Vous êtes sur la page 1sur 4

Going Concernt atau Kelangsungan Usaha

Berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, suatu entitas dipandang bertahan dalam


bisnis untuk masa depan yang dapat diprediksi. Laporan keuangan bertujuan umum disusun
atas suatu basis kelangsungan usaha. Ketika penggunaan asumsi kealngsungan usaha tidak
tepat, aset dan liabilitas dicatat atas dasar entitas akan mampu untuk merealisasikan asetnya
dan melunasi liabilitasnya dalam kegiatan normal bisnisnya. (Ref : Para. A1). Beberapa
kerangka pelaporan keuangan mengandung suatu ketentuan eksplisit bagi manajemen untuk
membuat suatu penilaian spesifik atas kemampuan entitas untuk mempertahanakn
kelangsungan usahanya.
Asumsi kelangsungan usaha merupakan suatu prinsip yang fundamental dalam
penyusunan laporan keuangan, penyusunan laporan keuangan mengahruskan manajemen
untuk menilai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan usahanya, bahkan
ketika kerangka pelaporan keuangan tidak emncakup suatu ketentuan eksplisit untuk
melakukan hal tersebut. Penilaian manajemen atas kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya melibatkan suatu pertimbangan, pada suatu waktu
tertentu, tentang hasil peristiwa atau kondisi masa depan yang tidak pasti secara inheren.
Faktor-faktor berikut ini adalah relevan dengan pertimbangan tersebut :
a. Tingkat ketidakpastian yang terkaitan dengan hasil suatu peristiwa atau kondisi
meningkatkan secara signifikan hasil yang terjadi.
b. Ukuran dan kompleksitas entitas, sifat dan kondisi bisnisnya serta tingkat
keterpengaruhannya oleh faktor eksternal.
c. Setiap pertimbangan masa depan didasarkan atas informasi yang tersedia ketika
ertimbangan dilakukan.

Tanggung jawab auditor adalah untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
tentang ketepatan penggunaan asumsi kelangsungan usaha oleh manajemen dalam
penyusunan dan penyajian laporan keuangan, dan untuk menyimpulkan apakah terdapat suatu
ketidakpastian material tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan
usahanya.
Ketika peristiwa atau kondisi telah diidentifikasi yang dapat menyebabkan keraguan
signifikan atas kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usahanya, auditor
harus memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menentukan apakah terdapat suatu
ketidakpastian material melalui pelaksanaan prosedur audit tambahan, termasuk
pertimbangan atas faktor-faktor yang memitigasi. Prosedur tersebut harus mencakup :
a. Jika manajemen belum melakukan suatu penilaian atas kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya, maka auditor meminta manajemen untuk
melkaukan penilaian tersebut.
b. Mengevaluasi rencana manajemen atas tindakan di masa depan yang berkiatan dengan
penilaian kelangsungan usaha entitas.
c. Jika entitas telah membuat suatu prakiraan arus kas, dan analisis atas prakiraan
tersebut merupakan faktor yang signifikan dalam mempertimbangkan hasil masa
depan dari peristiwa atau kondisi dalam mengevaluasi rencana manajemen atas
tindakan di masa depan, maka auditor :
i. Mengevaluasi keandalan data yang melandasi penyusunan prakiraan
tersebut; dan
ii. Menentukan apakah terdapat dukungan yang cukup untuk asumsi yang
melandasi prakiraan tersebut.
d. Mempertimbangkan apakah setiap fakta atau informasi tambahan telah tersedia sejak
tanggal dilakukannya penilaian tersebut oleh manajemen.
e. Meminta representasi tertulis dari manajemen dan, jika relevan, pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, tentang rencana mereka untuk tindakan di masa
depan dan kelayakan rencana tersebut.

Jika auditor menyimpulkan bahwa penggunaan ausmsi kelangsungan usaha sudah tepat
sesuai dengan kondisinya, tetapi terdapata suatu ketidakpastian material, maka auditor harus
menentukan apakah laporan keuangan :
a. Menjelaskan secara memadai peristiwa atau kondisi utama yang dapat menyebabkan
keraguan signifikan atas kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan
ushanya dan rencana manajemen untuk menghadapi peristiwa atau kondisi tersebut;
dan
b. Mengungkapkan secara jelas bahwa terdapat ketidakpastian material yang terkait
dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas
kemampuan enitas untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

Jika pengungkapan yang memadai dicantumkan dalam laporan keuangan, maka auditor harus
menyatakan suatu opini tanpa modifikasian dan mencantumkan suatu paragraph penekanan
suatu hal dalam laporan auditor untuk :
a. Menekankan keberadaan suatu ketidakpastian material yang berakaitan denga
peristiwa atau kondisi yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan
entitas untuk mempertahankan kelangsungan usahanya; dan
b. Mengarahkan perhatian pada CaLK yang mengungkapkan hal-hal yang dirujuk dalam
paragraph 18.

Jika pengungkapan yang memadai tidak dicantumkan dalam LK, maka auditor harus
menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian atau opini tidak wajar, sesuai dengan
kondisinya.

Jika LK telah disusun berdasarkan suatu basis kelangsungan usaha, tetapi menurut
pertimbangan auditor, penggunaan asumsi kelangsungan usahan dalam LK oleh manajemen
adalah tidak tepat, maka auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajr.

Jika manajemen tidak mau membuat atau meperluas penilaiannya bila diminta untuk
melakukan hal itu oleh auditor, maka auditor harus mempertimbangkan implikasinya
terhadap laporan auditor.

Kecuali jika semua pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola terlibat dalam pengelolaan
entitas, auditor harus mengomunikasikan dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola, peristiwa atau kondisi yang mungkin menimbulkan keraguan signifikan terhadap
kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Komunikasi seperti itu
dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola harus meliputi hal-hal berikut :
a. Apakah perisitwa atau kondisi merupakan suatu ketidakpastian material;
b. Apakah penggunaan asumsi kelangsungan usahan sudah tepat dalam penyusunan dan
penyajian LK;
c. Kecukupan pengungkapan terkait dalam LK
Peristiwa atau kondisi yang menyebabkan keraguan signifikan tentang asumsi kelangusngan
usaha yaitu :
a. Keuangan
Posisi liabilitas bersih atau liabilitas lancar bersih
Indikasi penarikan dukungan keuangan oleh kreditor
Arus kas operasi yang negative, yang diindikasikan oleh LK historis atau
prospektif
Ketidakmampuan untuk mmeeproleh pendanaan untuk pengembangan produk
baru yang esensial atau investasi esensial lainnya.
b. Operasi
Intensi manajemen untuk melikuidasi entitas atau untuk mengehentikan
operasinya.
Hilangnya manajemen kunci tanpa penggantian
Kesulitasn tenaga kerja
Kekurangan penyediaan barang/bahan.
c. Lain-lain
Ketidak patuhan terhadap ketentuan permodalan atau ketentuan statutory
lainnya.
Perkara hukum yang dihadapi entitas yang jika berhasil dapat mengakibatkab
tuntutan kepada entitas yang kemungkinan kecil dapat dipenuhi oleh entitas.