Vous êtes sur la page 1sur 11

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

KAJIAN PENERAPAN EKOLABEL PRODUK DI INDONESIA

TEKNIK SIPIL
KONSTRUKSI SIPIL
ANGGOTA KELOMPOK :
NASHA CHAERUNISYA (3114120058)
RISKI INDRIYANTO (3114120024)

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA


2017

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam Peraturan Pemerintah No.102 Tahun 2000 Tentang Standardisasi Nasional
disebutkan bahwa salah satu tujuan standardisasi nasional adalah meningkatkan perlindungan
konsumen, pelaku usaha dan masyarakat untuk keselamatan, kesehatan maupun pelestarian
fungsi lingkungan hidup. Dalam perdagangan dunia yang sudah tidak lagi mengenal batas
negara, standardisasi mempunyai peranan penting dan perlu terus dikembangkan guna
menunjang peningkatan mutu barang dan jasa dalam menghadapi persaingan yang semakin
ketat. Disamping itu dengan semakin meningkatnya pembangunan di sektor industri dan
perdagangan, maka timbullah berbagai masalah sebagai akibat dari proses pembanguan
tersebut yang berupa resiko gangguan dan kerusakan lingkungan. Keadaan ini semakin
diperparah oleh pelaku usaha/industri dalam menggunakan sumber daya alam yang ada tanpa
memperhitungkan resiko kerusakan alam tersebut untuk generasi mendatang. Setiap produk
mempunyai dampak terhadap lingkungan selama tahap-tahap daur hidupnya yaitu mulai dari
perolehan bahan baku, proses produksi, distribusi sampai kepada pembuangan akhir. Dampak
potensial lingkungan produk dapat dikurangi dengan mempertimbangkan isu lingkungan
kedalam standar produk. Isu lingkungan dimaksud misalnya ekolabel, gas rumah kaca, dan
lainlain. Oleh karena itu penerapan standar di bidang lingkungan dan ekolabel produk akan
Dalam perdagangan kita mengetahui bahwa kegiatan pemasaran/marketing merupakan upaya
untuk mempengaruhi konsumen/pembeli sesuai dengan segmen agar mereka tertarik untuk
membeli produk/ jasa yang ditawarkan. Melihat perkembangan kondisi lingkungan global
yang cenderung menurun bahkan ditengarai terjadinya pemanasan global (global warming)
akibat gas rumah kaca (greenhouse gas), maka terjadilah perubahan tuntutan
konsumen/pembeli di luar negeri yang semula produk itu harus yang sesuai kebutuhan,
bermutu baik dan harga bersaing menjadi bertambah yaitu produk yang ramah lingkungan.
Oleh karena itu untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa produk yang ditawarkan
adalah produk yang ramah lingkungan, maka diperlukan adanya tanda ekolabel pada suatu
produk atau kemasannya untuk membedakan dengan produk lain yang sejenis yang tidak
ramah lingkungan.

B. Tujuan
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji penerapan sistem ekolabel produk di
Indonesia.
BAB II
STUDI PUSTAKA

EKOLABEL

2.1 Pengertian
Ekolabel adalah suatu bentuk penilaian atau pengakuan oleh pihak ketiga yang
independen dan dapat dipercaya terhadap manajemen hutan yang sustainabel. Jaminan
bahan baku kayu berasal dari hutan lestari dan atau mengacu pada kaidah pelestarian
lingkungan hidup dibuktikan atau dinyatakan dalam bentuk sertifikat atau label.
Pengertian Ekolabel berasal dari kata "eco" yang berarti lingkungan, dan "label" yang
berarti tanda atau sertifikat. Jadi, ekolabel dapat diartikan sebagai kegiatan- kegiatan yang
bertujuan guna pemberian sertifikat yang mengandung kepedulian akan aspek-aspek yang
berkaitan dengan unsur lingkungan hidup. Bentuk sertifikat ekolabel itu terdiri dari
sertifikat sistem manajemen lingkungan ISO 14001, sertifikat SFM (Sustainable Forest
Management) dan sertifikat sistem lacak-balak (Chain of Custody/CoC).

2.2 Tujuan Ekolabel

Ekolabel bertujuan untuk memberikan informasi kepada konsumen bahwa produk


kayu yang dipasarkan sudah melalui pemberian label atau penandaan atau sertifikat yang
menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal dari areal konsesi hutan yang dikelola secara
berkelanjutan.
2.3 Fungsi Ekolabel

Sebagai salah satu standar pengelolaan hutan terdepan di Indonesia, LEI telah
mengembangkan beberapa sistem sertifikasi ekolabel, diantaranya sertifikasi ekolabel untuk
pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari (PHBML), sertifikasi ekolabel untuk
pengelolaan hutan tanaman lestari (PHTL), sertifikasi ekolabel untuk pengelolaan hutan alam
produksi lestari (PHAPL) dan sertifikasi lacak balak untuk penelusuran asal usul kayu.
2.4 Manfaat Ekolabel

a. Manfaat bagi Produsen adalah perbaikan pada produk secara berkesinambungan


dengan mempertimbangkan aspek lingkungan mulai bahan baku sampai habis masa
pakai (life cycle consideration) dan antisipasi pencemaran menuju lingkungan yang
lebih baik.
b. Manfaat bagi konsumen mendapat produk yang ramah mulai dari bahan baku, proses
produksinya, pendistribusiannya, penggunaannya, pembuangan/limbah setelah
digunakan memberi dampak lingkungan yang relatif lebih kecil dibanding produk lain
yang sejenis.

2.5 Ekolabel di Indonesia


2.5.1 Landasan Hukum Pengembangan Ekolabel Indonesia

Landasan hukum pengembangan Ekolabel Indonesia adalah Undang-undang No 23 tahun


1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup
pasal 10 huruf e mengamanatkan pengembangan perangkat pengelolaan lingkungan yang
bersifat proaktif, seperti ekolabel. Untuk sertifikasi Ekolabel Indonesia dikembangkan
berdasarkan acuan yang telah berkembang yakni ISO 14024 (Environmental Labels and
declarationType I ecolabelling Principles and Guidelines), Ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku (UU No 2 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, UU No.
8 tahun1999 tentang perlindungan konsumen dan mutu lingkungan), konvensi Internasional
dan standard-standard terkait dengan produk serta Benchmarking dengan criteria sejenis pada
program ekolabel lainnya.

2.5.2 Proses Perolehan Tanda Ekolabel Indonesia

Tahapan yang akan dilaksanakan meliputi:

1. Pendaftaran permohonan sertifikasi ekolabel

2. Pemeriksaan awal (Pra evaluasi) untuk mempelajari kelengkapan dokumen, perlu


tidaknya pelaksanaan pengujian oleh laboratorium untuk keprluan verifikasi, lingkup
pemeriksaan lapangan, pemenuhan criteria ekolabel produk, dan hal-hal yang diperlukan.

3. Tindakan perbaikan oleh perusahaan (bila diperlukan), berdasarkan hasil pemeriksaan


awal (Pra Evaluasi).

4. Pemeriksaan lapangan (Evaluasi) untuk melakukan verifikasi pemenuhan seluruh criteria


ekolabel produk kertas cetak tanpa salut.

5. Tindakan perbaikan oleh perusahaan (bila diperlukan) berdasarkan hasil pemeriksaan


lapangan (Evaluasi)

6. Rapat komite Sertifikasi untuk memutuskan pemeberian sertifikasi ekolabel pada produk
yang dimintakan sertifikasi.

7. Penerbitan sertifikasi ekolabel.

2.5.3 Tipe Tipe Ekolabel


Dalam prakteknya, secara garis besar ekolabel terdiri dari tigatipe berikut:
Ekolabel tipe 1 : voluntary, multiple criteria based practitionerprograms
Jenis ekolabel yang banyak digunakan di dunia sampai saat iniadalah ekolabel tipe 1
yang dilaksanakan oleh pihak ketiga yangindependen. Kriteria pemberian ekolabel
padaumumnyabersifat multi-kriteria, berdasarkan pertimbangan pada dampaklingkungan
yang terjadi sepanjang daur hidup produk. Setelahmelalui proses evaluasi oleh badan
pelaksana ekolabel tipe 1,maka pemohon diberi lisensi untuk mencantumkan logo
ekolabeltertentu pada produk atau kemasan produknya. Keikutsertaanpara pelaku usaha
dalam penerapan ekolabel tipe 1 bersifatsukarela.Secara umum, ekolabel tipe 1 terdiri dari
beberapa tahapsebagai berikut:
Pemilihan kategori produk dan jasa
Pengembangan dan penetapan kriteria ekolabel
Penyiapan mekanisme dan sarana sertifikasi, termasukpengujian, verifikasi dan evaluasi
serta pemberian lisensipenggunaan logo ekolabel
Ekolabel tipe 2 : self declaration environmental claims
Ekolabel tipe 2 merupakan pernyataan atau klaim lingkunganyang dibuat sendiri oleh
produsen/pelaku usaha yangbersangkutan. Ekolabel tipe 2 dapat berupa simbol, label
ataupernyataan yang dicantumkan pada produk atau kemasanproduk, atau pada informasi
produk, buletin teknis, iklan,publikasi, pemasaran, media internet, dll. Contoh pernyataanatau
klaim tersebut adalah recyclable, recycled material,biodegradable, CFC-free,
dll.Keabsahan ekolabel tipe 2 sangat dipengaruhi oleh:
Metodologi evaluasi yang jelas, transparan, ilmiah, danterdokumentasi
Verifikasi yang memadai
Ekolabel tipe 3 : quantified product information label
Ekolabel tipe 3 berbasis pada multi-kriteria seperti padaekolabel tipe 1, namun
informasi rinci mengenai nilai pencapaianpada masing-masing item kriteria disajikan secara
kuantitatifdalam label. Evaluasi pencapaian pada masing-masing itemkriteria tersebut
didasarkan pada suatu studi kajian daur hidupproduk. Dengan penyajian informasi tersebut,
konsumendiharapkan dapat membandingkan kinerja lingkungan olehberbagai produk
berdasarkan informasi pada label danselanjutnya memilih produk berdasarkan item kriteria
yangdirasakan penting oleh masing-masing konsumen.
Komite Akreditasi Nasional (KAN)
BAB III

STUDI KASUS

Ekolabel dapat dimanfaatkan untuk mendorong konsumen agar memilih produk-


produk yang memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan produk lain
yang sejenis. Penerapan ekolabel oleh para pelaku usaha dapat mendorong inovasi industri
yang berwawasan lingkungan. Selain itu, ekolabel dapat memberikan citra yang positif bagi
brand produk maupun perusahaan yang memproduksi dan/atau mengedarkannya di pasar,
yang sekaligus menjadi investasi bagi peningkatan daya saing di pasar. Bagi konsumen,
manfaat dari penerapan ekolabel adalah konsumen dapat memperoleh informasi mengenai
dampak lingkungan dari produk yang akan dibeli/digunakannya.

Meskipun ekolabel sangat baik untuk keberlangsungan kelestarian lingkungan, namun


tetap saja memiliki dampak negatif untuk kegiatan produksi para ukm di Jepara

Kesiapan produsen Jepara mempunyai sekitar 11.981 bisnis mebel . Survei


menunjukkan terdapat 28,6% pengrajin mebel skala kecil yang telah melakukan pencatatan
sepenuhnya dalam pembelian dan penggunaan bahan baku kayu, adapun pengrajin mebel
yang tidak melakukan pencatatan berjumlah hampir setengah dari total responden (42,9%).

Survei juga menunjukkan bahwa hanya 35% responden yang mendata proses produksi
mebel dan menyimpannya dalam komputer. Jumlah pengrajin yang mencatat biaya
pengeluaran dan pemasukan hanya 20%.

Sejumlah 64,3% pengrajin tidak sepenuhnya tahu sertifikasi hutan dan 57,1% tidak
mengetahui sertifikasi CoC. Sejumlah 42,9% dari pengrajin tidak sepenuhnya tahu sertifikasi
TFT, dan 57,1% tidak sepenuhnya tahu sertifikasi berbasis FSC. Namun demikian, 35,7%
responden pernah mengikuti pelatihan CoC dan 50% mengetahui keberadaan LEI.

Sejumlah 42,9% pengrajin merasa CoC dapat dilaksanakan jika difasilitasi. Sebesar
71,4% pengrajin belum pernah membuat mebel dari kayu bersertifikat dan lebih dari 50%
responden mempunyai kesulitan mencari kayu bersertifikat. Pengrajin tidak membuat mebel
dari bahan yang bersertifikat karena tidak ada jaminan akan mendapatkan harga yang lebih
tinggi dan mereka belum pernah mendapatkan pemesanan mebel dari kayu yang bersertifikat.
3.1 Salah satu contohnya CV Jati Wangi Furnitur di Jepara mengatakan bahwa usahanya
memiliki beberapa masalah :

1. Sulit menembus pasar internasional karena dunia internasional masih menganggap,


bahwa industri furnitur (kayu) Indonesia disinyalir banyak menggunakan bahan baku
illegal
2. Biaya sertifikasi ekolabel cukup tinggi bagi ukm
3. Keinginan konsumen untuk membayar lebih pada produk tersertifikasi cukup rendah
dikarenakan biaya produk meningkat

3.2 Penanganan masalah yang dapat dilakukan :


1. Pengembangan dan penerapan sertifikasi CoC FSC agar produknya dapat bersaing di
pasar internasional. Sertifikasi Chain of Custody (COC) adalah program sertifikasi
yang diaplikasikan pada unit industri dan distribusi hasil hutan untuk memastikan
bahwa produk kayu yang diproduksi oleh unit industri adalah berasal dari hutan yang
dikelola secara lestari yang ditunjukkan dengan sertifikat Sustainable Forest
Management (SFM). Sedangkan Forest Stewardship Council (FSC) adalah lembaga
international non-profit merupakan Lembaga Akreditasi yang pertama kali
mengembangkan Sertifikasi SFM dan COC. Sampai dengan saat ini lebih dari 30 juta
ha areal hutan di berbagai belahan penjuru dunia telah disertifikasi oleh lembaga
sertifikasi yang telah diakreditasi oleh FSC melalui standar dan proses sertifikasi yang
cukup ketat dan mendapat pengakuan yang sangat signifikan dari berbagai
stakeholder di tingkat international.

2. Menekan biaya sertifikasi. Jika biaya seritifikasi rendah, para ukm akan mampu
melakukan sertifikasi agar kualitas produknya bisa setara dengan produk
internasional. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara mengajukan bantuan biaya
sertifikasi untuk ukm kelas menengah dari pemerintah ( subsidi ) demi mendukung
kemajuan ekonomi yang ramah lingkungan.

3. Dengan rendahnya biaya sertifikasi seperti yang di sebut pada nomor 2, maka
keinginan konsumen menjadi lebih besar karena harga produk yang tersertifiksi masih
terjangkau
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Ekolabel adalah suatu bentuk penilaian atau pengakuan oleh pihak ketiga yang
independen dan dapat dipercaya terhadap manajemen hutan yang sustainable

2. Sertifikasi ekolabel dapat di keluarkan oleh beberapa instansi salah satunya LSI

3. Setiap ukm harus melakukan sertifikasi ekolabel agar bisa bersaing di pasar
internasional

4. Biaya sertifikasi harus terjangkau oleh setiap ukm

4.2 Saran

1. Sebaiknnya pemerintah membuat pengelompokan usaha yang layak diberi bantuan


sertifikasi

2. Sebaiknya pemerintah mensosialisasi tentang legalitas produk kepada produsen


DAFTAR PUSTAKA

BPLH Kota Bekasi


http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=167966&val=5634&title=DAMPAK%20SERTIFIKASI%20EKOLABEL
%20TERHADAP%20%20SUSTAINABILITAS%20INDUSTRI%20FURNITUR
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=5165&val=195
https://environment-indonesia.com/portfolio/sekilas-tentang-iso-14001/
http://indonesiaforest.webs.com/masalah_amdal.pdf
http:/medizton.wordpress.com/2012/01/07/contoh-kasus-amdal-kawasan-lingkungan-
industri-kecil-di-semarang-kompas-2-agustus-2012
http://muhammadsholihin8.blogspot.com/2013/10/analisis-mengenai-dampak-
lingkungan_2384.html#sthash.p3E6HtFN.dpuf
https://pondokmanajemen.wordpress.com/fsc/
http:/ssbelajar.blogspot.com/2012/04/peranan-dan-kegunaan-amdal.html
Wardhana, AW, 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset. Yogyakarta
Fandeli, Chapid, 2007. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Liberty Offset.
Yogyakarta
PERTANYAAN
Muhammad Rhama TP : 1. Apa yang dimaksud dengan interdisipliner ?
2. Syarat kayu yang seperti apa yang harus diberi ekolabel?
3. Sertfikasi CoC itu prosedurnya seperti apa?
Riantino Oktoprima : Apakah dengan adanya ekolabel dapat berdampak terhadap
ekspor barang untuk keluar negeri bagi Indonesia itu Sendiri

Dinar Dwi Apriyanti : Apakah hanya kayu saja yang harus diberi ekolabel ?

Muhammad Arief D.U : Hutan yang seperti apa yang harus diberi sertifikat
ekolabelling ?

JAWABAN
Muhammad Rhama TP : 1. Interdisipliner adalah suatu langkah untuk memecahkan
permasalahan yang ada, para analisator sering menggunakan interdisipliner itu sendiri.
Sebagai contoh pemecahan sebuah permasalahan bercabang tetapi di waktu yang sama.
2. Syarat kayu yang harus diberi ekolabel itu dari hutan yang
sudah bersertifikasi ekolabel, seperti hutan yang telah disertifikasi oleh Lembaga Ekolabel
Indonesia (LEI). Serta syarat yang diperbolehkan atau diberi ekolabel maksimum kayu yang
berdiameter 60 cm.
3.

Riantino Oktoprima : bisa berdampak terhadap tumbuh kembangnya ekspor barang


Indonesia keluar negeri dikarenakan, beberapa negara seperti Singapura, Jepang, Inggris,
Prancis dll itu sudah memberlakukan sistem ekolabel yang mana produk yang diimpor dari
Indonesia harus bersertifikat Chain Of Custody (CoC) sertifikat ekolabel Internasional.

Dinar : tidak hanya kayu saja yang harus diberi ekolabel, banyak
produk di Indonesia yang ber-ekolabel contohnya Plastik, Helm, Tissue, Kulkas, Air
Conditioner. Dimana tujuan produk tersebut penggunaannya dapat menjadi ramah
lingkungan.

Muhammad Arief D.U : hutan yang bersertifikat ekolabel itu hutan yang dapat di
hjaukan kembali, atau hutan yang setelah pelaksanaan penebangan untuk produksi meubel
ditanami kembali dan tumbuh seperti sedia kala.