Vous êtes sur la page 1sur 155

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN, PERILAKU

MEROKOK DAN NIKOTIN DEPENDEN


MAHASISWA UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

Skripsi
Diajukan Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

OLEH:
ILYATI SYARFA
NIM : 1111104000021

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015 M/1436 H
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
SCHOOL OF NURSING
SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY OF
JAKARTA

Undergraduate Thesis, July 2015

Ilyati Syarfa, NIM: 111110400021


Description Of Knowledge Level, Smoking Behaviour And Nicotine Dependent On
Student Of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
xix + 98 pages + 25 tables + 2 schemes + 5 attachments

ABSTRACT

Cigarette problem essentially has become a national problem. All health experts have long
concluded, that health is smoking a lot of negative impact. The content of nicotine contained
in cigarettes can cause a feeling dependent. Every year there are about 3 million deaths
resulting from nicotine dependence. Now, smoking behavior has been much in the academic
environment, such as college or university. Whereas those in the academic community should
understand more about the dangers of smoking information. The purpose of this study is to
describe the level of knowledge, smoking behavior and nicotine dependent on student UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. This type of research is quantitative descriptive analysis design
draft with cross sectional approach. The samples were 206 active college students from the
Faculty of Medicine and Health Sciences, Faculty of Social and Political Sciences, Faculty of
Dirasat Islamiyah with Cluster sampling method. Quantitative data retrieval by questionnaire.
The results showed the level of knowledge of the majority of cigarettes high 90.8%. For
smoking behavior showed a majority of 65.7% in the medium category and most are included
in the category of very low nicotine or nicotine dependent as much as 60.0%. Still the
smoking behavior among students expected the government and relevant institutions to
reinforce the policy on smoking ban in the academic environment.

Keywords: Overview, Knowledge Level,Smoking Behaviour, Nicotine Dependent, Student.

References: 82 (years 1997-2015)

iii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi, Juli 2015

Ilyati Syarfa, NIM: 1111104000021

Gambaran Tingkat Pengetahuan, Perilaku Merokok dan Nikotin Dependen Mahasiswa


UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
xix + 98 halaman+ 25 tabel + 2 bagan + 5 lampiran

ABSTRAK

Masalah rokok pada hakekatnya sudah menjadi masalah nasional. Semua ahli kesehatan telah
lama menyimpulkan, bahwa secara kesehatan rokok banyak menimbulkan dampak
negatif. Kandungan Nikotin yang terkandung didalam rokok dapat menimbulkan perasaan
tergantung. Setiap tahun terdapat sekitar 3 juta kematian yang disebabkan dari
ketergantungan nikotin. Saat ini perilaku merokok sudah banyak di lingkungan akademis,
seperti kampus atau universitas. Padahal mereka yang berada di lingkungan akademis
selayaknya lebih mengerti mengenai informasi bahaya merokok. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, perilaku merokok, dan nikotin dependen
pada mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif
dengan rancangan desain analisis deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel
penelitian adalah 206 mahasiswa yang aktif kuliah dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Dirasat Islamiyah dengan metode
Cluster sampling. Pengambilan data kuantitatif dengan kuesioner. Hasil penelitian
menunjukkan tingkat pengetahuan terhadap rokok mayoritas tinggi 90,8%. Untuk perilaku
merokok menunjukan mayoritas dalam kategori sedang 65,7% dan sebagian besar termasuk
dalam kategori sangat rendah ketergantungan nikotin atau nikotin dependen sebanyak 60,0%.
Masih terjadinya perilaku merokok dikalangan mahasiswa diharapkan pemerintah dan
institusi terkait bisa mempertegas kebijakan mengenai larangan merokok di lingkungan
akademis.

Kata kunci: Gambaran, Tingkat Pengetahuan,Perilaku Merokok, Nikotin Dependen,


Mahasiswa.

Referensi : 82 (tahun 1997-2015)

iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : ILYATI SYARFA

Tempat, tanggal Lahir : Depok, 07 Juni 1993

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status : Belum Menikah

Alamat : Jl. Arif Rahman Hakim GG.bunga RT 01

RW 13 N0. 6 Beji Depok

HP : +6281210636510

E-mail : ilyatisyarfa@yahoo.com

Fakultas/Jurusan : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan/

Program Studi Ilmu Keperawatan

PENDIDIKAN

1. TK Islam Almuhajirin Depok 1997 - 1999


2. MI Al-Awwabin Depok 1999 - 2005
3. Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Depok 2005 - 2008
4. Sekolah Menengah Atas Sejahtera 1 Depok 2008 - 2011
5. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011-sekarang

ORGANISASI

1. OSIS SMP 2007 - 2008


2. PASKIBRA SMP 2005 - 2008
3. BEM PSIK 2012 - 2013

viii
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah Subhanahuwataala, kita memuji, meminta


pertolongan dan memohon pengampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada
Allah dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Aku bersaksi tidak
ada Dzat yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad itu Rasulullah Shollallahu alaihi wasalam.
Atas berkat rahmat, karunia, dan ridha-Nya penulis dapat menyelesaikan
skiripsi yang berjudul Gambaran Tingkat Pengetahuan, Perilaku Merokok
dan Nikotin Dependen Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Skripsi ini disusun sebagaimana untuk memenuhi salah satu syarat guna
mencapai gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) UIN Jakarta serta menerapkan dan
mengembangkan teori-teori yang penulis peroleh selama kuliah.
Penulis telah berusaha untuk menyajikan suatu tulisan ilmiah yang rapi
dan sistematik sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Penulis menyadari bahwa
penyajian skripsi ini jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan masih terbatasnya
pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan penulis dalam melihat fakta,
memecahkan masalah yang ada, serta mengeluarkan gagasan ataupun saran-saran.
Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang berguna untuk menyempurnakan
skripsi ini akan penulis terima dengan hati terbuka dan rasa terima kasih.
Sesungguhnya banyak pihak yang telah memberikan dorongan dan
bantuan yang tak terhingga nilainya hingga skripsi ini dapat penulis selesaikan
tepat pada waktunya. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orang tuaku, Ibu Suwarti dan Bapak Nahrowi yang telah mendidik,
mencurahkan semua kasih sayang tiada tara, mendoakan keberhasilan
penulis, serta memberikan bantuan baik moril maupun materil kepada
penulis selama proses menyelesaikan proposal skripsi ini. Tak lupa,
Kakakku, Hilwa Haudati, dan Adikku, Rifdah Farhani, Neila Amalia dan
seluruh keluargaku yang selalu memberikan semangat tanpa pamrih.
2. Ibu Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, dan Ibu Ns. Uswatun Khasanah,
MNS, Selaku Dosen Pembimbing, terima kasih sebesar-besarnya untuk

ix
beliau yang telah meluangkan waktu serta memberi arahan dan bimbingan
dengan sabar kepada penulis selama proses pembuatan skripsi ini.
3. Ibu Nia Damiati, S.Kp, MSN, selaku Dosen Pembimbing Akademik,
terima kasih sebesar-besarnya untuk beliau yang telah membimbing dan
memberi motivasi selama 4 tahun duduk di bangku kuliah.
4. Maulina Handayani, S.Kp., M.Sc, selaku Ketua Program Studi dan
Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak / Ibu dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bekal ilmu
pengetahuan kepada penulis serta seluruh staf dan karyawan di lingkungan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Segenap Staf Pengajar dan karyawan di lingkungan Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmunya
kepada saya selama duduk di bangku kuliah.
7. Sahabat tercinta Andika, Dayang, Audy, Dewi, Trisna, Arief, Sekar, Asih,
Eko, PSIK 2011, PSIK 2010 dan teman-teman yang telah membantu
memberi inspirasi, menghibur, memberi masukan, mengundang tawa dan
terkhusus untuk Alfian Prawiraguna yang telah banyak membantu dan
memberikan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

Pada akhirnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh
dari sempurna, namun penulis harapkan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi
yang memerlukannya.

Ciputat, Juli 2015

Ilyati Syarfa

x
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ................................................................................................. i


Pernyataan Keaslian Karya ............................................................................ ii
Abstract ............................................................................................................. iii
Abstrak .............................................................................................................. iv
Pernyataan Persetujuan .................................................................................. v
Lembar Pengesahan ......................................................................................... vi
Daftar Riwayat Hidup ..................................................................................... viii
Kata Pengantar ................................................................................................ ix
Daftar Isi ........................................................................................................... xi
Daftar Singkatan .............................................................................................. xv
Daftar Bagan .................................................................................................... xvi
Daftar Tabel ...................................................................................................... xvii
Daftar Lampiran .............................................................................................. xix

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 10
C. Pernyataan Penelitian ................................................................................ 10
D. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 11
E. Manfaat Penelitian .................................................................................... 13
F. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................................... 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengetahuan ............................................................................................. 15
1. Tingkat Pengetahuan .......................................................................... 15
B. Perilaku .................................................................................................... 16
1. Bentuk Perilaku .................................................................................. 17

xi
2. Proses Adopsi Perilaku ...................................................................... 19
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku ...................................... 20
C. Rokok ....................................................................................................... 20
1. Kandungan Rokok .............................................................................. 20
2. Dampak Perilaku Merokok ................................................................ 22
a. Dampak Positif ............................................................................. 22
b. Dampak Negatif ........................................................................... 23
D. Jenis Rokok .............................................................................................. 25
1. Perilaku Merokok ............................................................................... 29
2. Tipe Perilaku Merokok ...................................................................... 30
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok ...................... 32
E. Nikotin Dependen .................................................................................... 34
F. Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ........................................... 38
G. Penelitian Terkait ..................................................................................... 39
H. Kerangka Teori ......................................................................................... 45

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


A. Kerangka Konsep ................................................................................. 46
B. Definisi Operasional ............................................................................. 47

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN


A. Desain Penelitian ................................................................................... 52
B. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................... 52
C. Populasi dan Sampel ............................................................................. 53
1. Populasi Penilitian ........................................................................... 53
2. Sampel Penelitian ............................................................................ 55
D. Metode Pengumpulan Data ................................................................... 59
1. Jenis Data ........................................................................................ 59
2. Instrumen Penelitian ........................................................................ 59
E. Vadilitas dan Reabilitas Instrumen ....................................................... 63
1. Vadilitas .......................................................................................... 63
2. Reabilitas ......................................................................................... 64

xii
F. Proses Pengumpulan Data ..................................................................... 65
G. Pengolahan Data .................................................................................... 66
H. Analisa Data .......................................................................................... 67
1. Analisa Univariat ............................................................................ 67
I. Etika Penelitian ..................................................................................... 68

BAB V HASIL PENELITIAN


A. Karateristik Responden ......................................................................... 69
1. Program Pendidikan (Fakultas) ....................................................... 70
2. Program Studi ................................................................................. 70
3. Jenis Kelamin .................................................................................. 70
4. Usia ................................................................................................. 71
5. Status Merokok ............................................................................... 71
6. Tipe Perokok ................................................................................... 72
B. Tingkatan Pengetahuan Responden ...................................................... 72
1. Tingkatan Pengatahuan Berdasarkan Fakultas ................................ 73
2. Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Jenis Kelamin .......................... 74
C. Perilaku Merokok .................................................................................. 74
1. Perilaku Merokok Berdasarkan Fakultas ........................................ 75
2. Perilaku Merokok Berdasarkan Jenis Kelamin ............................... 76
3. Status Merokok berdasarkan Tingkat Pengetahuan ....................... ..76
D. Nikotin Dependen ................................................................................. 77
1. Nikotin Dependen Berdasarkan Fakultas ........................................ 77
2. Nikotin Dependen Berdasarkan Jenis kelamin ............................... 78

BAB VI PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden ....................................................................... 79
1. Fakultas dan Program Studi ............................................................ 79
2. Usia ................................................................................................. 80
3. Jenis Kelamin .................................................................................. 81
4. Status Merokok dan Tipe Perokok .................................................. 83

xiii
B. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta ................................................................................................... 85
C. Gambaran Perilaku Merokok Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
................................................................................................................. 87
D. Gambaran Nikotin Dependen Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
................................................................................................................. 91
E. Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 93

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ........................................................................................... 95
B. Saran ...................................................................................................... 97

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xiv
DAFTAR SINGKATAN

UIN : Universitas Islam Negri

FKIK : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

FISIP : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

FDI : Fakultas Dirasat Islamiyah

RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar

RI : Republik Indonesia

WHO : World Health Organization

QS : Al-Quran Surat

SMA : Sekolah Menengah Atas

SMP : Sekolah Menengah Pertama

SKT : Sigaret Kretek Tangan

SKM : Sigaret Kretek Mesin

SKM FF : Sigaret Kretek Mesin Full Flavor

SKM LM : Sigaret Kretek Mesin Light Mild

RF : Rokok Filter

RNF : Rokok Non Filter

FTND : Fagerstrom Test For Nicotine Dependence

GYTS : Global Youth Tobacco Survey

xv
DAFTAR BAGAN

Halaman

2.1 Kerangka Teori 44

3.1 Kerangka Konsep 45

xvi
DAFTAR TABEL
Halaman
3.1 Definisi Operasional 47
4.1 Persebaran Jumlah Mahasiswa FKIK UIN Syarif 54
Hidayatullah Jakarta
4.2 Persebaran Jumlah Mahasiswa FISIP UIN Syarif 54
Hidayatullah Jakarta
4.3 Persebaran Jumlah Mahasiswa FDI UIN Syarif Hidayatullah 54
Jakarta
4.4 Persebaran Jumlah Sampel Mahasiswa FKIK UIN Syarif 58
Hidayatullah Jakarta
4.5 Persebaran Jumlah Sampel Mahasiswa FISIP UIN Syarif 58
Hidayatullah Jakarta
4.6 Persebaran Jumlah Sampel Mahasiswa FDI UIN Syarif 58
Hidayatullah Jakarta
4.7 Indikator Item Kuesioner Perilaku Merokok 61
5.1 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Fakultas UIN 69
Syarif Hidayatullah Jakarta
5.2 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Program Studi 70
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.3 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Kelamin di 70
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.4 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Usia di UIN Syarif 71
Hidayatullah Jakarta
5.5 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Status Merokok di 71
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.6 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tipe Perokok di 72
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.7 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat 72
Pengetahuan Mengenai Rokok di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
5.8 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mengenai Rokok 73
Responden Berdasarkan Kategori Fakultas di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
5.9 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mengenai Rokok 74
Responden Berdasarkan Kategori Jenis Kelamin di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta
5.10 Distribusi Frekuensi Status Perokok Berdasarkan Usia di 74
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.11 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Perilaku Merokok 75
di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.12 Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Responden 75
Berdasarkan Kategori Fakultas di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta

xvii
5.13 Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Responden 76
Berdasarkan Kategori Jenis Kelamin di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
5.14 Distribusi Frekuensi Status Merokok Dengan Tingkat 76
Pengetahuan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Distribusi
Frekuensi Responden Menurut Nikotin Dependen di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta
5.15 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Nikotin Dependen 77
di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.16 Distribusi Frekuensi Nikotin Dependen Responden 77
Berdasarkan Kategori Fakultas di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
5.17 Distribusi Frekuensi Nikotin Dependen Responden 78
Berdasarkan Kategori Jenis Kelamin UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

xviii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Izin penelitian dan pengambilan data

Lampiran 2. Kuesioner penelitian

Lampiran 3. Izin penggunaan kuesioner

Lampiran 4. Hasil uji validitas dan reabilitas kuesioner

Lampiran 5. Hasil olah SPSS

xix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada saat ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat

tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan

bagi perokok, namun di lain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi

perokok sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Hal ini sebenarnya

telah diketahui oleh masyarakat, bahwa merokok itu mengganggu

kesehatan. Masalah rokok pada hakekatnya sudah menjadi masalah

nasional (Setiyanto, 2013).

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013

Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi perokok di

Indonesia tahun 2013 laki-laki sebanyak 68,8%, perempuan 6,9%, dan

total prevalensi di Indonesia sebanyak 36,3%. Hasil ringkasan Riskesdas

menyebutkan bahwa perilaku merokok penduduk 15 tahun ke atas

meningkat dari tahun 2007 ke 2013. Pada tahun 2007, usia 1519 tahun

sebanyak 36,3%, usia 2024 tahun 16,3%, usia 2529 tahun sebanyak

4,4% dan usia 30 tahun sebanyak 3,2%. Jumlah perokok aktif yang

meningkat ini didominasi oleh remaja dan anak-anak. Sejak 2011 hingga

saat ini terjadi peningkatan perokok aktif di kalangan remaja dan anak-

anak, yakni dari 5 % menjadi 17 % (Depkes, 2013).

Semua ahli kesehatan termasuk World Health Organization

(WHO) telah lama menyimpulkan, bahwa secara kesehatan rokok banyak

1
2

menimbulkan dampak negatif, lebih bagi anak-anak dan masa

depannya. Rokok mengandung 4000 zat kimia dengan 200 jenis di

antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana

bahan racun ini didapatkan pada asap utama yaitu asap rokok yang

terhisap langsung masuk keparu-paru perokok maupun asap samping yaitu

asap rokok yang dihasilkan oleh ujung rokok yang terbakar, misalnya

karbon monoksida, benzopiren, dan amoniak (KPAI, 2013).

Nikotin yang terkandung didalam rokok dapat menimbulkan

perasaan tergantung atau disebut dengan nicotine dependence. Efek toleran

yang disebabkan oleh nikotin sesungguhnya relatif ringan, tetapi sifat

adiktifnya dapat menyebabkan tubuh bergantung dengan zat tersebut

(Komasari & Avin, 2000). Toleransi terhadap nikotin mulai berkembang

pada saat dosis pertama, oleh karena itu pemakai zat nikotin terus

menambah dosis untuk mempertahankan efek dan mencegah hilangnya

gejala (Sudiono, 2007).

Nicotine dependence atau ketergantungan nikotin adalah keadaan

dimana individu tidak dapat berhenti menggunakan zat nikotin. Nikotin

adalah zat adiktif yang menyebabkan perubahan mood yang bersifat

sementara. Individu yang menggunakan nikotin akan merasa senang

sehingga membuat individu ingin menggunakannya terus menerus. Pada

saat yang sama, apabila menghentikan penggunaan tembakau akan

menyebabkan gejala penarikan, termasuk mudah marah, kecemasan, lesu,

gangguan konsentrasi, sakit kepala dll (Mayoclinic, 2013).


3

Menurut penelitian Goodwin et al (2011) ketergantungan nikotin

adalah bukti yang menunjukan hambatan utama seseorang untuk bisa berhenti

merokok. Faktor prediktor merokok seperti merokok pada usia dini, orang tua

yang merokok, rekan atau teman perokok, dan pendidikan yang rendah

menyebabkan individu semakin tidak bisa berhenti dari konsumsi zat nikotin.

Penelitian mengenai ketergantungan nikotin atau nikotin dependen

dilakukan setiap tahun. Setiap tahun terdapat sekitar 3 juta kematian yang

disebabkan dari ketergantungan nikotin. Sekitar 20% orang Amerika

memenuhi kriteria dari gejala ketergantungan nikotin. Di antara perokok,

sekitar 50%-80% diperkirakan memenuhi gejala ketergantungan nikotin

(Ashton, 2010).

Beberapa penelitian mengenai resiko yang mungkin dialami perokok

menunjukan bahwa perokok mempunyai kemungkinan sebelas kali mengidap

berbagai penyakit yang menyebabkan kematian dibanding bukan perokok.

Resiko tersebut sesungguhnya tidak hanya mengenai perokok aktif saja tetapi

juga orang-orang disekitar perokok, yaitu orang yang tidak merokok tetapi

harus menghirup asap rokok atau orang yang berada disekitar perokok atau

untuk selanjutnya dikatakan perokok pasif (Sari, 2003)

Dalam Islam rokok dinyatakan haram. Beberapa dalil yang bisa

dijadikan landasan keharaman rokok secara mutlak, sabda Rasulullah Tidak

boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh menyebabkan bahaya bagi orang

lain (HR. Ibnu Majah, Hadist Shahih). Berdasarkan firman Allah Dan

menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka
4

segala yang buruk (QS. Al Araf ayat 157) . Rokok akan menyebabkan

seseorang terjerumus dalam kebinasaan dan kematian. Selain membahayakan

perokok aktif, maka rokok akan membahayakan orang lain atau perokok pasif

(Jabbar, 2008).

Bahaya merokok bagi kesehatan sudah sangat jelas dan diakui secara

luas. Penelitian yang dilakukan para ahli memberikan bukti nyata adanya

bahaya merokok bagi kesehatan si perokok dan bahkan pada orang

disekitarnya (Aydid, 2000). Selain merugikan bagi si perokok dan orang lain

rokok dapat dikatakan juga merugikan dari segi agama.

Sudah banyak media dan artikel ilmiah yang memberikan informasi

mengenai bahaya rokok bagi perokok dan lingkungan sekitarnya, namun

masih banyak masyarakat menghiraukan peringatan ini. Perilaku merokok

saat ini dilakukan dari berbagai kalangan dan dari berbagai latar pendidikan

yang berbeda. Perilaku merokok bisa terjadi dan bisa ditemukan di berbagai

tempat, seperti stasiun kereta api, terminal, kantor, pasar, perumahan dll.

Bahkan, perilaku merokok sudah banyak di lingkungan akademis, seperti

kampus atau universitas. Padahal mereka yang berada di lingkungan akademis

selayaknya lebih mengerti mengenai informasi bahaya merokok

(Anggarawati, 2013)

Lingkungan universitas atau kampus yang termasuk tempat proses

kegiatan belajar mengajar seharusnya bersih dari asap rokok. Menurut

peraturan gubernur provinsi daerah khusus ibukota Jakarta nomor 75 tahun

2005 tentang kawasan larangan merokok disebutkan Tempat umum, sarana


5

kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses

belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum

dinyatakan sebagai kawasan tanpa rokok" (BPLHD, 2009). Tetapi pada

kenyataannya dari hasil pengamatan di beberapa universitas negeri masih

banyak yang belum terbebas dari asap rokok. Universitas negeri menjadi

sorotan utama karena menjadi idaman setiap siswa SMA untuk melanjutkan

studinya (Anggarawati, 2013)

Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta adalah

salah satu universitas negri di Jakarta yang terdiri dari beberapa fakultas.

Fakultas ini mempelajari bidang yang berbeda. Beberapa diantaranya Fakultas

Dirasat Islamiyah (FDI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Fakultas

Psikologi, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Dari

beberapa fakultas tersebut masih belum terbebas dari asap rokok. Berdasarkan

pengamatan subjektif peneliti masih ada mahasiswa yang merokok di

lingkungan kampus seperti area parkir, taman kampus, kantin dll.

Berdasarkan hasil penelitian Powe (2007) mengenai sikap dan

keyakinan dan prediktor perilaku merokok pada mahasiswa diperguruan tinggi

atau universitas dilaporkan lebih dari 50% pernah mencoba rokok. Mahasiswa

ini mulai mencoba rokok saat usia 15 tahun. Kemungkinan bahwa seorang

mahasiswa akan merokok adalah 15 kali lebih besar jika teman-teman mereka

merokok.

Berdasarkan keputusan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

mengenai kode etik mahasiswa tahun 2012, terdapat peraturan bahwa


6

mahasiswa dilarang merokok dilingkungan kampus. Pasal 10 poin 15

menyebutkan Setiap mahasiswa/i UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak

dibenarkan melakukan perbuatan sebagaimana dibawah ini baik dilingkungan

maupun diluar lingkungan kampus yaitu merokok. Bentuk sanksi dalam pasal

26 Pelanggaran atas pasal 10 poin 15 dikenakan sanksi pasal 6 huruf d

membayar denda sebesar Rp. 50.000,- setiap terbukti merokok (Wahab, dkk,

2012). Peraturan ini sangat jelas ada sebagai kode etik mahasiswa, tetapi pada

kenyataan nya kode etik tersebut tidak benar-benar dilaksanakan sesuai

dengan apa yang telah ditetapkan. Mahasiswa juga banyak yang tidak

mengatahui tentang adanya kode etik tersebut.

Berdasarkan fenomena tersebut peneliti ingin melihat gambaran

mengenai tingkat pengetahuan, perilaku merokok dan nikotin dependen pada

mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari latar belakang pendidikan

yang berbeda yakni dari mahasiswa yang mempelajari ilmu kesehatan,

mahasiswa yang mempelajari ilmu kemasyarakatan, dan mahasiswa yang

memperdalam ilmu agama islam.

Hasil studi pendahuluan pertama, peneliti mencari informasi mengenai

fakultas-fakultas yang mempelajari tentang kesehatan, fakultas yang

mempelajari ilmu sosial dan fakultas yang mendalami ilmu keislaman. Peneliti

menggunakan mahasiswa dari FKIK dikarenakan di UIN hanya satu fakultas

yang mempelajari ilmu kesehatan, FISIP dikarenakan difakultas ini

memepelajari ilmu-ilmu sosial dan kemasyarakatan dan kemudian FDI yang

mempelajari ilmu agama islam secara mendalam.


7

Hasil studi pendahuluan kedua terhadap 20 orang mahasiswa yang

terdiri dari 10 perempuan dan 10 laki-laki dari FKIK,FDI dan FISIP di UIN 13

orang diantaranya adalah perokok. Mahasiswa dan mahasiswi tersebut

mengatakan bahwa mereka sering merokok disekitar kampus. Mereka

merokok dikampus karena melihat teman-teman nya yang juga perokok.

Mereka mengatakan bahwa dikampus sudah ada papan peringatan kawasan

bebas asap rokok, tetapi mahasiswa/i tetap menghiraukan. Mereka juga tidak

mengetahui tentang peraturan tetap atau kode etik dilarang merokok di

lingkungan kampus. Mahasiswa dan mahasiswi ini juga mengatakan bahwa

mereka mengetahui bahaya merokok, baik dari segi kesehatan maupun

kerugian dari segi agama tetapi mereka tetap merokok karena merasa sulit

untuk berhenti merokok.

Menurut Bagus dan Januartha (2012) dalam penelitiannya mengenai

analisis tingkat pengetahuan remaja tentang perilaku merokok menunjukkan

bahwa variabel independen yang signifikan mempengaruhi tingkat

pengetahuan remaja tentang perilaku merokok yaitu umur, tingkat pendidikan

orang tua, orang tua adalah perokok atau tidak, komunikasi dengan ayah,

aktivitas dengan teman dan intensitas untuk mengamati iklan rokok.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan atau perilaku seseorang. Perilaku yang didasari

oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak disadari

oleh pengetahuan. Menurut Green (1991) perilaku berasal dari 3 faktor, salah

satunya faktor predisposisi. Faktor predisposisi adalah faktor yang ada dalam
8

diri individu, yang termasuk di dalamnya adalah pengetahuan, sikap,

keyakinan, kebiasaan, dan nilai-nilai. Pada perilaku merokok, pengaruhnya

pada individu yang merokok tentang merokok, kepercayaan, dan pengetahuan

tentang efek kesehatan akibat merokok.

Peneliti sebagai salah satu mahasiswi FKIK melihat masih ada

mahasiswa yang merokok disekitar kampus FKIK seperti di belakang kantin,

tempat parkir, dan taman kampus. Padahal sangat jelas dikampus FKIK

terdapat peringatan sebagai kawasan bebas dari asap rokok. Mahasiswa FKIK

merupakan kelompok belajar yang nantinya akan menjadi tenaga kesehatan

dimasyarakat dan dapat dijadikan role model dalam masyarakat. Mahasiswa

FKIK Banyak mendapat informasi tentang kesehatan yang diperoleh, seperti

pada program studi ilmu keperawatan yang mempelajari keperawatan medikal

bedah yang didalamnya tedapat penyakit-penyakit yang disebabkan oleh

rokok. Program studi pendidikan dokter yang mempelajari berbagai macam

penyakit, salah satunya ilmu penyakit dalam (UIN, 2011). Melihat hal tersebut

diharapkan perilaku yang dimiliki mahasiswa FKIK akan lebih baik.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta dirancang

untuk menghasilkan tenaga profesional dalam pengkajian, penelitian dan

penerapan ilmu-ilmu kemasyarakatan. Mahasiswa FISIP diharapkan bisa

mengerti dan memahami berbagai masalah dan problema yang terjadi dalam

kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang terjadi di masyarakat (UIN, 2011).

Berbeda dengan FKIK, mahasiswa FISIP tidak mempelajari mengenai

kesehatan manusia. Saat ini bahaya merokok tidak hanya bisa didapat dengan
9

mempelajari ilmu kesehatan, tetapi dari berbagai media. Papan peringatan

dilarang merokok sudah terdapat didalam FISIP, tetapi mahasiswa masih

menghiraukan peringatan tersebut.

Salah satu fakultas yang mendalami agama islam di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta adalah Fakultas Dirasat Islamiyah. Fakultas ini bertujuan

menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan memahami dan menerapkan

moralitas akademik, sikap ilmiah dan strategi dalam pemahaman ilmu agama

dan bahasa arab.

Mahasiswa FDI diharapkan memiliki kemampuan berbahasa arab dan

memimiliki hafalan al-Quran yang baik. Pendidikan dan pengajaran yang

didapat secara profesional untuk melahirkan lulusan yang menguasai agama

Islam secara mendalam, berakhlakul karimah, berwawasan keindonesiaan,

kemanusiaan dan kemodernan. Mahasiswa FDI diharapkan memiliki

kemampuan mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dalam memberikan jawaban

atas segala permasalahan yang berkembang di masyarakat secara umum, salah

satunya seperti hukum merokok (UIN, 2011).

Anak-anak dan remaja pada masa sekarang banyak yang telah tercemar

oleh racun adiktif dari rokok. Penerus bangsa di masa mendatang ini tidak

mempunyai kualitas baik fisik maupun psikis, bahkan sebagian mati muda

karena rokok. Anak-anak dan remaja saat ini sangat diperlukan untuk

memimpin negeri ini ke depan dalam menghadapi berbagai gangguan,

ancaman, tantangan dan hambatan (KPAI, 2013).


10

B. Rumusan Masalah

Perilaku merokok sudah semakin meningkat pada anak-anak dan

remaja. Bahkan, perilaku merokok sudah banyak di lingkungan akademis,

seperti kampus atau universitas. Padahal mereka yang berada di

lingkungan akademis selayaknya lebih mengerti mengenai informasi

bahaya merokok. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta termasuk kampus yang

belum terbebas dari asap rokok. Mahasiswa dari Fakultas Dirasat

Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dan Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan masih terlihat bebas merokok dikampus. Rokok sangat

jelas merugikan bagi kesehatan, kandungan nikotin didalam rokok dapat

menyebabkan ketergantungan. Selain merugikan kesehatan, rokok juga

merugikan dari segi agama dan bagi orang lain. Dengan demikian peneliti

ingin mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, perilaku merokok dan

nikotin dependen mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu

Sosial dan Politik, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengidentifikasi

masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran karakteristik responden meliputi program

studi, jenis kelamin, usia, status merokok, dan tipe perokok pada

mahasiswa FKIK,FISIP,dan FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?


11

2. Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan tentang merokok

mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan

Politik, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta ?

3. Bagaimana gambaran perilaku merokok mahasiswa Fakultas

Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ?

4. Bagaimana gambaran status merokok dengan tingkat pengetahuan

mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan

Politik, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta ?

5. Bagaimana gambaran nikotin dependen mahasiswa Fakultas

Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahuinya gambaran tingkat pengetahuan, perilaku

merokok, dan nikotin dependen pada mahasiswa UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.
12

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran karakteristik responden meliputi

program studi, jenis kelamin, usia, status merokok, dan tipe

perokok pada mahasiswa FKIK,FISIP,dan FDI UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta?

b. Diketahuinya gambaran tingkat pengetahuan tentang merokok

mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial

dan Politik, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.

c. Diketahuinya gambaran perilaku merokok mahasiswa Fakultas

Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

d. Diketahuinya gambaran status merokok dengan tingkat

pengetahuan mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas

Ilmu Sosial dan Politik, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

e. Diketahuinya gambaran nikotin dependen mahasiswa Fakultas

Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.
13

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada

pemerintah terkait kondisi kesehatan masyarakat indonesia,

khususnya kesehatan remaja. Fenomena tren merokok aktif pada

usia dini seharusnya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi

pemerintah. Pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi

konkret untuk menurunkan jumlah perokok aktif di Indonesia.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Institusi pendidikan dapat memperoleh masukan sebagai bahan

pertimbangan dalam penegasan kebijakan dan peraturan larangan

merokok di wilayah institusi pendidikan.

3. Bagi setiap Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sebagai bahan masukan dalam rangka membuat program

pencegahan agar mahasiswa tidak menjadi perokok dan

menanggulangi kebiasaan merokok, sehingga program yang dibuat

tepat dan berguna bagi peningkatan kualitas kesehatan mahasiswa.

4. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang

berguna untuk dijadikan acuan penelitian selanjutnya.

5. Bagi Penelitian Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk acuan penelitan

selanjutnya, pada penelitian selanjutnya diharapkan fokus untuk


14

mengendalikan variabel pengganggu sehingga hasilnya lebih

sempurna.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif

dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada

bulan Maret April 2015. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa

Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses

sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu (Sunaryo,

2002). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang

didasari oleh pengetahuan akan lebih bertahan lama daripada perilaku

yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan merupakan domain

yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku (Swansburg , 2001).

1. Tingkatan pengetahuan

Tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif, mencakup

6 tingkatan, yaitu :

a. Tahu, merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Tahu

artinya dapat mengingat atau mengingat kembali suatu materi

yang telah dipelajari sebelumnya. Ukuran bahwa seseorang ia

tahu adalah ia dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan

dan menyatakan.

b. Memahami, artinya kemampuan untuk menjelaskan dan

menginterpretasikan dengan benar tentang objek yang diketahui.

Sesorang yang telah paham tentang sesuatu harus dapat

menjelaskan, memberikan contoh, dan menyimpulkan.

15
16

c. Penerapan, yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata atau dapat

menggunakan hukum-hukum, rumus, metode dalam situasi nyata.

d. Analisis, artinya adalah kemampuan untuk menguraikan objek

kedalam bagian-bagian lebih kecil, tetapi masih didalam suatu

struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain. Ukuran

kemampuan adalah ia dapat menggambarkan, membuat bagan,

membedakan, memisahkan, membuat bagan proses adopsi

perilaku, dan dapat membedakan pengertian psikologi dengan

fisiologi.

e. Sintesis, yaitu suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-

bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-

formulasi yang ada. Ukuran kemampuan adalah ia dapat

menyusun, meringkaskan, merencanakan, dan menyesuaikansuatu

teori atau rumusan yang telah ada.

f. Evaluasi, yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap

suatu objek. Evaluasi dapat menggunakan kriteria yang telah ada

atau disusun sendiri.

B. Perilaku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Perilaku adalah

tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan dan lingkungan.

Sedangkan menurut ensiklopedia Amerika, perilaku diartikan sebagai


17

suatu reaksi dan reaksi mekanisme terhadap lingkungannya

(Notoatmodjo, 2003).

Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan

atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada

hakikatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri

(Notoatmodjo, 2003).

Perilaku manusia tidak berdiri sendiri. Perilaku manusia mencakup

dua komponen, yaitu sikap atau mental dan tingkah laku. Sikap atau

mental merupakan sesuatu yang melekat pada diri manusia. Mental

diartikan sebagai reaksi manusia terhadap sesuatu keadaan atau peristiwa,

sedangkan tingkah laku merupakan perbuatan tertentu dari manusia

sebagai reaksi terhadap keadaan atau situasi yang dihadapi. Perbuatan

tertentu ini dapat bersifat positif dapat pula negatif. Perlu pula ditekankan

bahwa individu dalam merespon atau menanggapi suatu peristiwa atau

keadaan, selain dipengaruhi oleh situasi yang dihadapi, juga dipengaruhi

lingkungan ataupun kondisi pada saat itu (Herijulianti, dkk, 2001).

1. Bentuk Perilaku

Soekidjo Notoatmodjo (2003) dengan memerhatikan bentuk

respons terhadap stimulus, membedakan perilaku manusia menjadi

dua bentuk, yaitu :

a. Perilaku tertutup (covert behavior), hal ini ditunjukan dalam

bentuk perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran dan reaksi

lainnya yang tidak tampak


18

b. Perilaku terbuka (overt behavior) yaitu dalam bentuk tindakan

nyata misalnya meminum obat ketika dirinya merasa sakit sebagai

perlaku kesehatan. Begitu juga dengan perilaku merokok,

seseorang mengenal rokok dari lingkungannya, awalnya

mengamati orang-orang yang sedang merokok, setelah mencoba

merokok untuk pertama kalinya individu akan merasa ketagihan

untuk merokok lagi dengan berbagai macam alasan, yaitu untuk

menurunkan kecemasan, agar terlihat lebih jantan dan karena

merokok sudah menjadi kebiasaan.

2. Proses Adopsi Perilaku

Proses adopsi perilaku menurut Notoatmodjo (2003) sebelum

seseorang mangadopsi perilaku, didalam diri orang tersebut terjadi

suatu proses yang berurutan (akronim AIETA), yaitu:

a. Awareness (Kesadaran), individu menyadari adanya stimulus.

b. Interest (tertarik), individu mulai tertarik pada stimulus.

c. Evaluation (menimbang-nimbang), Individu menimbang-

nimbang tentang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi

dirinya. Pada proses ketiga ini subjek sudah memiliki sikap

yang lebih baik lagi.

d. Trial (mencoba), individu sudah mulai mencoba perilaku baru.

e. Adoption, individu telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, sikap, dan kesadarannya terhadap stimulus


19

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Perilaku merupakan resultan dari berbagai macam aspek

internal dan eksternal, fisik dan psikologis. Perilaku tidak berdiri

sendiri, akan tetapi selalu berkaitan dengan faktor-faktor lain. Green

1991 dalam Maulana (2007) menjelaskan bahwa perilaku

dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:

a. Faktor predisposing

Adalah faktor yang ada dalam diri individu, yang termasuk

didalamnya adalah sikap, nilai, pengetahuan, budaya,

kepercayaan, keyakinan, kebiasaan dan faktor sosio-demografi.

b. Faktor Reinforcing

Faktor ini merupakan konsekuensi positif dari perilaku,

seperti penerimaan kelompok, atau konsekuensi negatif seperti

sanksi sosial.

c. Faktor Enabling

Faktor ini adalah kondisi lingkungan yang secara umum

memungkinkan suatu perilaku dilakukan atau menghalangi

perilaku tersebut.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hampir semua

perilaku berasal dari tiga faktor tersebut. Pada perilaku merokok,

pengaruhnya pada individu yang merokok atau berhenti merokok

dalam predisposing factor termasuk sikap tentang merokok,


20

kepercayaan, dan pengetahuan tentang efek kesehatan akibat

merokok. Reinforcing factor secara sosial termasuk dukungan

sosial, pengaruh kelompok dan iklan rokok. Sedangkan pada

enabling factor termasuk ketersediaan dan harga rokok. Hal inilah

yang menimbulkan adanya perilaku merokok pada individu.

C. Rokok

Menurut kamus besar bahasa indonesia rokok adalah gulungan

tembakau kira-kira sebesar kelingking yang dibungkus daun nipah atau

kertas. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara

agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Rokok

biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas

yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong.

1. Kandungan Rokok

Sudiono (2007) menyebutkan kandungan didalam rokok

tidak hanya tembakau, tetapi terdapat bahan kimia yang berbahaya

bagi tubuh. Kandungan utama dalam rokok yaitu nikotin, tar, dan

karbon monoksida. Nikotin merupakan bahan yang dapat

menyebabkan adiksi atau ketergantungan. Nikotin merupakan

racun dan bila digunakan dalam dosis besar dapat mematikan

karena efek paralisis yang ditimbulkannya pada otot pernapasan.

Nikotin meningkatkan denyut jantung dan menyebabkan

vasokontriksi pembuluh darah sehingga mengganggu sirukulasi


21

darah. Denyut jantung istirahat pada perokok muda meningkat 2-3

detak/menit.

Kandungan yang terdapat dalam rokok selain nikotin

adalah tar, yang terdiri dari lebih dari 4.000 bahan kimia yang

mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.

Tembakau yang dibakar akan mengeluarkan tar dan zat beracun

lainnya. Zat-zat tersebut akan menempel pada sepanjang saluran

nafas perokok dan pada saat yang sama akan mengurangi

kekenyalan alveolus (kantung udara dalam paru-paru). Hal ini akan

menyebabkan hanya sejumlah kecil udara yang dapat dihirup dan

sedikit oksigen yang terserap ke dalam peredaran darah.

Gas karbon monoksida yang umum dikenal sebagai asap

yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor. Karbon monoksida

dalam tubuh akan mengurangi kemampuan darah untuk menyerap

oksigen dari paru-paru. Hal ini terjadi karena sel darah merah

sebagai pengangkut oksigen lebih mudah berikatan dengan karbon

monoksida dibanding dengan oksigen. Lebih banyak menghisap

rokok, lebih banyak karbon monoksida terserap dalam peredaran

darah. Karbon monoksida dari asap yang dihirup oleh perokok itu

sendiri hal tersebut mengkontribusi penumpukan di dinding

pembuluh darah dan pencetus proses atherosclerosis.

Selain tiga kandungan utama rokok tersebut, rokok juga

mengandung bahan kimia lain. Rokok juga mengandung Sianida,


22

senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano. Benzene, juga

dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah

terbakar dan tidak berwarna. Cadmium, sebuah logam yang sangat

beracun dan radioaktif. Metanol (alkohol kayu), alkohol yang

paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.

Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga

merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana. Amonia,

dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam

kombinasi dengan unsur-unsur tertentu. Formaldehida, cairan yang

sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.

Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk

membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat

plastik dan pestisida. Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun

tikus. Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan

dalam asap buangan mobil dan motor (Wangolds, 2013).

2. Dampak Perilaku Merokok

a. Dampak Positif

Manfaat rokok bagi perokok adalah dapat meningkatkan

kreativitas bagi pecandunya. Rokok juga dapat memberikan

ketenangan, mengusir perasaan malas, menghilangkan stres dan

sakit kepala. Semua manfaat tersebut disebabkan oleh zat

nikotin yang terkandung didalam rokok sebagai psikotropika

stimulan. Tetapi manfaat tersebut hanya efek jangka pendek dan


23

bisa mengakibatkan dampak buruk dalam jangka panjang

(Partodiharjo, 2010).

b. Dampak Negatif

Sudah banyak diteliti dan telah terbukti bahwa kandungan

dalam rokok membahayakan kesehatan seseorang. Baik asap

yang dihisap langsung saat merokok maupun yang keluar dari

ujung rokok, sama-sama mengandung bahan kimia beracun,

seperti : nikotin, tar, nitrous oxide, formic acid, carbon

monoksida, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut apabil

berinteraksi dan berakumulasi secara kronis dalam waktu yang

lama dapat menimbulkan penyakit kanker paru, bibir,

kerongkongan, usus, penyakit jantung dan penyakit paru kronis.

Cahyono (2008) mengatakan tentang bahaya rokok yang

merupakan penyebab kematian dini yang sebenarnya dapat

dicegah. Penyebab kematian utama yang disebabkan oleh rokok

adalah penyakit jantung (1,69 juta kematian), penyakit paru

obstruktif kronis (0,97 juta kematian), dan kanker paru (0,85

juta kematian). Sekitar 90% kanker paru berhubungan dengan

kebiasaan merokok. Jenis kanker lain yang bisa terkait dengan

rokok adalah kanker kandung kemih, ginjal, kanker leher rahim,

kanker esofagus, dan kanker pankreas.

Nikotin adalah salah satu zat beracun yang bersifat

adiktif yang berperan besar dalam menimbulkan gangguan


24

tubuh. Nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan

darah. Nikotin dapat mengaktivasi trombosit dan meningkatkan

asam lemak, mencetuskan aterosklerosis, penyempitan

pembuluh koroner. Penyempitan arteri koroner dapat

menimbulkan serangan jantung. Sumbatan pembuluh darah juga

dapat terjadi ditempat lain. Apabila sumbatan terjadi di

pembuluh darah ginjal, menyebabkan terjadinya hipertensi dan

gagal ginjal. Apabila penyumbatan terjadi di pembuluh darah

otak bisa menyebabkan terjadinya stroke.

Telah ditetapkan bahwa asap rokok mengandung lebih

dari 40 macam zat karsinogen. Kemungkinan timbulnya kanker

paru pada perokok 22 kali lebih besar dari pada non perokok.

Kanker hidung, lidah, mulut, kelenjar ludah 2 kali lebih besar

dari non perokok. Kanker pharynx 6-7 kali lebih besar,

kerongkongan 12 kali lebih besar, eshophagus 8-10 kali lebih

besar, ginjal 5 kali lebih besar dari non perokok (Depkes, 2009).

Rokok juga berisiko menimbulkan impotensi. Rokok

juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi pada umur 30-40

tahun. Hal ini disebabkan karena bahan kimia dalam rokok

menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah sekitar genital.

Adanya disfungsi ereksi merupakan tanda dini gangguan

pembuluh darah ditempat lain.


25

Nikotin dalam rokok juga dapat menurunkan kadar

estrogen, sehingga menimbulkan menopause secra dini dan

osteoporosis lebih berat. Zat kimia yang ada dalam rokok dapat

menstimulasi trombosis di otak besar yang dapat berakibat

terjadinya serangan stroke atau kelumpuhan. Selain itu rokok

juga bisa menyebabkan keguguran spontan, bayi dengan berat

badan lahir rendah, dan meningkatkan risiko kematian bayi baru

lahir. Disamping keadaan diatas, kebiasaan merokok

memudahkan munculnya gangguan gusi dan gigi, kemandulan,

asma bronkial, dan gangguan pada mata terutama katarak.

D. Jenis Rokok

Menurut Yulianto (t.t) rokok dibedakan menjadi beberapa jenis.

Pembedaan ini didasarkan atas bahan pembungkus rokok, bahan baku

atau isi rokok, proses pembuatan rokok, dan penggunaan filter pada

rokok. Jenis rokok juga dilihat dari kadar nikotin dan tar nya

Rokok berdasarkan bahan pembungkus.

1. Klobot: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kulit jagung.

2. Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.

3. Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.

4. Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun

tembakau.
26

Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.

1. Rokok putih : rokok yang bahan baku atau isinya hanya

daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa

dan aroma tertentu.

2. Rokok kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun

tembakau dancengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek

rasa dan aroma tertentu.

3. Rokok klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun

tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk

mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

Rokok berdasarkan proses pembuatannya.

1. Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya

dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan

dan atau alat bantu sederhana.

2. Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya

menggunakan mesin. Sederhananya, material rokok dimasukkan

ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin

pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat

rokok telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu

sampai delapan ribu batang rokok per menit. Mesin pembuat

rokok, biasanya, dihubungkan dengan mesin pembungkus

rokok sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa


27

rokok batangan namun telah dalam bentuk pak. Ada pula mesin

pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran berupa

rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pak. Sayangnya, belum

ditemukan mesin yang mampu menghasilkan SKT karena

terdapat perbedaan diameter pangkal dengan diameter ujung

SKT. Pada SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar ujung

rokok sama besar.

Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2

bagian :

1. Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKM FF): rokok yang dalam

proses pembuatannya ditambahkan aroma rasa yang khas.

Contoh: Gudang Garam International, Djarum Super dan lain-

lain.

2. Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang

menggunakan kandungan tar dan nikotin yang rendah. Rokok

jenis ini jarang menggunakan aroma yang khas. Contoh: A Mild,

Clas Mild, Star Mild, U Mild, L.A. Lights, Surya Slims dan lain-

lain.

Rokok berdasarkan penggunaan filter.

1. Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian pangkalnya

terdapat gabus.
28

2. Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada bagian pangkalnya

tidak terdapat gabus.

Dilihat dari komposisinya:

1. Bidis: Tembakau yang digulung dengan daun temburni kering

dan diikat dengan benang. Tar dan karbon monoksidanya lebih

tinggi daripada rokok buatan pabrik. Biasanya ditemukan di

Asia Tenggara dan India.

2. Cigar: Dari fermentasi tembakau yang diasapi, digulung dengan

daun tembakau. Adaberbagai jenis yang berbeda di tiap negara.

Yang terkenal dari Havana, Kuba.

3. Kretek: Campuran tembakau dengan cengkeh atau aroma

cengkeh berefek mati rasa dan sakit saluran pernapasan. Jenis

ini paling berkembang dan banyak di Indonesia.

4. Tembakau langsung ke mulut atau tembakau kunyah juga biasa

digunakan di AsiaTenggara dan India. Bahkan 56 persen

perempuan India menggunakan jenis kunyah. Adalagi jenis yang

diletakkan antara pipi dan gusi, dan tembakau kering yang

diisap dengan hidung atau mulut.

5. Shisha atau hubbly bubbly: Jenis tembakau dari buah-buahan

atau rasa buah-buahan yang disedot dengan pipa dari tabung.

Biasanya digunakan di Afrika Utara, Timur Tengah, dan


29

beberapa tempat di Asia. Di Indonesia, shisha sedang menjamur

seperti dikafe-kafe.

1. Perilaku Merokok

Perilaku manusia merupakan reaksi individu yang diwujudkan

dengan tindakan atau aktivitas terhadap suatu rangsangan tertentu.

Dalam hal ini rangsangan tersebut adalah rokok. Kebiasaan merokok

bukanlah hal baru. Bahkan sejak tahun 600 sebelum Masehi tanaman

tembakau sudah mulai ditanam. Pada tahun 1492, tanaman

tembakau menjadi populer setelah Columbus melihat orang-orang

indian menghisap tembakau dalam upacara tertentu sebagai lambang

keramah-tamahan. Sejak saat itu kebiasaan merokok semakin

menjadi populer di Eropa. Tidak ada yang memungkiri adanya

dampak negatif dari perilaku merokok tetapi perilaku merokok bagi

kehidupan manusia merupakan kegiatan yang fenomenal. Artinya,

meskipun sudah diketahui akibat negatif dari merokok tetapi jumlah

perokok bukan semakin menurun tetapi semakin meningkat dan usia

merokok semakin bertambah muda (Cahyono, 2008).

Menurut Leventhal & Clearly ( dalam Komasari & Alvin,

2000) terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi

perokok, yaitu :

a. Tahap Preparatory.

Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan

mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau


30

dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbukan minat untuk

merokok.

b. Tahap Initiation.

Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang

akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku

merokok.

c. Tahap becoming a smoker.

Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4

batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi

perokok.

d. Tahap maintenance of smoking.

Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari

cara pengarturan diri (selfregulating). Merokok

dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang

menyenangkan.

Seseorang akan menderita penyakit akibat rokok atau tidak

tergantung pada lama dan jumlah rokok yang dihisap. Semakin lama

dan semakin banyak yang dikonsumsi semakin tinggi resikonya.

2. Tipe Perilaku Merokok

Tomkins (1991) mengklasifikasikan tipe perilaku merokok menjadi

empat tipe (Mutadin,2002), yaitu :

a. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif


31

Perokok tipe ini merokok untuk mendapatkan relaksasi dan

kesenangan. Hal ini ditunjukan dengan meningkatnya kenikmatan

yang didapat dari merokok; rangsangan untuk meningkatkan

kepuasan dari merokok; dan dilatarbelakangi karena kesenangan

individu dalam memegang rokok.

b. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif

Perokok tipe ini merokok untuk menurunkan perasaan negatif

yang perokok alami. Misalkan untuk menurunkan perasaan cemas,

marah, atau gelisah. Motivasi individu untuk merokok adalah

sebagai upaya untuk menghindarkan diri dari perasaan yang tidak

menyenangkan bagi dirinya.

c. Perilaku merokok karena kecanduan psikologis

Perokok tipe ini sudah mengalami kecanduan psikologis dari

rokok. Perokok akan meningkatkan jumlah batang rokok yang

dihisap setiap harinya. Hal ini dilakukan hingga individu

mendapatkan efek ketenangan seperti yang diharapkan.

d. Perilaku merokok karena sudah menjadi kebiasaan.

Perokok tipe ini menggunakan rokok sama sekali bukan untuk

mengendalikan perasaannya. Kegiatan merokok sudah menjadi

kebiasaan atau rutinitas individu. Perilaku merokok sudah menjadi

perilaku yang otomatis, tanpa dipikirkan, dan tanpa disadari oleh

individu.
32

Menurut Smet 1994 dalam Nasution (2007) tipe-tipe perokok

berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap yaitu :

a. Perokok Ringan bila rokok yang dihisap kurang dari 10 batang

perhari.

b. Perokok sedang bila 11-21 batang sehari

c. Perokok berat bila menghisap lebih dari 21 batang perhari.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok

Perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari. Proses belajar

dimulai dari sejak masa anak-anak, sedangkan proses menjadi perokok

pada masa remaja. Proses belajar atau sosialisasi tampaknya dapat

dilakukan melalui tranmisi dari generasi sebelumnya yaitu tranmisi

vertikal yaitu dari lingkungan keluarga, lebih spesifik sikap permisif

orang tua terhadap perilaku merokok remaja. Sosialisasi yang lain

melalui transmisi horisontal melalui lingkungan teman sebaya. Namun

demikian, yang paling besar memberikan kontribusi adalah kepuasan-

kepuasan yang diperoleh setelah merokok atau rokok memberikan

kontribusi yang positif. Pertimbangan-pertimbangan emosional lebih

dominan dibandingkan dengan pertimbangan-pertimbangan rasional

bagi perokok (komasari & Alvin, 2000).

Berdasarkan hasil penelitian Fuadah (2011) menyebutkan

bahwa ada 4 faktor yang memiliki peran yang besar dalam perilaku

merokok dan berada sangat dekat dengan para perokok yaitu :

a. Pengaruh orang tua


33

Perilaku orang tua dalam merokok, akan berpengaruh pada

anak. Sebab, anak akan memiliki kecenderungan untuk mengikuti

perilaku yang dicontohkan oleh orang tua.

b. Pengaruh teman

Hedman et al (2007) menyebutkan bahwa salah satu faktor

resiko pencetus remaja untuk merokok adalah memiliki teman

yang juga sebagai perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87%

di antaranya memiliki satu atau lebih sahabat yang perokok, begitu

pula dengan remaja bukan perokok.

c. Faktor kepribadian

Salah satu sifat kepribadian yang mempengaruhi remaja

mengonsumsi rokok dan obat-obat, yaitu sifat konformitas sosial.

Individu yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas

sosial lebih mudah menjadi pengguna rokok dan obat-obatan

dibandingkan dengan individu yang memiliki skor rendah.

d. Pengaruh iklan

Remaja tertarik untuk mengikuti perilaku seperti pada iklan

rokok, baik dari media cetak maupun media elektronik.

Hasil penelitian Mulyadi (2007) juga menyebutkan

mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok.

Faktor-faktor ini dikategorikan menjadi 6 (enam) yaitu : Keinginan

mencoba rasa rokok, sebagai fashion (gaya), menyukai rasa rokok,


34

ketidakpedulian terhadap bahaya rokok, merokok memberikan

kepuasan, dan lingkungan sosial.

E. Nikotin Dependen

Nikotin adalah zat adiktif yang ditemukan didalam semua produk

tembakau. Selain bersifat adiktif, nikotin juga menjadi racun bagi tubuh.

Nikotin dalam tembakau berkadar 1-4%. Satu batang rokok mengandung

sekitar 1,1 mg nikotin. Selain mengandung nikotin, rokok tembakau juga

mengandung zat organik lain dan bahan tambahan (aditif). Efek toleran

yang disebabkan oleh nikotin sesungguhnya relatif ringan, tetapi sifat

adiktifnya dapat menyebabkan tubuh bergantung dengan zat tersebut

(UnityPoint, 2011)

Menurut Vorvick (2013) ketergantungan nikotin atau nikotin

dependen ditandai dengan pola-pola tertentu. Pola pertama disebut

toleransi. Toleransi adalah ketika individu perlu menggunakan jumlah

yang lebih besar dari obat untuk mendapatkan efek yang sama. Sebagian

besar perokok memulai dengan beberapa rokok setiap hari dan akhirnya

merokok lebih dari satu bungkus perhari.

Pola berikutnya dari ketergantungan nikotin adalah gejala

penarikan. Penarikan adalah seperangkat gejala fisik yang terjadi ketika

seseorang berhenti menggunakan zat. Individu yang mencoba untuk

berhenti merokok akan merasakan hal yang buruk pada tubuhnya.

Beberapa gejala penarikan umum yang terjadi seperti kecemasan,

mengantuk, mudah marah, mual, gelisah, sakit kepala, perasaan depresi,

sulit berkonsentrasi, dan penurunan denyut jantung. Ketika individu


35

mencoba berhenti merokok, gejala penarikan akan muncul dalam satu

sampai dua hari. Terjadi gejala puncaknya saat seminggu pertama dan

kemudian mereda dalam waktu 2 sampai 4 minggu.

Pola yang ketiga adalah adanya perilaku bergantung atau

kecanduan. Individu terus menggunakan tembakau yang terkandung

nikotin meskipun hal tersebut berbahaya bagi diri individu itu sendiri.

Pada penggunaan pertama nikotin, efek didalam tubuh

meningkatkan konsumsi nikotin secara berulang. Nikotin mengikat

reseptor kolinergik dalam sistem saraf pusat. Toleransi tubuh menjadi

berkembang, frekuensi dan dosis semakin meningkat dalam penggunaan

nikotin. Nikotin memicu pelepasan dopamin, suatu neurotransmitter yang

memberikan perasaan yang menyenangkan. Para ahli mengatakan bahwa

ketika nikotin yang terhirup di otak dalam hitungan detik langsung

mempengaruhi seluruh tubuh. Setelah terhirup, denyut jantung akan

meningkat, kadar hormon serta dopamin meningkat. Hal tersebut

meningkatkan suasana hati serta kemampuan untuk berkonsentrasi.

Beberapa saat setelah hisapan rokok terakhir, kadar hormon ini menurun.

Perokok akan merasa cemas, mudah marah dan rasa ingin menggunakan

nikotin lagi (Ashton, 2010)

Terdapat faktor fisik maupun psikologis lain yang mempengaruhi

proses kecanduan atau ketergantungan. Berikut ini situasi atau perilaku

yang berhubungan dengan rasa ingin merokok :


36

1. Pada saat tertentu di siang hari yang menimbulkan rasa yang

lebih besar untuk merokok, seperti dengan secangkir kopi, saat

istirahat kerja, atau setelah tugas-tugas rutin.

2. Setelah makan, kebanyakan perokok memiliki keinginan untuk

merokok segera setelah makan.

3. Alkohol, sebagian besar perokok yang minum alkohol

mengatakan bahwa tembakau dan alkohol harus dinikmati

secara bersama-sama.

4. Pada sejumlah tempat, perokok sering menemukan tempat-

tempat tertentu untuk merokok seperti toilet, bar, atau tempat

parkir (setelah turun dari kendaraan).

5. Merokok dengan beberapa orang, jika individu bertemu dengan

orang lain yang juga merokok maka individu akan merasa ingin

merokok juga.

6. Saat stres, mayoritas perokok biasanya akan memiliki dorongan

untuk merokok ketika menghadapi situasi stres atau emosional.

7. Bau tembakau, bau tembakau pada orang lain dapat memicu

bagi perokok lain.

8. Mengemudi, banyak perokok yang merokok saat berkendara

sendiri.

9. Cuaca dingin, bagi beberapa perokok merokok saat cuaca

dingin bisa membuat tubuh terasa hangat.


37

Ahli ketergantungan nikotin mengatakan bahwa pecandu nikotin

harus mengidentifikasi dan menangani perilaku, pemicu, dan situasi yang

terkait dengan merokok (Nordqvist, 2013).

Langkah pertama untuk mendiagnosis individu ketergantungan

nikotin adalah dengan mengidentifikasi penggunaan tembakau. Diagnosis

ketergantungan nikotin berdasarkan pedoman American Psychiatric

Association individu harus menunjukan setidaknya 3 kriteria DSM-IV-TR

selama periode 12 bulan. Kriteria tersebut yaitu :

1. Toleransi, tanda-tanda toleransi adalah jumlah kebutuhan

nikotin yang meningkat untuk menghasilkan efek yang

diinginkan.

2. Penarikan, muncul gejala atau sindrom penarikan.

3. Nikotin digunakan dalam jumlah yang lebih besar atau periode

yang lebih lama dari yang telah direncanakan.

4. Pengguna memiliki keinginan terus menerus atau gagal dalam

usaha untuk mengurangi tembakau.

5. Banyak waktu yang dihabiskan dalam memperoleh atau

menggunakan zat atau tembakau

6. Kegiatan sosial, pekerjaan, rekreasi berkurang karena

penggunaan tembakau.

7. Penggunaan tembakau yang terus menerus meskipun

mengalami masalah fisik atau psikologis yang berulang seperti

terus merokok meskipun sudah di diagnosa hipertensi, penyakit

jantung koroner, kanker dll (Ashton,2010).


38

F. Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1. Mahasiswa

Mahasiswa mengacu pada buku Pedoman Akademik Program

Strata 1 Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2010-2011

adalah peserta didik yang mengikut program pendidikan sarjana. Dalam

aplikasinya, setiap program studi mempunyai jenjang yang berbeda

dalam menempuh tahap akademik ini (UIN, 2011).

2. FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pada tanggal 30 Desember 2002, Senat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta melakukan pembahasan dalam suatu sidang tentang pentingnya

pembukaan program studi baru dalam bidang kedokteran dan

kesehatan. Forum tersebut merekomendasikan pendirian Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Pendirian FKIK dimaksudkan

untuk menjawab tantangan dalam mewujudkan konsep Indonesia Sehat

2010 yang dicanangkan pemerintah yang membutuhkan lebih banyak

tenaga dokter, apoteker, perawat dan tenaga kesehatan masyarakat. Hal

ini sesuai dengan visi UIN menjadikan UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta sebagai lembaga pendidikan tinggi terkemuka dalam

mengintegrasikan aspek keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan.

Dalam pengembangannya FKIK diarahkan pada penciptaan fakultas

yang unggul dan kompetitif sebagai pentahapan menuju fakultas riset

yang didasarkan pada keunggulan-keunggulan yang kompetitif secara

nasional maupun internasional (UIN, 2011).

3. FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


39

FISIP merupakan fakultas termuda di UIN. Didirikan pada bulan

Juli tahun 2009, fakultas ini membuka tiga program studi : ilmu politik,

hubungan internasional dan sosiologi. Pembentukan FISIP salah

satunya untuk menjawab tuntutan dinamika masyarakat ke depan.

Perubahan sosial yang berjalan cepat memerlukan ilmuwan sosial yang

mampu menganalisis berbagai persoalan sosial-politik dengan baik.

Mahasiswa FISIP diharapkan bisa berperan aktif dalam mencari solusi

atas berbagai persoalan sosial dan politik yang berkembang dalam

masyarakat (UIN,2011).

4. FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

FDI menawarkan satu program studi, yaitu Program Studi Dirasat

Islamiyah, dengan tiga pilihan paket konsentrasi pada semester ketujuh

yaitu konsentrasi ilmu syariah, ilmu ushuluddin dan ilmu bahasa dan

sastera arab. Program studi ini bertujuan menyiapkan lulusan yang

memiliki kemampuan memahami dan menerapkan moralitas akademik,

sikap ilmiah dan strategi dalam pemahaman ilmu agama dan bahasa

arab, kemampuan mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dalam

memberikan jawaban atas segala permasalahan yang berkembang

dimasyarakat secara umum, kemampuan berbahasa arab secara aktif,

dan memiliki hafalan Al-Quran (UIN, 2011).

G. Penelitian terkait

1. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara Terhadap Rokok


40

Loren (2010) melakukan penelitian yang berjudul Gambaran

Pengetahuan Dan Sikap Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara Terhadap Rokok. Penelitian ini dilakukan dengan

metode penelitian deskriptif, pendekatan yang digunakan pada desain

penelitian ini adalah Cross Sectional study dan pengambilan sampel

dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Jumlah

sampel sebanyak 306 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran diperoleh

hasil penelitian yang menunjukan bahwa tingkat pengetahuan

responden terhadap rokok mayoritas berada dalam kategori sedang

yaitu sebesar 75,8%, kategori baik sebesar 4,9%, dan kategori kurang

diperoleh sebesar 19,3%. Hasil uji sikap responden terhadap rokok

mayoritas berada dalam kategori baik yaitu sebesar 89,9%.

Penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan sama-sama

meneliti variabel pengetahuan, namun peneliti tidak mengukur

variabel sikap. Sampel penelitian pada penelitian ini juga memiliki

sedikit perbedaan, dalam penelitian Loren sampel yang diambil adalah

mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,

sedangkan pada penelitian ini sampelnya diambil dari 3 fakultas UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas

Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu

Politik.

2. Perilaku Merokok Dikalangan Mahasiswa Universitas

Muhammadiyah Semarang
41

Salawati dan Rizki (2010) melakukan penelitian mengenai Perilaku

Merokok Dikalangan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah

Semarang. Jenis penelitian ini Kualitatif. Sumber data penelitian ialah

mahasiswa Unimus aktif, memiliki kebiasaan merokok, berjenis

kelamin laki-laki yang layak dan bersedia menjadi informan penelitian

ini. Data diambil melalui FGD dan wawancara mendalam, serta

literatur, dan sumber-sumber lain sebagai pendukung penelitian. Hasil

dari penelitian ini menyebutkan bahwa mahasiswa dari fakultas

kesehatan merokok adalah hak azasi dan mereka merasa kesulitan

untuk berhenti merokok. Pada lain sisi mahasiswa kesehatan

sebenarnya mempunyai beban, karena sebagai calon petugas kesehatan

mereka seharusnya bisa menjadi contoh, sehingga sebagian besar dari

mereka tetap berniat untuk berhenti bila sudah bekerja. Hal tersebut

tidak ditemui pada mahasiswa dari fakultas non kesehatan. Walaupun

sebagian besar yakin bahwa merokok itu berbahaya, namun mereka

tidak yakin mampu berhenti dan hanya berniat mengurangi saja.

Mereka tidak memiliki beban yang sama dengan mahasiswa dari

Fakultas Kesehatan, karena mereka bukan calon petugas kesehatan.

Penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan sama-sama

meneliti variabel perilaku merokok. Perbedaan dengan penelitian

salawati dan rizki yaitu menggunakan metode kuantitatif. Terdapat

perbedaan dalam kriteria sampel yaitu penelitian ini menggunakan

responden laki-laki dan perempuan, responden yang merokok dan


42

tidak merokok. Sampel yang digunakan mempunyai kesamaan dari

fakultas kesehatan dan non kesehatan.

3. Tingkat Ketergantungan Nikotin dan Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Pada Perokok Didesa Panglipuran 2009

Artana dan I.B Ngurah Rai (2009) melakukan penelitian yang

berjudul Tingkat Ketergantungan Nikotin Dan Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Pada Perokok Didesa Panglipuran 2009. Penelitian ini

merupakan suatu penelitian potong lintang analitik pada populasi

perokok di Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Sebagai

penelitian pendahuluan, dilakukan survei pendahuluan untuk mencari

penduduk yang merokok dengan menggunakan kuesioner (self-

reported smoking). Perokok yang berusia 12 tahun ke atas kemudian

didata dan diberikan penjelasan dan bila setuju, diminta

menandatangani informed consent untuk mengikuti penelitian ini.

Kepada semua perokok yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

(72 orang), kemudian dilakukan wawancara terstruktur dengan

menggunakan kuesioner oleh pewawancara yang telah dilatih

sebelumnya. Hasil penelitian ini menyebutkan rerata tingkat

ketergantungan nikotin adalah 3,63 1,41.Angka inibila diinter

pretasi menjadi ketergantungan nikotin sedang.

Perbedaan dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan

variabel faktor-faktor yang berhubungan dengan perokok. Perbedaan

dengan sampel adalah peneliti menggunakan reponden dari mahasiswa


43

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini hanya menggunakan

desain deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kuesioner FTND.

4. Hubungan Pengetahuan Tentang Bahaya Merokok dengan

Perilaku Merokok Pada Siswa SMP Negeri 1 Bulawa

Siska Pakaya 2013 melakukan penelitian yang berjudul Hubungan

Pengetahuan Tentang Bahaya Merokok dengan Perilaku Merokok

Pada Siswa SMP Negeri 1 Bulawa. Penelitian ini menggunakan desain

penelitian metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional

study. Populasi penelitian ini adalah semua siswa laki-laki yang

sekolah di SMP Negeri 1 Bulawa. Jumlah populasi dalam penelitian

ini sebanyak 96 orang dengan tehnik pengambilan Sampel

menggunakan metode tekhnik sampling berupa Total Sampling. Data

dianalisis menggunakan Uji chi square dengan tingkat signifikan

p>0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42 siswa (43,75%)

memiliki pengetahuan baik tentang bahaya merokok, sebanyak 65

siswa (67,71%) memiliki perilaku merokok termasuk kategori

perokok ringan. Nilai probabilitas (p value) hubungan pengetahuan

tentang bahaya merokok dengan perilaku merokok sebesar p=0,003

atau p <0,05.

Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti yaitu peneliti

menggunakan metode deskriptif dan variabel yang diteliti

pengetahuan, perilaku merokok dan nikotin dependen. Penelitian ini

menggunakan populasi dari mahasiswa dan menggunakan metode


44

pengambilan sample dengan teknik cluster sampling. Dalam penelitian

ini hanya melihat gambaran variabel, tidak meneliti hubungan antar

variabel.
45

H. Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian ini dibuat berdasarkan proses terbentuknya

perilaku. Kerangka teori penelitian ini sebagai berikut :

Mahasiswa Faktor yang Proses adopsi perilaku:


1.Fakultas Kedokteran dan mempengaruhi perilaku: 1. Awareness (Kesadaran)
Ilmu Kesehatan 2. Interest (tertarik)
Faktor predisposing
2.FakultasIlmu Sosial dan 3. Evaluation (menimbang-
Politik nimbang)
Faktor Reinforcing
3. Fakultas Dirasat 4. Trial (mencoba)
Islamiyah Faktor Enabling
5. Adoption

Bentuk Perilaku

Pengetahuan Perilaku Nikotin Dependen


Merokok

Tingkatan
pengetahuan:
1. Tahu,
2. Memahami
3. Penerapan
4. Analisis Rokok : Faktor-faktor yang Tipe Perilaku
mempengarhui Merokok:
5. Sintesis Kandungan rokok, perilaku merokok : 1. Perokok berdasaran
6. Evaluasi Dampak positif
dan negatif rokok, 1.pengaruh teman efek rokok.
Jenis rokok. 2.pengaruh orang tua 2.Perokok berdasarkan
3. pengaruh iklan banyaknya rokok yang
dihisap perhari

Sumber : Maulana (2007); Notoatmodjo ( 2003) ; Vorvick (2013) ; Swansburg (2001); UIN (2011)

Bagan 2.1 Kerangka Teori

Keterangan : : Variabel yang tidak diteliti


: Variabel yang diteliti
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

Berdasarkan pada tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui

gambaran tingkat pengetahuan, perilaku merokok, dan nikotin dependen

pada mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini bersifat

kuantitatif dengan rancangan desain analisis deskriptif. Peneliti meneliti

variabel perilaku merokok, tingkat pengetahuan dan nikotin dependen.

Perilaku Merokok :

- Perilaku responden yang menggambarkan kegiatan


merokok yang terlihat dari tahapan perilaku
merokok, intensitas merokok, waktu merokok dan
fungsi merokok.

Tingkat Pengetahuan :

- Bahaya merokok
- Zat racun yang dihasilkan rokok
- Pengaruh rokok terhadap kesehatan
- Penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh rokok
- Peraturan tentang larangan merokok.

Nikotin Dependen :

- Pengukur ketergantungan pada rokok atau nikotin

Sumber : Sajatovic (2012); Azkiyati (2012); Fitriyani (2010)

Bagan 3.1. Kerangka Konsep

46
47

B. Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel

No. Variabel Penelitian Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
1. Pengetahuan Pengetahuan dalam Kuesioner Pilihan jawaban pertanyaan 1. Pengetahuan kurang Ordinal
penelitian ini : bahwa berisi 19 dengan nilai (skor <55%)
mahasiswa mengetahui pertanyaan Benar = 1 (skor 10)
tentang bahaya merokok, zat Salah = 0 2. Pengetahuan sedang
racun yang dihasilkan (skor 56%-75%)
rokok, pengaruh rokok (skor 11-14)
terhadap kesehatan, 3. Pengetahuan Tinggi
penyakit-penyakit yang (skor 76%-100%)
diakibatkan oleh rokok dan (skor 15)
peraturan tentang larangan
merokok.(Fitriyani, 2010) (Arikunto, 2006)
2. Perilaku merokok Perilaku merokok adalah Kuesioner Responden mengisi 1. Tinggi = jika skor Ordinal
perilaku responden yang berisi 15 kuesioner yang jawaban 40
menggambarkan kegiatan pertanyaan menggunakan skala perilaku {x (+1.0)}
merokok yang terlihat dari merokok dengan pilihan 2. Sedang = jika skor
48

tahapan perilaku merokok, jawaban : jawaban 20 x <40


intensitas merokok, waktu 1. Selalu { (-1.0) x <
merokok dan fungsi 2. Sering (+1.0)}
merokok. (Azkiyati, 2012) 3. Kadang-kadang 3. Rendah = jika
4. Tidak pernah skor jawaban < 20
Pernayataan dinilai dengan {x < (-1.0)}
skor : selalu (bernilai 4),
sering (bernilai 3), kadang- (Azwar, 2012)
kadang (bernilai 2), dan
tidak pernah (bernilai 1)
3. Tipe Perokok Jumlah rokok yang dihisap kuesioner 1 pertanyaan pada data 1. Perokok Ringan bila
oleh responden dalam satu demografi kuesioner rokok yang dihisap <10
hari batang perhari.
2. Perokok sedang bila
11-21 batang perhari
3. Perokok berat bila
menghisap >21 batang
perhari.
(Smet, 1994)
49

4. Usia Jumlah tahun dihitung sejak Kuesioner 1 pertanyaan pada data Continues Nominal
lahir sampai dengan tahun demografi kuesioner
terakhir saat pengambilan
data
5. Jenis Kelamin Adalah tanda fisik yang Kuesioner 1 pertanyaan pada data 1. Laki-laki Nominal
teridentifikasi pada demografi kuesioner 2. Perempuan
responden dan dibawa sejak
dilahirkan.
6. Program pendidikan / unsur pelaksana akademik Kuesioner 1 pertanyaan pada data 1. Fakultas Kedokteran Nominal
Fakultas yang menyelenggarakan dan demografi kuesioner dan Ilmu Kesehatan
mengelola jenis pendidikan (FKIK)
akademik, vokasi, atau 2. Fakultas Dirasat
profesi dalam sebagian atau Islamiyah (FDI)
satu bidang ilmu 3. Fakultas Ilmu Sosial
pengetahuan, teknologi, dan Ilmu Politik
seni, dan/atau olahraga
tertentu (Bakhtiar dkk,
2011).
7. Program Studi Kesatuan rencana belajar Kuesioner 1 pertanyaan pada data 1.Ilmu Keperawatan Nominal
50

sebagai pedoman demografi kuesioner 2. Pendidikan Dokter


penyelenggaraan 3. Kesehatan
pendidikan, akademik dan / Masyarakat
profesional yang 4. Farmasi
diselenggarakan atas dasar 5. Sosiologi
suatu kurikulum serta 6. Ilmu Politik
ditujukan agar mahasiswa 7. Hubungan
dapat menguasai Internasional
pengetahuan, keterampilan 8. Dirasat Islamiyah
dan sikap sesuai dengan
sasaran kurikulum
(KBBI,2014)
8. Nikotin dependen pengukur ketergantungan Kuesioner Pilihan jawaban pertanyaan 1. skor 0-2 sangat Ordinal
pada rokok atau nikotin Fagerstrom no. 1 bernilai : rendah (very low
(Sajatovic, 2012) Test For 5 menit = 3 dependence)
Nicotine 6- 30 menit = 2 2. skor 3-4 rendah (low
Dependence 31- 60 menit = 1 dependence)
(FTND) berisi Setelah 60 menit = 0 3. skor 5 sedang
6 pertanyaan Pertanyaan no. 2 bernilai : (medium
51

Ya = 1 dependence)
No = 0 4. skor 6-7 tinggi (high
Pertanyaan no. 3 bernilai : dependence)
Rokok pertama dipagi hari 5. skor 8-10 sangat
=1 tinggi ( very high
Yang lainnya = 0 dependence)
Pertanyaan no. 4 bernilai : (Sajatovic, 2012)
1-10 rokok = 0
11-20 rokok = 1
21-30 rokok = 2
31 rokok atau lebih = 3
Pertanyaan no. 5 bernilai:
Ya = 1
Tidak = 0
Pertanyaan no.6 bernilai :
Ya = 1
Tidak = 0
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan

desain analisis deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian

cross sectional meneliti suatu kejadian satu waktu sekaligus pada saat

yang sama. Metode ini digunakan untuk mengetahui gambaran

pengetahuan, perilaku merokok dan nikotin dependen mahasiswa Fakultas

Dirasat Islamiyah (FDI), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), dan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian yang digunakan adalah UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta pada Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,

dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Waktu yang digunakan

dalam penelitian berkisar dari bulan Maret sampai April 2015. Peneliti

menentukan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai tempat

penelitian dengan alasan sebagai tempat kuliah peneliti, dan peneliti

melihat secara subyektif masih banyak mahasiswa yang merokok didalam

lingkungan kampus. Perilaku merokok sebenarnya sudah dilarang dan

ditetapkan peraturan dalam kode etik mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta. Berdasarkan studi pendahuluan peneliti memilih FKIK, FDI dan

FISIP karena ingin melihat gambaran tingkat pengetahuan, perilaku

merokok dan nikotin depeden pada latar belakang ilmu yang berbeda.

52
53

Pada FKIK mahasiswa mempelajari mengenai kesehatan, FISIP

mahasiswanya mempelajari ilmu kemasyarakatan dan FDI sebagai

fakultas yang mempelajari ilmu agama islam yang lebih mendalam dari

fakultas lain. Selain itu, penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan

untuk kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam rangka membuat

program pencegahan agar mahasiswa tidak menjadi perokok dan

menanggulangi kebiasaan merokok, sehingga program yang dibuat tepat

dan berguna bagi peningkatan kualitas kesehatan mahasiswa.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi penelitian

Populasi adalah unit dimana suatu hasil penelitian akan

diterapkan (Dharma, 2011). Populasi dari penelitian ini adalah

mahasiswa tingkat kedua yaitu mahasiswa angkatan 2013 Fakultas

Dirasat Islamiyah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Peneliti tidak menggunakan responden dari angkatan 2014

karena saat ini mahasiswa angkatan 2014 sedang dalam proses

orientasi dan adaptasi dengan lingkungan kampus yang baru.

Peneliti juga tidak menggunakan responden dari angkatan tahun

2011 dan 2012 karena mahasiswanya sudah memasuki proses

pembuatan skripsi dan dari beberapa mahasiswa ini sedang dalam

proses pembelajaran dilapangan atau diluar kampus seperti

praklinik dan KKN. Menurut data yang didapatkan dari Badan


54

Kepegawaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terdapat 681

mahasiswa dari 3 fakultas yang terbagi menjadi 8 program studi.

Tabel 4.1
Persebaran Jumlah Mahasiswa FKIK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta

Program Studi Jumlah Mahasiswa Angkatan


2013
Ilmu keperawatan 48
Pendidikan dokter 87
Kesehatan masyarakat 105
Farmasi 77
Total 317

Tabel 4.2
Persebaran Jumlah Mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta

Program Studi Jumlah Mahasiswa Angkatan


2013
Sosiologi 76
Ilmu politik 73
Hubungan Internasional 107
Total 256

Tabel 4.3
Persebaran Jumlah Mahasiswa FDI UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta

Program Studi Jumlah Mahasiswa Angkatan


2013
Dirasat Islamiyah 108
Total 108
55

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sekelompok individu yang merupakan

bagian dari populasi terjangkau dimana peneliti langsung

mengumpulkan data atau melakukan pengamatan/pengukuran pada

unit ini (Dharma,2011). Penelitian ini menggunakan cluster

sampling karena sumber data dalam skala besar dan setiap cluster

boleh mengandung unsur yang karakteristiknya heterogen. Cluster

sampling adalah pembentukan cluster-cluster yang merupakan

kumpulan dari unit-unit sampling yang lebih kecil (Sugiyono,

2012).

Pengambilan sampel berpedoman pada kriteria inklusi dan

kriteria eksklusi yang telah ditentukan peneliti. Penentuan kriteria

sampel sangat membantu peneliti untuk mengurangi bias hasil

penelitian. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek

penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan

diteliti. Sedangkan kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau

mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi

karena berbagai sebab, misalnya terdapat keadaan atau penyakit

yang menganggu pengukuran maupun interpretasi hasil (Nursalam,

2008).
56

Kriteria inklusi yang ditetapkan adalah

a. Mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Dirasat Islamiyah,

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

b. Mahasiswa berstatus aktif kuliah.

Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:

a. Mahasiswa yang sedang cuti kuliah.

b. Mahasiswa yang sedang dalam proses pembelajaran diluar

kampus seperti KKN, Praklinik, Profesi, dan Skripsi.

Kemudian untuk menentukan sampel menggunakan cluster

sampling adalah dengan menyusun sample frame berdasarkan

cluster dengan mengurutkan cluster yang ada. Dalam penelitian ini

program pendidikan sebagai cluster.

Rumus yang digunakan dalam menentukan besar sampel

dalam penelitian ini adalah menggunakan ketentuan rumus besar

sampel menurut Surakhmad ( dalam Umar, 2000), yaitu:

Rumus : ( 50% - 15%)

Keterangan :
: ukuran sampel

: ukuran populasi
57

Perhitungan ( )
sampel
keseluruhan
= 15 % + ( ) 15 % + 0,3544
(35%)

= 15 % + 12,40% = 27, 40%

= 186,59

= 187 Responden

Berdasarkan perhitungan tersebut total sampel yang

digunakan adalah 187 responden. Jumlah sampel yang digunakan

adalah sebanyak 187 orang, akan tetapi untuk mengantipasi

responden yang drop out atau kesalahan dalam pengambilan data,

maka peneliti menambah cadangan sampel sebesar 10% dari

jumlah sampel yang ada, yaitu 10% 187 = 18,7 = 19 orang.

Sehingga total keseluruhan sampel yang digunakan dalam

penelitian ini ada sebanyak 187+ 19 = 206 orang.

Kemudian, untuk menentukan sampel sesuai strata maka

menggunakan rumus : , ( Levy & Stanley L, 2008).

Keterangan:

ni : jumlah sampel menurut strata Ni : jumlah populasi menurut strata


n : jumlah sampel seluruhnya N : jumlah populasi seluruhnya
Berdasarkan rumus tersebut perhitungan sampel sebagai berikut :
58

Tabel 4.4
Persebaran Jumlah Sampel Mahasiswa FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Hasil sampel per


Program Studi Perhitungan
strata
Ilmu keperawatan
15 Orang
Pendidikan dokter
26 Orang
Kesehatan masyarakat
32 Orang
Farmasi
23 Orang

Total sampel FKIK 96 Orang

Tabel 4.5
Persebaran Jumlah Sampel Mahasiswa FISIP UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Hasil sampel per


Program Studi Perhitungan
strata
Sosiologi
23 Orang

Ilmu politik
22 Orang

Hubungan Internasional
32 Orang

Total sampel FISIP 77 Orang

Tabel 4.6
Persebaran Jumlah Sampel Mahasiswa FDI UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Hasil sampel per


Program Studi Perhitungan
strata
Dirasat Islamiyah
33 Orang

Total sampel FDI 33 Orang


59

D. Metode Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Data merupakan bahan baku informasi, dapat didefinisikan

sebagai kelompok teratur simbol-simbol yang mewakili kuantitas,

fakta, tindakan, benda, dan sebagainya (Supriyanto & Ahmad, 2008).

Jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder.

Data primer didapatkan langsung dari responden melalui pengisian

kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari Bagian Akademik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berupa jumlah dan mahasiswa

sesuai dengan tingkatan semester.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan

mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono,

2012). Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan oleh

peneliti untuk mengobservasi, mengukur atau menilai suatu fenomena.

Data yang diperoleh dari suatu pengukuran kemudian dianalisis dan

dijadikan sebagai bukti dari suatu penelitian. Instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah

bentuk atau dokumen yang berisi beberapa item pertanyaan yang

dibuat berdasarkan indikator-indikator suatu variabel (Dharma, 2011).


60

Sesuai dengan tujuan penelitian, kuesioner dalam penelitian ini

terdiri dari 4 bagian, yaitu :

1. kuesioner bagian A, kuesioner berisi data demografi responden yang

terdiri dari usia, tingkatan semester, fakultas, program studi, jenis

kelamin, status merokok dan tipe perokok.

a. Usia, responden mengisi usia pada saat pengambilan data

b. Fakultas, responden mengisi dengan nama fakultas yaitu

terdapat fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan, fakultas

dirasat islamiyah, fakultas ilmu sosial dan ilmu politik.

c. Program Studi, responden mengisi sesuai dengan program studi

yang diambilnya saat pengambilan data.

d. Jenis kelamin, reponden mengisi jenis kelamin laki-laki atau

perempuan.

e. Status merokok, untuk mengetahui status responden sebagai

perokok atau bukan.

f. Tipe perokok, untuk mengetahui jumlah rokok yang dihisap

responden dalam sehari.

2. Kuesioner bagian B, berisi 18 pernyataan mengenai perilaku

merokok. Kuesioner ini diadopsi dari penelitian Azkiyati (2010)

yang berjudul hubungan perilaku merokok dengan harga diri remaja

laki-laki yang merokok di SMK Putra bangsa dengan memodifikasi

beberapa pertanyaan. Skala perilaku merokok disusun untuk

mengukur tingkat perilaku merokok pada mahasiswa perokok.


61

Tabel 4.7
Indikator Item Kuesioner Perilaku merokok

Indikator Item Total

Tipe perilaku merokok 2, 9, 1 3

Waktu untuk merokok 3,4,6,7,8 5

Faktor-faktor yang 15,16,17,18 4


mempengaruhi perilaku
merokok
Jenis rokok 11,12,13 3

Tempat merokok 14,10 2

Dampak merokok 5 1

Jumlah 18 18

Untuk skala perilaku merokok dikategorikan menjadi :

a. Tinggi = jika skor jawaban x (+1.0)

b. Sedang = jika skor jawaban (-1.0) x < (+1.0)

c. Kurang = jika skor jawaban x < (-1.0) (Azwar, 2012)

dimana:

= 1/2 (Xmaks+Xmin) x total item pertanyaan

= 1/6 (Imaks - Imin)

Xmaks = skor tertinggi pada 1 item pernyataan (4)

Xmin = skor terendah pada 1 item pernyataan (0)

Imaks = jumlah total skor tertinggi (60)

Imin = jumlah total skor terendah (18)


62

3. Kuesioner bagian C, berisi 21 item pertanyaan mengenai pengetahuan

tentang bahaya merokok, zat racun yang dihasilkan rokok, pengaruh

rokok terhadap kesehatan, penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh

rokok dan peraturan tentang larangan merokok. Kuesioner diadopsi

dari penelitian Fitriyani (2010) yang berjudul hubungan tingkat

pengetahuan dan sikap tentang merokok dengan perilaku merokok

pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta dan mengadopsi kuesioner dari penelitian Pakaya

(2013) yang berjudul hubungan pengetahuan tentang bahaya merokok

dengan perilaku merokok pada siswa SMP Negeri 1 Bulawa. Dari

kedua kuesioner tersebut kemudian dilakukan modifikasi untuk

beberapa pertanyaan.

Untuk skala mengenai pengetahuan menurut Arikunto (2006) yaitu :

a. Pengetahuan kurang (skor <55%)

b. Pengetahuan sedang (skor 56%-75%)

c. Pengetahuan Tinggi (skor 76%-100%)

4. Kuesioner bagian IV, berisi kuesioner Fagerstrom Test for Nicotine

Dependence (FTND). FTND ini merupakan instrumen pengukur

ketergantungan pada rokok yang banyak digunakan secara klinik.

Skala FTND ini disebutkan pada berbagai kepustakaan telah mewakili

aspek fisik dan psikologis dari ketergantungan, khususnya

ketergantungan nikotin. FTND memiliki 6 item pertanyaan, Setiap

item dalam skala ini memiliki poin tersendiri.


63

E. Validitas dan Reabilitas Instrumen

1. Validitas

Validitas adalah syarat mutlak bagi suatu alat ukur agar dapat

digunakan dalam suatu pengukuran. Validitas menunjukan ketepatan

pengukuran suatu instrumen, artinya suatu instrumen dikatakan valid

apabila instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur

(Dharma, 2011). Untuk mengetahui validitas suatu instrument (dalam

hal ini kuesioner) dilakukan dengan cara melakukan korelasi antar

skor masing-masing variabel dengan skor totalnya. Suatu variabel

dikatakan valid bila skor variabel tersebut berkorelasi secara

signifikan dengan skor totalnya. Uji validitas dapat menggunakan

rumus Pearson Product Moment, setelah itu diuji menggunakan uji t

dan lalu baru dilihat penafsiran dari indeks korelasinya. Jika nilai t

hitung > t tabel berarti valid demikian sebaliknya (Hidayat, 2008).

Uji validitas menggunakan person product moment pada

kuesioner perilaku merokok dan kuesioner tingkat pengetahuan

dilakukan pada mahasiswa FKIK UIN Syarif Hidayatullah yang tidak

termasuk dalam sampel. Hasil uji validitas kuesioner perilaku

merokok dari 18 pertanyaan 6 item dinyatakan tidak valid. Kemudian

dari 6 pertanyaan tidak valid sebagian dimodifikasi yaitu item nomer

9,13 dan 15. Untuk item nomer 5,14 dan 16 dieliminasi karena

pertanyaan yang lain sudah mewakili indikator.


64

Hasil uji validitas pada kuesioner tingkat pengetahuan dari 20

pertanyaan 4 item dinyatakan tidak valid. Item yang tidak valid yaitu

item nomer 17,18,20 dan 21. Untuk item nomer 20 dan 21 dilakukan

modifikasi dan untuk item nomer 17,18 dieliminasi karena

pertanyaan yang lain sudah mewakili indikator.

2. Reabilitas

Reabilitas adalah tingkat konsistensi dari suatu pengukuran.

Reliabilitas menunjukan apakah pengukuran menghasilkan data yang

konsisten jika instrumen digunakan kembali secara berulang

(Dharma, 2011). Dalam mengukur reliabilitas dapat digunakan

beberapa rumus, diantaranya: rumus belah dua dan Spearman Brown,

(jika untuk mengetahui reliabilitas seluruh tes) Kuder Richardson-20,

Anova Hoyt, dan Alfa (Sugiyono, 2012). Uji reliabilitas dapat

dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh butir pertanyaan

untuk lebih dari satu variabel. Namun sebaiknya uji reliabilitas

dilakukan pada masing-masing variabel pada lembar kerja yang

berbeda sehingga diketahui konstruk variabel mana yang tidak

reliabel. Reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika

memiliki nilai Cronbrachs Alpha > 0,06. Output SPSS untuk

melihat hasil uji reliabilitas perlu dilihat pada tabel Reliability

Coefficients, pada tabel akan terlihat nilai Cronbrachs Alpha

(Gumilar, 2007).
65

Uji reabilitas pada kuesioner mengenai perilaku merokok

yang dilakukan pada 30 mahasiswa FKIK UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta mempunyai hasil uji reabilitas cronbach alpha adalah 0,864

maka instrumen ini dinyatakan reliabel.

Pada kuesioner tingkat pengetahuan dilakukan menggunakan

rumus KR20 untuk uji reliabilitas. Hasil uji reabilitas tersebut

mempunyai hasil sebesar 0,788 maka instrumen ini dinyatakan

reliabel.

F. Prosedur Pengumpulan Data

Prosesproses dalam pengumpulan data pada penelitian ini melalui

beberapa tahap, yaitu:

a) Melakukan uji validitas dan uji reabilitas kuesioner yang telah

disetujui oleh penguji dan pembimbing setelah seminar

proposal.

b) Setelah proposal penelitian dan uji validitas dan uji reabilitas

disetujui oleh penguji, peneliti meminta izin langsung kepada

pihak FKIK, FDI dan FISIP.

c) Menyelesaikan kelengkapan administrasi, seperti surat izin

penelitian.

d) Datang ke Fakultas dan koordinasi dengan pengurus kelas atau

ketua angkatan untuk mengumpulkan calon responden secara

bersamaan dalam satu tempat.


66

e) Menjelaskan kepada calon responden terkait penelitian,

kemudian memberikan lembar persetujuan (informed consent)

dan kuesioner dan menjelaskan prosedur pengisian kuesioner.

f) Memberikan waktu pengisian kuesioner kepada responden 20

menit.

g) Kemudian responden menyerahkan kembali kuesioner yang

telah diisi untuk diperiksa dan selanjutnya kuesioner diolah

serta dianalisa oleh peneliti.

G. Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan merupakan data mentah yang harus

diorganisasi sedemikian rupa agar dapat disajikan dalam bentuk tabel atau

grafik sehingga mudah dianalisis dan ditarik keseimpulan. Pengolahan data

merupakan porses yang sangat penting dalam penelitian. Proses kegiatan

pengolahan data (Data Processing) ini terdiri dari tiga jenis kegiatan

(Budiarto, 2001), yaitu:

1. Memeriksa Data (Editing)

Proses editing adalah memeriksa data hasil pengumpulan data

yang berupa pertanyaan, buku register dan lain-lain. Dalam

melakukan kegiatan memeriksa data, meliputi perhitungan dan

penjumlahan serta koreksi. Kegiatan perhitungan dan penjumlahan

adalah menghitung banyaknya lembaran-lembaran kuesioner atau

daftar pertanyaan yang telah diisi dan kembali, dimaksudkan untuk

mengetahui apakah jumlahnya telah sesuai dengan jumlah yang


67

disebarkan atau ditentukan. Sedangkan yang termasuk di dalam

kegiatan koreksi adalah memeriksa kelengkapan, kesinambungan, dan

keseragaman data.

2. Memberi Kode (Coding)

Supaya memudahkan pengolahan data, maka semua jawaban

atau data hasil penelitian sangat perlu untuk disederhanakan agar pada

saat pengolahan data dilakukan dengan mudah, yaitu dengan

memberikan simbol-simbol tertentu, biasanya dalam bentuk angka

untuk masing-masing data atau pertanyaan yang telah diklasifikasikan.

Setelah pemberian kode selesai, maka data yang sudah diberi kode

dipindahkan ke dalam suatu media untuk pengolahan data selanjutnya.

3. Tabulasi Data (Tabulating)

Kegiatan tabulasi data yaitu menyusun dan mengorganisir data

sehingga akan dapat dengan mudah untuk dilakukan penjumlahan,

disusun dan disajikan dalam bentuk tabel atau grafik.

H. Analisa Data

1. Analisa Univariat

Teknik ini dilakukan terhadap setiap variabel hasil dari

penelitian, sehingga dapat dilihat gambaran secara rinci untuk

kemudian disiapkan kembali dalam analisis berikutnya. Analisis

univariat pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif, yaitu : 1)

Karakteristik mahasiswa FKIK,FDI dan FISIP yang terdiri dari


68

Program Studi, jenis kelamin, usia, status merokok, dan tipe perokok.

2) Gambaran tingkat pengetahuan tentang merokok mahasiswa

FKIK,FDI, dan FISIP. 3) Gambaran perilaku merokok mahasiswa

FKIK,FDI, dan FISIP. 4) Gambaran nikotin dependen mahasiswa

FKIK,FDI, dan FISIP.

I. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menerapkan prinsip etis

(Nursalam, 2008) sebagai berikut:

1. Prinsip Manfaat

Penelitian ini dilaksanakan tidak menimbulkan penderitaan

bagi responden. Informasi yang telah diberikan oleh responden,

tidak akan dipergunakan untuk hal-hal yang dapat merugikan

subjek dalam bentuk apapun.

2. Prinsip Menghargai Hak Asasi Manusia

Responden mempunyai hak memutuskan apakah mereka

bersedia menjadi responden ataupun tidak, tanpa adanya sangsi

apapun. Responden mendapat informasi secara lengkap tentang

tujuan penelitian yang akan dilaksanakan.

3. Prinsip Keadilan

Responden diperlakukan secara adil baik sebelum, selama,

dan sesudah keikut sertaannya dalam penelitian tanpa adanya

deskriminasi. Penelitian ini akan dijaga kerahasiaan dengan tidak

mengikut sertakan nama dari responden.


BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik Responden

Peneliti menyebarkan 206 kuesioner kepada mahasiswa FKIK, FISIP,

dan FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada penelitian ini, karakteristik

mahasiswa yang dianalisis adalah sebagai berikut:

1. Program Pendidikan (Fakultas)

Pengelompokan responden berdasarkan kategori fakultas

digambarkan pada tabel 5.1 berikut :

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Fakultas UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


Fakultas
FKIK 96 46,6
FDI 33 16,0
FISIP 77 37,4
Total 206 100

Peneliti menggunakan responden dari tiga fakultas yang berbeda di

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada tabel 5.1 menunjukan hasil

responden dari FKIK sebesar 46,6%, responden dari FDI sebesar 16,0

% dan responden dari FISIP sebesar 37,4%.

2. Program Studi

Pengelompokan responden berdasarkan kategori program studi

digambarkan pada tabel 5.2 berikut :

69
70

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Program Studi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


FKIK
Ilmu Keperawatan 15 7,3
Pendidikan Dokter 26 12,6
Kesehatan Masyarakat 32 15,5
Farmasi 23 11,2
FDI
Dirasat Islamiyah 33 16,0
FISIP
Ilmu Politik 22 10,7
Hubungan Internasional 32 15,5
Sosiologi 23 11,2
Total 206 100

Peneliti membagi responden sesuai dengan rumus strata program

studi. Pada tabel 5.2 menunjukan reponden FKIK terbagi menjadi Ilmu

Keperawatan sebesar 7,3 %, Pendidikan Dokter sebesar12,6%,

Kesehatan Masyarakat sebesar 15,5%, dan Farmasi sebesar 11,2%.

Pada responden FDI terdiri dari satu program studi yaitu Dirasat

Islamiyah sebesar 16,0%. Untuk responden FISIP terbagi menjadi Ilmu

politik 10,7%, Hub.Internasional 15,5% dan Sosiologi 11,2%.

3. Jenis Kelamin

Pengelompokan responden berdasarkan kategori jenis kelamin

digambarkan pada tabel 5.3 berikut :

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis kelamin di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


Laki-laki 111 53,9
Perempuan 95 46,1
Total 206 100
71

Pada tabel 5.3 menunjukan sebagian besar responden berjenis

kelamin laki-laki sebanyak 53,9% dan perempuan sebanyak 46,1%.

4. Usia

Pengelompokan responden berdasarkan kategori usia digambarkan

pada tabel 5.4 berikut :

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Usia di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

N Min Max Mean Std.


Deviation
Umur 206 17 22 3,63 0,900
Valid N (listwise) 206

Peneliti dalam penelitian ini menggunakan responden dari angkatan

2013 dan berdasarkan tabel 5.4 reponden angkatan 2013 mempunyai

mahasiswa dengan usia terendah 17 tahun dan usia tertinggi yaitu 22

tahun, dengan nilai mean 3,63 dan Std.deviation 0,900.

5. Status Merokok

Pengelompokan responden berdasarkan kategori status merokok

digambarkan pada tabel 5.5 berikut :

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Status Merokok di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


Status Merokok
Ya 35 17,0
Tidak 171 83,0
Total 206 100
72

Pada tabel 5.5 menunjukan bahwa status merokok dari 206

responden sebagian besar adalah tidak merokok sebanyak 83% dan

responden yang merokok hanya sebanyak 17%.

6. Tipe Perokok

Responden yang menyatakan merokok dikategorikan tipe perilaku

merokok berdasarkan jumlah batang rokok dalam satu hari sebagai

berikut:

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tipe Perokok di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


Perokok
Berat 0 0,0
Sedang 7 20,0
Ringan 28 80,0
Total 35 100

Pada tabel 5.6 menunjukan tipe perokok berdasarkan jumlah batang

rokok yang dihisap perharinya sebagian besar adalah perokok ringan

sebanyak 80,0% dan dan untuk perokok sedang sebanyak 20,0%.

B. Tingkat Pengetahuan Responden

Responden yang berjumlah 206 orang mengisi kuesioner mengenai

pengetahuan tentang rokok, dan dikategorikan sebagai berikut:

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat pengetahuan
mengenai rokok di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


Tinggi 187 90,8
Sedang 15 7,3
Rendah 4 1,9
Total 206 100
73

Berdasarkan hasil tabel 5.7 tingkat pengetahuan responden mengenai

rokok sebagian besar mempunyai tingkat pengetahuan tinggi sebanyak

90,8%, dan untuk tingkat pengetahuan sedang dan rendah hanya 7,3%

dan 1,9%.

1. Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Fakultas

Pengelompokan tingkat pengetahuan responden berdasarkan

kategori fakultas digambarkan pada tabel 5.8 berikut :

Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mengenai Rokok responden
Berdasarkan Kategori Fakultas di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

FKIK FDI FISIP


Kategori Frek. Persen Frek Persen Frek Persen
(%) (%) (%)
Tinggi 95 99,0 28 84,9 64 83,1
Sedang 1 1,0 3 9,1 11 14,3
Rendah 0 0,0 2 6,0 2 2,6
Total 96 100 33 100 77 100

Pada tabel 5.8 menunjukan bahwa setiap fakultas sebagian besar

mempunyai responden dengan tingkat pengetahuan tinggi. Pada FKIK

responden dengan tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 99,0%. Pada

FDI responden dengan tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 84,9%.

Responden FISIP dengan tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 83,1%.

2. Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Jenis Kelamin

Pengelompokan tingkat pengetahuan mengenai rokok responden

berdasarkan kategori jenis kelamin digambarkan pada tabel 5.9 berikut

:
74

Tabel 5.9
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mengenai Rokok
Responden Berdasarkan Kategori Jenis Kelamin di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Laki-laki Perempuan
Kategori
Frek. Persen (%) Frek Persen (%)
Tinggi 99 48,1 88 42,7
Sedang 8 3,9 7 3,4
Rendah 4 1,9 0 0,0
Total 111 53,9 95 46,1

Pada tabel 5.9 menunjukan untuk tingkat pengetahuan tinggi lebih

dominan pada responden laki-laki sebanyak 48,1%. Sedangkan pada

responden perempuan tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 42,7%

C. Perilaku Merokok

Berdasarkan tabel 5.5 dari 206 responden terdapat 35 responden yang

dinyatakan merokok. Responden yang merokok berdasarkan usia adalah

sebagai berikut:

Tabel 5.10
Distribusi Frekuensi Status Perokok Berdasarkan Usia di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Merokok
Kategori
Frek. Persen (%)
17 0 0,0
18 0 0,0
19 12 34,3
20 20 57,1
21 1 2,9
22 2 5,7
Total 35 100

Tabel 5.10 menunjukan bahwa dari 35 responden yang merokok

sebagian besar berusia 19 tahun dan 20 tahun masing-masing sebesar

34,3% dan 57,1%.


75

Berdasarkan jumlah responden yang merokok tersebut dapat

dikategorikan sebagai berikut :

Tabel 5.11
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Perilaku Merokok di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


Perilaku Merokok
Tinggi 12 34,3
Sedang 23 65,7
Rendah 0 0,0
Total 35 100

Pada tabel 5.11 menunjukan dari 35 responden sebagian besar

mempunyai perilaku merokok sedang sebanyak 65,7% , dan untuk

perilaku merokok tinggi hanya sebanyak 34,3%.

1. Perilaku Merokok Berdasarkan Fakultas

Pengelompokan perilaku merokok responden berdasarkan kategori

fakultas digambarkan pada tabel 5.12 berikut :

Tabel 5.12
Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Responden Berdasarkan
Kategori Fakultas di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

FKIK FDI FISIP


Kategori Frek. Persen Frek Persen Frek Persen
(%) (%) (%)
Tinggi 6 66,7 0 0,0 6 28,6
Sedang 3 33,3 5 100 15 71,4
Rendah 0 0,0 0 0,0 0 0,0
Total 9 100 5 100 21 100

Pada tabel 5.12 menunjukan perilaku merokok berdasarkan

kategori fakultas responden. Pada FKIK dan FISIP perilaku merokok

tinggi masing-masing sebanyak 66,7 % dan 28,6%. Pada FDI perilaku

merokok sedang sebanyak 100%.


76

2. Perilaku Merokok Berdasarkan Jenis Kelamin

Pengelompokan perilaku merokok responden berdasarkan kategori

jenis kelamin digambarkan pada tabel 5.13 berikut :

Tabel 5.13
Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Responden Berdasarkan
Kategori Jenis Kelamin di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Laki-laki Perempuan
Kategori
Frek. Persen (%) Frek Persen (%)
Tinggi 12 34,3 0 0,0
Sedang 21 60,0 2 5,7
Rendah 0 0,0 0 0,0
Total 33 94,3 2 5,7

Tabel 5.13 menunjukan hasil perilaku merokok tinggi pada

responden laki-laki sebanyak 34,3%, perilaku merokok sedang sebanya

60,0% dan untuk responden perempuan hanya 5,7% pada perilaku

merokok sedang.

3. Status Merokok berdasarkan Tingkat Pengetahuan

Pengelompokan responden dari status merokok dengan tingkat

pengetahuan sebagai berikut :

Tabel 5.14
Distribusi Frekuensi Status Merokok Dengan Tingkat Pengetahuan
di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tinggi Sedang Rendah


Kategori Frek Persen Frek Persen Frek Persen
. (%) (%) (%)
Status Merokok
Ya 29 14,1 3 1,5 3 1,5
Tidak 158 76,7 12 5,8 1 0,5
Total 187 90,8 15 7,3 4 1,9

Tabel 5.14 menunjukan bahwa responden yang merokok sebagian

besar mempunyai tingkat pengetahuan dalam kategori tinggi sebanyak


77

14,1%, dan untuk responden yang merokok sebagian besar juga

memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 76,7%.

D. Nikotin Dependen

Responden yang menyatakan merokok kemudian dikategorikan

untuk nikotin dependen sebagai berikut :

Tabel 5.15
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Nikotin Dependen di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Karakteristik Frekuensi Presentase (%)


Nikotin Dependen
Sangat tinggi 0 0,0
Tinggi 0 0,0
Sedang 1 2,9
Rendah 13 37,1
Sangat rendah 21 60,0
Total 35 100

Tabel 5.14 menunjukan bahwa dari 35 responden sebagian besar

dalam kategori sangat rendah ketergantungan nikotin sebesar 60,0%, untuk

kategori rendah sebesar 37,1% dan kategori sedang hanya sebesar 2,9%.

1. Nikotin Dependen Berdasarkan Fakultas

Pengelompokan nikotin dependen responden berdasarkan kategori

fakultas digambarkan pada tabel 5.16 berikut:

Tabel 5.16
Distribusi Frekuensi Nikotin Dependen Responden Berdasarkan
Kategori Fakultas di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
FKIK FDI FISIP
Kategori Frek. Persen Frek Persen Frek Persen
(%) (%) (%)
T
Sangat tinggi 0 0,0 0 0,0 0 0,0
Tinggi 0 0,0 0 0,0 0 0,0
a
Sedang 0 0,0 0 0,0 1 4,8
Rendah 4 44,4 3 60,0 6 28,6
b
Sangat rendah 5 55,6 2 40,0 14 66,6
Total 9 100 5 100 21 100
78

Tabel 5.16 menunjukan untuk kategori rendah pada FKIK

sebanyak 44,4%, FISIP sebanyak 28,6% dan FDI sebanyak 60,0%.

Untuk kategori sangat rendah pada FISIP sebanyak 66,6%, FKIK

55,6% dan FDI sebanyak 40,0%.

2. Nikotin Dependen Berdasarkan Jenis Kelamin

Pengelompokan nikotin dependen responden berdasarkan kategori

jenis kelamin digambarkan pada tabel 5.17 berikut :

Tabel 5.17
Distribusi Frekuensi Nikotin Dependen Responden Berdasarkan
Kategori Jenis Kelamin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Laki-laki Perempuan
Kategori
Frek. Persen (%) Frek Persen (%)
Sangat Tinggi 0 00,0 0 0,0
Tinggi 0 00,0 0 0,0
Sedang 1 2,9 0 0,0
Rendah 13 37,1 0 0,0
Sangat Rendah 19 54,3 2 5,7
Total 33 94,3 2 5,7

Pada tabel 5.16 responden laki-laki sebagian besar termasuk dalam

kategori sangat rendah sebanyak 54,3 % dan kategori rendah 37,1%.

Dan untuk perempuan hanya dalam kategori sangat rendah sebanyak

5.7%.
BAB VI

PEMBAHASAN

Bab ini akan menjelaskan hasil penelitian dan keterbatasan penelitian.

Intepretasi hasil akan membahas mengenai hasil penelitian yang dikaitkan dengan

teori yang ada pada tinjauan pustaka, sedangkan keterbatasan penelitian akan

memaparkan keterbatasan yang terjadi selama pelaksanaan penelitian.

A. Karakteristik Responden

1. Fakultas dan Program Studi

Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa FKIK, FDI, dan

FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun pelajaran 2013. Jumlah

responden yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 206 orang.

Reponden dari FKIK terbagi menjadi 4 program studi yaitu Ilmu

Keperawatan berjumlah 15 orang (7,3%), Pendidikan Dokter berjumlah

26 orang (12,6%), Kesehatan Masyarakat berjumlah 32 orang (15,5%)

dan Farmasi berjumlah 23 orang (11,2%). FDI terbagi menjadi satu

program studi yaitu Dirasat Islamiyah berjumlah 33 orang (16%). Dan

FISIP terbagi menjadi 3 program studi yaitu Sosiologi berjumlah 23

orang (23%), Ilmu Politik berjumlah 22 orang (10,7%) dan Hubungan

Internasional berjumlah 32 orang (15,5%). Peneliti telah membagi

jumlah responden dari setiap program studi sesuai dengan strata atau

berdasarkan jumlah populasi.

79
80

2. Usia

Responden dalam penelitian ini menggunakan responden dari

angkatan 2013 yang mempunyai mahasiswa dengan usia terendah 17

tahun dan usia tertinggi yaitu 22 tahun, dengan nilai mean 3,63 dan

Std.deviation 0,900. Responden yang merokok pada penelitian ini

sebagian besar adalah berusia 19 tahun (34,3%) dan 20 tahun (57,1%).

Hasil penelitian Nasution (2007) menyatakan bahwa usia perokok

pada umumnya dimulai pada usia remaja yaitu diatas 13 tahun sampai

dengan 20 tahun. Ada beberapa faktor dan motif perokok pada remaja,

tetapi paling banyak disebabkan oleh faktor psikologis dan juga

mengatasi stres, jumlah rokok yang dikunsumsi berkaitan degan stres

yang dialami oleh remaja, semakin besar stres yang dialami, semakin

banyak rokok yang dikonsumsi.

Pada penelitian Sirait, dkk (2002) mengenai perilaku merokok di

Indonesia menyatakan bahwa jumlah perokok laki-laki lebih tinggi

dibanding perempuan. Berdasarkan kelompok umur laki-laki yang

paling banyak merokok adalah usia 40-49 tahun, dan perempuan yaitu

usia 55-64 tahun. Pada tahun 2007 Riskesdas menyatakan bahwa

jumlah perokok usia 1519 tahun sebanyak 36,3%, usia 2024 tahun

16,3%, usia 2529 tahun sebanyak 4,4% dan usia 30 tahun sebanyak

3,2%. Kemudian pada tahun 2013 terjadi peningkatan perilaku merokok

pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Global Youth Tobacco Survey

(GYTS) tahun 2014 menyatakan bahwa pada usia 13-15 sudah


81

mempunyai kebiasaan merokok, dan mereka sudah mulai merokok

sejak usia 7 tahun. Data perokok rata-rata masyarakat Indonesia usia 15

tahun ke atas adalah sekitar 30%, artinya dengan bertambahnya umur

maka presentase perokoknya terus meningkat. Artinya, bila dapat

menekan kebiasaan merokok pada kaum muda / remaja maka dapat

juga mengharapkan angka perokok pada dewasa dapat dikendalikan

lebih baik.

Batubara (2010) membagi masa remaja menjadi tiga kategori yaitu

remaja awal atau early adolescent usia 12-14 tahun, remaja pertengahan

atau middle adolescent usia 15-17 tahun, dan remaja akhir atau late

adolescent usia 18-21 tahun. Pada usia tersebut sering menunjukan

perilaku-perilaku menyimpang dari diri remaja dan masalah yang

paling sering terjadi salah satunya perilaku merokok (Santrock, 2007).

Erikson (1968) menyebutkan pada masa perkembangan remaja terdapat

adanya krisis aspek psikososial yaitu masa ketika remaja sedang

mencari jati diri. Remaja seringkali mengasosiasikan perilaku merokok

sebagai identitas diri, yaitu memberikan kesan tidak kolot (modern),

dewasa, jantan, gagah dan berani (Santrock,2003).

3. Jenis Kelamin

Pada kategori jenis kelamin sebanyak 111 orang (53,9%) berjenis

kelamin laki-laki dan perempuan sebanyak 95 orang (46,1%). Hal ini

berkaitan dengan sistem pengambilan responden secara random

sampling dari setiap prodi dan data yang didapat dari badan
82

kepegawaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jumlah mahasiswa untuk

FISIP dan FDI sebagian besar adalah laki-laki. Responden yang

merokok dari ketiga fakultas sebagian besar adalah laki-laki sebanyak

33 responden ( 94,3%). Dari berbagai penelitian menyebutkan bahwa

remaja laki-laki lebih cenderung mempunyai kebiasaan merokok

dibandingkan perempuan. Dalam penelitian Azkiyati (2012), Oktavia

(2011), Fikriyah dan Yoyok (2012), Lestari dan Sugiharti (2011)

menyebutkan bahwa remaja laki-laki berpeluang 30 kali lebih besar

untuk merokok. Remaja laki-laki yang merokok besar kemungkinan

akan tetap menjadi seorang perokok pada masa yang akan datang. Hal

ini dikarenakan remaja laki-laki menyukai kegiatan merokok karena

rokok memberikan kesan dewasa, berani mengambil resiko, bangga,

macho dan jantan pada diri remaja.

Sedangkan untuk responden perempuan pada penelitian ini hanya

2 responden (5,7%) yang menyatakan merokok. Penelitian Sartika, dkk.

(2009) dan Barraclough (2015) menyatakan bahwa jumlah perokok

pada perempuan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena

gaya hidup remaja perempuan yang selalu ingin terlihat modern dan

tidak ketinggalan jaman. Remaja perempuan mengadopsi perilaku

merokok sebagai bagian dari usaha agar tampak lebih bergaya, lebih

memukau, dan terlihat seperti perempuan kelas atas. Remaja perempuan

yang memiliki gaya hidup modern akan cenderung melakukan upaya-

upaya agar ia tampak lebih menarik daripada orang lain disekitarnya,

salah satu caranya adalah merokok. Meskipun perempuan indonesia


83

saat ini lebih terlihat mencolok dalam perilaku merokok, jumlah

merokok perempuan masih lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Bukti kuat menunjukan bahwa keengganan perempuan untuk merokok

umumnya dikaitkan dengan nilai-nilai dan budaya.

Penelitian Mulyadi dan Qurotul (2007) mengatakan pada beberapa

kelompok masyarakat, perempuan merokok bahkan kerap dihubungkan

dengan stereotip buruk dan diberikan ungkapan bukan perempuan

baik-baik atau ungkapan lain. Keberanian untuk merokok ini akhirnya

menjadi sesuatu yang membanggakan bagi laki-laki maupun

perempuan. Masih tabunya perempuan merokok merupakan

problematika klasik. Beberapa faktor yang menyebabkan seorang

perempuan merokok yaitu keinginan mencoba rasa rokok, sebagai

fashion, menyukai rasa rokok, ketidakpedulian terhadap bahaya rokok,

rokok memberikan kepuasan, dan lingkungan sosial.

4. Status Merokok dan Tipe Perokok

Status merokok pada responden untuk menyatakan apakah

responden merokok atau tidak merokok. Dari 206 responden yang

menyatakan merokok hanya sebagian kecil yaitu berjumlah 35 orang

(17,0%). Responden yang merokok ini terdiri dari mahasiswa FKIK

berjumlah 9 orang (25,7%), FDI berjumlah 5 orang (14,3%) dan FISIP

berjumlah 21 orang (60,0%). Responden yang menyatakan sebagai

perokok kemudian dikategorikan menjadi tipe perokok berdasarkan

banyaknya jumlah rokok yang dihisap setiap harinya. Responden yang


84

merokok sebagian besar termasuk dalam kategori perokok ringan

sebanyak 28 orang (80,0%) yaitu merokok dengan jumlah rokok kurang

dari 10 batang perhari.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Fuadah (2011) dan Elita

(2014) mempunyai hasil penelitian sebagian besar dari remaja

mempunyai tipe perilaku merokok sedang berdasarkan jumlah rokok

yang dihisap setiap harinya sebanyak 11-20 batang rokok. Jumlah

batang rokok yang dihisap atau frekuensi merokok seseorang akan

mempengaruhi keberhasilan seseorang untuk berhenti merokok.

Semakin muda orang mulai merokok kemungkinan untuk berhenti

merokok akan lebih rendah karena efek ketergantungan yang

diakibatkan nikotin di dalam rokok, apabila dilakukan penghentian

merokok secara mendadak akan menimbulkan efek seperti gemetar,

keluar keringat, cepat marah, cemas, frustasi dan insomnia.

Menurut penelitian Komasari dan Avin (2000) perilaku merokok

adalah perilaku yang dipelajari. Proses belajar dimulai dari sejak masa

anak-anak, sedangkan proses menjadi perokok pada masa remaja.

Remaja yang saat ini memiliki kebiasaan merokok, baik menjadi

perokok harian atau bukan perokok harian, baik perokok ringan atau

perokok berat mengatakan akan melanjutkan kegiatan merokok pada

masa yang akan datang. Perilaku merokok yang dilakukan remaja ini

dipelajari melalui transmisi dari generasi sebelumnya yaitu lingkungan

keluarga, kemudian sosialisasi lain yaitu dengan teman sebaya dan yang

paling besar memberikan kontribusi adalah kepuasan-kepuasan yang


85

diperoleh setelah merokok atau rokok memberikan kontribusi yang

positif. Pertimbangan emosional lebih dominan dibandingkan dengan

pertimbangan rasional bagi perokok.

B. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pada Mahasiswa UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses

sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu (Sunaryo,

2002). Tingkatan pengetahuan yang diukur dalam penelitian ini adalah

pengetahuan tentang rokok. Domain kognitif yang dilihat dari responden

adalah tahu, artinya dapat mengingat atau mengingat kembali suatu materi

yang telah dipelajari sebelumnya. Ukuran bahwa seseorang ia tahu adalah

ia dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan dan menyatakan

(Swansburg , 2001). Materi untuk mengukur tingkat pengetahuan ini

berisi mengenai kandungan rokok, dampak positif rokok, dan dampak

negatif dari rokok.

Responden dari FKIK, FISIP, dan FDI sebagian besar mempunyai

tingkat pengetahuan yang tinggi terhadap rokok. Ini dibuktikan dari hasil

penelitian menunjukan bahwa responden dengan tingkat pengetahuan

tinggi sebanyak 187 orang (90,8%). Pengetahuan mengenai rokok saat ini

bisa dipelajari dan didapatkan dari berbagai hal. Untuk mahasiswa FKIK

sendiri yang mempunyai jumlah tingkat pengetahuan tinggi sejumlah 95

orang (99,0%) mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan

kesehatan dan bahaya yang diakibatkan dari kandungan rokok


86

(UIN,2011). Pada mahasiswa FISIP dan FDI mempunyai responden

dengan tingkat pengetahuan tinggi masing-masing sebanyak 83,1% dan

84,9%. Tidak sama dengan FKIK, mahasiswa FISIP dan FDI tidak

mempelajari ilmu kesehatan tetapi pada saat ini pengetahuan rokok bisa

didapatkan dari berbagai hal, contohnya internet, koran, iklan, bahkan di

pembungkus rokok tercantum informasi mengenai kandungan dan bahaya

merokok. Dengan adanya hal tersebut setiap mahasiswa atau remaja lain

sudah bisa mengetahui apa itu rokok dan dampaknya bagi kesehatan.

(Anggarawati, 2013).

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yosantaraputra,

dkk (2014) dan loren (2010) yang menyatakan bahwa mahasiswa yang

menjadi responden sebagian besar memiliki kategori tingkat pengetahuan

sedang. Loren (2010) menyatakan hal tersebut mungkin dikarenakan oleh

tidak terdapatnya topik kuliah khusus mengenai nikotin atau rokok.

Hasil dari penelitian Maseda, dkk (2013) yang menyebutkan

bahwa remaja yang memiliki pengetahuan baik tentang bahaya merokok

lebih banyak dari remaja yang berpengetahuan kurang baik, dan untuk

remaja yang berpengetahuan tinggi cenderung tidak melakukan perilaku

merokok. Salah satu faktor yang terpenting dalam terbentukanya perilaku

adalah yang didasari pada pengetahuan. Hal ini berarti jika kita memiliki

pengetahuan yang baik dan sikap positif maka kita tidak mudah

terpengaruh akan objek yang ada disekitar kita dan kita akan memiliki

perilaku yang baik yang berlangsung lama (Swansburg, 2011).


87

Berdasarkan hasil penelitian bahwa dari 206 responden yang

menyatakan merokok sebanyak 35 responden, dan responden yang

merokok tersebut sebagian besar mempunyai tingkat pengetahuan tinggi

tentang rokok sebanyak 29 responden (14,1%). Hal tersebut menyatakan

bahwa responden lebih banyak yang memiliki pengetahuan baik tentang

rokok dibanding dengan remaja yang berpengetahuann rendah. Menurut

Notoadmodjo (2003), pengetahuan yang diperoleh subjek selanjutnya

akan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap terhadap objek yang

telah diketahuinya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bila pengetahuan

yang baik akan memiliki sikap yang baik juga. Tetapi dalam penelitian ini

didapati hasil pengetahuan dan perilaku merokok tidak sejalan. Hal ini

mungkin disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat mempengaruhi

perilaku responden seperti lingkungan, kepercayaan, dan lain lain.

C. Gambaran Perilaku Merokok Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta

Perilaku merokok merupakan suatu kegiatan membakar rokok dan

menghisap asap rokok. Asap rokok kemudian dihembuskan keluar,

sehingga menyebabkan asap rokok terhisap oleh orang-orang yang berada

disekitar perokok. Analisis univariat perilaku merokok yang dilakukan

pada responden di tiga fakultas berbeda dari 206 responden yang

menyatakan merokok adalah sebanyak 35 orang (17,0%). Dari 35 orang

tersebut kategori untuk perilaku merokok mempunyai hasil 12 orang

(34,3%) memiliki perilaku merokok tinggi, 23 orang (65,7%) memiliki

perilaku merokok sedang.


88

Penelitian Azkiyati (2012) mengatakan bahwa perilaku merokok

dikatakan tinggi apabila seseorang sudah masuk dalam kategori tahapan

menjadi seorang perokok dalam tahapan perilaku merokok, merokok

minimal satu batang rokok dalam satu hari, intensitas merokok termasuk

sering, serta jenis rokok yang dihisap memiliki kandungan tar dan nikotin

yang tinggi. Perilaku merokok yang tinggi dapat disebabkan karena faktor

kecanduan yang dirasakan.

Kandungan didalam rokok tidak hanya tembakau, tetapi terdapat

bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan utama dalam rokok

yaitu nikotin, tar, dan karbon monoksida. Nikotin merupakan bahan yang

dapat menyebabkan adiksi atau ketergantungan (Sudiono, 2007). Selain

zat adiktifnya yang mempengaruhi seorang perokok ada faktor lain yang

menyebabkan seseorang sulit berhenti merokok. Berdasarkan hasil

penelitian Fuadah (2011) menyebutkan bahwa ada 4 faktor yang memiliki

peran yang besar dalam perilaku merokok dan berada sangat dekat dengan

para perokok yaitu pengaruh teman, pengaruh orang tua, pengaruh iklan

dan faktor kepribadian.

Pada FKIK dengan jumlah 96 responden yang memiliki perilaku

merokok tinggi yaitu sebesar 66,7%. Sangat disayangkan pada

mahasiswa FKIK yang merupakan kelompok belajar yang nantinya akan

menjadi tenaga kesehatan dimasyarakat dan dapat dijadikan role model

dalam masyarakat tetapi masih ada yang merokok. Hal tersebut didukung

dengan penelitian Sarake (2006) dan Muna (2011) yang menyatakan

bahwa mahasiswa kedokteran dan kesehatan mulai merokok karena coba-


89

coba yang dipengaruhi oleh faktor teman sebaya. Sebagai mahasiswa

kedokteran responden merasa dilema mempunyai perilaku merokok pada

saat mendapatkan tugas penyuluhan tentang rokok pada orang lain.

Mereka yang merokok lebih banyak merokok pada saat sedang istirahat

dan dilakukan diluar kampus karena adanya larangan merokok didalam

dan sekitar kampus.

Menurut penelitian Aini (2013) ada beberapa faktor psikologis

yang menyebabkan perilaku merokok terhadap mahasiswa kedokteran

atau mahasiswa yang mempelajari ilmu kesehatan antara lain faktor

psikologis internal yang meliputi kebiasaan, reaksi emosi yang positif,

reaksi penurunan emosi, ketagihan, dan faktor psikologis eksternal yang

meliputi alasan sosial.

Selain mahasiswa kedokteran dan ilmu kesehatan mereka yang

sudah sepantasnya menjadi contoh dalam masyarakat adalah petugas

rumah sakit. Penelitian Masia et al (2006) menyatakan bahwa perawat,

dokter, dan staf pelayanan di rumah sakit sebagian besar adalah perokok.

Mereka adalah perokok harian yang merokok sebanyak 10 batang atau

lebih setiap hari. Mereka berpikir bahwa mereka tidak harus menjadi

panutan bagi orang lain. Hal ini menunjukan bahwa perilaku merokok

pada petugas kesehatan menjadi contoh yang negatif yang mungkin akan

mengganggu dalam program pengendalian tembakau.

Penelitian yang dilakukan Saulle et al (2014) menyatakan bahwa

dari 388 responden mahasiswa kesehatan dan kedokteran 81 orang adalah

sebagai perokok, dan dari semua responden menegaskan bahwa tenaga


90

kesehatan profesional memiliki peran dalam memberikan saran atau

informasi tentang cara dan pelatihan untuk berhenti merokok. Mengingat

tingginya prevalensi perokok dikalangan tenaga kesehatan, mahasiswa ini

difokuskan untuk menjadi penasihat dan role model dalam masyarakat

untuk berhenti merokok.

Selain FKIK, fakultas lain yang memiliki perilaku merokok tinggi

adalah FISIP yaitu sebanyak 28,6%. Mahasiswa FISIP diharapkan bisa

memahami berbagai masalah dan problema yang terjadi dalam kehidupan

sosial, ekonomi dan politik yang terjadi di masyarakat (UIN,2011).

Perilaku merokok adalah satu problema sosial yang terjadi saat ini.

Perilaku merokok bukan hanya merugikan bagi siperokok saja, tetapi

orang-orang disekitar perokok atau orang yang berada disekitar perokok

dan menghirup asap rokok yang selanjutnya dikatakan perokok pasif

(Sari, 2003). Mahasiswa FISIP selayaknya bisa berperan aktif dalam

mencari solusi atas berbagai persoalan sosial yang berkembang dalam

masyarakat salah satunya perilaku merokok tersebut.

Responden dari FDI termasuk dalam kategori perilaku merokok

sedang sebanyak 100%. Berbeda halnya dengan FISIP dan FKIK, FDI

diberikan pendidikan ilmu agama islam secara mendalam dan dituntut

untuk berakhlakul karimah (UIN,2011). Dalam agama islam hukum rokok

adalah haram, berdasarkan Firman Allah Dan menghalalkan bagi mereka

segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (QS.

Al Araf ayat 157). Rokok akan menyebabkan seseorang terjerumus dalam

kebinasaan dan kematian. Selain membahayakan perokok aktif, maka


91

rokok akan membahayakan orang lain atau perokok pasif. Dalam islam

rokok dianggap lebih banyak mengandung keburukan daripada

kebaikannya, karena itu beberapa ulama menyatakan bahwa hukum rokok

haram sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasulullah (Jabbar, 2008).

Meskipun beberapa ulama telah menyatakan rokok itu haram tetapi

diantara ulama saat ini masih ada yang merokok. Syaifulloh (2013) dalam

penelitiannya mengatakan bahwa santri di pondok pesantren banyak yang

merokok dari sebelum masuk pesantren dan merokok setelah masuk

pesantren. Santri yang merokok setelah masuk pesantren terpengaruh oleh

santri lain serta ulama / kiai pondok pesantren yang merokok juga.

Walaupun pehamanan agama islam sangat kuat yang paling berpengaruh

pada perilaku merokok santri ini adalah faktor lingkungan pondok

pesantren.

Penelitian yang dilakukan oleh Salawati dan Rizki (2010)

menyebutkan bahwa mahasiswa dari fakultas kesehatan yang merokok

adalah hak azasi dan mereka merasa kesulitan untuk berhenti merokok.

Pada lain sisi mahasiswa kesehatan sebenarnya mempunyai beban, karena

sebagai calon petugas kesehatan mereka seharusnya bisa menjadi contoh,

sehingga sebagian besar dari mereka tetap berniat untuk berhenti bila

sudah bekerja. Hal tersebut tidak ditemui pada mahasiswa dari fakultas

non kesehatan. Walaupun sebagian besar yakin bahwa merokok itu

berbahaya, namun mereka tidak yakin mampu berhenti dan hanya berniat

mengurangi saja. Mereka tidak memiliki beban yang sama dengan


92

mahasiswa dari Fakultas Kesehatan, karena mereka bukan calon petugas

kesehatan.

D. Gambaran Nikotin Dependen Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta

Menurut Vorvick (2013) ketergantungan nikotin atau nikotin

dependen ditandai dengan pola-pola tertentu. Pola pertama disebut

toleransi. Sebagian besar perokok memulai dengan beberapa rokok setiap

hari dan akhirnya merokok lebih dari satu bungkus perhari.

Pola berikutnya dari ketergantungan nikotin adalah gejala

penarikan. Beberapa gejala penarikan umum yang terjadi seperti

kecemasan, mengantuk, mudah marah, mual, gelisah, sakit kepala,

perasaan depresi, sulit berkonsentrasi, dan penurunan denyut jantung. Pola

yang ketiga adalah adanya perilaku bergantung atau kecanduan. Individu

terus menggunakan tembakau yang terkandung nikotin meskipun hal

tersebut berbahaya bagi diri individu itu sendiri. Diagnosis ketergantungan

nikotin berdasarkan pedoman American Psychiatric Association individu

harus menunjukan setidaknya 3 kriteria DSM-IV-TR atau sudah mencapai

pola ketiga.

Hasil penelitan menunjukan bahwa dari responden mahasiswa

FKIK,FDI, dan FISIP masuk dalam kategori sangat rendah ketergantungan

nikotin sebanyak 21 responden (60,0%) untuk kategori rendah sebanyak

13 responden (37,1%) dan kategori sedang 1 responden (2,9%).

Penelitian yang dilakukan Pamungkas (2013) menyatakan bahwa

perokok paling banyak mengalami ketergantungan nikotin rendah.


93

Semakin tinggi adiksi seseorang terhadap nikotin makin tinggi pula rokok

yang dikonsumsi dalam sehari. Hal ini tentunya dikarenakan makin

banyak dan lama mengkonsumsi rokok semakin banyak nikotin yang

terkonsumsi.

Hal tersebut dikuatkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Artana dan I.B Ngurah Rai (2009) mengenai ketergantungan nikotin yang

dilakukan pada perokok diatas usia 12 tahun mempunyai hasil sebagian

besar termasuk dalam kategori sedang. Ketergantungan yang lebih tinggi

pada kelompok usia muda, pendidikan perguruan tinggi atau sederajat.

Peningkatan ketergantungan terhadap nikotin ( adiksi nikotin ) berbanding

lurus dengan lamanya perokok telah mengkonsumsi rokok, namun juga

berkaitan dengan jumlah rokok yang dikonsumsi dalam 1 harinya.

Menurut ahli ketergantungan nikotin mengatakan bahwa pecandu nikotin

harus mengidentifikasi dan menangani perilaku, pemicu, dan situasi yang

terkait dengan merokok agar tidak menjadi pecandu nikotin kategori

tinggi.

E. Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari adanya keterbatasan dalam pelaksanaan

penelitian ini. Keterbatasan penelitian tersebut yaitu pada variabel perilaku

merokok hanya menggunakan kuesioner untuk menentukan kategori

perilaku merokok, sehingga pemakaian angket terbatas pada pengumpulan

pernyataan responden, yang tidak dapat diperoleh dengan jalan lain. Pada

penelitian tidak dilakukan secara langsung berhadapan muka antara


94

peneliti dan responden karena keterbatasan waktu sehingga responden bisa

memberikan jawaban dengan jujur atau tidak jujur.


BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan

dan dijabarkan pada bab-bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat ditarik

dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Gambaran karakteristik mahasiswa FKIK, FISIP, dan FDI yang

menjadi responden dalam penelitian ini yaitu : presentasi jumlah

responden dari program studi yang telah dibagi berdasarkan strata.

Untuk FKIK Ilmu Keperawatan sebesar 7,3 %, Pendidikan Dokter

sebesar12,6%, Kesehatan Masyarakat sebesar 15,5%, dan Farmasi

sebesar 11,2%. Pada responden FDI terdiri dari satu program studi yaitu

Dirasat Islamiyah sebesar 16,0%. Untuk responden FISIP terbagi

menjadi Ilmu politik 10,7%, Hubungan Internasional 15,5% dan

Sosiologi 11,2%, kemudian dengan presentasi jenis kelamin laki laki

sebanyak 53,9% dan perempuan sebanyak 46,1%, untuk usia responden

minimal 17 tahun dan maksimal 22 tahun, dan di dominasi dengan usia

19 tahun dan 20 tahun sebanyak 41,3% dan 39,8%. Presentasi status

merokok dari 206 responden yang menyatakan merokok sebanyak 35

responden (17%), dari 35 responden kemudian berdasarkan jumlah

rokok yang dihisap perhari dikategorikan sebagai perokok ringan

sebanyak 80,0% yaitu menghisap rokok kurang dari 10 batang perhari.

2. Gambaran tingkat pengetahuan tentang rokok pada mahasiswa UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta sebagian besar mempunyai tingkat

95
96

pengetahuan yang tinggi terhadap rokok. Hasil penelitian menunjukan

bahwa responden dengan tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 187

orang (90,8%). Pada FKIK responden dengan tingkat pengetahuan

tinggi sebanyak 99,0%. Pada FDI responden dengan tingkat

pengetahuan tinggi sebanyak 84,9%. Responden FISIP dengan tingkat

pengetahuan tinggi sebanyak 83,1%.

3. Gambaran perilaku merokok mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta memiliki hasil dari 35 responden yang merokok sebagian besar

berusia 19 tahun dan 20 tahun masing-masing sebesar 34,3% dan

57,1%. Kemudian untuk kategori perilaku merokok berdasarkan

kategori fakultas responden yaitu Pada FKIK dan FISIP perilaku

merokok tinggi masing-masing sebanyak 66,7 % dan 28,6%. Pada FDI

perilaku merokok sedang sebanyak 100%. Berdasarkan jenis kelamin

perilaku merokok tinggi pada responden laki-laki sebanyak 34,3%,

perilaku merokok sedang sebanya 60,0% dan untuk responden

perempuan hanya 5,7% pada perilaku merokok sedang.

4. Gambaran nikotin dependen mahasiswa UIN Syarif hidayatullah

Jakarta sebanyak 35 responden sebagian besar dalam kategori sangat

rendah ketergantungan nikotin sebesar 60,0%, untuk kategori rendah

sebesar 37,1% dan kategori sedang hanya sebesar 2,9%. Berdasarkan

kategori fakultas yaitu pada FKIK sebanyak 44,4%, FISIP sebanyak

28,6% dan FDI sebanyak 60,0%. Untuk kategori sangat rendah pada

FISIP sebanyak 66,6%, FKIK 55,6% dan FDI sebanyak 40,0%. Untuk

responden laki-laki sebagian besar termasuk dalam kategori sangat


97

rendah sebanyak 54,3 % dan kategori rendah 37,1%. Dan untuk

perempuan hanya dalam kategori sangat rendah sebanyak 5.7%.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta kesimpulan dapat

disarankan hal-hal berikut ini:

1. Bagi Pemerintah, agar bisa memberikan solusi konkret dengan

menegaskan kebijakan dan sanksi yang sesuai dengan peraturan

gubernur provinsi daerah khusus ibukota Jakarta nomor 75 tahun 2005

tentang kawasan larangan merokok salah satunya adalah tempat belajar

mengajar, untuk bisa menurunkan jumlah perokok aktif di indonesia

khususnya kepada perokok di usia dini. Selain itu pemerintah

diharapkan dapat memberikan tindakan tegas pada produsen rokok

seperti membatasi produksi rokok atau menaikan harga jual rokok.

2. Bagi Institusi Pendidikan, agar dapat lebih menegaskan kebijakan

sesuai dengan kode etik mahasiswa yang berlaku dan lebih menegaskan

dengan sanksi yang berlaku sesuai kode etik mahasiswa diwilayah

institusi pendidikan.

3. Bagi setiap Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk bisa

membuat program pencegahan dan menanggulangi masalah merokok

dalam meningkatkan kesehatan mahasiswa seperti sosialisasi dan

edukasi mengenai dampak negatif rokok. Organisasi dalam fakultas

juga berperan penting dalam pencegahan merokok dikampus salah

satunya organisasi mahasiswa seperti badan eksekutif mahasiswa


98

dengan memberikan sarana untuk kegiatan positif seperti olahraga dan

kesenian.
DAFTAR PUSTAKA

Aini, Nurul. 2013. Faktor-Faktor Psikologis Yang Menentukan Perilaku Merokok


Pada Mahasiswi Kedokteran Di Universitas Hasanuddin. Skripsi. Makasar :
Ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu kedokteran komunitas.

Anggarawati, Soraya S. 2013. Bebas asap rokok hanya mitos di Unpad.


http://www.tribunnews.com/tribunners/2013/01/23/bebas-asap-rokok-
hanya-mitos-di-unpad , Diakses 16 November 2014

Ardini, Rati F., dan Wiwin, Hendriani. 2012. Proses Berhenti Merokok Secara
Mandiri Pada Mantan Pecandu Rokok Dalam Usia Dewasa Awal. Jurnal
psikologi pendidikan dan perkembangan. Surabaya : Vol. 1 No.2

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitan Suatu Pendekatan Praktik. Ed Revisi VI.


Jakarta : PT. Rineka Cipta

Artana, IGN Bagus., dan IB, Ngurah Rai. 2009. Ketergantungan Nikotin Dan
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Pada Perokok Didesa Penglipuran.
Jurnal penyakit dalam. Denpasar : Vol.11, No.1.

Ashton, Kathleen., dan David, Streem. 2010. Smoking Cessation.


http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/ps
ychiatry-psychology/smoking-cessation/Default.htm , diakses 23 Januari
2015

Aydid, Muhammad Hasan. 2000. Sehat Itu Nikmat : Telaah Hadist Tentang
Kesehatan. Jakarta : Gema insani press.

Azkiyati, Ade Maya. 2010. Hubungan Perilaku Merokok Dengan Harga Diri
Remaja Laki-Laki Yang Merokok Di SMK Putra Bangsa. Skripsi. Depok :
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Bagus, Ida., dan Edi, Januartha. 2012. Analisis Tingkat Pengetahuan Remaja
Tentang Perilaku Merokok Di Kota Denpasar. e-Jurnal matematika.
Denpasar : Vol.1 No.1

Barraclough, Simon. 2015. Women And Tobacco In Indonesia.


http://tobaccocontrol.bmj.com/content/8/3/327.full.pdf+html , diakses 21
Juni 2015.

Bastable, Susan B. 2002. Perawat Sebagai Pendidik : Prinsip-Prinsip Pengajaran


Dan Pembelajaran. Jakarta : EGC
Batubara, Jose RL. 2010. Adolescent Development (Perkembangan Remaja).
Jurnal Sari Pediatri. Jakarta : Vol. 12, No.1.

BPLHD. 2009. Kawasan dilarang merokok.


http://bplhd.jakarta.go.id/01_kdmartikel.php , Diakses 02 Desember 2014

Budiarto, Eko. 2001. Biostatistika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat.


Jakarta : EGC

Cahyono, J.B.Suharjo. 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Yogyakarta :


Kanisius

Christianus. 2010. Seri Belajar Kilat SPSS 17. Yogyakarta : Andi Offset.

Depkes RI. 2009. Dampak Rokok Terhadap Kesehatan.


http://www.promkes.depkes.go.id/dl/factsheet2conv.pdf , diakses 17
Desember 2014

Dharma, Kelana K. 2011. Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta : Trans


Info Media.

Dierker, Lisa., and Eric, Donny. 2009. The Role of Psychiatric Disorders in the
Relationship between Cigarette Smoking and DSM-IV Nicotine Dependence
among Young Adults. NIH public Access. 10 (3) : 439-446.

Effendy, Nasrul. 1997. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat E/2.


Jakarta : EGC

Elita, Eliana. 2014. Gambaran Perilaku Merokok Pada Mahasiswa Program


Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Angkatan 2010-2013. Skripsi.
Yogyakarta : Program studi ilmu keperawatan.

Fikriyah, Samrotul., dan Yoyok, Febrijanto. 2012. Faktor-Faktor Yang


Mempengaruhi Perilaku Merokok Pada Mahasiswa Laki-Laki Di Asrama
Putra. Jurnal STIKES. Kediri : Vol.5 No.1

Fitriyani, Yeni. 2010. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Tentang


Merokok Dengan Perilaku Merokok Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Skripsi. Jakarta : Program Studi Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Fuadah, Maziyyatul. 2011. Gambaran Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi


Perilaku Merokok Pada Mahasiswa Laki-Laki. Skripsi. Depok : Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
George, Olivier., et al. 2010. Exposure to chronic intermittent nicotine vapor
induces nicotine Dependence. NIH Public Access. 96(1) : 104-107.

Goodwin, Renee D., et al . 2011. Predictors Of Persistent Nicotine Dependence


Among Adults In The United States. NIH public Access. 118(2-3) : 127-133.

Gumilar, Ivan. 2007. Modul Praktikum Metode Riset Untuk Bisnis & Manajemen.
Bandung : Utama.

Hedman., et al. 2007. Factors Related To Tobacco Use Among Teenagers.


Respiratory medicine. Vol 101, Issue 3.

Herijulianti, Eliza.., Tati, Svasti I., dan Sri, Artini. 2001. Pendidikan Kesehatan
Gigi. Jakarta: EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik


Analisis Data. Jakarta : Salemba medika

Imron, Moch. 2010. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan. Jakarta : Sagung


Seto

Jabbar, Abdul. 2008. Nge-rokok bikin kamu kaya. Jakarta: Samudera.

Komasari, Dian., dan Avin, fadilla. 2000. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku


Merokok Pada Remaja. Jurnal Psikologi. Yogyakarta: No.1

Lestary, Heny., dan Sugiharti. 2011. Perilaku Berisiko Remaja Di Indonesia


Menurut Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) Tahun
2007. Jurnal Kesehatan Reproduksi.
http://bpk.litbang.depkes.go.id/index.php/kespro/article/view/1389/696 ,
Vol.1 No.3. diakses 22 Juni 2015.

Levy, Paul S., dan Stanley, L. 2008. Sampling Of Populations Methods And
Applications. Canada : Wiley

Loren, Jeff. 2010. Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Mahasiswa Fakultas


Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Skripsi. Medan : Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Maseda, Devita Rosalin., dkk. 2013. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tentang
Bahaya Merokok Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Putra Di SMA
Negeri 1 Tompasobaru. Ejournal keperawatan (e-Kp). Manado : Vol.1
No.1.

Maulana, Heri D.J. 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC.


Mayoclinic. 2013. Diseases And Conditions Nicotine Dependence.
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nicotine-
dependence/basics/definition/con-20014452 , Diakses 22 Januari 2015

MD Masia., et al. 2006. Smoking Habit And Behaviour Among Health


Professionals. Pubmed. Italian 18 (3) : 261-9

Mutadin, Z. 2002. Remaja Dan Rokok. http://www.e-


psikologi.com/artikel/individual/remaja-rokok , Diakses 20 November 2014

Mulyadi, Rhunie S., dan Qurotul, Uyun. 2007. Faktor-Faktor Yang


Mempengaruhi Perilaku Merokok Pada Remaja Putri. Skripsi. Yogyakarta :
Fakultas Psikologi Dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia

Muna, Izzatul. 2011. Persepsi Dan Perilaku Merokok Pada Mahasiswa


Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Skripsi. Surakarta : Universitas
sebelas maret

Nasution, Indri K. 2007. Perilaku Merokok Pada Remaja. Tesis. Medan : Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara Program Studi Psikologi.

Nordqvist, Christian. 2013. What Is Nicotine Dependence? What Are The


Dangers Of Smoking ?.
http://www.medicalnewstoday.com/articles/181299.php , diakses 23 Januari
2015

Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam., dan Ferry, Efendy. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta :


Salemba Medika

Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian
Keperawatan Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika

Oktavia, Dewi. 2011. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tindakan


Merokok Siswa Laki-Laki Di SMA Negeri Kota Padang Tahun 2011.
Skripsi. Padang : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Pakaya, Siska. 2013. Hubungan Pengetahuan Tentang Bahaya Merokok Dengan


Perilaku Merokok Pada Siswa Smp Negeri 1 Bulawa. Skripsi. Gorontalo:
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan & Keolahragaan Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Negri Gorontalo
Pamungkas, Dimas Bagus. 2014. Perbedaan Kualitas Hidup Laki-Laki Perokok
dan Non Perokok Yang Diukur Dengan Kuesioner SF-36v2 (Studi
Pendahuluan). Skripsi. Jakarta : Universitas Islam Negri Syarif
Hidayatullah.

Partodiharjo,Subagyo . 2010. Kenali Narkoba Dan Musuhi Penyalahgunaannya.


Jakarta : Esensi.

Powe, Barbara D., Louie Ross., dan Dexter, L.Cooper. 2007. Attitudes And Beliefs
About Smoking Among African-American College Students At Historically
Black Colleges And Universities. Journal Of The National Medical
Association. American : Vol. 99, No. 4.

Riset Kesehatan Dasar. 2013.


http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%
202013.pdf , diakses 29 November 2014

Saefuddin. Asep., dkk. 2009. Statistika Dasar. Bogor : Grasindo

Sajatovic, Martha., dan Luis F, Ramirez. 2012. Rating Scales In Mental Health.
America : The Johns Hopkins University Press.

Salawati, Trixie., dan Rizki, Amalia. 2010. Perilaku Merokok Di Kalangan


Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang. Prosiding seminar
nasional Unimus.

Santrock, J.W. 2003. Adolescence perkembangan remaja. Jakarta : Erlangga

Santrock, J.W. 2007. Remaja jilid 2. Jakarta : Erlangga

Sarake, Mukhsen. 2006. Analisis Perilaku Merokok Warga Fakultas Kesehatan


Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Hasanuddin. http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/5410 , diakses
23 Juni 2015

Sari, A.T.O., Neila, Ramadhani., dan Mira, Eliza. 2003. Empati Dan Perilaku
Merokok Di Tempat Umum. Jurnal Psikologi. Yogyakarta : No.2

Sartika, Andita Ayu, dkk. 2009. Hubungan Antara Konformitas Terhadap Teman
Sebaya Dengan Intensi Merokok Pada Remaja Perempuan Di SMA
Kesatrian 1 Semarang. Jurnal Psycho Idea. Purwokerto : Vol.7 No. 2

Saulle, Rosella., et al. 2014. Knowledge, Attitudes, And Smoking Behaviours


Among Physicians Specializing In Public Health : A Multicentre Study.
Biomed Research International.
http://www.hindawi.com/journals/bmri/2014/516734/ , diakses 23 juni 2015

Setiyanto, Dwi. 2013. Perilaku Merokok Di Kalangan Pelajar. Skripsi. Surakarta


: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Sirait, Anna Maria., dkk. 2002. Perilaku Merokok di Indonesia. Buletin Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Vol.30 No.3

Sudarma, Momon. 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika

Sudiono, Janti. 2007. Pemeriksaan Patologi Untuk Diagnosis Neoplasma Mulut.


Jakarta : EGC

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :


Alfabeta.

Sunaryo. 2002. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

Supriyanto, Wahyu., dan Ahmad, Muhsin. 2008. Teknologi Informasi


Perpustakaan. Yogyakarta : Kanisius.

Swansburg, Russell C. 2001. Pengembangan staf keperawatan : suatu komponen


pengembangan sumber daya manusia. Jakarta : EGC

Syaifulloh, Novyan Hardar. 2013. Studi Peranan Tokoh Agama Dan Perilaku
Merokok Santri Di Pondok Pesantren Al-Islah Desa Bandar Kidul
Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Jurnal Promkes. Padang : Vol.1 No.2

Tim KPAI. 2013. Menyelamatkan anak dari bahaya rokok.


http://www.kpai.go.id/tinjauan/menyelamatkan-anak-dari-bahaya-
rokok/#comment-421 , Diakses 1 November 2014

Tjandra. 2014. Riset Merokok Pada Kaum Muda-Hari Tanpa Tembakau Sedunia
31 Mei. http://www.litbang.depkes.go.id/content/riset-merokok-pada-kaum-
muda-hari-tanpa-tembakau-sedunia-31-mei , diakses 22 Juni 2015

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Program Strata tahun 2011-2012

Umar, Husein. 2000. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta : Pustaka
Utama.

UnityPoint, Health. 2011. Nicotine.


http://www.addictionrecov.org/Addictions/?AID=44 , diakses 23 Januari
2015

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011. Panduan Akademik


Vorvick, Linda J. 2013. Nicotine And Tobacco.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000953.htm , diakses 23
Januari 2015

Wahab, Muhbib., dkk. 2012. Buku Saku Panduan Kode Etik Mahasiswa. Bagian
Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Wangolds. 2013. Kandungan dalam sebatang rokok. http://wangolds.com/Thread-
Kandungan-Dalam-Sebatang-Rokok , Diakses 05 Desember 2014

Yosantaraputra., dkk. 2014. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Tentang Rokok. Jurnal Kesehatan
Andalas. Padang : Vol.3, No.3.

Yulianto, H. (t.t). Jenis rokok.


https://www.scribd.com/Hermanyulianto/d/30889043-Jenis-rokok , Diakses
3 Januari 2015
LAMPIRAN
L
Lampiran 2

PERMOHONAN PARTISIPASI PENELITIAN

Assalamualaikum Wr. Wb.,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ilyati Syarfa

NIM : 1111104000021

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

akan melakukan penelitian tentang Gambaran Tingkat Pengetahuan, Perilaku

Merokok Dan Nikotin Dependen Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Partisipasi saudara/i dalam penelitian ini sangat dibutuhkan untuk mendapatkan

hasil yang baik. Bentuk partisipasi saudara/i berupa kesediaan waktu untuk

mengisi angket yang terdiri dari beberapa pertanyaan tertutup.

Besar harapan saya untuk saudara/i dapat ikut serta sebagai responden

dalam penelitian ini. Saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi saudara/i.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Ilyati Syarfa
SURAT PERSETUJUAN

Setelah saya membaca dan memahami isi dan penjelasan pada lembar

permohonan menjadi responden, maka saya bersedia turut berparitisipasi sebagai

responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa Program Studi

Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu:

Nama : Ilyati Syarfa

NIM : 1111104000021

Pekerjaan : Mahasiswa

Judul : Gambaran Tingkat Pengetahuan, Perilaku Merokok Dan

Nikotin Dependen Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta

Saya memahami bahwa penelitian ini tidak membahayakan dan merugikan

saya maupun keluarga saya, sehingga saya bersedia menjadi responden dalam

penelitian ini.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa

paksaan dan ancaman.

Jakarta, April 2015

(......)

Nama terang dan tanda tangan


LEMBAR KUESIONER GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN,

PERILAKU MEROKOK, DAN NIKOTIN DEPENDEN MAHASISWA UIN

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

Kode Responden (diisi oleh peneliti ) :________________

Petunjuk umum pengisian :

1. Bacalah setiap pertanyaan dengan hati-hati sehingga dapat anda mengerti.

2. Harap mengisi seluruh pertanyaan yang ada dalam kuesioner dan pastikan

tidak ada yang terlewat.

3. Harap mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya.

4. Kuesioner ini terdiri dari pertanyaan yang terdiri dari :

A. 4 Pertanyaan terkait data demografi

B. 18 Pertanyaan terkait perilaku merokok

C. 22 Pertanyaan terkait pengetahuan tentang rokok

D. 6 Pertanyaan terkait nikotin dependen

A. KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. 1. Usia :_____ Tahun

Berilah tanda checklist () pada kolom yang sesuai dengan diri anda!

2. Fakultas :

(...) 1.Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)

(...) 2.Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI)

(...) 3.Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)


3. Program Studi : (...) 1. Ilmu keperawatan

(...) 2. Pendidikan dokter

(...) 3. Kesehatan masyarakat

(...) 4. Farmasi

(...) 5. Sosiologi

(...) 6. Ilmu politik

(...) 7. Hubungan Internasional

(...) 8. Dirasat Islamiyah

4. Jenis Kelamin : (...) 1. Laki-laki

(...) 2. Perempuan

5. Apakah anda merokok ?

(...) 1. Ya (...) 2. Tidak

(Jika anda menjawab Ya, lanjutkan mengisi kuesioner bagian B,C dan D)

(Jika anda menjawab Tidak, lanjutkan mengisi kuesioner bagian C saja)

6. Jika anda merokok, berapa jumlah rokok yang anda hisap dalam satu hari ?

(...) Kurang dari 10 batang perhari

(...) 11-20 batang perhari

(...) lebih dari 21 batang perhari


B. PERILAKU

Berilah tanda checklist () pada kolom yang sesuai dengan diri anda!

No. Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak

kadang pernah

1. Saya merokok terutama saat merasa

cemas/ gelisah/ jenuh /kesal

2. Saya merokok saat merasa gelisah

maupun tenang

3. Saya merokok jika mulut saya terasa

asam

4. Saya merokok kapan pun saya mau.

5. Saya merokok baik saat cuaca dingin

maupun panas.

6. Saya merokok terutama setelah

makan

7. Saya merokok terutama saat cuaca

dingin

8. Saya merokok dalam jumlah batang

yang terus bertambah dari hari ke hari

9. Saya merokok terutama ditempat

sepi/tidak banyak orang

10. Saya menghidap rokok yang

memiliki kandungan nikotin dan tar

lebih banyak (seperti : rokok kretek,


nonto filter, cerutu)

11. Saya menghisap rokok yang memiliki

aroma rasa yang khas ( seperti :

gudang garam filter internasional,

djarum super, dll)

12. Saya menghidap rokok yang

memiliki kandungan nikotin dan tar

rendah (seperti : A Mild, Clas Mild,

Star Mild, U Mild, LA Light

13. Saya merokok terutama saat bersama

teman

14. Saya merokok saat sedang sendiri

dan juga saat bersama teman

15. Saya merokok terutama saat ada

teman yang mengajak untuk merokok

C. Pengetahuan

Berilah tanda checklist () pada jawaban yang anda pilih !

No. Pertanyaan Benar Salah

1. Rokok tidak berbahaya bagi kesehatan


2. Rokok berbahaya bagi perokok itu sendiri

3. Bila anda merokok, asap rokok yang anda hembuskan itu


merupakan polusi udara bagi orang yang ada disekitar
anda.
4. Bila seseorang yang ada didekatmu bukan seorang perokok
tetapi dia ikut menghisap asap rokok yang kamu
hembuskan disebut dengan perokok pasif.

5. Di dalam rokok terdapat kandungan zat yang berbahaya

6. Salah satu kandungan rokok yaitu karbon monoksida dapat


mengikat diri dengan sel darah merah dan mengakibatkan
penyempitan pembuluh darah.
7. Bahan-bahan yang terdapat di dalam rokok seperti tar,
nikotin, dan lain-lain tidak berbahaya bagi kesehatan.
8. Nikotin dalam rokok tidak menyebabkan ketagihan pada si
perokok.
9. Rokok banyak mengandung bahan-bahan yang berbahaya
bagi kesehatan.
10. Penyakit yang timbul dari akibat merokok salah satunya
kanker paru.
11. Rokok dapat menyebabkan penyakit jantung dan kanker
paru.
12. Tidak ada hubungan yang berarti antara merokok dengan
kesehatan si perokok.
13. Rokok dapat mempengaruhi penyempitan pembuluh darah
yang dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah.
14. Tidak ada penyakit yang disebabkan oleh rokok.

15. Bahaya rokok terhadap kesehatan salah satunya adalah


pengaruh rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut.
16. Merokok dapat menyebabkan impotensi (lemah syahwat),
menurunnya kekebalan individu dan kanker.
17. Rokok tidak berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan
mulut.
18. Terdapat peraturan undang-undang yang melarang
merokok ditempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja,
tempat proses belajar mengajar, angkutan umum
19. Terdapat sedikit dampak positif yang ditimbulkan oleh
rokok.

D. Nikotin Dependen

Lingkari jawaban yang anda pilih !

1. Seberapa segera setelah bangun tidur pagi anda merokok rokok pertama

anda?

a. 5 menit

b. 6-30menit

c. 31-60menit

d. Setelah 60 menit

2. Apakah anda mendapatkan kesulitan untuk menunda merokok pada tempat

dengan larangan merokok?

a.Ya b.Tidak

3. Rokok yang mana yang paling sulit anda lewatkan ?

a. Rokok pertama dipagi hari

b. Yang lainnya

4. Berapa banyak rokok yang anda konsumsi perhari?

a. 1-10rokok

b. 11-20rokok
c. 21-30rokok

d. 31 rokok atau lebih

5. Apakah anda lebih sering merokok dalam jam pertama setelah bangun

tidur pagi hari dibandingkan waktu lain dalam satu hari?

a.Ya b.Tidak

6. Apakah anda merokok saat anda sedang sakit parah dan berada diatas

tempat tidur seharian ?

a.Ya b.Tidak
Lampiran 3

IJIN PENGGUNAAN KUESIONER


Lampiran 4
Hasil Uji Validitas dan Reabilitas Kuesioner Perilaku Merokok

Correlations
[DataSet1] D:\document\semester 7\spss valid.sav
Correlations

p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11
** ** ** ** * *
Pearson Correlation 1 ,580 ,219 ,266 ,495 ,586 ,341 ,525 ,377 ,335 ,395

p1 Sig. (2-tailed) ,001 ,246 ,155 ,005 ,001 ,066 ,003 ,040 ,070 ,031

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
** * * ** ** * * *
Pearson Correlation ,580 1 ,379 ,436 ,277 ,620 ,536 ,386 ,054 ,443 ,383
p2 Sig. (2-tailed) ,001 ,039 ,016 ,138 ,000 ,002 ,035 ,778 ,014 ,037
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* ** ** ** ** *
Pearson Correlation ,219 ,379 1 ,474 ,274 ,485 ,822 ,528 -,026 ,405 ,132
p3 Sig. (2-tailed) ,246 ,039 ,008 ,143 ,007 ,000 ,003 ,891 ,026 ,486
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* ** ** ** *
Pearson Correlation ,266 ,436 ,474 1 ,214 ,478 ,474 ,331 ,249 ,379 ,180
p4 Sig. (2-tailed) ,155 ,016 ,008 ,256 ,007 ,008 ,074 ,184 ,039 ,341
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
** ** * ** *
Pearson Correlation ,495 ,277 ,274 ,214 1 ,655 ,390 ,516 ,328 ,188 ,411
p5 Sig. (2-tailed) ,005 ,138 ,143 ,256 ,000 ,033 ,004 ,077 ,320 ,024
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
** ** ** ** ** ** ** * **
Pearson Correlation ,586 ,620 ,485 ,478 ,655 1 ,606 ,716 ,366 ,535 ,337
p6 Sig. (2-tailed) ,001 ,000 ,007 ,007 ,000 ,000 ,000 ,047 ,002 ,068
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
** ** ** * ** ** *
Pearson Correlation ,341 ,536 ,822 ,474 ,390 ,606 1 ,619 ,113 ,390 ,327
p7
Sig. (2-tailed) ,066 ,002 ,000 ,008 ,033 ,000 ,000 ,551 ,033 ,078
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
** * ** ** ** ** * **
p8 Pearson Correlation ,525 ,386 ,528 ,331 ,516 ,716 ,619 1 ,386 ,539 ,350

Correlations

p12 p13 p14 p15 p16 p17 p18 jumlah


** ** ** **
Pearson Correlation ,499 ,053 ,046 -,097 ,170 ,330 ,091 ,502

p1 Sig. (2-tailed) ,005 ,779 ,810 ,612 ,370 ,075 ,667 ,011

N 30 30 30 30 30 30 25 25
** * * ** ** *
Pearson Correlation ,513 ,165 ,158 ,107 ,259 ,127 ,295 ,605
p2 Sig. (2-tailed) ,004 ,384 ,406 ,572 ,167 ,504 ,152 ,001
N 30 30 30 30 30 30 25 25
* ** ** ** **
Pearson Correlation ,178 -,089 ,364 ,622 ,448 ,473 ,028 ,466
p3 Sig. (2-tailed) ,346 ,640 ,048 ,000 ,013 ,008 ,896 ,019
N 30 30 30 30 30 30 25 25
* ** ** **
Pearson Correlation ,368 ,042 ,365 ,394 ,452 ,392 ,340 ,639
p4 Sig. (2-tailed) ,045 ,824 ,047 ,031 ,012 ,032 ,096 ,001
N 30 30 30 30 30 30 25 25
** ** * **
Pearson Correlation ,372 ,172 ,209 -,122 ,130 ,503 -,483 ,211
p5 Sig. (2-tailed) ,043 ,364 ,267 ,522 ,494 ,005 ,014 ,311
N 30 30 30 30 30 30 25 25
** ** ** ** ** ** **
Pearson Correlation ,488 ,203 ,355 ,194 ,189 ,532 -,025 ,579
p6 Sig. (2-tailed) ,006 ,282 ,054 ,304 ,317 ,002 ,906 ,002
N 30 30 30 30 30 30 25 25
** ** ** * ** **
Pearson Correlation ,416 -,045 ,434 ,433 ,336 ,388 -,038 ,581
p7 Sig. (2-tailed) ,022 ,815 ,017 ,017 ,070 ,034 ,857 ,002
N 30 30 30 30 30 30 25 25
** * ** ** ** **
p8 Pearson Correlation ,390 ,195 ,440 ,164 ,156 ,586 -,062 ,612
Correlations

p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11
** ** ** * *
p8 Sig. (2-tailed) ,003 ,035 ,003 ,074 ,004 ,000 ,000 ,035 ,002 ,058

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,377 ,054 -,026 ,249 ,328 ,366 ,113 ,386 1 -,021 ,684
** * * ** ** * * *
p9 Sig. (2-tailed) ,040 ,778 ,891 ,184 ,077 ,047 ,551 ,035 ,912 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,335 ,443 ,405 ,379 ,188 ,535 ,390 ,539 -,021 1 ,036
* ** ** ** **
p10 Sig. (2-tailed) ,070 ,014 ,026 ,039 ,320 ,002 ,033 ,002 ,912 ,850
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,395 ,383 ,132 ,180 ,411 ,337 ,327 ,350 ,684 ,036 1
* ** ** ** *
p11 Sig. (2-tailed) ,031 ,037 ,486 ,341 ,024 ,068 ,078 ,058 ,000 ,850
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,499 ,513 ,178 ,368 ,372 ,488 ,416 ,390 ,122 ,360 ,151
** ** * ** *
p12 Sig. (2-tailed) ,005 ,004 ,346 ,045 ,043 ,006 ,022 ,033 ,520 ,051 ,424
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,053 ,165 -,089 ,042 ,172 ,203 -,045 ,195 ,000 ,270 ,114
** ** ** ** ** ** ** * **
p13 Sig. (2-tailed) ,779 ,384 ,640 ,824 ,364 ,282 ,815 ,302 1,000 ,149 ,550
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,046 ,158 ,364 ,365 ,209 ,355 ,434 ,440 ,403 -,054 ,521
** ** ** * ** ** *
p14 Sig. (2-tailed) ,810 ,406 ,048 ,047 ,267 ,054 ,017 ,015 ,027 ,776 ,003
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation -,097 ,107 ,622 ,394 -,122 ,194 ,433 ,164 ,009 ,155 -,064
p15 ** * ** ** ** ** * **
Sig. (2-tailed) ,612 ,572 ,000 ,031 ,522 ,304 ,017 ,386 ,963 ,412 ,738

Correlations

p12 p13 p14 p15 p16 p17 p18 jumlah


** ** ** **
p8 Sig. (2-tailed) ,033 ,302 ,015 ,386 ,411 ,001 ,770 ,001

N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,122 ,000 ,403 ,009 ,186 ,492 ,024 ,381
** * * ** ** *
p9 Sig. (2-tailed) ,520 1,000 ,027 ,963 ,324 ,006 ,908 ,060
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,360 ,270 -,054 ,155 ,340 ,361 ,430 ,555
* ** ** ** **
p10 Sig. (2-tailed) ,051 ,149 ,776 ,412 ,066 ,050 ,032 ,004
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,151 ,114 ,521 -,064 ,094 ,264 -,023 ,490
* ** ** **
p11 Sig. (2-tailed) ,424 ,550 ,003 ,738 ,620 ,159 ,915 ,013
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation 1 -,083 ,000 ,061 ,124 ,216 ,227 ,496
** * **
p12 Sig. (2-tailed) ,662 1,000 ,749 ,514 ,251 ,275 ,012
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation -,083 1 ,090 ,046 ,139 ,162 -,236 -,173
** ** ** ** ** **
p13 Sig. (2-tailed) ,662 ,638 ,810 ,463 ,392 ,257 ,409
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,000 ,090 1 ,432 ,086 ,225 -,214 ,362
** ** * ** **
p14 Sig. (2-tailed) 1,000 ,638 ,017 ,650 ,233 ,305 ,076
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,061 ,046 ,432 1 ,440 ,494 ,201 ,252
p15 ** * ** ** ** **
Sig. (2-tailed) ,749 ,810 ,017 ,015 ,006 ,335 ,225

Correlations

p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11
** ** ** ** * *
p15 N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p16 Pearson Correlation ,170 ,259 ,448 ,452 ,130 ,189 ,336 ,156 ,186 ,340 ,094
Sig. (2-tailed) ,370 ,167 ,013 ,012 ,494 ,317 ,070 ,411 ,324 ,066 ,620
** * * ** ** * * *
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,330 ,127 ,473 ,392 ,503 ,532 ,388 ,586 ,492 ,361 ,264
p17 Sig. (2-tailed) ,075 ,504 ,008 ,032 ,005 ,002 ,034 ,001 ,006 ,050 ,159
* ** ** ** ** *
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,091 ,295 ,028 ,340 -,483 -,025 -,038 -,062 ,024 ,430 -,023
p18 Sig. (2-tailed) ,667 ,152 ,896 ,096 ,014 ,906 ,857 ,770 ,908 ,032 ,915
* ** ** ** *
N 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25
Pearson Correlation ,502 ,605 ,466 ,639 ,211 ,579 ,581 ,612 ,381 ,555 ,490
jumlah Sig. (2-tailed) ,011 ,001 ,019 ,001 ,311 ,002 ,002 ,001 ,060 ,004 ,013
** ** * ** *
N 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25

Correlations

p12 p13 p14 p15 p16 p17 p18 jumlah


** ** ** **
p15 N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,124 ,139 ,086 ,440 1 ,452 ,102 ,292
p16 Sig. (2-tailed) ,514 ,463 ,650 ,015 ,012 ,628 ,157
** * * ** ** *
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,216 ,162 ,225 ,494 ,452 1 ,000 ,488
p17 Sig. (2-tailed) ,251 ,392 ,233 ,006 ,012 1,000 ,013
* ** ** ** **
N 30 30 30 30 30 30 25 25
Pearson Correlation ,227 -,236 -,214 ,201 ,102 ,000 1 ,494
p18 Sig. (2-tailed) ,275 ,257 ,305 ,335 ,628 1,000 ,012
* ** ** **
N 25 25 25 25 25 25 25 25
Pearson Correlation ,496 -,173 ,362 ,252 ,292 ,488 ,494 1
jumlah Sig. (2-tailed) ,012 ,409 ,076 ,225 ,157 ,013 ,012
** ** * **
N 25 25 25 25 25 25 25 25
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Reliability
[DataSet1] D:\document\semester 7\spss valid.sav

Scale: ALL VARIABLES


Case Processing Summary

N %

Valid 25 83,3
a
Cases Excluded 5 16,7

Total 30 100,0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,864 18
Hasil Uji Validitas Kuesioner Tingkat Pengetahuan Mengenai Rokok

Correlations

p1 p2 p3 p4s p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11


* * *
Pearson Correlation 1 ,263 ,408 ,284 ,408 ,117 ,257 ,309 ,408 ,284 ,284

p1 Sig. (2-tailed) ,160 ,025 ,129 ,025 ,539 ,171 ,097 ,025 ,129 ,129

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* * *
Pearson Correlation ,263 1 ,141 ,308 ,443 ,443 ,167 ,213 ,443 ,308 ,308
p2 Sig. (2-tailed) ,160 ,457 ,098 ,014 ,014 ,378 ,258 ,014 ,098 ,098
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* ** ** ** ** **
Pearson Correlation ,408 ,141 1 -,050 ,464 ,464 ,074 ,094 ,464 ,695 ,695
p3 Sig. (2-tailed) ,025 ,457 ,795 ,010 ,010 ,698 ,619 ,010 ,000 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
**
Pearson Correlation ,284 ,308 -,050 1 -,050 -,050 ,244 ,263 ,695 -,034 -,034
p4 Sig. (2-tailed) ,129 ,098 ,795 ,795 ,795 ,194 ,161 ,000 ,856 ,856
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* * ** ** * ** ** **
Pearson Correlation ,408 ,443 ,464 -,050 1 ,464 ,351 ,378 ,464 ,695 ,695
p5 Sig. (2-tailed) ,025 ,014 ,010 ,795 ,010 ,057 ,039 ,010 ,000 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* ** ** ** ** **
Pearson Correlation ,117 ,443 ,464 -,050 ,464 1 ,074 ,094 ,464 ,695 ,695
p6 Sig. (2-tailed) ,539 ,014 ,010 ,795 ,010 ,698 ,619 ,010 ,000 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,257 ,167 ,074 ,244 ,351 ,074 1 ,196 ,351 ,244 ,244
p7
Sig. (2-tailed) ,171 ,378 ,698 ,194 ,057 ,698 ,300 ,057 ,194 ,194
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* *
p8 Pearson Correlation ,309 ,213 ,094 ,263 ,378 ,094 ,196 1 ,378 ,263 ,263

Correlations

p12 p13 p14 p15 p16 p17 p18 p19 p20 p21 total
* * *
Pearson Correlation ,293 ,267 ,284 ,408 ,385 -,015 -,238 ,327 ,208 -,196 ,516

p1 Sig. (2-tailed) ,116 ,154 ,129 ,025 ,036 ,939 ,206 ,078 ,270 ,299 ,003

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* * *
Pearson Correlation ,135 ,302 ,308 ,443 ,429 ,223 ,123 ,380 ,123 -,146 ,596
p2 Sig. (2-tailed) ,477 ,105 ,098 ,014 ,018 ,236 ,517 ,038 ,517 ,441 ,001
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* ** ** ** ** **
Pearson Correlation ,239 ,356 ,695 ,464 ,288 -,036 ,055 ,169 ,055 -,203 ,504
p3 Sig. (2-tailed) ,203 ,053 ,000 ,010 ,122 ,850 ,775 ,373 ,775 ,281 ,004
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
**
Pearson Correlation ,415 -,062 -,034 ,695 ,473 ,162 -,152 ,337 ,227 -,141 ,406
p4 Sig. (2-tailed) ,023 ,745 ,856 ,000 ,008 ,391 ,424 ,069 ,227 ,456 ,026
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* * ** ** * ** ** **
Pearson Correlation ,239 ,356 ,695 ,464 ,288 -,036 ,327 ,484 -,218 -,203 ,705
p5 Sig. (2-tailed) ,203 ,053 ,000 ,010 ,122 ,850 ,077 ,007 ,247 ,281 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* ** ** ** ** **
Pearson Correlation ,239 ,356 ,695 ,464 ,681 -,036 ,327 ,484 -,218 -,203 ,624
p6 Sig. (2-tailed) ,203 ,053 ,000 ,010 ,000 ,850 ,077 ,007 ,247 ,281 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,031 ,208 ,244 ,351 ,312 -,033 ,085 ,562 -,056 -,005 ,504
p7 Sig. (2-tailed) ,871 ,271 ,194 ,057 ,093 ,864 ,656 ,001 ,767 ,980 ,005
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
* *
p8 Pearson Correlation ,253 ,236 ,263 ,378 ,139 -,095 -,144 ,279 -,144 -,245 ,424
Correlations

p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11
* * *
p8 Sig. (2-tailed) ,097 ,258 ,619 ,161 ,039 ,619 ,300 ,039 ,161 ,161

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,408 ,443 ,464 ,695 ,464 ,464 ,351 ,378 1 ,695 ,695
* *
p9 Sig. (2-tailed) ,025 ,014 ,010 ,000 ,010 ,010 ,057 ,039 ,000 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,284 ,308 ,695 -,034 ,695 ,695 ,244 ,263 ,695 1 1,000
* ** ** ** **
p10 Sig. (2-tailed) ,129 ,098 ,000 ,856 ,000 ,000 ,194 ,161 ,000 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,284 ,308 ,695 -,034 ,695 ,695 ,244 ,263 ,695 1,000 1
**
p11 Sig. (2-tailed) ,129 ,098 ,000 ,856 ,000 ,000 ,194 ,161 ,000 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,293 ,135 ,239 ,415 ,239 ,239 ,031 ,253 ,598 ,415 ,415
* * ** ** * ** ** **
p12 Sig. (2-tailed) ,116 ,477 ,203 ,023 ,203 ,203 ,871 ,177 ,000 ,023 ,023
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,267 ,302 ,356 -,062 ,356 ,356 ,208 ,236 ,356 ,557 ,557
* ** ** ** ** **
p13 Sig. (2-tailed) ,154 ,105 ,053 ,745 ,053 ,053 ,271 ,210 ,053 ,001 ,001
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,284 ,308 ,695 -,034 ,695 ,695 ,244 ,263 ,695 1,000 1,000
p14 Sig. (2-tailed) ,129 ,098 ,000 ,856 ,000 ,000 ,194 ,161 ,000 ,000 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,408 ,443 ,464 ,695 ,464 ,464 ,351 ,378 1,000 ,695 ,695
p15 * *
Sig. (2-tailed) ,025 ,014 ,010 ,000 ,010 ,010 ,057 ,039 ,000 ,000 ,000

Correlations

p12 p13 p14 p15 p16 p17 p18 p19 p20 p21 total
* * *
p8 Sig. (2-tailed) ,177 ,210 ,161 ,039 ,465 ,617 ,447 ,136 ,447 ,193 ,020

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,598 ,356 ,695 1,000 ,681 ,234 ,055 ,484 ,055 -,203 ,865
* * *
p9 Sig. (2-tailed) ,000 ,053 ,000 ,000 ,000 ,214 ,775 ,007 ,775 ,281 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,415 ,557 1,000 ,695 ,473 ,162 ,227 ,337 -,152 -,141 ,795
* ** ** ** ** **
p10 Sig. (2-tailed) ,023 ,001 ,000 ,000 ,008 ,391 ,227 ,069 ,424 ,456 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,415 ,557 1,000 ,695 ,473 ,162 ,227 ,337 -,152 -,141 ,795
**
p11 Sig. (2-tailed) ,023 ,001 ,000 ,000 ,008 ,391 ,227 ,069 ,424 ,456 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation 1 ,447 ,415 ,598 ,351 ,030 ,000 ,176 -,183 -,340 ,496
* ** ** * ** ** **
p12 Sig. (2-tailed) ,013 ,023 ,000 ,057 ,875 1,000 ,352 ,334 ,066 ,005
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,447 1 ,557 ,356 ,196 ,067 ,181 ,079 -,045 -,023 ,563
** ** ** ** **
p13 Sig. (2-tailed) ,013 ,001 ,053 ,299 ,724 ,337 ,679 ,812 ,904 ,001
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,415 ,557 1 ,695 ,473 ,162 ,227 ,337 -,152 -,141 ,795
p14 Sig. (2-tailed) ,023 ,001 ,000 ,008 ,391 ,227 ,069 ,424 ,456 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,598 ,356 ,695 1 ,681 ,234 ,055 ,484 ,055 -,203 ,865
p15 * *
Sig. (2-tailed) ,000 ,053 ,000 ,000 ,214 ,775 ,007 ,775 ,281 ,000

Correlations

p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11
* * *
p15 N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p16 Pearson Correlation ,385 ,429 ,288 ,473 ,288 ,681 ,312 ,139 ,681 ,473 ,473
Sig. (2-tailed) ,036 ,018 ,122 ,008 ,122 ,000 ,093 ,465 ,000 ,008 ,008
* * *
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation -,015 ,223 -,036 ,162 -,036 -,036 -,033 -,095 ,234 ,162 ,162
p17 Sig. (2-tailed) ,939 ,236 ,850 ,391 ,850 ,850 ,864 ,617 ,214 ,391 ,391
* ** ** ** ** **
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation -,238 ,123 ,055 -,152 ,327 ,327 ,085 -,144 ,055 ,227 ,227
p18 Sig. (2-tailed) ,206 ,517 ,775 ,424 ,077 ,077 ,656 ,447 ,775 ,227 ,227
**
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,327 ,380 ,169 ,337 ,484 ,484 ,562 ,279 ,484 ,337 ,337
p19 Sig. (2-tailed) ,078 ,038 ,373 ,069 ,007 ,007 ,001 ,136 ,007 ,069 ,069
* * ** ** * ** ** **
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,208 ,123 ,055 ,227 -,218 -,218 -,056 -,144 ,055 -,152 -,152
p20 Sig. (2-tailed) ,270 ,517 ,775 ,227 ,247 ,247 ,767 ,447 ,775 ,424 ,424
* ** ** ** ** **
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation -,196 -,146 -,203 -,141 -,203 -,203 -,005 -,245 -,203 -,141 -,141
p21 Sig. (2-tailed) ,299 ,441 ,281 ,456 ,281 ,281 ,980 ,193 ,281 ,456 ,456
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,516 ,596 ,504 ,406 ,705 ,624 ,504 ,424 ,865 ,795 ,795
total Sig. (2-tailed) ,003 ,001 ,004 ,026 ,000 ,000 ,005 ,020 ,000 ,000 ,000
* *
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

Correlations

p12 p13 p14 p15 p16 p17 p18 p19 p20 p21 total
* * *
p15 N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,351 ,196 ,473 ,681 1 ,145 ,080 ,479 ,080 -,095 ,711
p16 Sig. (2-tailed) ,057 ,299 ,008 ,000 ,444 ,674 ,007 ,674 ,618 ,000
* * *
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p17 Pearson Correlation ,030 ,067 ,162 ,234 ,145 1 -,110 ,005 ,165 -,033 ,224
Sig. (2-tailed) ,875 ,724 ,391 ,214 ,444 ,563 ,978 ,384 ,864 ,235
* ** ** ** ** **
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,000 ,181 ,227 ,055 ,080 -,110 1 ,354 ,028 -,198 ,236
p18 Sig. (2-tailed) 1,000 ,337 ,227 ,775 ,674 ,563 ,055 ,884 ,295 ,208
**
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,176 ,079 ,337 ,484 ,479 ,005 ,354 1 -,129 -,420 ,640
p19 Sig. (2-tailed) ,352 ,679 ,069 ,007 ,007 ,978 ,055 ,498 ,021 ,000
* * ** ** * ** ** **
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation -,183 -,045 -,152 ,055 ,080 ,165 ,028 -,129 1 ,085 -,008
p20 Sig. (2-tailed) ,334 ,812 ,424 ,775 ,674 ,384 ,884 ,498 ,656 ,966
* ** ** ** ** **
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation -,340 -,023 -,141 -,203 -,095 -,033 -,198 -,420 ,085 1 -,180
p21 Sig. (2-tailed) ,066 ,904 ,456 ,281 ,618 ,864 ,295 ,021 ,656 ,340
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Pearson Correlation ,496 ,563 ,795 ,865 ,711 ,224 ,236 ,640 -,008 -,180 1
total Sig. (2-tailed) ,005 ,001 ,000 ,000 ,000 ,235 ,208 ,000 ,966 ,340
* *
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Hasil Uji Reabilitas Kuesioner Tingkat Pengetahuan menggunkan KR-20

No.Responden p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11 p12 p13 p14 p15 p16 p17 p18 p19 p20 p21 p22 Jumlah % individu
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 20 0.909090909
2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 20 0.909090909
3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 20 0.909090909
4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 20 0.909090909
5 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 19 0.863636364
6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 20 0.909090909
7 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 19 0.863636364
8 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 20 0.909090909
9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 20 0.909090909
10 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 20 0.909090909
11 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 18 0.818181818
12 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 20 0.909090909
13 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 16 0.727272727
14 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 17 0.772727273
15 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 18 0.818181818
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 19 0.863636364
17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 20 0.909090909
18 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 20 0.909090909
19 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 19 0.863636364
20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 20 0.909090909
21 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 17 0.772727273
22 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 20 0.909090909
23 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 3 0.136363636
24 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 10 0.454545455
25 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 14 0.636363636
26 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 17 0.772727273
27 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 19 0.863636364
28 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 0.909090909
29 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 17 0.772727273
30 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 21 0.954545455
total benar 21 22 28 29 28 28 19 20 28 29 29 25 27 29 28 26 13 18 23 30 19 24 543
total salah 9 8 2 1 2 2 11 10 2 1 1 5 3 1 2 4 17 12 7 0 11 6
%benar 0.7 0.7333 0.933 0.97 0.93 0.93 0.63 0.667 0.93 0.97 0.97 0.833 0.9 0.967 0.93 0.87 0.433 0.6 0.766667 1 0.633 0.8
%salah 0.3 0.2667 0.067 0.03 0.07 0.07 0.37 0.333 0.07 0.03 0.03 0.167 0.1 0.033 0.07 0.13 0.567 0.4 0.233333 0 0.367 0.2
p(hasil tingkat kesukaran) 0.7 0.7333 0.933 0.97 0.93 0.93 0.63 0.667 0.93 0.97 0.97 0.833 0.9 0.967 0.93 0.87 0.433 0.6 0.766667 1 0.633 0.8
q 0.3 0.2667 0.067 0.03 0.07 0.07 0.37 0.333 0.07 0.03 0.03 0.167 0.1 0.033 0.07 0.13 0.567 0.4 0.233333 0 0.367 0.2
pq 0.21 0.1956 0.062 0.03 0.06 0.06 0.23 0.222 0.06 0.03 0.03 0.139 0.09 0.032 0.06 0.12 0.246 0.24 0.178889 0 0.232 0.16
mean 0.7 0.7333 0.933 0.97 0.93 0.93 0.63 0.667 0.93 0.97 0.97 0.833 0.9 0.967 0.93 0.87 0.433 0.6 0.766667 1 0.633 0.8
s.deviasi 0.4583 0.4422 0.249 0.18 0.25 0.25 0.48 0.471 0.25 0.18 0.18 0.373 0.3 0.18 0.25 0.34 0.496 0.49 0.422953 0 0.482 0.4

k 22
pq 2.7011
var 12.757
mean 19.25
KR20 0.7883

keterangan soal mudah


soal sedang
Lampiran 5
Hasil Olahan SPSS Univariat

Statistics
fakultas responden
Valid 206
N
Missing 0

fakultas responden
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
FKIK 96 46,6 46,6 46,6
FDI 33 16,0 16,0 62,6
Valid FISIP 77 37,4 37,4 100,0
Total 206 100,0 100,0

program studi responden


Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
PSIK 15 7,3 7,3 7,3
PSPD 26 12,6 12,6 19,9
KESMAS 32 15,5 15,5 35,4
FARMASI 23 11,2 11,2 46,6
Valid SOSIOLOGI 23 11,2 11,2 57,8
Ilmu Politik 22 10,7 10,7 68,4
Hub.Internasional 32 15,5 15,5 84,0
Dirasat Islamiah 33 16,0 16,0 100,0
Total 206 100,0 100,0

jenis kelamin responden


Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
laki-laki 111 53,9 53,9 53,9
Valid perempuan 95 46,1 46,1 100,0
Total 206 100,0 100,0

Statistics
usia responden
Valid 206
N
Missing 0
Std. Deviation ,900
Minimum 1
Maximum 6
usia responden
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
17 2 1,0 1,0 1,0
18 10 4,9 4,9 5,8
19 85 41,3 41,3 47,1
Valid 20 82 39,8 39,8 86,9
21 19 9,2 9,2 96,1
22 8 3,9 3,9 100,0
Total 206 100,0 100,0
Statistics
status merokok responden
Valid 206
N
Missing 0

status merokok responden


Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
ya 35 17,0 17,0 17,0
Valid tidak 171 83,0 83,0 100,0
Total 206 100,0 100,0

pengetahuan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
kurang 4 1,9 1,9 1,9
sedang 15 7,3 7,3 9,2
Valid tinggi 187 90,8 90,8 100,0
Total 206 100,0 100,0

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
pengetahuan * jenis kelamin
206 100,0% 0 0,0% 206 100,0%
responden

pengetahuan * jenis kelamin responden Crosstabulation


jenis kelamin responden Total
laki-laki perempuan
Count 4 0 4
kurang
% of Total 1,9% 0,0% 1,9%
Count 8 7 15
pengetahuan sedang
% of Total 3,9% 3,4% 7,3%
Count 99 88 187
tinggi
% of Total 48,1% 42,7% 90,8%
Count 111 95 206
Total
% of Total 53,9% 46,1% 100,0%
Statistics
tipe merokok responden
Valid 35
N
Missing 0

tipe perokok responden


Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
perokok ringan 28 80,0 80,0 80,0
Valid perokok sedang 7 20,0 20,0 100,0
Total 35 100,0 100,0

usia responden * status merokok responden Crosstabulation


status merokok responden Total
ya tidak
Count 0 2 2
17
% of Total 0,0% 1,0% 1,0%
Count 0 10 10
18
% of Total 0,0% 4,9% 4,9%
Count 12 73 85
19
% of Total 5,8% 35,4% 41,3%
usia responden
Count 20 62 82
20
% of Total 9,7% 30,1% 39,8%
Count 1 18 19
21
% of Total 0,5% 8,7% 9,2%
Count 2 6 8
22
% of Total 1,0% 2,9% 3,9%
Count 35 171 206
Total
% of Total 17,0% 83,0% 100,0%

Statistics
perilaku merokok responden
Valid 35
N
Missing 0

perilaku merokok responden


Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
tinggi 12 34,3 34,3 34,3
Valid sedang 23 65,7 65,7 100,0
Total 35 100,0 100,0
jenis kelamin reponden * perilaku merokok responden Crosstabulation
perilaku merokok responden Total
tinggi sedang
Count 12 21 33
laki-laki
% of Total 34,3% 60,0% 94,3%
jenis kelamin reponden
Count 0 2 2
perempuan
% of Total 0,0% 5,7% 5,7%
Count 12 23 35
Total
% of Total 34,3% 65,7% 100,0%

Statistics
nikotin dependen reponden
Valid 35
N
Missing 0

nikotin dependen reponden


Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
sangat rendah 21 60,0 60,0 60,0
rendah 13 37,1 37,1 97,1
Valid sedang 1 2,9 2,9 100,0
Total 35 100,0 100,0

nikotin dependen reponden * jenis kelamin reponden Crosstabulation


jenis kelamin reponden Total
laki-laki perempuan
Count 19 2 21
sangat rendah
% of Total 54,3% 5,7% 60,0%
Count 13 0 13
nikotin dependen reponden rendah
% of Total 37,1% 0,0% 37,1%
Count 1 0 1
sedang
% of Total 2,9% 0,0% 2,9%
Count 33 2 35
Total
% of Total 94,3% 5,7% 100,0%