Vous êtes sur la page 1sur 19

Analisis Tokoh Utama

Dalam Novel Asmarani Karya Suparto Brata

Alifia Rizki Karimawanti Putri, Nanny Sri Lestari

Sastra Daerah Untuk Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, 16424,
Indonesia

E-mail : rizkialifia@yahoo.com

Abstrak

Skripsi ini membahas tokoh utama dalam novel Asmarani karya Suparto Brata. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui tokoh-tokoh, khususnya tokoh utama dalam novel Asmarani. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analitis. Teori yang digunakan adalah teori struktural Luxemburg dan teori tema Panuti Sudjiman.
Hasil penelitian ini menemukan karakteristik tokoh yang nakal, polos, suka mencari perhatian, dan kemudian
karena peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya menjadikan tokoh Asmarani wanita yang dewasa.

The Analysis of Protagonis in the Novel Asmarani Created by Suparto Brata

Abstract

This thesis discussed on the main character in the novel Asmarani created by Suparto Brata. The aim of this
research is to find out the character, particularry the main character in the novel Asmarani. This research using
metodhs descriptove analysis. The basic theory that used is structural theory from Luxemburg and theme theory
from Panuti Sudjiman. The result of this research find a naughty, plain, like to get attention, and then, bercause
of the occasion that occurred in her lives, Asmarani become figures of a grown-up woman.

Keywords:
Asmarani; characteristic; novel; Suparto

1. Pendahuluan

Sastra atau kesusastraan menurut Semi (1988:8) adalah pengungkapan dari fakta
artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat melalui bahasa
sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).
Sedangkan menurut Panuti Sudjiman (1986:68) sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan
1
seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dan menggunakan bahasa
sebagai mediumnya. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sastra
merupakan karya seni yang menggunakan bahasa sebagai perantaranya.

Kesusastraan Jawa sudah ada sejak abad ke-8. Hal tersebut menghasilkan dua jenis
karya sastra Jawa yaitu karya sastra lisan dan karya sastra tertulis. Sastra lisan dapat juga
disebut sebagai folklor. Menurut Brunvand (Hutomo, 1991 :7) ciri folklor yaitu : bersifat
lisan, bersifat tradisional, keberadaannya memiliki varian atau versi, selalu anonim, dan
cenderung memiliki formula. Folklor atau sastra lisan dalam budaya jawa lebih melekat
dibandingkan dengan sastra tulis karena sastra lisan dapat diikuti oleh masyarakat luas. Hal
itu menyebabkan sampai sekarang sastra di lingkungan masyarakat Jawa masih merupakan
sesuatu yang dimaksud untuk didengarkan dan bukan untuk dibaca (Ras, 1985:2).

Sastra Jawa tertulis terbagi lagi dalam dua bagian, yaitu sastra tradisional dan sastra
modern. Sastra tradisional terikat oleh patokan-patokan yang ditaati turun-temurun dari
generasi ke generasi, sedangkan sastra modern merupakan hasil dari rangsangan kreatif dalam
masyarakat modern (Ras, 1985:3). Sastra Jawa Modern merupakan sastra yang berkembang
di kalangan masyarakat luas yang mencoba keluar dari kerangka kebudayaan Jawa lama atau
kebudayaan Jawa yang kraton-sentris, menuju ke arah kebudayaan Jawa Modern. Sastra Jawa
Modern sudah tidak lagi mengagung-agungkan raja dan membeberkan secara panjang ajaran-
ajaran susila, filosofi dan kejiwaan ala Jawa, melainkan telah mulai melukiskan keadaan
masyarakat apa adanya (Sarworo Soeprapto, 1991:23).

Sastra Jawa modern mulai muncul sejak akhir abad XIX yang merupakan akibat dari
bertemunya budaya Jawa dengan budaya Barat. Istilah satra gagrag anyar atau sastra gaya
baru sering digunakan untuk menyebut hasil-hasil sastra modern (Ras, 1985:8). Dalam
periode sastra Jawa Modern muncul genre baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti novel,
cerkak (cerita pendek), dan geguritan (puisi). Novel merupakan salah satu jenis dari hasil
karya sastra pada periode sastra Jawa Modern yang berbentuk prosa.

Genre-genre Barat seperti novel, cerita pendek, dan puisi bebas baru dapat diterima
olah masyarakat luas setelah terjadinya Revolusi. Setelah terjadinya revolusi banyak penulis-
penulis muda yang disebut sebagai Angkatan Perintis atau Generasi Pelopor. Salah satu
penulis dari Generasi Pelopor adalah Suparto Brata. Salah satu novel yang dikarang oleh

2
Suparto adalah Asmarani. Asmarani merupakan cerita bersambung karangan Suparto Brata
dengan nama samaran Peni yang diterbitkan di majalah Jaya Baya pada tahun 1964. Asmarani
bercerita mengenai kehidupan seorang gadis bernama Asmarani di desa Ngombol.

Asmarani sebagai sebuah novel termasuk ke dalam cerita naratif. Teks naratif menurut
Luxemburg adalah semua teks yang tidak bersifat dialog dan yang isinya merupakan suatu
kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa (Luxemburg, 1989:119). Novel sebagai sebuah bentuk
karya sastra rekaan pasti mengandung unsur-unsur cerita seperti alur, tokoh dan penokohan,
tema dan latar. Unsur yang paling menarik dari novel Asmarani ini adalah unsur tokoh dan
penokohan.

Saat seseorang membaca sebuah karya sastra maka yang akan ditanyakan orang
tersebut adalah bercerita tentang apa novel itu, atau siapa yang diceritakan dalam novel,
biasanya untuk mengetahui hal tersebut seorang pembaca akan melihat ringkasan cerita pada
sampul buku. Ringkasan cerita novel Asmarani pada sampul buku tertuliskan seperti berikut.

Katresnan antaran Asmarani lan Marsan satemen prasaja. Ora anh.


Tetembungan wis ana, witing tresna jalaran saka kulina. Ah! Sapa kandha? Wong
durung-durung wis ketara nylenh ngono! Asmarani lagi ngancik umur limalas taun
ngono, Marsan umur mh tikel pindhon. Ora prasaja. Ora lumrah. (Suparto,
2013).

Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa novel Asmarani ini bercerita mengenai
Asmarani dan Marsan, tetapi cerita tersebut bukanlah cerita cinta biasa. Hal itulah yang
membuat penulis tertarik untuk meneliti tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel, khususnya
tokoh utama. Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimanakah tokoh utama dan bagaimana
karakter tokoh utama dalam cerita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter
tokoh utama dalam novel Asmarani.

2. Tinjauan Teoritis

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa novel sebagai sebuah bentuk karya
sastra rekaan pasti mengandung unsur-unsur cerita seperti alur, tokoh dan penokohan, tema
dan latar. Unsur-unsur tersebut lebih dikenal dengan unsur intrinsik dalam cerita rekaan.
Keempat unsur tersebut saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Maka

3
untuk penelitian kali ini penulis menggunakan teori struktural untuk mengungkapkan pesan
yang terkandung dalam unsur-unsur intrinsik tersebut.

Alur, tokoh, tema dan latar dalam Asmarani akan diteliti menggunakan landasan teori
dan penerapan metode struktural oleh Luxemburg, dkk, dan Panuti Sudjiman. Luxemburg
(1989) dalam bukunya Pengantar Ilmu Sastra mengatakan bahwa teks naratif dianalisis
melalui tiga aspek penting dalam teks naratif. Aspek pertama adalah alur yaitu alur mengenai
susunan karya sastra dalam menentukan deret peristiwa antara pelaku dengan peristiwa yang
menyangkut mereka. Aspek kedua tokoh, tokoh selaku pencerita yang berkaitan dengan
dirinya dan melalui dirinya dan pandangannya ia menceritakan mengenai isi cerita. Aspek
ketiga aspek ruang yang berupa latar cerita yang menjadi aspek pendukung yang penting
dimana berkaitan dengan segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan
waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam suatu karya sastra (Sudjiman,
1988:44). Aspek tema akan menggunakan teori Panuti Sudjiman (1992) dalam Memahami
Cerita Rekaan.

3. Metode Penelitian

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah novel Asmarani karya
Suparto Brata. Novel ini adalah kumpulan cerita bersambung yang dimuat di majalah Jaya
Baya pada tahun 1964 dan kemudian dibukukan menjadi novel pada tahun 1983 oleh PT.
Bina Ilmu Surabaya. Pada tahun 2013 novel Asmarani kembali diterbitkan oleh Penerbit
Emlatera.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
analisis. Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan data yang ada dalam karya
sastra, sedangkan metode analisis adalah metode yang menguraikan atau membahas data yang
ada dalam karya sastra tersebut. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara
mendeskripsikan fakta-fakta yang disusul dengan tahapan analisis.1

1
Nyoman Kutha Ratna. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2004), Hlm. 53
4
4. Hasil Penelitian

Asmarani merupakan tokoh utama atau tokoh protagonis dalam novel. Tokoh
Asmarani menjadi bahan penceritaan dalam novel, bahkan dapat dikatakan bahwa novel
Asmarani ini bercerita mengenai hidup Asmarani. Pengembangan cerita berpatok pada tokoh
Asmarani, dan juga tema dari novel ini yang merupakan pendewasaan dikembangkan
berdasarkan perjalanan cinta tokoh Asmarani.

Karakteristik tokoh Asmarani dalam novel diceritakan berkembang dari seorang anak-
anak yang berkelakuan nakal menjadi seorang gadis yang dewasa dengan sifat-sifat jahil masa
kecil yang masih tersisa. Pengembangan karakteristik Asmarani didukung oleh tokoh
protagonis dan juga tokoh bawahan. Selain itu karakteristik didukung juga oleh latar terlebih
lagi latar sosial tempatnya tumbuh. Karakteristik atau penokohan Asmarani dapat dilihat dari
konflik-konflik yang terjadi dalam alur novel. Penceritaan melalui tokoh lain juga menjadi
sarana pendeskripsian karakter Asmarani.

Tabel 1. Tabel Penggambaran Kehidupan Tokoh Asmarani

No Sikap Bukti kutipan


1 Jahil dan Nakal Cah wis prawan ngono pethakilan! Ayo, mudhun! Dakogrok-ogrok kow
sida!
Asmarani arep ag-ag mudhun. Nanging weruh kldhang biyung wis
cancut arep ngajar, dhwk terus bali mnk mungah. Mencit kaya mau.
(Suparto, 2013:16)

Terjemahan bebas :
Anak sudah perawan begitu kok pethakilan! Ayo, turun! Bisa aku sodok
kamu!
Asmarani mau buru-buru turun. Tetapi tahu kedatangan ibunya sudah siaga
akan memukul, dia kembali memanjat naik. Memanjat hingga puncak
seperti tadi.

Marsan rain kobongan! Niyat sasor iki mau dhwk arep dikumbah
banyu sabun terus-terusan! Nganti putih! Durung ngerti apa sing kudu
diucapak, Marsan maspadaak Asmarani ninggalak pendhapa mlebu bal
karo mlt-mlt marang dhwk. (Suparto, 2013:44)

Terjemahan bebas :

Marsan kepalanya kebakaran! Niatnya sepanjang sore ini dirinya akan dicuci
air sabun terus menerus! Sampai putih! Belum mengerti apa yang haris
diucapkan, Marsan mewaspadai Asmarani meninggalkan pendapa masuk
bale rumah sembari menjulurkan lidah kepadanya
2. Polos Tanpa taha-taha Asmarani nyincingak rok. Dicincingak nganti ktok
langkang. Pupun katon dawa lan resik. Kulit babak godras getih marga
keplorot mau katon ing pupun sisih njero [...]
5
Weruh Asmarani nyincingak rok sakpenak kuwi, cah lanang umur wolulas
kuwi sumlengeren. Ora wani nyawang, isin. (Suparto, 2013:25)

Terjemahan bebas :
Tanpa ragu-ragu Asmarani menyincingkan roknya. Disingsingkan hingga
terlihat selangkangannya. Pahanya terlihat panjang dan bersih. Kulit lecet
berlumuran darah karena melorot tadi terlihat di paha bagian dalam [...]
Tahu Asmarani menyincingkan rok seenaknya, anak laki-laki umur delapan
belas itu tercengang. Tidak berani melihat, takut.

La ya ngn iki, wong ndsa, Yu. Na kn sing dipangan apa? Ya mung


gaplk! wangsulan Asmarani, niru-niru rembugan wong-wong ing dsa
ngono ka. (Suparto, 2013:30)

Terjemahan bebas :

La ya seperti ini, orang desa, Yu. Nah disini yang dimakan apa? Ya hanya
gaplek! jawabannya Asmarani. Mengikuti omongannya orang-orang di
desa sana.

Pleg! Tangan antep napuk cangkem. Asmarani kagt banget. Ora ngira
Emak keduga napuk dhwk kaya mengkono serun. Saklawas urip ora
tau Emak napuk Asmarani kaya ngono serun. (Suparto, 2013:70)

Terjemahan bebas :

Pleg! Tangan menampar mulutnya. Asmarani sangat kaget. Tidak mengira


Emaknya mampu menampar dirinya seperti itu kencangnya. Selama hidup
tidak tahu Emaknya menampar Asmarani seperti itu kencangnya.

Tenan, Asmarani ora ngerti kena apa Emak mengkono nepsune krungu
crita sanyatan kahanan mbakyun ing Surabaya. (Suparto, 2013:71)

Terjemahan bebas :
Benar, Asmarani tidak mengerti kenapa Emak seperti itu marahnya
mendengar cerita sebenarnya keadaan kakanya di Surabaya.

3. Suka Mencari Perhatian Ndhrk maos mboten pareng, ta, Pak?


Hiss, aja iki! Sesuk dakgawaake majalah basa Jawa. Kowe bn bisa ngerti.
Basa Indonesia durung kok mangertni kanthi dhamang (Suparto, 2013:3)

Terjemahan bebas :

Ikut baca boleh tidak, pak?


Huss, jangan ini! Besok aku bawakan majalah bahasa Jawa. Agar kamu
bisa mengerti. Bahasa Indonesia belum bisa kamu pahami dengan benar.

[...] Asmarani nggal mlebu kamar mbakyun. Pupuran cepet-cepet,


nganggo pupur mbakyun sing wingi jar regan larang. Gincu dibukak,
mambu-mambu langu ritk terus wa dipulasak ing lamben. (Suparto,
2013:36)
Klambin sing dienggo abang sumringah, klambin dhk Bakda,
tukon anyar, isih katon mencrt. (Suparto, 2013:36)

Terjemahan bebas :

6
[...] Asmarani segera masuk kamar kakaknya. Bedakan cepat-cepat,
memakai bedak kakanya yang semalam katanya mahal harganya. Lipstik
dibuka, bau-bau tidak sedap terus saja dipakaikan di bibirnya.
Bajunya yang dipakai merah cerah, bajunya waktu hari raya, beli baru,
masih terlihat mengkilap.

4. Dewasa Ditapuk lan diunk-unkak, dhwk ora nangis lan bangga mlayu-mlayu
kaya dhk konangan njupuk panganan cepakan kanggo Bapak. Ora!
Seminggu ing Surabaya kuwi nambahi umur Asmarani telung-patang taun.
Dhwk luwih anteng, luwih abot jangkah, lan cahya rain kang adat
sumringah katon suntrut. Sajak pengalaman ing Surabaya kuwi ngajar
dhwk urip luwih tumuwa, luwih adreng lan jatmika. (Suparto, 2013:71)

Terjemahan bebas :

Ditampar dan marah-marahi, dirinya tidak nangis dan melawan berlari-lari


seperti dulu ketahuan mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk
Bapak. Tidak! Seminggu di Surabaya itu menambah umur Asmarani tiga-
empat tahun. Dia menjadi lebih tenang, lebih berat jalannya, dan sinar
wajahnya yang biasanya sumringah terlihat muram. Sepertinya pengalaman
di Surabaya itu mengajarkan dirinya hidup lebih tua, lebih sangat
menginginkan dan sopan santun.

Dalam naskah-naskah Jawa yang menyajikan konsep pendidikan wanita Jawa seperti
Serat Wulang Estri, Serat Piwulang Putri, Serat Candrarini, Serat Wasitadarma, dan Serat
Darmawasita tersebut menekankan bahwa wanita harus sabar, tawakal dan mampu
mengendalikan diri (Rahayu, dkk, 2003:91-92).

Gambar 1.
Srikandi dan Mustakaweni

Prapti Rahayu, dkk (2003: 96) dalam buku Wanita Dalam Sastra Jawa Modern :
1945-1965 membedakan wanita menjadi dua karakter. Pertama, karakter wanita yang masih
berpegang pada karya-karya klasik Jawa. Kedua, karakter wanita yang menganut pendidikan
modern. Karakter wanita yang menganut pendidikan modern tercermin dalam sikap dan

7
perilaku wanita yang mempunyai kebebasan (memilih calon suami) dan mempunyai
kesetaraan dengan kaum pria. Asmarani dalam hal ini termasuk kedalam karakter wanita Jawa
yang kedua, yaitu wanita yang menganut pendidikan modern. Pendidikan modern dalam hal
ini adalah sekolah pemerintah, yang tidak hanya mengajarkan pendidikan keputrian bagi
wanita.

Gambar 2.
Srikandi sebagai perwujudan
wanita yang cerdas dan tangkas

5. Pembahasan
5.1. Alur
Pada novel Asmarani ini terdapat 12 peristiwa yang saling berhubungan dan
menjadikannya sebuah alur. Kisah dimulai dengan paparan mengenai kebiasaan Asmarani
dan Marsan saat pergi ke sekolah. Marsan berjanji meminjamkan Asmarani majalah
berbahasa Jawa, saat itulah Marsan ingat janjinya untuk mempunyai tanah pertanian yang
luas. Peristiwa tersebut termasuk kedalam fase rangsangan. Setelah rangsangan, terdapat
regangan dan padahan, pada bagian ini terjadi proes penambahan ketegangan emosional,
pengarang juga seolah-olah mempersiapkan peristiwa yang akan datang. Terdapat dua
klimaks dalam novel Asmarani ini, yaitu saat Mak Nataran memukul Asmarani yang
menyampaikan keburukan sikap Yu Paerah kepada suami dan mertuanya di Surabaya. Selain
itu klimaks lainnya adalah saat Asmarani membaca surat dari ibunya yang diberikan Marsan
dengan sikap dingin, pada saat itu dalam diri Asmarani terjadi konflik bahwa ia ingin pergi
menyusul ibunya ke Jogja tetapi tidak tahu tempatnya dimana. Sebelum klimaks, terdapat
peristiwa-peristiwa yang merupakan gawatan, tikaian, dan rumitan, yang semuanya
terangkum dalam tabel di bawah ini.
8
Tabel 2. Penggambaran Alur Novel Asmarani

No Peristiwa Terjemahan Bebas Tokoh


1 Mh saben dina wong loro kuwi ketemu. Hampir setiap hari kedua orang tersebut Paparan
Wiwitane srawunge marga kuwajiban. bertemu. Awal bertemu karena
Asmarani saben suk mlayu-mlayu saka kewajiban. Asmarani setiap pagi berlari-
omahe, mbrobos pager, mlumpat lari dari rumahnya, menerobos pagar,
kalnan garing, terus nusul kanca- melompat kali yang sudah kering,
kancane jjr. Kringete isih dlwran kemudian menyusul teman-temannya
ambegane krengosan. Dn Marsan berbaris. Keringatnya masih mengalir
adoh sangkane, ananging teka luwih nafasnya tersengal-sengal. Sedangkan
dhisik. Esuk-suk dhwk wis reresik Marsan jauh berbeda, akan tetapi datang
awak, metu saka pekarangan nuntun lebih dahulu. Pagi-pagi dia sudah
sepdhah, terus dicngklak, dionthl membersihkan diri, keluar dari
alon-alon, milih dalan sing ora pekarangan menuntun sepeda, kemudian
gronjalan, terus tekan panggonan kang dinaikan, dionthel pelan-pelan, dipilih
dikarepake. Woss, Marsan saben suk jalan yang tidak berguncang-guncang,
budhal menyang pamulangan perlu kemudian sampai di tempat yang
mulang, dn Asmarani teka perlu diinginkan. Pada dasarnya, Marsan setiap
sekolah. (Suparto, 2013:1) pagi pergi ke sekolah untuk mengajar,
sedangkan Asmarani datang untuk
sekolah.

2 Mnggok ngulon, prapatan Purwodadi, Belok arah barat, perempatan Purwodadi, Rangsangan
wis ngliwati buk lan weruh sawah sing sesudah melewati jembatan dan
menguning, Marsan lagi klingan janjin menyadari sawah yang menguning.
wingi. Pari ngemuning kuwi kang Marsan kemudian ingat janjinya dahulu.
nglingak. Dhwk wis suw kepngin Padi menguning tersebut yang
duw sawah sing saora-oran kena mengingatkan. Dirinya sudah lama ingin
dienggo ngganjel urip bn ora memiliki sawah yang setidaknya dapat
kecingkrangan nemen-nemen kaya wektu digunakan untuk mengganjal hidupnya
mligi dadi guru kuwi. (Suparto, 2013:4) agar tidak miskin sekali seperti waktu
memulai jadi guru.

3 Kow mbesuk kudu dadi bojoku. Kudu Kamu besok harus jadi istriku. Harus Gawatan
ngono! Suk akhir taun ini aku ujian. begitu! Esok akhir tahun ini aku ujian.
Terus lulus saka SMP, aku nyambutgaw Terus lulus dari SMP, aku bekerja jadi
dadi pegaw negeri nng Yogya. Kow pegawai negeri di Yogya. Kamu jadi
dadi bojoku. Urip ana khuta, ujar istriku. Hidup di kota, ujar Tarwi tiba-
Tarwi mara-mara jlntrh kaya iline tiba menjelaskan seperti aliran air apabila
banyu yn bendungan kali Bogowonto bendungan kali Bogowonto jebol.
bedhah. (Suparto, 2013:27)
4 Asmarani milih tas sing apik dhw. Asmarani memilih tas yang paling bagus. Tikaian
Nanging lagi arep dicangking, direbut Tapi saat akan dibawa, direbut kakaknya.
mbakyun. Ora ana sing weruh Tidak ada yang menyadari kejadian itu.
kedadan kuwi. Nanging Asmarani krasa Tapi Asmarani merasa kalau kakanya
yn mbakyun ora seneng karo polah tidak sedang dengan sikapnya iya yang
dhwk ngono kuwi. (Suparto, 2013:31) seperti itu.

5 Oh, anu yak, Pak! Iya, genah! Sing Oh, itu sepertinya, Pak! Iya, benar! Tikaian
dikersaak Pak Marsan ki dudu aku! Yang diinginkan Pak Marsan itu bukan
La sapa? aku!
Asmarani! Kemudian siapa?
Iyah, bocah umbel isih sentrap Asmarani!
sentrupen ngono! Iyah, bocah udelnya masih sentrap
La, ning, Mak, , Bu, mbokmenawa sentrupen begitu kok!
saiki ditengeri dhisik. Ngono kersan. La, tapi, Mak, e, Bu, mungkin sekarang
9
Pak Marsan saguh ngentni. Ah, iya! dilihat dahulu tanda-tandanya. Begitu
Aku ling iki mau! Pak Marsan rak keinginannya. Pak Marsan sanggup
ngundang Dhik marang As. Wah, menunggu. Ah, iya! Aku ingat tadi! Pak
rpot banget Kow, Dhik As! rak ngono Marsan ya memanggil Dhik kepada As.
ta, mau!? Wis genah, rak iya, ta, Pak? Wah, repot banget kamu, Dhik As! ya
(Suparto, 2013:49) begitu kan, tadi!? Sudah benar, ya iya,
kan, Pak?
6 Marsan minger, pundhak Asmarani Marsan menoleh, kedua pundak Tikaian
loro pisan digegem, rain diadhepak Asmarani dipegang, kepalanya
adu arep karo murid, sarta dihadapkan beradu dengan muridnya,
pambengok, Asmarani! Rungokna! dan juga berkata, Asmarani!
Rungokna gunemku! Aku ora mikir Dengarkan! Dengarkan perkataanku!
mbakyumu Paerah! Aku mikir Kowe! Aku tidak memikirkan kakakmu Paerah!
Aku tresna marang Kow, As! Krungu? Aku memikirkan kamu! Aku cinta
Aku tresna marang sliramu, Cah Ayu! dengan kamu, As! Dengar? Aku cinta
(Suparto, 2013:58) dengan dirimu, Cah Ayu!

7 Asmarani menyang Surabaya? Mati Asmarani pergi ke Surabaya? Mati Rumitan


aku! Teges yn dhwk wis ilang, ora aku! Itu artinya dia sudah hilang, tidak
kena diarep-arep manh. Kaya dapat diharapkan lagi. Seperti kakaknya
mbakyun biyn ka! Ah, hm! Salahku! dahulu! Ah, hm! Salahku! Kenapa tidak
Kena apa ora biyn-biyn daktalni dulu-dulu ditalikan lebih dahulu?
dhisik? Asmarani wis nayogyani, mung Asmarani sudah menyetujui, hanya aku
aku sing kesuwn mikir, nganti yang terlalu lama berpikir, sampai
prekaran gosong! Kaya ngn iki perkaranya hangus! Seperti ini jadinya!
dadin! gumrendel atin. (Suparto, batinnya dalam hati.
2013:67)
8 Pleg! Tangan antep napuk cangkem. Pleg! Tangan menampar mulutnya. Klimaks
Asmarani kagt banget. Ora ngira Asmarani sangat kaget. Tidak mengira
Emak keduga napuk dhwk kaya Emaknya mampu menampar dirinya
mengkono serun. Saklawas urip ora seperti itu kencangnya. Selama hidup
tau Emak napuk Asmarani kaya ngono tidak tahu Emaknya menampar Asmarani
serun. (Suparto, 2013:70) seperti itu kencangnya.
9 Judheg pikir, Asmarani terus wa duw Mentoknya pikiran, Asmarani terus saja Klimaks
karep lunga saka Ngombol. Beneran, bar punya keinginan pergi dari Ngombol!
lulusan. Sekolah nyang Purworejo? Sungguh, sesudah kelulusan. Sekolah di
Kaya Tarwi? Ah, ora! Nyang Yogya. Purworejo? Seperti Tarwi? Ah, tidak!
Menyang gubug Biyung sejati. Embuh Pergi ke Yogya. Pergi ke rumah ibu
priy omah pondhokan Emak, dhwk kandungnya. Tidak tahu seperti apa
kepngin nggolki banget mrana. rumah ibunya, dirinya ingin mencari
(Suparto, 2013:74) sekali kesana.
10 Dn priyayi iki diutus Ibumu marani Priyayi ini diutus Ibumu mendatangi Leraian
kow. Ibumu kang sejati saiki lagi gerah. kamu. Ibumu yang sebenarnya sekarang
Biyn nyoba-nyoba nulis layang mrene, sedang sakit. Dulu mencoba-coba
nanging marga Ibu Juwita kesupen menulis surat kesini, tetapi karena Ibu
jenengku, bisa uga layang ora bisa Juwita lupa namaku, bisa juga suratnya
tekan kn. Ilang nng Kantor tidak sampai sini. Bisa juga hilang di
Kecamatan kana bisa uga, tutug Kantor Kecamatan sini
kandhan Pak Nataran. (Suparto,
2013:88)
11 La aku biyn priy, ta, Pak, kok nganti Dulu aku bagaimana Pak, kok bisa Sorot Balik
ketlisut mrn lan pisah karo Emakku? sampai tertinggal begini dan berpisah
(Suparto, 2013:88) dengan Ibuku?

[...] Kuwi ngn critan. Keng Ramamu


karo keng Ibumu biyn didhinesak nng [...] Begini ceritanya. Bapakmu dan
Purworejo. Purworejo dijgi tentara Ibumu dulu ditugaskan di Purworejo.
Walanda, Rama lan Ibumu ngungsi, Purworejo didatangi tentara Belanda,
10
keplayu tekan kene. Ya dakwnhi Bapak dan Ibumu mengungsi, melarikan
panggonan ing pendhapa kene. Sisih diri hingga sampai kemari. Ya aku
kulon kuwi disingget dadi kamar. Kow berikan tempat tinggal di rumah ini. Sisi
lair ing pengungsn kn. (Suparto, barat diubah jadi kamar. Kamu lahir di
2013:89) pengungsian ini.
12 Inggih, pak. Badh pados surat kaliran, Iya, Pak. Mau meminta surat kelahiran. Selesaian
kok. Kangg ndhrk kangmas dhateng Untuk ikut kangmas ke luar negeri, kok
luwar negeri menika, kok merlokaken memerlukan surat kelahiran, ya, Pak.
serat klairan, ta, Pak Eng, kamu ini benar akan pergi ke luar
Eng, Kow iki genah arep menyang negeri?
luwar negeri, ta? Iya, ke Duesseldorf. Kangmas saya
Inggih, dhateng Duesseldorf. Kangmas membesarkan misi perwakilan dagang RI
kula mengagengi misi perwakilan di Jerman Barat, Pak.
dagang RI ing Jerman Kiln, Pak.
(Suparto, 2013:102)

5.2.Tokoh dan Penokohan


Tokoh dalam suatu cerita dapat dibagi berdasarkan fungsinya menjadi tokoh sentral
dan tokoh bawahan. Tokoh sentral sendiri dapat dibagi menjadi dua yaitu tokoh protagonis
dan tokoh antagonis. Tokoh Protagonis adalah tokoh yang dikagumi, tokoh yang merupakan
penjawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita (Altenberd dan Lewis dalam
Nugiyantoro, 2010 : 178). Tokoh protagonis biasanya merupakan sentral atau pusat sorotan
dalam cerita (Sudjiman, 1988:18).

Tabel 3. Tabel Pencarian Tokoh

No Peristiwa Terjemahan Bebas Tokoh


1 Mh saben dina wong loro kuwi ketemu. Hampir setiap hari kedua orang tersebut Asmarani dan
Wiwitane srawunge marga kuwajiban. bertemu. Awal bertemu karena Marsan
Asmarani saben suk mlayu-mlayu saka kewajiban. Asmarani setiap pagi berlari-
omahe, mbrobos pager, mlumpat lari dari rumahnya, menerobos pagar,
kalnan garing, terus nusul kanca- melompat kali yang sudah kering,
kancane jjr. Kringete isih dlwran kemudian menyusul teman-temannya
ambegane krengosan. Dn Marsan berbaris. Keringatnya masih mengalir
adoh sangkane, ananging teka luwih nafasnya tersengal-sengal. Sedangkan
dhisik. Esuk-suk dhwk wis reresik Marsan jauh berbeda, akan tetapi datang
awak, metu saka pekarangan nuntun lebih dahulu. Pagi-pagi dia sudah
sepdhah, terus dicngklak, dionthl membersihkan diri, keluar dari
alon-alon, milih dalan sing ora pekarangan menuntun sepeda, kemudian
gronjalan, terus tekan panggonan kang dinaikan, dionthel pelan-pelan, dipilih
dikarepake. Woss, Marsan saben suk jalan yang tidak berguncang-guncang,
budhal menyang pamulangan perlu kemudian sampai di tempat yang
mulang, dn Asmarani teka perlu diinginkan. Pada dasarnya, Marsan setiap
sekolah. (Suparto, 2013:1) pagi pergi ke sekolah untuk mengajar,
sedangkan Asmarani datang untuk
sekolah.

2 Asmarani kluyur-kluyur lunga. Asmarani pergi. Mardinem sudah berlari Asmarani dan
Mardinem wis mlayu pandirangan menjauh. Tetapi tidak lepas melihat Mardinem
ngadoh. Nanging ora uwal nonton kelakuan temannya. Apabila dia yang
patrape kancane. Upama dhwk sing dimarahi seperti itu, mungkin sudah

11
didukani ngono, kira-kira wis membik- menangis penuh air mata. Setidak-
membik mwk. Saora-orane klincutan. tidaknya tidak berani. Asmarani tidak
Asmarani ora. (Suparto, 2013:3) begitu.

3 Kow mbesuk kudu dadi bojoku. Kudu Kamu besok harus jadi istriku. Harus Tarwi dan
ngono! Suk akhir taun ini aku ujian. begitu! Esok akhir tahun ini aku ujian. Asmarani
Terus lulus saka SMP, aku nyambutgaw Terus lulus dari SMP, aku bekerja jadi
dadi pegaw negeri nng Yogya. Kow pegawai negeri di Yogya. Kamu jadi
dadi bojoku. Urip ana khuta, ujar istriku. Hidup di kota, ujar Tarwi tiba-
Tarwi mara-mara jlntrh kaya iline tiba menjelaskan seperti aliran air apabila
banyu yn bendungan kali Bogowonto bendungan kali Bogowonto jebol.
bedhah. (Suparto, 2013:27)
4 Sapa ka teka? Siapa itu datang? Asmarani dan
Asmarani bubrut, nginguk ngarepan. Asmarani terburu-buru, menengok Yu Paerah
Cangkem isih mucu-mucu, madhang depan. Mulutnya masih penuh berisi
durung rampung. makanan, makan belum selesai.
O, Yu Paerah, Pak! (Suparto, O, Yu Paerah, Pak!
2013:30)
5 Asmarani milih tas sing apik dhw. Asmarani memilih tas yang paling bagus. Asmarani dan
Nanging lagi arep dicangking, direbut Tapi saat akan dibawa, direbut kakaknya. Yu Paerah
mbakyun. Ora ana sing weruh Tidak ada yang menyadari kejadian itu.
kedadan kuwi. Nanging Asmarani krasa Tapi Asmarani merasa kalau kakanya
yn mbakyun ora seneng karo polah tidak sedang dengan sikapnya iya yang
dhwk ngono kuwi. (Suparto, 2013:31) seperti itu.

6 Oh, anu yak, Pak! Iya, genah! Sing Oh, itu sepertinya, Pak! Iya, benar! Pak Naratan,
dikersaak Pak Marsan ki dudu aku! Yang diinginkan Pak Marsan itu bukan Mak Nataran,
La sapa? aku! Yu Paerah dan
Asmarani! Kemudian siapa? Asmarani
Iyah, bocah umbel isih sentrap Asmarani!
sentrupen ngono! Iyah, bocah udelnya masih sentrap
La, ning, Mak, , Bu, mbokmenawa sentrupen begitu kok!
saiki ditengeri dhisik. Ngono kersan. La, tapi, Mak, e, Bu, mungkin sekarang
Pak Marsan saguh ngentni. Ah, iya! dilihat dahulu tanda-tandanya. Begitu
Aku ling iki mau! Pak Marsan rak keinginannya. Pak Marsan sanggup
ngundang Dhik marang As. Wah, menunggu. Ah, iya! Aku ingat tadi! Pak
rpot banget Kow, Dhik As! rak ngono Marsan ya memanggil Dhik kepada As.
ta, mau!? Wis genah, rak iya, ta, Pak? Wah, repot banget kamu, Dhik As! ya
(Suparto, 2013:49) begitu kan, tadi!? Sudah benar, ya iya,
kan, Pak?
7 Marsan minger, pundhak Asmarani Marsan menoleh, kedua pundak Marsan dan
loro pisan digegem, rain diadhepak Asmarani dipegang, kepalanya Asmarani
adu arep karo murid, sarta dihadapkan beradu dengan muridnya,
pambengok, Asmarani! Rungokna! dan juga berkata, Asmarani!
Rungokna gunemku! Aku ora mikir Dengarkan! Dengarkan perkataanku!
mbakyumu Paerah! Aku mikir Kowe! Aku tidak memikirkan kakakmu Paerah!
Aku tresna marang Kow, As! Krungu? Aku memikirkan kamu! Aku cinta
Aku tresna marang sliramu, Cah Ayu! dengan kamu, As! Dengar? Aku cinta
(Suparto, 2013:58) dengan dirimu, Cah Ayu!

8 Asmarani menyang Surabaya? Mati Asmarani pergi ke Surabaya? Mati Asmarani dan
aku! Teges yn dhwk wis ilang, ora aku! Itu artinya dia sudah hilang, tidak Marsan
kena diarep-arep manh. Kaya dapat diharapkan lagi. Seperti kakaknya
mbakyun biyn ka! Ah, hm! Salahku! dahulu! Ah, hm! Salahku! Kenapa tidak
Kena apa ora biyn-biyn daktalni dulu-dulu ditalikan lebih dahulu?
dhisik? Asmarani wis nayogyani, mung Asmarani sudah menyetujui, hanya aku
aku sing kesuwn mikir, nganti yang terlalu lama berpikir, sampai
prekaran gosong! Kaya ngn iki perkaranya hangus! Seperti ini jadinya!
12
dadin! gumrendel atin. (Suparto, batinnya dalam hati.
2013:67)
9 Pleg! Tangan antep napuk cangkem. Pleg! Tangan menampar mulutnya. Asmarani dan
Asmarani kagt banget. Ora ngira Asmarani sangat kaget. Tidak mengira Mak Nataran
Emak keduga napuk dhwk kaya Emaknya mampu menampar dirinya
mengkono serun. Saklawas urip ora seperti itu kencangnya. Selama hidup
tau Emak napuk Asmarani kaya ngono tidak tahu Emaknya menampar Asmarani
serun. (Suparto, 2013:70) seperti itu kencangnya.
10 Mas Marasan sekalihan, sarhn wis Mas Marasan dan istri, oleh sebab Mas Marasan,
suw banget aku ora bisa ngabari, aja sudah lama sekali aku tidak bisa Nyi Juwita, dan
dadi atimu. Kawuningana, bapak memberikan kabar, jangan menjadi sakit Asmarani
bocah-bocah wusanan sda ing hatimu. Ketahuilah, bapak dari anak-
madyaning palagan. Lan baliku anak pada akhirnya meninggal ditengah
menyang yogya kanthi digotong sanak- peperangan. Dan kembaliku ke Yogya
kadang. Satemen aku tansah mikir sing dengan diboyong sanak-saudara.
daktinggal ing Ngombol. Nanging Sebenarnya aku selalu memikirkan yang
utheking bebrayan nagguhak kabarku saya tinggalkan di Ngombol. Tetapi
ini, nganti watara limalas taun. Sarehn sentuhan masyarakat memastikan
wektu iki aku lara banget, bisa uga ora kabarku ini, sampai sekitar lima belas
dawa manh umurku, mula dakperlokak tahun. Oleh sebab saat ini aku sakit
kirim layang. Nalika aku ninggalak sekali, bisa juga tidak lama lagi umurku,
Ngombol biyn, jabangbayi kepeksa oleh karena itu aku perlu mengirimkan
daktinggal, marga serdhadhu Walanda surat. Ketika aku meninggalkan
wis nggrebeg omah. Apa sliramu bisa Ngombol dahulu, jabang bayi terpakda
ngukup? Sarhn saprn anakku ora aku tinggal, karena serdadu Belanda
ana sing wadon, mula yn bayiku sudah menggrebeg rumah. Apa dirimu
Asmarani isih urip, aku njaluk kabar lan bisa memelihara? Oleh sebab sampai saat
arep dakboyong nyang Yogya. Rekasa- ini anakku tidak ada yang perempuan,
rekasa sithik ya arep dakkukup. Sanajan oleh karena itu apabila bayiku Asmarani
ora akh pari kaya ing omah Ngombol masih hidup, aku meminta kabar dan
kn, nanging sega sepulukan rong akan aku bawa pergi ke Yogya. Susah
pulukan arep dakdulangk anakku payah sedikit ya akan aku pelihara.
wadon Asmarani. Mula yn bisa Sebab tidak banyak padi seperti di rumah
Asmarani kirimna aku. Ngombol ini, tapi nasi satu suap dua
Wis samn dhisik. Muga-muga suapan ingin aku suapkan ke anakku
sapungkur layang padha keslametan perempuan Asmarani. Oleh karena itu
kabh. kalau bisa kirimkan lah aku Asmarani.
Nyi Juwita Sudah sampai sini dahulu. Moga-moga
(Suparto, 2013:73) seselesainya surat selamat semua.
Nyi Juwita

11 Judheg pikir, Asmarani terus wa duw Mentoknya pikiran, Asmarani terus saja Asmarani dan
karep lunga saka Ngombol. Beneran, bar punya keinginan pergi dari Ngombol! Tarwi
lulusan. Sekolah nyang Purworejo? Sungguh, sesudah kelulusan. Sekolah di
Kaya Tarwi? Ah, ora! Nyang Yogya. Purworejo? Seperti Tarwi? Ah, tidak!
Menyang gubug Biyung sejati. Embuh Pergi ke Yogya. Pergi ke rumah ibu
priy omah pondhokan Emak, dhwk kandungnya. Tidak tahu seperti apa
kepngin nggolki banget mrana. rumah ibunya, dirinya ingin mencari
(Suparto, 2013:74) sekali kesana.
12 Dn priyayi iki diutus Ibumu marani Priyayi ini diutus Ibumu mendatangi Priyayi dan Pak
kow. Ibumu kang sejati saiki lagi gerah. kamu. Ibumu yang sebenarnya sekarang Nataran
Biyn nyoba-nyoba nulis layang mrene, sedang sakit. Dulu mencoba-coba
nanging marga Ibu Juwita kesupen menulis surat kesini, tetapi karena Ibu
jenengku, bisa uga layang ora bisa Juwita lupa namaku, bisa juga suratnya
tekan kn. Ilang nng Kantor tidak sampai sini. Bisa juga hilang di
Kecamatan kana bisa uga, tutug Kantor Kecamatan sini
kandhan Pak Nataran. (Suparto,
2013:88)
13
13 La aku biyn priy, ta, Pak, kok nganti Dulu aku bagaimana Pak, kok bisa Asmarani, Mak
ketlisut mrn lan pisah karo Emakku? sampai tertinggal begini dan berpisah Nataran dan Pak
(Suparto, 2013:88) dengan Ibuku? Nataran

[...] Kuwi ngn critan. Keng Ramamu


karo keng Ibumu biyn didhinesak nng [...] Begini ceritanya. Bapakmu dan
Purworejo. Purworejo dijgi tentara Ibumu dulu ditugaskan di Purworejo.
Walanda, Rama lan Ibumu ngungsi, Purworejo didatangi tentara Belanda,
keplayu tekan kene. Ya dakwnhi Bapak dan Ibumu mengungsi, melarikan
panggonan ing pendhapa kene. Sisih diri hingga sampai kemari. Ya aku
kulon kuwi disingget dadi kamar. Kow berikan tempat tinggal di rumah ini. Sisi
lair ing pengungsn kn. (Suparto, barat diubah jadi kamar. Kamu lahir di
2013:89) pengungsian ini.
14 Inggih, pak. Badh pados surat kaliran, Iya, Pak. Mau meminta surat kelahiran. Marsan dan
kok. Kangg ndhrk kangmas dhateng Untuk ikut kangmas ke luar negeri, kok Asmarani
luwar negeri menika, kok merlokaken memerlukan surat kelahiran, ya, Pak.
serat klairan, ta, Pak Eng, kamu ini benar akan pergi ke luar
Eng, Kow iki genah arep menyang negeri?
luwar negeri, ta? Iya, ke Duesseldorf. Kangmas saya
Inggih, dhateng Duesseldorf. Kangmas membesarkan misi perwakilan dagang RI
kula mengagengi misi perwakilan di Jerman Barat, Pak.
dagang RI ing Jerman Kiln, Pak.
(Suparto, 2013:102)

Berdasarkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk alur, tabel diatas


menggambarkan tokoh-tokoh dalam novel Asmarani. Marsan dan Asmarani merupakan dua
tokoh sentral yang banyak mengambil alih alur cerita. Tokoh protagonis atau tokoh utama
dalam cerita adalah Asmarani dan Marsan berperan sebagai tokoh penentang atau tokoh
antagonis. Selain itu terdapat juga tokoh lainnya yang termasuk kedalam tokoh bawahan
seperti Mak Nataran, Pak Nataran, Yu Paerah, Mardinem dan Tarwi. Mardinem dalam hal ini
termasuk kedalam tokoh andalan.

Berikut adalah penokohan dalam novel Asmarani.

Marsan : Materialistis, rajin membaca

Asmarani pinter maca, lan seneng memaca. Nanging Pak Marsan luwih sugih wacan. Sing diwaca
Marsan ora mung mligi buku pamulang, nanging iya suratkabar lan majalah. (Suparto, 2013:1-2)

Atin gela ora kebimbang asmaran. Nanging sing jelas anggon ora kebimbang, ora marga lk
rupan bocah wadone sing disisik meliki, nanging prekara kahanan wongtuwan bocah wadon mau.
Ora sugih. Ora sugih sawah! (Suparto, 2013:10)

Mardinem : Penakut, setia terhadap teman

Asmarani kluyur-kluyur lunga. Mardinem wis mlayu pandirangan ngadoh. Nanging ora uwal nonton
patrape kancane. Upama dhwk sing didukani ngono, kira-kira wis membik-membik mwk. Saora-
orane klincutan. Asmarani ora. (Suparto, 2013:3)

Mak Nataran : Kasar, munafik


14
Nah, rak pas sikilan kursi! Ayo, Munggah! Mnka kursi!
Asmarani ora gelem. Pupun dicethot Emak, mung mringis.
Kapok ora?
Kapok (Suparto, 2013:9)

Pleg! Tangan antep napuk cangkem. Asmarani kagt banget. Ora ngira Emak keduga napuk dhwk
kaya mengkono serun. Saklawas urip ora tau Emak napuk Asmarani kaya ngono serun. (Suparto,
2013:70)

As! As! Asmarani! Kow sing gluthak-gluthek kuwi? Rna, Ndhuk! Iki lo, ana dhayoh!

Asmarani ora gumun Emak nyuwara alus kaya mengokono. Beda karo adat saben. Adat swaran
sengak. Apa manh bareng Paerah wis mulih. (Suparto, 2013:86)

Pak Nataran : Sabar

Yu Paerah : Judes

Asmarani milih tas sing apik dhw. Nanging lagi arep dicangking, direbut mbakyun. Ora ana sing
weruh kedadan kuwi. Nanging Asmarani krasa yn mbakyun ora seneng karo polah dhwk ngono
kuwi. (Suparto, 2013:31)

Tarwi : Suka bermain burung dara, dewasa, fokus bila di sekolah

Yn wis tekan ngomah sing diuthek-uthek mung dara! Sing disenengi tomprangan, adu dara.
Tomprangan wiwit Setu sor nganti Ngaat surup wayah dara turu. Tomprangan karo Sardi, Solikin,
Slamet lan kanca kampung liyan. Garapan sekolah lali ora dicandhak

Tomprangan mung dolanan, kaya dn sekak. Lan yn wis adoh saka ngomah, ing Purworejo, mlebu
sekolah, dhwk ya sinau mempeng. (Suparto, 2013:19)

Kow mbesuk kudu dadi bojoku. Kudu ngono! Suk akhir taun ini aku ujian. Terus lulus saka SMP,
aku nyambutgaw dadi pegaw negeri nng Yogya. Kow dadi bojoku. Urip ana khuta, ujar Tarwi
mara-mara jlntrh kaya iline banyu yn bendungan kali Bogowonto bedhah. (Suparto, 2013:27)

5.3.Tema dan Amanat


Tema menurut Panuti Sudjiman merupakan sebuah gagasan, ide, atau pilihan utama
yang mendasari suatu karya sastra itu yang disebut tema (1988:50). Semi mengatakan bahwa
tema tidak lain dari suatu sentral yang menjadi dasar. Jadi dalam pengertian tema tersebut
tercakup persoalan dan tujuan atau amanat pengarang ke pembaca (1988:42)

Tema cerita ada yang disampaikan secara eksplisit (tersurat), namun sering kali tema
cerita disampaikan secara implisit (tersirat). Tema adakalanya didukung oleh pelukisan latar,
dalam karya yang lain tersirat dalam lakuan tokoh, atau dalam penokohan. Tema bahkan
dapat menjadi faktor yang mengikat peristiwa-peristiwa dalam satu alur. Ada kalanya gagasan
itu begitu dominan sehingga menjadi kekuatan mempersatukan pelbagai unsur yang bersama-
sama membangun karya sastra, dan menjadi motif tindakan tokoh (Sudjiman, 1988:51).

15
Tema dapat dibedakan menjadi tema mayor dan tema minor. Tema mayor atau tema
pokok adalah permasalahan yang paling dominan menjiwai karya sastra, sedangkan tema
minor atau tema bawahan adalah permasalahan yang merupakan cabang dari tema mayor
(Suharianto, 1982:28)2. Tema mayor dalam novel Asmarani adalah pendewasaan, sedangkan
tema minor dari novel Asmarani adalah percintaan, persahabatan dan keluarga. Masalah
pendewasaan menjadi hal utama yang ingin disampaikan dalam novel. Pendewasaan memiliki
pengertian proses, cara, perbuatan menjadikan dewasa3. Konflik-konflik dalam cerita menjadi
proses pendewasaan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Pendewasaan itu juga tercipta
melalui tema-tema minor yang ada seperti percintaan, persahabatan dan keluarga.

Amanat yang terkandung dalam novel Asmarani adalah bahwa jangan cepat menaruh
cinta terhadap seseorang, karena kita tidak tahu apa orang tersebut benar mencintai kita atau
hanya menginginkan sesuatu dari kita. Selain itu terdapat pula amanat agar kita menaruh cita-
cita yang tinggi dan kalau bisa jangan hanya itu saja cita-cita yang kita punya, karena jika
sudah tercapai kita tidak tahu harus apa lagi.

5.4.Latar
Menurut Sudjiman (1986) peristiwa-peristiwa dalam cerita tentulah terjadi pada suatu
waktu atau di dalam suatu rentang waktu tertentu dan pada suatu tempat tertentu. Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan
dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam suatu karya sastra
membangun latar cerita (Sudjiman, 1988:44).

Hudson membedakan latar menjadi latar sosial dan latar fisik/material. Latar sosial
mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sisoal dan sikapnya, adat
kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. Adapun yang dimaksud
dengan latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya, yaitu bangunan, daerah, dan
sebagainya. (Hudson dalam Sudjiman, 1988:44).

Mengacu pada pernyataan Hudson dan Sudjiman, dan dilihat melalui peritiwa-
peristiwa yang ada dalam novel. Maka dapat dikatakan novel Asmarani mengambil latar di
Desa Ngombol. Sebagian besar fokus latar ada pada rumah Asmarani, sekolahan, Purwodadi,

2
Prapti Rahayu, dkk. Wanita Dalam Sastra Jawa Modern : 1945-1965 (Jakarta: Pusat Bahasa, 2003), Hlm. 10
3
Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia : Edisi Ketiga. (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), Hlm. 260
16
Surabaya dan Ngombol. Latar sosial dalam novel bercerita mengenai kehidupan di desa
Ngombol pada jaman Nasakom. Jaman dimana pemerintahan kacau balau dan ekonomi
masyarakat sangat memprihatinkan.

6. Kesimpulan

Novel merupakan sebuah karya sastra yang termasuk ke dalam teks naratif. Novel
Asmarani juga tergolong sebagai bentuk teks naratif. Teks naratif menurut Luxemburg adalah
semua teks yang tidak bersifat dialog dan yang isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah
deretan peristiwa (Luxemburg, 1989:119). Novel sebagai sebuah bentuk karya sastra rekaan
pasti mengandung unsur-unsur cerita seperti alur, tokoh dan penokohan, tema dan latar.

Tema yang diangkat pada novel Asmarani ini adalah pendewasaan. Pendewasaan
memiliki pengertian proses, cara, perbuatan menjadikan dewasa4. Secara stuktural novel
Asmarani ini beralur balikan, dengan flashback pada bagian dimana diceritakan siapa
Asmarani sebenarnya. Latar-latar dalam novel banyak mengambil tempat di Ngombol,
Sekolahan, rumah Pak Nataran. Beberapa tempat seperti Surabaya, Yogyakarta dan juga
Purwodadi disebutkan dalam novel. Latar sosial pada novel yaitu saat jaman Nasakom,
dimana seorang anak gadis biasa dinikahkan pada umur yang terbilang sangat muda.

Karakteristik Asmarani yang tergambar dalam novel adalah jahil dan nakal, polos,
suka mencari perhatian. Konflik-konflik dalam hidupnya menjadikannya wanita yang dewasa.
sifat-sifat yang dimiliki tokoh Asmarani sangatlah berbeda dengan sifat wanita Jawa seperti
sabar, lembut, pasrah, taat, penurut. Jika dibandingkan dengan tokoh pewayangan, tokoh
Asmarani ini mirip dengan tokoh Srikandi yang lincah dan cerewet.

Daftar Referensi

Brata, Suparto. 2013. Asmarani. Yogyakarta : Penerbit Elmatera

4
Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia : Edisi Ketiga. (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), Hlm. 260
17
Djoko Damono, Sapardi. 2000. Priyayi Abangan : Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an.

Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya

Hutomo, Suripan Sadi. 1975. Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Jakarta : Pusat Pembinaan

dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Kutha Ratna, Nyoman. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Jogjakarta :

Pustaka Pelajar.

Luxemburg, Jan Van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta : Gramedia

Mardianto, Herry, dkk. 1996. Sastra Jawa Modern : Periode 1920 sampai Perang

Kemerdekaan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nurgiyantoro, Burhan. 1955. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.

Pardi, dkk. 1996. Sastra Jawa : Periode Akhir Abad XIX-Tahun 1920. Jakarta : Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan

Quinn, George. 1992. Novel Berbahasa Jawa : Berbagai Aspek tentang Ciri Sastra dan

Sosialnya. Belanda : KITLV Press

Rahayu, Prapti, dkk. 2003. Wanita Dalam Sastra Jawa Modern : 1945-1965. Jakarta : Pusat

Bahasa

Ras, J.J. 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta: Grafiti Pers.

Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang : Angkasa Jaya.

Soeprapto, Sarworo Y. 1991. Sastra Jawa Modern dan Masyarakat : Kritik Esai

18
Kesusastraan Jawa Modern (Poer Adhie Prawoto, ed). Bandung : Angkasa

Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta : Pustaka Jaya

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta : Gramedia.

Kamus:

Utomo, Sutrisno Sastro. 2009. Kamus Lengkap Jawa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia : Edisi Ketiga.
Jakarta : Balai Pustaka

19