Vous êtes sur la page 1sur 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Sistem
Kardiovaskuler. Kami berterima kasih pada Bapak Ando Fikri.,S.Kep.,Ners.,MAN selaku
Dosen Pembimbing Tutorial Sistem Kardiovaskuler yang telah sabar membimbing kami.
Kami juga berterimakasih kepada Ibu Wulan Ambasari.,S.Kep.,Ners.,MAN selaku
koordinator mata kuliah Sistem Kardiovaskuler.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Cimahi, 26 September 2016

Penyusun
DAFTAR ISI
!Unexpected End of Formula

DAFTAR ISI............................................................................................................. 2

BAB I...................................................................................................................... 3

PENDAHULUAN....................................................................................................... 3

A. LATAR BELAKANG.............................................................................................. 3

BAB II...................................................................................................................................................4

TINJAUAN TEORITIS.........................................................................................................................4

A. DEFINISI.........................................................................................................................................4

B. ETIOLOGI............................................................................................................ 5

C. PATOFISIOLOGI.............................................................................................................................6

D. PATHWAY ........................................................................................................... 7

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN.................................................................................11

G. DISCHARGE PLANNING..................................................................................... 11

H. ASUHAN KEPERAWATAN AKUT MIOKARD INFARK (AMI)................................................12

I.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit jantung bawaan terdiri dari berbagai jenis dan salah satunya adalah
Tetralogi of Fallot.Yang mana Tetralogi of Fallot adalah suatu penyakit dengan kelainan
bawaan yang merupakan kelainan jantung bawaan sianotik yang paling banyak dijumpai.
Kelainan ini mula mula dilaporkan pada tahun 1671, tetapi baru diformulasikan oleh
Fallot pada tahun 1888.
Tetralogi fallot menempati urutan keempat dari angka kejadian penyakit jantung
bawaan pada anak, setelah defek septum ventrikel, defek septum atrium dan duktus
arteriosus persisten atau lebih kurang 10-15% dari seluruh penyakit jantung bawaan.Di
antara penyakit jantung bawaan sianotik, tetralogi fallot merupakan 2/3 nya.Dari
banyaknya kasus kelainan jantung serta kegawatan yang ditimbulkan akibat kelainan
jantung bawaan ini, maka sebagai seorang perawat dituntut untuk mampu mengenali
tanda kegawatan dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Tetralogi Of


Fallot (TOF)

C. TUJUAN PENULIS
2. Mampu menyusun serta melakukan manajemen asuhan keperawatan pada klien
dengan Tetralogi Of Fallot (TOF)
3. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan Tetralogi Of Fallot (TOF)
4. Mampu menetapkan diagnosa keperawatan dengan klien Tetralogi Of Fallot
(TOF)
5. Mampu menentukan intervensi keperawatan yang tepat pada klien dengan
Tetralogi Of Fallot (TOF)

BAB II

TINJAUAN TEORI

Tetralogi Of Fallot (TOF)


A. Definisi
Tetralogi Fallot adalah kelainan jantung bawaan dengan gejala sianosis yang timbul
sejak bayi lahir dan bertambah nyata jika bayi menangis / menetek lama (Ngastiyah :
1997). Tetralogi of Fallot (TOF) adalah kelainan jantung kongenital dengan gangguan
sianosis yang ditandai dengan kombinasi empat hal yang abnormal meliputi Defek
septum ventrikel, Stenosis pulmonal, overriding aorta dan hipertrofi ventrikel kanan.
TOF adalah merupakan defek jantung yang terjadi secara konginetal dimana secara
khusus mempunyai empat kelainan anatomi pada jantungnya. TOF ini adalah merupakan
penyebab tersering pada Cyanotic Heart Defect dan juga pada Blue Baby Syndrome.
B. Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui secara
pasti.diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor-faktor tersebut antara
lain:
1. Faktor endogen
- Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom
- Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
- Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti Diabetes Melitus, Hipertensi,
penyakit jantung atau kelainan bawaan.
2. Faktor eksogen
- Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut KB oral atau suntik, minum obat-
obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dekstroamphetamine, aminopterin,
amethopterin, jamu)
- Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella
- Pajanan terhadap sinar-X
- Gizi yang buruk selama hamil
- Ibu yang alkoholik
- Usia ibu di atas 40 tahun
(Sumber : Ilmu Kesehatan Anak, 2001)

Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah
menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab
adalah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan pada faktor penyebab harus ada
sebelum akhir bulan kedua kehamilan, oleh karena pada Minggu ke-8 kehamilan
pembentukan jantung janin sudah selesai.

Tetralogi Fallot dimasukan kedalam kelainan jantung sianotik karena terjadi


pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga
terjadi sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas. Mungkin gejala
sianotik baru timbul dikemudikan hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik
karena menyusu atau menangis.
C. Klasifiksi
TOF dibagi dalam 4 derajat :
1. Derajat I : tak sianosis, kemampuan kerja normal
2. Derajat II : Sianosis waktu kerja, kemampuan kerja kurang
3. Derajat III : Sianosis waktu istirahat, kuku terlihat cembung, saat beraktifitas sianosis
bertambah, ada dispneu.
4. Derajat IV : Sianosis dan dispneu istirahat, clubbing fingers.
D. Patofisiologi
Biasanya sisi kiri jantung hanya memompa darah ke seluruh tubuh dan sisi kanan
jantung memompa darah hanya ke paru-paru. Pada anak dengan TOF darah dapat
melakukan perjalanan melintasi lubang (VSD) dari ventrikel kanan ke ventrikel kiri dan
keluar ke dalam aorta. Obstruksi pada katup pulmonal dari ventrikel kanan ke arteri
pulmonalis mencegah jumlah normal darah dari yang dipompa ke paru-paru. Kadang-
kadang katup pulmonal benar-benar terhalang yang disebut pulmonal atresia.
Pada kenyataannya, hanya dua kelainan yang diperlukan pada TOF yaitu VSD yang
cukup besar untuk menyamakan tekanan di kedua ventrikel dan stenosis pulmonal.
Hipertrofi ventrikel kanan merupakan efek sekunder dari stenosis pulmonal. Aliran
ventrikel kanan adalah obstruksi saluran paling sering dalam bentuk stenosis infundibular
sebanyak 45%. Obstruksi jarang pada tingkat katup pulmonal sekitar 10%. Sebuah
kombinasi dari dua juga dapat terjadi dengan angka kejadian 30%. Katup pulmonal
atretik adalah salah satu anomali yang berat dengan angka kejadian sekitar 15%. Pada
kebanyakan pasien terjadi Hipoplasia pada anulus pulmonal dan arteri pulmonal.
Cabang-cabang arteri pulmonal biasanya kecil dengan stenosis perifer. Obstruksi pada
arteri pulmonal kiri sangat umum terjadi. Right aotic arc (RAC) juga terjadi dengan
angka kejadian 25% kasus. Pada sekitar 5% dari pasien TOF dapat ditemukan arteri
koroner yang abnormal. Kelainan yang paling umum adalah cabang arterior descening
timbul dari arteri koroner kanan dan melewati saluran keluar ventrikel kanan.
Mekanisme potogenetik dari pembentukan TOF dimulai selama morfogenesis jantung
sebelum septum ventrikel ditutup dengan pembagian ejeksi aliran ventrikel kanan ke
aliran aorta transeptal dan aliran pulmonal infundibular. Ejeksi aliran ventrikel kanan
disebabkan oleh obstruksi aliran oleh katup stenosis pulmonal yang dijumpai hampir
disemua kasus. Aliran aorta transeptal melawati ventrikel yang tidak tertutup septum
sehingga mempertahankan potensi hubungan kedua ventrikel dan memperluas yang
VSD.
E. Pathway
Terpapar faktor eksogen dan endogen
Selama kehamilan trimester I dan II

Kelainan jantung kongenital sianotik

stenosis pulmonal Defek septum ventrikel overiding aorta

obstruksi berat Tekanan sistolik puncak ventrikel


Kanan dan kiri
Penurunan Aliran darah ke paru
Darah masuk ke ventrikel kiri

Penurunan o2 hipertropi ventrikel aliran darah pencampuran


dalam darah kanan aorta meningkat darah o2 dan co2

sesak hipoksemia

kelemahan tubuh sianosis ( blue spell)

anak bayi cepat lelah hipoksia dan laktat Meningkat


meningkat

kejang, penurunan kesadaran penurunan o2 dalam otak

- Gg pertukaran gas

- Pk hipoksemia

- Kurang pengetahuan orang


tua : diagnosis, prognosis,
- Gg nutrisi kurang - Perubahan perfusi
dari kebutuhan jaringan serebral

- Intoleransi aktifitas - Gg integritas kulit

- Gangguan pola
F. Manisfestasi Klinik
1. Sianosis terutama pada bibir dan kuku
2. Bayi mengalami kesulitan untuk menyusu
3. Setelah melakukan aktivitas, anak selalu jongkok (squating) untuk mengurangi
hipoksi dengan posisi knee chest
4. Jari tangan clubbing (seperti tabuh genderang karena kulit atau tulang di sekitar kuku
jari tangan membesar)
5. Pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung lambat
6. Sesak napas jika melakukan aktivitas dan kadang disertai kejang atau pingsan
7. Berat badan bayi tidak bertambah
8. Pada auskultasi terdengar bunyi murmur pada batas kiri sternum tengah sampai
bawah

Serangan sianosis dan hipoksia atau yang disebut blue spell terjadi ketika
kebutuhan oksigen otak melebihi suplainya. Episode biasanya terjadi bila anak
melakukan aktivitas (misalnya menangis, setelah makan atau mengedan).

(Buku ajar Keperawatan Kardiovaskuler, 2001)

G. Kelainan yang timbul


1. Stenosis Pulmonal
2. Dekstroposisi pangkal aorta
3. Defek septum ventrikel
4. Super trofi ventrikel kanan.
H. Komplikasi
1. Infeksi saluran nafas
2. DehidrasiTrombosis OtakAbses Otak
3. Endokarditis Bakterial
4. Gagal Jantung Kongestif.
I. Penatalaksanaan.
1. Penatalaksanaan Medis
a. Antibiotik
b. Diuretik digunakan untuk meningkatkan diuresis.
c. Digitalis meningkatkan kekuatan kontraksi jantung.
d. Besi untuk mengatasi anemia.
e. Propanolol untuk mengatasi turunnya denyut jantung.
f. Morfin (Analgesik)
g. NaHCO3 untuk mengobati asidosis.
2. Penatalaksanaan Bedah.
a. Tindakan paliatik
b. Tindakan definit
J. Landasan Askep
1. Biodata Klien
Sering terjadi pada bayi baru lahir, laki laki/ perempuan sama bayi umur 0 6
bulan sianosis.
2. Keluhan Utama
Bayi sering menetek/menangis Sianosis, Lemah, Dispnea, Hipoksia, Anemia.
3. RPS
Klien malas beraktifitas dan tahap perkembangan anak tidak baik sianosis.
4. RPD
Sering terjadi pada Ibu yang melahirkan berusia tua/ Ibu terkena infeksi Nbella.
5. RPK
Dikeluarga terdapat PJB
6. ADL
a. Pola Nutrisi :Anoreksia menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan
perkembangannya.
b. Pola Aktifitas : Aktifitas terbatas
c. Pola Istirahat Tidur :Tidur terganggu karena Dispnea.
d. Pola Personal Hygiene :Sesuai dengan keterbatasan aktifitas.
7. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Umum
- TD :meningkat.
- Nadi : Bradikardi
- Suhu : Bisa turun bisa naik
- RR : Takipnea
- BB :Kurang dari normal.
b. Pemeriksaan Fisik
- Mata : Konjungtiva pucat.
- Bibir : Sianosis
- Hidung : Pergerakan cuping hidung.
- Dada : Bunyi S1 dan S2 tunggal murmur
- Ekstremitas : Jari jari tabuh
K. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi
oksigen yang rendah.Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan
hematokrit antara 50-65%.nilai AGD menunjukkan peningkatan tekanan partial
karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan
pH.
b. Radiologis
Sinar-X pada thoraks didapat gambaran penurunan aliran darah pulmonal, gambaran
penurunan aliran darah pulmonal, gambaran khas jantung tampak apeks jantung
terangkat sehingga seperti sepatu boot (boot shape).
c. Elektrokardiogram
- Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan.
- Tampak pula hipertrofi ventrikel kanan, kadang terdapat juga hipertrofi atrium
kanan.
- Pada anak yang sudah besar dijumpai P pulmonal
d. Ekokardiografi
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel kanan,
penurunan ukuran arteri pulmonalis dan penurunan aliran darah ke paru-paru.
e. Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui Defek Septum
Ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronaria dan mendeteksi stenosis
pulmonal perifer.Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan
tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah.
L. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.
b. Pengaturan volume cairan berhubungan dengan cardiac output.
c. Perubahan cardiac output (penurunan ) berhubungan dengan fasmasi jantung yang
abnormal.
d. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan penyakit

M. Intervensi

NO
TUJUAN INTERVENSI
DX

1 NOC NIC
1. Monitor kualitas dan respirasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan suatu paru, catat pola suara
selama 3 x 24 jam klien tidak nafas, rales ronchi batuk dan
mengalami penurunan cardiac output, retraksi.
dengan kriteria : Rasional : Identifikasi dini gagal
nafas/ akibat dari odema paru.
- Pertukaran gas menjadi optimal. 2. Latih batuk dan nafas dalam jika
- Klien tidak menunjukkan gejala
bisa.
sianosis. Rasional : Mengeluarkan sekret yang
ada dalam saluran nafas dan melatih
kerja jantung.
3. Posisikan anak lebih tinggi untuk
menambah pengembangan
diafragma secara maksimal.
Rasional : Pengembangan diafragma
secara maksimal akan memudahkan
usaha bernafas.
2 NOC NIC

Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Observasi kualitas dan kekuatan


selama 3x 24 jam klien tidak mengalami apikal, nadi perifer dan warna
intoleransi aktivitas, dengan kriteria : kulit.
Rasional : Nadi perifer dan warna
- Keseimbangan cairan terpenuhi kulit merupakan petunjuk
- Klien tidak menunjukkan gejala
kemampuan jantung memompa
dehidrasi.
kebutuhan darah tubuh.
2. Monitor tanda CHF (misalnya :
iritasi, tachicardi, tachipnea,
dispnea, kelelahan saat berjalan,
anoreksi, odem periorbital, oliguri,
hepatomegali).
Rasional : Pada CHD kemungkinan
juga didapatkan CHF.

3 NOC NIC

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Observasi frekwensi, irama


selamaX 24 jam, klien jantung, nadi apikal.
Rasional : Untuk mengkompensasi
mampumengon-trolcemasdengankriteria
penurunan kontraktilitas
:
ventrikuler.
- Perubahan cardiac output 2. Kaji kulit terhadap pucat dan
(penurunan) teratasi. sianosis
- Klien akan menunjukkan tanda Rasional : Pucat menunjukkan
vital dalam batas yang dapat menurunnya perfusi perifer
diterima dan bebas gejala gagal sekunder terhadap tidak
jantung. adekuatnya curah jantung,
- Klien melaporkan penurunan vasokonstriksi dan anemia.
episode dispnea. 3. Berikan Istirahat semi rekumben
pada tempat tidur.
Rasional : Istirahat fisik untuk
memperbaiki efisiensi kontraksi
jantung dan menurunkan
kebutuhan oksigen miokard dan
kerja lebihan.

4 1. Auskultasi bunyi usus.


Rasional : Penurunan bising usus
menunjukkan penurunan motilitas
gaster dan konstipasi (komplikasi
umum) berhubungan dengan
pembatasan pemasukan cairan.
2. Timbang berat badan sesuai
indikasi.
Rasional : Untuk menentukan
kebutuhan berat badan.
3. Berikan makan porsi kecil tapi
sering.

Rasional : Membantu menurunkan


kelemahan selama waktu makan

BAB II

PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.A DENGAN GANGGUAN
SISTEM KARDIOVASKULAR TETRALOGY OF FALLOT (TOF)

Ruang perawatan :

No MR/CM :

Tanggal masuk RS :

Tanggal pengkajian :

I.BIODATA
1. Nama pasien : An.A
Umur/tgl lahir : 14 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Diagnosa medis : Tetralogi Of Fallot
2. Nama Orang Tua / Wali :
II. RIWAYAT KESEHATAN KLIEN
1. Keluhan utama
Sesak
2. Riwayat kesehatan sekarang
a. Keluhan utama
Klien bersama orang tuanya datang ke klinik. Orangtuanya melaporkan bahwa
anaknya mengalami sianosis yang hilang timbul atau berulang sejak dilahirkan,
serta tidak dapat bertahan seperti anak seusianya. Menurut penjelasan orang
tuanya , anaknya harus berjongkok untuk bernafas.
3. Riwayat kesehatan dahulu
Orang tua Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit jantung kongenital di
keluarganya ataupun penyakit paru-paru.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Orang tua Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit jantung kongenital di
keluarganya ataupun penyakit paru-paru.
5. Riwayat kehamilan dan kelahiran
- Prenatal
- Natal
- Post Natal
6. Riwayat Imunisasi
7. Riwayat Tumbuh Kembang
a. Pengkajian Pertumbuhan
b. Pengkajian Perkembangan

III. PSIKOSOSIAL & SPIRITUAL


a. Pengkajian psikologis
b. Pengkajian Sosial
c. Support system
d. Sistem nilai kepercayaan

IV. ACTIVITY DAILY LIVING (ADL)

V. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
b. Tanda-tanda Vital
c. Sistem Kardiovaskular
Terdapat bunyi murmur
d. Sistem Respirasi
e. Sistem Integumen
Tampak sianosis di ujung jari ekstremitas

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Pemeriksaan foto dada ada pembesaran jantung.
- Pemeriksaan EKG tampak Hipertropi ventrikular kanan.
- Pemeriksaan Echocardiagram terlihat VSD, aorta overriding interventricular
septum dan pulmonal stenosis.

VII. THERAPI MEDIS

VIII. ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah


1 DS :Orang tua Kelainan Jantung Kongenital Gangguan Pola
Klien Sianotik : Tetralogi Of Fallot Nafas
melaporkan
anaknya Pulmonal Stenosis
mengalami
sianosis yang
Obstruksi Berat
hilang timbul
dan harus
berjongkok
Penurunan Aliaran Darah ke Paru
untuk
bernafas.

DO : Anak Penurunan O2 dalam Darah

harus
berjongkok
Hipoksemia
untuk
bernapas dan
tampak Sianosis
sianosis di
ujung
ekstermitas Sesak
2 DS : Orang tua Kelainan Jantung Kongenital Gangguan
Klien Sianotik : Tetralogi Of Fallot Pertukaran Gas
melaporkan
anaknya Pulmonal Stenosis
mengalami
sianosis yang
Obstruksi Berat
hilang timbul

DO : Tampak
sianosis di Hipertropi Aliran Darah
ujung Ventrikel kanan Aorta Meningkat
ekstremitas
dan terdapat
bunyi murmu Hipoksemia
saat
pemeriksaan
Sianosis
fisik

3 DS : ibu Klien Kelainan Jantung Kongenital


Gangguan perfusi
melaporkan Sianotik : Tetralogi Of Fallot
jaringan serebral
bahwa
anaknya Pulmonal Stenosis
mengalami
sianosis yang
Obstruksi Berat
hilang timbul.

DO : Tampak
sianosis di Hipertropi Aliran Darah
ujung Ventrikel kanan Aorta Meningkat
ekstermitas

Hipoksemia

Sianosis

Hipoksia & Laktat


Penurunan O2 di Otak

Gangguan perfusi jaringan serebral


4 DS : orang tua Kelainan Jantung Kongenital Intoleransi
klien Sianotik : Tetralogi Of Fallot Aktivitas
mengatakan
Pulmonal Stenosis
bahwa
anaknya harus
berjongkok Obstruksi Berat
untuk bernafas
Penurunan Aliaran Darah ke Paru

Penurunan O2 dalam Darah

Hipoksemia

Sesak

Kelemahan Tubuh

Intoleransi Aktivitas

IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal
3. Intoleransi Aktivitas berhubangan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan
kebutuhan oksigen
4. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan transport
oksigen melalui alveoli dan membran kapiler

X. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO TGL TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


DX

1 Setelah dilakukan 1. Pantau adanya 1. Memungkinkan


asuhan keperawatan pucat sianosis untuk mencegah
2. Anjurkan klien
selama 3 x 24 jam sesak terjadinya
duduk dengan
klien berkurang, dengan sianosis
posisi semi fowler 2. Untuk
kriteria :
3. Kaji pernafasan
memberikan rasa
- Menunjukan jalan setiap 2 - 4 jam
nyaman dan
nafas yang paten sekali (kedalaman,
mengurangi sesak
(klien tidak merasa irama, frekuensi,
yang dirasakan
tercekik, irama penggunaan otot
klien.
nafas, frekuensi pernafasan 3. Mengetahui
4. Identifikasi pasien
dalam rentan adanya
perlunya
normal, dan tidak ketidakefektifan
pemasangan alat
ada suara nafas jalan nafas
jalan nafas 4. Terpenuhinya
abnormal)
- Tidak ada sianosis, buatan/oksigenasi kebutuhan O2
mampu bernafas sesuai kebutuhan pada jaringan
dengan mudah tubuh klien

2 Setelah dilakukan 1. Posisikan anak 1. Pengembangan


asuhan keperawatan lebih tinggi untuk diafragma secara
selama 3x 24 jam klien menambah maksimal akan
tidak mengalami pengembangan memudahkan
penurunan kadar O2 diafragma secara usaha bernafas
2. Untuk mengatasi
dengan kriteria : maksimal
2. Berikan alat bantu penurunan suplay
- Mendemonstrasikan oksigenasi sesuai oksigen/
peningkatan kebutuhan tubuh terpenuhinya
ventilasi dan
klien kebutuhan O2
oksigen yang 3. Informasikan pada jaringan
adekuat kepada pasien dan 3. Memudahkan
- Suara nafas bersih keluarganya ekspansi paru
dan tidak ada tentang teknik
sianosis, mampu relaksasi untuk
bernafas dengan meningkatkan pola
mudah pernafasan
- Tanda-tanda vital
dalam rentan normal

3 Setelah dilakukan 1. Anjurkan pada 1. Agar dapat


asuhan keperawatan pasien lebih mengurangi sesak
selama 3 x 24 jam klien banyak istirahat pada klien
2. Bantu anak dalam 2. Memudahkan
mampu bernafas tanpa
memenuhi anak dalam
harus berjongkok,
kebutuhan ADL, kebutuhan ADL
dengan kriteria :
3. Untuk
dan dukung kearah
- Anak mencapai menghindari
kemandirian anak
toleransi aktivitas aktivitas yang
sesuai indikasi
sesuai umur, tidak 3. Jadwalkan dapat
ada kelelahan aktivitas sesuai memperburuk
- Sirkulasi status baik dengan usia dan keadaan
- Fatiq dan kelemahan
kemampuan anak.
berkurang
- Tidak ada
penurunan
kesadaran

4 Setelah dilakukan 1. 1.
tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam,
klien tidak mengalami
Ketidakefektifan
Perubahan perfusi
jaringan dengan
kriteria:

- TTV dalam rentan


normal, terutama
tekanan sysole dan
diastole dan
respirasi
- Menunjukan fungsi
sensori motori
cranial yang utuh :
tingkat kesadaran
membaik.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Tetralogi of Fallot (TOF) adalah kelainan jantung kongenital dengan gangguan
sianosis yang ditandai dengan kombinasi empat hal yang abnormal meliputi Defek
septum ventrikel, Stenosis pulmonal, overriding aorta dan hipertrofi ventrikel kanan.
TOF adalah merupakan defek jantung yang terjadi secara konginetal dimana secara
khusus mempunyai empat kelainan anatomi pada jantungnya. TOF ini adalah merupakan
penyebab tersering pada Cyanotic Heart Defect dan juga pada Blue Baby Syndrome.

Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah
menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab
adalah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan pada faktor penyebab harus ada sebelum
akhir bulan kedua kehamilan, oleh karena pada Minggu ke-8 kehamilan pembentukan
jantung janin sudah selesai.

Tetralogi Fallot dimasukan kedalam kelainan jantung sianotik karena terjadi


pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi
sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas. Mungkin gejala sianotik baru
timbul dikemudikan hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik karena menyusu
atau menangis.

B. SARAN
Setelah membaca makalah ini semoga pembaca disarankan lebih menjaga kesehatan,
pola hidup, memperhatikan asupan makanan dan berolahraga untuk menghindari
penyakit degenarasi ini (hipertensi). Khususnya kepada mahasiswa keperawatan yang
telah mempelajari faktor-faktor apa saja yang dapat menimbulkan hipertensi. Harapanya
tentunya lebih tahu dan akan lebih safety untuk mencegah terjadinya penyakit hipertensi
ini. Karena kelak mahasiswa keperawatan tidak hanya memperhatikan kesehatan dirinya
sendiri namun akan memperhatikan kesehatan orang lain (kliennya).

DAFTAR PUSTAKA

Amin Husada Nurarif, S.Kep.,Ns 2015. Aplikasi keperawatan Berdasarkan Dignosa Medis
dan NANDA NIC-NOC. Jogjakrta: Media Action
https://www.scribd.com/mobile/doc/138161099/laporan-Pendahuluan-Tof