dan pengolahan sampah;
c. pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan i. rumah sakit Pemerintah/Pemerintah Daerah;
varietas unggul; j. fasilitas keselamatan umum;
d. kemudahan dalam mengakses informasi dan teknologi; k. tempat pemakaman umum;
e. penyediaan sarana produksi pertanian; l. fasilitas sosial, fasilitas umum, dan ruang terbuka
f. bantuan dana penerbitan sertifikat hak atas tanah; hijau publik;
dan/atau m. cagar alam dan cagar budaya;
g. penghargaan bagi Petani. n. kantor Pemerintah/Pemerintah Daerah/desa;
o. penataan permukiman kumuh perkotaan dan/ atau
BAB VII konsolidasi tanah, serta perumahan untuk masyarakat
ALIH FUNGSI LP2B DAN LCP2B berpenghasilan rendah dengan status sewa;
p. prasarana pendidikan atau sekolah
Pasal 17 Pemerintah/Pemerintah Daerah;
q. prasarana olahraga Pemerintah/Pemerintah Daerah;
(1) Lahan yang sudah ditetapkan sebagai LP2B dan LCP2B dan
dilindungi dan dilarang dialihfungsikan. r. pasar umum dan lapangan parkir umum.
(2) Alih fungsi LP2B dan LCP2B hanya dapat dilakukan oleh (2) Selain kepentingan umum sebagaimana dimaksud pada
Pemerintah atau Pemerintah Daerah dalam rangka: ayat (1) alih fungsi lainnya yang ditentukan oleh undang-
a. pengadaan tanah untuk kepentingan umum; atau undang.
b. terjadi bencana. (3) Rencana pembangunan untuk kepentingan umum
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus sesuai dalam
rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana rinci tata
Pasal 18 ruang.

(1) Alih fungsi LP2B dan LCP2B yang dilakukan dalam rangka Pasal 19
pengadaan tanah untuk kepentingan umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf a meliputi: Alih fungsi LP2B dalam rangka pengadaan tanah untuk
a. pertahanan dan keamanan nasional; kepentingan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
b. jalan umum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, ayat (2) huruf a hanya dapat dilakukan dengan persyaratan:
stasiun kereta api, dan fasilitas operasi kereta api; a. memiliki kajian kelayakan strategis;
b. mempunyai rencana alih fungsi lahan;
c. pembebasan kepemilikan hak atas tanah; dan Pasal 23
d. ketersediaan lahan pengganti terhadap LP2B yang
dialihfungsikan. (1) Ketersediaan lahan pengganti sebagaimana dimaksud
dalam Pasal19 huruf d harus memenuhi kriteria
Pasal 20 kesesuaian lahandan dalam kondisi siap tanam.
(2) Ketersediaan lahan pengganti sebagaimana dimaksud
Kajian kelayakan strategis sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (1) dapat diperoleh dari:
Pasal 19 huruf a paling sedikit mencakup: a. pembukaan lahan baru pada LCP2B ;
a. luas dan lokasi yang akan dialihfungsikan; b. pengalihfungsian lahan dari bukan pertanian ke LP2B
b. potensi kehilangan hasil; terutama dari tanah terlantar dan/atau tanah bekas
c. resiko kerugian investasi; dan Lahan hutan; atau
d. dampak ekonomi, lingkungan, sosial, dan budaya. c. penetapan lahan pertanian pangan sebagai LP2B.

Pasal 21 Pasal 24

Rencana alih fungsi lahan sebagaimana dimaksud dalam Penyediaan lahan pengganti terhadap LCP2B yang
Pasal 19 huruf b paling sedikit mencakup: dialihfungsikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf
a. luas dan lokasi yang akan dialihfungsikan; c dilakukan atas dasar kesesuaian lahan, dengan ketentuan
b. jadwal alih fungsi; sebagai berikut:
c. luas dan lokasi lahan pengganti; a. paling sedikit tiga kali luas lahan dalam hal yang
d. jadwal penyediaan lahan pengganti; dan dialihfungsikan lahan beririgasi teknis;
e. pemanfaatan lahan pengganti. b. paling sedikit dua kali luas lahan dalam hal yang
dialihfungsikan lahan irigasi setengah teknis; dan
c. paling sedikit satu kali luas lahan dalam hal yang
Pasal 22 dialihfungsikan lahan tidak beririgasi.

(1) Pembebasan kepemilikan hak atas tanah pada lahan Pasal 25


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c dilakukan
dengan memberikan ganti rugi oleh pihak yang melakukan Penetapan suatu kejadian sebagai bencana sebagaimana
alih fungsi. dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b dilakukan oleh
(2) Besaran ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Badan yang berwenang dalam urusan penanggulangan
dilakukan oleh Tim Penilai yang ditetapkan oleh Lembaga bencana sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-
Pertanahan sesuai dengan ketentuan Peraturan undangan.
perundang-undangan.
(3) Pelaksanaan pembebasan kepemilikan hak atas tanah Pasal 26
pada LP2B sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c
dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang- Dalam hal alih fungsi LP2B dan LCP2B untuk kepentingan
undangan. umum dan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (2) lahan pengganti wajib disediakan oleh Pemerintah
Daerah Pasal 30

BAB VIII (1) Pemerintah Daerah wajib melakukan:


PERAN SERTA MASYARAKAT a. pembinaan kepada setiap orang yang terikat dengan
pemanfaatan LP2B;
Pasal 27 b. perlindungan terhadap LP2B.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
(1) Masyarakat berperan serta dalam perlindungan Kawasan meliputi:
Pertanian Pangan Berkelanjutan dan LP2B. a. koordinasi;
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat b. sosialisasi;
(1) dapat dilakukan secara perorangan dan/atau c. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
berkelompok. d. pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kepada
(3) Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masyarakat;
dilakukan dalam tahapan: e. penyebarluasan informasi Kawasan Pertanian Pangan
a. perencanaan; Berkelanjutan dan LP2B; dan/atau
b. pengembangan; f. peningkatan kesadaran dan tanggung jawab
c. penelitian; masyarakat.
d. pengawasan; (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan sebagaimana
e. pemberdayaan petani; dan/atau dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Bupati.
f. pembiayaan.
BAB X
Pasal 28 PENGAWASAN

Dalam hal Perlindungan LP2B, masyarakat berhak : Pasal 31


a. mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang
terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana Untuk menjamin tercapainya Perlindungan LP2B pengawasan
LP2B di wilayahnya; dilakukan oleh SKPD yang membidangi.
b. mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian
pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana LP2B. Pasal 32

Pasal 29 Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 meliputi :


a. pelaporan;
Tata cara pengajuan keberatan dan tuntutan pembatalan izin b. pemantauan; dan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 diatur lebih lanjut c. evaluasi.
dengan Peraturan Bupati.
Pasal 33
BAB IX
PEMBINAAN
(1) Pemerintah Daerah menyampaikan laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 huruf a kepada Pemerintah (1) Penyebaran informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35
Provinsi paling sedikit satu kali dalam satu tahun. dilakukan sampai kecamatan dan desa.
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi (2) Bupati mengkoordinasikan Sistem Informasi untuk
kinerja perencanaan dan penetapan, pengembangan, keperluan Perlindungan LP2B sebagaimana dimaksud dalam
pembinaan dan pemanfaatan serta pengendalian. Pasal 35.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi
Pasal 34 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 diatur dengan
Peraturan Bupati.
(1) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 huruf b dan c dilakukan dengan mengamati dan
memeriksa laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33
ayat (2) sesuai pelaksanaan di lapangan.
(2) Apabila hasil pemantauan dan evaluasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terbukti terjadi penyimpangan,
maka Bupati mengambil langkah penyelesaian sesuai BAB XII
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang SANKSI ADMINISTRATIF
berlaku.
Pasal 37
BAB XI
SISTEM INFORMASI (1) Setiap orang yang melanggar kewajiban atau larangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) dan Pasal
Pasal 35 17ayat (1) dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(1) Pemerintah Daerah menyelenggarakan Sistem Informasi dapat berupa:
LP2B yang dapat diakses oleh masyarakat melalui: a. peringatan tertulis;
a. media elektronik internet; b. pencabutan insentif;
b. media elektronik intranet pusat informasi LP2B daerah; c. penghentian sementara kegiatan;
dan/atau d. penutupan lokasi;
c. media cetak. e. pembongkaran bangunan;dan
(2) Sistem informasi LP2B sekurang-kurangnya memuat data f. pemulihan fungsi lahan.
lahan tentang: (3) Tata cara pemberian sanksi administratif sebagaimana
a. kawasan pertanian pangan berkelanjutan; dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Bupati.
b. LP2B; dan
c. LCP2B. BAB XII
(3) Data lahan dalam sistem informasi LP2B sebagaimana PENYIDIKAN
dimaksud pada ayat (2) memuat informasi tentang luas dan
lokasi lahan;
Pasal 38
Pasal 36
(1) Pejabat PPNS di lingkungan Pemerintah Daerah diberi i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan
wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan diperiksa;
penyidikan tindak pidana dibidang pelanggaran Peraturan j. menghentikan penyidikan; dan
Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran
Hukum Acara Pidana. penyidikan tindak pidana menurut hukum yang dapat
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah dipertanggungjawabkan.
pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan (4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Pemerintah Daerah yang diangkat oleh pejabat yang memberitahukan dimulainya penyidikan dan
berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut
perundang-undangan yang berlaku. Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik
(3) Wewenang PPNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
adalah: Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti
keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak BAB XIV
pidana dimaksud agar keterangan atau laporan KETENTUAN PIDANA
tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan Pasal 39
mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran
perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 13 ayat (3)
pidana tersebut; dipidana paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).
pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana; (2) Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 17 ayat (1)
d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen dipidana paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
lain berkenaan dengan tindak pidana serta melakukan banyak Rp 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah).
penyitaan terhadap bahan bukti tersebut; (3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan ayat (2) adalah Pelanggaran.
bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain,
serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti BAB XV
tersebut; KETENTUAN PENUTUP
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka
pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana; Pasal 40
g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang
meninggalkan ruangan atau tempat pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal
pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa diundangkan.
identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang
dibawa; Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya
pidana; dalam Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung.
Ditetapkan di Temanggung NIP. 19600227 198303 1 013
pada tanggal 19 Juni 2014

BUPATI TEMANGGUNG,

Ttd

M. BAMBANG SUKARNO

Diundangkan di Temanggung
pada tanggal 19 Juni 2014

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN TEMANGGUNG,

Ttd

BAMBANG AROCHMAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN


2014 NOMOR 2

NOREG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG,


PROVINSI JAWA TENGAH : (29/2014)

Salinan sesuai dengan aslinya


Kepala Bagian Hukum
Sekretariat Daerah
Kabupaten Temanggung

Widiatmoko, SH.MM
Pembina Tingkat I
petani, penyediaan lapangan kerja, mempertahankan
PENJELASAN ATAS keseimbangan ekologis, serta mewujudkan revitalisasi
PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG pertanian.
NOMOR 2 TAHUN 2014 Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka
TENTANG perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang
PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
BERKELANJUTAN

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL


Bahwa lahan pertanian pangan merupakan Pasal 1
sumber daya alam yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Cukup jelas.
Maha Esa yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan Pasal 2
untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan Huruf a
kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan oleh Yang dimaksud dengan manfaat adalah
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Perlindungan LP2B yang diselenggarakan untuk
Tahun 1945. Sedangkan disisi lain pertambahan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
penduduk, perkembangan ekonomi dan industri kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik
mengakibatkan terjadinya degradasi, alih fungsi dan generasi kini maupun generasi masa depan.
fragmentasi lahan pertanian pangan yang telah Huruf b
menurunkan daya dukung wilayah dalam menjaga Yang dimaksud dengan keberlanjutan dan
kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan.Oleh konsisten adalah Perlindungan LP2B yang fungsi,
karena itu dalam upaya terwujudnya kemandirian, pemanfaatan, dan produktivitas lahannya
ketahanan dan kedaulatan pangan di daerah untuk dipertahankan secara konsisten dan lestari untuk
mendukung kebutuhan pangan nasional. menjamin terwujudnya kemandirian, ketahanan,
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dan kedaulatan pangan nasional dengan
dalam menyelamatkan lahan pertanian pangan dari memperhatikan generasi masa kini dan masa
degradasi, fragmentasi dan alih fungsi lahan pertanian mendatang.
pangan ke non-pertanian adalah dengan mengeluarkan Huruf c
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Yang dimaksud dengan keterpaduan adalah
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Perlindungan LP2B yang diselenggarakan dengan
serta diimplementasikan dalam Peraturan Pemerintah mengintegrasikan berbagai kepentingan yang
Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih bersifat lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas
Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dengan pemangku kepentingan.
tujuan melindungi lahan pertanian pangan secara
berkelanjutan, menjamin tersedianya lahan pertanian Huruf d
pangan secara berkelanjutan, mewujudkan Yang dimaksud dengan keterbukaan dan
kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan, akuntabilitas adalah Perlindungan LP2B yang
melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik diselenggarakan dengan memberikan akses yang
petani, meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk
mendapatkan informasi yang berkaitan dengan Yang dimaksud dengan tanggung jawab negara
Perlindungan LP2B. adalah Perlindungan LP2B yang dimiliki negara
Huruf e karena peran yang kuat dan tanggung jawabnya
Yang dimaksud dengan kebersamaan dan gotong- terhadap keseluruhan aspek pengelolaan LP2B.
royong adalah Perlindungan LP2B yang Huruf l
diselenggarakan secara bersama-sama baik antara Yang dimaksud dengan keragaman adalah
Pemerintah, pemerintah daerah, pemilik lahan, Perlindungan LP2B yang memperhatikan
petani, kelompok tani, dan dunia usaha untuk keanekaragaman pangan pokok, misalnya padi,
meningkatkan kesejahteraan petani. jagung, sagu, dan ubi kayu.
Huruf f Huruf m
Yang dimaksud dengan partisipatif adalah Yang dimaksud dengan sosial dan budaya adalah
Perlindungan LP2B yang melibatkan masyarakat Perlindungan LP2B yang memperhatikan fungsi
dalam perencanaan, pembiayaan, dan pengawasan. sosial lahan dan pemanfaatan lahan sesuai budaya
Huruf g yang bersifat spesifik lokasi dan kearifan lokal
Yang dimaksud dengan keadilan adalah misalnya jagung sebagai makanan pokok penduduk
Perlindungan LP2B yang harus mencerminkan Pulau Madura dan sagu sebagai makanan pokok
keadilan secara proporsional bagi setiap warga penduduk Kepulauan Maluku.
negara tanpa terkecuali. Pasal 3
Huruf h Cukup jelas.
Yang dimaksud dengan keserasian, keselarasan, Pasal 4
dan keseimbangan adalah Perlindungan LP2B Cukup jelas
yang harus mencerminkan keserasian, keselarasan, Pasal 5
dan keseimbangan antara kepentingan individu dan Ayat (1)
masyarakat, lingkungan, dan kepentingan bangsa Lahan Pertanian Pangan yang ditetapkan sebagai
dan negara serta kemampuan maksimum daerah. LP2B dapat berupa:
Huruf i a. lahan beririgasi; dan/atau
Yang dimaksud dengan kelestarian lingkungan b. lahan tidak beririgasi
dan kearifan lokal adalah Perlindungan LP2B yang Ayat (2)
harus memperhatikan kelestarian lingkungan dan Cukup jelas
ekosistemnya serta karakteristik budaya dan Ayat (3)
daerahnya dalam rangka mewujudkan Cukup jelas
pembangunan yang berkelanjutan. Ayat (4)
Huruf j Cukup jelas
Yang dimaksud dengan desentralisasi adalah Pasal 6
Perlindungan LP2B yang diselenggarakan di daerah Ayat (1)
dengan memperhatikan kemampuan maksimum Lahan Pertanian Pangan yang ditetapkan sebagai
daerah. LCP2B dapat berupa:
Huruf k a. lahan beririgasi; dan/atau
b. lahan tidak beririgasi
Ayat (2) Cukup jelas
Cukup jelas Ayat (2)
Ayat (3) Koordinasi pengendalian LP2B dan LCP2B
Cukup jelas dilakukan oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang
Pasal 7 Daerah yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati
Cukup Jelas Pasal 15
Pasal 8 Cukup jelas.
Huruf a Pasal 16
Cukup jelas Cukup jelas.
Huruf b Pasal 17
Cukup jelas Cukup jelas.
Huruf c Pasal 18
Yang dimaksud dengan jalan kabupaten tertentu Ayat (1)
adalah jalan kabupaten yang dimungkinkan Huruf a
menjadi kawasan cepat tumbuh dan tidak masuk Cukup jelas.
dalam LP2B dan LCP2B sesuai dengan lampiran Huruf b
peta. Cukup jelas.
Pasal 9 Huruf c
Cukup jelas Cukup jelas.
Pasal 10 Huruf d
Cukup jelas. Cukup jelas.
Pasal 11 Huruf e
Cukup jelas. Cukup jelas.
Pasal 12 Huruf f
Cukup jelas Cukup jelas.
Pasal 13 Huruf g
Ayat (1) Cukup jelas.
Cukup jelas Huruf h
Ayat (2) Cukup jelas
Cukup jelas Huruf i
Ayat (3) Cukup jelas.
Kerusakan lahan pertanian adalah perubahan Huruf j
langsung maupun tidak langsung terhadap sifat fisik Yang dimaksud dengan "fasilitas keselamatan
dan atau hayatinya yang menyebabkan kerusakan umum" adalah sarana dan prasarana yang
irigasi dan kerusakan lahan pertanian sehingga dibangun dan/atau dimanfaatkan untuk
menyebabkan lahan tidak lagi dapat berfungsi dalam penampungan masyarakat yang mengalami
menunjang pembangunan berkelanjutan. musibah baik yang disebabkan oleh bencana
Pasal 14 alam dan atau akibat yang lain.
Ayat (1) Huruf k
Cukup jelas. Pasal 23
Huruf l Ayat (1)
Cukup jelas Yang dimaksud dengan "siap tanam" adalah kondisi
Huruf m lahan yang dibuka dan telah dilakukan pembukaan
Cukup jelas lahan, pembersihan lahan, dan siap digunakan untuk
Huruf n budidaya tanaman pangan.
Cukup jelas Ayat (2)
Huruf o Huruf a.
Cukup jelas Cukup jelas
Huruf p
Cukup jelas
Huruf q Huruf b
Cukup jelas Yang dimaksud dengan "tanah terlantar" adalah
Huruf r tanah yang sudah diberikan hak oleh negara
Cukup jelas berupa hak milik, hak guna usaha, hak guna
Ayat (2) bangunan, hak pakai, hak pengelolaan atau dasar
Cukup jelas penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan,
Ayat (3) tidak dipergunakan atau tidak dimanfaatkan
Cukup jelas sesuai dengan keadaannya atau sifat dan
Pasal 19 tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya.
Cukup jelas Yang dimaksud dengan "tanah bekas kawasan
Pasal 20 hutan" adalah tanah yang sudah diberikan dasar
Huruf a penguasaan atas tanah tetapi sebagian atau
Cukup jelas seluruhnya tidak dimanfaatkan selama 1 (satu)
Huruf b tahun atau lebih sesuai dengan
Cukup jelas. izin/keputusan/surat yang berwenang dan tidak
Huruf c ditindaklanjuti dengan permohonan hak atas
Cukup jelas tanah
Huruf d Huruf c
Yang dimaksud dengan "dampak ekonomi, Cukup jelas
lingkungan, sosial, dan budaya" adalah kajian Pasal 24
kelayakan strategis alih fungsi LP2B Cukup jelas.
memperhitungkan keuntungan dan kerugian Pasal 25
ekonomis, dampak positif dan negatif terhadap Cukup jelas.
lingkungan dan sosial budaya. Pasal 26
Pasal 21 Cukup jelas.
Cukup jelas Pasal 27
Pasal 22 Ayat (1)
Cukup jelas. Cukup jelas.
Ayat (2) sistem informasi, perlindungan dan pemberdayaan
Cukup jelas. petani, serta pembiayaan dan peran serta masyarakat
Ayat (3) dalam rangka Perlindungan LP2B.
Huruf a Huruf b
perencanaan dilakukan melalui pemberian Cukup jelas.
usulan, tanggapan dan saran perbaikan atas Huruf c
pemerintah daerah dalam perencanaan; Cukup jelas.
Huruf d
Huruf b Cukup jelas.
pengembangan dilakukan melalui Huruf e
pelaksanaan kegiatan intensifikasi dan Cukup jelas.
ekstensifikasi lahan dalam pengembangan Huruf f
LP2B; Cukup jelas.
Huruf c Ayat (3)
penelitian mengenai usaha tani dalam Cukup jelas
rangka pengembangan perlindungan Pasal 32
Kawasan LP2B; Cukup jelas.
Huruf d Pasal 33
pengawasan dilakukan melalui Cukup jelas.
penyampaian laporan dan pemantauan Pasal 34
terhadap kinerja pemerintah daerah; Cukup jelas.
Huruf e Pasal 35
Cukup jelas. Cukup jelas.
Huruf f Pasal 36
Cukup jelas. Cukup jelas.
Pasal 28 Pasal 37
Cukup jelas. Cukup jelas.
Pasal 29 Pasal 38
Cukup jelas. Cukup jelas.
Pasal 30 Pasal 39
Cukup jelas. Cukup jelas.
Pasal 31 Pasal 40
Ayat (1) Cukup jelas
Cukup jelas.
Ayat (2) TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN
Huruf a TEMANGGUNG TAHUN 2014 NOMOR 45
Koordinasi untuk melaksanakan perlindungan
meliputi koordinasi perencanaan dan penetapan,
pemanfaatan, pembinaan, pengendalian, pengawasan