Vous êtes sur la page 1sur 15

Asma Bronkial

NISA KAMILA (102012291)/A5

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen KridaWacana


Jl. TerusanArjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp.021-56942061
Fax. 021-5631731

email :niskamila@yahoo.com

Pendahuluan
Asma Bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon-respon tracea dan
bronchus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas
yang luas dan derajatnya berubah-rubah secara spontan maupun sebagai pengobatan. Asma
bronchial adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat mudah bereaksi
dengan berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Asma
Bronchial adalah sindroma obstruksi jalan nafas yang berulang ditandai dengan kontreksi otot
polos bronchial, inflamasi dan hipersekresi, mucus yang menyebabkan kurangnya aliran darah
atau kesukaran bernafas .1

ISI

Skenario
Seorang laki-laki berusia 28 tahun dibawa keluarganya ke IGD RS karena sesak nafas sejak 2 jam
yang lalu. Sejak 3 hari yang lalu pasien mengalami batuk dengan dahak yang sulit keluar jika
keluar kental berwarna putih, tidak ada demam dan nyeri dada. Pasien mengatakan sesaknya
memang sering timbul 2 bulanan ini, namun tidak sesesak sekarang. Sesak nafasnya bisa
muncul pada malam hari dan lebih mudah sesak terutama saat suasana dingin dan berdebu.
Seingat pasien dalam 1 bulan terakhir dirinya sudah sesak 4x sesak saat dini hari dan biasanya
mereda seiring waktu dengan pasien beristirahat. Pasien sebelumnya belum pernah berobat
untuk keluhan sesak nafasnya, ia mempunyai riwayat merokok sejak usia 17 tahun yang lalu.

1
Anamnesis
untuk menegakan diagnosis suatu penyakit, dokter memerlukan berbagai informasi dari
penderita dan keluraganya yang diperolehdengan wawancara.
Pada penyakit asma , dokter tidak hanya memerlukan informasi mangenai penderita dan
penyakinya, etapi juga mengenai keluraganya. Berikut hal-hal yang perlu dietahui dokter
mengenai penderita dan penyakitnya.
a. Frekuensi serangan asma
b. Beratnya serangan asma
c. Saat timbul dan lamanya serangan
d. Faktor-faktor yang dapat mencetuskan asma
e. Penyakit lain yang pernah diderta
f. Obat-obatan yang pernah diminum
g. Lingkungan rumah, keadaan kmar tidur, hewan peliharaan.
Mengenai keluarga dokter memelurkan keterangan mengenai riwayat asma atau alergi dalam
keluarga.2

Pemeriksaan Fisik
Teknik pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan inspeksi, auskultasi dan palpasi.`
1) Keadaan umum pasien: compos menti, sakit sedang.
2) Tanda-tanda vital meliputi : tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 98x/menit,
frekuensi napas 28x/menit dan suhu 36C

Inspeksi : sesak nafas, dan jika ada batuk dan berdahak. Pernafasan cuping hidung

Perkusi : biasanya pada perkusi anteroposterior rongga dada akan terdengar hipersonor.

Auskultasi : terdengar wheezing ata mengi/ ronki kering

Kelainan fisik pada penderita asma tergantung pada obstruksi saluran napas (beratnya
serangan) dan saat pemeriksaan. Pada saat serangan, tekanan darah bisa naik, frekuensi
pernapasan dan denyut nadi juga meningkat, mengi (wheezing) sering dapat terdengar tanpa
statoskop, ekpirasi memanjang (lebih dari 4 detik atau 3 kali lebih panjang dari inspirasi)

2
disertai ronki kering dan mengi. Hiperinflasi paru yang terlihat dengan peningkatan diameter
anteroposterior rongga dada, dimana pada perkusi akan terdengar hipersonor. Pernapasan
cepat dan susah, ditandai dengan pengaktifan otot-otot bantu pernapasan, sehingga tanpak
retraksi suprasternal, supraklavicula dan sel iga dan pernapasan cuping hidung.

Dalam praktek, jarang dijumpai kesulitan dalam menegakkan diagnosis asma, tetapi batuk,
sesak ataupun mengi (wheezing) tidak hanya dijumpai pada penderita asma, untuk itu, perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk menegakkan diagnosis.3

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan fungsi paru


Bertujuan untuk mengetahui adanya penyempitan saluran nafas. Pemeriksaan fungsi parudapat
dilakuakan dengan alat yang disebut dengan spirometer. Caranya penderita disuruh menghirup
udara sebanak-bayaknya, kemudian meniup secra cepat sampai habis ke dalam alat spirometer.
Pemeriksaan dangan spirometer tidak saja berguna untuk menegakan diagnosis asma, juga
bermanfaat untuk mengetahui berat ringannya penyempitan saluran napas dan untuk menilai
hasil pengobatan asma.

Pemeriksaan Tes Kulit


Bertujuan untuk membantu diagnosis asma, khususnya dalam menentukan alergen sebagai
pencetus asma.

Pemeriksaan IgE
Pemeriksaan IgE dalam serum juga dapat membantu menegakkan diagnosos asma, tetapi
ketepatan diagnosisnya kurang dari 30% populasi menderita alergi.4

Tes Provokasi Bronkial


Jika dokter masih belum dapat memastikan diagnosis asma. Dengan melakukan provokasi, baik
dengan zat kimia ( seperti histamine dan matekolin), hawa dingin, atau dengan kegiatan

3
jasmani dalam beberapa menit. Penyimpitan ini diukur oleh spirometer yang dilakukan sebelum
dan sesudah provokasi. Pada orang normal tes ini tidak akan ad penyempitan saluran napas.

Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan rontgen paru hanya sedikit dalam membantu diagnosis asma karena pemeriksaan
ini tidak dapat menunjukan adanya penyempitan saluran napas. Tujuan pemeriksaan rontgen
pada asma adlah untuk melihat adnya penyakit paru lain ( seperti tuberculosis) atau komplikasi
asma ( sepertiinfeksi paru atau pecahnya alveoli).4

Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe,yaitu:

1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik,
seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora
jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap
alergi.
Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka
akan terjadi serangan asma ekstrinsik.

2. Intrinsik(nonalergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik
atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran
pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan
berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa
pasien akan mengalami asma gabungan.1

3. Asma gabungan

4
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non
alergik.

Working Diagnosis
Asma Bronkial Tipe Non-Atopik
Pada golongan penderita asma bronchial non-atopik, keluhan tidak ada hubungannya dengan
kontak seseorang terhadap alergen. Sifat-sifat yang melekat pada penyakit asma ini meliputi
hal-hal sebagai berikut.
a. Serangan timbul setelah dewasa
b. Tidak ada anggota keluarga yang menderita asma
c. Penyakit infeksi sering memperberat keadaan
d. Ada hubungan pekejaan atau beban fisik.
e. Rangsangan psikis mempunyai peran yang cukup nyata untuk menimbulkan serangan
asma
f. Perubahan cuaca atau lingkungan non spesifik merupakan keadaan yang peka bagi
penderita.1
Pada berbagai hal asma bronkail non atopic berbeda dengan atopic. Individu dengan asma
bronchial non atopic tidak memiliki alergen yang khas dan nyata yang dapat mengakibatkan
terjadinya serangan. Walaupun ada faktor lain yang memicu timbulnya serangan, tetapi
menyebabnya bukan alergi. Pada saat serangan datang maka sifatnya cenderung berlangsung
dalam jangan waktu lama dan seringkali bersifat serius. Tidak jarang penyakit ini berubah
menjadi kronis sehingga membutuhkan obat yang terus menerus. Kadangkala penderita asma
intrinsik dapat menjadi peka terhadap aspirin dan obat-obatan. Namun karena kepekaan ini
bukan merupakan gejala alergi sesungguhnya, maka keadaan tersebut dinamakan intoleransi
aspirin.
Ada beberapa jenis asma yang dialami remaja dan dewasa.
a. Asma tak aktif

5
Penderita asma tak aktif pada orang dewasa atau remaja ditandai dengan riwayat asma yang
samar-samar. Kondisinya sering tidak menampakan gejala asma dari ketika diperiksa fungsi
paru-paru ternyata tidak normal demikian juga gas darah arterinya.
b. Asma ringan
Penderita asma ringan pengalami serangan asma kurang dari episode asma perbulan. Gejalanya
mudah dipulihkan dengan aerosol bronkodilator.
c. Asma sedang
Penderita asma sedang mengalami serangan asma hampir setiap minggu. Sifat seranga
menetap sampai berjam-jam dari beberapa hari. Gejala bersifat kronik dan menganggu
kehidupan seharo-hari.1
d. Asma berat
Penderita asma berat mengalami gejala serangan setiap hari, penderita asma kontinu, dan pola
kehidupan mereka mangalami kemunduran dengan sangat jelas. Selalu disertai dengan fungsi
paru-paru yang abnormal. Jenis asma ini memerlukan terpai yang panjang, beberapa minggu
sampai berbulan-bulan.
e. Status asmatikus
Penderita ini mengalami asma yna berat setiap hari, terus-menerus, dan mangalami kesulitan
bernapas secara nyata. Respon terhadap pengobatan ynag dilakukan berlangsung secara
perlahan-lahan. Fungsi paru-paru sangat terganggu sehingga penderita tidak dapat melakukan
uji-uji yang dilakuan oleh RS. Pada keadaan ini satus gas darah menunjukan pada keadaan
asam, mengalami kekurangan oksigen berat, dan terjadi peningkatan kadar CO2 dalam darah.

Diagnosis Banding
Asma Bronkial Tipe Atopik
Individu yang pertama kali didiagnosa menderita asma pada masa anank-anak cenderung
menderita asma yang disebut asma atopic, asma alergi atau asma ekstrinsik. Atopic merupakan
sifat keturunan. Seseorang yang mengidap atopic cenderung terkena rangsangan dari luar akan
membuat yang bersangkutan menjadi lebih sensitive terjadap substansi alergi yang dapat
mendorong terjadinya respon alergi. Pada penderita golongan atopic munculnya keluhan

6
biasanya terkait langsung dengan terjadinya kontak seseorang terhadap alergi dalam suasana
lingkungan yang spesifik. Respon ini umumnya dapat diuji kepekaannnya, missal dengan uji
kulit atau bronchial. Sifat-sifat ynag melekat pasa asma atopic adalah sebagai berikut: 1
1. Timbulnya sejak kanak-kanak.
2. Terdapat anggota family lain yang menderita asma
3. Sering ditandai adanya eksim pada waktu bayi
4. Sering menderita rhinitis
Pederita atopi akan lebih mudah terserang penyakit-penyakit alergi seperti eksim dan hay fever
(alergi rumput kering) karena atopi bersifat keturunan . walaupun tidak semua anggota
keluarga menderita asma, sering kali ada riwayat tertentu dari amsing-masing anggota
keluarga.
Dalam perkembangannya, gangguan atopi tersebut akan berangsur membaik sejalan dengan
bertambahnya usia. Hal ini dialami oleh banyak penderita, atopik hilang sama sekali ketika
seseorang telang menginjak masa pubertas. Asma atopic yang alergi juga dikenal sebagai
bentuk asma ekstrinsik, karena serangan ditimbulkan oleh alergen dari luar. 1
Emfisema
Merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara
walaupun ekspirasi. Emfisema merupakan morfologik didefisiensikan sebagai abnormal ruang-
ruang paru distal dari bronkiolus terminal dengan destruksi dindingnya. Emfisema adalah
penyakit obstruksi kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli.
Terdapat 3 jenis emfisema yang diklasifikasikan berdasarkan perubahanyang terjadi dalam paru
yaitu :

1. Centriacinar Emphysema
Dimulai dengan destruksi pada bronkiolus dan meluas ke perifer, mengenai terutamanya agian
atas paru. Tipe ini sering terjadi akibat kebiasaan merokok yang telah lama. 5
2. Panacinar Emphysema (panlobuler)

7
Yang melibatkan seluruh alveolus distal dan bronkiolus terminal serta paling banyak pada
bagian paru bawah. Emfisema tipeini adalah tipe yang berbahaya dan sering terjadi pada pasien
dengan defisiensi 1-antitripsin.
3. Paraseptal Emphysema
Yaitu tipe yang mengenai saluran napas distal, duktus dan sakus. Proses ini terlokalisir di septa
fibrosa atau berhampiran pleura. 5

Bronkiekstasis
Adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi dan distorsi bronkus local yang
bersifat patologis dan berjalan kronik, persisten atau irreversible. Kelainan bronkus tersebur
disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-
elemen elastic, otot-otot polos bronkus, tulang rawan dan pembuluh darah. Bronkus yg terkena
umumnya bronkus kecil, bronkus besar umumnya jarang. 5

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)


Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) atau juga dikenali sebagai Chronic Obstructive
Pulmonary Disease (COPD) merupakan obstruksi saluran pernafasan yang progresif dan
ireversibel. (PPOK) bukanlah penyakit tunggal, tetapi merupakan satu istilah yang merujuk
kepada penyakit parukronis yang mengakibatkan gangguan pada sistem pernafasan. Gejala
PPOK sering dikaitkan dengan gejala eksaserbasi akut dimana kondisi pasien mengalami
perburukan dari kondisi sebelumnya dan bersifat akut. Eksaserbasi akut ini dapat ditandai
dengan gejala yang khas, seperti sesak nafas yang semakin memburuk, batuk produktif dengan
perubahan volume atau purulensi sputum atau dapat juga memberikan gejala yang tidak khas
seperti malaise, kelelahan dan gangguan tidur. 5

Epidemiologi

Asma bronchial pada umumnya sering terjadi pada individu yang memiliki riwayat atopic alergi
di keluarganya, kira-kira 2-20% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. Di poliklinik
paru anak RSCM leih dari 50% kunjungan merupakan penderita asma. Jumlah kunjungan sekitar

8
12000-13000 atau rata-rata 12.324 kunjungan/tahun. Penyakit asma merupakan kelainan yang
sangat sering ditemukan dan diperkirakan 45% populasi penduduk di Amerika Serikat
terjangkit oleh penyakit ini.1

Patofisiologi
Asma alergik
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronchioles yang menyebabkan sukar
bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronchioles terhadap benda-benda
asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai
berikut: seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody
IgE abnormal dalam jumlah besar dan antibody ini menyebabkan reaksi alergi bila bereaksi
dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang
terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan bronchiolus dan bronkus kecil.
Bila seseorang menghirup alergen maka antibody IgE orang tersebut meningkat, allergen
bereaksi dengan antibody yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan
mengeluarkan berbagai macam zat diantaranya histamine, zat anafilaksis yang bereaksi lambat
(yang merupakan leukotrient), factor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari
semua factor-faktor ini akan menghasilkan edema local pada dinding bronchiolus kecil maupun
sekresi mucus yang kental dalam lumen bronchiolus dan spasme otot polos bronchiolus
sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.6

Pada asma, diameter bronchiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi
karena peningkatan tekanan pada paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar
bronchiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagaian, maka sumbatan selanjutnya adalah
akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama ekspirasi. Pada
penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali
melakukan ekspirasi, hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume
residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan
udara ekspirasi dari paru, hal ini menyebabkan barrel chest. 6

9
Komplikasi

Pneumothoraks, pneumomediastinum, dan emfisema subkutis, atelektasis, aspergilosis


bronkopulmonar alergik, gagal napas, bronchitis, dan fraktur iga. Bila serangan asma sering
terjadi dan telah berlangsung lama, maka akan terjadi emfisema dan mengakibatkan bentuk
toraks yaitu toraks membungkuk ke depan dan memanjang. Pada asma kronik dapat terjadi
bentuk dada burung dara dan tamak sulkus harison. Bila secret banyak dan kental, salah satu
bronkus dapat tersumbat sehingga dapat terjadi atelektasis pada lobus segmen yang sesuai. Bila
atelektasis berlangsung lama dapat menjadi bronkiektasis, dan bila ada infeksi menjadi
bronkopneumonia. Serangan asma yang terus menerus dan berlangsung beberapa hari serta berat
dan tidak dapat diatasi dengan obat-obatan yang biasa disebut status asmatikus. Bila tidak
ditolong dengan semestinya dapat menyebabkan kematian, kegagalan pernapasan, dan kegagalan
jantung.

Etiologi
Faktor predisposisi
a. Genetik: diturunkan dalam keluarga dan berhubungan dengan atopi.Dimana yang
diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai
keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.
Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor lingkungan: debu, serbuk sari dan bulu kucing Dimana alergen dapat dibagi
menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu, bulu binatang,
serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut seperti makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit seperti perhiasan, logam dan
jam tangan.6
c. Stimulus non spesifik: infeksi virus, udara dingin, dan olahraga

10
d. Perubahan cuaca, cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah
angin serbuk bunga dan debu.
e. Stress, Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang
timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi
perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya
belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
f. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat sebagian besar penderita asma akan mendapat
serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling
mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas tersebut.6

Gejala Klinis
Keluhan utama penderita asma ialah sesak napas mendadak, disertai faseinspirasi yang lebih
pendek dibandingkan dengan fase ekspirasi, dan diikuti bunyimengi (wheezing), batuk yang
disertai serangn napas yang kumat-kumatan. Padabeberapa penderita asma, keluhan tersebut
dapat ringan, sedang atau berat dansesak napas penderita timbul mendadak, dirasakan makin
lama makin meningkatatau tiba-tiba menjadi lebih berat. Wheezing terutama terdengar saat
ekspirasi. Berat ringannya wheezingtergantung cepat atau lambatnya aliran udara yang keluar
masuk paru. Biladijumpai obstruksi ringan atau kelelahan otot pernapasan, wheezing
akanterdengar lebih lemah atau tidak terdengar sama sekali. Batuk hamper selalu ada,bahkan
seringkali diikuti dengan dahak putih berbuih. Selain itu, makin kentaldahak, maka keluhan
sesak akan semakin berat. Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih menyukai posisi
duduk membungkuk dengan kedua telapak tangan memegang kedua lutut. Posisi inididapati
juga pada pasien dengan Chronic Obstructive Pulmonary Disease(COPD). Tanda lain yang
menyertai sesak napas adalah pernapasan cuping hidungyang sesuai dengan irama pernapasan.

11
Frekuensi pernapasan terlihat meningkat(takipneu), otot Bantu pernapasan ikut aktif, dan
penderita tampak gelisah. Padafase permulaan, sesak napas akan diikuti dengan penurunan
PaO2 dan PaCO2,tetapi pH normal atau sedikit naik. Hipoventilasi yang terjadi kemudian
akanmemperberat sesak napas, karena menyebabkan penurunan PaO2 dan pH
sertameningkatkan PaCO2 darah. Selain itu, terjadi kenaikan tekanan darah dan denyutnadi
sampai 110-130/menit, karena peningkatan konsentrasi katekolamin dalamdarah akibat
respons hipoksemia. 6

Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.
2. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
3. Memberikan penerangan kepada penderita atau keluarganya mengenai asma, baik
dalam cara pengobatannya maupun mengenai perjalanan penyakitnya, sehingga
penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan.
Ketiga prinsip diatas semuanya bertujuan agar fungsi paru penderita normal atau mendekati
nomal sehingga dapat melakukan aktiftas sehari-harinya.

Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:7


a. Pengobatan non farmakologik :
1) Memberikan penyuluhan
2) Menghindari faktor pencetus
3) Pemberian cairan
4) Fisiotherapy
5) Beri O2 bila perlu.

Pengobatan
Tujuan Pengobatan Simpatomimetik adalah :
a. Mengatasi serangan asma dengan segera.
b. Mempertahankan dilatasi bronkus seoptimal mungkin.

12
c. Mencegah serangan berikutnya.

Bronkodilator golongan simpatomimetik (beta adrenergik / agonis beta)


-Adrenalin (Epinefrin) injeksi. Obat ini dalam kemasan ampul 2 cc. Dosis dewasa : 0,2-0,5 cc
dalam larutan 1 : 1.000 injeksi subcutan.Dosis bayi dan anak : 0,01 cc/kg BB, dosis maksimal 0,25
cc. Bila belum adaperbaikan, bisa diulangi sampai 3 X tiap15-30 menit.
Efedrin. Obat ini berupa tablet 25 mg. Aktif dan efektif diberikan peroral.
Salbutamol. Obat ini berupa tablet kemasan 2 mg dan 4mg. Salbutamol merupakan
bronkodilator yang sangat poten bekerja cepat dengan efek samping minimal. Dosis : 3-4 X 0,05-
0,1 mg/kg BB
Bronkodilator golongan teofilin
Teofilin, Dosis : 16-20 mg/kg BB/hari oralatau IV.
Aminofilin. Obat ini berupa tablet 200 mg dan injeksi 240mg/ampul. Dosis intravena : 5-
6 mg/kg BB diberikan pelan-pelan. Dapat diulang6-8 jam kemudian , bila tidak ada
perbaikan. Dosis : 3-4 X 3-5 mg/kg BB

Kortikosteroid.
Obat ini sebaiknya hanya dipaka idalam keadaan pengobatan dengan bronkodilator baik pada asma akut
maupun kronis tidak memberikan hasil yang memuaskan dan keadaan asma yang membahayakan jiwa
penderita (contoh : status asmatikus). Dalam pemakaian jangka pendek (2-5 hari) kortikosteroid dapat
diberikan dalam dosis besar baik oral maupun parenteral, tanpa perlu tapering off. Obat pilihan
hidrocortison dan dexamethason

Ekspektoran
Adanya mukus kental dan berlebihan (hipersekresi) di dalam saluran pernafasan menjadi salah satu
pemberat serangan asma, oleh karenanya harus diencerkan dan dikeluarkan. Sebaiknya jangan
memberikan ekspektoran yang mengandung antihistamin, sedian Obat Batuk Hitam (OBH),Obat Batuk
Putih (OBP), Glicseril guaiakolat (GG). 7

Antibiotik

13
Hanya diberikan jika serangan asma dicetuskan atau disertai oleh rangsangan infeksi saluran pernafasan,
yang ditandai dengan suhu yang meninggi
Pencegahan atau Edukasi
Beberapa hal yang perlu diketahui dan dikerjakan oleh penderita dan keluarganya adalah :
a.Memahami sifat-sifat dari penyakit asma :
Bahwa penyakit asma tidak bisa sembuh secara sempurna.
Bahwa penyakit asma bisa disembuhkan tetapi pada suatu saat oleh karena faktor tertentu bisa
kambuh lagi.
Bahwa kekambuhan penyakit asma minimal bisa dijarangkan denganpengobatan jangka panjang
secara teratur.
b.Memahami faktor yang menyebabkan serangan atau memperberat serangan,seperti : 7
Inhalan : debu rumah, bulu atau serpihan kulit binatang anjing, kucing,kuda dan spora jamur.
Ingestan : susu, telor, ikan, kacang-kacangan, dan obat-obatan tertentu.
Kontaktan : zalf kulit, logam perhiasan.
Keadaan udara : polusi, perubahan hawa mendadak, dan hawa yang lembab.
Infeksi saluran pernafasan.
Pemakaian narkoba atau napza serta merokok.
Stres psikis termasuk emosi yang berlebihan
stres fisik atau kelelahan.

Penderita dan keluarga sebaiknya mampu mengidentifikasi hal-hal apasaja yang memicu dan
memperberat serangan asma penderita. Perlu diingat bahwapada beberapa pasien, faktor di atas
bersifat individual dimana antara pasien satudan yang lainnya tidaklah sama tetapi karena hal itu sulit
untuk ditentukan secarapasti maka lebih baik untuk menghindari faktor-faktor diatas. 7

Prognosis
Tergantung dari berat tidaknya gejala.1

Daftar Pustaka:

14
1. Sigit B, Hisyam B. Obstruksi Saluran Pernapasan Akut. Dalam : Sudoyo AW, Setiohadi
B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 3. Edisi
5. Jakarta: Internal Publishing; 2012.h.2216-25
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2007.h.62-5.
3. Swartz, Mark H. Intisari buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2005.h.2-8
4. Sudoyo A, Setiyohadi B, dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 1. Edisi 4. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006.h.248-9
5. Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). http://repository.usu.ac.id. Tanggal: 06-07-2014
6. Price, S & Swartz, Mark H. Intisari buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2005.h.2-8 Wilson, L. M. (1995) Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-
proses Penyakit, Jakarta : EGC
7. Asma ; Apa dan Bagaimana Pengobatannya, Jakarta : FK UI.

15