Vous êtes sur la page 1sur 31

MODUL 5

SKENARIO 5 : DADA TORI MEMBESAR

Tori, seorang pemuda berumur 21 tahun, mengeluh sesak nafas yang semakin lama semakin
meningkat sejak satu minggu ini, disertai nyeri pada dada sebelah kanan. Melihat kondisi tersebut,
orang tua Tori membawanya berobat ke IGD rumah sakit. Dari anamnesis didapatkan Tori sudah
menderita demam dan batuk sejak satu bulan dan ia lebih suka berbaring ke arah kanan. Pada
pemeriksaan fisik paru didapatkan unilateral prominence hemitoraks dekstra, fremitus sisi kanan
berkurang dibanding kiri, perkusi kanan pekak sedangkan kiri sonor. Pada auskultasi terdengar suara
nafas kanan menghilang sedangkan kiri normal. Dokter memperkirakan adanya kelainan di rongga
dada. Tori kemudian diminta menjalani pemeriksaan foto thorax PA dan pemeriksaan lain. Hasil foto
toraks memperlihatkan adanya perselubungan homogen di hemitoraks dekstra dengan jantung
terdorong ke kiri.

Dokter mengatakan bahwa untuk mengatasi sesak yang dialami Tori harus segera dilakukan
tindakan guna mengurangi keluhan dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Setelah dilakukan
tindakan, Tori dirujuk ke dokter spesialis paru untuk penanganan selanjutnya. Dokter menjelaskan
kepada orang tua Tori bahwa kejadian seperti ini sering ditemuinya sehari-hari dengan bermacam
penyebab. Saat Tori sedang berada disana, masuk pasien dengan sesak nafas hebat setelah
tenggelam di sungai dan meninggal di UGD, yang kemudian dibawa ke Bagian Forensik.

Bagaimana anda menjelaskan apa yang terjadi pada Tori dan pasien yang tenggelam tersebut?

I. TERMINOLOGI
1. Unilateral prominence hemothorax dextra = Penonjolan di salah satu sisi tubuh yaitu
di dinding dada sebelah kanan.
2. Perselubungan homogen = suatu interpretasi pada foto thorax dimana terlihat
gambaran putih di lapangan paru.
3. Forensik = ilmu kedokteran yang mempelajari aspek medikolegal kedokteran.

II. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Mengapa terjadi sesak nafas yang semkain meningkat satu minggu ini dan nyeri
dada di sebelah kanan pada Tori?
2. Mengapa terjadi demam dan batuk sejak satu bulan ini?
3. Apa kaitan demam dan batuk sejak satu bulan dengan sesak nafas dan nyeri dada
sebelah kanan yang dialami Tori?
4. Apa interpretasi hasil pemeriksaan fisik Tori?
5. Apa hubungan keluhan Tori dengan keluhan ia suka berbaring ke kanan? Dan
mengapa Tori lebih suka berbaring ke arah kanan?
6. Apa interpretasi hasil pemeriksaan foto toraks PA Tori?
7. Apa pemeriksaan lain yang dilakukan kepada Tori?
8. Apa diagnosis dokter terhadap keluhan, hasil pemeriksaan fisik dan foto toraks Tori?
9. Bagaimana hubungan jenis kelamin dan umur dengan penyakit Tori?
10. Apa komplikasi yang mungkin terjadi? Bagaimana mencegah komplikasi tersebut?
11. Apa tindakan yang dilakukan dokter untuk mengatasi sesak Tori?
12. Apa penanganan selanjutnya yang dilakukan dirumah sakit rujukan?
13. Apa sajakah penyebab penyakit Tori?
14. Apa yang dilakukan bagian Forensik pada pasien yang men inggal karena tenggelam
tersebut?
15. Bagaimana terjadinya sesak nafas dan kematian pada tenggelam?
16. Apa tindakan dokter pada pasien yang tenggelam?

III. HIPOTESIS
1. Mengapa terjadi sesak nafas yang semkain meningkat satu minggu ini dan nyeri
dada di sebelah kanan pada Tori?
Jawab :
a. Sesak nafas karena
- Diketahui dari keluhan yang suka berbaring ke kanan yaitu disebabkan
karena adanya cairan sehingga dengan posisi miring ke kanan sesak akan
berkurang. Akumulasi cairan di paru -> menyumbat aliran udara sehingga
kadar CO2 meningkat dan kadar O2 menurun.
- Mekanisme pertahanan tubuh akibat tubuh memerlukan O2.
- Kelainan di hemitoraks kanan.
b. Nyeri dada karena
- Di paru dan pleura viseral tidak memiliki respon terhadap nyeri jadi apabila
ada nyeri dada maka kemungkinan adanya kelainan di pleura parietal yang
disebabkan karena adanya cairan, udara, ataupun massa yang menyebabkan
nyeri sampai ke dinding dada.
- Jantung yang terdorong karena adanya cairan.
- Kelainan pada dinding dada sebelah kanan.

2. Mengapa terjadi demam dan batuk sejak satu bulan ini?


Jawab :
Demam karena adanya infeksi saluran nafas, infeksi di saluran nafas akan
meningkatkan produksi mukus di saluran nafas, maka mukus tersebut dikeluarkan
dengan mekanisme batuk.

3. Apa kaitan demam dan batuk sejak satu bulan dengan sesak nafas dan nyeri dada
sebelah kanan yang dialami Tori?
Jawab :
Infeksi saluran nafas -> meningkatkan produksi mukus -> mukus dikeluarkan-> batuk
dan mekanisme tubuh lainnya yaitu demam akibat zat-zat toksin kuman tersebut
yang memicu pusat termoregulasi tubuh. Infeksi yang berlangsung lama saluran
nafas bawah -> perubahan permeabilitas membran alveoli-kapiler -> akumulasi
cairan di jaringan interstisial -> cairan terkumpul di rongga pleura.

4. Apa interpretasi hasil pemeriksaan fisik Tori?


Jawab :
- Unilateral prominence = penonjolan dinding dada karena ada massa atau
cairan
- Fremitus kanan berkurang = jarak dari paru ke dinding dada semakin
menjauh yang disebabkan oleh karena adanya cairan yang terakumulasi,
udara.
- Perkusi kanan pekak = adanya massa atau cairan
- Suara nafas kanan berkurang = karena ada cairan atau udara sehingga jarak
dari paru ke dinding dada semakin jauh

5. Apa hubungan keluhan Tori dengan keluhan ia suka berbaring ke kanan? Dan
mengapa Tori lebih suka berbaring ke arah kanan?
Jawab :
Cairan yang terakumulasi di rongga pleura tersebut menyebabkan sesak nafas
dengan miring ke kanan maka cairan tersebut akan tetap berada dikanan sehingga
luas area yg terkena cairan akan semakin berkurang dan sesak akan berkurang.

6. Apa interpretasi hasil pemeriksaan foto toraks PA Tori?


Jawab :
Gambaran perselubungan homogen di hemotoraks kanan yaitu adanya cairan yang
terakumulasi di rongga pleura kanan atau dapat disebabkan adanya kolaps di paru
kanan karena atelektasis.

7. Apa pemeriksaan lain yang dilakukan kepada Tori?


Jawab :
Pemeriksaan darah : leukosit, LED
Pleural tap untuk mengetahui kuman
Analisis gas darah untuk mengetahui deajat hipoksia karena sesak nafas.

8. Apa diagnosis dokter terhadap keluhan, hasil pemeriksaan fisik dan foto toraks Tori?
Jawab :
Diagnosis kerja = efusi pleura
DD = massa tumor, pneumothorax, atelektasis

9. Bagaimana hubungan jenis kelamin dan umur dengan penyakit Tori?


Jawab :
Jenis kelamin -> perbandingan laki-laki dan perempuan sama
Umur -> banyak pada dewasa (20-40 tahun)

10. Apa komplikasi yang mungkin terjadi? Bagaimana mencegah komplikasi tersebut?
Jawab :
- Kolaps paru
- Emfiema
- Efusi berulang
- Edema paru

Cara mencegah dengan cara : drainase dan meningkatkan sistem imun tubuh.

11. Apa tindakan yang dilakukan dokter untuk mengatasi sesak Tori?
Jawab :
- Memberikan oksigen
- Memberikan obat-obatan yang bersifat simptomatik yaitu obat golongan
analgetik untuk menghilangkan nyeri dada dan anti piretik untuk
menurunkan demam.

12. Apa penanganan selanjutnya yang dilakukan dirumah sakit rujukan?


Jawab :
- Pleural tap
- WSD

13. Apa sajakah penyebab penyakit Tori?


Jawab :
Infeksi TB, gagal jantung kanan, emboli paru, asites, trauma atau kecelakaan,
kelainan kongenital, dll.

14. Apa yang dilakukan bagian Forensik pada pasien yang men inggal karena tenggelam
tersebut?
Jawab :
Mencari tahu penyebab apakah kematian disebabkan tenggelam atau akibat
kelalaian tenaga medis dalam penanganan tenggelam tersebut.
Mencari tahu penyebab kematian dengan cara :
- Periksa kulit
- Periksa jalan nafas dan paru
- Pemeriksaan histologi jaringan paru

15. Bagaimana terjadinya sesak nafas dan kematian pada tenggelam?


Jawab :
Sesak nafas akibat peningkatan CO2 atau kurangnya O2 yang disebabkan karena
terhambatnya jalan nafas karena
- Spasme laring akibat cairan yang masuk ke paru
- Aspirasi cairan lambung
Akibat keadaan tersebut menyebabkan hipoksia di otak dan lama kelamaan
jaringan di otak mati -> kematian

16. Apa tindakan dokter pada pasien yang tenggelam?


Jawab :
Dengan metode ABC

IV. SKEMA

Tori, lk, 21 th Pemeriksaan fisik :


-unilateral prominence
-fremitrus kanan berkurang
Batuk Nyeri dada sebelah -perkusi kanan pekak
Demam kanan -suara nafas kanan berkurang
Sesak nafas
Pemeriksaan penunjang:
Perselubungan homogen
pada foto thorax

Tenggelam

Diagnosis:
Meninggal Tak meninggal Efusi pleura

Otopsi ABC Terapi oksigen


Obat-obatan

Rujuk

Komplikasi:
Kolaps paru, edema
paru

prognosis

V. LEARNING OBJECTIVES
Mahasiswa mampu menjelaskan :
1. Jenis-jenis kegawatdaruratan paru
2. Etiologi, Faktor Risiko, Epidemiologi kegawatdaruratan paru
3. Patogenesis dan Patofisiologi kegawatdaruratan paru
4. Gejala dan tanda kegawatdaruratan paru
5. Prinsip diagnosis dan diagnosis banding kegawatdaruratan paru
6. Pemeriksaan penunjang kegawatdaruratan paru
7. Tatalakana holistik dan komprehensif kegawatdaruratan paru
8. Komplikasi dan prognosis kegawatdaruratan paru
9. Kasus dan indikasi rujukan pada kegawatdaruratan paru
10. Aspek medikolegal kasus kematian akibat sumbatan jalan nafas
VI. HASIL BELAJAR MANDIRI dan SHARING

A. KASUS KEGAWATDARURATAN PARU


1. Efusi pleura
Efusi pleura adalah kondisi dimana terjadi penumpukan cairan di antara dua lapisan
pleura.
Jenis efusi pleura berdasarkan jenis cairanya :
a. Efusi transudat
Terjadi jika terdapat perubahan pada tekanan hidrostatis dan onkotik pada membran
pleura, sehingga cairan yang dihasilkan lebih banyak dari pada cairan yang dapat
diabsorbsi. Contohnya pada kasus gagal jantung kongestif, perikarditis konstriktif,
hipoalbuminemia, dan lain-lain.
b. efusi eksudat
Eksudat dihasilkan dari proses inflamasi paru atau pleura, pergerakan cairan eksudat
dari rongga peritoneal melalui diafragma, dll. Kondisi yang menyebeabkan terjadinya
efusi pleura eksudat antara lain keganasan, emboli paru, tuberkolosis, trauma, fistulasi,
pleuritis, dan lain-lain.

2. Pneumothoraks
Pneumothoraks ialah kondisi dimana adanya udara yang terperangkap di rongga pleura
akibat robeknya pleura visceral, dapat terjadi spontan ataupun karena trauma.
Berdasarkan penyebab terjadinya, pneumotoraks dibagi menjadi:
a. Artifisial
Yaitu pneumotoraks yang disebabkan tindakan tertentu atau memang disengaja
untuk tujuan tertentu.
b. Traumatik
Pneumotoraks jenis ini disebabkan oleh jejas yang mengenai dada. Bisa terjadi
karena 1) perang; peluru menembus dada dan paru, ledakan yang menyebabkan
peningkatan tekanan udara dan terjadi tekanan yang mendadak pada dada,
menyebabkan tekanan di dalam paru meningkat. 2) kecelakaan , biasanya
kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan trauma tumpul pada dada.
c. Spontan
Pneumotoraks terjadi secara spontan tanpa didahului oleh kecelakaan atau trauma,
sering kali pada penyakit TB paru yang sudah lama, bronkitis kronis, emfisema, asma
bronkial kronis, kanker paru.

Berdasarkan lokalisasi pneumotoraks di rongga dada dibagi menjadi:


a. Pneumotoraks parietalis
b. Pneumotoraks medialis
c. Pneumotoraks basalis

3. Hemoptisis
Hemoptisis atau yang biasa disebut batuk darah, yaitu kondisi dimana terdapatnya batuk
yang disertai darah, dimana darah tersebut berasal dari paru.
Derajat hemoptisis berdasarkan banyaknya jumlah darah:
a. Derajat 1: bloodstreak
b. Derajat 2: 1-30 cc
c. Derajat 3: 30-150cc
d. Derajat 4: 150-500 cc
e. Massive hemoptisis: 500-1000 cc atau lebih

4. Tenggelam
Tenggelam yaitu kondisi dimana masuknya cairan yang banyak ke dalam paru.

5. ARDS
Gangguan fungsi paru akibat kerusakan alveoli yang difus, ditandai dengan kerusakan
sawar membrane kapiler alveoli, sehingga menyebabkan terjadinya edema alveoli yang
kaya protein disertai dengan adanya hipoksemia. Kelainan ini umumnya timbul
mendadak pada pasien tanpa kelainan paru sebelumnya dan dapat disebabkan oleh
berbagai macam keadaan.

6. Udem paru
Udem paru adalah ekstravasasi cairan yang berasal dari vaskular paru masuk ke dalam
intersisium dan alveoli paru.

B. ETIOLOGI, EPIDEMIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

1. EFUSI PLEURA
INFEKSI
Tuberculosis
Non tubercuosis
Pneumonia
Jamur
Parasit
Virus
Non infeksi
Hipoproteinemia, neoplasma, gagal jantung, emboli paru, dan atelektasis
Traumatik ( hemotorax)

2. PNEUMOTHORAX
Terjadi karena adanya penyakit paru paru dasar yang mengawalinya. Seperti TB paru,
pneumonia,dll.
Karena menstruasi ( katamenial)
Trauma

3. HEMOPTISIS
Beragam
>> karena TB paru, keganasan, pneumonia, bronkitis dan bronkiektasis.
Lainnya kelainan jantung, trauma, benda asing dan infeksi lainnya.

4. ARDS
Cedera pada paru-paru akibat trauma (penyebab paling sering), seperti kontusio jalan napas.
Faktor yang berhubungan dengan trauma, seperti emboli paru, sepsis, syok, kontusio paru
dan tranfusi multiple yang meningkatkan kemungkinan mikroemboli.
Anafilaksis
Aspirasi isi lambung
Pneumonia difusa, khususnya pneumonia karena virus
Overdosis obat, seperti heroin, aspirin atau ethklorvinol
Reaksi obat yang idiosinkratik terhadap ampisilin atau hidroklorotiazid
Inhalasi gas berbahaya, seperti nitruos oksida, amonia atau klorin
Keadaan nyaris tenggelam
Intoksiskasi oksigen
Sepsis
Pencangkokan bypass arteri koronaria
Hemodialisis
Leukemia
TB millier akut
Pankreatitis
Purpura trombositopenia trombotik
Uremia
Emboli udara dalam darah vena

5. UDEM PARU
Karena :
Kardiogenik
Non kardiogenik

C. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


1. Efusi Pleura
Cairan di rongga pleura jumlahnya tetap karena adanya keseimbangan antara
produksi oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura viseralis. Keadaan ini dapat
dipertahankan karena adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatis pleura parietalis
sebesar 9 cm HO dan tekanan koloid osmotik pleura viseralis 10 cm HO. Cairan pleura
terakumulasi ketika pembentukan cairan pleura lebih besar dari absorbsi cairan pleura .
Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh
permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura
parietalis karena adanya tekanan hidrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian
cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-
20%) mengalir ke dalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter
seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, hal ini terjadi bila
keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat
inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal
jantung).
Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila:
1. Tekanan osmotik koloid menurun dalam darah pada penderita hipoalbuminemia dan
bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma 2. Terjadi
peningkatan:
Permeabilitas kapiler (keradangan, neoplasma)
Tekanan hidrostatis di pembuluh darah ke jantung/ vena pulmonalis (kegagalan jantung
kiri)
Tekanan negatif intra pleura (atelektasis) (Alsagaf H, Mukti A, 1995, 145)
Efusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum
pleura. Kemungkinan penyebab efusi antara lain (1) penghambatan drainase limfatik dari
rongga pleura, (2) gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer
menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam
rongga pleura (3) menurunnya tekanan osmotik koloid plasma yang menyebabkan transudasi
cairan yang berlebihan (4) infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan
pleura dari rongga pleura, yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan
pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall , Egc,
1997, 623-624).
Efusi pleura dapat berupa eksudat dan transudat. Transudat terjadi pada
peningkatan penekanan vena pulmonalis, misalnya pada payah jantung kongestif. Pada kasus
ini, keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dari pembuluh. Penimbunan
transudat dalam rongga pleura dikenal dengan nama hidrotoraks. Cairan pleura cenderung
tertimbun pada dasar paru akibat daya gravitasi. Penimbunan eksudat timbul sebagai akibat
sekunder dari peradangan atau keganasan pleura, dan akibat peningkatan permeabelitas
kapiler/ gangguan absorbsi getah bening. Eksudat dibedakan dengan transudat. Dari kadar
protein yang dikandung dan dari berat jenisnya. Transudat memiliki berat jenis kurang dari
1.015 dan kadar proteinnya.

2. Pneumothoraks
Alveoli disangga oleh kapiler yang mempunyai dinding lemah dan mudah robek,
apabila alveol tersebut melebar dan tekanan di dalam alveol meningkat maka udara dengan
mudah menuju ke jaringan peribronkovaskular. Gerakan nafas yang kuat, infeksi dan
obstruksi endobronkial merupakan beberapa faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya
robekan. Selanjutnya udara yang terbebas dari alveol dapat mengoyak jaringan fibrotik
peribronkovaskular. Robekan pleura ke arah yang berlawanan dengan hilus akan
menimbulkan pneumotorak sedangkan robekan yang mengarah ke hilus dapat menimbulkan
pneumomediastinum. Dari mediastinum udara mencari jalan menuju ke atas, ke jaringan
ikat yang longgar sehingga mudah ditembus oleh udara. Dari leher udara menyebar merata
ke bawah kulit leher dan dada yang akhirnya menimbulkan emfisema subkutis. Emfisema
subkutis dapat meluas ke arah perut hingga mencapai skrotum.
Tekanan intrabronkial akan meningkat apabila ada tahanan pada saluran pernafasan
dan akan meningkat lebih besar lagi pada permulaan batuk, bersin dan mengejan.
Peningkatan tekanan intrabronkial akan mencapai puncak sesaat sebelum batuk, bersin,
mengejan, pada keadaan ini, glotis tertutup. Apabila di bagian perifer bronki atau alveol ada
bagian yang lemah, maka kemungkinan terjadi robekan bronki atau alveol akan sangat
mudah.
3. Hemoptisis
a. Tuberkulosis
Ekspektorasi darah dapat terjadi akibat infeksi tuberkulosis yang masih aktif ataupun
akibat kelainan yang ditimbulkan akibat penyakit tuberkulosis yang telah sembuh. Susunan
parenkim paru dan pembuluh darahnya dirusak oleh penyakit ini sehingga terjadi
bronkiektasi dengan hipervaskularisasi, pelebaran pembuluh darah bronkial, anastomosis
pembuluh darah bronkial dan pulmoner.
Penyakit tuberkulosis juga dapat mengakibatkan timbulnya kaviti dan terjadi pneumonitis
tuberkulosis akut yang dapat menyebabkan ulserasi bronkus disertai nekrosis pembuluh
darah di sekitarnya dan alveoli bagian distal. Pecahnya pembuluh darah tersebut
mengakibatkan ekspektorasi darah dalam dahak, ataupun hemoptisis masif.
Ruptur aneurisma Rassmussen telah diketahui sebagai penyebab hemoptisis masif pada
penderita tuberkulosis ataupun pada bekas penderita tuberkulosis. Kematian akibat
hemoptisis masif pada penderita tuberkulosis berkisar antara 5-7%. Pada pemeriksaan
postmortem, ternyata pada penderita tersebut ditemukan ruptur aneurisma arteri pulmoner.
Umumnya pada penderita yang meninggal tersebut, terjadi ruptur pada bagian arteri
pulmoner yang mengalami pelebaran akibat inflamasi pada kaviti . Hal tersebut dapat terjadi
karena keterlibatan infeksi tuberkulosis pada tunika adventisia atau media pembuluh darah
namun juga akibat proses destruksi dari inflamasi lokal.
Hemoptisis masif juga dapat terjadi pada bekas penderita tuberkulosis. Hal tersebut
dapat terjadi akibat erosi lesi kalsifikasi pada arteri bronkial sehingga terjadi hemoptisis
masif. Selain itu ekspektorasi bronkolit juga dapat menyebabkan hemoptisis.
1. Pneumonia
Hemoptisis dapat terjadi pada infeksi berat dimana saja pada saluran pernafasan. Hal ini
jarang ditemukan pada pneumonia oleh karena virus atau bakteri biasa.
Hemoptisis yang terjadi pada pneumonia yang disebabkan bakteri tertentu dapat dilihat dari
tampilan sputumnya. Pada pneumonia oleh karena pneumococus, sputum tampak seperti
berkarat. Pada Klebsiella pneumonia, hemoptisis sering menyerupai jeli kismis.Sedangkan
pada Staphylococus Pneumonia, sputum bercampur darah dan nanah.

b. Bronkitis dan Bronkiektasis


Bronkitis biasanya menyebabkan hemoptisis ringan. Proses inflamasi pada mukosa
saluran nafas dan pecahnya pembuluh darah kecil pada mukosa mengakibatkan adanya
bercak darah pada dahak. Pada Bronkiektasis terjadi akibat destruksi tulang rawan pada
dinding bronkus akibat infeksi ataupun penarikan oleh fibrosis alveolar. Perubahan yang
terjadi ternyata juga melibatkan perubahan arteri bronkial yaitu hipertrofi, peningkatan atau
pertambahan jumlah jaring vaskuler (vascular bed). Perdarahan dapat terjadi akibat infeksi
ataupun proses inflamasi. Pecahnya pembuluh darah bronkial yang memiliki tekanan
sistemik dapat berakibat fatal .

c. Infeksi Jamur Paru


Angioinvasi oleh elemen jamur menimbulkan kerusakan pada parenkim dan struktur
vaskuler sehingga dapat menimbulkan infark paru dan perdarahan. Meskipun demikian
infeksi jamur paru yang invasif jarang menimbulkan hemoptisis. Sebaliknya pembentukan
misetoma dapat menimbulkan hemoptisis pada 50-90% penderita misetoma.
Misetoma umumnya terbentuk pada penderita dengan penyakit paru berkaviti misalnya
TB, sarkoidosis, cavitary lung carcinoma, infark paru, emfisema bulosa, bronkiektasis,
penyakit fibrobulosa dari arthritis rematoid dan ankylosing spondilytis, trauma mekanik
akibat pergerakan fungus ball di dalam kaviti, jejas vaskuler akibat endotoksin Aspergillus,
dan kerusakan vaskuler akibat reaksi hipersensitiviti tipe III merupakan beberapa teori
penyebab terjadinya hemoptisis pada misetoma. Hemoptisis dapat pula terjadi akibat
bronkolitiasis dari adenopati histoplasma yang mengalami kalsifikasi.

d. Abses paru
Hemoptisis dapat terjadi pada 11-15% penderita abses paru primer. Perdarahan masif
dapat terjadi pada 20-50% penderita abses paru yang mengalami hemoptisis. Mekanisme
perdarahan adalah akibat proses nekrosis pada parenkim paru dan pembuluh darahnya.
e. Fibrosis Kistik
Perdarahan pada penderita fibrosis kistik multifaktorial, namun umumnya perdarahan
berasal dari arteri bronkial. Pemeriksaan postmortem menunjukkan bronkiektasis luas, abses
paru dan bronkopneumonia. Sistem arteri bronkial mengalami hipervaskularisasi dan
anastomosis bronkopulmoner. Kelainan tersebut diatas ditambah dengan hipertensi
pulmoner menyebabkan tingginya insiden hemoptisis pada penderita fibrosis kistik,
walaupun demikian hemoptisis masih jarang terjadi.

4. ARDS
Pada fase 1, cedera mengurangi aliran darah normal ke dalam paru-paru. Trombosit
mengadakan agregasi dan melepaskan Histamin (H), serotonin (S), serta brdikinin (B). Pada
fase 2, substansi yang dilepaskan menimbulkan inflamasi dan kerusakan pada membran
kapiler alveoli sehingga terjadi peningkatan permeabiltas kaplier. Kemudian cairan berpindah
ke dalam ruang interstisial. Pada fase 3, permeabilitas kapiler meningkat dan terjadi
kebocoran protein serta cairan sehingga meningkatkan tekanan osmotik interstisial dan
menimbulkan edema paru. Pada fase 4, penurunan aliran darah dan cairan dalam alveoli
akan merusak surfaktan dan merusak kemampuan sel untuk memproduksi lebih banyak
surfaktan lagi. Kemudian terjadi kolaps alveoli yang merusak pertukaran gas. Pada fase 5,
oksigensasi akan mengalami kerusakan, tetapi karbondioksida dengan mudah melewati
membran alveoli dan dibuang keluar melalui ekspirasi. Kadar O2 dan CO2 darah rendah.
Pada fase 6, edema paru semakin bertambah parah dan inflamasi menimbulkan fibrosis.
Pertukaran gas mengalami hambatan lebih lanjut.

5. EDEMA PARU
Edema pada umumnya, berarti pembengkakan. Ini secara khas terjadi ketika cairan
dari bagian dalam pembuluh-pembuluh darah merembes keluar pembuluh darah kedalam
jaringan-jaringan sekelilingnya, menyebabkan pembengkakan. Ini dapat terjadi karena terlalu
banyak tekanan dalam pembuluh-pembuluh darah atau tidak ada cukup protein-protein
dalam aliran darah untuk menahan cairan dalam plasma (bagian dari darah yang tidak
megandung segala sel-sel darah).
Edema paru adalah istilah yang digunakan ketika edema terjadi di paru-paru. Area
yang langsung diluar pembuluh-pembuluh darah kecil pada paru-paru ditempati oleh
kantong-kantong udara yang sangat kecil yang disebut alveoli. Ini adalah dimana oksigen dari
udara diambil oleh darah yang melaluinya, dan karbon dioksida dalam darah dikeluarkan
kedalam alveoli untuk dihembuskan keluar. Alveoli normalnya mempunyai dinding yang
sangat tipis yang mengizinkan pertukaran udara ini, dan cairan biasanya dijauhkan dari
alveoli kecuali dinding-dindig ini kehilangan integritasnya.
Edema Paru terjadi ketika alveoli dipenuhi dengan kelebihan cairan yang merembes
keluar dari pembuluh-pembuluh darah dalam paru sebagai gantinya udara. Ini dapat
menyebabkan persoalan-persoalan dengan pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida),
berakibat pada kesulitan bernapas dan pengoksigenan darah yang buruk. Adakalanya, ini
dapat dirujuk sebagai air dalam paru-paru ketika menggambarkan kondisi ini pada pasien-
pasien. Pulmonary edema dapat disebabkan oleh banyak faktor-faktor yang berbeda. Ia
dapat dihubungkan pada gagal jantung, disebut cardiogenic pulmonary edema, atau
dihubungkan pada sebab-sebab lain, dirujuk sebagai non-cardiogenic pulmonary edema.

D. GEJALA DAN TANDA


Efusi pleura
Gejala
nafas terasa pendek hingga sesak
nafas yang nyata dan progresif
nyeri khas pleuritik pada
area yang terlibat, khususnya jika penyebabnya adalah keganasan
Nyeri dada
Batuk kering berulang

Tanda
Gangguan pergerakan toraks
fremitus melemah
suara redup sampai pekak pada perkusi
egofoni, serta suara nafas yang melemah hingga menghilang
Pleural friction rub
Pneumotoraks
Gejala
Sesak nafas, batuk, nyeri dada

Tanda
Inspeksi: rongga dada lebih besar, bagian yang terkena akan tertinggal saat bernafas
Palpasi: fremitus taktil berkurang, krepitasi karena emfisema subkutis
Perkusi: hipersonor
Auskultasi: suara pernapasan berkurang/menghilang pada daerah yang terkena, dapat
terdengar rongki/wheezing

Hemoptisis
Gejala
Batuk berwarna merah cerah/merah muda
Demam
Sesak napas
Nyeri dada
Turun berat badan
Kurang nafsu makan
Keringat malam

Tanda
Terdapat rongki basah/kering
Pleural friction rub
Jika penyebab jantung terdapat tanda gagal jantung, hipertensi pulmonal

Tenggelam
Tanda
Paru-paru mayat membesar dan terjadi kongesti
Saluran napas berbuih dan terkadang berisi lumpur, pasir, rumput air
Lambung mayat terisi banyak cairan
Benda asing masuk sampai alveoli
Organ dalam mayat mengalami kongesti

ARDS
Gejala
Klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis
Penurunan kesadaran mental
Takikardi, takipnea
Dispnea dengan kesulitan bernafas
Sianosis
Hipoksemia

Tanda
Peningkatan jumlah pernapasan
Pada Auskultasi mungkin terdapat suara napas tambahan
Terdapat retraksi interkosta
Auskultasi paru : ronkhi basah, krekels, stridor, wheezing
Auskultasi jantung : BJ normal tanpa murmur atau gallop

Udem paru
Gejala
Sesak nafas yang bertambah berat, ortopnea
Batuk

Tanda
Rongki basah halus
Wheezing
Pada edema paru kardiak ditemukan bunyi gallop S3, peningkatan tekanan vena
jugularis, hepatomegali, hipertensi

E. DIAGNOSIS BANDING

Efusi Pleura
Differential Diagnosis Efusi Pleura :
1. Tumor paru
- Sinus tidak terisi
- Permukaan tidak concaf tetapi sesuai bentuk tumor
- Bila tumor besar dapat mendorong jantung
2. Pneumonia
- Batas atas rata / tegas sesuai dgn bentuk lobus
- Sinus terisi paling akhir
- Tidak tampak tanda pendorongan organ
- Air bronchogram ( + )
3. Pneumothorak
4. fibrosis paru

Pneumotoraks
Pneumotoraks dapat memberi gejala seperti infark miokard, emboli paru dan pneumonia.
Pada pasien muda, tinggi, pria dan perokok jika setelah difoto diketahui ada pneumotoraks,
umumnya diagnosis kita menjurus ke pneumotoraks spontan primer. Pneumotoraks
spontan sekunder kadang-kadang sulit dibedakan dengan pneumotoraks yang terlokalisasi
dari suatu bleb atau bulla subpleura.

Hemoptysis
Hemoptysis bisa berasal dari saluran nafas dan parenkim paru.
- Proses inflamasi (bronchitis dan bronchiectasis) dan neoplasia adalah penyebab
utama pendarahan di saluran nafas.
- Dalam parenkim paru, penyebab utamanya adalah infeksi, seperti tuberculosis,
pneumonia, Aspergillus, atau abses paru.
- Proses inflamasi yang melibatkan paru seperti Wegners granulomatosis atau
Goodpastures syndrome juga sering menjadi penyebab hemoptysis (Fig. 27-16).
- Pendarahan bisa bersifat iatrogenic, seperti setelah biopsy paru atau ketika
kemoterapi untuk transplantasi sumsum tulang yang menimbulkan adanya
pendarahan alveolar yang menyebar.
- Gangguan vascular, seperti emboli paru, malfungsi arteriovena, dan stenosis mitral
juga bisa jadi diagnosis banding.

Edema paru
Diagnosis banding edema paru diantaranya :
- Emboli paru,
- asma bronkiale.

PPOK
Asma
SOPT (Sindroma Obstruksi Pascatuberculososis)
Adalah penyakit obstruksi saluran napas yang ditemukan pada penderita pascatuberculosis
dengan lesi paru yang minimal.
Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Asma Di Indonesia
Pneumotoraks
Gagal jantung kronik
Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lain misal : bronkiektasis, destroyed lung.
Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering ditemukan di
Indonesia, karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan karena terapi dan prognosisnya
berbeda.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. EDEMA PARU
Pemeriksaan di dada dengan menggunakan X-ray untuk melihat penyebab sesak napas dan
memastikan bahwa pasien benar-benar mengalami edema paru.
Tes darah untuk mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam darah, mengukur
kadar hormon B-type Natriuretik Peptide, serta melihat fungsi tiroid dan ginjal.
Pulse oximetry untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah dengan menempatkan sensor
pada telinga dan jari.
Ekokardiogram untuk mengetahui adanya aktivitas yang tidak normal di dalam jantung.
Elektrokardiogram untuk melihat adanya tanda-tanda serangan jantung dan masalah pada
ritme jantung.
Kateterisasi jantung untuk mengetahui penyebab edema paru yang disertai gejala nyeri dada
atau bila penyebab edema paru tidak ditemukan melalui ekokardiogram.
Kateterisasi arteri paru untuk mengukur tekanan di dalam kapiler paru-paru.

2. TRAUMA ABDOMEN
Pemeriksaan foto rontgen toraks
Laboratorium : pemeriksaan darah rutin

3. EFUSI PLEURA
1) Pemeriksaan Medis
a. Rontgen dada
Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis
efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. Gambaran Efusi pleura akan
tampak sbb :
Cairan pleura tampak berupa perselubungan hemogen menutupi struktur paru
baeah yang biasanya relatif radioopak dengan permukaan atas cekung
Perselubungan berjalan dari lateral atas ke arah medial bawah
Kadang-kadang tampak mediastinum terdorong ke arah kontralateral
b. CT Scan dada
CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan
adanya pneumonia, abses paru atau tumor.
c. USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya
sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.
d. Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis
(pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam
rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).
Untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi
pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8.Didapati cairan
yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus
(kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat
(hasil radang).
e. Biopsi pleura
Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan melalui biopsi
jalur percutaneus. Biopsi ini digunakan untuk mengetahui adanya sel-sel ganas atau
kuman-kuman penyakit (biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura).
f. Bronskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang
terkumpul.
2) Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan Biokimia
Secara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya
dapat dilihat pada tabel berikut :

Disamping pemeriksaan tersebut diatas, secara biokimia diperiksakan juga cairan pleura :
Kadar pH dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi,
arthritis reumatoid dan neoplasma
Kadar amilase. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis
adenocarcinona
b. Analisa cairan pleura
Transudat : jernih, kekuningan
Eksudat : kuning, kuning-kehijauan
Hilothorax : putih seperti susu
Empiema : kental dan keruh
Empiema anaerob : berbau busuk
Mesotelioma : sangat kental dan berdarah
c. Perhitungan sel dan sitology
Leukosit 25.000 (mm3):empyema
Banyak Netrofil : pneumonia, infark paru, pankreatilis, TB paru
Banyak Limfosit : tuberculosis, limfoma, keganasan.
Eosinofil meningkat :emboli paru, poliatritis nodosa, parasit dan jamur
Eritrosit : mengalami peningkatan 1000-10000/ mm 3 cairan tampak hemorogis,
sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni. Bila erytrosit > 100000 (mm 3
menunjukkan infark paru, trauma dada dan keganasan.
Misotel banyak : Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa disingkirkan.
Sitologi : Hanya 50 - 60 % kasus- kasus keganasan dapat ditemukan sel ganas.
Sisanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat mekanisme
obstruksi, preamonitas atau atelectasis.
d. Bakteriologis
Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo cocclis, E-coli,
klebsiecla, pseudomonas, enterobacter. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman
tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 %.

4. HEMAPTISIS
Pencitraan. Mulai dari foto Rontgen dada, sampai CT-Scan dan MRI, sesuai dengan
permintaan dan kebutuhan dokter dalam menegakkan diagnosis.
Bronchoscopy. Menggunakan kamera yang dimasukkan ke dalam saluran pernafasan. Dokter
akan dapat lebih memastikan sumber perdarahannya.
Pemeriksaan darah, untuk melihat kondisi fisik secara general dan menentukan penyebab
infeksi.
Pemeriksaan sputum, untuk melihat adanya penyebab infeksi bakteri dan uji resistensi
antibiotik terhadap bakteri tersebut.

G. TATALAKSANA HOLISTIK DAN KOMPREHENSIF

HEMOPTISIS
a) Istirahat baring dengan kepala lebih rendah dan miring ke sisi sakit.
b) Membersihkan jalan napas dari bekuan darah; perlu berikan oksigen intermiten.
c) Pasang infus cairan; bila perlu lakukan tranfusi darah.
d) Hindarkan batuk keras dengan memberikan :
o sedatif : fenobarbital dengan dosis 15-60 mg/hari, im; atau
o diazepam : 10-20 mg iv/im.
o Antitusif : kodein 15-30 mg / 3-4 jam, per os.
e) Obat-obatan koagulan
Asam traneksamat 250-500 mg/6-8 jam iv
Adona AC-17 50-100 mg/3-4 jam iv.
f) Kantong es pada dada.
g) Tindakan selanjutnya, bila mungkin :
h) Menentukan asal perdarahan dengan foto Rontgen .
i) Menentukan penyebab dan mengobatinya.

DROWNING
Tersedianya sarana bantuan hidup dasar dan lanjutan ditempat kejadian merupakan hal
yang sangat penting karena beratnya cedera pada sistem saraf pusat tidak dapat dikaji
dengan cermat pada saat pertolongan diberikan. Pastikan keadekuatan jalan napas,
pernapasan dan Sirkulasi. Cedera lain juga harus dipertimbangkan dan perlu tidaknya
hospitalisasi ditentukan berdasarkan
Keparahan kejadian dan evaluasi klinis. Pasien dengan gejala respiratori,
penurunan saturasi oksigen dan perubahan tingkat kesadaran perlu untuk dihospitalisasi.
perhatian harus difokuskan pada oksigenasi, ventilasi, dan fungsi jantung. Melindungi
sistem saraf pusat dan mengurangi edema serebri merupakan hal yang sangat penting
dan berhubungan langsung dengan hasil akhir.

EFUSI PLEURA

Atasi sesak napas dengan cara membersihkan jalan napas dan beri oksigen.
Obati penyakit yang mendasarinya (penyebab).
Torakosentesis (pungsi).
Merupakan suatu tindakan pengambilan cairan pleura dengan tujuan untuk
membedakan apakah cairan tersebut transudat, eksudat atau emphyema. Untuk itu
perlu dipasang WSD (Underwater Seal Drainage). WSD adalah cara yang paling efektif
untuk membuat katub, dimana udara dan cairan dapat dikeluarkan dari toraks.
Dalam melakukan pemasangan WSD perlu diingat:
Harus tidak ada kebocoran
Diklem bila botol tidak digunakan
Posisi botol harus di bawah toraks
Metode harus asepsis
Drain harus diangkat setelah 24 jam
Pipa dada harus diganti selama 7 10 hari digunakan.
Bila cairan yang terlalu banyak, dimana perlu dilakukan tindakan pungsi yang
berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan gangguan elektrolit, maka perlu
dilakukan pleurodesis.
Operasi.
Menjahit pleura parietalis dengan pleura visceralis. Tujuannya agar bersatu,
sehingga tidak terbentuk cairan yang sifatnya irreversibel. 3,4,5

PNEUMOTHORAX

Tindakan pengobatan pneumothorak tergantung beratnya, jika pasien dengan


pneumothorak ukuran kecil dan stabil, biasanya hanya diobservasi dalam beberapa hari
( minggu ) dengan foto dada serial tanpa harus dirawat inap di rumah sakit. Pada prinsipnya
diupayakan pengembangan paru sesegera mungkin antara lain dengan pemasangan water
sealed drainage ( WSD ). Pasien pneumothorak dengan klinis tidak sesak dan luas
pneumothorak < 15 % cukup dilakukan observasi. Namun bila didapatkan penyakit paru yang
mendasarinya perlu dipasang WSD ( tindakan dekompresi ). Apabila ada batuk dan nyeri
dada, diobati secara simtomatis. Selanjutnya evaluasi foto dada setiap 12 24 jam selama 2
hari.

Tindakan dekompresi yaitu membuat hubungan rongga pleura dengan udara luar, ada
beberapa cara :

1. Menusukkan jarum melalui dinding dada sampai masuk rongga pleura, sehingga
tekanan udara positif akan keluar melalui jarum tersebut.

2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil, yaitu dengan:

a. Jarum infus set ditusukkan ke dinding dada sampai masuk rongga pleura,
kemudian pipa plastik /slang dipangkal saringan tetesan dipotong dan
dimasukkan ke dalam botol berisi air dan klem dibuka, akan timbul
gelembung-gelembung udara dalam botol.
b. Abbocath : jarum abbocath no. 14 ditusukkan ke rongga pleura dan setelah
mandrin dicabut, dihubungkan dengan pipa infus set, selanjutnya dikerjakan
seperti sebelumnya.

c. WSD : pipa khusus ( catheter urine ) yang steril dimasukkan ke rongga pleura
dengan perantaraan troker atau klem penjepit bedah. Sebelum trokar yang
dimasukkan ke rongga pleura, terlebih dulu kulit dada tempat trokar akan
dimasukkan didesinfektan, ditutup duk penutup dan diberikan anastesi lokal
dengan xilokain atau prokain, 2 % secukupnya. Lokasi insisi kulit dapat di
ruang antar iga VI mid axillar line/dorsal axillar line ataupun dapat juga di
ruang antar iga II di garis midclavicula. Setelah trokar masuk ke rongga
pleura, busi penusuk dicabut dan tinggal selontongan pipa. Drain
dimasukkan melalui selontongan tersebut. Pemasukan drain diarahkan ke
atas apabila masuknya di ruang antar iga VI. Bila masuknya di ruang antar iga
II di arahkan ke bawah. Pipa khusus atau kateter tersebut kemudian
dihubungkan dengan pipa lebih panjang dan terakhir dengan pipa kaca yang
dimasukkan ke dalam air di dalam botol. Masuknya pipa kaca ke dalam air,
sebaiknya 2 cm dari permukaan air, supaya gelembung udara mudah keluar.

H. KOMPLIKASI
Kebanyakan komplikasi komplikasi yang dapat ditimbulkan dari pulmonary mungkin
berhubungan dengan penyebab yang mendasarinya. Misalnya pulmonary edema dapat
mkenyebabkan pengoksigenan yang buruk (hypoxia) dpaat secara potensail menjurus pada
pengantaran oksigen yang berkurang ke organ organ tubuh yang berbeda,seperti otak .

PROGNOSIS
Semua kegawatdaruratan paru prognosisnya BAIK kalau cepat ditangani.

I. KASUS DAN INDIKASI RUJUKAN


Kasus kasus kegawatdaruratan yang harus diujuk adalah :
- efusi pleura
- pneumothoraks
- hemoptisis
- tenggelam
- ARDS
- udem paru
- trauma paru
Karena semua kasus kegawatdaruratan perlu penanganan langsung oleh ahlinya agar dapat
mencegah kematian atau hal yang tidak diinginkan pasien .

J. ASPEK MEDIKOLEGAL DIAGNOSIS KEMATIAN AKIBAT SUMBATAN JALAN NAFAS

Secara umum asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan
pertukaran udara pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai
dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnia). Dengan demikian organ tubuh mengalami
kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian. Dari segi etiologi, asfiksia
disebabkan oleh : penyebab alamiah (penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti
asma, atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru), trauma mekanik
(yang menyebabkan asfiksia mekanik seperti pembekapan, penyumbatan, penjeratan,
terhimpit, tenggelam dan lain-lain) dan keracunan (yang menyebabkan depresi pusat
pernafasan seperti narkotika dan lain-lain).

1) PENGGANTUNGAN
Penggantungan (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher akibat
adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban.
Pada penggantungan dapat dijumpai :
1. Tanda asfiksia
2. Alat penggantung :
- alat penggantung dengan permukaan yang luas (co: sarung) menyebabkan tekanan hanya
pada permukaan saja, sehingga yang terjepit hanya vena (vena jugularis) sehingga muka
bengkak&kebiruan, kongesti vena, mata menonjol karena bendungan
- alat penggantung dengan permukaan yang kecil (co: tali jemuran) menyebab tekanan besar
ke dalam, selain vena, arteri juga terjepit wajah pucat , mata tidak menonjol
3. Adanya air liur yang keluar dari mulut
4. Lidah menonjol jika gantungan di bawah gld tiroid
5. Ada air mani atau feses karena ada relaksasi spingter
6. Ada jejas pada leher tepi meninggi, warna merah kecoklatan, pada palpasi keras seperti
kertas perkamen, arahnya miring ke arah simpul.
Ada resapan darah di bawah kulit di bawah otot pada m. sternokleidomastoideus, m.
supra/infrahyoid, m. hyoglosus.
Fraktur os hyoid
Edema pada plika vokalis

Mati gantung bisa bunuh diri/tidak maka lakukan:


- Periksa TKP
Ada persiapan gantung diri atau tidak
Jika 1 meter tidak mungkin gantung diri
Bunuh diri tidak terlalu jauh jaraknya, dan TKP tenang tidak morat marit
- Simpul dilihat
Simpul hidup bunuh diri
Simpul mati dibunuh
Bunuh diri ikatan membentuk sudut, tidak ada tanda perlawanan, tidak
ada luka lecet atau memar, simpul tali bisa dikeluarkan dari kepala
- Jika tanda tanda diatas tidak ada kecelakaan

PEMBEDA PENGGANTUNGAN PADA PENGGANTUNGAN PADA


BUNUH DIRI PEMBUNUHAN
Usia Lebih sering terjadi pada usia Tidak mengenal batas usia,
remaja dan dewasa. karena tindakan pembunuhan
dilakukan oleh musuh atau lawan
dari korban dan tidak bergantung
pada usia.
Tanda jejas Bentuknya miring, berupa Berupa lingkaran tidak terputus,
jeratan. lingkaran terputus mendatar, dan letaknya di bagian
(noncontinous) dan terletak tengah leher, karena usaha
pada bagian atas leher. pembunuh (pelaku) untuk
membuat simpul tali.
Simpul tali. Biasanya hanya satu simpul Biasanya lebih dari satu pada
yang letaknya pada bagian bagian depan leher dan simpul
samping leher. tali tersebut terikat kuat.
Riwayat Biasanya korban mempunyai Sebelumnya korban tidak
korban. riwayat untuk bunuh diri mempunyai riwayat untuk bunuh
dengan cara lain. dir.
Cedera. Luka-luka pada tubuh korban Cedera berupa luka-luka pada
yang bisa menyebabkan tubuh korban biasanya mengarah
kematian mendadak tidak pada pembunuhan.
pada kasus bunuh diri.
Tangan. Tidak dalam keadaan terikat, Tangan yang dalam keadaan
karena sulit untuk gantung terikat mengarahkan dugaan
diri dalam keadaan tangan pada kasus pembunuhan.
terikat.
PEMBEDA PENGGANTUNGAN PADA PENGGANTUNGAN PADA
BUNUH DIRI PEMBUNUHAN
Kemudahan. Pada kasus bunuh diri, mayat Pada kasus pembunuhan, mayat
biasanya tergantung pada tergantung pada tempat yang
tempat yang mudah dicapai sulit dicapai oleh korban dan alat
oleh korban atau di sekitarnya yang digunakan untuk mencapai
alat yang digunakan untuk tempat tersebut tidak .
mencapai tempat tersebut.
Tempat Jika kejadian berlangsung di Bila sebaiknya pada ruangan
kejadian. dalam kamar, dimana pintu, terkunci dari luar, maka
jendela, dalam keadaan penggantungan adalah kasus
tertutup dan terkunci dari pembunuhan.
dalam, maka kasusnya pasti
merupakan bunuh diri.
Tanda-tanda Tidak pada kasus gantung Tanda-tanda perlawanan hampir
perlawanan. diri. selalu ada kecuali jika korban
sedang tidur, tidak sadar atau
masih anak-anak.

Sebab kematian pada gantung diri


1. tekanan jalan napas asfiksia O2 yang masuk paru kurang
2. suplai O2 ke otak berkurang penakanan arteri karotis comunis vena jugularis tertekan
bendungan vena gagal jantung
3. vagal reflek pusat saraf vagus di bagian depan leher, tanda sianosis tidak ada
kemungkinan mati karena reflek vagal
penekanan sinus karotikus di belakang gld tiroid gangguan blok jantung kardiak arrest
4. karena edema laring karena obstruksi napas tanda asfiksia nampak
5. spasme laring

Ada 4 penyebab kematian pada penggantungan , yaitu :


1. Asfiksia
2. Iskemia otak akibat gangguan sirkulasi
3. Vagal reflex (shock)
4. Kerusakan medulla oblongata atau medulla spinalis

Rusaknya medulla oblongata atau medulla spinalis pada penggantungan (hanging) disebabkan
patahnya tulang leher. Kita dapat temukan biasanya pada hukuman mati.
Ada 3 cara kematian pada penggantungan (hanging), yaitu :
1. Bunuh diri (paling sering) .
2. Pembunuhan, termasuk hukuman mati .
3. Kecelakaan, misalnya bermain dengan tali lasso, tali parasut pada terjun payung, dan
penggunaan tali untuk mendapat kepuasan seks.

Ada 4 hal yang bukan petunjuk bagi kita tentang cara kematian pada kasus penggantungan
(hanging), yaitu :
1. Mata melotot.
2. Lidah terjulur.
3. Keluar mani, urin, darah, atau feses.
4. Jenis simpul (simpul hidup atau simpul mati).

Ada 8 hal yang perlu dilakukan pada pemeriksaan tempat kejadian, yaitu :
1. Memastikan korban apakah masih hidup atau telah mati.
2. Mencari bukti yang menunjukkan cara kematian.
3. Memperhatikan jenis simpul tali gantungan.
4. Mengukur jarak antara ujung kaki korban dengan lantai.
5. Memperhatikan letak korban di tempat kejadian.
6. Cara menurunkan korban.
7. Mengamankan bekas serabut tali.
8. Memperhatikan bahan penggantung.

Ada 3 bukti yang bisa menunjukkan kepada kita tentang cara kematian korban, yaitu :
1. Ada tidaknya alat penumpu korban, misalnya bangku dan sebagainya.
2. Arah serabut tali penggantung.
3. Distribusi lebam mayat.
Serabut tali penggantung yang arahnya menuju korban dapat memberikan petunjuk
bagi kita bahwa korban melakukan bunuh diri. Sebaliknya, arah serabut tali yang menjauhi
korban menjadi bukti bahwa korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung.
Distribusi lebam mayat harus kita perhatikan secara seksama, apakah sesuai dengan
posisi mayat ataukah tidak. Jenis simpul tali gantungan penting kita perhatikan karena dapat
kita jadikan sebagai patokan apakah korban melakukan bunuh diri ataukah korban
pembunuhan. Simpul tali, baik simpul hidup maupun simpul mati, bilamana melewati lingkar
kepala korban dapat menunjukkan korban melakukan bunuh diri. Apabila simpul tali tidak
dapat melewati lingkar kepala korban dapat menandakan korban dibunuh lebih dahulu
sebelum digantung. Simpul hidup harus kita longgarkan secara maksimal untuk
membuktikannya.
Cara kita menurunkan korban dengan memotong tali gantungan diluar simpul tali.
Sebelum memotong, kita membuat 2 ikatan lalu kita potong secara miring diantara keduanya.
Tindakan ini untuk mencegah terurainya serabut tali gantungan. Setelah itu, kita
mengamankan bekas serabut tali gantungan tadi baik serabut tali yang mengikat leher korban
maupun serabut tali yang diikatkan pada tempat gantungan. Hal ini penting dilakukan untuk
pemeriksaan kasus ini lebih lanjut.
Bahan dan ukuran diameter penggantung penting juga kita perhatikan. Bahan yang
keras dan berdiameter kecil meninggalkan tanda alur jerat yang semakin jelas. Bahan
penggantung yang dapat digunakan pada kasus penggantungan (hanging) antara lain tali,
kawat, selendang, ikat pinggang, sprei yang disambung, dan lain-lain.

Ada beberapa hal yang dapat kita jumpai pada pemeriksaan luar dan dalam autopsi. Ada 5
bagian tubuh korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar autopsi, yaitu:
1. Kepala.
2. Leher.
3. Anggota gerak (lengan dan tungkai).
4. Dubur.
5. Alat kelamin.

Ada 4 bagian kepala korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar autopsi,
yaitu :
1. Muka.
Muka korban penggantungan (hanging) akan mengalami sianosis dan terlihat pucat karena
vena terjepit. Selain terjepitnya vena, pucat pada muka korban juga disebabkan terjepitnya
arteri.
2. Mata.
Mata korban penggantungan (hanging) melotot akibat terjadinya bendungan pada kepala
korban. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri kepala tidak
terhambat.
3. Konjungtiva.
Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban penggantungan (hanging) terjadi akibat
pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia.
4. Lidah.
Lidah korban penggantungan (hanging) bisa terjulur, bisa juga tidak terjulur. Lidah terjulur
apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Lidah tidak terjulur
apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea.

Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging) berbentuk lingkaran (V shape). Alur
jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Alur jeratan pucat.
2. Tepi alur jerat coklat kemerahan.
3. Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.

Alur jeratan yang simetris / tipikal pada leher korban penggantungan (hanging) menunjukkan
letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. Alur jeratan yang asimetris / atipikal
menunjukkan letak simpul disamping leher.

Deskripsi leher korban penggantungan (hanging) yang penting kita berikan antara lain :
1. Lokasi luka.
2. Jenis luka.
3. Lokasi simpul jeratan (belakang dan samping leher).
4. Jenis simpul jeratan (simpul hidup dan simpul mati).
Lokasi luka pada leher korban penggantungan (hanging) dapat berada di depan,
samping dan belakang leher. Luka yang berada di depan leher kita ukur dari dagu atau
manubrium sterni korban. Luka yang berada di samping leher kita ukur dari garis batas rambut
korban. Luka yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu korban.
Jenis luka korban penggantungan (hanging) terdiri atas luka lecet, luka tekan dan luka
memar. Penting juga kita mendeskripsikan mengenai warna, lebar, perabaan dan keadaan
sekitar luka. Anggota gerak korban penggantungan (hanging) dapat ditemukan adanya lebam
mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai.
Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut. Dubur
korban penggantungan (hanging) dapat mengeluarkan feses. Alat kelamin korban dapat
mengeluarkan mani, urin, dan darah (sisa haid). Pengeluaran urin pada korban penggantungan
disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak asfiksia. Lebam mayat
dapat ditemukan pada genitalia eksterna korban.
Ada 4 bagian tubuh korban penggantungan (hanging) yang kita perhatikan saat melakukan
pemeriksaan dalam autopsi, yaitu :
1. Kepala.
2. Leher.
3. Dada dan perut.
4. Darah.
Kepala korban penggantungan (hanging) dapat ditemukan tanda-tanda bendungan
pembuluh darah otak, kerusakan medulla spinalis dan medulla oblongata. Kedua kerusakan
tersebut biasanya terjadi pada hukuman gantung (judicial hanging).
Leher korban penggantungan (hanging) dapat ditemukan adanya perdarahan dalam
otot atau jaringan, fraktur (os hyoid, kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea), dan
robekan kecil pada intima pembuluh darah leher (vena jugularis).
Dada dan perut korban penggantungan (hanging) dapat ditemukan adanya perdarahan
(pleura, perikard, peritoneum, dan lain-lain) dan bendungan / kongesti organ.
Darah dalam jantung korban penggantungan (hanging) warnanya lebih gelap dan
konsistensinya lebih cair.

2) PENJERATAN
Jerat (strangulation by ligature) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher
korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan
korban.
kekuatan jerat pada ujung tali jerat, pada gantung kekeatan karen berat badan
jejas penjeratan bersifat horisontal bersilangan di atas dan dibawah
tanda asfiksia
kausa mati menyerupai gantung diri
pemeriksaan lokal menyerupai gantung diri hanya bedanya pada penjeratan, jejas bersifat
horisontal

Ada 3 penyebab kematian pada jerat , yaitu :


1. Asfiksia
2. Iskemia
3. Vagal reflex (shock)

Ada 3 cara kematian pada kasus jeratan , yaitu :


1. Pembunuhan (paling sering).
2. Kecelakaan.
3. Bunuh diri.

Pembunuhan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita jumpai pada kejadian
infanticide dengan menggunakan tali pusat, psikopat yang saling menjerat, dan hukuman mati
(zaman dahulu).
Kecelakaan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat pada bayi yang terjerat oleh
tali pakaian, orang yang bersenda gurau dan pemabuk. Vagal reflex menjadi penyebab
kematian pada orang yang bersenda gurau.
Bunuh diri pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dilakukan dengan cara melilitkan tali
secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik. Antara jeratan dan leher
mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar tongkat tersebut.
Pemeriksaan tempat kejadian pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dilakukan secara
rutin sebagaimana pada kasus yang lain. Hendaknya perhatikan jeratan pada leher korban dan
cara melepaskan jeratan dari leher korban.
Ada 5 hal yang penting kita perhatikan pada kasus jeratan (strangulation by ligature), antara
lain :
1. Arah jerat mendatar / horisontal.
2. Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan (hanging).
3. Jenis simpul penjerat.
4. Bahan penjerat misalnya tali, kaus kaki, dasi, serbet, serbet, dan lain-lain.
5. Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan untuk
menjerat.

Pemeriksaan autopsi pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mirip kasus penggantungan
(hanging) kecuali pada :
1. Distribusi lebam mayat yang berbeda.
2. Alur jeratan mendatar / horisontal.
3. Lokasi jeratan lebih rendah.

3) PENCEKIKAN (MANUAL STRANGULASI)


Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban
yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah.
memakai 1 atau 2 tangan
bersifat pembunuhan
status lokalis
o luka memer bulat panjang
o luka lecet bentuk bulan sabit jika pakai tangan kiri jempoknya di kiri
diagnosis menyerupai gantung diri
sebab kematian menyerupai gantung diri

Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan , yaitu :


1. Asfiksia
2. Iskemia
3. Vagal reflex

Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan yaitu :


1. Pembunuhan (hampir selalu).
2. Kecelakaan, biasanya mati karena vagal reflex.

Ada 3 cara melakukan pencekikan (manual strangulasi), yaitu :


1. Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban.
2. Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
3. Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini disebut
mugging.
Ada 3 hal penting yang diperhatikan pada pemeriksaan luar dari autopsi kasus pencekikan
(manual strangulasi), antara lain :
1. Tanda asfiksia.
Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar autopsi yang dapat ditemukan antara lain adanya
sianotik, petekie, atau kongesti daerah kepala, leher atau otak. Lebam mayat akan terlihat
gelap.
2. Tanda kekerasan pada leher (penting).

Ada 2 tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari, yaitu :
1. Bekas kuku.
2. Bantalan jari.
Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark, yaitu luka lecet yang berbentuk
semilunar/bulan sabit. Kadang-kadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. Perhatikan pula
tangan yang digunakan pelaku, apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (lef
handed). Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku (susunan bekas kuku) juga tak luput dari
perhatian kita.
3. Tanda kekerasan pada tempat lain.
Tanda kekerasan pada tempat lain dapat ditemukan di bibir, lidah, hidung, dan lain-lain. Tanda
ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan.

Ada 4 hal yang penting kita cari pada pemeriksaan dalam autopsi bagian leher korban pada
kasus pencekikan (manual strangulasi), yaitu :
1. Perdarahan atau resapan darah.
2. Fraktur.
3. Memar atau robekan membran hipotiroidea.
4. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Perdarahan atau
resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid, kelenjar ludah, dan mukosa &
submukosa pharing atau laring. Fraktur yang paling sering ditemukan pada os hyoid. Fraktur
lain pada kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea.

4) PEMBEKAPAN
Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan napas yaitu
hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikel-partikel kecil.
penutupan pada mulut dan hidung
tanda asfiksia jelas
rekonstruksi tangan yang dipakai pakai tangan kiri jempol di kiri pipi korban.

Ada 3 penyebab kematian pada pembekapan (smothering), yaitu :


1. Asfiksia
2. Edema paru
3. Hiperaerasi
Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang lambat dari pembekapan
(smothering).

Ada 3 cara kematian pada kasus pembekapan (smothering), yaitu :


1. Kecelakaan (paling sering)
2. Pembunuhan
3. Bunuh diri

Ada 3 cara kecelakaan pada kematian kasus pembekapan (smothering), yaitu :


1. Tertimbun tanah longsor atau salju.
2. Alkoholisme.
3. Bayi tertutup selimut atau mammae ibu.

Ada 3 cara pembunuhan pada kasus pembekapan (smothering), yaitu:


1. Hidung dan mulut diplester.
2. Bantal ditekan ke wajah.
3. Serbet atau dasi dimasukkan ke dalam mulut.

Ada 3 cara bunuh diri pada kasus pembekapan (smothering), yaitu :


1. Menggunakan plester atau kantong plastik.
2. Bantal yang diikatkan ke kepala.
3. Menggunakan dasi atau serbet.

Ada 3 hal yang penting dilakukan pada pemeriksaan autopsi kasus pembekapan (smothering),
yaitu :
1. Mencari penyebab kematian.
2. Menemukan tanda-tanda asfiksia.
3. Menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat.

Ada 3 hal penting yang kita cari untuk menemukan penyebab kematian pada kasus
pembekapan (smothering), yaitu :
1. Jika kita menemukan bantal, cari apakah ada tanda-tanda kekerasan.
2. Cari ada tidaknya trauma tumpul di sekitar hidung dan mulut.
3. Mencari ada tidaknya kain, handuk, dasi, serbet, atau pasir dalam rongga mulut.
Burking merupakan kombinasi antara pembekapan (smothering) dengan external pressure on
the chest / traumatic asphyxia. Pelaku melakukan burking dengan cara terlebih dahulu
melumpuhkan korban lalu menelentangkan korban dan pelaku duduk diatas dada korban
(traumatic asphyxia). Satu tangan pelaku menutup hidung atau mulut korban (smothering)
sedangkan tangan yang lain menekan rahang ke atas.

5) TERSEDAK (CHOCKING)
Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang masuk dan
menyumbat lumen jalan udara.
oleh karena benda asing
tanda asfiksia jelas
awalnya batuk keras asfiksia mati

Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu :


1. Kecelakaan (paling sering)
2. Pembunuhan (kasus infanticide)
Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada kasus tersedak (chocking),
yaitu :
Gangguan refleks batuk pada alkoholisme.
Pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam mulutnya.
Tonsilektomi, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter.

Ada 4 hal yang penting untuk dilakukan pada pemeriksaan autopsi kasus tersedak (chocking),
yaitu :
1. Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadang-kadang ada tanda
kekerasan
2. di mulut korban.
3. Menemukan tanda asfiksia.
4. Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian lambat.
5. Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses.

6) TENGGELAM
Tenggelam (drowning) adalah suatu suffocation dimana jalan napas terhalang oleh air / cairan
sehingga terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru.

Ada 2 jenis mati tenggelam (drowning) berdasarkan posisi mayat, yaitu :


1) Submerse drowning
Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian
tubuh mayat masuk ke dalam air, seperti bagian kepala mayat.
2) Immerse drowning
Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh
tubuh mayat masuk ke dalam air.

Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya, yaitu :


a) Dry drowning
Dry drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air
b) Wet drowning
Wet drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi banyak air.

Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning, yaitu :


1. Spasme laring (menimbulkan asfiksia).
2. Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi.

Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning, yaitu :


1. Asfiksia.
2. Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar.
3. Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut).

Ada 4 cara kematian pada kasus tenggelam (drowning), yaitu :


1. Kecelakaan (paling sering).
2. Undeterminated.
3. Pembunuhan.
4. Bunuh diri.

Ada 2 kejadian kecelakaan pada kasus mati tenggelam (drowning) yang dapat dijumpai,yaitu :
1. Kapal tenggelam.
2. Serangan asma datang saat korban sedang berenang.
Penyebab mati tenggelam (drowning) yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui
cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air.

Ada 2 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian pembunuhan pada kasus mati .
tenggelam (drowning), yaitu :
1. Biasanya tangan korban diikat yang tidak mungkin dilakukan oleh korban.
2. Kadang-kadang dapat ditemukan tanda-tanda kekerasan sebelum korban ditenggelamkan.
Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati
tenggelam (drowning), yaitu :
1. Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya.
2. Kita dapat temukan suicide note.
3. Kedua tangan / kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban.
4. Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat.

Pada pemeriksaan luar autopsi, tidak ada patognomonis untuk mati tenggelam. Ada 7 tanda
penting yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Kulit tubuh mayat terasa basah, dingin, pucat dan pakaian basah.
2. Lebam mayat biasanya sianotik kecuali mati tenggelam di air dingin berwarna merah muda.
3. Kulit telapak tangan / telapak kaki mayat pucat (bleached) dan keriput (washer woman's
hands/feet).
4. Kadang-kadang terdapat cutis anserine / goose skin pada lengan, paha dan bahu mayat.
5. Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat (scheumfilz froth) yang bersifat
melekat.
6. Bila mayat kita miringkan, cairan akan keluar dari mulut / hidung.
7. Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air / bahan setempat berada dalam
genggaman tangan mayat.

Ada 5 tanda penting yang yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning) pada
pemeriksaan dalam autopsi, yaitu :
1. Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti.
2. Saluran napas mayat berisi buih. Kadang-kadang berisi lumpur, pasir, atau rumput air.
3. Lambung mayat berisi banyak cairan.
4. Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli.
5. Organ dalam mayat mengalami kongesti.
Di daerah tropis, tubuh mayat pada kasus mati tenggelam (drowning) mulai membusuk pada
hari ke-2 sedangkan di daerah dingin, membusuk setelah 1 minggu. Pembusukan tersebut
ditandai oleh terkelupasnya kulit ari. Jika pembusukannya merata, tubuh mayat akan
mengapung di permukaan air. Keadaan ini disebut floaten. Floaten biasanya terjadi pada hari
ke-3 sampai hari ke-6.

Perbedaan Tempat
Air laut Air Tawar
Paru paru besar dan berat Paru-paru besar dan ringan
Basah Relatif ringan
Bentuk besar kadang overlapping Bentuk biasa
Ungu biru dan permukaan licin Merah pucat dan emfisematous
Krepitasi tidak ada Krepitasi ada
Busa sedikit dan banyak cairan Busa banyak
Dikeluarkan dari torak akan mendatad dan Dikeluarkan dari toraks tapi kempes
ditekan akan menjadi cekung
Mati dalam 5-10 menit, 20 ml/kgBB Mati dalam 5 menit, 40 ml.kgBB
Darah: Darah:
1. BJ 1,0595 -1,0600 1. BJ 1,055
2. Hipertonik 2. hipotonik
3. hemokonsentrasi dan edema paru 3. hemodilusi/hemolisis
4. hipokalemia 4. hiperkalemia
5. hipernatremia 5. hiponatremia
6. hiperklorida 6. hipoklorida
Resusitasi lebih mudah Resusitasi aktif
Tranfusi dengan plasma Tranfusi dengan PRC

Ada 7 tanda intravitalitas mati tenggelam (drowning), yaitu :


1. Cadaveric spasme.
2. Perdarahan pada liang telinga tengah mayat.
3. Benda air (rumput, lumpur, dan sebagainya) dapat ditemukan dalam saluran pencernaan dan
saluran pernapasan mayat.
4. Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat.
5. Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri.
6. Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat.
7. Tanda asfiksia tidak jelas, mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Pada kasus mati
tenggelam (drowning), dapat ditemukan tanda-tanda adanya kekerasan berupa luka lecet pada
belakang kepala, siku, lutut, jari-jari tangan, atau ujung kaki mayat.
Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Percobaan getah paru (lonset proef).
2. Pemeriksaan diatome (destruction test).
3. Penentuan berat jenis (BD) plasma.
4. Pemeriksaan kimia darah (gettler test).
Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa korban
masih hidup saat berada dalam air.

Percobaan Getah Paru (Lonsef Proef)

Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef) yaitu mencari benda asing (pasir, lumpur,
tumbuhan, telur cacing) dalam getah paru-paru mayat. Syarat melakukannya adalah paru-paru
mayat harus segar / belum membusuk.

Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef) yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3
kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paru-paru. Kemudian
teteskan diatas objek gelas. Syarat sediaan harus sedikit mengandung eritrosit. Evaluasi
sediaan yaitu pasir berbentuk kristal, persegi dan lebih besar dari eritrosit. Lumpur amorph
lebih besar daripada pasir, tanaman air dan telur cacing. Ada 3 kemungkinan dari hasil
percobaan getah paru (lonsef proef), yaitu :
1. Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain.
2. Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain.
3. Hasilnya negatif.

Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita interpretasikan bahwa
korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya positif dan ada sebab kematian lain maka ada 2
kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu korban mati karena tenggelam atau korban
mati karena sebab lain. Jika hasilnya negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab kematian
korban, yaitu :
1. Korban mati dahulu sebelum tenggelam.
2. Korban tenggelam dalam air jernih.
3. Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx.

Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan bahwa tidak
ada hal hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya negatif dan
ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati sebelum korban dimasukkan ke
dalam air.

Pemeriksaan Diatome (Destruction Test)


Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome dalam paru-
paru mayat. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat. Syaratnya
paru-paru harus masih dalam keadaan segar, yang diperiksa bagian kanan perifer paru-paru,
dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut.

Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian perifer (100 gr)
lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. Biarkan selama 12 jam kemudian
panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam. Teteskan HNO3 sampai warna putih
lalu sentrifus hingga terdapat endapan hitam. Endapan kemudian diambil menggunakan pipet
lalu teteskan diatas objek gelas. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya
bervariasi dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel.
Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronis. Untuk hepar atau lien,
tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan abnnormal
gastrointestinal.

Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan untuk
mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada air laut
dengan menggunakan CuSO4. Normal 1,059 (1,0595-1,0600); air tawar 1,055; air laut 1,065.
Interpretasinya darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat jenisnya.

Pemeriksaan Kimia Darah (Gettler Test)


Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan kalium.
Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar, mengandung Cl lebih
rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na menurun dan kadar K meningkat
dalam plasma. Korban yang mati tenggelam dalam air laut, mengandung Cl lebih tinggi pada
jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit meningkat dalam
plasma.

Pemeriksaan Histopatologi
Pada pemeriksaan histopatologi dapat ditemukan adanya bintik perdarahan di sekitar bronkioli
yang disebut Partoff spot.

LAPORAN TUTORIAL BLOK 2.6


MODUL 5 : DADA TORI MEMBESAR
KELOMPOK 8 GRUP B
1. Aliefya Putra
2. Fitri Wahyu Febriwani
3. Ghina Dayu Salsabila
4. Indah Khairun Nisa
5. Irfani Rizka
6. Nikita Shalifa
7. Nur Fadhilah
8. Ririn Syafitri Nasution
9. Sarah Ezza Bucika
10.Sepdiana Wahyuni

FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND

2015-2016