Vous êtes sur la page 1sur 12

KELUARGA SEJAHTERA

Tugas Ini Untuk Memenuhi Nilai Mata Kuliah Keperawatan Keluarga

Disusun Oleh:
Shintia Rahma Dewi
Dewi Sinta
Hesvi Yulhaningrum
Yesi Nurindayani
Tien Eliyani Nurazizah
Winda Hamala
Dikky Koswara
Najip Nuryakin
Lili Darmawan

PRODI S1 KEPERAWATAN 3B
STIKES KHARISMA KARAWANG
Tahun 2017
BAB I

PENDAHULUAN

Pembangunan manusia seutuhnya dimulai sejak saat


pembuahan dan berlangsung sepanjang masa hidupnya dan
tidak dapat dilepaskan dari seluruh segi kehidupan keluarga di
mana ia dibesarkan.

Pembangunan masyarakat sangat tergantung kepada


kehidupan keluarga yang menjadi bagian inti dari masyarakat itu,
sehingga keluarga memiliki nilai strategis dalam pembangunan
nasional serta menjadi tumpuan dalam pembangunan manusia
seutuhnya. Masalah yang kita hadapi saat ini masih banyaknya
keluarga di Indonesia ini yang berada dalam kondisi
prasejahtera, adalah kewajiban kita semua untuk meningkatkan
mereka sehingga mencapai keluarga sejahtera. Untuk
mewujudkan tujuan pembangunan tersebut perlu dilakukan
berbagai upaya pembinaan keluarga dari berbagai aspek
kehidupan termasuk segi kesehatannya. Perawat dengan
perannya sebagai tenaga kesehatan yang profesional
mempunyai andil yang cukup besar dan sangat diharapkan
dalam mewujudkan upaya pembinaan keluarga tersebut
sehingga terciptalah suatu keluarga sejahtera yang pada
akhirnya akan membentuk masyarakat dan Negara yang
sejahtera pula.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk atas


dasar perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan
spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada tuhan
yang maha esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan
seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat dan
lingkungan (a.mungit,1996).

Berdasarkan kemampuan keluarga untuk pemenuhan


kebutuhan dasar, kebutuhan spikososial, kemampuan
memenuhi ekonominya dan aktualisasinya di masyarakat
serta memperhatikan perkembangan negara indonesia
menuju negara industri, maka negara indonesia menginginkan
terwujudnya keluarga sejahtera.

Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut


kemakmuran saja, melainkan juga harus secara keseluruhan
sesuai dengan ketentraman yang berarti dengan kemampuan
itulah dapat menuju keselamatan dan ketentraman hidup.

Dalam rencana pembangunan nasional memberikan


petujuk bahwa pembangunan keluarga sejahtera diarahkan
pada terwujudnya keluarga sebagai wahana persmian nilai-
nilai luhur budaya bangsa guna meningkatkan kesejahteraan
keluarga serta membina ketahanan keluarga agar mampu
mendukung kegiatan pembangunan.

UU No.10/1992 pasal 3 ayat 2 menyebutkan bahwa


pembangunan keluarga sejahtera diarahkan pada
pembangunan ku kualitas keluarga yang bercirikan
kemandirin, ketahanan keluarga dan kemandirian kelauarga.

B. Tujuan Keluarga Sejahtera

Keluarga sejahtera bertujuan untuk mengembangkan


keluarga agar timbul rasa aman, tentram dan harapan masa
depanyang lebih baik merupakan salah satu pembentuk
ketahanan keluarga dalam membangun keluarga sejahtera.

Pelaksanaan pembangunan dalam keluarga sejahtera

Dalam PP No. 21 Th 1994, pasal 2: pembangunan


keluarga sejahtera diwujudkan melalui pengembangan
kualitas keluarga diselenggarakan secaramenyeluruh, terpadu
oleh masyarakat dan keluarga.

Tujuan: Mewujudkan keluarga kecil bahagia, dejahtera


bertakwa kepada Tuhan YangMaha Esa, produktif, mandiri dan
memiliki kemampuan untuk membangun dirisendiri dan
lingkungannya.

C. Tahapan Keluarga Sejahtera

Menurut kantor menteri negara kependudukan / BKKBN


(1996), tahapan keluarga sejahtera terdiri dari :
1. Keluarga Prasejahtera

Keluarga prasejahtera yaitu, keluarga-keluarga yang


belum dapat memenuhi kebutuhan dasar (basic needs)
secara minimal, seperti kebutuhan akan pengajaran,
agama, pangan, sandang, papan, dan kesehatan
prasejahtera. Keluarga ini belum mampu untuk
melaksanakan indikator sebagai berikut:

1) Keluarga melaksanakan ibadah menurut agama yang


dianut masing-masing
2) Keluarga makan 2 kali sehari atau lebh
3) Keluarga menggunakan pakaian yang berbeda untuk
berbagai keperluan
4) Keluarga mempunyai rumah yang sebagian besar
berlantai bukan dari tanah
5) Keluarga memeriksakan kesehatan ke petugas atau
sarana kesehatan (bila anak sakit atau PUS ingin ber-
KB)

2. Keluarga Sejahtera I

Keluarga Sejahtera I yaitu keluaraga-keluarga yang


telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara
minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan
kebutuhan sosial psikologi (social psychological need)
seperti kebutuhan terhadap pendidikan, keluarga
berencana, interaksi dalm keluarga dengan lingkungan
tempat tinggal dan transportasi. Keluarga ini sudah mampu
melaksanakan indikator 1-5 tetapi belum mampu
melaksanakan indikator sebagai berikut:

6) Keluarga melaksanakan ibadah secara teratur


menurut agama yang dianut
7) Keluarga makan daging,ikan, atau telur sebagai lauk
pauk sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu
8) Keluarga memeperoleh pakaian baru dalam satu
tahun terakhir
9) Setiap anggota kluarga mempunyai ruang kamar
yang luasnya 8 m2
10) Semua anggota keluarga sehat dalam 3 bulan
terakhir sehingga dapat melaksanakan fungsi mereka
masing-masing
11) Paling sedikit 1 anggota keluarga yang
berumur 15 tahun keatas memiliki penghasilan tetap
12) Seluruh anggota keluarga yang berusia 10 60
tahun mampu membaca dan menulis latin
13) Anak usia sekolah (7-15 tahun) dapat
bersekolah
14) Keluarga yang masih pasangan usia subur
(PUS) memakai kontrasepsi dan mempunyai 2 anak
atau lebih yang hidup

3. Keluarga Sejahtera II

Keluarga sejahtera II yaitu keluarga-keluarga yang


telah dapat memenuhi kebutuhan dasar dan seluruh
kebutuhan psikologis, tetapi belum dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan perkembangannya (developmental
needs) seperti kebutuhan untuk menabung dan
memperoleh informasi. Keluarga ini sudah mampu
melaksanakan indikator 1-14 tetapi belum mampu
melaksanakan indikator-indikator sebagai berikut:

15) Keluarga berusaha meningkatkan atau


menambah pengetahuan agama
16) Keluarga mempunyai tabngan
17) Keluarga makan bersama paling sedikit 1 kali
dalam sehar
18) Keluarga ikut serta dalam kegiatan masyarakat
19) Keluarga melakukan reaksi
bersama/penyegaran paling kurang sekali dalam 6
bulan
20) Keluarga memperloleh berita dari surat kabar,
majalah , radio, dan televisi.
21) Keluarga mamu mnggunakan sarana
transportasi

4. Keluarga sejahtera III,

Keluarga sejahtera III yaitu keluarga-keluarga yang


telah dapat memenuhi seurh kebutuhan dasar, kebutuhan
sosial-psikologis, dan kebutuhan perkembangan, namun
belum dapat memberikan sumbangan (kontribusi) yang
maksimal terhadap masyarakat. Misalnya, secara teratur
(waktu tertentu) memberikan sumbangan dalam bentuk
material dan keuangan untuk kepentingan sosial
kemasyarakatan atau yayasan-yayasan sosial,
keagamaan, keseian, olahraga, pendidikan, dan
sebagainya. Keluarga ini sudah mampu melaksanakan
indikator 1-21 tetapi belum mampu melaksanakan
indikator sebagai berikut:

22) Keluarga memberikan sumbangan secara teratur


(waktu tertentu) dan sukarela dalam bentuk material
kepada masyarakat
23) Keluarga aktif sebagai pengurus yayasan atau
insttusi masyarakat

5. Keluarga sejahtera III plus,

Keluarga sejahtera III yaitu keluarga-keluarga yang


telah dapat memeuhi seluruh kebutuhannya, baik yang
bersifat dasar, sosial psikologis, maupun yang bersifat
pengembangan serta dapat pula memberikan sumbangan
yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Sebuah
kelarga dapat disebut keluarga sejahtera plus bila sudah
mampu melaksanakan semua indikator (23).

D. Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan


1. Faktor intern keluarga
a. Jumlah anggota keluarga

Pada zaman seperti sekarang ini tuntutan keluarga


semakin meningkat tidak hanya cukup dengan
kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, pendidikan,
dan saran pendidikan) tetapi kebutuhan lainya seperti
hiburan, rekreasi, sarana ibadah, saran untuk
transportasi dan lingkungan yang serasi. Kebutuhan
diatas akan lebih memungkinkan dapat terpenuhi jika
jumlah anggota dalam keluarga sejumlah kecil.

b. Tempat tinggal

Suasana tempat tinggal sangat mempengaruhi


kesejahteraan keluarga. Keadaan tempat tinggal yang
diatur sesuai dengan selera keindahan penghuninya,
akan lebih menimbulkan suasana yang tenang dan
mengembirakan serta menyejukan hati. Sebaliknya
tempat tinggal yang tidak teratur, tidak jarang
meninbulkan kebosanan untuk menempati. Kadang-
kadang sering terjadi ketegangan antara anggota
keluarga yang disebabkan kekacauan pikiran karena
tidak memperoleh rasa nyaman dan tentram akibat tidak
teraturnya sasaran dan keadaan tempat tinggal.

c. Keadaan sosial ekonomi keluarga

Untuk mendapatkan kesejahteraan kelurga alasan


yang paling kuat adalah keadaan sosial dalam keluarga.
Keadaan sosial dalam keluarga dapat dikatakan baik
atau harmonis, bilamana ada hubungan yang baik dan
benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa kasih
sayang antara anggota keluarga.manifestasi daripada
hubungan yang benar-benar didasari ketulusan hati dan
rasa penuh kasih sayang, nampak dengan adanya saling
hormat, menghormati, toleransi, bantu-membantu dan
saling mempercayai.

d. Keadaan ekonomi keluarga.

Ekonomi dalam keluarga meliputi keuangan dan


sumber-sumber yang dapat meningkatkan taraf hidup
anggota kelurga makin terang pula cahaya kehidupan
keluarga. (BKKBN, 1994 : 18-21). Jadi semakin banyak
sumber-sumber keuangan/pendapatan yang diterima,
maka akan meningkatkan taraf hidup keluarga. Adapun
sumber-sumber keuangan/pendapatan dapat diperoleh
dari menyewakan tanah, pekerjaan lain diluar
berdagang, dsb.

2. Faktor ekstern

Kesejahteraan keluarga perlu dipelihara dan terus


dikembangan terjadinya kegoncangan dan ketegangan jiwa
diantara anggota keluarga perlu di hindarkan, karena hal
ini dapat menggagu ketentraman dan kenyamanan
kehidupan dan kesejahteraan keluarga.

Faktor yang dapat mengakibatkan kegoncangan jiwa


dan ketentraman batin anggota keluarga yang datangnya
dari luar lingkungan keluarga antara lain:

Faktor manusia: iri hati, dan fitnah, ancaman fisik,


pelanggaran norma.
Faktor alam: bahaya alam, kerusuhan dan
berbagai macam virus penyakit.
Faktor ekonomi negara: pendapatan tiap
penduduk atau income perkapita rendah, inflasi.
(BKKBN, 1994 : 18-21)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk atas
dasar perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan
spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang
antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.

Tahapan keluarga sejahtera terdiri dari keluarga


prasejahtera, keluarga sejahtera I, Keluarga sejahtera II, Keluarga
sejahtera III, dan Keluarga sejahtera III plus. Masing-masing
tahapan memiliki indikatornya. Faktor-faktor yang mempengaruhi
keluarga sejahtera ada 2, faktor intern keluarga dan faktor
ekstern.

DAFTAR PUSTAKA
Harnilawati. 2013. Konsep dan proses keperawatan keluarga.
Sulawesi Tengah: Pustaka As Salam

Sudiharto. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan


Pendekatan Keperawatan Transkultural. Jakarta: EGC

BKKBN, Pendataan Keluarga Tahun 2000


(http://www.bkkbn.go.id/privince/yogya/MENU 04.htm).