Vous êtes sur la page 1sur 3

CORPUS ALIENUM VAGINAE

Gol Penyakit SKDI :


Dara Puspita
0907101050014

1. Definisi

Corpus alienum adalah benda asing yang berasal dari luar atau dalam tubuh yang
dalam keadaan normal tidak ada pada tubuh. Sebuah benda asing (bahasa Latin: corpus
alienum) adalah setiap objek yang berasal dari luar tubuh. Pada tubuh, dapat berarti objek
mengganggu dan tidak diinginkan. Kebanyakan benda asing melibatkan secara propulsi
melalui lubang alami ke dalam organ berongga. Benda-benda asing dapat menjengkelkan.
Jika mengiritasi akan menyebabkan peradangan dan jaringan parut. Corpus alienum dapat
membawa infeksi ke dalam tubuh atau memperoleh agen infeksi dan melindungi mereka
dari pertahanan kekebalan tubuh. Mereka bisa menghambat lorong-lorong baik oleh
ukuran mereka atau oleh mereka menyebabkan jaringan parut. Beberapa dapat menjadi
racun (Robbins, 2005).

2. Epidemiologi

Benda asing yang dimasukkan ke dalam vagina merupakan 5% dari kunjungan


ginekologik anak-anak. Sebagian besar anak tidak akan mengingat atau mengakui
memasukkan benda ke dalam vagina. Insidensi tertinggi terdapat pada usia 2 hingga 4
tahun. Tissue toilet gulung merupakan benda yang paling sering dijumpai. Benda asing di
dalam vagina merupakan kejadian yang lazim ditemukan pada anak-anak. Kadang-kadang
wanita dewasa melupakan tampon atau spons di dalam vagina. Yang lebih tua, pasien-
pasien yang sudah pikun terutama cenderung melupakan pesarium yang mana dapat
mengalami kalsifikasi. Benda asing dalam vagina ditemukan pada l8% wanita remaja
dengan perdarahan vagina dan pada 50% di antaranya yang disertai perdarahan dan tanpa
pengeluaran cairan vagina (Schwartz, 2005).
3. Etiologi

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan benda asing di dalam vagina yaitu:
a. Faktor kesengajaan, biasanya terjadi pada anak-anak balita.
b. Faktor kecerobohan sering terjadi pada orang dewasa sewaktu menggunakan alat alat
pembersih seperti tissue toilet (Winkosastro, 2002).

1
Normalnya pada anak-anak, jarang pada orang dewasa Kebanyakan, benda bulat,
bola, kelereng, kapas, kancing, kadang-kadang pensil tumpul atau jepitan rambut, lebih
jarang benda dengan tepi yang tajam Pada orang dewasa tutup tabung aplikator untuk
memberikan pengobatan dan bermacam-macam seperti kondom, benang IUD, tampon,
pesarium, dan tisu toilet yang tertinggal didalam vagina (Heller, 1997).
4. Manifestasi Klinis

Anak datang berobat dengan riwayat vagina berbau busuk. sering disertai sekret
vagina yang berdarah. Perdarahan vagina biasanya berwarna merah terang, sedikit, dan
intermiten. Gejala yang paling mengganggu pasien adalah bau yang sangat menyengat.
Benda asing termasuk kondom, karet, spiral, dan apa saja yang tertinggal didalam vagina
sengaja atau tidak, dapat menjadi penyebab keputihan. Demikian juga tampon atau
pembalut wanita yang dipakai di dalam vagina (Nadesul, 2010).
Benda asing dapat menyebabkan terjadinya perdarahan vagina pada penderita
pediatri. Adanya pengeluaran cairan vagina yang berbau busuk disertai dengan perdarahan
vagina memberi kesan kemungkinan adanya benda asing. Benda-benda asing dapat
menimbulkan vaginitis yang disertai dengan sekret yang tidak menyenangkan dan bau.
Benda-benda yang tajam menyebabkan Iaserasi vagina (Behrman et al, 2000).
5. Diagnosis

Insersi spekulum. Pada anak, periksa rektum dengan hati-hati. Pada pemeriksaan
fisik, vagina terlihat merah dengan terdapat sekret yang berbau busuk. Pada pemeriksaan
rektal. Benda asing yang besar dapat diraba dengan mudah. Benda yang lebih kecil seperti
tissue toilet mungkin tidak teraba (Cuningham dan Macdonald, 2000).
Pemeriksaan radiografis kurang bermanfaat karena sebagian besar benda asing
biasanya tidak radioopak. Rontgenogram sederhana atau ultrasonogra pelvis seringkali
dapat membantu. Kertas toilet yang menyumbat adalah benda asing yang paling sering
ditemukan dalam vagina. Vaginoskopi penting untuk menegakkan diagnosis dan
mengangkat benda asing (Sarwono, 2000).
6. Penatalaksanaan

Pada orang dewasa: insersi spekulum, singkirkan dengan forsep pembalut. Pada
anak-anak, masukkan jari kelingking ke dalam rektum umumnya benda bulat tertentu
mudah dipalpasi, dan mudah dikeluarkan ke ventral, paling tidak ia dapat dilokalisasi
dikeluarkan dengan forsep kecil tanpa pemasangan spekulum.

2
Dalam hal benda dengan sisi tajam, tanpa usaha mempermudah pengeluaran dalam
kejadian manapun, pasang spekulum untuk menghindari cedera selama pengeluaran dan
untuk mengenal luka yang telah ada. Bila benda asing tidak dapat dikeluarkan tanpa
kesukaran atau jika diduga akan terjadi luka terhadap organ sekelilingnya oleh benda
dengan sisi yang tajam. Secara klinis periksa kandung kemih (urina berdarah) dan rektum
(pengeluaran feses dan flatus involunter), pada terjadinya kasus iritasi: laparotomi
(Djuanda, 2002).
Kebanyakan benda-benda asing mudah diidentifikasi dan dikeluarkan di dalam
ruang pemeriksaan. laserasi diperbaiki dan vaginitis diobati dengan krem antibakteri.
Benda kecil dapat dikeluarkan dengan melakukan irigasi. Anestesi umum sering diperlukan
untuk mengeluarkan benda yang lebih besar. Sebelum mengangkat benda asing yang lama,
direkomendasikan untuk memberikan terapi antibiotik (Taber, 2004).
DAFTAR PUSTAKA
Behrman, R., E., Kliegman, R., M., Arvin, A., M. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.
3. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Hal: 1900.
Cuningham, Macdonald, G. 2000. William Obstetri. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran.
EGC. Hal: 1051-1057.
Djuanda, A. 2002. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi ke tiga. Jakarta. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Hal: 103-106, 358-364.
Heller, L. 1997. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran. EGC. Hal: 13.
Nadesul, H. 2010. Sehat Itu Nikmat. Jakarta. Penerbit Libri. PT BPK Gunung Mulia. Hal:
120.
Robbins, L., M., D. 2005. Buku Ajar Patologi II, Edisi ke empat. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran. EGC. Hal: 372-377.
Sarwono, P. 2000. Ilmu Kandungan. Edisi ke dua, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. Hal: 271.
Schwartz, M., W. 2005. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran.
EGC. Hal: 723.
Taber, B., Z. 2004. Kedaruratan Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran. EGC. Hal: 458.
Winkosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga, cetakan ke enam. Jakarta. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Hal: 406-410.